Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari pagar besi tempa berukir rumit yang mengelilingi kediaman keluarga Yhosep. Rumah itu tampak seperti istana dongeng dari luar—dinding berwarna krem yang selalu bersih, taman luas penuh bunga mawar impor, dan kolam air mancur yang percikannya terdengar merdu di telinga siapa pun yang lewat. Namun bagi Adelia, yang sudah dua puluh satu tahun menghabiskan hidupnya di dalamnya, bangunan megah ini bukanlah tempat berlindung dan berbagi kasih sayang. Ini hanyalah sangkar berlapis emas, tempat ia dipaksa hidup dalam bayang-bayang sejak ia masih kecil.
Ia berdiri di depan cermin kecil di sudut kamarnya. Ruangan ini terletak di bagian paling ujung lantai atas, dulunya adalah ruang penyimpanan barang bekas sebelum diubah menjadi tempat tidurnya. Langit-langitnya agak miring, jendelanya kecil dan menghadap ke tembok tetangga, sehingga cahaya matahari jarang sekali bisa masuk dengan leluasa. Satu-satunya perabot besar di sini adalah lemari kayu tua yang pintunya sudah agak berdecit jika dibuka. Semua baju yang tersusun di dalamnya bukanlah pilihannya, dan tentu saja bukan dibeli khusus untuknya. Itu semua adalah sisa pakaian Adelin yang sudah dianggap tak lagi layak dipakai oleh kakaknya yang gemar berganti penampilan setiap musim.
Adelia menyentuh lengan kemeja katun yang ia pakai sekarang. Jahitan di bagian mansetnya sudah mulai renggang, dan ada sedikit noda samar yang tak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Tapi ia tak pernah mengeluh. Ia sudah terbiasa. Selama kain itu masih bisa menutupi tubuhnya, ia sudah cukup bersyukur.
Di atas meja belajar yang permukaannya penuh goresan—bekas milik Adelin dulu sebelum diganti dengan meja kerja marmer yang lebih mewah—terpajang beberapa lembar kertas yang dilipat rapi. Satu di antaranya adalah transkrip nilai kuliahnya yang nyaris sempurna, dengan predikat lulus terbaik di jurusan Teknik Informatika. Yang lain lagi adalah surat penerimaan program magister di universitas ternama dengan beasiswa penuh, yang baru saja ia terima kemarin sore. Jantungnya berdegup kencang setiap kali menatap tulisan itu. Selama bertahun-tahun ia belajar diam-diam, memanfaatkan waktu saat seluruh penghuni rumah sedang tidur atau pergi ke acara sosial, karena di rumah ini ia tak pernah dianggap penting. Kecerdasannya, prestasinya, impiannya—semuanya seolah tak terlihat oleh orang tuanya. Hanya ada satu nama yang selalu dipuji, satu nama yang selalu dibanggakan, dan satu nama yang seolah menjadi satu-satunya kebanggaan keluarga Yhosep: Adelin Yhosep.
Tiba-tiba suara ketukan keras terdengar di pintu, disusul suara ibunya yang melengking dari luar, membuat Adelia tersentak dan segera menyembunyikan surat-surat berharganya ke dalam laci paling bawah.
"Adelia! Kamu masih melamun di dalam sana? Cepat turun! Kakakmu butuh bantuanmu!"
Dada Adelia terasa sesak seketika. Ia meraih inhaler asma yang selalu ia taruh di saku baju, menekannya sekali perlahan untuk menenangkan napasnya yang mulai memburu. Ia tahu, begitu suara ibunya terdengar setajam itu, ia tak boleh terlambat sedetik pun. Ia segera berjalan membuka pintu, lalu melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai dasar.
