Indonesia
NovelToon NovelToon

Ibu Susu Sang CEO

Bab 1.

Disebuah kamar yang sangat gelap, Violet Beby Salsabila duduk sendirian.

Dia menggigit bibir bawahnya.

Tiba-tiba suara lampu dihidupkan. Sosok pria tampan yang duduk di kursi roda menghampiri dirinya.

"Apakah kau ibu susu yang akan menyusuiku?" tanya pria itu.

"Apa?" Violet bingung. Lalu dia melanjutkan ucapannya. "Jadi saya disini untuk menyusui anda Tuan?"

"Memangnya pekerjaan apa yang kau inginkan? Kau berharap aku akan menjadikanmu itu istri?" sanggah pria itu.

Kedua bibir Violet langsung terkatup sempurna.

"Bu - bukan begitu. Seingat saya, tugas saya disini untuk menyusui bayi," katanya dengan nada terbata.

"Menyusui bayi atau pun orang tua tidak masalah, intinya pekerjaanmu hanya untuk menyusui bukan," sahut pria cacat yang tubuhnya hanya tertinggal kulit dan tulang itu secara sinis.

Violet hanya bisa pasrah, seraya menghembuskan nafas kasar. Yang penting sekarang dirinya punya bayaran untuk tetap hidup.

Dikota hidup lontang lantung sendirian seperti gembel membuatnya tidak berdaya.

Mau pulang ke kampung, juga tidak mungkin.

Dia tidak mau membuat ayahnya yang duda miskin menjadi kepikiran dengan nasibnya yang buruk.

Apalagi mengingat dirinya yang belum lulus SMA, harus hamil dan setelah melahirkan bayinya diambil paksa oleh keluarga yang menghamilinya.

Padahal sebelumnya, keluarga pacarnya itu menjanjikan setelah dia melahirkan.

Akan menikahkannya dan membuat lamaran yang sangat meriah dikampung untuknya.

Tapi setelah dirinya melahirkan.

Dia malah dibuang, dan bayinya diambil.

"Felix, kenapa kamu itu tega sama aku?" gumam Violet masih belum mempercayai, jika janji-janji yang sebelumnya diucapkan pacar yang sangat dicintainya itu hanya bualan semata.

Dia tidak menyangka, pacar yang sangat dia percayai tega mengkhianatinya.

Pacarnya itu malah meninggalkannya dan setuju dijodohkan dengan sahabatnya sendiri Marina Santoso.

Walaupun begitu kenangan manis saat SMA yang dia jalani bersama dengan Felix Samuel Handoyo, sekarang ini berputar-putar dalam ingatannya.

"Kenapa malah melamun? Ayo bantu aku meminumnya langsung!" Suara baritone itu terdengar menyeramkan.

Violet pun menoleh, dengan pipi ya memerah dan perasaan canggung.

Dia langsung memajukan dadanya.

"Gak sopan," kata pria lumpuh itu dengan nada ketus.

Violet mengernyit bingung.

"Bantu aku tiduran di kasur!" kata pria itu dengan nada galak.

Violet pun buru-buru membantunya.

"Ntah apa yang dipikirkan oleh nenek. Kenapa dia malah mencari ibu susu yang masih ingusan seperti dirimu," gerutu pria itu.

"Apa? Ingusan, aku bukan anak ingusan. Bahkan aku bisa buat anak dan sudah melahirkan!" Violet reflek membalas ucapan yang menyakitkan.

Karena violet memang tipe gadis yang tidak mudah untuk ditindas.

"Oh ya!" kata pria itu dengan wajah sinis, lalu dia menambahkan.

"Kalau memang sudah dewasa, harusnya bisa mengontrol emosi dan tidak di bodohi. Hanya bocah ingusan yang mudah marah, bahkan percaya dengan adanya cinta."

Violet yang bukan orang bodoh, tentu saja tahu bahwa pria itu sedang menyindir dirinya.

Violet adalah gadis terpintar di SMA Taruna.

