Indonesia
NovelToon NovelToon

Reaper Tak Terkalahkan

Penyesalan!!

Ponsel yang tergeletak di atas meja James tiba-tiba bergetar.

Ia melirik layarnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Kenan

James menyandarkan tubuhnya di kursi. "Sudah waktunya untuk membuat kesepakatan."

Jasmine yang sedang merapikan dokumen di dekatnya menoleh dengan penasaran.

James menekan tombol jawab sebelum menghubungkan panggilan itu ke pengeras suara kantor.

Panggilan langsung tersambung.

Kenan berbicara lebih dulu. "Keluarga Krause sedang berada di sambungan, mereka ingin berbicara denganmu."

James tersenyum. "Hubungkan."

Keheningan singkat menyelimuti sebelum suara lain bergabung ke dalam panggilan.

Suara seorang pria tua.

"Halo..."

James menjawab dengan sopan. "Halo, Tuan Krause."

Terjadi jeda singkat.

Lalu pria tua itu kembali berbicara. "Aku harus mengakui… Masih ada sedikit keraguan di hatiku. Bagaimana aku tahu bahwa kau benar-benar Light?"

James tersenyum pasrah. "Tuan Krause… Kau benar-benar membuat hatiku terluka. Dulu aku menerima peluru pertamaku demi menyelamatkanmu. Bukankah itu cukup untuk mendapatkan sedikit kepercayaan?"

Di seberang ruangan, Jasmine perlahan mengangkat kepalanya. ‘Peluru? Demi menyelamatkan kepala Keluarga Krause?’

Pria tua itu tertawa pelan. "Yah… Sudah sebelas tahun berlalu. Kau sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Aku bahkan belum pernah melihat wajahmu yang sebenarnya. Jadi maafkan orang tua ini karena bersikap hati-hati."

James mengangguk. "Itu alasan yang masuk akal. Tapi… Apa kau belum menyadari sesuatu?"

Pria tua itu terkekeh. "Light. Sang Ahli Strategi Jenius. Kau menghilang selama sebelas tahun, kau tidak pernah menghadiri konklaf itu lagi. Aku sangat yakin… Kau sama sekali tidak tertarik pada undangannya. Yang kau inginkan hanyalah percakapan ini. Kau membuatku meneleponmu."

Tawanya terdengar penuh kekaguman.

"Jadi katakan padaku… Apa yang dibutuhkan Light dari Keluarga Krause?"

James tak kuasa menahan senyumnya. "Kau memang masih setajam dulu, Tuan Krause. Aku sempat berpikir mungkin usia telah memperlambatmu. Tapi setelah mendengar kau berbicara… Rasanya kau justru semakin muda."

Pria tua itu kembali tertawa.

James melanjutkan. "Karena kau sudah mengetahui maksudku… Bagaimana kalau menebak satu hal lagi? Menurutmu, kenapa sebenarnya aku menginginkan panggilan ini?"

Jari-jari pria tua itu mengetuk pelan sandaran kursinya. "Hanya ada satu alasan. Ada sesuatu… Yang hanya bisa kulakukan untukmu."

James tersenyum. "Kalau begitu katakan. Apa yang kau inginkan untuk membuat sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang sangat besar."

Keheningan memenuhi sambungan selama beberapa detik.

Akhirnya, pria tua itu berbicara. "Sebuah kesepakatan… Kalau kau bertanya apa yang kuinginkan… Aku sudah berutang nyawa kepadamu."

Jasmine diam-diam menatap James. Ia belum pernah mendengar kisah ini sebelumnya.

Suara pria tua itu menjadi lebih lembut.

"Dulu… Aku tidak pernah membayangkan seorang anak kecil akan melindungiku. Itu benar-benar di luar dugaan. Aku masih mengingat semuanya. Peluru itu mengenai bahumu, kau bahkan tidak menangis, tidak ada sedikitpun rasa sakit di matamu. Hanya ketenangan.

Saat itulah… Aku menyadari bahwa kau bukan sekadar ahli strategi yang brilian. Kau ditakdirkan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Kau mengabaikan lukamu sendiri. Lalu… Kau mengambil sebilah pisau. Kau melangkah maju dan langsung menusukkannya ke tenggorokan penembak itu."

Ruangan itu langsung dipenuhi keheningan.

Bahkan Jasmine tanpa sadar menahan napas.

Pria tua itu melanjutkan. "Dan pria itu… Bukanlah pembunuh bayaran biasa. Dia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia bawah, namun kau tidak ragu sedikit pun."

James tersenyum tipis. "Tuan Krause… Apakah kau merindukanku? Kau masih mengingat setiap detail kecil."

Pria tua itu tertawa hangat. "Melupakanmu? Bagaimana mungkin? Aku belum pernah melihat niat membunuh yang begitu mengerikan dari seorang anak. Aku sering bertanya-tanya… Kehidupan seperti apa yang telah kau jalani… Hingga bisa menjadi sekuat itu di usia semuda itu."

James memandang ke luar melalui jendela kantornya.

"Aku punya alasanku."

Pria tua itu menghela napas.

"Setelah konklaf itu… Aku mencarimu ke mana-mana. Aku bahkan menanyai keluarga angkatmu. Mereka semua mengatakan hal yang sama. Bahwa kau telah menghilang. Sebagian mengira kau sudah tiada. Tapi… Aku menolak mempercayainya. Orang sepertimu tidak mungkin mati semudah itu."

"Kalau kau bertanya dengan jujur… Aku tidak pernah berharap kau kembali ke dunia yang berbahaya ini. Namun… Diam-diam aku berharap suatu hari bisa bertemu denganmu lagi.

Itulah sebabnya setiap tahun… Aku selalu menyimpan kursimu. Aku selalu menyiapkan sebuah undangan. Mungkin undangan itu tidak berarti apa-apa bagimu. Tapi bagiku… Percakapan ini… Adalah sesuatu yang telah kutunggu selama sebelas tahun."

Untuk pertama kalinya, raut terkejut muncul di wajah James. "Aku tidak pernah menyadari bahwa aku sepenting itu bagimu, Tuan Krause."