Ruang tamu utama sudah berubah menjadi ruang persiapan yang sibuk. Dua penata rias, tiga penjahit, dan asisten pribadi Adelin bergerak lincah mengelilingi kakaknya yang sedang duduk tenang di depan cermin besar setinggi dinding. Adelin tampak memesonakan dengan gaun sutra berwarna merah marun yang menyempurnakan kulitnya yang putih bersih. Wajahnya memang sangat mirip dengan Adelia—banyak orang bahkan sering mengira mereka saudara kembar jika melihat sekilas—tapi kesan yang terpancar dari wajah mereka sungguh berbeda. Adelin memancarkan aura percaya diri berlebihan, bahkan sedikit sombong, dengan dagu yang selalu diangkat tinggi. Sedangkan Adelia selalu menundukkan pandangannya, takut tatapannya menyinggung siapa pun.
"Kamu datang juga," ujar Belinda dengan nada datar, tanpa menoleh sepenuhnya ke arah anak keduanya. "Ambil gaun yang ada di atas kursi itu, bawa ke ruang ganti, lalu siapkan sepatu berhak tinggi nomor tiga puluh delapan. Hati-hati ya, itu koleksi khusus dari desainer Paris. Kalau sampai ada yang kusut atau lecet, kamu tahu sendiri konsekuensinya."
Adelia mengangguk patuh. "Baik, Bu."
Ia berjalan mendekat untuk mengambil gaun itu, namun baru saja tangannya menyentuh kain yang lembut dan mahal itu, tiba-tiba Adelin menepisnya dengan kasar.
"Pelan-pelan saja bodoh!" bentak Adelin tajam, matanya menatap tajam pantulan Adelia di cermin. "Jangan pakai kuku kotormu itu merusak kain ini. Kamu pikir sembarangan orang boleh menyentuh barang-barangku?"
"Maaf, Kak..." cicit Adelia, menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik. Hatinya perih, tapi ia menahan agar air matanya tak jatuh. Ia sudah mendengar kalimat serupa ribuan kali.
Belinda hanya menghela napas pelan, seolah kelakuan Adelin itu hal yang wajar. "Sudah, sudah. Adelin benar, kamu harus lebih berhati-hati. Cepat bawa saja sekarang, nanti wartawan sudah datang."
Baru saja Adelia hendak berbalik, suara ketukan pintu depan terdengar. Pelayan membukakan pintu, dan beberapa orang masuk dengan membawa kamera profesional serta alat perekam. Itu adalah tim media yang diundang khusus untuk meliput persiapan sesi foto Adelin untuk majalah mode terkemuka sekaligus menyebarkan berita pertunangannya yang sebentar lagi akan digelar.
Wajah Belinda langsung berubah total. Senyum manis terukir sempurna di bibirnya saat ia menyambut para tamu itu, seolah ia lupa bahwa beberapa saat lalu ia baru saja memarahi anaknya sendiri.
"Selamat datang, silakan masuk. Maaf ya sedikit berantakan karena kami sedang bersiap-siap," ujarnya ramah.
Adelia tertegun sejenak di tempatnya berdiri, masih memegang ujung gaun itu. Saat ia hendak melangkah pergi, mata ibunya menangkap gerakannya. Wajah Belinda langsung mengeras. Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu berbisik dengan nada dingin yang menusuk tulang:
"Kamu langsung ke kamar sekarang. Jangan muncul di mana pun selama ada tamu di sini. Jangan sampai ada kamera menangkap wajahmu. Ingat ya, Adelin adalah satu-satunya putri kami yang dikenal publik. Kami tidak punya anak lain. Kalau kamu terlihat, kamu akan membuat kami malu seumur hidup."
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam dada Adelia berkali-kali. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap manik mata ibunya yang tak menyisakan sedikit pun kasih sayang. "Ibu... apakah aku benar-benar tidak berhak ada di sini?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar.
Belinda mendengus sinis. "Berhak? Kamu ada di sini saja sudah cukup. Jangan menuntut lebih. Sekarang pergi!"
Adelia berbalik perlahan, berniat kembali naik ke lantai atas, tapi pertanyaan salah satu wartawan membuat langkah kakinya terhenti di tengah tangga.
