Indonesia
NovelToon NovelToon

Amnesia: Ternyata Aku Pewaris Hartono

Episode 1

Bab 1: Surat Cerai

"Tanda tangani surat cerai itu, Anisa."

Suara Galang Gondokusumo jatuh di ruang kerja seperti pisau yang baru diasah. Tidak tinggi, tidak kasar, tetapi cukup dingin untuk membuat ujung jari Anisa membeku di atas pangkuannya.

Di hadapannya, selembar dokumen sudah terbuka rapi. Kertas putih, tinta hitam, dua kolom tanda tangan di bagian bawah. Semua tampak bersih, seolah tiga tahun pernikahan mereka memang hanya urusan administrasi yang bisa diselesaikan dalam beberapa menit.

Anisa menatap nama Galang di halaman pertama. Lalu matanya turun pada namanya sendiri.

Anisa Gondokusumo.

Nama itu bahkan terasa asing hari ini.

"Mas Galang," panggilnya pelan. "Kenapa tiba-tiba?"

Galang berdiri di dekat jendela. Kemeja putihnya licin tanpa kerut, jam tangannya berkilat mahal di bawah cahaya sore Surabaya. Di luar, halaman kediaman Gondokusumo tampak basah setelah hujan singkat. Di dalam, ruangan itu terlalu dingin, terlalu bersih, terlalu tidak seperti rumah.

"Tidak tiba-tiba," jawabnya. "Aku sudah memikirkannya lama."

Dada Anisa seperti diremas. Ia tahu rumah ini tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulangnya. Sejak tiga tahun lalu, sejak ia ditemukan tanpa ingatan dan dibawa masuk ke keluarga Gondokusumo, ia hidup seperti bayangan di sudut ruangan. Ia mengurus rumah, menemani acara keluarga, menunggu Galang pulang, menerima tatapan miring para pelayan, dan menelan setiap kalimat yang mengatakan ia tidak pantas.

Namun, ia tetap bertahan.

Karena Galang pernah menjadi orang pertama yang memberinya tempat ketika ia tidak tahu siapa dirinya.

Karena ia pernah berpikir, kalau ia cukup sabar, suatu hari pria itu akan melihatnya.

Ternyata, yang dilihat Galang hanya jalan keluar.

"Apa karena Sherly?" tanya Anisa.

Jari Galang yang semula mengetuk meja berhenti.

Satu detik itu sudah cukup menjadi jawaban.

Anisa menelan rasa pahit di tenggorokannya. "Dia kembali?"

"Ya."

Satu kata. Ringan. Seolah kepulangan perempuan itu otomatis berarti Anisa harus pergi.

"Dan karena dia kembali, aku harus menandatangani ini?" Anisa menunjuk surat cerai itu. Suaranya bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap duduk tegak. "Begitu mudahnya?"

Galang menoleh. Matanya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seorang suami yang sedang mengakhiri pernikahan.

"Sejak awal kamu tahu posisi kamu."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Anisa menatapnya lama. "Posisiku?"

"Pernikahan ini terjadi karena keadaan," kata Galang. "Kamu tidak punya ingatan, tidak punya keluarga, tidak punya tempat tujuan. Engkong kasihan padamu. Aku juga tidak menolak karena saat itu Sherly belum kembali."

Jadi begitu.

Kasihan. Bukan cinta. Bukan tanggung jawab. Hanya kasihan yang sudah habis masa berlakunya.

Anisa menunduk, menatap cincin tipis di jarinya. Cincin pernikahan itu tidak pernah terasa hangat. Galang jarang menyentuh tangannya. Mereka tidak pernah memiliki foto mesra selain satu foto formal di hari pernikahan, foto yang digantung di dinding samping rak buku, dengan senyum Anisa yang canggung dan wajah Galang yang datar.

"Tiga tahun ini aku melakukan semua yang bisa kulakukan," ucap Anisa. "Aku tidak pernah meminta apa pun. Aku tidak pernah mempermalukan keluarga ini. Saat kamu pulang larut, aku menunggu. Saat keluarga kamu merendahkanku, aku diam. Saat kamu sakit, aku yang menjaga semalaman."

"Aku tidak memintamu melakukan semua itu."

Napas Anisa terhenti.

Galang mengatakannya tanpa ragu. Seolah pengabdian tiga tahun itu memang kesalahan Anisa sendiri.

"Mas," bisiknya, "apa aku benar-benar tidak berarti apa-apa untukmu?"

Untuk pertama kalinya, Galang tampak sedikit terusik. Namun, hanya sedikit. Ia mengambil map cokelat di atas meja dan meletakkannya di depan Anisa.

"Aku sudah menyiapkan kompensasi. Jumlahnya cukup untuk hidup beberapa tahun. Kamu bisa pergi dari Surabaya, mulai hidup baru."

Anisa tidak membuka map itu. Ia merasa kalau ia menyentuhnya, seluruh harga dirinya akan ikut hancur.

"Aku bukan pegawai yang kamu PHK."

"Jangan mempersulit."

"Aku istrimu."

"Mantan istri," potong Galang. "Setelah kamu tanda tangan."

Ruangan itu mendadak sunyi. Dari luar terdengar suara roda koper pelayan yang lewat di koridor, lalu menjauh. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang bertanya mengapa nyonya rumah mereka sedang dipaksa keluar.

Mungkin semua orang sudah tahu.

Mungkin sejak pagi, hanya Anisa yang belum diberi kabar bahwa hidupnya akan dibongkar.

