Bab 1: Nama yang Salah
"Anya..."
Bisikan itu jatuh di telinga Keira tepat ketika napas Rayhan terasa panas di lehernya.
Kamar utama Rumah Besar Sutanto gelap, hanya lampu kecil di sisi ranjang yang menyisakan warna kuning redup pada dinding. Hujan tipis mengetuk kaca jendela. Seprai kusut di bawah punggung Keira, dan piyama lamanya yang dibeli di pasar malam sudah tersingkap berantakan di bahu.
Tiga tahun menikah, inilah pertama kalinya Rayhan menyentuhnya sebagai seorang istri.
Keira sempat mengira akhirnya ia dilihat.
Namun satu nama yang keluar dari bibir suaminya membuat semua harapan itu hancur, lebih sakit daripada genggaman Rayhan yang terlalu kuat di pergelangan tangannya.
Anya.
Nama itu bukan miliknya.
Keira membuka mata. Pandangannya buram, bukan karena gelap, melainkan karena air mata yang ia tahan mati-matian. Di atasnya, Rayhan memejamkan mata, wajahnya memerah oleh alkohol, rahangnya tegang, seolah sedang mengejar bayangan perempuan lain dalam tubuh istrinya sendiri.
"Anya..." gumamnya lagi, lebih pelan, lebih dalam.
Dada Keira seperti diremas.
Ia menoleh ke samping, ke arah nakas. Ponselnya menyala karena satu pesan WhatsApp yang masuk beberapa menit lalu, pesan yang belum sempat ia hapus, pesan yang sekarang seperti ikut menertawakannya.
Anya Mulyadi:
Kau cuma pengganti, Keira. Kembali ke panti asuhan tempatmu seharusnya.
Layar itu redup perlahan, tetapi kata-katanya tetap menempel di kepala Keira.
Pengganti.
Panti asuhan.
Tempatmu seharusnya.
Selama tiga tahun, ia memasak untuk keluarga Sutanto, membersihkan rumah besar yang bahkan bukan rumahnya, menyiapkan jas Rayhan setiap pagi, menunggu pria itu pulang sampai lewat tengah malam. Ia menelan sindiran Bu Fenny, merapikan kekacauan Sherly, tersenyum saat para tamu arisan bertanya kenapa Rayhan jarang membawanya keluar.
Ia pernah percaya, jika ia cukup sabar, cukup baik, cukup diam, Rayhan suatu hari akan menoleh.
Malam ini, pria itu memang menoleh.
Namun yang ia cari tetap Anya.
"Rayhan..." Suara Keira keluar serak.
Rayhan tidak menjawab. Napasnya berat, tubuhnya masih dikuasai mabuk. Jari-jarinya menekan pergelangan Keira sampai kulitnya nyeri. Keira menggigit bibir, bukan untuk menahan suara, melainkan untuk menahan dirinya agar tidak menangis.
Ia tidak mau nama Anya menjadi saksi tangisnya.
Di luar kamar, rumah besar itu sunyi. Para pelayan sudah tidur. Bu Fenny pasti sudah beristirahat di kamarnya, puas setelah seharian menyindir Keira karena lauk makan malam dianggap terlalu asin. Tidak ada yang tahu, di kamar ini, seorang istri sedang dihancurkan oleh nama perempuan lain.
Keira memejamkan mata.
Mungkin memang sudah cukup.
Ketika Rayhan akhirnya terlelap, tubuhnya jatuh di sisi ranjang tanpa sadar. Bau alkohol masih melekat di napasnya. Keira duduk perlahan, menarik piyama lamanya sampai menutup bahu. Kainnya tipis dan sedikit sobek di ujung lengan, bekas tersangkut gagang lemari minggu lalu. Ia belum membeli yang baru karena uang belanja bulan ini dipotong Bu Fenny dengan alasan Keira terlalu boros membeli sayur.
Lucu.
Seorang istri CEO Sutanto Corporation tidak punya cukup uang untuk membeli piyama layak.
Keira turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia mengambil ponsel, menatap pesan Anya sekali lagi, lalu menyimpan tangkapan layar.
Tangannya gemetar, tetapi matanya mulai kering.
