Indonesia
NovelToon NovelToon

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Jiwa Baru Di Istana Dingin

Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Di atas ranjang kayu yang lapuk di sudut Istana Dingin, tempat pembuangan bagi para wanita kekaisaran yang tak lagi diinginkan, tubuh kurus Shen Ran terbaring kaku. Napas terakhirnya baru saja berembus beberapa detik yang lalu, membawa pergi jiwa rapuh sang Permaisuri yang mati dalam kesendirian dan penghinaan. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

Uhuk! Uhuk!

Dada yang tadinya diam tiba-tiba naik turun dengan liar. Sepasang kelopak mata yang indah terbuka lebar. Sepasang manik mata yang biasanya redup dan penuh ketakutan, kini berkilat tajam, sedingin es di puncak gunung.

"Sial... dingin sekali," bisik suara itu, serak namun sarat akan ketegasan yang asing.

Clara, atau yang kini berada di tubuh Shen Ran, menyentuh lehernya. Ia mencoba duduk, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ingatan terakhirnya adalah sebuah kecelakaan mobil tragis di pusat kota Jakarta. Setelah ia memenangkan kasus korporat bernilai miliaran rupiah. Dan sekarang? Aliran memori asing tiba-tiba menghantam kepalanya.

Shen Ran. Permaisuri Kekaisaran Yan yang malang. Dinikahi hanya untuk memperkuat takhta Kaisar, lalu dibuang dan difitnah oleh selir kesayangan Kaisar, Selir Agung Chu. Ia dikurung di istana bobrok ini tanpa makanan yang layak, sementara keluarganya sendiri menutup mata demi keselamatan posisi mereka. Clara memandangi jemarinya yang kurus dan pucat.

"Tidak mungkin!" teriak Clara, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Meskipun kepalanya masih berdenyut nyeri akibat hantaman memori ganda, antara ingatan hukum korporat modern dan penderitaan tak berkesudahan milik Shen Ran, fakta yang terpampang di depan matanya terlalu nyata untuk dibantah.

Clara memandangi sekeliling ruang kamar yang menyedihkan ini. Dinding-dinding kayu yang mulai berjamur, tirai brokat compang-camping yang tak lagi mampu menghalau angin malam, dan aroma debu bercampur kayu basah. Ini adalah deskripsi tepat dari Istana Dingin dalam novel roman-sejarah berjudul Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang, yang sempat ia baca untuk membunuh waktu di sela-sela jadwal sidangnya yang padat.

Di dalam novel itu, Shen Ran adalah tokoh figuran tragis. Permaisuri tanpa kekuatan yang mati mengenaskan di bab-bab awal hanya untuk menjadi batu loncatan bagi sang tokoh utama wanita, Selir Agung Chu, untuk naik takhta.

"Jadi..." Clara menyentuh dahi tubuh barunya yang terasa demam, lalu menghela napas panjang. "...aku benar-benar bertransmigrasi ke dalam novel picisan ini? Dan aku menjadi umpan peluru yang ditakdirkan mati konyol?"

Clara terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar serak di ruangan yang sunyi itu, namun perlahan berubah menjadi tawa dingin yang penuh dengan kepercayaan diri.

Sebagai pengacara korporat papan atas di London yang terkenal tak kenal ampun di meja hijau, Clara sudah biasa menghadapi situasi paling buntu sekalipun. Baginya, kalah sebelum bertarung adalah penghinaan terbesar terhadap kecerdasannya.

"Jika penulis novel ini mengira aku akan mengikuti naskah bodoh dan mati mengenaskan demi melancarkan jalan cinta Kaisar dan selirnya, mereka salah besar."

Clara melirik ke arah pintu kayu yang reyot. Mengingat alur cerita aslinya, sesaat setelah Shen Ran sadar dari pingsannya akibat kedinginan, pelayan pribadi Selir Agung Chu akan datang untuk mengantarkan makanan sisa sebagai bentuk penghinaan harian.

Sambil meluruskan gaun putihnya yang tipis dan kotor, Clara menyandarkan punggungnya ke tiang ranjang yang berderit. Kedua tangannya bersilang di dada. Tatapan matanya yang dulu rapuh kini telah berganti dengan sorot tajam seorang predator yang sedang menyusun strategi perang.