Pria tua itu tertawa kecil dengan pasrah. "Orang-orang menganggapku sebagai pria tua yang jahat. Mungkin mereka tidak sepenuhnya salah. Keluargaku telah menghabiskan waktu berabad-abad berurusan dengan segala macam orang. Pahlawan. Penjahat. Tentara bayaran. Raja. Kriminal. Pada akhirnya..." Semuanya selalu tentang bisnis."

James tersenyum tipis. "Setetes racun… Bisa membunuh semua ikan di dalam sebuah akuarium. Dan satu tetes itu… Cukup untuk membuat seluruh airnya menjadi beracun. Jadi ya… Itu tetap membuatmu menjadi orang jahat."

Sesaat… Keheningan menyelimuti.

Lalu pria tua itu tertawa lepas.

"Kurasa… Kau benar sekali." Nada suaranya perlahan menjadi lebih lembut. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku hari ini, Nak. Jadi… Ceritakan pada orang tua ini. Apa yang bisa dilakukan Keluarga Krause untukmu?"

James menyandarkan tubuhnya di kursi. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya berbicara.

"Aku akan langsung ke intinya, Tuan Krause. Aku mendengar bahwa peta harta karun Antoni Kawasaki telah muncul kembali. Aku ingin tahu siapa yang akan membawa peta itu ke konklaf."

Di seberang sambungan, pria tua itu terdiam selama beberapa detik.

"Jadi… Kau sudah mendengarnya." Nada suaranya mengandung sedikit rasa penasaran. "Aku selalu mengira kau adalah tipe orang yang tidak tertarik pada harta karun."

James tersenyum tipis. "Harta karunnya sendiri tidak berarti bagiku. Aku menginginkan orang yang membawa petanya. Dan aku ingin tahu kenapa Keluarga Krause mendukungnya."

Pria tua itu langsung mengoreksi. "Mendukung? Kenapa kami harus mendukung siapa pun? Itu akan melanggar prinsip keluarga kami. Konklaf hanyalah sebuah pasar. Orang-orang membawa barang berharga. Yang lain bersaing untuk mendapatkannya. Hanya itu."

Senyum James perlahan menghilang. "Aku sudah menduganya. Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam keluargamu sendiri."

Keheningan singkat kembali menyelimuti.

"Jadi… Aku juga harus berasumsi bahwa kau tidak tahu kalau keluargamu sedang mendukung Miller Corporation."

Napas pria tua itu tampak terhenti sejenak. "...Apa kau baru saja mengatakan… Miller Corporation?"

Keheningan panjang kembali memenuhi sambungan.

Lalu… Pria tua itu menghela napas pelan.

"Aku tahu siapa yang bertanggung jawab."

James menggeleng pelan. "Sepertinya aku terlalu cepat memujimu. Aku bilang kau semakin muda. Tapi sesuatu sepenting ini terjadi di bawah atap rumahmu sendiri… Dan kau bahkan tidak mengetahuinya."

Pria tua itu tertawa pahit. "Sepertinya… Cucuku yang keras kepala telah membuatmu tersinggung. Aku meminta maaf atas namanya. Dia sama sekali tidak tahu dengan siapa dia sedang bermain."

James mengangkat sebelah alis. "Cucumu?"

"Ya." Suara pria tua itu menjadi lebih lembut. "Dia kehilangan kedua orang tuanya saat usianya masih sangat muda. Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa semua yang kulakukan adalah demi masa depan keluarga. Tapi aku gagal meluangkan cukup waktu untuknya. Aku tidak pernah membayangkan dia akan tumbuh menjadi sekeras kepala ini."

James mendengarkan dengan tenang.

"Kedengarannya kau sudah memikul beban yang cukup berat."

Pria tua itu menjawab perlahan. "Tenang saja, Light. Miller Corporation sudah dilarang menghadiri konklaf sejak bertahun-tahun lalu. Dan mulai saat ini… Mereka tidak akan lagi menerima dukungan dari anggota mana pun di Keluarga Krause. Mengenai peta harta karun itu… Memang akan ada seseorang yang membawanya ke konklaf. Tapi sesuai aturan keluarga kami… Aku tidak bisa mengungkapkan identitas orang itu. Setidaknya sampai konklaf berakhir."

James tersenyum.

"Kurasa kau tidak memahami maksudku, Tuan Krause. Kalaupun kau menolak memberitahuku… Aku punya banyak cara untuk menemukan jawabannya sendiri. Aku tahu kau akan melindungi orang itu selama konklaf." Nada suaranya berubah jauh lebih dingin. "Tapi apakah kau benar-benar yakin… Orang itu… Akan sempat tiba di konklaf?"

Pria tua itu kembali menghela napas pelan. "Aku tahu kata-kata itu terdengar mengecewakan terutama karena aku masih berutang begitu banyak kepadamu. Tapi aturan tetaplah aturan, aku tidak bisa melanggarnya."

James memandang hujan di luar jendela kantornya.

"Aku tidak tahu apakah kau menyadarinya atau tidak… Tapi pengaruh Keluarga Krause sudah mulai melemah. Sebelas tahun yang lalu… Salah satu tamumu sendiri mencoba membunuhmu. Kalau saat itu aku tidak berada di sana… Keluarga Krause mungkin sudah mulai runtuh sejak hari itu. Selama sebelas tahun terakhir… Konklaf tetap berlangsung hanya karena satu alasan, kau selamat."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi apa yang akan terjadi ketika waktu akhirnya merenggut nyawamu? Apakah aturan keluargamu akan mampu melindungi keturunanmu?"

"Tidak."

"Aturan itu tidak bisa menghentikan kemunduran."

Suara pria tua itu tidak mengandung kemarahan ataupun penolakan.

Sebaliknya… Ada penerimaan.

"Aku tidak menganggap kata-katamu sebagai penghinaan. Itu datang dari seseorang yang penilaiannya sangat kuhormati. Jadi aku mempercayainya." Ia melanjutkan dengan perlahan. "Mungkin… Inilah hukum setiap hutan. Sebuah keluarga berkuasa selama beberapa generasi, mereka menjadi kuat lalu menjadi sombong dan pada akhirnya… Mereka menjadi arsitek kehancuran mereka sendiri."