Di cermin lemari, ia melihat perempuan dengan rambut berantakan, bibir pucat, dan bekas merah di pergelangan tangan. Piyama murah itu membuatnya tampak makin kecil di kamar mewah yang penuh barang mahal pilihan Rayhan.
Kamar ini punya semua yang indah, kecuali tempat untuknya.
Keira berjalan ke kamar mandi. Air keran yang dingin membasahi telapak tangannya. Ia mengusap wajah, sekali, dua kali, sampai kulit pipinya terasa perih. Ketika mengangkat kepala, perempuan di cermin tidak lagi menangis.
"Cukup," bisiknya.
Pagi datang tanpa kehangatan.
Rayhan bangun lebih dulu dari biasanya. Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, jatuh di wajahnya yang masih tampak lelah. Ia duduk di tepi ranjang, menekan pelipis seolah kepalanya nyaris pecah.
Keira berdiri di dekat meja rias. Ia sudah memakai blus sederhana dan rok hitam lama, pakaian yang selalu dianggap Bu Fenny tidak pantas untuk menantu keluarga Sutanto. Di tangannya ada segelas air putih dan obat pereda sakit kepala.
Kebiasaan.
Bahkan setelah hatinya patah, tubuhnya masih mengingat cara merawat Rayhan.
Rayhan menoleh. Matanya turun ke gelas itu, lalu naik ke wajah Keira. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kebingungan seorang pria yang menyadari telah melukai istrinya semalam.
Yang ada hanya dingin.
"Apa yang kau masukkan ke minumanku semalam?" tanyanya.
Keira terdiam.
Gelas di tangannya terasa lebih berat daripada seharusnya.
"Apa?" Suaranya pelan.
Rayhan berdiri. Kemeja tidurnya kusut, tetapi posturnya tetap membuat ruangan terasa sempit. "Jangan pura-pura tidak mengerti."
Keira meletakkan gelas di meja. "Kau pulang dalam keadaan mabuk. Aku tidak memasukkan apa pun."
"Aku tidak pernah mabuk sampai kehilangan kendali."
Kalimat itu menusuk, karena Keira tahu maksudnya.
Kehilangan kendali, baginya, berarti menyentuh Keira.
Seolah menyentuh istrinya sendiri adalah sesuatu yang menjijikkan.
"Kau pikir aku menjebakmu?" tanya Keira.
Rayhan menatapnya dari atas ke bawah. Tatapan itu lebih kasar daripada makian. "Selama tiga tahun, kau tidak pernah bisa mendapatkan perhatianku. Lalu semalam, setelah Anya kembali ke Surabaya, tiba-tiba kau muncul di kamarku dengan wajah seperti itu."
Keira tertawa pendek. Tidak ada suara bahagia di sana.
"Ini juga kamarku, Rayhan."
"Jangan bermain kata denganku."
Ponsel Rayhan bergetar di nakas. Nama Anya muncul di layar. Keira melihatnya, Rayhan juga melihatnya.
Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah Rayhan berubah. Bukan panik, bukan malu, melainkan lembut yang asing. Lembut yang selama tiga tahun tidak pernah Keira dapatkan.
Ia mengambil ponsel, tetapi tidak langsung mengangkat. Mungkin karena Keira masih berdiri di sana.
Keira menatap layar itu sampai panggilan berhenti sendiri.
"Angkat saja," ucapnya. "Jangan sampai dia khawatir."
Rayhan mengerutkan kening. "Nada bicaramu mulai tidak enak."
"Apa aku harus tetap manis setelah suamiku memanggil nama perempuan lain saat menyentuhku?"
Udara di kamar membeku.
Rahang Rayhan mengeras. "Jaga ucapanmu."
"Aku hanya mengulang kenyataan."
"Kenyataan?" Rayhan melangkah mendekat. Tangannya mencengkeram pergelangan Keira, tepat di tempat yang masih merah sejak semalam. Keira menahan napas karena sakit, tetapi ia tidak menarik diri. "Kenyataannya, perempuan murahan sepertimu memang pandai memanfaatkan kesempatan."
Wajah Keira memucat.
Perempuan murahan.
Tiga tahun ia dipanggil anak panti, pembawa sial, menantu tak berguna. Ia kira tidak ada kata yang bisa melukainya lebih dalam lagi.
Ternyata suara Rayhan masih punya cara.
