Indonesia
NovelToon NovelToon

Pewaris Makam Para Raja

Bab 1

Brak.

Tubuh Lin Xiao terlempar keras menghantam dinding batu.

Darah segar langsung menyembur dari mulutnya.

Bruk.

Dia jatuh tersungkur ke atas tanah berdebu dengan sangat keras.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tulang rusuknya.

"Hanya segini kemampuanmu, dasar sampah?"

Suara tawa yang sangat merendahkan terdengar menggema di halaman belakang kediaman Klan Lin.

Lin Jian berdiri dengan angkuh sambil memandang rendah ke arahnya.

"Bangun, Lin Xiao!" teriak Lin Jian sambil menunjuk ke arahnya. "Kau membuat klan kita terlihat sangat menyedihkan!"

Lin Xiao mengertakkan giginya menahan rasa sakit yang menusuk.

Dia berusaha menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar.

Tap.

Sebuah kaki menginjak punggung Lin Xiao dengan keras.

Wajah Lin Xiao kembali terhempas ke tanah kotor.

"Tuan Muda Jian menyuruhmu bangun sampah, bukan merangkak seperti anjing!" ejek seorang penjaga yang ikut menendangnya.

"Benar, kau sungguh tidak tahu diri!" sahut penjaga lainnya sambil tertawa keras.

Lin Xiao mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih.

Napasnya tersengal-sengal mencari udara.

'Aku tidak boleh mati di sini.'

'Ayah masih sakit keras, aku harus membelikan obat untuknya.'

Lin Xiao memutar kepalanya sedikit untuk melihat Lin Jian.

Tatapan matanya penuh dengan kebencian dan amarah yang tak tertahankan.

"Oh, kau berani menatapku seperti itu?" ucap Lin Jian dengan nada mengejek.

"Apa kau pikir ini masihlah masa kejayaan ayahmu seperti dulu?"

Lin Jian berjongkok lalu menjambak rambut Lin Xiao dengan kasar.

Dia menarik kepala Lin Xiao hingga pemuda itu meringis kesakitan.

"Dengar baik-baik, sampah." bisik Lin Jian tepat di depan wajah Lin Xiao.

"Kota Jade River ini berada di wilayah Central Heavenly Plains yang sangat kejam."

"Di sini, yang kuatlah yang berkuasa." tambah Lin Jian sambil tersenyum sinis.

"Dan kau hanya memiliki roh berupa makam hancur yang bahkan tidak bisa menyerap energi spiritual sedikit pun."

Cuih.

Lin Jian meludah tepat di sebelah wajah Lin Xiao.

Dia lalu menghempaskan kepala Lin Xiao ke tanah lagi.

"Kau pikir Nona Su Yuxin masih sudi bertunangan denganmu?" kata Lin Jian sambil berdiri.

"Dia sudah mengirim surat untuk membatalkan pertunangan kalian besok."

Mata Lin Xiao membelalak mendengar kabar itu.

Rasa sesak di dadanya kini lebih sakit daripada luka fisiknya.

"Bohong." ucap Lin Xiao dengan suara serak dan pelan.

"Yuxin tidak mungkin akan melakukan itu."

"Hahaha, kau masih bermimpi rupanya!" tawa Lin Jian meledak keras.

"Nona Su Yuxin sekarang adalah seorang murid jenius, sedangkan kau hanyalah aib bagi semua orang!"

Plak.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lin Xiao.

Salah satu penjaga memukulnya karena berani membantah ucapan Lin Jian.

"Tutup mulutmu saat Tuan Muda Jian berbicara!" bentak penjaga itu.

"Kau seharusnya bersyukur Tuan Muda Jian masih mau repot-repot memberimu pelajaran bela diri."

Lin Xiao terbatuk-batuk mengeluarkan lebih banyak darah.

Penglihatannya mulai kabur, tapi dia menolak untuk memejamkan mata.

'Semua orang mengkhianatiku.'

'Klan ini, orang-orang ini, mereka semua menjilat kepada yang kuat dan menindas yang lemah.'

"Hajar dia lagi sampai dia memohon ampun." perintah Lin Jian sambil berbalik badan.

"Aku bosan melihat wajah sampah ini."

Bugh.

Tendangan keras mendarat di perut Lin Xiao.

Bugh.

Pukulan bertubi-tubi menghantam punggung dan kepalanya.

Srak.

Baju Lin Xiao robek ditarik secara paksa oleh para penjaga itu.

