Indonesia
NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

bab 1 misi bayi terlahir kembali

Dua garis merah.

Alya menyipitkan matanya, menguceknya berkali-kali sampai memerah, lalu menatap kembali benda plastik kecil di genggamannya. Hasilnya tetap tidak berubah. Dua garis merah itu terpampang nyata, tegas, dan seolah sedang menertawakan kemalangannya di bawah temaram lampu kamar kos yang berkedip-kedip.

"Gila. Ini pasti mimpi buruk," bisik Alya dengan bibir gemetar.

Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Otaknya berputar cepat, memutar kembali memori satu bulan lalu. Malam terkutuk di Hotel Grand Aster. Malam di mana ia salah memasuki kamar akibat mabuk berat setelah merayakan pemecatan sepihak dari tempat kerjanya.

Di kamar itu, ia bertemu dengan seorang pria asing yang sangat tampan, namun memiliki tatapan sedingin es kutub utara. Pria yang belakangan ia ketahui dari berita televisi sebagai **Devan Dirgantara**—CEO kejam pemilik Dirgantara Group yang terkenal tidak punya belas kasihan.

"Bagaimana bisa aku hamil hanya karena satu malam?!" pekik Alya frustrasi. Air matanya mulai mengalir. "Uang kos menunggak, tabungan sisa seratus ribu rupiah, dan sekarang aku hamil anak dari iblis berjas itu? Aku mau makan apa? Anak ini mau kukasih makan batu?!"

Di tengah kepanikan dan tangis yang mulai pecah, tiba-tiba sebuah suara asing menggema di dalam kepalanya.

> *[Cih. Sungguh tempat tinggal yang sangat sempit dan lembap. Ibu, bisakah kau berhenti menangis? Detak jantungmu yang terlalu cepat membuatku pusing di dalam sini.]*

Alya tersentak. Ia langsung berdiri, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu. Tidak ada siapa-siapa.

"S-siapa itu?!" tanya Alya dengan suara bergetar, bulu kuduknya berdiri tegak. "Jangan bercanda ya! Keluar kamu! Aku tidak takut dengan hantu!"

> *[Hantu? Ibu, aku ini anakmu. Jenius legendaris yang menggoncang dunia bisnis di kehidupan sebelumnya, kini terpaksa terlahir kembali menjadi segumpal daging di dalam perutmu yang kelaparan ini.]*

Alya memegangi kepalanya yang mendadak pening. Suara itu terdengar sangat jelas, bernada kekanak-kanakan namun memiliki wibawa dan kesombongan yang luar biasa tinggi. Suara itu tidak berasal dari luar, melainkan bergaung langsung di dalam sel-sel otaknya.

"Aku... aku pasti sudah gila karena terlalu stres," gumam Alya, memukul-mukul pelan kepalanya. "Ya, benar. Aku berhalusinasi."

> *[Ibu, berhenti memukul kepalamu. Jika kau menjadi bodoh, itu akan memengaruhi perkembangan otakku yang berharga ini. Dengarkan aku baik-baik. Aku adalah reinkarnasi dari Elio Vance, penguasa pasar gelap dan jenius keuangan global. Di kehidupan sebelumnya, aku dikhianati oleh asistenku sendiri hingga tewas dalam ledakan bom.]*

> *[Tapi takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terlahir kembali di dalam rahimmu. Dan misiku kali ini sangat sederhana: Menjadikan ibu tiriku—maksudku, ibu kandungku yang malang ini—menjadi wanita terkaya di dunia, dan menjinakkan pria bodoh yang menjadi ayah biologisku.]*

Alya ternganga. Ia perlahan menurunkan pandangannya ke arah perutnya yang masih rata.

"K-kau... bayi di dalam perutku?" tanya Alya, kali ini berbisik sangat pelan, takut tetangga kosnya mengira ia benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

> *[Tepat sekali. Meskipun saat ini aku masih berupa embrio berukuran beberapa milimeter, kecerdasan dan kekuatan jiwaku tetap utuh. Jadi, Ibu, hapus air matamu. Mulai hari ini, nasib tragismu sebagai gadis miskin yang tertindas sudah resmi berakhir. Selama kau menuruti instruksiku, kita akan menguasai dunia!]*

"Menguasai dunia dahimu!" semprot Alya, mendadak rasa takutnya tergantikan oleh rasa kesal. "Kamu tahu tidak keadaan kita sekarang? Kita ini miskin! Ibu tidak punya pekerjaan, uang tabungan sekarat, dan ayahmu itu... dia itu Devan Dirgantara! Monster berdarah dingin yang kalau tahu aku hamil, mungkin akan langsung membuangku ke laut lepas agar tidak mengotori nama baiknya!"

Mendengar nama itu, entitas kecil di dalam kandungan Alya tampaknya melakukan analisis cepat.