"Kami telah menyaksikan tak terhitung banyaknya kekaisaran lenyap dengan cara seperti itu. Itu membuatku sedih. Tapi aku sudah menerimanya, masalah yang melibatkan Miller Corporation memang merupakan kesalahan kami. Dan kami akan memperbaikinya. Aku berjanji."

Ia tersenyum tipis. "Aku masih berutang nyawa kepadamu. Tapi selama aku masih menjadi kepala keluarga ini… Aku akan mematuhi aturan keluarga hingga hari terakhirku."

James terkekeh. "Aku memang mengharapkan jawaban seperti itu. Kalau begitu bersiaplah, Tuan Krause. Light akan menghadiri konklaf tahun ini."

Ia tersenyum. "Tapi… Peta harta karun itu… Tidak akan pernah muncul di dalam konklafmu."

Tawa pelan terdengar dari seberang.

"Apa pun yang terjadi di luar konklaf… Itu bukan lagi urusanku, tapi sebagai tuan rumah… Aku akan dengan senang hati menyambutmu." Suaranya menjadi lebih lirih. "Mengingat usiaku… Aku punya firasat… Ini mungkin akan menjadi konklaf terakhir yang pernah diselenggarakan oleh Keluarga Krause."

James mengangguk pelan. "Kalau begitu… Aku akan memastikan diriku hadir."

Pria tua itu tersenyum hangat.

"Jangan putus hubungan, Anak Muda. Aku ingin memperkenalkanmu kepada cucuku suatu hari nanti. Mungkin… Dia akan membutuhkan teman yang bisa dipercaya jika ingin bertahan menghadapi apa yang akan datang.

Undanganmu akan dikirim melalui Kenan. Dan mintalah nomor kontak pribadiku darinya. Aku lebih suka berbicara langsung denganmu mulai sekarang."

James terdiam sesaat sebelum bertanya. "Apakah kau memiliki penyesalan?"

Jawaban pria tua itu datang hampir seketika. "Anak-anakku. Aku tidak mampu melindungi mereka. Mereka meninggalkan dunia ini lebih dulu dariku. Jadi jika kau memiliki keluarga, Light… Lindungilah mereka dengan segala cara."

James tersenyum lembut. "Senang bisa berbicara denganmu, Tuan Krause. Kita akan bertemu lagi di Germania."

Pria tua itu mengembuskan napas lega. "Aku akan menunggumu. Jaga dirimu, Light."

Sambungan dari Germania pun terputus.

Hanya Kenan yang masih berada di sambungan.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya…

James berbicara. "Kau masih di sana, Kenan?"

Kenan tertawa pasrah. "Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Apa kau benar-benar baru saja mengancam kepala Keluarga Krause?"

James tersenyum. "Apa kau lupa siapa diriku?"

Kenan tertawa semakin keras. "Yah… Kalau itu Reaper dari The Veil… Sejujurnya… Aku sudah tidak terkejut lagi. Sampai jumpa di Germania."

Panggilan itu pun berakhir.

Keheningan kembali menyelimuti kantor.

James perlahan berdiri lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke Crescent Bay.

Awan gelap masih terus berkumpul di atas kota.

Di belakangnya, Jasmine memecah keheningan. "Kurasa… Dia tampak seperti orang yang baik."

James tersenyum tanpa menoleh. "Benarkah? Menurutku… Usia hanya membuatnya tidak sejahat dulu, tapi itu tidak menghapus darah yang pernah tertumpah."

Ia tetap memandang ke luar.

"Coba katakan sesuatu padaku, Jasmine. Kalau aku tidak pernah pensiun. Kalau aku tidak pernah menemukan keluargaku lagi. Kalau aku terus hidup hanya sebagai Reaper… Menurutmu… Apakah aku akan menua… Dan mati sendirian seperti dirinya?"

Jasmine menatap punggungnya selama beberapa detik sebelum menjawab dengan penuh keyakinan.

"Itu sudah tidak penting lagi, Bos. Kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Dan menurutku… kau tidak seharusnya hidup dengan penyesalan."

Senyum damai perlahan muncul di wajah James. "Kau benar.”

Kakak Ipar

Hujan turun tanpa henti di atas Crescent Bay.

Beberapa menit kemudian, mobil James memasuki area parkir bawah tanah Pearl Villa.

Ia keluar dari mobil, mengambil mantelnya, lalu berjalan menuju tangga pribadi yang menghubungkan garasi bawah tanah langsung ke vila.

Begitu membuka pintu di lantai atas, kehangatan langsung menyambutnya.

Aroma keju leleh yang kaya bercampur dengan aroma makanan yang baru saja digoreng memenuhi rumah.

Saat melangkah ke ruang tamu, tawa ceria menggema di seluruh vila.

Ia mengangkat kepalanya, langkahnya terhenti. "Celine?"

Celine langsung berbalik, matanya melebar karena terkejut. "Ka... kapan kau datang?"

James tersenyum hangat. "Baru saja."

Tatapannya berpindah antara Celine dan kedua anak kembar itu.

"Jadi… Benar-benar kejutan, aku tidak tahu kau ada di sini."

Celine tersenyum malu sambil menyelipkan sehelai rambut yang terlepas ke belakang telinganya.

"Yah… Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku yang tertunda. Aku mulai merasa sangat bosan. Aku sempat berpikir untuk meneleponmu… Tapi kemudian aku ingat kau mungkin sedang sibuk." Ia menoleh ke arah dapur. "Lalu Mama meneleponku. Dia mengatakan sedang membuat cemilan musim monsun. Dan karena ini adalah hujan terakhir di musim ini… Aku benar-benar tidak boleh melewatkannya."

James tertawa pelan. "Itu memang terdengar seperti Mama."

Sebelum ia sempat berjalan lebih jauh… Chloe tiba-tiba melipat kedua tangan mungilnya.

"Felix… Kurasa Kakak sudah melupakan kita."

Felix mengangguk dengan dramatis. "Kau benar. Dia bahkan tidak berbicara kepada kita seperti dulu."