"Baiklah, Kekaisaran Yan," gumam Clara dengan senyum miring yang mematikan. "Mari kita lihat seberapa kuat kalian bisa bertahan saat hukum modern dan taktik kotor korporat mulai bermain di istana kuno ini. Sekarang panggil aku Shen Ran, bukan Clara."

Brak!

Sesuai dengan tebakan Clara, atau yang kini harus membiasakan diri dengan nama Shen Ran, pintu kayu Istana Dingin yang rapuh itu ditendang kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya. Aroma dingin malam yang menusuk langsung menyeruak masuk, membawa serta langkah kaki yang angkuh.

"Astaga, ternyata wanita sialan ini belum mati!"

Sebuah suara melengking bernada mengejek memecah keheningan. Seorang pelayan senior berpakaian sutra hijau, Qiao’er, tangan kanan Selir Agung Chu, melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Di belakangnya, dua kasim bertubuh kekar mengikuti dengan senyum meremehkan yang kentara. Di tangan Qiao'er, bertengger sebuah mangkuk porselen retak berisi bubur dingin yang sudah berbau masam.

"Permaisuri," panggil Qiao’er dengan nada yang sama sekali tidak menaruh hormat. Tanpa aba-aba, ia menjatuhkan mangkuk itu ke lantai tanah di dekat kaki ranjang, membuat bubur dingin itu terciprat ke mana-mana.

"Selir Agung Chu berbaik hati mengirimkan makanan ini untuk Anda. Habiskan, lalu bersujud-lah ke arah Istana Barat untuk berterima kasih atas kemurahan hati beliau!"

Jika ini adalah Shen Ran yang asli, dia pasti sudah gemetar ketakutan, menangis, dan mungkin akan memakan bubur basi itu sambil memohon belas kasihan agar tidak disiksa lebih jauh. Namun, Clara hanya menatap cipratan bubur di lantai dengan pandangan datar. Detik berikutnya, ia mengalihkan sepasang manik mata hitamnya yang tajam langsung ke arah Qiao’er.

Aura dingin yang tiba-tiba menguar dari tubuh kurus di atas ranjang itu membuat kata-kata Qiao'er tertahan di tenggorokan. Bulu kuduk pelayan itu mendadak berdiri. Untuk sesaat, ia merasa tidak sedang berhadapan dengan wanita penyendiri yang rapuh, melainkan seekor pemangsa yang tengah mengunci targetnya.

"Apa yang kau lihat?! Cepat makan dan bersujud!" teriak Qiao’er, mencoba menutupi rasa ngeri yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Shen Ran perlahan menurunkan kakinya dari ranjang. Gerakannya begitu anggun, seolah gaun putihnya yang kotor dan robek adalah jubah kebesaran sutra terbaik. Ia berdiri tegak, membiarkan postur tubuhnya yang tinggi mendominasi ruangan sempit itu.

"Siapa namamu?" tanya Shen Ran. Suaranya rendah, jernih, dan sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang berada di ambang kematian.

"Q-Qiao'er! Pelayan pribadi Selir Agung Chu!" jawab pelayan itu, buru-buru membawa nama majikannya sebagai tameng.

"Qiao'er," Shen Ran mengulang nama itu dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Sebagai seorang pelayan di Istana Yan, apakah kau pernah membaca aturan hukum kekaisaran?"

Qiao’er mengernyit duga, merasa asing dengan kosakata itu. "Hukum kekaisaran apa? Jangan membual! Anda hanyalah Permaisuri terbuang yang..."

PLAK!

Suara hantaman keras menggema di dalam ruangan yang sunyi. Tamparan itu begitu cepat, presisi, dan bertenaga hingga tubuh Qiao’er terhuyung dan jatuh tersungkur di atas lantai tanah yang kotor. Sudut bibirnya langsung pecah dan mengeluarkan darah segar. Dua kasim di belakangnya terbelalak, membeku di tempat seperti patung lilin.

"Satu tamparan untuk kelancangan mulutmu," kata Shen Ran dingin. Ia menarik selembar kain lusuh dari meja terdekat, menyeka jemarinya yang baru saja menampar Qiao'er seolah-olah ia baru saja menyentuh sampah menjijikkan, lalu membuang kain itu ke wajah Qiao'er.

