Indonesia
NovelToon NovelToon

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Skripsi atau Nyawa

"Ya Allah, capek banget. Skripsi tuh fix kayak hubungan toxic. Capek hati, capek pikiran, tapi tetep harus dijalanin," rutuk gue sambil ngusap muka.

Huft, Udah empat jam gue melototin layar laptop, tapi kursornya kedap-kedip doang bikin gue makin pusing.

Gue ngelirik tumpukan kertas lecek di sudut meja. Semuanya penuh coretan tinta merah mahakarya Pak Baskoro. Asal lo tau aja, ini udah revisi kelima belas.

Pas lagi stres mikirin itu, HP di meja mendadak getar. Layarnya nampilin tulisan 'MAMA'. Gue narik napas panjang sebelum neken tombol hijau.

"Halo, Ma?" Suara gue langsung pelan.

"Ra, gimana bab empatnya? ACC kan hari ini? Mama udah mulai milih kebaya buat wisuda bulan depan. Jangan bikin malu Mama, anaknya Tante Yuni udah lulus duluan tuh."

Denger itu, rasanya pengen nangis. "Iya, Ma, ini lagi direvisi kok. Doain aja besok pagi Pak Baskoro khilaf, terus langsung tanda tangan."

"Pokoknya Mama nggak mau tau. Harus lulus!"

Tut tut tut

Telepon ditutup gitu aja. Gue naruh HP lagi ke meja. Sumpah, pengen ngilang aja rasanya.

Baru aja gue mau nutup muka pakai bantal leher, ada pesan masuk dari nomor nggak dikenal.

"Mbak, paket dari JNE udah saya taruh di meja pojok ya. Tadi Mbaknya lagi ke toilet. Terima kasih."

Gue ngernyit. Paket? Boro-boro belanja online, saldo ATM aja sisa gocap. Sambil ngedumel pelan, gue jalan ngecek ke meja pojok kafe yang agak sepi.

Di atas meja itu, ada koper kulit hitam legam. Saking capeknya mikirin revisi, gue udah nggak kepikiran buat curiga. Tanpa pikir panjang, gue langsung narik pengaitnya.

Klik.

Begitu koper itu kebuka, napas gue terasa sesak. Tangan gue yang masih megang risleting langsung dingin dan gemeteran.

Di dalamnya, tergeletak gepokan uang seratus ribuan, map tebal bertuliskan 'RAHASIA', dan satu pistol hitam legam lengkap sama peredamnya.

Kecium bau besi campur mesiu. Pikiran gue mendadak kosong. Ini bukan mainan. Ini senjata beneran.

Belum sempat nutup koper itu, HP di saku celana bunyi. Tangan gue yang masih gemetaran asal pencet tombol, niatnya mau dimatiin, eh malah kepencet speaker.

"Woy, Ra! Lo di mana sih? Gue mau cerita"

"Beb!" potong gue panik, suara gue udah getar semua. "Gue salah buka koper orang. Ada pistolnya! Sumpah, Beb, ada pistol"

BRAK!

Pintu kaca kafe didobrak kencang sampai retak.

Gue kaget, HP lepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Tiga pria berbadan tegap dan berjas gelap nerobos masuk. Langkah mereka berat, ngawal satu pria di depan yang hawanya bikin merinding.

Suasana kafe mendadak hening total. Pelayan di kasir bahkan langsung ngumpet di bawah meja.

Pria yang di depan itu berhenti tepat di hadapan gue. Dia natap gue tajem banget, seakan nyawa gue tuh nggak ada harganya sama sekali.

"Kau baru saja membuka koper yang seharusnya membuatmu mati malam ini."

Suaranya datar dan dingin.

Lutut gue lemes banget sampai akhirnya jatuh duduk di lantai. Tenggorokan kerasa kekunci, boro-boro bisa teriak minta tolong. Ini beneran nyata. Nyawa taruhannya.

Pria itu sama sekali nggak ngeluarin senjata, tapi tatapannya sukses bikin gue mati kutu. Saking syoknya, akal gue beneran macet. Di tengah tangis, mata gue malah nggak sengaja nangkep tumpukan kertas revisian di meja sana.

Air mata ngalir, tapi mulut gue tetep nggak bisa dikontrol. "Mas, tolong, Jangan bunuh gue"

Dia cuma naikin sebelah alisnya.

"Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati." Napas gue tersengal-sengal, ngomong pun meracau nggak karuan. "Besok jam delapan pagi ada penentuan ACC. Kalo gue mati sekarang, skripsi gue batal, Mama udah keburu beli kebaya"

Dia diem, cuma merhatiin gue yang nangis sesenggukan di bawah kakinya.

"Bawa dia. Dan ambil semua barangnya."

Suaranya pelan, tapi tegas.

Detik berikutnya, dua bodyguard di belakangnya langsung maju. Mereka nyengkeram lengan gue kasar, narik gue paksa buat berdiri.

"Ampun, lepasin! Tolong!" jerit gue histeris. Gue nyoba berontak, tapi tenaga mereka nggak ngotak.

Salah satu dari mereka ngambil laptop dan tas ransel gue, sementara gue diseret paksa keluar kafe. Kaki bahkan sampai terseret di lantai saking nggak berdayanya.

"Laptop gue! Jangan dibanting, draf skripsinya di situ semua!" racau gue sambil nangis kejer, udah nggak peduli lagi dilihatin orang.

Gue didorong paksa sampai nyungsep ke jok belakang SUV hitam di luar. Pintu dibanting keras. Pria tadi sekarang duduk di sebelah gue, natap lurus ke depan dengan muka kaku.

"Jalan," perintahnya ke supir di depan.

Mobil langsung tancap gas. Gue cuma bisa meringkuk di pojok jok, meluk lutut sambil terus gemeteran. Keringat dingin udah bikin baju gue lepek. Air mata juga nggak mau berhenti.

Pria di sebelah nengok. Tatapannya yang datar itu sukses bikin nyali gue makin ciut.

"Buka laptopmu," perintahnya pelan, tapi jelas banget ngancem.

Gue geleng pelan sambil nahan sesenggukan. "Buat, apa?"

Dia agak maju, natap mata gue. "Kerjakan skripsimu. Kalau kau berhenti mengetik sebelum kita sampai di markas, kau mati malam ini juga."

Tahanan

gue mondar-mandir di ruang tamu yang gedenya minta ampun ini. Gue terus mantengin layar BB Curve butut di tangan. Sinyal EDGE cuma muncul satu bar di pojok layar. Deadline ngirim draf bab empat ke Pak Baskoro tinggal hitungan menit.

Asli, pengen nangis rasanya.

Gue jinjit sambil ngangkat HP ke atas. Badan gue masih gemetaran setelah diseret paksa ke markas ini. Tapi anehnya, takut skripsi gagal ACC sukses ngalahin rasa takut mati. Kalo file ini gagal kekirim, masa depan gue beneran kelar.

Ceklek.

Gue langsung kaku dengar suara pintu depan dibuka. Tangan gue otomatis turun. Udara di ruangan ini tiba-tiba kerasa dingin.

Pria itu Arka masuk ke dalam. Jas hitamnya agak kusut. Di ujung lengannya ada bercak merah gelap yang jelas bukan noda kopi. Bau anyir mulai kecium.

Dia berhenti, terus natap gue lurus.

"Sedang apa kau?" tegurnya. Suaranya rendah, tapi sukses bikin merinding.

Gue nelan ludah pas ngeliat noda darah itu. "S-sinyal," jawab gue takut. "Gue nyari sinyal."

Arka naikin sebelah alisnya. Dia jalan pelan nyamperin gue. Sumpah, setiap langkahnya bikin gue pengen kabur aja rasanya.

"Tadi kan, " Gue maksain diri buat ngomong, padahal lutut udah lemes. "Tadi lo suruh gue kerjain skripsi. Ini udah selesai, tapi nggak bisa dikirim. Nggak ada sinyal."

Dia berhenti tepat di depan gue. Matanya merhatiin gue dari atas sampai bawah, ngeliatin muka gue yang lepek gara-gara keringat dingin.

"Ikut saya."

Tanpa nunggu jawaban, dia balik badan. Gue buru-buru nyambar laptop di meja, terus ngikutin dia. Nggak ada pilihan lain.

Kita jalan ngelewatin lorong panjang. Gue sempat ngeliat beberapa pria berbadan tegap nunduk hormat pas Arka lewat. Nyali gue makin ciut. Tempat ini beneran sarang mafia.