Celine tidak bisa menahan tawanya.

"Kakak… Kau jahat sekali."

James berkedip. "Heh, kalian berdua. Kapan aku berhenti berbicara dengan kalian?"

Felix langsung tertawa. "Kakak, akui saja. Kak Celine sudah menceritakan semuanya tentangmu kepada kami."

Chloe langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tawa.

James menatap Celine. "Kau sudah membentuk aliansi?"

Celine memalingkan wajah dengan polos. "Aku tidak mengatakan apa-apa… Aku hanya menjawab beberapa pertanyaan."

Chloe mengangguk dengan bangga. "Tepat sekali. Felix dan aku melakukan penyelidikan."

James menutup dahinya dengan sebelah tangan. "Jadi itu yang terjadi, aku telah meremehkan kalian berdua."

Ia menatap kedua anak kembar itu dengan kekecewaan yang dibuat-buat.

"Kalian berdua tumbuh jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan. Di mana prajurit-prajurit kecilku?"

Felix dengan bangga melipat kedua tangannya di belakang punggung. "Aku sudah menjadi letnan sekarang."

James membelalakkan matanya dengan dramatis. "Apa? Kau dipromosikan?"

Ia menoleh ke arah Chloe. "Bagaimana dengan adik kecilku?"

Chloe mengangkat dagunya dengan bangga.

"Hmph. Kak Celine adalah yang terbaik."

Bahu James perlahan merosot. "Hati Kakak hancur."

Tawa Julian menggema di seluruh ruangan. "Baiklah, berhenti menggoda kakak kalian."

Felix menyeringai. "Kami hanya bercanda, kakak tetap yang terbaik."

Sebelum James sempat menjawab… Chloe berlari melintasi ruangan. Ia langsung melompat ke arahnya.

James menangkapnya dengan mudah lalu mengangkatnya ke dalam pelukannya.

Chloe terkikik sambil melingkarkan kedua tangannya di leher James.

James mencubit pipinya dengan lembut. "Dasar pembuat masalah."

Ia menatap kedua anak kembar itu sebelum bertanya,

"Katakan sejujurnya. Apakah kalian benar-benar ingin Celine tinggal bersama kita?"

Chloe menjawab tanpa berpikir sedikit pun. "Ya, sangat ingin."

Felix mengangguk berkali-kali.

"Tolong."

James menoleh ke arah Celine.

Wajahnya sudah memerah.

"Felix?"

Anak laki-laki kecil itu menyatukan kedua tangannya dengan dramatis. "Tolong, Kakak. Segera nikahi dia."

Julian tertawa begitu keras hingga hampir bersandar ke sofa.

James kembali menatap Celine. "Kau dengar itu?"

Celine menyembunyikan separuh wajahnya di balik rambutnya sebelum berbicara. "Aku… Aku juga sudah tidak sabar untuk pindah ke sini."

Chloe langsung melompat turun dari pelukan James dan bergegas menghampiri Celine.

Dia meraih tangan Celine dengan penuh semangat.

"Kak Celine… Apakah sekarang aku boleh memanggilmu Kakak Ipar?"

Pipi Celine langsung memerah, dia dengan lembut mengacak rambut Chloe. "Kau boleh memanggilku apa pun yang kau mau."

Felix langsung menyela. "Kakak Ipar terlalu panjang, aku akan memanggilmu Kakak saja."

Celine tersenyum cerah. "Aku suka itu."

James diam-diam memperhatikan mereka bertiga. Hatinya terasa hangat dengan cara yang aneh.

Matanya perlahan beralih ke arah Julian. Baru saat itulah dia menyadari tepung yang menutupi celemek Julian.

Entah bagaimana, bubuk putih itu juga menempel di lengan, bahu, bahkan rambutnya.

James berkedip. "Ayah… Ada apa dengan celemek berantakan itu?"

Julian menunduk sebelum menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung. "Oh… Yang ini? Aku sedang membantu Mamamu memasak. Tapi… Aku tidak sengaja menjatuhkan seluruh wadah tepung. Jadi… Dia dengan baik hati mengantarku keluar dari dapur."

James menatapnya. "Ayah diusir?"

Julian menghela napas dengan dramatis. "Aku tidak dihargai."

Dari suatu tempat di dalam dapur, suara Sophie langsung menjawab, "Aku masih bisa mendengarmu. Kau dilarang masuk sampai makan malam siap."

Semua orang langsung tertawa.

Felix mengendus udara dengan dramatis. "Aku bisa mencium aroma sayap ayam."

Chloe memejamkan matanya. "Aku mencium aroma kentang goreng."

Dia tiba-tiba terkejut.

"Dan sesuatu yang sangat cheesy. Mama sedang membuat sesuatu yang enak."

James tersenyum. "Aku sudah tidak sabar."

Celine menoleh ke arah pintu masuk dapur. "Ayo, kita bantu Mama."

Chloe langsung meraih tangan Celine. "Ayo!"

Kedua gadis itu bergegas menuju dapur bersama.

Suara ceria Chloe segera menghilang ke dalam dapur.

"Felix! Cepat!"

Felix berlari mengejar mereka. "Aku datang."

Tawa mereka bergema di seluruh vila.

James melepas jaketnya dan melipatnya di atas sandaran kursi yang berada di dekatnya.

Julian berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.

Selama beberapa detik… Ayah dan anak itu hanya menatap dapur.

Julian tersenyum pelan. "Rumah ini akan menjadi semakin ramai. Kau akan memiliki istri yang luar biasa. Dan suatu hari nanti… Kau akan membangun keluarga sendiri."

James menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ayah… Kita jalani saja semuanya selangkah demi selangkah."

Julian mengangguk. "Tentu saja, aku belum cukup tua untuk menjadi Kakek."

Dia berhenti sejenak sebelum menyeringai. "Meskipun… jika Dion memiliki anak lebih dulu… Aku mungkin akan kalah dalam perlombaan."

James tertawa. "Aku hanya berharap anak-anaknya tidak mewarisi kepribadiannya."