Dia mendapatkan beasiswa dan uang saku saat bersekolah disana.

Ibunya sudah meninggal dunia.

Dan orang yang dipunyai oleh Violet adalah ayahnya seorang yang menjadi seorang petani.

Ayahnya begitu mempercayai dirinya.

Mengijinkannya untuk bersekolah di SMA terbaik di kota.

Berharap anaknya akan menjadi orang sukses dengan pendidikan setinggi langit.

Tapi jika tahu nasib putri tunggalnya seperti ini. Bukankah ayahnya malah sedih?

Mendengar cemoohan yang dikeluarkan oleh pria itu, Violet malah teringat ayahnya yang sendirian di kampung.

Sontak matanya berkaca-kaca.

Saat pria itu ingin bertanya lebih lanjut, tiba-tiba pintu kamar sudah dibuka lebar.

Menampilkan seorang wanita paruh baya yang masuk dengan di ikuti oleh beberapa pelayan.

"Romeo, kenapa Violet menangis?" tanya wanita paruh baya itu.

"Aku tidak ngapa-ngapain," jawab Romeo dengan nada patuh, bahkan wajahnya yang sebelumnya sinis sekarang berubah menghangat saat menatap wanita paruh baya itu.

Karena wanita paruh baya itu adalah orang yang paling Romeo hormati dan sayangi.

Dia adalah Nenek Amarta Handoyo, orang yang merawat Romeo sejak kecil di kota ini.

"Gak mungkin, pasti kamu memarahinya bukan?" Nenek Amarta memandang cucunya dengan tatapan tajam. Lalu dia menambahkan, "kurangilah wajah galakmu! Nenek yakin, gadis ini pasti bisa menyembuhkan penyakit langka yang diderita olehmu!"

Romeo berbicara dengan nada tidak terima. "Aku gak kena penyakit langka! Aku itu hanya ... "

Nenek Amarta langsung menyela ucapan Romeo, "gak kena penyakit langka apanya! Nenek sudah mencarikan semua susu segar terbaik. Ntah dari sapi atau apapun! Tubuh mu malah semakin kurus, ini itu karma karena dulu kamu menyia-nyiakan mendiang istrimu yang hamil!"

Nenek Amarta nampak mengambil nafas dalam-dalam guna menjeda ucapannya, nafasnya terlihat terengah-engah.

"Makanya kalian berdua kecelakaan, dan tubuhmu berakhir seperti ini! Semoga saja apa yang di katakan oleh madam Gie itu benar. Gadis yang terbuang ini bisa menjadi penyelamat dan dewi keberuntungan untukmu."

Romeo hanya bisa menghembuskan nafas kasar.

Mengingat apa yang diucapkan oleh neneknya itu bisa benar atau salah.

Mengingat setelah setahun lalu kecelakaan, tubuhnya semakin kurus.

Bahkan mengkonsumsi obat, suplemen terbaik didunia pun tidak ada gunanya.

Sebenarnya bukan hanya Violet yang merasa canggung.

Romeo juga, mengingat dirinya yang sangat anti dekat dengan lawan jenis.

Juliet, istri Romeo dulu bisa hamil karena dia meminum obat perang sang yang di berikan oleh seseorang saat mabuk.

Jika teringat akan Juliet, hati Romeo terasa sakit.

Setengah tahun menjadi istrinya, hanya pengabaian dan rasa sakit yang diberikan oleh Romeo.

Sekarang saat Juliet sudah tidak ada, Romeo baru terasa kehilangan.

Walaupun karma yang dikatakan oleh nenek Amarta belum tentu benar, karena hanya Tuhanlah yang tahu.

Tapi Romeo merasa pantas mendapatkannya.

"Romeo, ingat. Perlakukan Violet dengan sangat baik! Dia yang akan mengobati penyakit anehmu! Kamu itu satu-satunya pewaris utama keluarga Handoyo, kamu gak boleh mati membiarkan nenek sendirian yang mengurus keluarga yang serakah itu!" ancam nenek Amarta.