"Maaf Bu Yhosep, banyak netizen yang penasaran. Beberapa orang pernah melihat sosok yang sangat mirip dengan Nona Adelin di sekitar rumah ini. Apakah benar Anda memiliki anak lain selain Adelin?"
Suasana sejenak hening. Adelia menahan napas, berharap—meski tahu harapan itu sia-sia—bahwa ibunya akan berkata jujur. Tapi harapan itu hancur seketika saat mendengar jawaban ibunya yang tenang dan pasti.
"Ah, itu pasti hanya kesalahpahaman. Saya dan suami hanya memiliki satu putri tercinta, yaitu Adelin. Tidak ada yang lain."
Tak lama kemudian, suara Adelin terdengar renyah dan penuh keyakinan, seolah tak ada beban sama sekali di hatinya. "Benar sekali. Saya anak tunggal. Kedua orang tua saya sangat mendukung karir saya, dan saya pun sangat beruntung bisa memiliki mereka sepenuhnya."
Seketika itu juga, dunia Adelia terasa gelap gulita. Ia memeluk erat gaun di pelukannya, merasakan matanya mulai memanas. Ia terus berjalan naik ke atas, langkahnya berat seolah diikat batu besar. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar pujian demi pujian yang dilontarkan kepada kakaknya, pujian yang seharusnya tak hanya milik Adelin jika saja dunia mau melihatnya sedikit saja.
Sesampainya di kamar kecilnya, Adelia menutup pintu rapat-rapat dan bersandar di belakangnya. Ia membiarkan air matanya jatuh tanpa suara, menekan bibirnya agar tak ada isakan yang lolos. Ia tahu betul posisinya di rumah ini: ia adalah rahasia yang harus disembunyikan, noda yang harus dihapus dari sejarah keluarga Yhosep.
Dulu, saat ia masih kecil, ia sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apa salahnya? Mengapa wajahnya yang mirip dengan kakaknya justru menjadi alasan untuk dikucilkan? Mengapa kecerdasannya dianggap sebagai ancaman, bukan kebanggaan? Mengapa setiap kali ia berusaha menunjukkan prestasi, ia malah dimarahi karena "mencoba menyaingi Adelin"?
Dulu ia pernah berpikir mungkin suatu hari orang tuanya akan berubah. Mungkin suatu hari mereka akan melihatnya, mengenali namanya, dan memanggilnya "Adelia" dengan nada sayang. Tapi semakin ia tumbuh dewasa, semakin ia sadar bahwa harapan itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
Ia berjalan menuju jendela kecil, menatap ke arah taman yang indah di bawah sana. Dari kejauhan ia bisa melihat ayahnya, Adam Yhosep, baru pulang dari kantor dan langsung memeluk Adelin dengan bangga. Ayahnya yang dingin dan tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik, tampak begitu lembut saat bersama kakaknya.
"Apakah aku harus menghilang saja agar semuanya tenang?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Namun kemudian ia teringat pada dua orang yang selalu ada untuknya, yang tak pernah memandangnya sebagai bayangan siapa pun: Julian dan Tama. Sahabat yang sejak kecil selalu melindunginya, yang tahu betul betapa kejamnya perlakuan keluarga Yhosep padanya, dan yang selalu mengingatkannya bahwa ia berharga. Ia juga teringat surat beasiswa itu di laci mejanya. Masih ada masa depan yang bisa ia kejar, meski harus ia jalani sendirian.
Adelia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menarik napas panjang, lalu mengeluarkan inhaler sekali lagi. Ia harus kuat. Ia harus bertahan di sini sedikit lebih lama, sampai waktunya tiba untuk pergi dan menjadi dirinya sendiri—menjadi Adelia Yhosep yang sebenarnya, tanpa harus menyembunyikan wajah dan namanya lagi.
Di rumah yang sama, di bawah langit yang sama, dua orang dengan wajah serupa memulai hari mereka dengan nasib yang tak bisa berbeda lebih jauh. Satu dikelilingi cahaya dan pujian, sementara yang lain terpaksa menyusup ke dalam kegelapan, menunggu waktu yang tak diketahui kapan akan datang.