Julian tertawa lebih keras. "Oh, mereka pasti akan mewarisi sesuatu. Dan Flora akan sangat kerepotan."

Kedua pria itu terus tertawa bersama.

Tengah malam.

Kediaman Miller berdiri dalam keheningan di bawah langit Crescent Bay yang dilanda badai.

Hujan menghantam jendela-jendela kaca tinggi tanpa henti, sementara kilatan petir menerangi kediaman itu selama beberapa saat sebelum kegelapan kembali menelan semuanya.

Di dalam ruang kerja yang mewah, hanya sebuah lampu meja redup yang masih menyala.

Beberapa botol minuman keras mahal berserakan di atas meja.

Orville Miller, yang kini telah berusia akhir lima puluhan, duduk sendirian dengan segelas minuman di tangannya, wajahnya dipenuhi frustrasi.

Ponselnya tidak berhenti berdering sepanjang malam.

Para investor menarik diri.

Para mitra memutuskan hubungan.

Bahkan sekutu-sekutu lama yang telah berdiri bersamanya selama bertahun-tahun tiba-tiba sulit dihubungi.

Dia membanting gelasnya ke atas meja.

"Beraninya mereka melawanku, mereka tidak tahu siapa aku. Aku mendapat dukungan dari keluarga-keluarga berkuasa. Jadi bagaimana jika beberapa orang pergi? Aku akan membuat mereka semua menyesal. Mereka semua akan merangkak kembali kepadaku."

"Benarkah?"

Sebuah suara tenang terdengar di dalam ruangan.

Suara itu berasal dari arah jendela.

Orville membeku.

Sebelum dia sempat bereaksi… Sambaran guntur yang memekakkan telinga meledak di langit.

Lampu-lampu langsung padam.

Seluruh kediaman tenggelam dalam kegelapan.

Napas Orville menjadi tidak teratur. "Siapa… Siapa di sana?”

Dia langsung berdiri.

Naluri mengambil alih saat dia bergegas menuju meja nakas tempat pistolnya disembunyikan.

Tepat saat jari-jarinya hampir meraihnya… Sebuah dorongan kuat menghantam bahunya.

Tubuhnya terhuyung mundur.

Sebuah suara dingin terdengar di sampingnya.

"Jangan repot-repot, tidak ada seorangpun yang bisa membantumu. Tim keamananmu sudah tidak sadarkan diri. Tidak akan ada yang datang."

Orville terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menjaga keseimbangannya. Jantungnya berdebar keras di dalam dada.

Suara lain terdengar dari sisi berlawanan ruangan.

"Oh, sudah mulai takut?"

Orville perlahan berbalik.

Tepat pada saat itu… Kilatan petir yang terang membelah langit malam.

Selama satu detak jantung… Seluruh ruangan menjadi terang.

Pupil matanya mengecil.

Sosok bertudung duduk santai di ambang jendela yang lebar. Satu kakinya bertumpu di atas kaki lainnya.

Suara Orville bergetar. "S... siapa kau?"

Pria bertudung itu perlahan turun dari jendela.

"Orville tua, apa kau ingin kehilangan kumismu lagi?"

Seluruh tubuh Orville menegang. Matanya melebar karena ngeri.

Kalimat itu… Hanya ada satu orang yang… pernah mengatakan itu.

Bibirnya bergetar tanpa terkendali. "R… Re… Reaper..."

Pria bertudung itu tersenyum samar di balik bayangan. "Kau masih mengingatku, itu akan mempermudah semuanya."

Orville tanpa sadar melangkah mundur, kedua kakinya sudah mulai gemetar. "A… Apa yang kau inginkan?"

Reaper berhenti hanya beberapa kaki di depannya. "Nyawamu."

Orville hampir roboh. "T… Tidak… Jangan mendekat. Aku… Aku mendapat dukungan dari Nona muda keluarga Krause. Apakah The Veil ingin kehilangan tempatnya di Konklaf?"

Reaper menatapnya tanpa perubahan sedikitpun dalam ekspresinya.

"Kau pikir The Veil takut pada keluarga Krause?" Dia kembali melangkah maju dengan perlahan. "Kau pikir mereka bisa melindungimu?"

Dia melirik ke sekeliling kediaman yang sunyi.

"Lalu di mana mereka?" Reaper tersenyum. "Mari kita lihat siapa yang akan mencapaimu lebih dulu. Pisauku… Atau keluarga Krause."

Napas Orville menjadi semakin berat.

"J... jangan mendekat..."

Sebelum dia sempat mundur selangkah lagi...

Sebuah suara terdengar tepat di belakangnya.

"Pemimpin, apakah ini orang yang selama ini mengganggumu? Sepertinya dia sudah mengompol di celana."

Seluruh tubuh Orville membeku, lehernya berbalik dengan kaku.

Ren berdiri di belakangnya.

Tanpa dia sadari, Ren sudah memblokir satu-satunya jalan keluar.

Reaper perlahan terus berjalan mendekati mereka.

Ren menatap Orville dengan kekecewaan yang terlihat jelas.

"Pemimpin, biarkan aku yang mengurusnya. Tidak perlu mengotori tanganmu."

Keberanian terakhir Orville lenyap.

Dia roboh ke lantai, kedua tangannya dirapatkan saat dia menatap ke atas dengan putus asa.

"Tolong… Jangan bunuh aku. Aku bisa melakukan apa saja. Aku memiliki informasi berharga. Aku tahu banyak rahasia. Aku akan memberitahukan semuanya."

Reaper tetap diam.

Orville buru-buru melanjutkan. "Ada… Ada sesuatu yang besar yang akan segera terjadi. The WEB… The WEB sedang mempersiapkan sesuatu yang besar."

Mata Reaper sedikit menyipit. "The WEB?"

Senyum samar muncul di wajahnya. "Sekarang kau berhasil menarik minatku."

Dia melirik ke arah jam antik yang tergantung di dinding.

Reaper melihat ke arah Ren. "Ren."

Ren langsung berdiri tegak. "Ya, Pemimpin."

"Peras setiap rahasia dari otaknya, semuanya dan pastikan ada buktinya."

Ren mengangguk. "Dimengerti."