Mendengar ancaman itu Romeo terlihat memasang ekspresi wajah bersalah, bahkan dia langsung menjawab.

"Baik nenek, aku usahakan segera sembuh! Biar aku gak bakalan nyusahin nenek lagi."

"Bagus Romeo, sekarang mulai lakukan ritualnya! Nenek gak akan mengganggu," ucap Amarta.

Sementara Violet sendiri malah melongo saat menyimak percakapan yang dilakukan oleh Nyonya Amarta dan pria cacat itu.

"Apakah aku akan dijadikan tumbal?" Sebuah pertanyaan berkecamuk dalam diri Violet.

"Violet, ayo bantu aku duduk di ranjang! Kita mulai ritualnya!" kata Romeo dengan nada yang sulit untuk dideskripsikan.

Melihat wajah ketakutan gadis yang ada didepannya saat berbicara dengan neneknya, membuat sifat jahil dalam diri Romeo bangkit.

Romeo tentu saja tahu, latar belakang dan beberapa informasi penting tentang Violet.

Bahkan Felix keponakannya yang mengambil banyak keuntungan dari Violet. Dia juga tahu itu.

Sebenarnya Romeo bukan tipe orang yang suka bersimpati, tapi mengingat kisah hidup Violet mengingatkannya dengan mendiang Juliet istrinya.

Jadi Romeo setuju agar Violet membantunya, apalagi Violet adalah gadis pilihan yang di pilihan oleh madam Gue. Sesepuh yang begitu dipercayai oleh neneknya yang masih berpikiran kuno.

Nyali Violet ciut.

Mengingat mau kabur, dirinya yang jadi gelandangan diincar oleh para pria mesum di jalan. Bahkan kelaparan.

Tapi disini, juga bukan tempat yang aman.

Bagaimana pun juga, violet tetap harus memilih yang terbaik.

"Violet! Ayo, bantu aku!" kata Romeo yang mana langsung membuat lamunan Violet buyar.

Dengan wajah memerah, dia membantu Romeo dari duduk dikursi roda, merebahkannya perlahan diatas ranjang.

"Sekarang buka bajumu!" titah Romeo.

"Apa?" beo Violet dengan wajah bodoh.

"Masih keluar kan ASInya? Aku butuh sarimu untuk menyembuhkan ku!"

Mendengar ucapan Romeo barusan.

Violet di buat begidik ngeri.

"Dibuka yang mana? Bagian atas, atau bagian luar saja? Atau ..."

"Ayo buka semua sekarang!" sanggah Romeo.

Glek.

Bab 2.

"Apa dibuka semuanya?" tanya Violet dengan wajah polos.

Dia yang masih berumur 18 tahun terlihat imut dan juga masih muda, mengingatkan Romeo tentang masa mudanya dulu.

Tapi, jika Romeo mengingat cinta pertamanya yang pergi meninggalkannya.

Rasa benci itu tiba- tiba muncul.

Namun, wajahnya berubah menjadi datar lagi. Kala melihat Violet ketakutan.

"Tuan Meo, maaf saya gak berpengalaman," ujar Violet dengan nada terbata.

Mengingat selama ini hanya berhubungan dengan Felix sekali, tapi malah menjadikan dirinya hamil.

Walaupun cerdas tapi masih polos.

Violet pikir kalau dia baik dan tulus pada orang, orang akan memperlakukan dirinya juga seperti itu.

Nyatanya dia di tipu habis-habisan oleh Felix dan keluarganya, dan juga Marina.

Padahal sebelumnya Violet selalu memperlakukan mereka dengan sangat baik.

Mengingat dulu waktu tinggal didesa, orang-orang desa benar-benar tulus.

Gak ada yang mencari keuntungan, seperti orang kota yang bagi Violet itu licik.

"Gak berpengalaman, ya?" tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.

"Tapi kok bisa hamil," imbuh Romeo menatapnya dengan tatapan tidak percaya, hal itu langsung membuat Violet seperti kehabisan nafas.

