Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Bab 1

"Zakia, bangun!"

Mimpi indah Zakia tentang hidup penuh ketenangan dan dilimpahi kebahagiaan langsung buyar ketika suara menggelegar sang ibu masuk menembus pintu kamar yang tertutup rapat.

Wanita itu perlahan membuka mata dan menghela nafas lelah, menyadari bahwa kehidupannya ternyata belum ada perubahan. Ia harus bekerja selayaknya laki-laki demi bisa menikmati hidup sebagai perempuan.

"Zakiaa!" Sekali lagi, suara penuh kemarahan itu kini kembali terdengar, tak sampai di situ kali ini bahkan pintu berwarna coklat itu ikut digedor kuat.

"Ck!" Tangan mungil itu terpaksa membuka selimutnya, meletakkan kembali boneka yang ia peluk semalaman dengan rapi dan mengambil ikat rambut demi menghilangkan risih yang ia rasakan.

Tungkai kecil itu mulai berdiri, menopang tubuh yang dipaksa kuat demi mencari selembar uang, sebelum ia ke luar, Zakia berdiri dulu menghadap cermin dan memperhatikan wajahnya.

"Lo itu kuat, lo itu cantik, lo itu keren, so mari berharap bahwa suatu hari nanti bisa dapat hal yang baik yang bisa merubah sedikit kehidupan anjay ini. Fighting Zakia!"

Zakia meregangkan tubuhnya dan langsung ke luar dari kamar, bisa bahaya jika dia tidak cepat ke luar, maka bukan lagi pintu yang akan menjadi korban melainkan telinga cantik wanita itu.

"Duh! Anak gadis ga mau bangun pagi, maunya bangun siang terus! Rezeki kamu keburu dipatok ayam! Malu sama si endut yang subuh-subuh udah bangunin mama!" seru ibunya. Zakia yang sedang memakan kue basah langsung melihat makhluk berbulu yang sedang makan di ujung sudut rumah.

"Ini udah siang bukannya langsung bangun malah ngelamun dulu di kamar, gimana entar kalau udah punya suami? Gimana kalau nanti pas bulan puasa, kalian payah bangun ga usah ikut puasa sekalian!"

Seolah menjadi santapan harian, hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan rumah Zakia pada pagi hari. Ibu yang selalu marah, ia dibandingkan dengan si Endut yang merupakan seorang kucing dan jangan lupa dengan masalah satu lagi.

"Rega! Kamu tu ya! Udah dibilangin rambut itu dipotong jangan kayak anak punk! Kamu mau ngepunk apa mau sekolah sih?"

Langkah kaki Zakia yang ingin masuk ke dalam kamar mandi langsung terhenti, topik yang satu ini terdengar sangat menarik, adik laki-lakinya yang satu itu memang selalu membuat sang ibu darah tinggi.

"Apaansih mah, ini tuh namanya fesyon!"

"Pesyon pesyon mata lu lima!"

"Akh!"

"Mau jadi apa lo ha? Ngikuti peraturan sekolah ga mau, omongan mama dilawan, sini lo lawan gue! Gue tarik gigi lo sampe maju nangis lo!"

"Apaansih lo! Sana lo mandi biar kerja! Heran gue semua mau diurusin!"

Darah Zakia seketika mendidih mendengar kalimat kurang ajar yang ke luar dari mulut adiknya itu. Handuk yang tadinya diletakkan di bahu kini diambil dan diputar-putar dengan kuat.

"Semua mau diurusin lo bilang?"

"Mati gue!" gumam Rega. Matanya melotot, mulutnya ternganga saat sang kakak melompat tinggi dan memukulkan handuk tersebut tepat ke bokongnya.

Plak!

"Aduhh pantat gueee!" Tangannya langsung mengusap-ngusap bokong yang kemungkinan sudah memerah dan terasa panas itu. Gilak memang, selain harus menghadapi ocehan ibunya maka dia harus kebal menghadapi pukulan sang kakak.

"Mama!"

"Zakia! Rega!" Sang ibu menegur, tapi apalah arti teguran saat tangan Zakia sudah mengapit leher adiknya yang lebih tinggi dan menariknya ke belakangan.

"Ngomong apa lo tadi! Ha? Ngomong apa?"