Tubuhnya kini dipenuhi luka lebam dan darah yang terus mengalir.

"Ampun Tuan Muda, saya mohon ampun!"

Suara tangisan itu bukan berasal dari Lin Xiao.

Tapi dari seorang pelayan tua yang tiba-tiba berlari dan bersujud di depan Lin Jian.

"Pa-Paman Zhou..." gumam Lin Xiao dengan susah payah.

"Jangan... jangan memohon pada mereka."

"Tuan Muda Jian, tolong hentikan, Tuan Muda Lin Xiao bisa mati!" teriak Paman Zhou sambil menangis tersedu-sedu.

"Tuan Lin Tianhai akan sangat sedih jika melihat putranya seperti ini."

Mendengar nama Lin Tianhai disebut, wajah Lin Jian berubah menjadi semakin dingin.

Dia menendang Paman Zhou hingga pria tua itu terguling ke belakang.

"Jangan sebut nama orang cacat itu di depanku!" bentak Lin Jian penuh amarah.

"Lin Tianhai sudah kehilangan kultivasinya, dia bukan lagi tetua agung dari klan kita!"

Lin Xiao merasakan darahnya mendidih mendengar ayahnya dihina.

Dia mencoba bangkit namun tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga lagi.

"Kalian boleh menghinaku." ucap Lin Xiao dengan napas putus-putus.

"Tapi jangan berani-berani menghina ayahku!"

"Lalu kau mau apa, sampah?" tantang Lin Jian sambil berjalan kembali mendekati Lin Xiao.

"Kau mau memukulku dengan tubuh lemahmu itu?"

Lin Jian mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi.

Energi spiritual berwarna biru pucat mulai berkumpul di ujung kakinya.

"Mati saja kau dan susul ibumu ke neraka!" teriak Lin Jian dengan kejam.

Wush.

Kaki Lin Jian meluncur deras ke arah kepala Lin Xiao.

Angin berhembus kencang karena tekanan energi spiritual itu.

Duarr.

Tanah di sekitar kepala Lin Xiao hancur berantakan.

Debu tebal mengepul ke udara menutupi pandangan semua orang.

"Itu pelajaran agar kau tahu tempatmu." kata Lin Jian sambil mengibaskan debu dari bajunya.

"Ayo kita pergi dari sini, darahnya membuat sepatuku kotor."

Lin Jian dan para penjaganya pergi meninggalkan halaman belakang itu sambil tertawa-tawa.

Mereka sama sekali tidak peduli apakah Lin Xiao masih hidup atau sudah mati.

Paman Zhou merangkak mendekati kepulan debu itu dengan air mata berlinang.

"Tuan Muda Lin Xiao! Tuan Muda!"

Bab 2

Di balik debu yang mulai menipis, tubuh Lin Xiao tergeletak tanpa pergerakan.

Darah segar mengalir deras dari dahinya dan membasahi dada kirinya.

'Apakah aku akan mati di sini?'

'Ayah... maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu.'

Kesadaran Lin Xiao perlahan-lahan mulai memudar ke dalam kegelapan.

Suara tangisan Paman Zhou terdengar semakin jauh dan pelan di telinganya.

Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Darah Lin Xiao yang meresap ke dalam kulit dadanya tidak jatuh ke tanah.

Darah itu seolah-olah tersedot ke dalam sebuah pusaran tak kasat mata.

Tepat di tempat roh beladirinya bersemayam, roh makam hancur yang selama ini menjadi bahan tertawaan.

Ding.

Sebuah suara aneh bergema di dalam kepala Lin Xiao.

Suara itu terdengar sangat kuno dan membawa aura kematian yang sangat pekat.

'Darah keturunan yang penuh dendam telah mengalir.'

'Kunci makam telah terbuka.'

Di dalam alam bawah sadar Lin Xiao, kegelapan tiba-tiba pecah oleh cahaya kelabu.

Dia mendapati dirinya berdiri di depan sebuah gerbang batu raksasa yang menjulang ke langit.

Gerbang itu dipenuhi ukiran naga dan iblis yang terlihat sangat hidup.

Di atas gerbang tersebut, terdapat tulisan kuno yang memancarkan aura menekan.

"Makam Para Raja?" eja Lin Xiao tanpa sadar.

"Tempat apa ini? Bukankah rohku hanya makam hancur biasa?"

Kriet.

Gerbang batu raksasa itu bergeser terbuka secara perlahan.

Suara gesekannya membuat jiwa Lin Xiao bergetar hebat.