Reaper melanjutkan. "Dan pastikan keluarga Walker mendapatkan kembali kebun anggur mereka."

Senyum Ren perlahan melebar. "Jangan khawatir, Pemimpin. Aku akan menguras semua informasi darinya."

Reaper berbalik menuju jendela.

Satu kalimat terakhir keluar dari bibirnya.

"Dan jangan bunuh dia, biarkan dia tetap hidup."

Ren berkedip. Selama sesaat, kebingungan melintas di wajahnya.

"Aku mengerti, Pemimpin."

Tak Menyangka!!

Minggu pagi.

James kembali setelah menyelesaikan latihan paginya.

Lapisan tipis keringat membasahi dahinya, sementara sebuah handuk melingkar di lehernya.

Saat mendekati pintu masuk utama, suara mesin mobil menarik perhatiannya.

Dia menoleh tepat pada waktunya untuk melihat sebuah sedan hitam melaju pergi melewati gerbang depan.

"Hm?"

James melirik ke arah pos keamanan sebelum berjalan mendekat.

Penjaga itu segera menegakkan tubuhnya.

"Selamat pagi, Bos."

James tersenyum. "Selamat pagi, Sid. Bagaimana kabarmu?"

Sid tersenyum percaya diri. "Semua baik-baik saja, Tuan."

James mengangguk sebelum melihat ke arah kendaraan yang pergi. "Siapa yang ada di dalam mobil itu?"

"Seseorang dari Soul Tower, Tuan. Dia mengantarkan sebuah paket untukmu."

"Paket?"

"Ya, Tuan. Kami sudah menyelesaikan pemeriksaan keamanan secara menyeluruh. Paket itu sudah dipindai dan diperiksa dengan teliti. Tidak ditemukan sesuatu yang berbahaya."

James terkekeh. "Aku tidak meragukanmu, Sid. Jadi, di mana paket itu sekarang?"

"Baru saja dibawa masuk. Aku tetap di sini untuk memverifikasi identitas pengemudinya untuk catatan kami. "Maaf karena memakan waktu sedikit lebih lama."

James menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, kau hanya sedang melakukan pekerjaanmu. Semoga harimu menyenangkan."

Sid membungkuk dengan hormat. "Terima kasih, Bos."

"Kau juga."

Dia kembali ke posnya sementara James melanjutkan langkah menuju vila. "Jadi… Topengnya sudah tiba. Happy benar-benar bekerja dengan cepat."

Senyum muncul di wajahnya. "Aku harus berterima kasih kepadanya nanti."

Begitu dia melangkah masuk… Sosok kecil yang masih mengantuk perlahan berjalan ke arahnya.

Chloe mengusap salah satu matanya. "Kakak..."

James langsung tersenyum. "Selamat pagi, Tukang Tidur."

Chloe melihat ke belakangnya. "Di mana Kak Celine?"

James dengan lembut mengacak-acak rambutnya yang berantakan.

"Hari ini hari Minggu. Dia harus pergi ke kantor pagi-pagi."

"Jadi, dia sudah pergi." Chloe mengerucutkan bibirnya. "Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal."

James sedikit berlutut agar sejajar dengan tingginya. "Bagaimana kalau sore ini kita melakukan panggilan video dengannya?"

Wajah Chloe yang mengantuk langsung menjadi cerah. "Oke."

James tersenyum. "Sepakat."

Chloe menatapnya selama beberapa detik sebelum mengernyitkan hidung kecilnya. "Kakak."

"Ya?"

Dia menunjuk James dengan sangat serius.

"Mandi dulu."

James berkedip, kemudian dia melihat ke bawah, memandangi dirinya sendiri.

"...Ups." Dia tertawa canggung. "Maaf."

Tanpa berkata apa-apa lagi… Dia buru-buru naik ke lantai atas.

Sementara itu...

Di kediaman keluarga Walker.

Pagi yang damai terganggu oleh suara bel pintu depan.

Grace dengan riang berjalan cepat menuju pintu masuk sebelum membukanya.

"Kau..."

Kalimatnya terhenti di tengah jalan.

Seorang pria tua yang kelelahan berdiri di luar. Jas mahalnya kusut. Lingkaran hitam mengelilingi matanya. Wajahnya terlihat pucat.

Pria itu menundukkan kepalanya. "Aku… Aku Orville Miller."

Mata Grace membelalak, dia segera menoleh ke arah tangga. "Ayah!"

Langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Tuan Walker turun sebelum berhenti di dekat pintu masuk. "Ada apa, Grace?"

Kemudian dia menyadari keberadaan tamu itu, ekspresinya langsung menjadi dingin. "Grace, pergilah ke kamarmu."

Grace mengangguk patuh. "Baik, Ayah."

Dia naik ke lantai atas.

Tuan Walker menatap Orville secara langsung. "Beraninya kau datang ke rumahku, Miller?"

Sebelum kata-kata lain sempat diucapkan… Orville tiba-tiba berlutut dengan kedua lututnya dengan seluruh tubuhnya gemetar.

"Tuan Walker… Aku… Aku datang untuk meminta maaf. Tolong maafkan aku."

Tuan Walker membeku.

Selama beberapa detik… Dia hanya menatap pria itu.

Dia hampir tidak bisa mempercayai matanya sendiri.

Orville menundukkan kepalanya lebih dalam lagi. "Aku salah, aku meminta maaf atas semuanya. Atas setiap dosa yang telah kulakukan terhadap keluargamu."

Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan sebuah map tebal.

"Tolong… Ambillah ini. Kebun anggur itu… Itu milik keluargamu."

Dia meletakkan map tersebut di tanah.

Tuan Walker perlahan mengambilnya. Matanya bergerak menyusuri dokumen-dokumen tersebut.

Semuanya lengkap.

Kebun anggur itu telah dikembalikan tanpa satu pun pembayaran.

Sebelum Tuan Walker bahkan sempat berbicara… Orville buru-buru berdiri.

"Aku sudah menyerahkan semuanya, tolong maafkan aku."

Dia berbalik dan hampir berlari menuju mobilnya yang telah menunggu.