"Enggak, udah, ampun. Entar pulang sekolah gue potong rambut, janji, jangan tarik leheri gue please!"

Wanita paruh baya yang menyaksikan kejadian gragas itu menggeram kesal, tidak bisa begini! Ke dua manusia gen z ini susah dinasehati dengan lembut, maka parenting VOC akan dia keluarkan agar mereka diam.

"Nih ambil masing-masing satu, saling bunuh, cepet!"

Perkelahian itu terhenti saat sang ibu menodongkan dua buah pisau kepada sepasang manusia yang sedang beradu kekuatan itu. Zakia melepaskan pegangannya dan membiarkan Rega yang berlari dari sana, tak ingin kalah, Zakia ikut masuk ke kamar mandi. Semakin lama berdiri di depan ibunya, maka rasa takut itu semakin menggelegar.

***

Suasana toko sembako tempat Zakia bekerja tidak terlalu ramai, pintu sudah terbuka dan barang sudah dipajang sesuai tempatnya masing-masing, Zakia melihat jam dan mulai mengangguk.

"Pantes belum ramai, ternyata masih jam segini," gumamnya.

"Ya semoga hari ini hari sabtu tenang," lanjutnya.

Seseorang ke luar dari balik tumpukan makanan dan melotot ke arah Zakia. Zakia yang saat itu ingin berbalik langsung terkejut dan memegang dadanya.

"Gila! Lo ngapain di situ Dinda!" seru Zakia. Jantungnya serasa mau lepas, ia kira tidak ada orang dan tiba-tiba timbul seonggok manusia dengan tatapan melototnya.

"Jangan ngomong kayak gitu kak Zak, engar kita semua dalam bahaya," bisiknya pelan.

"Tau! Si kak Zak, asal ngomong aja, sabtu tenang minggu tenang, ga taunya orang tiba-tiba membludak!" sahut temannya.

"Za, lo juga jangan ngomong gitu elah, mending fokus beresin mie instan sono! Tuh pak Jamrud udah marah-marah dari semalam karena mie instan yang belum diberesin," kata Dinda.

"Iya ini juga lagi diberesin Din, sabar elah tangan gue cuman dua," jawab Reza kesal. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memberesi mie instan dengan segala macam merk yang sangat banyak, kebetulan semalam barang mereka masuknya di sore hari dan tak mungkin dilanjutkan sampai ke malam hari.

Grosir pak Jamrud, itu nama toko sembako tempat Zakia mencari nafkah demi menyambung hidup, akibat kejadian beberapa tahun lalu yang tidak bisa lagi disesali membuat Zakia berakhir di toko dan berteman dengan mereka dan bahkan menjadi karyawan yang paling tua di antara mereka.

"Zakia."

"Iya pak?" Sebuah tangga menjadi pijakan Zakia untuk menyusun jajanan di rak agak sedikit bergoyang saat pak Jamrud memegang tangga tersebut.

"Buka HP kamu, saya udah kirim pesan punya pak Dadang, itu pesanan dia mau diantar sekarang, tolong cepat siapin yah," kata pak Jamrud. Zakia mengangguk mantap dan turun pelan-pelan dari tangga. Ia membuka ponselnya, membuka pesan dari Pak Jamrud dan mengirimkannya ke grup obrolan mereka.

"Dinda Reza bantuin gue, barangnya banyak ini."

"Iya."

"Siap."

"Tuh kan udah gue bilang jangan sebut hari ini hari tenang, pasti bakal ada aja gebrakannya, duh mana gue entar malem mau jalan lagi sama pacar, kalau kecapekan gini gimana mau ngedate," celetuk Dinda. Tawa renyaha terdengar dari bibir Zakia, Dinda ini paling tua dua tahun dari dirinya tapi mereka merasa seumuran karena jokes yang nyambung dan kelakuan tak jauh beda.

"Huu banyak ngeluh lo kadal gosong," cerca Reza tepat di telinga Dinda. Wanita yang dicerca kesla bukan main, alhasil ia menendnag pelan betis Reza dan langsung berlalu dari sana. Dari pada menghadapi ocehan Reza, mending ia mengerjakan pesanan mereka biar bisa duduk sebentar sambil milih outfit gemas untuk malam ini.

Bab 2

"Kak Zak!"

"Hm?"