Dari dalam gerbang, melangkah keluar sebuah bayangan hitam.

Bayangan itu tidak memiliki wujud fisik yang jelas, namun auranya membuat Lin Xiao sulit bernapas.

'Berapa lama aku tertidur?'

Suara bayangan itu menggema di seluruh ruang batin Lin Xiao.

Itu bukan suara manusia biasa, melainkan suara yang membawa keagungan seorang kaisar.

"Siapa kau?" tanya Lin Xiao sambil mencoba mempertahankan kesadarannya.

"Apakah kau bagian dari roh beladiriku?"

Bayangan hitam itu melayang mendekat dan menatap Lin Xiao dari atas ke bawah.

Dia kemudian tertawa pelan, tawa yang meremehkan namun penuh ketertarikan.

'Hahaha. Tubuh yang sangat lemah, meridian yang tersumbat, dan basis kultivasi yang menyedihkan.'

'Tapi matamu... matamu menyimpan dendam yang sangat aku sukai, Nak.'

Lin Xiao mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan sosok itu.

"Jawab pertanyaanku, siapa kau dan apa maumu?"

'Namaku sudah lama dilupakan oleh dunia ini.' jawab bayangan itu.

'Tapi di masa lalu, orang-orang memanggilku Kaisar Pedang Haus Darah.'

Lin Xiao melebarkan matanya terkejut.

Kaisar Pedang Haus Darah adalah tokoh legenda yang pernah hidup ribuan tahun yang lalu.

"Bagaimana mungkin kau ada di dalam tubuhku?" tanya Lin Xiao tidak percaya.

'Bukan hanya aku, Nak.' jawab bayangan itu sambil menunjuk ke dalam gerbang.

'Ada ratusan jiwa raja dan kaisar lain yang bersemayam di dalam makam ini.'

Lin Xiao melihat melewati gerbang dan terkejut.

Di dalam sana, terdapat barisan batu nisan tanpa ujung, masing-masing memancarkan aura yang sangat mengerikan.

'Selama ini rohmu bukan makam hancur yang tidak berguna.'

'Rohmu terlalu kuat untuk tubuhmu, tubuh lemahmu lah yang membuatnya terlihat hancur karena menyegel diri.'

Bayangan itu mengangkat tangannya dan menunjuk tepat ke dahi Lin Xiao.

'Sekarang segelnya telah terbuka oleh darah keputusasaanmu.'

'Apakah kau menginginkan kekuatan untuk membalas dendammu, Nak?'

Lin Xiao mengingat wajah sombong Lin Jian yang menginjaknya.

Dia mengingat wajah ayahnya yang menua dan sakit-sakitan karena dihina oleh klan.

"Ya." jawab Lin Xiao tanpa ragu sedikit pun.

"Aku ingin kekuatan untuk membunuh mereka semua."

'Bagus.' kata Kaisar Pedang Haus Darah sambil tertawa buas.

'Maka terimalah warisan pertamaku ini, dan biarkan dunia mengingat kembali teror Makam Para Raja!'

Sebuah cahaya merah darah melesat dari jari bayangan itu dan menembus dahi Lin Xiao.

Informasi yang sangat banyak langsung membanjiri otaknya.

Teknik kultivasi, jurus pedang, dan pengalaman bertarung selama ratusan tahun.

Semuanya mengalir masuk secara paksa membuat Lin Xiao berteriak kesakitan di alam bawah sadarnya.

Aaargh.

Di dunia nyata, tubuh Lin Xiao yang sebelumnya diam tiba-tiba tersentak.

Luka-luka di sekujur tubuhnya mulai berhenti mengeluarkan darah secara misterius.

Paman Zhou yang sedang menangis tersentak kaget dan mundur beberapa langkah.

"Tuan Muda? Tuan Muda masih hidup?"

Lin Xiao perlahan-lahan membuka matanya.

Mata yang sebelumnya penuh keputusasaan itu kini bersinar dengan cahaya merah darah yang sangat dingin.

Dia perlahan bangkit berdiri.

Tulang-tulangnya berbunyi gemeretak seolah sedang disusun ulang.

"Paman Zhou." panggil Lin Xiao dengan suara yang jauh lebih berat dan dingin dari sebelumnya.

"Berhenti menangis, mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menindas kita."

Lin Xiao melihat ke arah pintu keluar halaman belakang tempat Lin Jian pergi.

Senyum tipis yang sangat mengerikan terbentuk di wajahnya.

'Lin Jian, Klan Lin, dan kau Su Yuxin.' batin Lin Xiao.