> *[Oh? Devan Dirgantara? Pria yang wajahnya terpampang di majalah Forbes bulan lalu itu? Hmph, jadi dia ayah biologisku di kehidupan ini? Lumayan juga. Setidaknya gen fisiknya tidak buruk, dan kekayaannya cukup untuk dijadikan modal awal.]*

> *[Tapi, berani menyentuh ibuku lalu membiarkannya menderita di kos-kosan kumuh seperti ini? Sungguh pria tidak bertanggung jawab. Baik, target pertama Misi Terlahir Kembali: Kita harus membuat Devan Dirgantara berlutut dan memohon agar Ibu bersedia menjadi istrinya!]*

Alya menepuk jidatnya. Bayi di dalam perutnya ini tidak hanya ajaib, tapi juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang sudah menembus langit.

"Membuat Devan memohon? Kamu mimpi! Jangankan memohon, bertemu dengannya saja mustahil bagi rakyat jelata sepertiku," keluh Alya sambil berjalan gontai keluar dari kamar mandi dan merebahkan diri di kasur tipisnya.

> *[Tidak ada yang mustahil bagi Elio—ah, tidak, panggil aku 'Baby El' mulai sekarang. Ibu, dalam waktu sepuluh menit, ibu tiri dan adik tirimu yang licik itu akan datang ke sini. Mereka membawa rencana busuk untuk menjualmu kepada rentenir demi melunasi utang judi mereka.]*

Alya langsung terduduk tegak. "Apa?! Bagaimana kamu bisa tahu?"

> *[Indra spiritualku bisa merasakan gelombang niat jahat dalam radius lima ratus meter. Mereka sekarang sedang menaiki tangga kos. Mereka membawa surat perjanjian palsu yang harus Ibu tandatangani.]*

Wajah Alya memucat. Ibu tirinya, Ratna, dan adik tirinya, Sela, memang selalu mencari celah untuk menindasnya sejak ayahnya meninggal setahun yang lalu. Jika apa yang dikatakan Baby El benar, maka ia berada dalam bahaya besar.

"L-lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus kabur lewat jendela?" tanya Alya panik.

> *[Kabur? Sungguh mentalitas orang lemah. Ibu, ingat ini: di dalam perutmu ada jiwa seorang kaisar bisnis. Kita tidak akan lari. Kita akan memberi mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.]*

"Caranya?!"

> *[Buka laci mejamu. Ambil pulpen hitam dan selembar kertas kosong. Tulis apa yang aku diktekan sekarang. Cepat!]*

Alya yang sudah tidak punya pilihan lain langsung menuruti perintah suara misterius itu. Dengan gerakan cepat, ia mengambil kertas dan pulpen. Di bawah bimbingan suara Baby El yang tenang namun penuh wibawa, Alya menuliskan beberapa baris kalimat yang terlihat seperti perjanjian hukum, lengkap dengan beberapa pasal jebakan yang sangat halus.

Tepat saat Alya meletakkan pulpennya, terdengar suara gedoran keras di pintu kosnya.

*BRAK! BRAK! BRAK!*

"Alya! Buka pintunya! Ibu tahu kamu di dalam!" teriak suara cempreng Ratna dari luar.

Alya menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

> *[Tenang, Ibu. Tarik napas dalam-dalam. Ingat, aku bersamamu. Ketika mereka masuk, ikuti saja skenario yang sudah aku siapkan di kepalamu. Gunakan nada bicara yang sedikit gemetar agar mereka mengira Ibu ketakutan.]*

Alya mengembuskan napas perlahan. Anehnya, setelah mendengar suara menenangkan dari janin di perutnya, rasa takut yang tadinya mendominasi mendadak menguap, tergantikan oleh rasa hangat dan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia berjalan membuka pintu. Di depan sana, berdiri Ratna dengan lipstik merah menyala dan Sela yang menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Lama sekali sih buka pintunya! Sengaja ya biar kami kepanasan di luar?!" omel Ratna langsung menerobos masuk ke dalam kamar kos Alya yang sempit, diikuti Sela yang langsung menutup hidungnya dengan gaya berlebihan.

"Ada apa Ibu, Sela? Kenapa tiba-tiba datang ke sini?" tanya Alya, sengaja memasang wajah cemas sesuai instruksi Baby El.

Sela mendengus sinis. "Kak Alya, tidak usah pura-pura bodoh. Kami ke sini mau membantu Kakak. Ibu sudah mencarikan jodoh yang sangat kaya untuk Kakak. Tuan Handoko, pemilik pabrik tekstil. Beliau bersedia melunasi semua utang keluarga kita, asal Kakak mau menikah dengannya."

Alya mengepalkan tangannya. Tuan Handoko adalah pria tua bangka berusia enam puluh tahun yang terkenal suka menyiksa istri-istrinya. Menikah dengannya sama saja dengan mengantarkan nyawa ke neraka.

"Aku tidak mau," tegas Alya.

Ratna langsung berkacak pinggang, matanya melotot tajam. "Kurang ajar! Kamu berani menolak?! Sadar diri, Alya! Kamu itu cuma anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa! Menikah dengan Tuan Handoko adalah satu-satunya jalan agar kamu tidak mati kelaparan di jalanan!"