Siang itu udara di dalam rumah kediaman keluarga Yhosep terasa lebih pengap dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah menyala penuh di setiap sudut ruangan utama. Adelia duduk di pinggir kursi kayu panjang di ujung meja makan yang panjangnya mencapai sepuluh meter. Tangannya meremas ujung serbet kain dengan gelisah, matanya menatap piring kosong di hadapannya. Ia tak berani menyentuh makanan atau bahkan duduk bersandar santai sebelum semua anggota keluarga selesai dihidangkan. Itu adalah aturan tak tertulis yang harus ia patuhi sejak kecil: Adelin didahulukan segalanya, lalu orang tua, barulah ia boleh mengambil sisa di akhir.
Suara tawa renyah Adelin Yhosep terdengar dari arah pintu masuk, disusul langkah berat Adam Yhosep yang baru saja pulang dari kantor pusat Yhosep Group. Adelia segera menundukkan pandangannya ke lantai keramik berkilau, membiasakan diri untuk tidak berani menatap mata siapa pun saat mereka sedang berbicara.
"Papa lihat liputan di berita tadi pagi, cantik sekali putri Papa ini," puji Adam sambil menepuk lembut bahu Adelin sebelum duduk di kursi utamanya. "Semua komentator memuji penampilanmu dan menyebutmu sebagai model paling berbakat tahun ini. Papa bangga sekali."
Adelin tersenyum lebar, lalu mengedipkan mata pada ibunya Belinda Yhosep. "Tentu saja, Pa. Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Lagipula aku tidak akan mengecewakan Papa dan Mama, kan?"
Belinda mengangguk setuju sambil menyendokkan sup krim ke mangkuk Adelin. "Benar sekali. Adelin memang anak yang penurut dan tahu diri. Tidak seperti..." Kalimatnya terputus seketika saat pandangannya jatuh pada Adelia yang diam di sudut. Wajahnya langsung berubah dingin. "Sudah duduk diam saja kamu. Jangan melamun, cepat ambilkan air mineral dingin untuk Ayah."
Adelia segera bangkit, menuangkan air dengan hati-hati ke dalam gelas kristal, lalu menyajikannya di depan ayahnya. Ia berniat kembali duduk, tapi tangan Adam tiba-tiba menahan lengannya.
"Kemarin manajer les privat bahasa asingmu melapor," ujar Adam dengan suara datar namun tajam. "Katanya kamu bolos dua kali berturut-turut saat jam pelajaran. Kamu pikir kami membayarmu mahal-mahal hanya untuk main-main?"
Jantung Adelia berdegup kencang tak beraturan. "Itu... itu bukan aku, Yah. Aku tidak pernah membolos. Aku bahkan datang lebih awal untuk menanyakan tugas tambahan," jawabnya pelan namun tegas.
"Berbohong!" potong Adelin cepat sambil menatap tajam pantulan Adelia di cermin lemari dinding. "Teman sekelasku melihatmu duduk di taman kota selama dua jam penuh saat jam les. Kamu memang malas dan tidak tahu berterima kasih. Sudah dikasih kesempatan belajar lebih, malah menyia-nyiakan waktu."
Adelia menatap kakaknya tak percaya. Ia tahu betul Adelin sengaja memutarbalikkan fakta—saat itu ia justru sedang di perpustakaan universitas meminjam buku referensi untuk tugas akhir S2-nya. "Kak, itu salah paham! Aku ke sana hanya untuk mencari referensi—"
"Cukup!" bentak Belinda keras hingga Adelia tersentak mundur. "Kamu berani menyangkal perkataan kakakmu? Adelin tidak mungkin berbohong. Kamu memang pembangkang sejak kecil! Lihat kakakmu, dia sudah punya nama besar, dia menjaga citra keluarga dengan baik. Sedangkan kamu? Hanya bisa membuat masalah dan menyusahkan kami."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Adelia. Ia ingin menunjukkan bukti kehadiran di perpustakaan, atau menghubungi dosen pembimbingnya, tapi ia tahu kata-katanya tak akan pernah didengar. Bagi orang tuanya, Adelin adalah kebenaran mutlak, sedangkan dirinya hanyalah sumber kesalahan yang selalu harus disalahkan.