'Kalian sudah membangunkan monster di dalam diriku.'

'Mulai sekarang, aku akan mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku, beserta nyawa kalian.'

Bab 3

Srak.

Paman Zhou mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang kotor.

Pria tua itu masih gemetar saat melihat Lin Xiao berdiri dengan tatapan mata yang sangat berbeda.

"Tuan Muda, apakah Anda benar-benar tidak apa-apa?" tanya Paman Zhou dengan suara bergetar.

"Luka di kepala Anda tadi terlihat sangat parah."

Lin Xiao menunduk menatap kedua tangannya sendiri.

Dia bisa merasakan energi hangat yang mengalir di bawah kulitnya, memperbaiki jaringannya yang rusak.

"Aku baik-baik saja, Paman Zhou." jawab Lin Xiao dengan tenang.

"Luka ini tidak sesakit yang terlihat."

"Tapi Tuan Muda Jian memukul Anda dengan sangat keras tadi." ucap Paman Zhou sambil berusaha mendekat.

"Saya harus segera mencarikan tabib untuk Anda."

Tap.

Lin Xiao memegang bahu Paman Zhou dengan lembut untuk menahannya.

"Tidak perlu membuang-buang uang yang kita tidak punya, Paman."

"Tapi Tuan Muda..." protes Paman Zhou dengan nada khawatir.

"Aku bilang tidak perlu." potong Lin Xiao sambil menatap mata pelayan tua itu.

"Uang simpanan kita harus digunakan untuk membeli obat Ayah, bukan untukku."

Paman Zhou terdiam mendengar keteguhan dari suara Lin Xiao.

Dia merasa ada yang aneh dengan tuan mudanya hari ini.

Biasanya, Lin Xiao akan menangis atau meratapi nasibnya jika dipukuli oleh Lin Jian.

Namun hari ini, pemuda di depannya ini terlihat sangat tenang seperti danau yang tak beriak.

'Tuan Muda sepertinya telah tumbuh dewasa setelah melewati kejadian hidup dan mati.' batin Paman Zhou.

"Ayo kita kembali ke kamar." ajak Lin Xiao sambil berbalik badan.

"Ayah pasti sudah menunggu kita dari tadi."

"Baik, Tuan Muda." jawab Paman Zhou sambil bergegas mengikuti dari belakang.

"Mari saya bantu berjalan."

"Tidak usah paman, aku bisa berjalan sendiri." tolak Lin Xiao dengan halus.

Mereka berdua berjalan melewati lorong-lorong sepi di area belakang kediaman Klan Lin.

Tidak ada pelayan lain yang menyapa mereka karena status mereka yang sekarang sangat rendah.

Dulu, saat ayah Lin Xiao masih menjadi tetua agung, lorong ini selalu dipenuhi orang yang menjilat ayahnya.

Sekarang, tempat ini tidak lebih dari sekadar area kumuh yang diabaikan oleh klan.

Srak.

Suara langkah kaki mereka berdua terdengar jelas di lorong yang sunyi.

Lin Xiao berjalan sambil terus memeriksa kondisi internal tubuhnya secara diam-diam.

'Luar biasa.' batin Lin Xiao dengan penuh takjub.

'Meridianku yang dulu sempit dan tersumbat sekarang terbuka lebar.'

'Energi dari warisan Kaisar Pedang Haus Darah ini benar-benar mengerikan.'

'Bahkan luka dalam yang kuderita akibat tendangan Lin Jian tadi sudah sembuh sepenuhnya.'

Lin Xiao tersenyum tipis menyadari potensi kekuatannya yang sekarang.

Dengan teknik kultivasi dari Makam Para Raja, dia tidak lagi menjadi sampah yang tidak bisa berkultivasi.

Kriet.

Lin Xiao membuka sebuah pintu kayu yang sudah usang dan berderit keras.

Ini adalah kamar tempat ayahnya, Lin Tianhai, menghabiskan hari-harinya di tempat tidur.

Uhuk.

Suara batuk yang sangat keras langsung menyambut kedatangan mereka.

Di atas ranjang kayu yang keras, seorang pria paruh baya terlihat sedang memegangi dadanya yang kesakitan.

"Ayah." panggil Lin Xiao sambil bergegas mendekati ranjang tersebut.

"Ayah batuk lagi?"

Lin Tianhai perlahan membuka matanya dan menatap putranya.

Raut wajahnya yang pucat dan keriput seketika berubah menjadi tegang saat melihat kondisi baju Lin Xiao.