"Karena Anya kembali, kau takut kehilangan posisi?" lanjut Rayhan. "Kau pikir dengan cara seperti semalam aku akan terikat padamu?"
Keira menatap tangan Rayhan yang mencengkeramnya.
Dulu, tangan itu pernah ia tunggu. Ia pernah membayangkan Rayhan menggenggamnya saat makan malam keluarga, membelanya ketika Bu Fenny menyindir, atau menariknya mendekat ketika orang lain merendahkannya.
Hari ini tangan itu hanya membuatnya sakit.
"Lepaskan," kata Keira.
Rayhan tidak bergerak.
Keira mengangkat mata. Suaranya lebih datar. "Aku bilang, lepaskan."
Entah karena nada itu belum pernah ia dengar dari Keira, Rayhan akhirnya melepasnya. Bekas jarinya tertinggal merah di kulit pucat Keira.
Keira merapikan lengan blusnya.
"Kau benar," ucapnya.
Rayhan menyipit. "Apa?"
"Aku memang terlalu lama memanfaatkan kesempatan." Keira menatapnya lurus. "Kesempatan untuk berharap pada pria yang bahkan tidak pernah menganggapku manusia."
Mata Rayhan menggelap. "Keira."
Biasanya, satu panggilan dingin seperti itu cukup membuat Keira diam.
Pagi ini tidak.
"Aku sudah mengirim pesan pada pengacaraku," lanjut Keira.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Rayhan benar-benar berubah. "Pengacara?"
Keira berjalan ke meja rias, mengambil map cokelat dari laci. Map itu sudah ia siapkan sebelum matahari terbit, setelah satu malam duduk di lantai kamar mandi, menghitung luka yang ia biarkan terlalu lama.
Ia meletakkan map itu di atas meja.
Rayhan membukanya dengan kasar. Halaman pertama terlihat jelas.
Permohonan cerai gugat.
Keira memperhatikan mata Rayhan bergerak cepat membaca baris demi baris. Ruangan yang sejak tadi dingin mendadak terasa sangat hening. Bahkan suara hujan sudah berhenti.
"Kau sedang mengancamku?" tanya Rayhan pelan.
"Tidak."
"Lalu ini apa?"
Keira menarik napas. Dadanya sakit, tetapi rasa sakit itu tidak lagi membuatnya ingin mundur.
"Ini keputusan."
Rayhan menatapnya seperti baru melihat orang asing. "Kau tidak akan sanggup hidup di luar keluarga Sutanto."
Dulu kalimat itu mungkin membuatnya takut. Dulu ia akan memikirkan uang belanja, tempat tinggal, tatapan orang, dan suara Bu Fenny yang berkata perempuan dari panti asuhan harus tahu diri.
Sekarang Keira hanya merasa lelah.
"Mungkin," jawabnya pelan. "Tapi aku lebih tidak sanggup hidup sebagai bayangan Anya."
Ponsel Rayhan kembali bergetar. Anya menelepon lagi.
Keira tidak menoleh.
Ia hanya menatap pria yang selama tiga tahun ia cintai sampai lupa mencintai dirinya sendiri.
"Rayhan," katanya, setiap suku kata keluar jernih, "kita cerai."
Bab 2: Tiga Ratus Triliun
Rayhan menatap Keira cukup lama, seolah kalimat itu bukan bahasa yang ia pahami.
Kita cerai.
Di luar jendela, sisa hujan semalam masih menggantung di daun-daun halaman Rumah Besar Sutanto. Pagi baru benar-benar terang, tetapi kamar itu terasa lebih dingin daripada malam sebelumnya.
"Kau pikir aku akan percaya?" tanya Rayhan akhirnya.
Keira tidak menjawab dengan emosi. Ia hanya mengambil map cokelat dari meja, memasukkan kembali berkas yang tadi dibaca Rayhan, lalu merapikan ujung blusnya. Pergelangan tangannya masih merah, tetapi ia tidak menutupinya lagi.
"Pengacaraku sudah menunggu di Pengadilan Negeri Surabaya," katanya.
Alis Rayhan turun. "Kau benar-benar sudah gila."
"Mungkin," jawab Keira pelan. "Tapi ini pertama kalinya kegilaanku menyelamatkanku."