"Kak Zak?"

"Ish apasih Din, udah fokus kerjaan aja sono!" kesal Zakia. Pasalnya Pak Jamrud sudah berbicara dari cctv dan bisa dipastikan pria tua satu itu pasti sedang memantau mereka, tapi bocah badung satu ini tidak ada takut-takutnya sedikitpun.

"Yaelah Kak Zak, tumben lo kak! Kenapa sih? Lagi tanggal tua ya?" sahut Dinda. Tangannya dengan cepat memasukkan barang yang dipacking ke dalam kardus, tapi mulutnya tetap berbicara kepada Zakia dan pandangannya melihat ke arah wanita itu.

Zakia menghela nafas dan duduk sebentar, tubuhnya mudah lelah namun pekerjaan yang dia ambil membuat dirinya harus mengesampingkan rasa lelah itu. Dinda yang merasa adanya perubahan dari diri Zakia merasa tidak enak, dengan pelan dia mengambil bon di tangan Zakia dan muali menyiapkan semua barang yang dibutuhkan.

"Kak Zak kalau ga enak badan duduk aja kak, biar gue sama Reza yang nyiapin, entar kita aja yang ngantar barang, kakak di toko aja," kata Dinda.

"Makasih ya Din," ujarnya parau. Sejujurnya Zakia memang sedang merasa tidak enak badan, tubuhnya sedikit meriang dan kepalanya terasa pusing, ini pasti akibat kelelahan dan kurangnya istirahat.

Usai kejadian sial yang menimpa hidupnya, Zakia terpaksa bekerja tanpa kenal lelah agar bisa membantu keuangan ibunya, ayahnya meninggal dalam keadaan ikut meninggalkan hutang, hutang diatasnamakan dengan. nama ibunya, sehingga status ibu yang masih hidup membuat mereka harus menanggungnya.

Syukurnya hutang sang ayah sudah tinggal sedikit lagi dan kini Zakia tinggal mikirkan hutang motor yang belum lunas yang ia miliki. Tubuh Zakia terasa berat kala mengingat betapa besarnya beban yang ia tampung

Ia menyenderkan tubuhnya ke tumpukan karung yang diisi gula, kepalanya diangkat ke atas dan menatap plafon yang berwarna putih bersih.

'Andai aja kemaren ga kayak gini, pasti hidup gue agak lumayan,' gumamnya dalam hati.

"Tapi mau gimana lagi, toh hidup tetap berjalan selagi masih diberi umur," monolognya sambil terkekeh pelan.

"Woy, denger-denger hari ini anak Pak Jamrud, bang Daren pulang." Reza tiba-tiba datang dengan becak barang yang langsung masuk ke dalam gudang.

"SERIUS?" teriak Dinda yang sedang membawa jajanan di pundaknya. Reza dengan sigap mendekati teman wanitanya itu, bisa bahaya jika mereka kelelahan dan berujung libur, bisa-bisa Reza kerepotan jika dua wanita ini tidak datang.

"Reza lo serius? Bang Daren jadi pulang, akhhh, gue seneng banget!"

Teriakan dan rasa kebahagiaan terdengar jelas dari cara bicara dan intonasi bicara yang dikeluarkan Dinda. Dia sampai menggoyang-goyangkan bahu Reza saking senangnya dengan berita itu.

Tapi tidak dengan Zakia, ia hanya menggeleng saat melihat kelakuan teman kerjanya satu ini. Ia memang tahu kalau Dinda ada rasa kagum terhadap anak token mereka satu itu, entah itu kagum atau suka atau cinta Zakia juga tidak paham, yang penting ketika Dinda berbicara mengenai Daren maka dia akan semangat empat lima, lebih semangat dari pada saat bekerja.

"Emangnya kapan pulangnya Za?" sahut Zakia.

"Katanya sih bentar lagi nyampe kak," jawab Reza. Begitu mendengar berita itu, mata Dinda langsung melotot, Daren bentar lagi sampai? Bentar lagi sampai? Oh my god!

"Beneran bentar lagi nyampe? Ih mana muka gue butek banget, baju juga lagi kotor-kotornya, ihh kenapa sih datengnya waktu gue lagi jadi gembel," keluh Dinda. Kalau begini keadannya kan dia tidak bisa kedip-kedip genit ke pria tampan satu itu.