Arka ngedorong pintu di ujung lorong. Ruang kerjanya gelap, cuma diterangin lampu meja. Dia jalan ke arah meja, narik laci, dan ngelempar sebuah modem USB putih ke atasnya.

"Pakai itu."

Tanpa banyak omong gue langsung lari ke meja, nyolok modemnya ke laptop pakai tangan yang masih tremor. Ruangan ini sepi banget. Cuma kedengaran napas gue yang ngos-ngosan sama bunyi ketikan keyboard.

Arka cuma ngelipat tangan di dada sambil ngawasin. Tatapannya itu lho, bikin keringat dingin gue makin parah.

"Lama amat sih loading-nya," gumam gue panik. Jari gue kaku banget. Kalo loading ini gagal, nggak tau lagi nasib gue gimana.

"Kau punya waktu dua menit sebelum kesabaran saya habis," sahut Arka datar.

Gue makin panik. "Bentar, Mas. Ini lagi muter... Tolong, jangan bunuh gue dulu. Gue mohon..."

Tulisan 'Your message has been sent' akhirnya muncul di layar.

Gue langsung lemes nyender ke kursi. Beban berat di pundak rasanya kayak hilang satu.

"Udah beres," ucap gue pelan, beraniin diri natap Arka. "Tugas gue udah kekirim. Skripsi gue aman."

Arka nggak jawab. Dia malah jalan ngedeketin gue. Pria itu nunduk, megang sandaran kursi. Jarak kita deket banget sekarang. Aroma parfumnya yang kecampur bau anyir darah langsung nusuk hidung.

"Bagus," bisiknya pelan. "Sekarang, urusan kita yang sebenarnya baru dimulai."

Rasa lega gue langsung hilang. "Loh? Kan... gue udah nurut. Gue udah ngetik skripsinya kayak yang lo suruh." Suara gue getar lagi. "Gue boleh pulang, kan? Gue janji nggak bakal ngomong ke siapa-siapa soal koper itu. Sumpah!"

Tatapannya makin gelap.

"Pulang?" Arka sedikit miringin kepalanya. "Kau pikir, setelah melihat isi koper itu dan masuk ke markas ini, kau masih punya jalan pulang?"

Gue nekan punggung ke sandaran kursi, nyoba ngejauh, tapi badannya ngeblokir total jalan keluar.

"Terus, gue harus ngapain di sini?" Gue nangis lagi. "Gue cuma mahasiswa, Mas. Tolong lepasin gue..."

"Di dunia saya, tidak ada istilah korban salah sasaran." Nadanya pelan banget, tapi efeknya bikin bulu kuduk berdiri. "Yang ada hanya saksi mata yang harus dibungkam, atau ditahan."

Arka mundur selangkah, berhenti natap gue.

"Kita lihat saja," ucapnya sambil jalan ke arah pintu. "Seberapa lama kau bisa bertahan di sini sebelum kau jadi gila."

Pintu ditutup rapat dari luar. Kedengaran bunyi kunci diputar dua kali.

Klik Klik

Ruangan itu mendadak hening lagi. Nyawa emang masih nempel di badan, tapi gue sekarang resmi jadi tahanan.

Gue ngusap muka pelan, terus balik natap layar laptop yang nampilin email tadi.

"Seenggaknya" gumam gue sambil nahan tangis. "Kalo pun mati di sini, bab empat gue udah di ACC."

Sangkar Emas

Baru aja ruangan ini sepi, kunci di luar bunyi lagi.

Klik.

Gue yang tadinya lemes langsung negak. Pintu kebuka, dan Arka masuk lagi. Belum sempat gue ngomong, dia langsung nyelonong masuk kayak lagi nyari barangnya yang ketinggalan.

Mumpung dia ada di depan mata, gue nekat aja buka mulut. Daripada mati konyol gara-gara salah paham.

"Bos," panggil gue gemetar. "Kalo emang gue nggak bisa pulang malam ini, seenggaknya jangan bunuh gue. Sumpah, gue nggak bakal lapor polisi. Demi apa pun!"

Bukannya nyaut, Arka malah nyingkat jarak, tahu-tahu udah berdiri mepet di depan meja kerja. Muka datarnya bener-bener bikin nyali ciut.

BRAK!

Meja digebrak kencang banget sampai gue terlonjak, punggung nabrak sandaran kursi.