Ratna kemudian mengeluarkan selembar surat dari tasnya dan melemparkannya ke kasur Alya. "Tanda tangani surat persetujuan ini sekarang juga! Jangan membantah!"

Alya melirik kertas itu. Itu adalah surat kuasa mutlak atas dirinya yang jika ditandatangani, akan membuat Ratna sah menjualnya secara hukum.

Pada saat itulah, suara Baby El kembali bergema di kepala Alya, memberikan instruksi yang sangat detail dengan nada dingin yang meniru gaya bicara Devan Dirgantara.

> *[Ibu, tunjukkan kertas yang baru saja Ibu tulis tadi. Katakan pada mereka bahwa Ibu sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Dirgantara Group sebagai sekretaris pribadi Devan Dirgantara dengan denda penalti sebesar sepuluh miliar rupiah jika Ibu mengundurkan diri atau menikah tanpa izin perusahaan.]*

Alya hampir saja tersedak air liurnya sendiri. *Sepuluh miliar?!* Dari mana fiksi ilmiah ini berasal?!

Namun, melihat tatapan kejam Ratna, Alya memberanikan diri. Ia mengambil kertas yang ditulisnya tadi dan menunjukkannya ke depan wajah Ratna.

"Maaf, Ibu. Tapi aku tidak bisa menikah dengan Tuan Handoko," ujar Alya dengan nada yang dibuat sedramatis mungkin, seolah-olah ia adalah korban yang terjebak takdir. "Sebab... aku baru saja menandatangani kontrak eksklusif dengan Dirgantara Group. Aku bekerja langsung di bawah CEO Devan Dirgantara."

Ratna dan Sela langsung terdiam. Sela kemudian tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.

"Hahaha! Kak Alya, kamu melawak ya? Dirgantara Group? Perusahaan raksasa nomor satu di negara ini? Bagaimana mungkin gadis miskin sepertimu bisa bekerja di sana, bahkan langsung di bawah Tuan Devan?!" ejek Sela habis-habisan.

"Kalau tidak percaya, lihat saja ini," Alya menyodorkan kertas bertuliskan draf perjanjian tersebut, lengkap dengan tanda tangan palsu Devan Dirgantara yang tadi ditiru habis-habisan oleh tangan Alya—atas instruksi presisi dari Baby El yang memiliki memori fotografis tentang tanda tangan ayahnya di kehidupan lalu.

Ratna merebut kertas itu dan membacanya. Detik berikutnya, wajahnya yang penuh bedak tebal mendadak berubah pucat pasi saat membaca klausul denda penalti.

*“...Jika pihak kedua (Alya) melakukan pelanggaran kontrak, termasuk mengundurkan diri atau menikah tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Pertama (Devan Dirgantara), maka Pihak Kedua dan seluruh anggota keluarganya wajib membayar denda ganti rugi sebesar Rp 10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah) secara tunai dalam waktu 1x24 jam.”*

"S-sepuluh miliar?!" Ratna memekik, suaranya melengking tinggi hingga hampir pecah. Kertas di tangannya gemetar hebat.

"Iya, Ibu," ucap Alya dengan wajah yang sengaja dibuat memelas namun di dalam hatinya ia ingin tertawa terbahak-bahak. "Tuan Devan sangat kejam. Jika Ibu memaksaku menikah dengan Tuan Handoko, maka secara hukum, Ibu dan Sela sebagai keluarga kandungku juga harus ikut menanggung denda sepuluh miliar itu. Apa Ibu punya uang sebanyak itu?"

Sela yang ikut membaca langsung merampas kertas itu dengan panik. "I-Ibu! Ini ada stempel resmi dan tanda tangan Tuan Devan! Aku pernah melihat tanda tangan ini di internet! Ini asli!"

Tentu saja terlihat asli, karena Baby El menuntun setiap tarikan garis tangan Alya dengan akurasi mikrometer.

Ratna melangkah mundur dengan tubuh gemetar. Sepuluh miliar adalah angka yang bahkan tidak bisa ia bayangkan seumur hidupnya. Alih-alih mendapatkan uang dari Tuan Handoko, mereka justru terancam hancur dan dijebloskan ke penjara oleh keluarga Dirgantara yang terkenal kejam dan tak tersentuh hukum.

"K-kamu... kenapa kamu bodoh sekali menandatangani kontrak gila seperti ini?!" teriak Ratna frustrasi, wajahnya merah padam antara marah dan ketakutan.

"Aku butuh uang, Ibu. Dan Tuan Devan yang menawarkannya langsung," jawab Alya pelan, pura-pura sedih.