"Maaf..." hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, lirih dan penuh kepasrahan.
Adam mendengus kesal, lalu melepaskan cengkeramannya di lengan Adelia. "Kamu harus belajar dari kakakmu. Dia mengharumkan nama keluarga Yhosep, sedangkan kamu sampai sekarang belum memberikan apa-apa selain beban."
Makan siang pun berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan. Adelia hanya makan sedikit sekali—hanya sisa lauk yang tidak disentuh Adelin—lalu segera membereskan piring bekas makan keluarganya seperti biasa. Sering kali tugas pelayan rumah justru dibebankan padanya sebagai hukuman tanpa alasan yang jelas.
Sore mulai berganti senja saat akhirnya ia selesai. Ia berjalan perlahan menuju halaman belakang, satu-satunya sudut rumah yang tidak terasa asing. Di sana ada bangku kayu tua di bawah pohon mangga rindang, tempat ia sering bersembunyi saat hatinya terasa terlalu berat.
Belum lama ia duduk, suara deru motor sport yang sangat ia kenal terdengar mendekat. Tak lama kemudian, dua pemuda melompati pagar tanaman hias: Julian Leonard dan Tama Alvaro.
Julian melepas helmnya, menampakkan rambut hitam agak berantakan dan tato kecil di dekat telinganya. Wajahnya yang biasanya santai kini tampak cemas melihat mata Adelia yang bengkak. Ia segera duduk di sampingnya.
"Siapa lagi yang menyakitimu?" tanyanya langsung, nadanya tegas namun penuh perhatian. "Adelin lagi? Atau orang tuamu?"
Tama ikut duduk di sisi lain, menepuk punggung tangan Adelia pelan. "Kami lewat tadi dan melihatmu dari jauh. Ceritalah pada kami, Del. Kami di sini."
Adelia menceritakan semuanya: tuduhan bohong Adelin, kemarahan orang tuanya, dan betapa sia-sianya ia berusaha menjelaskan kebenaran.
"Selalu begitu..." bisiknya di akhir cerita. "Apapun yang kakakku katakan, itu benar. Apapun yang aku katakan, itu dusta. Aku merasa seperti hantu di rumahku sendiri, yang keberadaannya hanya diakui saat ada kesalahan yang harus ditanggung."
Julian mengepal tangannya kuat. "Ini keterlaluan. Kamu jauh lebih cerdas, lebih jujur, dan lebih baik hati daripada mereka semua digabungkan. Adelin cemburu padamu, Del. Dia takut nanti orang tahu kalau adiknya jauh lebih hebat darinya. Itulah sebabnya dia selalu memojokkanmu."
"Benar," tambah Tama. "Ibuku pun sering bilang begitu. Adelin menyembunyikanmu bukan karena dia malu, tapi karena dia takut tersaingi."
Adelia menatap langit jingga di kejauhan. "Kadang aku bertanya-tanya... apakah aku memang anak yang tidak diinginkan? Mengapa aku harus selalu kalah, bahkan sebelum aku sempat berusaha?"
"Jangan bicara begitu!" potong Julian tegas. "Kamu berharga. Suatu hari nanti dunia akan tahu siapa Adelia Yhosep yang sebenarnya. Kamu tidak akan selamanya hidup dalam bayang-bayang."
Malamnya, udara dingin masuk melalui celah jendela kamar Adelia yang jarang diperbaiki. Ia terbangun karena batuk-batuk hebat, dadanya terasa sesak luar biasa. Ia meraba inhaler di meja, tapi tangannya gemetar hingga menjatuhkan gelas air yang pecah berantakan.
