Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

BAB I Hari Pernikahan Yang Tak Pernah Kuinginkan

"Aku tidak akan menikah dengannya!"

Suara Gavin menggema di ruang keluarga hingga membuat semua orang terdiam.

Ayla yang baru saja turun dari lantai dua menghentikan langkahnya. Tatapannya bergantian mengarah pada ayahnya yang terlihat pucat dan kakaknya yang sedang menahan amarah.

"Ayah sudah gila? Menyerahkan Ayla ke keluarga Wijaya?" bentak Gavin.

Ayah mengembuskan napas panjang.

"Perusahaan kita tinggal menunggu waktu untuk bangkrut. Hanya Arsen yang mau membantu."

"Membantu?" Gavin tertawa sinis. "Dia sedang mempermalukan keluarga kita."

Nama itu lagi.

Arsen Wijaya.

Nama yang sejak kecil selalu Ayla dengar sebagai sosok paling dibenci kakaknya.

Pria yang konon telah merebut proyek, menghancurkan karier Gavin, bahkan membuat keluarga mereka kehilangan banyak hal.

"Aku yang akan menikah."

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Ayla.

Semua orang menoleh.

"Ayla..." bisik ibunya.

"Ayah butuh bantuan. Kalau memang hanya itu caranya, aku akan menikah."

Gavin melangkah cepat menghampirinya.

"Kamu tahu siapa dia?"

Ayla mengangguk pelan.

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu tidak tahu apa pun."

Tatapan Gavin dipenuhi amarah... sekaligus ketakutan.

"Ayla, pria itu monster."

___________________________________________

Malam itu...

Ayla duduk sendirian di kamarnya.

Di atas meja tergeletak map berisi foto calon suaminya.

Dengan ragu, ia mengambil foto itu.

Pria berjas hitam.

Tatapan tajam.

Wajah tampan yang nyaris tanpa ekspresi.

Di balik foto itu hanya ada satu kalimat.

Arsen Wijaya. Usia 30 tahun. CEO Wijaya Group.

Belum sempat Ayla menarik napas, ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Besok pukul sembilan pagi. Jangan terlambat."

Tidak ada salam.

Tidak ada perkenalan.

Hanya satu pesan singkat.

Ayla menggenggam ponselnya erat.

Sombong sekali...

Pria itu bahkan tidak menganggapnya sebagai calon istri.

Ia menatap langit malam dari balik jendela.

Dalam hati ia berjanji.

"Aku mungkin dipaksa menikah denganmu, Arsen. Tapi jangan pernah berharap aku akan mencintaimu."

Tanpa Ayla sadari...

Di tempat lain, Arsen sedang memandangi foto Ayla sambil tersenyum tipis.

"Maafkan aku, Ayla..."

Kau akan membenciku setelah mengetahui alasan sebenarnya."

___________________________________________

Ayla tidak bisa memejamkan mata semalaman.

Pesan singkat dari Arsen terus terngiang di kepalanya.

"Be ready at 9:00 a.m. tomorrow. Don't be late."

Bahkan tidak ada kata please.

Pria itu benar-benar menyebalkan.

Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu memandang langit-langit kamar dengan pikiran yang kacau.

Beberapa hari yang lalu, hidupnya masih terasa normal.

Ia bekerja di perusahaan keluarga, sesekali membantu ibunya di rumah, dan menghabiskan waktu dengan sahabatnya. Menikah bahkan belum pernah masuk ke dalam rencana hidupnya.

Namun kini...

Kurang dari dua puluh empat jam lagi, ia akan menjadi istri seorang pria yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.

Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Ayla... boleh Ibu masuk?"

Ayla segera mengusap sudut matanya yang mulai basah.

"Tentu, Bu."

Pintu terbuka perlahan.

Ibunya membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Ibu minta maaf."

Hanya tiga kata itu.

Namun berhasil membuat dada Ayla terasa sesak.

"Maaf karena Ibu tidak bisa melindungimu."

Ayla menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya itu.

"Ibu jangan bilang begitu."

"Ayahmu sudah mencoba mencari jalan lain."

"Aku tahu."

"Ibu juga tidak ingin kamu menikah karena terpaksa."

Ayla tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Kalau pengorbananku bisa menyelamatkan keluarga ini... aku ikhlas."

Ibunya langsung memeluk Ayla erat.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Ayla menangis.

Bukan karena takut pada pernikahan.

Tetapi karena ia sadar, mulai besok hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

- END OF CHAPTER 1 -

Bab II Hari Pernikahan

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar, menerangi gaun pengantin putih yang tergantung rapi di sudut ruangan.