> *[Bagus sekali aktingmu, Ibu. Sekarang, usir mereka. Katakan bahwa Tuan Devan akan mengirimkan asistennya ke sini sebentar lagi untuk menjemput Ibu.]*

Alya menarik napas dalam-dalam, menatap ibu tirinya dengan tatapan serius. "Ibu, sebaiknya Ibu dan Sela segera pergi dari sini. Sebentar lagi, asisten pribadi Tuan Devan akan datang ke kos ini untuk menjemputku. Tuan Devan sangat tidak suka jika ada orang asing berada di sekitar karyawannya. Jika beliau tahu Ibu mencoba memerasku... aku takut nasib keluarga kita akan berakhir di jeruji besi."

Mendengar nama Devan Dirgantara disebut dengan nada mengancam, nyali Ratna langsung menciut drastis. Reputasi Devan sebagai "Monster Bisnis" yang kejam dan tak segan menghancurkan hidup orang lain sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.

"A-Awas kamu ya, Alya! Urusan kita belum selesai!" ancam Ratna dengan suara gemetar, berusaha menutupi ketakutannya.

"Ayo, Sela! Kita pergi! Sialan, anak pembawa sial ini malah mencari masalah dengan keluarga Dirgantara!" omel Ratna sambil menarik tangan Sela dengan tergesa-gesa, berlari keluar dari kamar kos Alya seolah-olah tempat itu baru saja dihantui oleh monster.

*BRAK!*

Pintu kos tertutup rapat.

Hening sejenak di dalam kamar kos yang sempit itu.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

"Yesss! Mereka pergi!" teriak Alya kegirangan. Ia melompat ke atas kasurnya, tertawa puas melihat wajah ketakutan ibu tirinya yang biasanya selalu menindasnya tanpa ampun. "Ajaib! Ini benar-benar ajaib!"

> *[Hmph. Tentu saja ajaib. Siapa dulu yang berada di balik layar? Aku, Baby El! Rencana receh seperti itu bahkan tidak membutuhkan satu persen dari kapasitas otakku.]*

Alya tersenyum lebar, mengelus perutnya dengan penuh rasa sayang yang tiba-tiba membuncah. Rasa takut akan kehamilan tak direncanakan ini perlahan memudar, digantikan oleh rasa keterikatan yang kuat dengan sosok kecil di dalam rahimnya.

"Terima kasih ya, Sayang. Kamu benar-benar penyelamat Ibu," bisik Alya lembut.

Namun, kegembiraan Alya tidak bertahan lama saat suara Baby El kembali bergema, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius.

> *[Ibu, jangan senang dulu. Fase pertama dari misiku baru saja dimulai. Dan tebak apa? Detak jantung dan pola energi yang sangat kukenal baru saja memasuki radius tiga ratus meter dari area ini.]*

Alya mengernyit heran. "Pola energi? Siapa?"

> *[Ayah biologisku yang dingin dan sombong itu. Devan Dirgantara. Dia sedang menuju ke arah sini dengan tiga mobil limosin hitam milik keluarganya. Tampaknya, dia berhasil melacak keberadaanmu setelah malam satu bulan yang lalu.]*

Mata Alya membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar nama itu.

"D-Devan?! Dia ke sini?! Untuk apa?!" pekik Alya panik setengah mati.

> *[Tenang, Ibu. Tarik napasmu. Ini adalah kesempatan emas kita. Misi pertama: Amankan status pernikahan kontrak dengan sang CEO dingin, demi masa depan susu formula premiumku! Bersiaplah, Ibu. Sang ayah tampanmu segera mengetuk pintu.]*

bab 2 suara hati bayi

*Tin! Tiiiiin!*

Suara klakson mobil mewah yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan gang sempit di luar kos-kosan Alya. Tidak tanggung-tanggung, deru mesin mobil-mobil bertenaga besar itu terdengar sangat berwibawa, membuat jendela kaca kos Alya yang sudah longgar bergetar pelan.

Alya langsung berlari ke arah jendela, menyingkap sedikit gorden abu-abu yang sudah agak berdebu. Matanya membelalak seketika.

Tiga buah mobil Rolls-Royce Phantom hitam mengilat terparkir berjejer di depan gang, menutup jalan hingga membuat beberapa pengendara motor terpaksa berhenti dan melongo. Dari mobil baris kedua, seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam *custom-made* yang sangat rapi melangkah keluar.

Postur tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan rahangnya yang tegas tampak mengeras di bawah sinar matahari sore. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menyembunyikan sepasang mata elang yang sangat ditakuti di dunia bisnis.

Dia adalah Devan Dirgantara.

"Dia... dia benar-benar datang!" bisik Alya panik, tenggorokannya mendadak kering kerontang. "El, bagaimana ini? Perutku mendadak mulas! Apa kita pura-pura mati saja?"

> *[Ibu, tolong jaga martabat kita. Pura-pura mati adalah strategi paling konyol yang pernah kudengar sepanjang dua kehidupan ini. Tenang saja. Ayah dinginmu itu datang ke sini bukan untuk membunuhmu, melainkan karena rasa penasarannya yang tinggi.]*

"Rasa penasaran? Penasaran apa?!"