Rayhan tertawa pendek. Bukan tawa geli, melainkan tawa seseorang yang merasa tidak mungkin dikalahkan. "Kau tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat pulang. Kau mau bercerai dariku dengan apa?"
Keira menatapnya.
Tiga tahun lalu, pertanyaan itu akan membuat kakinya lemas. Ia akan membayangkan gerbang panti asuhan, kamar sempit, suara orang-orang yang berkata ia beruntung diambil keluarga Sutanto. Ia akan mengingat Almarhum Kong Kong Sutanto yang dulu menepuk kepalanya dan berkata rumah ini akan melindunginya.
Namun perlindungan itu ikut dikubur bersama beliau.
Yang tersisa hanya rumah besar dengan banyak pintu, tetapi tidak satu pun terbuka untuknya.
"Dengan diriku sendiri," kata Keira.
Rayhan mendekat satu langkah. "Keira, jangan menguji kesabaranku."
"Kesabaranmu?" Keira menahan senyum tipis. "Tiga tahun aku menunggu kau makan malam, menunggu kau pulang, menunggu kau melihatku bukan sebagai beban. Kalau yang seperti itu bukan kesabaran, aku tidak tahu lagi apa namanya."
Ponsel Rayhan kembali menyala. Nama Anya muncul lagi.
Keira mengalihkan pandangan ke layar itu sebentar, lalu mengambil tas kecilnya dari kursi. Tas kain murah yang talinya sudah mengelupas. Satu-satunya tas yang sering ia pakai karena Bu Fenny selalu berkata menantu dari panti tidak perlu bergaya seperti nyonya besar.
"Angkat saja," ucap Keira. "Aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama."
Rayhan tidak mengangkat.
Namun ia juga tidak menahan Keira ketika perempuan itu berjalan keluar kamar.
Di koridor, dua pelayan yang sedang membawa seprai berhenti dan menunduk canggung. Biasanya Keira akan tersenyum kecil, membantu jika ada yang jatuh, bertanya apakah mereka sudah sarapan. Pagi itu ia hanya berjalan lurus.
Di bawah tangga, suara Bu Fenny terdengar dari ruang makan.
"Keira! Kopi Rayhan mana? Jangan bilang kau belum buat!"
Langkah Keira berhenti setengah detik.
Rayhan berada beberapa langkah di belakangnya. Ia pasti mendengar. Namun seperti biasa, ia diam.
Keira menggenggam tali tasnya.
"Buat sendiri, Bu Fenny," katanya tanpa menoleh.
Ruang makan mendadak sunyi.
"Apa katamu?" Suara Bu Fenny meninggi.
Keira tidak menjawab. Ia membuka pintu utama dan keluar dari rumah itu sebelum siapa pun sempat mengejarnya.
Udara Surabaya pagi itu lembap. Ojek online yang ia pesan menunggu di depan gerbang, pengemudinya sempat memandang rumah besar di belakang Keira dengan kikuk. Keira naik tanpa banyak bicara.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia meninggalkan Rumah Besar Sutanto tanpa membawa daftar belanja, tanpa pesan Bu Fenny, tanpa jas Rayhan yang harus diambil dari laundry.
Hanya map cokelat, ponsel, dan hati yang sudah terlalu lelah untuk patah lagi.
Rayhan datang ke Pengadilan Negeri Surabaya satu jam kemudian.
Ia turun dari mobil hitamnya dengan jas Armani yang rapi, sepatu mengilap, dan wajah dingin yang membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Di belakangnya, Rion membawa tas dokumen. Semua pada dirinya tampak mahal dan terukur.
Keira berdiri di dekat pintu masuk gedung pengadilan dengan blus pasar yang mulai pudar dan rok hitam lama. Rambutnya hanya diikat sederhana. Di antara pengacara, staf pengadilan, dan orang-orang yang menunggu sidang, ia tampak seperti seseorang yang salah masuk tempat.
Rayhan melihatnya dari atas ke bawah.
Tatapan itu tidak asing.
Tatapan yang berkata ia terlalu murah untuk berdiri di samping pria seperti Rayhan Sutanto.
"Masih ada waktu untuk berhenti mempermalukan diri," ucap Rayhan.
