Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang sering ia baca di media sosial kini benar-benar nyata ia rasakan. Sudah seminggu penuh teman-teman sekelasnya—bahkan yang paling pendiam sekalipun—mendadak punya topik obrolan baru yang sama sekali tidak Naomy pahami. Istilah-istilah seperti "gank", "buff", "meta", hingga "AFK" berseliweran di udara seperti bahasa asing yang tidak terdaftar di kamus mana pun. Saat istirahat, Naomy sering kali hanya bisa tersenyum canggung di pinggir lingkaran pertemanan, menjadi penonton bisu yang asing di tengah kehangatan obrolan mereka.
"Naom! Bengong aja lo. Sini ikutan," panggil Tasya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Seru banget asli. Lo harus coba unduh."
"Gue... gak biasa main game kayak gitu, Sya. Kayaknya susah," jawab Naomy ragu, menyembunyikan jemarinya yang mendadak terasa kaku.
"Gampang! Nanti kita ajarin. Nama gamenya Arena of Fate. Unduh sekarang, mumpung Wi-Fi sekolah lagi kencang," sahut salah satu teman Tasya, disusul tawa renyah yang membuat Naomy semakin merasa tertinggal.
Malam harinya, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja belajar, Naomy menatap layar ponselnya. Jari telunjuknya menggantung di atas tombol hijau bertuliskan 'Install' pada halaman Google Play Store. Ada keraguan kecil. Dia selalu menjadi siswi teladan yang menghabiskan malam dengan membaca novel atau mengerjakan latihan soal matematika. Apakah bermain game seperti ini hanya akan membuang-buang waktunya?
Namun, bayangan dirinya yang terabaikan di kantin sekolah tadi siang akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Jari itu menekan layar. Indikator unduhan mulai berjalan. 0%... 15%... 50%... 100%.
Saat aplikasi itu pertama kali terbuka, sebuah musik megah bergenre simfoni fantasi langsung memenuhi kamarnya. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan animasi karakter-karakter gagah berpedang dan penyihir cantik bergaun sutra. Naomy menarik napas dalam-dalam. Ia diminta memasukkan nama pengguna. Setelah berpikir sejenak, ia mengetikkan nama yang sederhana namun manis: @Nao_mii.
"Oke, mari kita lihat sesulit apa permainan ini," gumamnya pada diri sendiri.
Ternyata, dugaannya benar. Menit-menit pertama adalah bencana. Mode tutorial yang disediakan game terasa seperti instruksi merakit mesin jet bagi otak Naomy yang polos. Karakternya—seorang pemanah wanita bernama Lunaria—berkali-kali mati konyol karena Naomy salah mengarahkan analog virtual di layar. Alih-alih menembak musuh, ia justru berjalan lurus menabrak menara pertahanan lawan dan hancur seketika.
"Ah! Kenapa susah banget sih jalannya?" gerutu Naomy, mengusap dahinya yang mulai berkeringat.
Namun, di balik rasa frustrasi itu, ada letup adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali ia berhasil mengalahkan monster kecil di hutan virtual tersebut, ada kepuasan aneh yang menggelitik dadanya. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa kantuknya. Malam itu, yang awalnya ia janjikan hanya untuk mencoba selama lima belas menit, berakhir dengan Naomy yang baru memejamkan mata pada pukul dua pagi.
Keesokan harinya di sekolah, lingkaran pertemanan Naomy berubah. Begitu ia menunjukkan akun level satunya kepada Tasya, pekikan heboh langsung terdengar.
"Wah, beneran diunduh! Sini, sini, gue tambahkan jadi teman. Kita main mode klasik bareng siang ini!" Tasya merebut ponsel Naomy dengan antusias.
Hari itu menjadi tonggak sejarah baru dalam hidup Naomy. Ia tidak lagi menjadi penonton pasif. Meskipun di dalam permainan ia menjadi beban tim karena terus-menerus tereliminasi, teman-temannya tidak peduli. Mereka tertawa bersama, saling meledek, dan mengajari Naomy cara membaca peta mini di pojok layar. Untuk pertama kalinya, Naomy merasa benar-benar menjadi bagian dari kelompok itu. FOMO yang mengganggunya perlahan menguap, digantikan oleh kesenangan baru yang adiktif.