Suara pecahan kaca memecah keheningan malam. Tak lama pintu terbuka kasar, Belinda berdiri di sana dengan wajah mengantuk dan penuh amarah.
"Kamu kenapa sih! Selalu saja berisik! Kamu sengaja ingin membangunkan Adelin yang sedang istirahat? Kamu memang tidak pernah punya hati!" bentaknya tanpa melihat Adelia yang sedang memegang dadanya susah payah.
"Aku... aku tidak sengaja... aku sakit..." napas Adelia tersendat-sendat.
Belinda mendengus sinis sambil berbalik hendak pergi. "Sakit-sakitanmu itu cuma cari perhatian! Bersihkan sekarang juga. Jangan sampai ada pecahan yang melukai Adelin. Dan jangan harap aku akan membelikan obat baru kalau kamu terluka."
Pintu ditutup keras. Adelia menangis tanpa suara, berusaha menenangkan napasnya sendiri, lalu perlahan merangkak membersihkan pecahan kaca itu dengan tangan kosong.
Di rumah megah itu, Adelia belajar satu hal paling menyakitkan: di mata keluarganya, ia bukanlah anak. Ia hanyalah cadangan yang disembunyikan, orang yang ditakdirkan untuk selalu kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Pagi berikutnya, sinar matahari pagi menyelinap masuk lebih terang dari biasanya, seolah ingin menyapa Adelia yang baru saja selesai merapikan pecahan kaca semalam. Matanya masih sedikit bengkak, tapi ia berusaha menenangkan diri. Hari ini ada jadwal kunjungan Gyantara Raharja bersama ibunya, Sofia Morens, untuk membicarakan persiapan pertunangan resmi. Itu adalah momen yang paling ditunggu keluarga Yhosep—dan momen yang paling ditakuti Adelia.
Ia sudah berniat tetap di dalam kamar seperti biasa, sampai suara ketukan pelan terdengar di pintu. Belum sempat ia menjawab, pintu terbuka, dan Adelin Yhosep masuk dengan senyum yang tampak sangat manis—senyum yang selalu ia pakai saat ingin menipu orang lain.
Adelin duduk di tepi kasur Adelia, menatapnya seolah mereka adalah kakak-beradik yang paling akrab. "Adelia, kakak mau bicara sebentar ya," ucapnya lembut, jauh berbeda dari nada tajamnya kemarin.
Adelia mundur sedikit, waspada. "Ada apa, Kak?"
"Nanti datang Gyantara dan Ibu Sofia," Adelin membelai rambut Adelia seolah penuh kasih sayang, tapi matanya menatap tajam. "Kamu tahu kan, Gyantara adalah pria impianku. Dia CEO Raharja Groups yang hebat, dan dia mencintaiku sepenuhnya. Jadi tolong ya, tetap di sini. Jangan sampai kamu terlihat. Kalau mereka melihat wajahmu yang mirip denganku, nanti mereka bingung. Dan kamu pasti tidak mau merusak kebahagiaanku, kan?"
"Selama ini aku memang selalu bersembunyi, Kak," jawab Adelia pelan. "Aku tidak akan keluar."
Adelin tersenyum puas, lalu menepuk pipi Adelia pura-pura sayang. "Itu baru adikku yang penurut. Ingat ya, jangan pernah berharap dia akan melirikmu. Dia mencintaiku, bukan bayanganku."
Setelah Adelin pergi, Adelia memeluk lututnya erat. Ia tahu senyum manis kakaknya itu hanyalah topeng. Di baliknya tersembunyi rasa takut tersaingi dan keinginan kuat untuk memastikan tak ada satu pun hal yang bisa mengganggu rencananya—termasuk keberadaan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, suara mobil mewah terdengar berhenti di depan rumah. Adelia mendengar sapaan hangat Adam Yhosep dan Belinda Yhosep menyambut tamu penting itu. Rasa penasaran yang tak bisa ia tahan membuatnya perlahan berjalan menuju tangga, bersembunyi di balik tiang besar yang menghalangi pandangan orang ke arahnya.