"K-kau... beraninya kau menyentuhku?! Aku adalah pelayan kesayangan Selir Agung Chu! Kaisar akan..."

"Kaisar?" Shen Ran memotong ucapan itu dengan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.

Ia melangkah maju, lalu tanpa ragu menginjak jemari tangan Qiao’er yang menopang tubuhnya di lantai. Ia menekan tumitnya dengan kekuatan penuh.

"Aaaakh! Sakit!" Qiao’er menjerit histeris saat merasakan tulang jarinya seolah hendak remuk.

"Dengar baik-baik, budak," Shen Ran membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Qiao’er yang kini dipenuhi ketakutan murni. "Di bawah hukum Kekaisaran Yan Pasal 4 tentang Tata Tertib Istana Belakang. Barang siapa pelayan rendahan yang dengan sengaja menghina, menyerang, atau memerintahkan Ibu Negara Kekaisaran untuk bersujud, hukumannya adalah potong lidah dan hukuman mati dengan cara dipukuli."

Shen Ran memperdalam injakannya, membuat jeritan Qiao'er semakin melengking. "Bahkan jika aku dibuang ke Istana Dingin sekalipun, namaku masih tercatat di kuil leluhur sebagai Permaisuri yang sah. Selama kepalaku masih memakai mahkota ini, majikanmu, Selir Agung Chu, tetaplah seorang selir. Di hadapanku, dia tidak lebih dari sekadar pelayan kelas atas yang naik ranjang."

Shen Ran menarik kakinya kembali, lalu menatap dua kasim yang kini sudah pucat pasi di dekat pintu.

"Kalian berdua," panggil Shen Ran dengan nada memerintah. "Seret anjing menggonggong ini keluar dari istanaku. Dan sampaikan pesan pada majikan kalian..."

Shen Ran menjeda kalimatnya, kilat kejam melintas di matanya yang indah. "...jika dia ingin bermain-main denganku, katakan padanya untuk menyiapkan peti mati yang bagus. Karena drama ini baru saja dimulai."

Bab Dua

Dua kasim itu tidak berani membuang waktu sedetik pun. Aura menindas yang dipancarkan oleh Shen Ran, atau Clara, begitu pekat, hingga atmosfer di dalam Istana Dingin terasa mencekik leher mereka. Tanpa sepatah kata pun, mereka langsung meringkus Qiao’er yang masih menangis kesakitan sambil memegangi jemarinya yang bengkak, lalu menyeretnya keluar dari sana seolah-olah pelayan itu adalah seonggok daging tak berharga.

Suara jeritan dan kutukan Qiao’er perlahan menjauh, menyisakan kesunyian malam yang kembali menyelimuti ruangan bobrok tersebut. Shen Ran mengembuskan napas panjang. Tubuh ini benar-benar sangat lemah, hanya dengan memberikan satu tamparan dan sedikit tekanan psikologis, dadanya sudah naik turun karena kelelahan. Ia berjalan menuju cermin perunggu buram yang terletak di atas meja rias berdebu.

Melalui pantulan yang samar, ia melihat wajah barunya. Wajah itu luar biasa cantik, tipe kecantikan klasik yang lembut dengan mata bulat besar dan bibir ceri. Namun, karena kurang gizi dan siksaan batin, wajah itu tampak pucat pasi seperti mayat hidup.

"Sayang sekali... Wajah secantik ini disia-siakan hanya untuk menangisi pria brengsek," gumam Shen Ran sambil mengusap pipinya yang tirus.

Shen Ran membalikkan tubuh, mengabaikan rasa lapar yang mulai melilit perutnya. Di dunia modern, Clara adalah seorang pengacara yang selalu selangkah lebih maju dari lawannya. Langkah pertamanya di dunia ini jelas bukan memohon ampun pada Kaisar, melainkan mengamankan aset dan mengumpulkan informasi.