Selama ini Violet adalah tipe orang yang selalu jujur.

"Tuan Meo, bisa tanyakan sama Felix? Katanya dia keponakan Om," kata Violet dengan nada terbata.

Hal itu sungguh ingin membuat Romeo tertawa.

Lagi-lagi dia merasa gemas dengan tingkah polos gadis yang sekarang ini ada dihadapannya.

Tapi dia masih mempertahankan wajah wibawanya.

"Kenapa kamu mengatakan tidak berpengalaman, apakah kamu ingin aku sentuh?" Tatapan Romeo berubah mesum.

Hal itu membuat bulu kuduk Violet meremang.

Sementara Romeo yang menatap Violet yang 7 tahun lebih muda darinya.

Merasakan sebuah perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan.

Selama ini nenek Amarta membesarkan dirinya sebagai pewaris utama.

Dia tidak pernah merasakan kesenangan saat dekat dengan lawan jenis seperti ini.

Sebelumnya hari-hari hanya berisi tentang belajar urusan keuangan dan bagaimana cara bersikap tanpa perasaan.

Sementara Violet sendiri malah teringat, saat Felix mengambil kesuciannya yang mana membuatnya kesakitan dan tidak bisa berjalan selama berhari- hari.

Saat teringat akan hal itu, Violet langsung menggelengkan kepalanya.

Dia mengira, jika Romeo yang sekarang sangat dekat dengannya akan melakukan hal yang sama seperti hal yang dilakukan oleh Felix sebelumnya.

"Tuan tolong jangan menatap saya dengan tatapan mesum seperti ini. Saya takut," celetuk Violet dengan tubuh yang bergetar.

Bulir-bulir air mata juga mulai keluar dari kedua kelopak matanya, bahkan bulu matanya Violet terlihat basah karena air matanya sendiri.

Romeo merasa aneh, saat menatap wajah Violet dalam keadaan seperti ini.

"Kenapa dia mirip sekali dengan ....?" Romeo buru-buru menjauhkan tubuhnya.

Ia sudah tidak berminat untuk mengerjai Violet.

Violet yang merasakan tubuh Romeo yang menjauh, membuka matanya perlahan.

Tapi yang dia dapati tatapan tajam Romeo.

"Penakut begini mau kerja?" Tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.

Sementara Violet reflek menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lalu Romeo memajukan wajahnya.

"Lebih baik kamu pulang ke kampung halamanmu saja!"

"Gak ... Gak ... Saya mampu bekerja kok Tuan."

Violet kembali menggeleng- gelengkan kepalanya.

Menolak dengan tegas perintah dari Romeo.

"Kalau begitu buruan! Jangan buang-buang waktuku. Aku harus segera rapat daring," kata Romeo tidak sabar.

Ekspresi Romeo yang berubah-ubah sungguh membuat Violet ketakutan.

Romeo mencengkeram lengan Violet dengan lembut, tapi tegas, menariknya agar duduk lebih dekat.

Kursi roda yang menopang tubuhnya berdecit pelan saat bergerak.

"Tuan Meo, apa yang akan kamu lakukan?" suara Violet terdengar gugup, bibirnya gemetar saat melihat ekspresi serius di wajah Romeo.

"Aku akan menghisap ASImu. Ini memang terdengar menjijikkan, tapi aku tidak punya pilihan lain," kata Romeo dengan nada penuh penyesalan.

Dia memandang Violet, matanya mencoba mencari pengertian di wajahnya.

"Ini adalah satu-satunya cara untuk aku bertahan hidup, penyakit langka ini membuatku harus melakukannya."

Romeo mengingat tubuhnya semakin mengurus dan terasa sakit, dia sudah melakukan banyak hal untuk menyembuhkan penyakitnya.

Dia sudah mengeluarkan uang ratusan miliar, untuk membeli obat mujarab dan memanggil dokter terbaik di seluruh dunia.

Tapi semuanya tidak ada hasil, hanya ini pilihan terakhirnya.