"Ya suka-suka dialah, dia juga pulkam bukan mau ketemu elo kan dia mau ketemu keluarganya, lo nya aja yang kegeeran, dasar kadal gosong!"

Menyadari betapa merahnya mata Dinda dan sudah dipenuhi api kemarahan, ia cepat naik ke atas becak, menyalakannya dan cepat pergi dari sana. Tak lupa ia mengeluarkan tawa ejekan yang membuat Dinda kesal bukan main.

"Jangan benci-benci banget, entar jodoh tau rasa lo!" canda Zakia.

"Ihh ga mau! Siapa juga yang mau sama orang kayak dia!"

"Ye elo lah, siapa lagi!" sahut Zakia. Tawa renyah tak bisa Zakia tahan saat wajah masam Dinda semakin kecut begitu Zakia mengatakan hal itu.

"Ga mauuu!!" teriak Dinda dan berlari ke luar dari gudang. Zakia hanya tertawa dan mengambil sebagian barang yang ketinggalan lalu pergi menuju toko, gudang mereka ada di tepi jalan besar sedangkan gudang mereka masuk ke dalam gang, tapi jaraknya tidak terlalu jauh sehingga masih memudahkan mereka untuk bolak-balik mengambil barang.

"Din, itu tuh bang Daren udah sampai," kata Reza sambil menyenggol siku Dinda.

Di depan sana sudah terlihat pria dengan tubuh tinggi, kulit kuning langsat, bahu lebar dan tak lupa hidung mancung yang ia miliki, seketika beberapa pembeli yang sedang datang langsung menoleh ke arah pria yang bernama Daren itu.

Pak Jamrud begitu datang langsung memeluk anaknya dan mengusap bahunya pelan. Akhirnya setelah lama merantau ke ibu kota dengan tujuan berkuliah, sang anak kembali ke kampung halaman dan memilih untuk melanjutkan usaha yang sudah diwariskan kepadanya sejak dulu.

"Daren, anak bapak udah gede aja," kata pak Jamrud. Pria yang bernama Daren itu terkekeh pelan, baru lagi rasanya ia diajari naik sepeda oleh ayahnya sekarang pria itu sudah bisa bawa mobil sendiri dan tubuhnya jauh lebih tinggi dan lebih tegap dibanding dengan ayahnya.

"Bunda mana?"

"Ini! Bunda di sini! Nih makan dulu bolu pisang kesukaan Daren, bunda sengaja bikin tadi pagi biar kamu makan masih enak." Bu Lili ke luar dari dalam toko dengan sepiring bolu pisang di tangannya, satu suapan ia berikan kemudian ia memeluk anaknya dan menangis penuh haru.

"Bang Daren disayang banget ya sama keluarganya," gumam Reza sembari mengikat barang yang sudah disusun dibecak.

"Hooh, tapi emang pak Jamrud sama bu Lili kayaknya tipe orang tua yang soft gitu deh, toh ke kita juga mereka baik banget, pdahal cuman karyawan, apalagi ke anak sendiri, keluarga mereka pasti cemara banget, ya kan kak Zak?" tanya Dinda.

Zakia mengangguk setuju, melihat bagaimana cara pak Jamrud dan bu Lili memperlakukan mereka, otomatis perlakuan yang lebih baik bakal disalurkan ke anak kandung mereka sendiri.

"Duh gue kalau jadi menantunya bu Lili bakal beruntung kayaknya, dapat kakak ipar yang baik, suami idaman, mertua apalagi, beuh keknya hidup gue bakal sejahtera," kata Dinda.

Bibirnya tidak bisa menahan senyuman yang akan ke luar, senang rasanya membayangkan hal yang tidak akan terjadi, bagaimanapun Dinda juga sadar diri dengan statusnya, tidak mungkin dia bisa bersanding dengan Daren, dia hanya kagum toh dia juga penasaran siapa wanita yang akan berhasil menjadi pendamping hidup sang pria pujaan hatinya itu.

Bab 3

"Zakia, tolong dong barang ibu dimasukin kardus, ibu udah bayar."

"Okey buk, barangnya udah pas semua ini kan?"