> *[Satu bulan lalu, setelah malam itu, Ibu melarikan diri bagaikan pencuri profesional tanpa meninggalkan jejak tunggal. Bagi seorang Devan Dirgantara yang terbiasa mengendalikan segala hal, fakta bahwa dia tidak bisa menemukan seorang gadis biasa selama sebulan adalah pukulan telak bagi harga dirinya yang setinggi langit.]*

Alya menelan ludah. Ia mengingat kembali bagaimana ia merangkak keluar dari ranjang hotel mewah itu dengan tubuh pegal-pegal, mengumpulkan pakaiannya yang berserakan, lalu kabur lewat pintu darurat demi menghindari kamera pengawas. Saat itu, ia hanya berpikir untuk menyelamatkan diri dari amarah pria asing tersebut.

*TOK! TOK! TOK!*

Ketukan di pintu kosnya terdengar lambat, namun memiliki ketukan yang begitu kuat dan ritmis, memancarkan aura dominasi yang luar biasa.

"Alya Putri?" sebuah suara berat, bariton, dan berwibawa terdengar dari balik pintu kayu tipis itu. Hanya dengan mendengar suaranya saja, bulu kuduk Alya kembali meremang.

> *[Ibu, buka pintunya sekarang. Tegakkan bahumu, busungkan dadamu yang rata itu sedikit—ah, maaf, maksudku tunjukkan rasa percaya dirimu. Jangan biarkan dia menindasmu dengan auranya yang sok keren itu.]*

"El! Jaga bicaramu, dia ayahmu!" bisik Alya kesal, meskipun dalam hati ia membenarkan ejekan bayinya.

Dengan tangan gemetar, Alya membuka kunci pintu dan menariknya perlahan.

Sosok tinggi Devan langsung mendominasi pemandangan. Pria itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata abu-abu gelap yang tajam, menatap lurus ke arah Alya. Di belakang Devan, berdiri asisten pribadinya, Yudha, yang memegang sebuah tablet digital dengan wajah formal tanpa ekspresi.

Aroma parfum maskulin yang mahal—perpaduan antara kayu cendana dan *black musk*—seketika merangsek masuk, memenuhi kamar kos Alya yang biasanya berbau pewangi pakaian murah.

"Jadi, di sini kamu bersembunyi selama ini, Tikus Kecil?" desis Devan dingin, matanya menyapu seisi kamar kos Alya yang sempit dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi.

Alya menggigit bibir bagian dalamnya, mencoba menahan diri agar tidak menciut. "T-Tuan Devan... ada perlu apa Anda datang ke tempat kumuh seperti ini?"

Devan mendengus sinis. Ia melangkah masuk tanpa diundang, membuat Alya terpaksa mundur beberapa langkah. Yudha tetap berdiri di luar pintu, menjaga privasi bosnya.

"Satu bulan lalu, kamu menyelinap ke kamarku, merusak malamku, lalu kabur begitu saja setelah mencuri selimut hotelku," ucap Devan dingin, menatap Alya dengan pandangan mengintimidasi. "Apa kamu pikir Dirgantara Group tidak bisa melacakmu?"

"S-selimut itu terbawa karena aku panik! Dan lagipula, aku tidak mencuri apa-apa lagi!" bela Alya dengan suara yang agak mencicit.

Tiba-tiba, suara Baby El kembali bergema di kepala Alya, memberikan analisis yang sangat tajam.

> *[Wah, wah. Lihat pria ini. Mulutnya berkata kasar, tapi detak jantungnya meningkat sepuluh persen saat menatap Ibu. Dia juga diam-diam melirik ke arah bibir Ibu sebanyak dua kali. Cih, munafik. Dia jelas-jelas tertarik pada Ibu tapi gengsinya terlalu tinggi.]*

Alya hampir saja terbahak mendengar komentar julid dari dalam perutnya. Untungnya, ia berhasil menahan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat cemas dan lugu.

"Langsung saja ke intinya, Alya Putri," Devan melipat tangannya di dada, menambah kesan berkuasa. "Aku ke sini bukan untuk meminta ganti rugi selimut murahan itu. Aku datang karena hari ini, sistem keamananku mendeteksi adanya draf kontrak kerja sama palsu atas namaku yang beredar di wilayah ini dengan tanda tangan yang... sangat mirip dengan tanda tangan asliku."

Devan melangkah selangkah lebih dekat, membuat napas Alya tercekat. "Siapa yang mengajarimu memalsukan tanda tanganku? Dan apa tujuanmu?"

Alya mendadak panik. Ia lupa bahwa sistem informasi dan hukum di sekitar keluarga Dirgantara sangatlah ketat. Kontrak palsu yang ia tunjukkan pada ibu tirinya tadi rupanya langsung terendus oleh jaringan intelijen sang CEO!

> *[Tenang, Ibu. Ini saatnya meluncurkan bom utama kita. Katakan padanya: 'Aku memalsukan tanda tangan itu karena aku sedang mengandung anakmu, dan aku butuh perlindungan dari keluarga tiriku yang kejam.']*

"A-apa?! Kamu gila, El? Kalau dia menyuruhku menggugurkannya bagaimana?!" tanya Alya panik dalam batinnya.