Seiring berjalannya waktu, kelas 10 berganti menjadi kelas 11, dan kemudian kelas 12. Tekanan akademis semakin meningkat. Ujian nasional, bimbingan belajar intensif, dan persiapan masuk perguruan tinggi mulai menyita waktu para siswa. Satu per satu, teman-teman Naomy mulai menghapus game tersebut dari ponsel mereka dengan alasan ingin fokus belajar. Tasya bahkan sudah tidak pernah lagi membicarakan taktik permainan di sela-sela jam istirahat.
Namun, tidak dengan Naomy.
Game yang awalnya ia unduh hanya karena ikut-ikutan itu kini telah bermutasi menjadi ruang pelarian pribadinya. Di saat kepalanya hampir pecah memikirkan rumus fisika atau materi sejarah yang menumpuk, membuka Arena of Fate adalah satu-satunya cara baginya untuk bernapas. Karakter Lunaria-nya yang dulu sering mati konyol kini telah bertransformasi menjadi penembak jitu yang mematikan. Jemari Naomy tidak lagi kaku; mereka menari dengan lincah di atas layar kaca, mengeksekusi gerakan demi gerakan dengan presisi yang mengagumkan.
"Naomy, kamu masih main game itu?" tanya ibunya suatu sore, menatap khawatir ke arah Naomy yang sedang bersandar di sofa ruang tamu dengan ponsel melintang.
"Bentar lagi beres, Ma. Ini buat healing bentar habis pusing tryout," sahut Naomy tanpa mengalihkan pandangan.
"Jangan sampai mengganggu belajarmu. Kamu kan mau masuk jurusan Desain Komunikasi Visual. Saingannya berat," nasihat ibunya lembut sebelum berjalan ke dapur.
Naomy mengangguk pelan. Ia tahu batasannya. Game ini bukan lagi sekadar tren sosial baginya. Ini adalah dunia kecil di mana ia memegang kendali penuh, dunia di mana ia bisa menjadi pahlawan tangguh tanpa harus memikirkan ekspektasi orang lain.
Hingga hari kelulusan SMA tiba, di saat teman-temannya sibuk mencoret-coret seragam dan menangis haru melepas masa remaja, Naomy duduk di sudut aula sekolah yang agak sepi setelah upacara penyerahan ijazah. Di tangannya, ponsel itu masih menyala menampilkan lobi permainan yang familier. Ia tersenyum tipis. Teman-teman yang dulu mengajaknya bermain kini sudah melangkah ke arah yang berbeda-beda, meninggalkan tren itu di belakang. Namun Naomy tahu, kotak piksel di dalam ponselnya ini akan tetap menemaninya, bahkan melangkah bersamanya melewati gerbang kehidupan yang baru: dunia perkuliahan.
Memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) ternyata jauh lebih brutal dari yang dibayangkan Naomy. Jika saat SMA ia berpikir tugas-tugas sekolah sudah cukup menyita waktu, maka dunia perkuliahan adalah level kesulitan yang sama sekali baru. Hari-harinya kini diwarnai dengan tumpukan kertas gambar, tenggat waktu pembuatan aset digital yang tidak manusiawi, serta revisi tiada akhir dari dosen yang perfeksionis.
Namun, di tengah hiruk-pikuk studio gambar yang berbau cat akrilik dan kopi instan, satu hal yang tidak pernah berubah dari hidup Naomy: ikon Arena of Fate yang masih setia bertengger di halaman utama ponselnya.
Bagi Naomy, game itu telah bertransisi dari sekadar pelarian menjadi sebuah ritual bertahan hidup. Teman-teman kuliahnya sering kali heran melihat Naomy yang masih sempat membuka game di sela-sela waktu menunggu giliran asistensi tugas akhir.
"Naom, serius lo masih sempat main game ginian?" tanya sekelasnya, melirik layar ponsel Naomy yang menampilkan grafik pertempuran yang intens. "Gue boro-boro mau main game, tidur tiga jam sehari aja udah syukur banget."
Naomy hanya terkekeh kecil tanpa melepaskan fokusnya dari layar. "Justru karena kurang tidur, otak gue butuh dialihkan, biar gak gila mikirin konsep branding yang ditolak melulu."