Dari memori asli Shen Ran, ia tahu bahwa meskipun ia dibuang ke Istana Dingin, ia masih memiliki sebuah kotak mahar rahasia yang disembunyikan di bawah papan lantai dekat ranjangnya. Kotak itu berisi beberapa perhiasan emas murni pemberian mendiang Ibu Suri sebelum beliau wafat, satu-satunya orang yang tulus menyayangi Shen Ran. Shen Ran berlutut, mengabaikan debu yang mengotori gaunnya, lalu mulai mengetuk-ngetuk papan kayu di bawah ranjang.

Tok. Tok. Dug.

Suara yang berbeda terdengar. Ia tersenyum tipis. Dengan sisa tenaganya, ia mencongkel papan kayu tersebut dan berhasil mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana berukir kecil. Saat membukanya, kilau emas dan seuntai kalung giok darah langsung memanjakan matanya.

"Bagus. Modal awal yang cukup untuk menyuap beberapa penjaga," bisik Shen Ran. Di istana mana pun, baik modern maupun kuno, uang adalah hukum tertinggi yang bisa membeli kesetiaan terendah.

Sementara itu, di Istana Istana Barat yang megah dan hangat, aroma dupa gaharu yang mahal menyeruak di setiap sudut ruangan.

Selir Agung Chu, Chu Xinyue, sedang duduk santai di atas kursi santai yang dilapisi bulu rubah putih. Wajahnya yang jelita tampak merona, dipenuhi kepuasan setelah mendengar bahwa Permaisuri telah diasingkan ke tempat paling kumuh di kekaisaran. Namun, ketenangannya hancur berantakan saat pintu kamarnya diketuk dengan tergesa-gesa.

"Masuk," titah Chu Xinyue, suaranya yang lembut kini bernada malas.

Pintu terbuka, memperlihatkan Qiao’er yang bersujud di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Rambutnya berantakan, sudut bibirnya robek dan membiru, sementara tangan kanannya dibalut kain yang mulai merembeskan darah.

Chu Xinyue langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak tak percaya. "Qiao'er? Apa yang terjadi dengan wajahmu?! Bukankah aku menyuruhmu memberi 'pelajaran' pada wanita jalang di Istana Dingin itu?"

"S-Selir Agung... tolong hamba!" ratap Qiao’er sambil membenturkan dahinya ke lantai. "Permaisuri... Permaisuri telah gila! Dia... dia berani memukul hamba!"

"Apa?!" Chu Xinyue berdiri dari kursinya, wajahnya berkerut murka. "Bagaimana mungkin? Shen Ran adalah wanita penakut yang bahkan tidak berani menatap mataku! Bagaimana bisa dia memukulmu?!"

Qiao’er gemetar hebat saat mengingat kembali tatapan mata Shen Ran yang sedingin es. "Hamba bersumpah demi langit, Yang Mulia! Dia bukan lagi Shen Ran yang dulu. Dia tidak takut sama sekali. Dia bahkan... dia bahkan mengatakan bahwa Anda hanyalah seorang pelayan kelas atas yang naik ranjang, dan menyuruh Anda menyiapkan peti mati jika ingin bermain-main dengannya!"

Prang!

Chu Xinyue menyapukan tangannya ke meja di sebelahnya, menghancurkan cangkir teh porselen mahal hingga berkeping-keping di lantai. Napasnya memburu, matanya memancarkan kilat kebencian yang amat sangat.

"Wanita sialan! Sudah di ambang kematian pun masih berani bersikap angkuh!" desis Chu Xinyue tajam. "Dia pikir karena dia memegang gelar Permaisuri, aku tidak bisa menghabisinya?"

Chu Xinyue berbalik menatap kasim pribadinya yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah tegang. "Pergi temui Panglima Pengawal Istana. Katakan padanya, potong seluruh pasokan makanan dan arang ke Istana Dingin mulai malam ini. Aku ingin melihat, berapa lama lagi lidah tajam Permaisuri itu bisa bertahan sebelum dia membeku dan mati kelaparan!"

Kembali ke Istana Dingin, Shen Ran sama sekali tidak tahu, dan tidak peduli, dengan kemarahan Chu Xinyue. Ia telah selesai menghitung perhiasannya. Dengan cermat, ia menyembunyikan sebagian besar emas itu kembali ke tempat rahasia, dan hanya menyisakan dua buah gelang emas tebal di dalam lengan bajunya.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang sangat pelan dari arah luar jendela yang rusak. Langkah kaki itu tidak seberisik Qiao'er dan dua kasim tadi; ini adalah langkah kaki seseorang yang terlatih.