Bahkan ada satu hal yang membuat Romeo bertanya-tanya sampai sekarang, saat dokter terbaik didunia itu mengatakan jika tidak ada penyakit ditubuhnya.

Semua hasil pemeriksaan medis yang dilakukan olehnya, juga tidak membuahkan hasil apapun.

Violet menatap Romeo dengan mata yang berkaca-kaca, merasa kasihan dan jijik dalam waktu yang sama.

Kedua pipi Violet memerah, bukan hanya karena rasa malu, tapi juga karena campur aduk perasaan yang dia alami.

Karena setelah melahirkan anaknya, Violet langsung dibuang.

Ini adalah pengalaman pertamanya menyusui bayi besar yang galak.

Romeo dengan hati-hati mendekatkan wajahnya ke dada Violet, dan mulai meminum ASI yang keluar perlahan.

Tubuh Violet terasa kaku, setiap hisapan Romeo terasa seperti menguras kekuatan dari dalam dirinya.

Namun, di balik itu semua, ada rasa haru yang mendalam karena bisa membantu Romeo bertahan hidup meskipun dengan cara yang tidak biasa ini.

Air mata Violet jatuh membasahi pipinya, sementara Romeo terus menghisap dengan rasa syukur dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu.

"Kenapa menangis?" tanya Romeo.

"Kamu pasti kasihan melihatku bukan? Ck, aku sama sekali gak butuh untuk dikasihani," imbuh Romeo berusaha menebak apa yang ada dijalan pikiran Violet sekarang ini.

Violet buru-buru menggeleng. "Ini karena sakit. Tuan menghisap ASI saya seperti orang yang kesetanan."

"Apa?" Romeo terkejut.

"Oh ... Ya, aku akan menghisap perlahan," sahut Romeo, dia mulai menghisap dengan gerakan yang lebih lembut.

Tapi air mata Violet masih saja menetes dan mengenai wajahnya.

"Kenapa masih menangis? Apakah masih sakit?" tanya Romeo peduli.

"Bukan itu, saya malah teringat dengan Felix, janji-janji Felix. Padahal sebelum dia mengusir saya dari rumahnya, dia berjanji akan melakukan lamaran besar dan membantuku mengikuti progam paket C biar bisa masuk ke universitas, tapi ... Kenapa? Dia malah mengusirku dan membuang ku, padahal. Dulu dia berkata begitu mencintaiku," jelas Violet dengan nada terisak-isak.

Romeo sendiri malah melongo.

"Astaga aku kira apa?" sahut Romeo santai.

"Apakah kamu dan juga nenek Amarta akan membohongi ku? Setelah kamu sembuh, apakah kamu juga akan membuang ku juga?" Beberapa pertanyaan keluar dari bibir Violet.

Sebagai orang yang pernah mengalami penipuan yang fatal, tentu Violet merasa ragu.

Dari bawah, Romeo bisa melihat ketulusan dan juga rasa sakit yang Violet alami.

Wajah Violet terlihat sangat cantik dari bawah.

Ada rasa iba yang menjalar dalam dirinya, tapi sekali lagi.

Ia juga tidak bisa berbuat banyak.

Bab 3.

"Tenanglah! Walaupun semua pengusaha itu licik, tapi aku tidak sepicik itu membohongi orang. Apalagi gadis lugu dan bodoh sepertimu. Sepertinya sekarang aku meragukan kepintaran mu di sekolah," papar Romeo seraya terus menghisap ASI milik Violet.

Dia tidak menyangka, rasanya akan seenak ini.

Romeo terus berbicara agar Violet sendiri merasa tidak canggung.

Karena bagaimana pun juga, Romeo tahu.

Ini adalah pengalaman pertama untuk Violet.

Violet terus membicarakan masa lalunya dengan Felix pada Romeo.

Sebenarnya Romeo tidak ingin peduli, tapi ntah kenapa hatinya merasa tersentuh dengan cerita sedih yang barusan diceritakan oleh Violet.