Ayla membuka matanya perlahan.

Semalaman ia hampir tidak tidur.

Bukan karena suara hujan di luar ataupun udara yang terasa dingin, melainkan karena pikirannya terus dipenuhi oleh satu nama.

Arsen Wijaya.

Pria yang beberapa jam lagi akan resmi menjadi suaminya.

Pria yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.

Ia mengembuskan napas pelan sebelum bangkit dari tempat tidur. Matanya langsung tertuju pada gaun pengantin yang sudah disiapkan sejak semalam.

Gaun itu begitu indah.

Warna putihnya tampak bersih dan anggun, dihiasi renda-renda halus yang menjuntai hingga ke bagian bawah rok.

Seharusnya setiap wanita merasa bahagia ketika mengenakan gaun seperti itu.

Namun tidak dengan Ayla.

Baginya, gaun itu terasa seperti pengingat bahwa hari ini ia akan menyerahkan hidupnya kepada seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Ayla, sudah bangun, Nak?" suara ibunya terdengar lembut.

"Iya, Bu."

Pintu terbuka perlahan.

Ibunya masuk sambil membawa sebuah kotak beludru kecil.

"Ayo bersiap."

Ayla hanya mengangguk.

Selama hampir satu jam, ibunya membantu mengenakan gaun pengantin, merapikan rambutnya, hingga memasangkan anting mutiara peninggalan neneknya.

Saat semuanya selesai, Ayla berdiri di depan cermin.

Pantulan di hadapannya memperlihatkan seorang wanita yang begitu cantik.

Riasan tipis membuat wajahnya terlihat lebih dewasa.

Namun sorot matanya tetap tidak mampu menyembunyikan kegelisahan.

"Kamu cantik sekali," ucap ibunya sambil tersenyum.

Ayla membalas dengan senyum tipis.

"Sayangnya aku tidak merasa seperti seorang pengantin."

Ibunya menggenggam kedua tangan Ayla.

"Ibu tahu."

"Tapi percayalah... Tuhan tidak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia."

Kalimat itu membuat dada Ayla terasa hangat sekaligus sesak.

Ia memeluk ibunya erat.

"Mohon doakan Ayla, Bu."

"Ibu akan selalu mendoakanmu."

Belum sempat mereka berbicara lagi, suara klakson mobil terdengar dari halaman depan.

Ibunya mengusap air mata yang mulai menggenang.

"Sepertinya mereka sudah datang."

Ayla menarik napas panjang.

"Inilah saatnya."

Dengan langkah perlahan, ia menuruni anak tangga.

Di ruang tamu, ayahnya sudah mengenakan jas hitam sederhana.

Wajah pria paruh baya itu terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu.

Lingkar hitam di bawah matanya menandakan ia juga tidak tidur semalaman.

Saat melihat Ayla turun mengenakan gaun pengantin, matanya langsung berkaca-kaca.

"Ayah..."

Pria itu mendekat, lalu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih.

"Maafkan Ayah."

Hanya tiga kata itu.

Namun cukup membuat hati Ayla kembali bergetar.

"Ayah tidak perlu meminta maaf."

"Semua ini salah Ayah."

"Bukan."

Ayla menggenggam tangan ayahnya.

"Kita menghadapi ini bersama."

Ayahnya mengangguk pelan meski air mata akhirnya jatuh juga.

Di sudut ruangan, Gavin berdiri dengan wajah yang sulit dibaca.

Tatapannya tertuju pada pintu rumah, seolah berharap pria yang akan datang berubah pikiran dan membatalkan semuanya.

"Ayla."

Suara Gavin terdengar berat.

Gavin melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan adiknya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Ayla tanpa berkata apa pun. Seolah-olah ia sedang berusaha menghafal wajah adik yang selama ini selalu ia lindungi.

"Kalau keadaan memburuk, telepon aku," ucap Gavin lirih. "Jangan pernah memendam semuanya sendirian."

Ayla mengangguk pelan. "Aku akan baik-baik saja, Kak."

Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin dengan ucapan tersebut.

Suara mesin mobil kembali terdengar dari luar rumah. Seseorang mengetuk pintu dengan sopan.

"Permisi, Nona Ayla. Saya Rio, asisten pribadi Tuan Arsen. Kami siap mengantar Anda ke tempat pernikahan."

Ayla menatap keluarganya untuk terakhir kali sebelum mengembuskan napas panjang. Dengan senyum tipis yang ia paksakan, ia melangkah menuju pintu, tanpa menyadari bahwa keputusan hari itu akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Bersambung...