"Xiao'er, apa yang terjadi padamu?" tanya Lin Tianhai dengan suara serak.

"Bajumu robek dan banyak noda darah di sana."

Lin Tianhai berusaha bangkit dari tidurnya, tapi tubuhnya terlalu lemah.

Lin Xiao segera memegang tubuh ayahnya dan membantunya bersandar di kepala ranjang.

"Ini bukan apa-apa, Ayah." jawab Lin Xiao sambil memaksakan sebuah senyuman.

"Aku hanya tidak sengaja terjatuh saat berlatih di bukit belakang tadi."

"Kau berbohong." ucap Lin Tianhai sambil menatap tajam mata putranya.

"Paman Zhou, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukan ini?"

Paman Zhou yang berdiri di dekat pintu langsung menundukkan kepalanya.

Dia tidak berani menatap mata Lin Tianhai yang dulu pernah menjadi sosok paling ditakuti di klan.

"Tuan Besar..." ucap Paman Zhou dengan ragu-ragu.

"Tuan Muda Lin Jian... dia dan para penjaganya tadi mengganggu Tuan Muda di halaman belakang."

Mendengar nama Lin Jian, kedua tangan Lin Tianhai langsung mengepal erat.

Napasnya menjadi memburu dan wajahnya memerah karena menahan amarah.

"Bocah kurang ajar itu lagi!" geram Lin Tianhai dengan suara bergetar.

"Hanya karena kakeknya sekarang menjadi kepala tetua, dia berani menindas putraku sesuka hati!"

Uhuk.

Amarah yang meluap-luap membuat Lin Tianhai kembali batuk dengan hebat.

Kali ini, ada bercak darah yang keluar dari mulutnya dan menodai selimut usang itu.

"Ayah! Tenanglah!" seru Lin Xiao dengan panik sambil mengusap punggung ayahnya.

"Ayah tidak boleh terlalu emosi, itu akan memperburuk luka di jantung Ayah."

"Bagaimana ayah bisa tenang, Xiao'er?" jawab Lin Tianhai sambil meneteskan air mata.

"Ayah ini adalah pria yang tidak berguna."

Lin Tianhai mencengkeram lengan baju Lin Xiao dengan erat.

"Ayah tidak bisa melindungimu dari hinaan orang-orang klan."

"Ayah, jangan bicara seperti itu." ucap Lin Xiao dengan suara lembut.

"Ayah sudah membesarkanku dan melindungiku selama bertahun-tahun."

"Dulu, saat ayah masih berada di puncak kekuatan, tidak ada satupun yang berani menatapmu dengan sebelah mata." ratap Lin Tianhai.

"Di Kota Jade River ini, di wilayah Central Heavenly Plains yang luas ini, tanpa kekuatan kita bukanlah apa-apa."

"Ayah tahu betul betapa kejamnya hukum rimba di dunia kultivasi." lanjut Lin Tianhai dengan nada penuh penyesalan.

"Seandainya saja ayah tidak dijebak saat menjalankan misi klan tiga tahun lalu, kultivasi ayah tidak akan hancur seperti ini."

Lin Xiao mendengarkan ucapan ayahnya dalam diam.

Dia tahu persis sejarah kelam itu, sejarah yang membuat ayahnya cacat dan dirinya kehilangan pijakan di klan.

'Mereka yang menjebak ayah pasti ada hubungannya dengan faksi Lin Jian.' batin Lin Xiao dengan dingin.

'Aku akan mencari tahu kebenarannya dan membantai mereka semua sampai ke akar-akarnya.'

"Sudahlah, Ayah tidak perlu memikirkan masa lalu." ucap Lin Xiao menenangkan.

"Yang penting sekarang adalah kesembuhan Ayah."

Lin Tianhai menghela napas panjang dan melepaskan cengkeramannya dari lengan putranya.

Dia menatap wajah Lin Xiao dengan pandangan yang sangat sedih.

"Tadi pagi, utusan dari Keluarga Su datang ke kediaman utama klan." ucap Lin Tianhai tiba-tiba.

"Apakah kau sudah mendengarnya, Xiao'er?"

Lin Xiao menganggukkan kepalanya perlahan.

"Ya, Lin Jian tadi memberitahuku."

"Mereka datang untuk membatalkan pertunanganmu dengan Su Yuxin, bukan?" tanya Lin Tianhai dengan nada getir.

"Keluarga Su benar-benar sekumpulan orang yang tidak tahu berterima kasih."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!