Karakter Lunaria milik Naomy kini bukan lagi sekadar karakter biasa. Akun @Nao_mii miliknya telah mencapai peringkat tinggi yang disegani di server lokal. Kemampuan mekanik jarinya yang terlatih sejak kelas 10 SMA membuatnya menjadi salah satu pemain penembak jitu (marksman) yang sangat diperhitungkan. Di dunia virtual itu, ia bukan lagi mahasiswi DKV yang kantung matanya menghitam karena begadang mengerjakan rendering animasi; ia adalah sang pemburu bayangan yang ditakuti lawan.
Tahun-tahun kuliah berlalu seperti putaran roda yang cepat. Lembar demi lembar tugas berganti menjadi draf skripsi. Naomy melewati malam-malam panjang menjelang sidang akhir dengan ditemani segelas kopi hitam di tangan kiri dan ponsel di tangan kanan. Saat rasa jenuh menyerang di tengah malam ketika menulis bab pembahasan, ia akan memainkan satu atau dua pertandingan cepat untuk menyegarkan pikirannya yang buntu.
Hingga akhirnya, hari yang dinantikan itu tiba.
Gedung serbaguna universitas dipenuhi oleh lautan toga berwarna hitam dengan samir kuning keemasan. Naomy berdiri di barisan para wisudawan, memegang map ijazah dengan senyum merekah di wajahnya. Kedua orang tuanya menatapnya dengan binar bangga dari kursi undangan. Di bawah jubah toganya yang longgar, tangan kanan Naomy diam-diam meraba saku roknya, merasakan sudut tajam ponselnya. Ia berhasil membuktikan bahwa hobi bermain gamenya tidak membuatnya hancur; ia lulus tepat waktu, dengan nilai yang sangat memuaskan.
"Selamat ya, Naom! Akhirnya kita bebas dari penderitaan ini!" beberapa temannya memeluknya erat, berfoto bersama di bawah taburan kertas konfeti.
Namun, kebebasan dunia kuliah ternyata hanyalah ilusi sebelum memasuki gerbang penderitaan yang sesungguhnya: dunia kerja.
Beberapa bulan setelah wisuda, lewat portofolio desainnya yang dinilai sangat estetis dan modern, Naomy berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan desain agensi ternama di ibu kota. Namanya adalah Apex Creative, sebuah agensi yang dikenal menangani proyek-proyek besar dari berbagai perusahaan konglomerat.
Awalnya, Naomy merasa sangat bersemangat. Ia merasa impian masa kecilnya untuk menjadi seorang desainer profesional akhirnya terwujud. Namun, realita dunia kerja segera menghantamnya tanpa ampun.
Sebagai staf desainer junior, Naomy berada di dasar rantai makanan kreatif. Hari-harinya kini diisi dengan duduk di depan monitor komputer selama sembilan hingga sepuluh jam sehari. Desain yang ia buat dengan sepenuh hati sering kali dikembalikan dengan catatan revisi yang absurd dari klien: "Tolong warnanya dibuat lebih cerah tapi tetap terlihat gelap," atau "Tolong buat desain yang lebih mewah tapi minimalis."
"Suntuk banget..." gumam Naomy suatu malam.
Jam dinding di ruang kubikelnya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kantor sudah mulai sepi, menyisakan beberapa staf yang juga sedang mengejar deadline. Selama hampir enam bulan pertama bekerja, Naomy benar-benar berhenti menyentuh Arena of Fate. Energi fisiknya sudah terkuras habis untuk komuter menggunakan transportasi umum yang padat, dan energi mentalnya telah habis diperas oleh revisi desain. Ponselnya kini hanya berisi aplikasi kerja, surat elektronik, dan obrolan grup kantor yang menegangkan.
Malam itu, setelah draf desain logonya ditolak untuk kelima kalinya oleh supervisor melalui pesan singkat, Naomy menyandarkan kepalanya di meja kerja yang dingin. Matanya terasa perih. Ada rasa hampa yang sangat besar di dadanya. Rasa jenuh yang menumpuk selama berbulan-bulan tanpa adanya pelampiasan akhirnya mencapai titik jenuh.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping papan ketik. Matanya tertuju pada folder 'Lainnya' yang sudah lama tidak ia buka. Di sudut dalam folder itu, ikon Arena of Fate tampak seperti sahabat lama yang terlupakan, berdebu namun tetap setia menunggu.
Naomy menekan ikon tersebut.