Sejak dulu, Romeo tidak pernah berinteraksi secara intens dengan lawan jenis.

Kecuali cinta pertamanya.

Dengan mantan istrinya saja yang memberikan dirinya kutukan, dia juga jauh.

Berkontak fisik hanya saat malam kelam itu, karena mabuk dan diberi obat perang sang.

Setelah kejadian itu, baik Romeo maupun Juliet kembali jauh.

Bahkan sampai ajal menjemput Juliet saat kecelakaan.

Dia dan istrinya itu tetap juga tidak pernah melakukan kontak fisik layaknya suami istri.

Alasannya karena Romeo memang tidak pernah dekat dengan lawan jenis dan didikannya sejak kecil untuk menjadi pewaris utama.

Tidak diperbolehkan untuk melibatkan perasaan.

"Jika nanti Felix memintamu kembali? Apa yang akan kamu lakukan?"

Pertanyaan dari Romeo langsung membuat Violet menghentikan ceritanya.

"Aku ... " Jawab Violet ragu.

"Kenapa ragu, tinggal jawab saja," titah Romeo mengganti untuk menghisap satunya.

Setiap percakapan yang dilakukan oleh Romeo dan Violet, membuat Violet tidak sadar.

Jika ASInya sedari tadi sedang dihisap dengan kuat.

Bahkan habis tak tersisa.

Selain cerdas menjadi kepala keluarga besar Handoyo untuk mengurus berapa bisnis, Romeo juga sangat pandai untuk mengontrol emosi dan juga mengendalikan situasi.

"Apa jangan-jangan. Kamu mau kembali kepada Felix jika dia memintanya," tebak Romeo.

Kedua tangan Violet tanpa sadar terkepal, mengingat tatapan kebencian yang sebelumnya ditunjukkan oleh Felix sebelum mengusirnya.

"Gak, gak bakalan saya kembali padanya. Bahkan jika suatu saat Felix menggunakan anak itu untuk membuatku kembali. Aku ... Tidak akan pernah mengubah keputusanku," jelas Violet serius.

Walaupun ada tatapan kesedihan yang ditunjukkan dari kedua bola matanya yang cantik.

"Besok aku akan membawamu kembali ke SMA Taruna! Aku tahu semua indentitas pribadi mu dan semua nilai akademik mu."

"Aku yakin, 3 bulan sebelum ujian kelulusan. Cukup untuk mengganti waktu 6 bulan kamu resign saat hamil dan melahirkan," jelas Romeo seraya menjauhkan tubuh Violet perlahan.

Bahkan sikap Romeo yang sebelumnya kasar, sekarang lebih lembut.

"Apa?" Violet syok.

"Kembali ke SMA Taruna?"

"Ini gak mungkin?"

Violet merasa jika ucapan Romeo tidak masuk akal.

"Tuan jangan bercanda," kata Violet tidak percaya.

Romeo hanya tersenyum tipis.

Tatapannya terus menatap ke arah dada Violet.

Violet yang sadar buru-buru membenahi dadanya dan merapikan bajunya.

"Iya, aku serius. Tidak ada yang tidak mungkin dengan uang dan kekuasaan. Tadi-kan kamu meragukan aku, kamu mengatakan bisa saja aku seperti Felix dan keluarganya. Membohongimu dan merugikan mu, tenang saja. Aku tetap akan membayar orang yang bekerja padaku, bahkan jika hasil sesuai aku akan memberikan bonus," jelas Romeo dengan wajah serius.

Romeo akui, setelah 15 menit meminum ASI milik Violet, dia merasa tenaganya pulih.

Bahkan tubuhnya terasa begitu segar.

Setelah minum ASI Violet, Romeo merasakan perubahan drastis dalam tubuhnya.

Energinya yang sempat terkuras pasca-kecelakaan kini bangkit kembali, seolah mendapat suntikan semangat baru.

Dia terheran-heran, memegang dada sendiri, merasakan detak jantung yang kembali stabil.

Romeo merenggangkan otot-ototnya yang sebelumnya terasa kaku.

