Hujan turun tanpa henti sejak sore.Bus berwarna putih yang membawa siswa-siswi SMA Karunia melaju perlahan menembus jalan pegunungan. Kabut begitu tebal hingga lampu depan bus hanya mampu menerangi beberapa meter di depannya.
Di dalam bus, suasana masih ramai.
Ada yang tertidur sambil memeluk bantal leher, ada yang sibuk memotret pemandangan, dan ada pula yang bercanda tanpa henti karena akhirnya study tour yang mereka tunggu-tunggu benar-benar terlaksana.
"Katanya hotelnya bagus banget, ya?"
"Iya. Bintang lima katanya."
"Semoga kamarnya nggak angker."
Ucapan itu langsung disambut tawa.
Tak ada satu pun yang menyangka bahwa candaan itu akan menjadi kenyataan.
Bus akhirnya berhenti tepat pukul 22.47.
Di depan mereka berdiri sebuah hotel tua yang menjulang tinggi. Bangunannya megah, tetapi terlihat seperti sudah melewati puluhan musim hujan. Cat dindingnya kusam, sebagian jendelanya tampak gelap, dan papan namanya hanya menyisakan beberapa huruf.
Angin dingin berembus pelan.
Entah kenapa, halaman hotel terasa terlalu sunyi.
Tak ada suara serangga.Tak ada suara burung malam.Hanya suara hujan yang memukul atap.
Begitu mereka memasuki lobi, seorang
resepsionis tua menyambut dengan senyum tipis.
"Selamat datang."
Suaranya pelan, hampir berbisik.
Setelah semua menerima kunci kamar, resepsionis itu kembali berbicara.
"Ada satu peraturan yang harus kalian ingat."
Seluruh siswa menoleh.
"Jika suatu malam lift berhenti di lantai yang tidak memiliki tombol..."
Ia berhenti sejenak.
"...jangan pernah keluar."
Beberapa siswa saling pandang lalu terdengar tawa kecil.
"Mungkin itu cuma cerita buat nakut-nakutin tamu."
Resepsionis itu tidak tertawa.Tatapannya tetap kosong.
"Jangan melihat lorongnya."
"Jangan memanggil siapa pun yang berdiri di sana."
"Dan apa pun yang kalian dengar..."
"...jangan melangkah keluar."
Suasana mendadak hening.
Tak lama kemudian, guru pendamping mengajak semua siswa menuju kamar masing-masing.
Mereka menganggap ucapan resepsionis itu hanyalah bagian dari cerita hotel tua.
Malam semakin larut.
Jam digital di lobi menunjukkan pukul 00.13.
Tiba-tiba...
DING.
Suara lift bergema sendiri.Padahal...
Tak ada siapa pun yang menekan tombolnya.
Pintu lift perlahan terbuka.Di baliknya tidak terlihat lantai hotel biasa.Hanya sebuah lorong panjang yang dipenuhi cahaya redup.
Dan...
Seseorang berdiri di ujung lorong itu.Ia tersenyum.
Seolah sedang menunggu mereka.
Dering Tengah Malam
Malam pertama di Hotel Arunika terasa begitu panjang.
Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 23.58.
Alea masih belum bisa memejamkan mata. Entah kenapa, sejak mendengar peringatan resepsionis tua tadi, perasaannya terus gelisah. Hujan di luar sudah reda, tetapi kabut justru semakin tebal, menutupi seluruh jendela kamar.
Naya, teman sekamarnya, sudah tertidur lelap.
"Tik... tik... tik..."
Suara jam dinding terdengar semakin jelas.
Alea menarik selimut hingga ke dada.
"Ini cuma hotel tua," gumamnya pelan. "Nggak ada yang perlu ditakuti."
Tepat ketika jam menunjukkan 00.13...
DING...
Suara lift terdengar dari ujung lorong.
Alea langsung membuka mata lebar.
Beberapa detik kemudian...
Tok... tok... tok...
Ada seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Pelan.Tiga kali Alea menoleh ke arah pintu.
"Naya..." bisiknya.
Naya tidak menjawab."Ia masih tertidur".
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Dengan langkah pelan, Alea mendekati pintu.
Tangannya gemetar saat mengintip melalui lubang kecil di pintu.
Tidak ada siapa-siapa.Lorong hotel kosong.
Lampunya berkedip pelan.
Malam pertama di Hotel Karunia terasa begitu panjang.Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 23.58.