Pengacara Keira, seorang perempuan paruh baya, berdiri di sisi Keira dengan map tebal. "Berkas cerai gugat sudah lengkap, Pak Rayhan. Nyonya Keira hanya perlu tanda tangan final untuk pendaftaran hari ini."
Rayhan melirik pengacara itu. "Siapa yang membayarmu?"
"Klien saya," jawab pengacara itu tenang.
Sudut bibir Rayhan bergerak tipis. "Klienmu bahkan dulu menghitung uang kembalian pasar."
Kalimat itu cukup pelan, tetapi Keira mendengarnya. Begitu juga pengacara itu.
Keira mengambil pena.
Tangannya tidak gemetar.
Di atas kertas itu, namanya tertulis jelas: Keira.
Selama tiga tahun, nama itu selalu ditempel dengan keluarga Sutanto. Istri Rayhan. Menantu Bu Fenny. Perempuan panti yang beruntung. Bayangan Anya.
Hari ini, ia menandatanganinya sebagai dirinya sendiri.
Goresan pena terdengar sangat kecil, tetapi bagi Keira, bunyinya seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Petugas menerima berkas, memeriksa cepat, lalu memberi nomor pendaftaran. Karena semua dokumen sudah disiapkan pengacara sejak dini hari dan kedua pihak hadir, proses administrasi berjalan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan orang-orang di ruang tunggu.
"Sidang pertama akan dijadwalkan secepatnya," kata petugas. "Pemberitahuan resmi akan dikirimkan."
Keira mengangguk.
Rayhan memasukkan tangan ke saku celana. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada kalimat, "Jangan pergi." Tidak ada satu pun tanda bahwa tiga tahun pernikahan mereka menyisakan sesuatu yang layak dipertahankan.
Ia hanya berkata, "Selesai?"
Keira menatapnya. "Untuk hari ini, iya."
"Bagus." Rayhan berbalik lebih dulu. "Jangan menyesal."
Punggungnya menjauh begitu saja.
Rion sempat melirik Keira dengan wajah ragu, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mobil Rayhan meninggalkan halaman pengadilan beberapa menit kemudian, secepat seseorang yang ingin membuang urusan kecil dari jadwalnya.
Keira berdiri di trotoar.
Panas matahari mulai naik. Jalan raya di depan Pengadilan Negeri Surabaya ramai oleh mobil, motor, dan suara klakson. Di tangannya, bukti pendaftaran gugatan cerai masih terasa hangat. Ia membuka dompet kecilnya. Di dalamnya hanya tersisa selembar uang lima puluh ribu rupiah dan kartu transportasi yang saldonya entah cukup atau tidak.
Ia baru saja menggugat cerai salah satu CEO paling berpengaruh di Surabaya.
Dan seluruh hartanya saat itu tidak cukup untuk membeli makan siang layak di kafe depan pengadilan.
Keira hampir tertawa.
Namun sebelum suara itu keluar, sebuah mobil berhenti di depannya.
Bukan mobil biasa.
Rolls-Royce Phantom hitam dengan pelat nomor khusus melambat di tepi jalan. Permukaan bodinya memantulkan langit Surabaya yang pucat. Beberapa orang di sekitar pengadilan spontan menoleh. Bahkan seorang pengacara muda yang sedang menelepon menurunkan ponselnya.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria tua berjas gelap turun. Rambutnya sudah memutih, tetapi punggungnya tetap tegak. Begitu melihat Keira, matanya memerah tipis.
Ia berjalan mendekat, lalu membungkuk dalam.
"Nona," suaranya bergetar tertahan, "tiga tahun sudah berlalu."
Keira membeku.
"Pak Lim..."
Nama itu keluar seperti napas yang sudah lama ditahan.
Pak Lim mengangkat kepala. Ada rindu, hormat, dan rasa bersalah yang tidak ia sembunyikan. "Pak Hendrik menunggu terlalu lama. Keluarga Liem menunggu terlalu lama."
Orang-orang di sekitar mulai berbisik.
Keluarga Liem.
Di Surabaya, nama itu bukan sekadar nama keluarga. Itu nama yang membuat bank membuka pintu tengah malam, membuat proyek pemerintah bergerak, membuat para konglomerat lain menimbang kata sebelum bicara.
Keira menunduk. Jari-jarinya meremas bukti pendaftaran cerai.