Bab III Pertemuan Pertama

Mobil sedan hitam melaju meninggalkan rumah keluarga Pradana dengan kecepatan stabil. Ayla duduk di kursi belakang seorang diri, sementara Rio, asisten pribadi Arsen, sesekali menatap ke arah kaca spion untuk memastikan keadaan tamunya baik-baik saja.

Suasana di dalam mobil begitu sunyi.

Ayla memandang keluar jendela. Deretan pepohonan, gedung-gedung tinggi, dan kendaraan yang berlalu-lalang terasa begitu asing pagi itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa kota yang selama ini menjadi tempat tinggalnya tampak begitu jauh.

"Apakah perjalanan masih lama?" tanyanya pelan, berusaha memecah keheningan.

"Kurang lebih lima belas menit lagi, Nona," jawab Rio dengan sopan. "Tuan Arsen sudah menunggu di lokasi."

Ayla hanya mengangguk. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Pria itu...

Sebentar lagi ia akan melihat wajah pria yang selama ini hanya dikenalnya lewat cerita Gavin dan selembar foto.

Entah mengapa, rasa gugup mulai menguasai dirinya.

Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman sebuah hotel berbintang yang berdiri megah di pusat kota. Beberapa petugas keamanan segera membuka pintu gerbang, seolah telah menunggu kedatangan mereka.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Rio turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Ayla.

"Silakan, Nona."

Begitu kedua kakinya menginjak lantai marmer, beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya.

Para staf hotel membungkukkan badan dengan hormat.

"Selamat datang, Nona Ayla."

Sapaan itu justru membuat Ayla semakin canggung.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum mengikuti Rio memasuki hotel.

Di dalam ballroom, dekorasi serba putih dan emas memenuhi ruangan. Bunga mawar putih tersusun rapi di sepanjang lorong menuju pelaminan. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, memantulkan cahaya yang membuat ruangan tampak semakin mewah.

Namun semua kemewahan itu tidak mampu mengalihkan kegelisahan Ayla.

Tatapannya terus mencari satu sosok.

Arsen Wijaya.

"Silakan tunggu sebentar, Nona."

Rio berhenti di depan sebuah ruangan khusus.

"Saya akan memberi tahu Tuan Arsen bahwa Anda sudah tiba."

Ayla mengangguk pelan.

Beberapa menit kemudian...

Pintu di hadapannya terbuka.

Seorang pria keluar dengan langkah tenang.

Jas hitam yang dikenakannya tampak pas membalut tubuhnya yang tinggi. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara sorot matanya yang tajam memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan.

Untuk sesaat...

Ayla hanya terpaku.

Pria itu bahkan lebih tampan daripada foto yang pernah ia lihat.

Namun ekspresinya begitu datar.

Hampir tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

Arsen menghentikan langkahnya tepat di depan Ayla.

Tatapan mereka akhirnya bertemu.

Tak ada senyum.

Tak ada sapaan hangat.

Hanya keheningan yang terasa begitu panjang.

"Jadi... kau Ayla."

Suara Arsen terdengar rendah dan tenang.

Ayla mengangkat dagunya sedikit.

"Dan Anda Arsen Wijaya."

Arsen mengangguk singkat.

"Tepat waktu."

Entah mengapa, kalimat itu terdengar seperti penilaian, bukan pujian.

Ayla menahan kesal.

"Setidaknya saya masih tahu cara menghargai waktu."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arsen terangkat membentuk senyum tipis.

Bukan senyum yang hangat.

Melainkan senyum penuh arti yang sulit ditebak.

"Bagus."

"Karena setelah hari ini, hidup kita akan dipenuhi banyak hal yang tidak bisa kita pilih."

Ucapan itu membuat Ayla terdiam.

Sebelum sempat bertanya apa maksudnya, seorang panitia menghampiri mereka.

"Tuan Arsen, Nona Ayla, semua tamu sudah hadir. Upacara akan dimulai lima menit lagi."

Arsen mengulurkan tangannya.

"Mari."

Ayla menatap tangan itu beberapa detik.

Dalam hati ia ragu.

Begitu tangannya menyentuh tangan Arsen, pria itu menggenggamnya dengan mantap, seolah memberi tahu semua orang bahwa mulai hari ini, Ayla adalah bagian dari hidupnya.

Namun tidak ada yang tahu...

Di balik tatapan dingin Arsen, tersimpan rahasia besar yang suatu hari nanti akan mengubah cara Ayla memandang pria itu selamanya.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!