Alea masih belum bisa memejamkan mata. Entah kenapa, sejak mendengar peringatan resepsionis tua tadi, perasaannya terus gelisah. Hujan di luar sudah reda, tetapi kabut justru semakin tebal, menutupi seluruh jendela kamar.
Naya, teman sekamarnya, sudah tertidur lelap.
"Tik... tik... tik..."
Suara jam dinding terdengar semakin jelas.
Alea menarik selimut hingga ke dada.
"Ini cuma hotel tua," gumamnya pelan. "Nggak ada yang perlu ditakuti."
Tepat ketika jam menunjukkan 00.13...
Ding...
Suara lift terdengar dari ujung lorong.
Alea langsung membuka mata lebar.
Beberapa detik kemudian...
Tok... tok... tok...
Ada seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Pelan.
Tiga kali.
Alea menoleh ke arah pintu.
"Naya..." bisiknya.
Naya tidak menjawab.
Ia masih tertidur.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Dengan langkah pelan, Alea mendekati pintu.
Tangannya gemetar saat mengintip melalui lubang kecil di pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Lorong hotel kosong.
Lampunya berkedip pelan.
Alea mengembuskan napas lega.
Mungkin hanya perasaannya saja.
Namun saat ia hendak kembali ke tempat tidur...
Terdengar suara lirih dari balik pintu.
"...tolong..."
Alea membeku.
Suara itu seperti suara anak perempuan.
"...aku kedinginan..."
Napas Alea mulai memburu.
Ia hampir membuka pintu.
Namun tiba-tiba ia teringat ucapan resepsionis.
"Apa pun yang kalian dengar... jangan keluar."
Alea menggigit bibirnya.
"Tidak... aku nggak boleh buka."
Beberapa detik kemudian suara itu menghilang.
Suasana kembali sunyi.
Karena penasaran, Alea membuka sedikit tirai jendela.
Di halaman hotel...
Ia melihat seorang gadis kecil berdiri sendirian.
Gaun putihnya basah.
Rambut panjangnya menutupi wajah.
Perlahan...
Gadis itu mengangkat kepalanya.
Meski terhalang hujan tipis dan kaca jendela...
Alea yakin gadis itu sedang tersenyum ke arahnya.
Jantung Alea berdegup kencang.
Ia buru-buru menutup tirai.
"Tidak... ini pasti mimpi."
Saat ia membalikkan badan...
Brak!
Pintu lemari terbuka sendiri.
Dari dalamnya jatuh sebuah gantungan kunci kamar.
Nomornya membuat tubuh Alea terasa dingin.
1307.
Hotel ini...
Tidak memiliki lantai 13.
Sebelum Alea sempat memanggil Naya...
Lampu kamar tiba-tiba padam.
Seluruh ruangan tenggelam dalam gelap.
Lalu dari arah lorong terdengar suara yang sama.
DING...
Lift kembali berhenti.
Dan entah mengapa...
Alea merasa ada seseorang yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamar mereka.
Menunggu...
Pintu itu dibuka.
BAB 3
Kamar 1307
DING...
Suara lift kembali terdengar.
Lorong masih gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela di ujung koridor.
Napas Alea mulai memburu.
"Naya... jangan ke sana."
Namun Naya justru menggenggam tangan Alea.
"Kita lihat sebentar aja."
Mereka berjalan perlahan menuju lift.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Saat jarak mereka tinggal beberapa meter...
Pintu lift terbuka dengan sendirinya.
Kosong.
Lampunya menyala redup.
Di dalam lift hanya ada satu tombol yang menyala.
13
Padahal tombol itu tidak ada saat siang tadi.
"Apa... kamu lihat itu?" bisik Alea.
Naya mengangguk pelan.
Mereka saling berpandangan.
Belum sempat memutuskan apa yang harus dilakukan...
Seseorang berlari dari belakang.
"Astaga! Kalian di sini ternyata!"
Alea dan Naya refleks menoleh.
Itu Raka, teman sekelas mereka yang terkenal pemberani dan suka menantang hal-hal mistis.di belakangnya ada tiga teman lain keanu, dimas, dan liora
Kamar 1307
DING...
Suara lift kembali terdengar.
Lorong masih gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela di ujung koridor.
Napas Alea mulai memburu.
"Naya... jangan ke sana."
Namun Naya justru menggenggam tangan Alea.
"Kita lihat sebentar aja."
Mereka berjalan perlahan menuju lift.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Saat jarak mereka tinggal beberapa meter...