"Aku belum siap bertemu Papa," ucapnya lirih.
"Pak Hendrik tahu." Pak Lim memberi isyarat. Seorang pengawal membuka kotak kulit hitam dari dalam mobil. "Karena itu beliau hanya meminta saya menyerahkan ini dulu."
Kotak itu dibuka.
Di dalamnya ada kartu hitam keemasan, permukaannya pekat seperti malam dengan garis emas tipis di tepi. Di bawah kartu itu, terselip berkas kontrak dengan logo Angle Entertainment.
Pak Lim mengambil kartu itu dengan kedua tangan.
"Saldo aktif tiga ratus triliun rupiah, atas nama Nona Keira Liem. Selain itu, mulai hari ini, hak pengelolaan Angle Entertainment kembali kepada Nona."
Bisik-bisik di sekitar berubah menjadi dengung tertahan.
Keira menatap kartu itu.
Beberapa menit lalu, Rayhan berkata ia tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat pulang.
Kini sebuah kartu berisi tiga ratus triliun rupiah berada di depan matanya.
Bukan hadiah belas kasihan.
Melainkan sesuatu yang memang sejak awal miliknya.
Pak Lim membungkuk lagi. "Selamat pulang, Nona Keira."
Untuk sesaat, Keira melihat bayangan dirinya di permukaan kartu. Blus pasar, wajah pucat, mata yang masih menyimpan luka. Namun di balik semua itu, ada nama yang selama tiga tahun ia sembunyikan.
Keira Liem.
Putri bungsu keluarga terkaya di negeri ini.
Keira mengambil kartu itu.
Dingin logamnya menyentuh telapak tangan, membuat sesuatu dalam dadanya ikut tenang.
"Siapkan mobil," katanya.
Pak Lim tersenyum samar. "Ke mana tujuan Nona?"
Keira menatap jalan yang tadi dilalui mobil Rayhan, lalu memalingkan wajah ke arah kontrak Angle Entertainment.
"Ke kehidupan baruku."
Ia menandatangani kontrak itu di atas kap Rolls-Royce, menyimpan kartu hitam keemasan ke dalam tas kain murahnya, lalu masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.
Bab 3: Mertua dari Neraka
Di dalam Rolls-Royce yang dingin dan senyap, tas kain murah di pangkuan Keira tampak seperti benda yang tersesat.
Kartu hitam keemasan itu ada di dalamnya, berdampingan dengan dompet kecil berisi lima puluh ribu rupiah. Dua dunia yang terlalu jauh dipaksa tinggal dalam satu tas yang talinya hampir putus.
Pak Lim duduk di kursi depan. Dari kaca spion, ia beberapa kali melihat Keira, tetapi tidak mendesak.
"Nona ingin langsung ke rumah Pak Kevin?" tanyanya akhirnya.
Keira menatap jalanan Surabaya yang bergerak di balik kaca gelap. Gedung kantor, kafe mahal, toko perhiasan, dan perempuan-perempuan bergaun rapi lewat seperti potongan hidup yang dulu hanya ia lihat dari jauh.
"Belum," jawabnya. "Aku harus mengambil barangku dulu."
"Di Rumah Besar Sutanto?"
"Iya."
Pak Lim terdiam sesaat. "Saya bisa mengirim orang."
Keira menggeleng. "Tidak. Ada beberapa barang yang harus aku ambil sendiri."
Bukan karena barang-barang itu mahal. Justru hampir semuanya murah. Beberapa pakaian pasar, buku catatan lama, foto Almarhum Kong Kong Sutanto, dan satu kotak kecil berisi surat-surat yang ia simpan diam-diam.
Namun setelah tiga tahun menjadi bayangan di rumah itu, Keira ingin keluar dengan kakinya sendiri.
Mobil melambat di kawasan komersial Surabaya Barat. Keira meminta turun sebentar di depan sebuah minimarket premium, berniat membeli plester untuk pergelangan tangannya yang masih merah. Ia menolak ketika pengawal hendak ikut terlalu dekat.
"Tunggu di mobil," katanya.
Baru tiga langkah dari pintu minimarket, suara yang sangat ia kenal memecah udara.
"Keira?"
Nada itu bukan panggilan. Itu tuduhan.
Keira menoleh.