"Keknya udah ya, tapi coba kamu cek sekali lagi biar enak," kata seorang wanita paruh baya. Belanjaan tidak terlalu banyak namun susah kalau dibawa menggunakan kantong plastik. Zaki mendekati meja kasir dan mengambil kertas bon dari tangan pak Jamrud.

Bau tepung dan juga plastik bercampur menjadi satu, ini sudah sore dan sebentar lagi toko akan tutup. Akan tetapi, ketika toko ingin tutup maka banyak orang yang datang belanja, alhasil mereka harus cepat mengerjakan semuanya supaya tidak terlewat jam tutup seperti biasa.

"Permisi, minggir bentar."

Zakia yang sedang jongkok merasa diajak bicara langsung mendongak, suaranya terdengar sangat asing, tidak ingin diselimuti rasa penasaran, Zakia pun mendongakkan kepalanya.

"Eh? Iya maaf," katanya pelan. Ternyata Daren, anak pak Jamrud yang telah ke luar setelah dari tadi berada di dalam rumah tersebut.

Zakia bergeser sedikit, memberikan Daren jalan agar ia bisa beranjak pergi dari sana.

"Nak, nenek boleh minta tolong, ambilin kopi ini dong satu bungkus."

"Iya bentar ya Nek." Zakia menyelesaikan ikatan tali pada kardus yang ia packing dan memberikannya kepada wanita paruh baya itu.

Usia melakukan itu, ia pun kembali menggulung tali plastik yang tadi berserakan dan membersihkan sisa-sisa kardus yang ia gunakan. Saat ingin masuk ke dalam, tangannya ditahan oleh seseorang.

Zakia menoleh, "Nak tolong ambilin nenek kopi itu dong, yang paling atas. " Zakia melihat ke arah mana sang nenek menunjuk, gila itu barang paling atas dan jarang dibeli oleh orang.

Ingin menyuruh Reza percuma, bocah badung dan wanita cerewet satu itu sedang pergi mengantar pesanan.

"Iya Nek, bentar ya."

Zakia mengiyakan, tapi aslinya dia sedang gelagapan. Melihat kanan kiri memastikan di mana letak barang berguna yang sialnya sering menghilang, yaitu tangga.

"Pak, ada liat tangga gak?"

Seorang pria paruh baya yang dipanggil pak itu menurunkan sedikit kacamatanya, ia meletakkan uang yang sedang dihitung dan menoleh kanan kiri. Seperti sednag mencari seseorang.

"Daren, tolong bantu dulu Zakia ambil barang itu, tangganya lagi dipake sama ibu di belakang," titah pak Jamrud. Daren yang sedang membereskan kardus berserakan langsung menghampiri Zakia.

"Kopi mana?"

"Ha? Oh, kopi itu bang yang paling atas," tunjuk Zakia. Ia bergeser sedikit dan memberikan Daren tempat lebar agar pria itu bisa mengmbil kopi tersebut.

"Ada lagi Nek?" tanya Daren. Nenek tua itu tersenyum sambil menggeleng.

"Ga ada Nak, makasih ya, mudah-mudahan cepat dapat jodoh," kata si Nenek. Daren hanya bisa tertawa kecil menanggapi omongan si nenek, sudah tak heran.

"Anaknya ya Rud?"

"Iya, anak paling kecil, baru aja pulang."

Nenek tersebut mengangguk, ia memperhatikan Daren dari atas ke bawah dan kembali tersenyum, "Ganteng ya," katanya jujur.

"Iyalah, orang bundanya cantik." Bu Lili datang dari dalam dengan sepiring mangga dan satu mangkok bumbu rujak yang sudah disiapkannya. Zakia sebagai pecinta mangga muda kelas kakap, langsung ngiler saat melihat bu Lili lewat tepat di depan matanya.

"Nenek mau rujak Nek?" tawar pak Jamrud.

Nenek itu menggeleng sambil memegang pipinya, "gimana mau makan rujak? Giginya aja udah ga ada nduk."

Semua yang ada di situ terkekeh kecil, nenek tersebut membayar semua belanjaannya dan beranjak pergi dari sana. Tak lupa sebelum pergi ia menepuk pelan lengan Daren dan tersenyum.