Dalam hitungan detik… Kendaraan itu menghilang di ujung jalan.

Tuan Walker tetap berdiri dalam diam, masih memegang dokumen-dokumen tersebut.

"Apa sebenarnya...yang sedang terjadi?"

Sebuah kepala kecil perlahan mengintip dari balik tangga.

Grace dengan hati-hati berjalan kembali ke lorong. "Dia sudah pergi?"

Tuan Walker menatapnya. "Tadi kau mengintip?"

Grace langsung tersenyum canggung, dia menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Ayah… Aku hanya sedikit penasaran." Kemudian matanya tertuju pada map tersebut. "Ini kabar baik... kan?"

Tuan Walker kembali melihat dokumen-dokumen itu. Suaranya masih dipenuhi ketidakpercayaan. "Dokumen ini asli, ini adalah dokumen pengalihan resmi. Kebun anggur itu kembali menjadi milik kita."

Mata Grace berbinar. "Miller mengembalikannya… Secara cuma-cuma."

Tuan Walker perlahan mengangguk. "...Ya."

Tepat pada saat itu… Sebuah mobil lain berhenti di luar.

Pintu depan kembali terbuka.

Joshua buru-buru masuk.

"Ayah! Aku dengar Miller datang ke sini!"

Grace dengan bersemangat berlari ke arahnya. "Kakak! Seperti yang James janjikan, dia mengembalikan semuanya. Dia bahkan berlutut di hadapan Ayah dan meminta maaf."

Joshua menghentikan langkahnya. "...Benarkah?"

Tuan Walker perlahan mengangkat dokumen-dokumen tersebut. "Semuanya ada di sini."

Joshua perlahan tersenyum. "James..."

Tuan Walker menoleh ke arahnya. "James?"

Grace dengan bangga menjawab sebelum Joshua sempat berbicara. "Ketua Brook Enterprises, James Brook."

Mata Tuan Walker sedikit melebar. "Maksudmu… Pria yang sama yang menyelamatkan kota kita saat serangan teroris?"

Joshua mengangguk. "Ya, itu dia. Dia benar-benar pria yang luar biasa."

Tuan Walker melihat antara putra dan putrinya. "Bagaimana kalian berdua bisa mengenal seseorang seperti dia?"

Grace tersenyum bangga. "Dia temanku, kami teman sekelas di universitas."

Alis Tuan Walker terangkat. "Apa? Dia seumuran dengan kalian?"

Joshua tersenyum tak berdaya. "Aku sendiri hampir tidak bisa mempercayainya. Dia berkata..."

Sebelum Joshua sempat menyelesaikan kalimatnya… Tuan Walker menatap Grace.

"Tolong, hubungi Tuan Brook. Aku ingin berterima kasih kepadanya secara langsung."

Grace langsung mengangguk. "Baik, Ayah."

Dia mengeluarkan ponselnya mencari kontak James, lalu menekan tombol panggilan.

Paula berjalan ke ruang tamu sambil membawa ponsel James.

"Bos. Ponselmu berdering."

James sedang duduk dengan nyaman di sofa di samping Julian. Televisi menayangkan berita pagi, meskipun tidak satu pun dari mereka yang benar-benar memperhatikannya.

James menoleh. "Siapa?"

Paula melirik layar. "Grace."

Senyum tipis muncul di wajah James. "Tepat waktu, berikan ponselnya."

Paula menyerahkannya.

James langsung menjawab.

"Halo."

Suara ceria Grace terdengar dari seberang. "James, ayah ingin berbicara denganmu."

"Tentu."

Terdengar suara berdesir singkat sebelum suara lain menggantikannya.

"Halo."

James tersenyum sopan. "Halo, Tuan Walker."

"Tuan Brook..."

James menyelanya sambil tertawa lembut. "Silakan panggil aku James. Grace memanggil ibuku Bibi Sophie. Aku rasa kita bukan orang asing."

Tuan Walker tersenyum di seberang telepon. "Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Aku benar-benar berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan. Aku ingin berterima kasih kepadamu dengan baik. Jika kau punya waktu… Apakah kau bersedia jika suatu hari kami menjamu kedatanganmu?"

James bersandar dengan nyaman di sofa. "Kau terlalu memujiku, Tuan Walker. Grace adalah salah satu dari sedikit teman yang kumiliki selama kuliah, tidak perlu berterima kasih kepadaku. Tapi ya, kita tentu bisa bertemu. Makan siang biasa terdengar bagus."

Tuan Walker langsung menjadi bersemangat. "Bagus sekali, aku tahu salah satu restoran terbaik di Crescent Bay. The Atelier, makanan di sana luar biasa."

Grace langsung tertawa.

James juga tidak bisa menahan tawanya.

Tuan Walker terdengar bingung. "Tuan Brook?"

James terbatuk pelan. "Maaf, aku hanya senang mendengar kau sangat menyukai Atelier."

"Aku… Aku tidak begitu mengerti."

Grace langsung menjelaskan. "Ayah, ituu restoran milik Bibi Sophie. James adalah pemiliknya."

Hening sejenak. "...Oh, aku tidak tahu."

James tersenyum hangat. "Ibuku pasti akan sangat senang mendengar seseorang memuji restorannya. Kalau kau mau, aku bisa memesankan meja pribadi."

Tuan Walker tertawa. "Itu bukan cara menjamu tamu yang baik. Jika kami mengundangmu… Seharusnya kami yang mentraktirmu. Ada sebuah rumah pertanian di samping kebun anggur kami. Bagaimana kalau kita minum bersama di sana?"

James mengangguk. "Itu terdengar menyenangkan, aku akan dengan senang hati menemanimu."

Dia tersenyum sebelum menambahkan, "Apakah tidak masalah jika aku membawa beberapa orang bersamaku?"

"Tentu saja, semakin ramai, semakin menyenangkan."

"Kalau begitu… Bagaimana kalau besok malam?"

"Sempurna."

"Dan..." Nada suara Tuan Walker menjadi sedikit lebih serius. "Aku tahu kau adalah pemuda yang luar biasa. Tapi… Bolehkah aku menanyakan sesuatu? Bagaimana tepatnya Miller tiba-tiba berubah pikiran?"