Bu Fenny berdiri di depan restoran kecil yang biasa dipakai para ibu arisan. Di belakangnya ada lima perempuan seusianya, mengenakan tas bermerek dan perhiasan mencolok. Di meja teras, gelas es kopi dan piring kue masih tersusun rapi.
Tatapan Bu Fenny turun ke blus pasar Keira, lalu ke tas kain di tangannya.
Senyumnya langsung miring.
"Pantas saja dari pagi rumah berantakan," ucap Bu Fenny cukup keras agar teman-temannya mendengar. "Ternyata menantuku yang bau miskin ini keluyuran di jam kerja."
Beberapa ibu arisan saling pandang. Ada yang pura-pura menyesap minuman, tetapi telinga mereka jelas mengarah ke sana.
Keira berhenti sepenuhnya.
Dulu, di depan orang lain, ia selalu menunduk.
Hari ini ia mengangkat kepala.
"Jam kerja?" tanya Keira. "Sejak kapan aku pegawai rumah tangga Bu Fenny?"
Wajah Bu Fenny berubah. "Jaga mulutmu."
"Aku hanya bertanya."
"Kau tinggal di rumahku, makan dari uang anakku, memakai nama keluarga Sutanto. Kalau bukan bekerja, apa gunanya kau di sana?" Bu Fenny tertawa pendek. "Istri? Jangan membuatku malu. Istri macam apa yang tidak bisa menjaga suami sampai perempuan lama pulang saja langsung panik?"
Nama Anya tidak disebut, tetapi semua orang paham arah pembicaraan itu.
Salah satu teman arisan Bu Fenny mendekat dengan senyum penasaran. "Ini menantu yang dari panti itu, Fen?"
"Iya," jawab Bu Fenny cepat. "Dulu almarhum mertua kami terlalu baik. Anak panti diangkat, dinikahkan dengan Rayhan. Lihat hasilnya sekarang. Dikasih rumah malah melawan."
Keira memandang perempuan-perempuan itu satu per satu. Wajah mereka tidak kejam sepenuhnya. Sebagian hanya lapar gosip. Namun selama tiga tahun, gosip seperti itulah yang membuat Bu Fenny makin berani menginjaknya.
"Bu Fenny," kata Keira pelan, "kalau Ibu ingin bicara soal kebaikan keluarga Sutanto, kita bicara lengkap."
Bu Fenny menyipit. "Apa maksudmu?"
"Kita bicara tentang gelang berlian yang Ibu sembunyikan sendiri, lalu menuduh aku mencurinya di depan tamu arisan."
Senyum Bu Fenny membeku.
Perempuan itu menoleh cepat. "Gelang yang hilang tahun lalu itu?"
"Tidak hilang," lanjut Keira. "Ada di laci meja rias Bu Fenny. Aku menemukannya dua hari kemudian, tapi Ibu melarangku bicara karena katanya harga diri keluarga lebih penting daripada harga diriku."
"Keira!" bentak Bu Fenny.
Keira tidak berhenti.
"Kita juga bisa bicara tentang saham kecil peninggalan Almarhum Kong Kong Sutanto atas namaku yang Ibu tahan dengan alasan aku tidak mengerti bisnis. Atau tentang malam hujan ketika Ibu menyuruhku berdiri di halaman karena sup untuk Rayhan kurang panas."
Udara di teras restoran seperti berhenti.
Seorang pelayan yang membawa nampan ikut membeku. Dua perempuan arisan menurunkan pandangan. Teman arisan yang tadi bertanya perlahan meletakkan gelasnya.
Bu Fenny maju satu langkah, wajahnya merah. "Kau memfitnah mertuamu sendiri di depan orang?"
"Aku menyebut fakta," jawab Keira. "Kalau Ibu merasa malu, mungkin bukan karena aku berbicara, tapi karena Ibu ingat pernah melakukannya."
"Perempuan tidak tahu diri!"
Tangan Bu Fenny terangkat.
Sebelum tamparan itu turun, Keira menangkap pergelangan tangannya.
Gerakannya cepat, tenang, dan membuat semua orang terkejut. Bu Fenny membelalak, seolah baru sadar menantu yang selama ini diam ternyata punya tenaga.