"Zakia, makan aja mangganya, ibu tau kamu suka mangga yang kayak gini," kata bu Lili. Zakia mengangguk malu, walaupun sudah hampir satu tahun dirinya bekerja di sini, tapi bukan berarti Zakia bisa langsung semena-mena, bahkan saat ditawarkan makanan saja pun dia belum tentu langsung menerimanya.

"Iya Zak, ambil aja, ga usah malu-malu, kayak baru masuk kerja aja, " kata Pak Jamrud. Zakia kembali mengangguk dan membiarkan keluarga itu makan rujak buatan bu Lili, sedangkan dirinya membuka ponsel dan mengecek apakah ada pesan dari sang ibu atau tidak.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara becak barang dan suara teriakan Dinda yang melengking. Tak lupa dengan penampilan wanita itu yang aur-auran karena tingkah Reza yang bawa becak ugal-ugalan.

"Gila lo Reza! Lama-lama gue tinju gigi lo biar tonggos, ga bisa emang bawa kendaraan tu pelan-pelan, kalau mau mati pergi sendiri jangan ajak gue, gila memang!"

Dinda menghentakkan kakinya masuk ke dalam toko dan memberikan segepok uang ke meja pak Jamrud. tak sampai di situ, tangannya langsung mencomot mangga yang sudah dipotong tadi dan memasukkan ke dalam mulutnya. Setidaknya dengan memakan ini, kesal dalam hatinya bisa berkurang.

"Jangan marah-marah mulu Din, darah tinggi entar stroke pas muda gimana, katanya mau ketemu banyak cowok ganteng," canda bu Lili.

Dinda yang mendengar itu terkekeh pelan sambil melirik tipis-tipis ke arah Daren yang sedang membantu pak Jamrud menghitung uang. Zakia yang memperhatikan itu hanya tersenyum simpul. Dasar Dinda! Pantang lihat cowok ganteng, langsung centil tipis-tipis.

"Song, kadal gosong geseran dikit!"

Semua bayangan indah Dinda terhadap Daren bubar ketika Reza menggeser pelan tubuhnya, decakan kesal ke luar dari bibir Dinda, ia menatap Reza sengit dan berpindah ke sisi kanan Zakia. Berlama-lama dekat Reza lama-lama memang bisa bikin darah tinggi.

"Eh, Zakia kamu ke gudang dulu ya cek stok sirup tinggal apa aja, saya mau pesan ke sales, ini bentar lagi bulan puasa, pasti orang banyak beli.," titah pak Jamrud.

Zakia yang mendengar itu tak menjawab apapun tapi langsung bangkit, ia mengambil kunci gudang serta buku yang biasa ia bawa untuk mengecek stok barang. Ia meninggalkan Reza dan Dinda yang masih berkelahi hanya karena Reza yang usilnya minta ampun.

Di sela-sela perjalanan menuju gudang, Zakia teringat bahwa dia masuk bekerja ke sini saat ingin puasa dan sekarang sudah kembali mau puasa, waktu berlalu begitu cepat dan perjalanan hidupnya juga sudah sangat banyak ia lewati.

Langit sudah mulai menggelap, sebentar lagi mereka akan tutup, Zakia yakin ketika selesai mengerjakan ini dia akan langsung pulang karena toko pasti sudah akan tutup.

Suasana gudang terasa sedikit sunyi karena memang gudang tersebut berada dikawan rumah yang penghuninya jarang ke luar. Tanpa menunggu lama, Zakia masuk ke dalam dan mulai ngecek stok sirup satu persatu.

"Sirup mangga sisa 10 lusin, lychee tinggal 5 lusin, jeruk kosong," gumamnya dengan tangan yang menulis.

Namun saat sedang melakukan pekerjaannya, Zakia mendengar suara langkah kaki, tapi hal itu tidak menganggu pekerjaannya, toh iya yakin itu yang datang adalah temannya.

"Za, jangan usil, enter gue tampol nangis lo!" tegur Zakia..

Diam, tidak ada sahutan. Perasaan Zakia menjadi tidak enak, jantungnya berdegup kencang, ia menelan ludah susah payah dan tangannya ia kepalkan kuat. Ia juga baru ingat bahwa tadi pintu gudang tidak dikunci.

Merasa ada yang janggal, Zakia langsung berbalik dan terkejut seseorang masuk ke dalam gudang.

"AAAAAA!!!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!