Shen Ran tidak panik. Ia justru duduk dengan tenang di kursi kayu, menuangkan air dingin dari teko yang tersisa ke dalam cangkir kecil, lalu menyesapnya perlahan.

"Karena Anda sudah datang jauh-jauh, mengapa tidak masuk lewat pintu saja, Tuan?" ucap Shen Ran dengan nada datar, matanya menatap lurus ke arah jendela yang gelap.

Suara gesekan kain terdengar, dan sesosok bayangan hitam tinggi melompat masuk dengan gerakan yang luar biasa ringkas dan tanpa suara. Pria itu mengenakan pakaian malam serba hitam, wajahnya setengah tertutup topeng perak, namun sepasang matanya yang tajam bak elang menatap Shen Ran dengan ketertarikan yang mendalam.

Pria itu adalah musuh bebuyutan Kaisar, sekaligus pangeran pemberontak yang ditakuti seluruh negeri, Pangeran Berkuda Hitam, Kaisar Bayangan.

"Aku tidak menyangka," suara pria itu berat dan serak, terdengar sangat memikat namun berbahaya. "Permaisuri Kekaisaran Yan yang terkenal lemah lembut dan bodoh, ternyata bisa menjinakkan anjing-anjing Istana Barat dengan begitu mudah."

Shen Ran meletakkan cangkirnya, lalu menatap pria misterius itu tanpa rasa takut sedikit pun. Sebuah senyuman penuh kalkulasi terukir di bibir indahnya.

"Di dunia ini, tidak ada wanita yang bodoh, Tuan. Yang ada hanyalah wanita yang terlambat menyadari nilai dirinya. Dan sekarang, setelah saya sadar... saya sedang mencari mitra bisnis yang tepat untuk meruntuhkan kekaisaran ini. Bagaimana? Apakah Anda tertarik?" sahut Shen Ran tenang. Ia menopang dagunya dengan satu tangan.

Bab Tiga

Pria bertopeng perak itu tertegun untuk sepersekian detik. Sepasang matanya yang tajam menyipit, menatap Shen Ran seolah sedang menilai apakah wanita di hadapannya ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, atau sedang memainkan trik yang sangat berbahaya.

Meruntuhkan kekaisaran? Kata-kata itu keluar dari mulut seorang Permaisuri yang baru saja dibuang ke Istana Dingin. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa.

"Mitra bisnis? Permaisuri Shen, apakah Anda tahu dengan siapa Anda sedang berbicara saat ini? Dan apakah Anda sadar, satu kalimat tadi bisa membuat kepala Anda terpisah dari leher?" Pangeran misterius itu melangkah maju. Gerakannya begitu sunyi namun penuh tekanan, seperti seekor macan tutul yang sedang mengitari mangsanya.

Shen Ran tidak bergeming. Jangankan bangkit dari kursinya, ia bahkan tidak mengedipkan mata saat pria itu berhenti tepat di depannya, menyebarkan aroma maskulin yang bercampur dengan bau samar zat besi, bau darah dari luar istana.

Sebagai mantan pengacara korporat yang biasa bernegosiasi dengan para srigala bisnis di London, Clara tahu betul cara membaca bahasa tubuh. Pria ini tidak datang untuk membunuhnya. Jika dia ingin membunuhnya, dia tidak akan membuang waktu untuk berbicara.

"Tentu saja saya tahu," sahut Shen Ran, suaranya tetap tenang dan terkendali. Ia mendongak, menatap langsung ke balik topeng perak itu. "Anda adalah pria yang memiliki akses keluar-masuk Istana Dalam tanpa terdeteksi oleh pengawal kekaisaran. Pria yang memandang rendah Kaisar, namun memilih untuk menonton dari bayang-bayang. Di negeri ini, hanya ada satu orang dengan kapasitas seperti itu, Pangeran Pemberontak, Feng Muye."

Mendengar namanya disebut dengan begitu lugas, kilat berbahaya melintas di mata pria itu. Tangan kanannya bergerak secepat kilat, mencengkeram dagu Shen Ran dengan kekuatan yang cukup untuk membuat wanita biasa menangis kesakitan.