> *[Percayalah padaku, Ibu. Karakter Devan Dirgantara sangat menjunjung tinggi garis keturunan. Terlebih lagi, dia adalah anak tunggal yang ditekan oleh kakeknya untuk segera memiliki pewaris. Kabar kehamilan ini adalah kartu as kita. Katakan sekarang!]*

Alya memejamkan matanya erat-erat. Ia mengepalkan kedua tangannya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Devan yang dingin.

"Aku memalsukan kontrak itu... karena aku terpaksa!" ujar Alya setengah berteriak.

Devan menaikkan satu alisnya. "Terpaksa? Alasan klasik."

"Aku hamil!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Alya, menggema di dalam ruangan sempit itu.

Keheningan seketika mencekik ruangan. Bahkan Yudha yang berada di luar pintu tampak sedikit menolehkan kepalanya karena terkejut.

Wajah Devan yang tadinya tenang dan meremehkan, mendadak membeku. Matanya melebar sesaat sebelum kembali menyipit tajam, memancarkan aura berbahaya yang membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.

"Apa kamu bilang?" suara Devan kini terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan iblis. "Hamil? Kamu mencoba menjebakku dengan trik murahan seperti ini?"

Devan melangkah maju dengan cepat, mencengkeram dagu Alya dengan lembut namun tegas, memaksanya untuk terus menatapnya. "Alya, jangan bermain api denganku. Banyak wanita yang mencoba menggunakan rahim mereka untuk naik kelas sosial, dan semua berakhir mengenaskan di tanganku."

Rasa dingin dari jemari Devan membuat Alya gemetar. Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah kehangatan aneh tiba-tiba mengalir dari perutnya menuju ke dadanya, memberikan rasa berani yang luar biasa.

Dan kemudian, suara Baby El terdengar, namun kali ini ada yang berbeda. Suara itu tidak hanya terdengar di kepala Alya, melainkan memancar sebagai gelombang energi tak kasatmata yang langsung menghantam kesadaran Devan.

*BZZZZT!*

Devan tiba-tiba tersentak. Ia melepaskan cengkeramannya pada dagu Alya dan melangkah mundur satu langkah. Kepalanya mendadak berdengung, dan sebuah suara anak kecil yang sangat jernih namun penuh wibawa bergaung di dalam kepalanya sendiri!

> *[Hei, pria sombong berkacamata hitam. Jauhkan tangan kasarmu dari ibuku!]*

Devan memegangi pelipisnya, matanya membelalak tidak percaya. Ia melihat ke sekeliling ruangan dengan panik. "Siapa... siapa yang bicara?!"

Alya tertegun melihat reaksi Devan. "T-Tuan Devan? Ada apa?"

> *[Jangan cari ke mana-mana, Ayah Bodoh. Aku di dalam sini, di dalam perut wanita yang sedang kau intimidasi ini. Aku adalah anakmu. Dan jika kau berani bersikap kasar lagi pada Ibuku, aku bersumpah akan merusak portofolio saham Dirgantara Group lewat jalur spiritual!]*

Devan menatap Alya dengan pandangan horor yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Pria yang terkenal rasional, berpendidikan tinggi, dan tidak percaya takhayul ini, baru saja mendengar suara asing di dalam kepalanya yang menyebut dirinya sendiri sebagai... janin di dalam rahim Alya.

"Kamu..." Devan menunjuk Alya dengan jari yang sedikit bergetar. "Trik apa yang sedang kamu mainkan? Alat perekam apa yang kamu pasang di ruangan ini?!"

Alya yang menyadari apa yang terjadi langsung tersenyum tipis. Ternyata Baby El bisa mengirimkan "suara hatinya" langsung ke otak Devan!

"Aku tidak memasang alat apa pun, Tuan Devan," ucap Alya dengan tenang, kini merasa di atas angin berkat perlindungan bayinya. "Anak di dalam kandunganku ini... dia memang agak istimewa. Dia bisa bicara langsung denganmu jika dia mau."

Devan menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir suara itu. Namun, suara Baby El kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih santai namun menuntut.

> *[Ayah, mari kita buat kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan. Ibu butuh perlindungan dari rentenir dan keluarga tirinya, sedangkan kau butuh pewaris sah untuk membungkam mulut kakekmu yang cerewet di mansion utama itu, bukan?]*

> *[Nikahi Ibuku secara kontrak selama satu tahun. Setelah aku lahir, kau akan mendapatkan pewaris paling jenius di muka bumi ini, dan Ibuku akan mendapatkan kompensasi yang layak. Bagaimana? Kesepakatan yang sangat adil untuk seorang CEO dingin sepertimu, kan?]*

Devan terdiam seribu bahasa. Ia menatap perut Alya yang masih rata dengan tatapan campur aduk antara tidak percaya, ngeri, namun diam-diam... ada rasa bangga aneh yang menggelitik hatinya.