"Jangan sentuh aku lagi," kata Keira.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Bu Fenny kehilangan kata.
Dari belakang, seorang pengawal Liem yang sejak tadi menjaga jarak langsung mendekat. Jas hitamnya membuat teman-teman arisan Bu Fenny makin pucat.
"Nona?" tanyanya rendah.
Keira melepas tangan Bu Fenny. "Tidak perlu."
Bu Fenny menatap pengawal itu, lalu ke Rolls-Royce yang menunggu di seberang jalan. Untuk pertama kalinya, matanya dipenuhi kebingungan.
"Mobil siapa itu?"
Keira tersenyum tipis. "Bukan urusan Ibu."
Ia masuk ke minimarket, membeli plester, lalu kembali ke mobil tanpa menoleh. Di belakangnya, suara bisik-bisik arisan pecah seperti kaca retak.
Satu jam kemudian, Keira tiba di Rumah Besar Sutanto.
Ia sengaja meminta Pak Lim dan para pengawal menunggu di luar gerbang. Jika ia masuk dengan rombongan Liem, Bu Fenny akan sibuk menebak, Rayhan akan curiga, dan ia belum ingin kartu itu terbuka.
Ia hanya butuh mengambil barang, lalu pergi.
Rumah itu terasa berbeda ketika ia masuk sebagai orang yang sudah memutuskan pergi. Lantai yang biasanya ia pel sampai mengilap tampak asing. Vas bunga yang setiap pagi ia ganti airnya berdiri dingin di sudut ruang tamu.
Di sofa, sebuah tas perempuan berwarna putih tergeletak.
Tas Anya.
Jari Keira berhenti di tali tasnya.
Suara langkah halus terdengar dari arah dapur. Anya muncul dengan gaun lembut warna krem, rambutnya tergerai rapi, dan di tangannya ada kunci rumah.
"Keira," sapa Anya dengan senyum manis. "Kau pulang juga."
Pulang.
Kata itu terdengar kotor di mulut Anya.
"Aku mengambil barangku," jawab Keira.
Anya mengangkat kunci di jarinya. "Rayhan memberiku ini. Katanya aku boleh datang kapan saja. Bu Fenny juga sudah meminta pelayan menyiapkan kamar tamu untukku."
Keira menatap kunci itu, lalu wajah Anya.
"Selamat," katanya datar. "Kau akhirnya mendapat rumah yang kau incar."
Senyum Anya menipis, tetapi hanya sedetik. Ia melangkah mendekat dengan wajah sedih yang sangat terlatih.
"Jangan salah paham. Aku tidak pernah ingin merebut apa pun darimu."
"Pesan WhatsApp-mu semalam berkata sebaliknya."
Mata Anya berkilat.
Namun ketika ia bicara, suaranya tetap lembut. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kau memang pengganti, Keira. Rayhan menikahimu karena Almarhum Kong Kong Sutanto memaksa. Kalau bukan karena itu, bahkan bayanganmu tidak akan masuk ke hidupnya."
Keira diam.
Anya makin dekat, cukup dekat sampai aroma parfumnya menusuk hidung.
"Kau sudah mengajukan cerai, kan?" bisiknya. "Bagus. Setidaknya kau tahu diri."
Keira melewati Anya menuju tangga. "Minggir."
Anya menangkap lengannya. "Jangan bersikap seolah kau yang meninggalkan Rayhan. Semua orang tahu kau dibuang."
Keira menoleh. "Lepaskan."
"Atau apa?"
Keira menarik tangannya dari genggaman Anya. Gerakan itu tidak keras. Namun Anya tiba-tiba membelalakkan mata, tubuhnya oleng, lalu menjatuhkan diri ke lantai dekat meja kaca.
Brak.
Vas kecil jatuh dan pecah.
Anya meringis, air mata langsung muncul seolah sudah menunggu giliran.
"Keira..." suaranya bergetar. "Kenapa kau mendorongku?"
Pintu utama terbuka pada saat yang terlalu tepat.
Rayhan masuk dengan langkah cepat. Matanya langsung menangkap Anya yang terduduk di lantai, pecahan vas di sekelilingnya, dan Keira yang berdiri di tangga.
Wajahnya mengeras.
"Keira!" Suaranya memenuhi ruang tamu. "Kau apakan Anya?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!