"Kau sangat berani. Atau kau memang sudah bosan hidup?" bisik Feng Muye, suaranya mendesis rendah di dekat telinga Shen Ran.

Dagu Shen Ran terasa sakit, namun matanya justru memancarkan binar kemenangan. "Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kuberikan pada mereka yang telah membuangku, Pangeran. Anda menginginkan takhta, dan saya menginginkan kebebasan serta kehancuran orang-orang yang meremehkan saya. Kita memiliki musuh yang sama. Bukankah itu dasar yang sempurna untuk sebuah kontrak kerja sama?"

Feng Muye menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata hitam yang berkilau penuh kecerdasan dan ambisi tersebut. Tidak ada lagi sisa-sisa Shen Ran yang cengeng dan lemah. Wanita di hadapannya ini memiliki jiwa yang baru, jiwa yang tajam, dingin, dan mematikan.

Perlahan, Feng Muye melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, lalu bersedekap. Sebuah kekehan rendah dan berat lolos dari balik topengnya.

"Menarik," ujar Feng Muye, ada nada apresiasi yang jujur dalam suaranya. "Lalu, apa yang bisa ditawarkan oleh seorang Permaisuri tanpa kekuasaan dan tanpa tentara seperti Anda kepada saya?"

Shen Ran tersenyum miring. Ia mengelus dagunya yang memerah, lalu berdiri dengan anggun. "Kekuasaan bisa direbut, dan tentara bisa dibeli dengan uang, Pangeran. Yang tidak Anda miliki saat ini adalah informasi internal dari dalam lingkaran inti Kaisar, serta strategi untuk menghancurkan aliansi finansial para menteri yang mendukung Istana Barat."

Shen Ran berjalan mendekati meja riasnya, mengambil selembar kertas kosong dan kuas, lalu menuliskan beberapa patah kata dengan cepat. Ia menyerahkan kertas itu kepada Feng Muye.

"Ini adalah nama-nama pejabat korup yang memasok dana rahasia untuk Selir Agung Chu dan pos militer di perbatasan barat. Periksa nama-nama itu. Jika informasi saya akurat, kembalilah ke sini tiga hari lagi membawa makanan yang layak dan arang yang hangat. Kita akan menandatangani kontrak kerja sama yang sesungguhnya."

Feng Muye menerima kertas itu, melirik isinya, dan matanya seketika melebar. Informasi ini... bahkan jaringan mata-mata terbaiknya pun membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkannya. Bagaimana bisa seorang wanita yang terkurung di istana tahu sejauh ini?

Tentu saja, Clara mengetahuinya karena ia mengingat detail plot dari novel yang dibacanya.

"Kau benar-benar penuh kejutan, Shen Ran. Baiklah. Aku akan memegang kata-katamu. Jika ini palsu, Istana Dingin ini akan menjadi makam bagimu," kata Feng Muye. Ia melipat kertas itu dan menyimpannya di balik jubah.

"Dan jika ini asli, pastikan Anda membawa teh kualitas terbaik saat kembali nanti, Tuan Pangeran," balas Shen Ran dengan nada menyindir yang elegan.

Dengan satu gerakan cepat, tubuh Feng Muye melesat keluar jendela dan menghilang di kegelapan malam, seolah-olah dia hanyalah ilusi dari angin malam. Setelah pria itu pergi, Shen Ran mengunci jendelanya rapat-rapat. Rasa lelah yang amat sangat kembali menyerang tubuh rapuhnya. Ia berjalan menuju ranjang lapuknya, berbaring di atas kasur yang tipis, dan menarik selimut lusuhnya.

Malam ini sangat dingin, dan musuh-musuhnya di luar sana sedang merencanakan kelaparan untuknya. Namun, di bawah selimut itu, Clara tersenyum sangat puas.

"Potong pasokan makanan?" gumam Shen Ran pada dirinya sendiri sebelum memejamkan mata. "Silakan saja, Chu Xinyue. Mari kita lihat, siapa yang akan kelaparan terlebih dahulu saat aku mulai memotong jalur keuanganmu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!