Layar ponselnya berkedip, meminta pembaruan aplikasi karena ia sudah terlalu lama absen. Sembari menunggu bilah unduhan berjalan, Naomy merasakan debaran jantung yang aneh di dadanya—sebuah debaran yang sudah lama hilang sejak ia disibukkan oleh rutinitas kerja yang monoton. Musik latar legendaris game itu kembali terdengar di telinganya, menyapu bersih semua kepenatan dan rasa suntuk yang menumpuk di kepalanya.
"Halo lagi, dunia piksel," bisik Naomy, senyum tipis akhirnya kembali terukir di wajahnya setelah berbulan-bulan yang suram.
Ia masuk ke dalam lobi permainan dengan akun lamanya, @Nao_mii. Semuanya terasa sangat familier sekaligus baru. Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhana untuk kembali menekan tombol 'Mulai' malam itu akan membawanya ke dalam sebuah takdir baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya—takdir yang menghubungkan dunia virtualnya dengan sosok dingin yang paling ia segani di dunia nyata.
Malam itu, di bawah temaram lampu kubikel kantor yang mulai sepi, Naomy kembali memulai perjalanannya di Arena of Fate. Jari-jarinya yang sudah beberapa bulan tidak menyentuh tombol virtual di layar awalnya terasa sedikit kaku. Namun, memori otot tidak pernah berbohong. Hanya butuh satu pertandingan pemanasan bagi akun @Nao_mii untuk kembali menemukan ritme permainannya yang mematikan.
Setelah memenangkan pertandingan pertama dengan hasil yang cukup memuaskan, Naomy memutuskan untuk masuk ke mode antrean solo (solo queue) sekali lagi sebelum pulang ke kosannya. Saat itulah takdir mempertemukannya dengan sebuah akun berpenampilan sederhana namun memiliki statistik kemenangan yang sangat impresif.
Nama penggunanya cukup unik dan acak: @Rrrrarrkyyy.
Di dalam permainan, @Rrrrarrkyyy menggunakan karakter pelindung (tank/initiator) yang bertugas membuka pertempuran dan melindungi lini belakang. Sebagai pengguna penembak jitu (marksman) yang tipis dan mudah mati, Naomy biasanya selalu merasa cemas jika bermain tanpa teman yang dikenal. Namun, malam itu, pemain asing ini menunjukkan kelas yang berbeda.
Setiap kali karakter Naomy terdesak oleh sergapan musuh, karakter milik @Rrrrarrkyyy selalu datang di waktu yang tepat. Ia memasang tameng besi virtualnya, menahan semua kerusakan dari lawan, dan memberikan ruang yang sangat aman bagi Naomy untuk menembaki musuh dari belakang hingga mereka rata dengan tanah. Kerja sama mereka di pertandingan itu sangat mulus, seolah-olah mereka sudah bermain bersama selama bertahun-tahun.
Layar ponsel Naomy berkedip menampilkan tulisan emas yang megah: VICTORY.
Kembali ke lobi, sebuah notifikasi merah muncul di pojok kanan atas layar Naomy.
[Rrrrarrkyyy mengirimkan permintaan pertemanan.]
Tanpa ragu, Naomy menekan tombol setuju. Detik berikutnya, sebuah pesan masuk di kotak obrolan game.
@Rrrrarrkyyy: Refleks lo bagus juga buat ukuran marksman solo. Mabar lagi?
Naomy tersenyum tipis di depan layar ponselnya. Rasa suntuk akibat revisi desain logo dari supervisornya mendadak menguap begitu saja.
@Nao_mii: Boleh. Tapi gue agak karatan ya, baru main lagi setelah absen beberapa bulan.
@Rrrrarrkyyy: Gak masalah. Gue yang pasang badan, lo tinggal tembak dari belakang aja.
Malam itu, mereka bermain hingga tiga pertandingan lagi, dan semuanya berakhir dengan kemenangan beruntun. Kombinasi permainan mereka sangat solid. Yang membuat Naomy merasa sangat nyaman adalah cara bermain @Rrrrarrkyyy yang tenang. Ia tidak pernah memaki atau menyalahkan rekan tim lain yang bermain buruk—sesuatu yang sangat jarang ditemui di komunitas game online yang sering kali beracun.
Sejak malam itu, rutinitas baru Naomy terbentuk. Setiap kali ia merasa penat dengan tumpukan revisi di Apex Creative, ia akan menyempatkan diri untuk membuka game pada malam hari. Dan hampir selalu, akun @Rrrrarrkyyy sudah berada di daftar teman yang sedang aktif, siap mengirimkan undangan untuk bermain bersama.