Dari kejauhan, ia melihat sosok pria tinggi tegap berdiri di ruang tamu. Itu Gyantara Raharja. Pria itu tampak gagah dengan setelan jas abu-abu yang pas di badan, raut wajahnya tegas namun sorot matanya begitu lembut saat menatap Adelin yang berjalan menyambutnya. Di sampingnya berdiri Sofia Morens, wanita berpenampilan anggun dengan senyum yang begitu hangat—senyum yang belum pernah Adelia rasakan dari ibunya sendiri.
"Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik," ujar Gyantara dengan suara rendah namun berwibawa. Matanya tak lepas dari Adelin. "Saya sangat menantikan hari besar kami nanti."
Adelin tersenyum manis, merangkul lengan Gyantara dengan erat. "Aku juga, Tantara. Aku sudah membayangkan hari itu sejak lama."
Saat itulah, angin berhembus pelan membuka sedikit gorden jendela, dan bayangan Adelia jatuh tepat di lantai ruang tamu. Sofia menoleh ke arah tangga, sedikit mengernyitkan dahi. "Maaf, apakah ada orang lain di sana?"
Jantung Adelia berdegup kencang. Ia hendak bersembunyi lebih dalam, tapi Adelin sudah bereaksi lebih dulu. Ia tertawa renyah, lalu menjawab dengan tenang: "Ah, mungkin itu bayangan gorden saja, Bu. Di rumah ini cuma ada kami berempat dan pelayan kok."
Belinda segera menambahkan cepat: "Benar sekali. Tidak ada orang lain. Mari kita masuk ke ruang kerja untuk membicarakan detail acara."
Namun sekilas, mata Gyantara sempat melirik ke arah tiang tempat Adelia bersembunyi. Tatapannya singkat, seolah ia merasakan ada keberadaan lain, tapi ia tak sempat melihat wajah Adelia dengan jelas sebelum Adelin menarik perhatiannya kembali.
Adelia segera berlari kembali ke kamarnya, napasnya memburu karena ketakutan. Ia tahu betul apa yang baru saja terjadi. Adelin siap melakukan apa saja—bahkan berbohong di depan calon suaminya sendiri—untuk menjaga rahasia keberadaannya. Topeng manis kakaknya itu mampu menutupi kebusukan hatinya dari siapa pun, bahkan dari pria yang ia cintai.
Siang harinya, saat tamu sudah pulang, Adelin datang lagi ke kamar Adelia. Kali ini senyumnya sudah hilang, berganti dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.
"Kamu tadi hampir ketahuan!" bisiknya marah. "Kalau sampai Gyantara atau ibumu tahu ada kamu di sini, aku pastikan kamu tidak akan bisa tinggal di rumah ini lagi. Dan jangan harap kamu bisa pergi kuliah ke mana pun!"
"Aku tidak bermaksud, Kak. Aku hanya ingin melihat sedikit saja..."
"Melihat apa? Melihat apa yang tidak bisa kamu miliki?" potong Adelin sinis. "Dengar ya, Adelia. Dunia, nama baik keluarga, dan Gyantara adalah milikku. Kamu cuma sampah yang kebetulan lahir bersamaku. Jangan pernah berani bermimpi menjadi sepertiku."
Adelin berbalik pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Adelia yang diam terpaku. Ia akhirnya sadar sepenuhnya: Adelin bukan sekadar kakak yang cemburu. Ia adalah orang yang pandai menyembunyikan sifat aslinya di balik senyum ramah, dan siap menghancurkan siapa pun yang berani mengganggu posisinya—bahkan adik kandungnya sendiri.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Adelia berjanji dalam hati: ia akan bersabar sedikit lagi. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk pergi dari sini, sebelum ia terjebak lebih dalam dalam kebohongan kakaknya yang tak berujung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!