*Anakku... belum lahir saja sudah tahu tentang masalah kakekku dan bisa menawarkan kontrak bisnis?* batin Devan tak percaya.

"Ini... tidak masuk akal," bisik Devan, meskipun otaknya yang jenius mulai menghitung keuntungan dari kesepakatan gila ini.

bab 3 pindah ke rumah mewah

Keheningan di dalam kamar kos sempit itu terasa begitu tebal hingga detak jarum jam dinding murah milik Alya terdengar seperti dentuman keras.

Devan Dirgantara masih berdiri mematung. Matanya yang tajam bergantian menatap antara wajah Alya yang tampak tenang dan perutnya yang masih rata. Sebagai seorang pria berpendidikan tinggi yang mengandalkan logika dan data konkret, situasi saat ini benar-benar menghancurkan seluruh logika yang ia pelajari seumur hidup.

"Yudha," panggil Devan tiba-tiba dengan suara berat.

Asisten pribadinya langsung melangkah masuk, membungkuk hormat. "Ya, Tuan Muda Devan?"

"Bawa wanita ini ke rumah sakit utama Dirgantara. Lakukan tes kehamilan instan dan tes DNA pralahir yang paling akurat. Sekarang." Devan mengancingkan kembali jas hitamnya, mencoba memulihkan wibawanya yang sempat runtuh. "Jika terbukti dia berbohong... aku sendiri yang akan memastikan dia mendekam di balik jeruji besi."

> *[Hmph. Silakan saja melakukan tes medis apa pun, Ayah. Tapi kuharap kau menyiapkan mentalmu untuk memesan kamar perawatan terbaik untuk Ibuku setelah hasilnya keluar.]*

Suara batin Baby El kembali berdengung di kepala Devan, membuat sang CEO refleks memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia menatap Alya dengan pandangan gusar sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kos-kosan sempit itu dengan langkah lebar.

---

Tiga jam kemudian, Alya duduk di sofa kulit yang sangat empuk di dalam ruang VIP Rumah Sakit Medika Dirgantara.

Di tangannya terdapat laporan medis resmi berstempel emas. Hasilnya mutlak: Alya positif hamil dengan usia kandungan sekitar empat minggu. Yang lebih mengejutkan lagi, hasil analisis kecocokan genetik awal—yang dipercepat menggunakan teknologi laboratorium tercanggih milik keluarga Dirgantara—menunjukkan kecocokan 99,99% dengan Devan Dirgantara.

Devan berdiri di dekat jendela besar, menatap lembaran kertas yang sama di tangannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Bagaimana mungkin..." gumam Devan. Pria itu menatap Alya yang sedang asyik memakan apel kupas yang disediakan oleh rumah sakit. Gadis itu tampak sama sekali tidak terbeban, bahkan terlihat sangat menikmati fasilitas VIP tersebut.

> *[Ibu, kunyah apelnya pelan-pelan. Nutrisinya sangat baik untuk pembentukan sel otakku. Dan hei, lihatlah ekspresi pria dingin itu. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu terkaya di dunia.]*

Alya hampir saja tersedak. Ia buru-buru menelan apelnya dan menatap Devan dengan senyum polos. "Tuan Devan, karena hasilnya sudah keluar, jadi... bagaimana dengan kontrak pernikahan yang diusulkan oleh anakmu?"

Devan menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Ia memberi isyarat kepada Yudha yang berdiri di dekat pintu.

"Yudha, batalkan semua agenda malam ini. Suruh tim hukum menyiapkan kontrak pernikahan satu tahun antara aku dan Alya Putri. Masukkan klausul kerahasiaan tingkat tinggi," perintah Devan dengan dingin.

Yudha tampak terkejut, namun sebagai asisten profesional, ia hanya mengangguk patuh. "Baik, Tuan Muda. Lalu, mengenai tempat tinggal Nona Alya?"

Devan melirik Alya dari atas ke bawah. Pakaian gadis itu sangat sederhana—hanya kaos putih polos yang agak longgar dan celana jeans yang warnanya sudah mulai pudar. Penampilan seperti itu jelas sangat kontras dengan standar lingkungan keluarga Dirgantara.

"Dia tidak bisa kembali ke kos-kosan kumuh itu lagi. Mulai malam ini, dia akan tinggal di Penthouse Lavender," ujar Devan dingin.

Mata Alya langsung berbinar-binar. "Penthouse? Itu... apartemen mewah yang ada kolam renang pribadinya di lantai atas itu, kan?!"

> *[Wah, tidak buruk juga taktik awal kita, Ibu. Penthouse Lavender adalah salah satu properti termahal di pusat kota dengan sistem keamanan berlapis baja. Setidaknya, ibu tiri dan adik tirimu yang menyebalkan itu tidak akan pernah bisa mendekat dalam radius satu kilometer dari tempat itu.]*

"Benar," jawab Devan pendek tanpa ekspresi. "Kemasi barang-barangmu yang penting saja. Sisanya akan dibuang. Aku tidak ingin ada barang-barang murah berdebu yang masuk ke dalam propertiku."