James melirik ke arah televisi. "Oh, nyalakan saja berita. Ada berita terkini eksklusif. Kurasa itu akan menjawab pertanyaanmu lebih baik daripada aku."

Tuan Walker menoleh ke arah Grace. "Baiklah."

Grace segera mencari remote.

James tersenyum. "Kalau begitu, aku akan bertemu kalian semua besok."

"Sampai jumpa besok, Tuan Brook."

Panggilan berakhir.

Televisi beralih ke saluran berita.

Semua stasiun televisi menyiarkan berita terkini yang sama.

Sebuah banner merah terbentang di layar.

BERITA TERKINI

Ketua Miller Corporation Ditangkap atas Tuduhan Spionase

Semua orang di kediaman keluarga Walker terdiam menatap layar.

Reporter itu berbicara dengan ekspresi serius.

"Menurut pernyataan resmi yang dirilis oleh Badan tersebut pagi ini… Ketua Orville Miller telah ditangkap atas tuduhan spionase dan menjual informasi rahasia negara kepada organisasi asing. Badan tersebut mengungkapkan bahwa Miller telah berada di bawah pengawasan selama beberapa bulan.

Dia dilaporkan ditangkap dalam sebuah operasi intelijen terkoordinasi. Pihak berwenang telah mulai menyegel seluruh aset domestik milik Miller Corporation. Penyelidikan lebih lanjut masih terus berlangsung."

Keheningan memenuhi ruangan.

Joshua perlahan menurunkan ponselnya. "Apa… Apa yang sedang terjadi?"

Tuan Walker tidak bisa berkata-kata. "Bagaimana mungkin..."

Grace melipat kedua tangannya. "Aku tahu ada yang tidak beres dengannya. Dia selalu terlihat seperti orang licik. Jadi dia benar-benar seorang pengkhianat."

Joshua mengangguk. "Dia mendapatkan apa yang pantas diterimanya."

Tuan Walker kembali menjadi serius. "Joshua, atur rapat dewan. Kita perlu berbicara dengan setiap pemegang saham. Sudah waktunya membangun kembali perusahaan kita."

Joshua tersenyum. "Ayah, itu tidak perlu."

Tuan Walker terlihat bingung. "Apa maksudmu?"

Joshua menggaruk pipinya dengan canggung. "Maaf, aku menyembunyikan sesuatu darimu. Saat semua orang mengira kita sedang menuju kebangkrutan… Sebagian besar pemegang saham ingin segera menjual saham mereka. Mereka hampir memberikannya secara cuma-cuma."

Ekspresi Tuan Walker menjadi gelap. "Apa? Banjingan-bajingan itu..."

Joshua mengangguk. "Tapi jangan khawatir. Tuan Brook melihat kesempatan itu lebih dulu daripada siapa pun. Dia menyuruhku membeli semua saham itu secara diam-diam."

Tuan Walker membeku. "...Apa?"

Joshua tersenyum bangga. "Saat ini… Keluarga kita memiliki sembilan puluh lima persen dari seluruh perusahaan. Kita hanya perlu memulai kembali operasionalnya. Sekarang setelah kebun anggur kita kembali… Kita akan pulih jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan siapa pun."

Tuan Walker perlahan duduk, dia mengembuskan napas panjang. "Pemuda yang luar biasa… Seorang jenius."

Dia menoleh ke arah Grace. "Aku tidak pernah menyangka teman universitasmu akan menjadi seseorang seperti ini."

Grace tersenyum bangga. "Yah… Aku hanya senang bisa membantu. Sakit rasanya melihatmu begitu khawatir."

Tuan Walker mengulurkan tangan dan menepuk bahunya dengan lembut. "Putriku… Ayah bangga padamu."

Joshua tersenyum hangat. "Aku juga."

Tuan Walker tiba-tiba kembali bersemangat. "Joshua, siapkan anggur terbaik kita untuk besok."

Grace langsung terbatuk. "Um… Ayah. Dia setuju karena tidak ingin menolak undangan Ayah."

Tuan Walker berkedip. "Apa maksudnya?"

Joshua tertawa. "Dia tidak minum alkohol. Mungkin itu sebabnya dia bertanya apakah boleh membawa orang lain. Jadi orang lain bisa menikmati anggurnya."

Tuan Walker langsung tertawa terbahak-bahak.

"Pemuda yang luar biasa. Meski begitu… Kita tetap akan menyiapkan anggur terbaik yang kita miliki."

Joshua mengangguk percaya diri. "Tentu saja."

Sementara itu...

Kembali di Pearl Villa.

Berita yang sama masih terus ditayangkan di televisi.

Paula menatap James dengan rasa penasaran. "Bos. Aku pikir Badan tersebut sedang menggunakan Miller. Jadi, kenapa mereka menangkapnya sekarang?"

James dengan tenang mengangkat cangkir tehnya. "Sederhana, aku mengirim email anonim kepada semua klien penting Miller."

Paula berkedip. "Kau melakukan apa?"

James tersenyum. "Aku memberitahu mereka bahwa Miller telah terbongkar. Dan bahwa Badan tersebut telah memberinya informasi intelijen palsu."

Mata Paula melebar. "Badan tersebut mengetahuinya?"

James mengangguk. "Begitu mereka menyadari bahwa aset mereka telah terbongkar.. Dia menjadi tidak berguna. Jadi, mereka membereskan masalah mereka sendiri."

Paula tidak bisa berhenti tertawa. "Itu benar-benar tidak masuk akal. Mereka telah menggunakannya selama bertahun-tahun. Lalu mereka sendiri yang menangkapnya."

James kembali menyesap tehnya. "Begitulah cara organisasi intelijen bekerja."

Julian diam-diam menonton televisi sebelum tersenyum kepada putranya. "Jadi… Membersihkan kota lagi?"

James menggeleng pelan. "Itu bukan sesuatu yang luar biasa, hanya sedikit kewajiban moral."

Julian menatapnya dengan bangga. "Kau selalu membuat hal-hal sulit terdengar sederhana."

James hanya tersenyum.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!