"Tutup mulut."

Suaranya pelan, tapi dinginnya nembus banget. Jantung gue kayak mau copot.

Arka condongin badan ke depan, matanya ngunci pergerakan gue. "Kalau saya mau bunuh kamu, kamu udah habis dari kafe tadi."

"Terus nasib gue gimana?" napas gue masih tersengal, sisa air mata di pipi buru-buru gue usap kasar. "Oyen, kucing kosan gue belum dikasih makan. Gue juga nggak bawa baju ganti, Mas."

Dia diem, natap gue datar, cowok itu malah mijit pelipisnya sendiri, kelihatan banget jenuh dengerin protesan gue.

Tanpa ngomong apa-apa lagi, dia nekan tombol interkom di meja. Nggak lama, pintu kebuka dan munculah bodyguard berbadan raksasa dengan tato di leher. Tampangnya serem banget, tipe orang yang gampang banget matahin leher orang.

"Urusin kebutuhan perempuan ini," perintah Arka dingin tanpa noleh. "Pastikan dia nggak keluar dari penthouse, apalagi nyentuh sistem keamanan depan."

Bodyguard itu ngangguk kaku, lalu ngelirik gue sekilas dengan mata tajamnya.

"Ada lagi, Bos?" tanyanya.

Gue mendengus pelan, berusaha ngumpetin rasa takut. "Satu lagi! Tolong jangan kasih gue makanan sisa. Gue punya maag akut, kalau telat makan bisa pingsan. Jangan biarin gue mati kelaparan di sini."

Arka ngedengus pelan. "Bara yang urus," katanya sambil nunjuk bodyguard di sampingnya. "Dan ingat, jangan sentuh apa pun di ruangan ini kalau nggak mau dikurung di ruang isolasi."

Habis ngomong gitu, Arka langsung pergi begitu saja keluar ruangan.

Cowok berbadan besar yang dipanggil Bara itu narik napas pendek, terus ngeliat ke arah gue. "Mari saya antar ke kamar."

Gue cuma bisa ngangguk pasrah. Tas laptop dipeluk erat ke dada, terus gue ngekor di belakangnya. Sepanjang jalan, gue baru sadar kalau tempat ini luas banget tapi suasananya mencekam. Nggak ada suara TV atau obrolan normal, yang kelihatan cuma beberapa penjaga berbadan kekar di tiap sudut lorong. Fix, ini penjara pribadi.

Sampai di sebuah kamar yang ukurannya tiga kali lipat kamar kosan gue, langkah Bara berhenti.

"Ini kamar kamu," kata Bara kaku. "Jangan coba-coba keluar lewat jam delapan malam. Sensor keamanannya aktif."

Begitu Bara keluar, gue langsung banting pintu, ngunci dari dalam, terus terduduk di tepi ranjang besar yang empuk. Napas gue masih naik-turun, sisa-sisa emosi tadi bikin dada sesak.

Di sela rasa kesal itu, gue ngeluarin BB Curve dari saku celana. Layarnya masih nampilin tulisan SOS gede banget. Jangankan buat nge-ping di BBM atau ngecek timeline Twitter, buat ngirim SMS doang mustahil. Kepala gue pusing tujuh keliling.

Habis tenaga buat ngedumel, gue maksain diri bangkit dan jalan ke arah jendela kaca yang besar. Hordengnya gue singkap dikit, nampilin pemandangan lampu kota dari ketinggian. Bagus banget, tapi percuma kalau gue dikurung di sini.

Gue mandangin pantulan muka sendiri di kaca. Sembab, pucat, tapi sorot mata gue berubah jadi keras.

"Lo harus hidup, Ra," bisik gue pelan ke diri sendiri sambil meluk tangan yang dingin. "Jangan mati dulu. Lo belum wisuda."

Di ruangan lain, Arka senderan santai di kursi kerjanya sambil mantau layar CCTV. Di layar itu, kelihatan Rara yang tadinya sempat protes, sekarang malah berdiri bengong natapin jendela.

Muka Arka datar. Nggak ada rasa iba sama sekali.

"Ribet," gumamnya pelan.

Dia matiin monitor di depannya, lalu balik sibuk sama tumpukan laporan di meja. Buat ukuran bos mafia, cewek itu cuma bikin nambah kerjaan malam ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!