Alya mendengus pelan mendengar ucapan ketus Devan. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sangat lega. Setidaknya, malam ini ia tidak perlu khawatir tentang tagihan kos yang menunggak atau ancaman dari ibu tirinya lagi.

---

Pukul sembilan malam, mobil Rolls-Royce hitam yang membawa Alya akhirnya berhenti di lobi privat Penthouse Lavender.

Saat pintu lift khusus terbuka langsung di dalam ruang tamu penthouse, Alya benar-benar terpana hingga mulutnya sedikit terbuka. Ruangan itu sangat luas dengan langit-langit yang tinggi. Dindingnya didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai 45.

Lantainya terbuat dari marmer Italia kualitas terbaik yang sangat mengilat hingga Alya bisa melihat bayangan dirinya sendiri di sana. Furnitur di dalamnya terlihat sangat elegan, didominasi warna abu-abu, putih, dan sentuhan emas yang mewah namun minimalis.

"Nona Alya, ini adalah tempat tinggal Anda mulai sekarang," ucap Yudha dengan sopan sambil membimbingnya masuk. "Semua kebutuhan Anda, mulai dari pakaian, makanan organik, hingga pelayan pribadi, sudah disiapkan oleh Tuan Muda Devan."

Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi melangkah maju dan membungkuk hormat. "Selamat malam, Nona Alya. Saya Bibi Nunung, kepala pelayan di sini. Jika Nona membutuhkan sesuatu, silakan beri tahu saya."

"Ah... i-iya, halo Bibi. Panggil Alya saja," jawab Alya canggung, merasa sangat asing dengan semua kemewahan dan formalitas ini.

> *[Ibu, biasakan dirimu dengan semua ini. Mulai sekarang, kita adalah penguasa tempat ini. Dan oh, lihatlah tempat tidur di kamar utama itu! Sangat luas dan empuk. Aku tidak sabar untuk merasakan bagaimana rasanya tidur di atas kasur seharga ratusan juta rupiah.]*

Mendengar bisikan bayinya, Alya melangkah menuju kamar utama yang ditunjukkan oleh Bibi Nunung. Kamar itu berukuran tiga kali lipat dari seluruh luas kamar kosnya yang lama. Tempat tidurnya bertipe *King Size* dengan sprei sutra yang sangat lembut. Di sudut kamar, terdapat pintu kaca besar yang langsung terhubung ke kolam renang privat luar ruangan yang airnya tampak berkilau biru di bawah cahaya lampu malam.

Alya langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk tersebut. "Aaaah... nyaman sekali!" serunya gembira, berguling ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil.

"Jangan terlalu senang dulu," sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.

Alya tersentak dan langsung terduduk tegak. Devan berdiri di sana dengan jas yang sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan lengan tangannya yang kokoh.

"T-Tuan Devan? Kenapa Anda di sini? Bukankah Anda tinggal di rumah utama?" tanya Alya gugup.

Devan melangkah masuk dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. "Ini adalah propertiku. Dan demi memastikan bayi di dalam kandunganmu aman dari segala gangguan—serta untuk mengawasi keanehan yang ada pada dirimu—aku juga akan tinggal di sini."

Alya menelan ludah. *Tinggal bersama CEO dingin ini?!*

> *[Menarik. Ayah dingin ini sepertinya mulai protektif, meskipun dia membungkusnya dengan alasan 'mengawasi'. Ibu, biarkan saja dia tinggal di sini. Dengan begitu, kita bisa menguras dompetnya lebih mudah untuk membeli makanan-makanan lezat setiap hari.]*

Alya mencoba menyembunyikan senyumnya. Ia menatap Devan dengan tatapan menantang yang manis. "Baiklah, Tuan Devan. Tapi ingat kontrak kita ya. Kita hanya tinggal bersama demi bayi ini. Jangan harap Anda bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan!"

Devan mendengus dingin, meski matanya sempat terpaku sesaat pada wajah Alya yang tampak sangat segar dan menggemaskan di bawah pencahayaan kamar yang hangat.

"Mengambil kesempatan darimu? Jangan terlalu percaya diri, Alya Putri. Seleraku tidak se-rendah itu," jawab Devan sarkastis sebelum berbalik pergi menuju kamarnya sendiri yang berada di sayap kiri penthouse.

Alya menjulurkan lidahnya ke arah punggung Devan yang menjauh. Namun, sesaat setelah Devan pergi, rasa hangat kembali menjalar di perutnya, diiringi suara tawa kecil yang menggemaskan di kepalanya.

> *[Hahaha! Ibu, tenang saja. Kita lihat saja seberapa lama pria gengsi tinggi itu bisa bertahan dari pesonamu. Selamat tidur, Ibu kandungku yang hebat. Babak baru kehidupan kita baru saja dimulai!]*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!