Pintu lift terbuka dengan sendirinya.
Kosong.
Lampunya menyala redup.
Di dalam lift hanya ada satu tombol yang menyala.
13
Padahal tombol itu tidak ada saat siang tadi.
"Apa... kamu lihat itu?" bisik Alea.
Naya mengangguk pelan.
Mereka saling berpandangan.
Belum sempat memutuskan apa yang harus dilakukan...
Seseorang berlari dari belakang.
"Astaga! Kalian di sini ternyata!"
Alea dan Naya refleks menoleh.
Itu Raka, teman sekelas mereka yang terkenal pemberani dan suka menantang hal-hal mistis.
Di belakangnya ada tiga teman lain, Keanu, Dimas, dan Liora.
"Kalian juga dengar suara anak kecil?" tanya Raka.
"Iya..." jawab Alea lirih.
Raka justru tersenyum.
"Berarti bukan aku yang halusinasi."
"Aku mau lihat isi lift."
"Raka, jangan!" teriak Alea.
Namun Raka sudah melangkah masuk.
Begitu kakinya menginjak lantai lift...
BRAK!
Pintu lift langsung menutup.
"RAKA!!"
Keanu menekan tombol buka berulang kali.
Tidak ada respons.
Panel angka bergerak sendiri.
1...
4...
7...
10...
12...
Semua menahan napas.
Lalu...
13.
Lift berhenti.
Lampunya mati.
Tak ada suara.
Tak ada gerakan.
Selama hampir satu menit.
Kemudian...
Lift turun kembali.
12...
10...
7...
4...
1...
DING.
Pintu terbuka perlahan.
Raka masih berdiri di dalam.
Namun wajahnya pucat.
Matanya kosong.
Bajunya dipenuhi debu hitam seperti abu.
"Raka?" panggil Dimas.
Raka tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya.
Di telapak tangannya...
Tertulis dengan cairan merah:
"JANGAN PERNAH KEMBALI."
Lalu...
Raka pingsan tepat di depan mereka.
"Raka! Bangun!"
Keanu segera berlutut di samping Raka yang tergeletak di depan lift. Wajah Raka pucat kertas, napasnya memburu, sementara telapak tangan kanannya masih terbuka memperlihatkan tulisan merah yang membuat semua orang membeku.
JANGAN PERNAH KEMBALI.
"Itu... itu pakai apa?" bisik Naya dengan suara gemetar.
Dimas mengambil tisu dari sakunya dan mencoba mengusap tulisan itu. Namun, semakin digosok, warna merahnya justru semakin jelas, seolah-olah tinta itu berasal dari dalam kulit Raka.
"Tidak hilang..." ucap Dimas pelan.
Alea menelan ludah. Perasaannya mengatakan bahwa tulisan itu bukan sekadar peringatan.
Tiba-tiba Raka menarik napas panjang dan membuka matanya.
Semua langsung mengerubunginya.
"Rak! Kamu nggak apa-apa?" tanya Liora.
Raka tidak menjawab. Tatapannya kosong, seolah masih melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Ada... lorong..." gumamnya lirih.
"Lorong apa?"
"Gelap..."
"Aku dengar banyak orang menangis..."
Tubuh Raka mulai gemetar.
"Mereka... mereka memanggil namaku."
Suasana mendadak hening.
Alea merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Mereka bilang... aku terlambat."
"Terlambat untuk apa?" tanya Keanu.
Raka memejamkan mata rapat-rapat.
"Aku nggak tahu..."
Belum sempat mereka bertanya lagi, lampu lorong berkedip tiga kali.
Krek... krek...
Suara listrik memenuhi koridor.
Lift yang tadi tertutup perlahan terbuka kembali.
Kosong.
Namun kali ini ada sesuatu yang tergeletak di lantainya.
Sebuah foto lama.
Liora mengambilnya dengan hati-hati.
Foto itu tampak usang, pinggirannya menguning dimakan usia.
Yang membuat mereka terdiam bukanlah kondisi fotonya...
Melainkan isi foto tersebut.
Di sana terlihat sekelompok siswa sedang berfoto di depan hotel yang sama.
Jumlah mereka enam orang.
Lima wajah terlihat asing.
Tetapi satu wajah...
Sangat mereka kenal.
"Itu..." bisik Naya.
"Itu Raka..."
Semua menoleh ke arah Raka.
"Tidak mungkin..." kata Keanu cepat. "Foto ini kelihatan sudah puluhanan tahun.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!