Hubungan mereka tidak lagi terbatas pada tombol "Mulai Game". Mereka mulai asyik berbalas pesan di fitur obrolan privat. Obrolan mereka awalnya hanya seputar strategi permainan, namun perlahan bergeser membahas keseharian, meski tetap menjaga batasan privasi masing-masing dengan ketat.
@Rrrrarrkyyy: Kerja di industri kreatif emang se-melelahkan itu ya? tanya cowok itu suatu malam setelah Naomy mengeluh lelah karena drafnya ditolak klien lagi.
@Nao_mii: Banget. Kadang pengen jadi batu aja rasanya. Klien maunya aneh-aneh. Lo sendiri kerja di bidang apa?
@Rrrrarrkyyy: Gue? Cuma buruh korporat biasa di perusahaan swasta. Monoton banget.
Naomy terkekeh membaca jawaban itu. Ia merasa senasib dengan teman virtualnya ini—sama-sama pekerja kantoran yang mencari pelarian di sela-sela tekanan hidup.
Suatu hari, saat mereka sedang berada di lobi permainan bersiap untuk pertandingan penting di mode peringkat tinggi, @Rrrrarrkyyy mengirimkan sebuah pesan yang membuat jantung Naomy berdetak sedikit lebih cepat.
@Rrrrarrkyyy: Ketik pesan pas main agak repot. Pake voice note di game aja, mau? Biar komunikasi kita lebih cepat pas war.
Naomy sempat ragu sejenak. Mendengar suara asli seseorang terasa seperti melangkah selangkah lebih dekat ke dunia nyata. Namun, demi kemenangan tim, ia akhirnya menyetujuinya.
"Tes, tes. Kedengaran gak?"
Sebuah rekaman suara pendek berdurasi tiga detik masuk ke ruang obrolan. Naomy menekan tombol putar. Suara yang keluar dari pelantang suara ponselnya terdengar sangat berat, bersih, berwibawa, namun memiliki nada yang santai. Itu adalah tipe suara pria dewasa yang sangat tenang—bukan tipe suara anak sekolahan atau remaja tanggung.
Naomy menekan tombol mikrofon di ponselnya, membalas dengan ragu-ragu. "Iya, kedengaran kok. Suara gue jelas juga, kan?"
"Jelas banget. Oke, Lunaria, bersiap di area tengah. Musuh mulai bergerak," balas suara bariton itu lagi melalui pesan suara berikutnya.
Ada sensasi aneh yang menggelitik dada Naomy mendengar suara itu langsung di telinganya. Sepanjang permainan, suara berat milik @Rrrrarrkyyy menuntun jalannya pertempuran dengan instruksi yang tenang namun tegas. Naomy merasa sangat terlindungi, baik secara virtual di dalam game maupun secara psikologis.
Meskipun mereka sudah mulai bertukar pesan suara dan mabar hampir setiap malam, ada satu kesepakatan tidak tertulis di antara mereka: mereka tidak ingin terburu-buru mengungkap identitas asli masing-masing. Mereka tidak pernah menanyakan nama asli, akun Instagram, nomor WhatsApp, atau bahkan bertukar foto wajah. Bagi mereka berdua, anonimitas ini adalah sebuah kemewahan. Di dunia di mana semua orang dituntut untuk memamerkan identitasnya di media sosial, hubungan tanpa wajah ini terasa seperti tempat perlindungan yang murni.
"Gue suka kayak gini," ucap Naomy dalam salah satu pesan suaranya sebelum tidur. "Kita gak perlu pura-pura jadi orang lain karena kita bahkan gak saling kenal di dunia nyata."
Di seberang sana, di dalam sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta, seorang pria muda berwajah tegas dengan garis rahang yang kokoh tersenyum tipis mendengar pesan suara dari Naomy. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kerja berbahan kulit premium, menatap layar ponselnya yang menampilkan profil akun @Nao_mii.
"Sama," bisik pria itu dengan suara baritonnya yang khas. "Gue juga suka kayak gini."
Pria itu adalah Raka. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis pemanah handal yang setiap malam menemaninya melupakan beban sebagai pimpinan perusahaan adalah salah satu staf desainer baru di kantornya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!