Setiap gerakan yang dilakukannya kini terasa lebih ringan, seolah rantai yang selama ini mengikatnya telah lepas.

Dia mendorong kursi rodanya ke jendela, menatap langit yang cerah, merenungkan perubahan ajaib yang baru saja dia alami.

"Pantas saja," bisiknya, "semua ramuan mahal itu tidak ada yang bisa menyamai ini."

Romeo menghela napas, mengingat berbagai upaya yang telah ia lakukan untuk memulihkan kondisinya, termasuk mengkonsumsi beberapa ramuan bagaikan ada sebuah ramuan eksklusif yang diimpor langsung dari China dengan harga fantastis. Sekitar ratusan miliar.

Namun, semua itu tak ada yang membuahkan hasil seperti yang dia rasakan saat ini.

Dia menoleh ke arah Violet yang sedang termenung diatas ranjang.

Gadis itu tampak biasa saja, tanpa menyadari betapa besar pengaruhnya pada kehidupan Romeo.

"Apakah kutukan karma itu benar?" gumam Romeo lagi dalam hati.

"Jika memang benar, maka dia... gadis ini, adalah kunci penyelamatan hidupku."

Perasaan terima kasih yang mendalam mulai tumbuh di dada Romeo, seiring dengan kesadaran baru tentang betapa berharganya keberadaan Violet di hidupnya.

Dia mendorong kembali kursi rodanya mendekat, lalu kembali bertanya, "bagaimana besok kalau kamu mulai berangkat ke sekolah?"

"Aku .... " Violet masih ragu.

"Apakah tubuhmu belum pulih pasca melahirkan?"

Violet buru-buru menggeleng.

"Baiklah, besok aku mau kembali ke sekolah. Dan aku menarik lagi semua kata-kata ku tadi soal meragukan mu. Aku mulai percaya padamu," kata Violet jujur.

Dia menengadahkan wajahnya untuk menatap ke arah kedua bola mata Romeo.

Membuat kedua bola mata keduanya saling tatap.

Romeo buru-buru memutus pandangannya.

Romeo sedikit merasa aneh dengan hatinya, ada perasan menggelitik yang sulit diungkapkan.

Tapi Romeo segera menepis perasaan aneh itu.

Mengingat tidak mungkin dia mempunyai perasaan pada orang asing.

Orang yang menyandang sebagai cinta pertamanya, tidak serta merta langsung mendapatkan cintanya setelah pertama kali bertemu.

"Jangan terlalu mempercayaiku. Aku tidak sebaik itu," kata Romeo.

"Tapi aku hanya memberikan ASI ku. Dan kamu ... Besok mau membuatku kembali ke sekolah, dan satu lagi. Selain ayahku, kamu satu-satunya orang yang mempercayaiku tanpa syarat," jelas Violet lagi.

Romeo akhirnya sadar, betapa polos dan lugunya Violet. Makanya memiliki IQ diatas 130 tapi bisa dibodohi dengan mudah, pikir Romeo dalam benaknya.

"Oke ... Lebih baik sekarang kamu tidur. Besok pagi asisten pribadiku akan mengantarmu pergi ke sekolah." Romeo tanpa sadar ingin mengelus-elus pucuk kepala Violet.

Tapi dia sadar, seharusnya hal itu tidak terjadi.

Akhirnya dia mengurungkan niatnya. Membuat tangannya itu tergantung di udara.

"Terimakasih Tuan Meo," sahut Violet dengan senyuman manis.

Romeo tanpa sadar memperhatikan wajah Violet begitu lekat.

Akhirnya dia menyadari. Jika Violet adalah gadis yang sangat cantik, bahkan belum pernah dia melihat wajah tanpa riasan yang cantik, bahkan memiliki kulit yang seputih dan juga sehalus milik Violet.

"Tadi kamu memanggilku apa?" tanya Romeo dengan suara rendah. Bahkan tatapannya sekarang terlihat aneh, sedikit mesum.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!