Ia mengangkat wajah. "Apa Sherly tahu kamu melakukan ini hari ini?"

"Dia tidak perlu terlibat."

Anisa tertawa kecil, hampa. "Tidak perlu terlibat? Mas Galang, bahkan namanya saja cukup membuatmu membuangku."

Wajah Galang mengeras. "Jaga ucapanmu."

"Kenapa? Aku salah?" Anisa menatapnya. Air mata sudah panas di pelupuk, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. "Bukankah selama ini aku memang hanya pengganti? Dia pergi, aku masuk. Dia kembali, aku keluar."

Galang berjalan mendekat. "Kamu tahu aku mencintai Sherly sebelum menikah denganmu."

"Aku tahu." Suara Anisa mengecil. "Tapi aku tidak tahu bahwa selama tiga tahun, aku tidak pernah punya kesempatan sedikit pun."

Mata Galang bergerak sekilas ke arah foto pernikahan di dinding. Anisa mengikuti pandangannya.

Foto itu tampak ganjil sejak dulu. Ia mengenakan kebaya putih sederhana, wajahnya pucat karena baru beberapa bulan keluar dari perawatan setelah ditemukan di laut. Galang berdiri di sampingnya dengan jas hitam, jaraknya sopan, hampir dingin. Tidak ada tangan yang saling menggenggam. Tidak ada bahu yang bersentuhan.

Pernikahan mereka bahkan dalam foto pun tampak seperti kontrak.

"Kesempatan itu hilang sejak setahun lalu," kata Galang.

Tubuh Anisa menegang.

Ia tahu apa yang akan disebut pria itu. Malam yang selalu menjadi duri paling busuk dalam hidupnya.

"Mas, aku sudah bilang berkali-kali. Aku tidak tahu kenapa aku ada di hotel itu."

"Kamu bangun di kamar pria asing."

"Aku dibius!"

"Tidak ada bukti."

Anisa berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser. "Karena tidak ada yang mau membantuku mencari bukti. Kamu bahkan tidak bertanya siapa yang membawaku ke sana. Kamu hanya melihatku keluar dari hotel, lalu memutuskan aku kotor."

Galang menatapnya dingin. "Jangan pakai kata itu kalau kamu sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi."

Ingatannya tentang malam itu selalu patah-patah. Minuman manis di pesta amal keluarga Permata. Kepala yang berat. Lampu lift yang kabur. Bau parfum asing. Seprai putih. Pagi dengan pakaian kusut, tubuh lemah, dan Galang berdiri di depan pintu kamar dengan mata penuh jijik.

Ia tidak ingat wajah pria di kamar itu.

Ia hanya ingat rasa malu yang menempel seperti noda yang tidak bisa dicuci.

"Aku korban," ucap Anisa. Kali ini air matanya jatuh satu titik. "Tapi kamu membuatku merasa seperti pelaku."

Galang diam beberapa detik.

Untuk sesaat, Anisa berharap ada retak di wajahnya. Sedikit saja. Sebuah tanda bahwa pria itu masih manusia yang pernah duduk di samping ranjangnya ketika ia demam, walau hanya karena diminta Engkong Gondokusumo.

Namun, Galang hanya mengambil pulpen dari atas meja.

"Tanda tangan."

Harapan kecil itu mati.

Anisa memandang pulpen itu seolah benda tersebut bisa menggigit. "Kalau aku menolak?"

"Kamu tetap harus pergi." Galang meletakkan pulpen tepat di atas dokumen. "Aku tidak akan membiarkan Sherly kembali ke hidup yang penuh bayanganmu."

Bayangan.

Anisa ingin tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu sakit.

Jadi di rumah ini, bahkan sebagai manusia pun ia tidak diakui. Ia hanya bayangan yang mengganggu cahaya perempuan lain.

"Apa dia meminta kamu menceraikanku?"

"Ini keputusanku."

"Tentu." Anisa mengangguk pelan. "Semua keputusan buruk selalu terdengar lebih bersih kalau kamu menyebutnya keputusanmu sendiri."

Mata Galang menyipit. "Anisa."

"Aku tanda tangan." Anisa mengambil pulpen. Jarinya gemetar begitu keras sampai ujung pena menyentuh kertas dengan suara kecil. "Tapi setelah ini, jangan pernah mengatakan aku yang meninggalkan pernikahan ini."

Galang tidak menjawab.

Anisa membungkuk. Nama yang selama tiga tahun ia pakai tertulis di bawah kolom pihak istri. Ia menatapnya lama. Tidak ada ingatan masa kecil di balik nama itu. Tidak ada keluarga. Tidak ada akar. Hanya hidup yang diberikan orang lain, lalu dirampas lagi.

Ia menandatangani dokumen itu.

Tinta hitam mengering cepat.

Aneh. Sesuatu yang menghancurkan hidupnya bisa selesai secepat itu.

Ketika ia mengangkat tangan, ujung jarinya terkena tepi kertas. Goresannya tipis, tetapi cukup membuat darah keluar. Setetes merah jatuh ke halaman terakhir surat cerai.

Anisa refleks menarik napas.

Galang mengambil dokumen itu, tetapi tetes darah lain sempat mengenai foto kecil yang diselipkan di map, salinan foto pernikahan mereka. Darah merambat di bagian gaun putih Anisa dalam gambar, seperti bunga merah yang salah tempat.

Anisa menatap foto itu.

Dulu ia pernah menyimpan foto yang sama di meja rias. Setiap kali Galang tidak pulang, ia menatapnya dan meyakinkan diri bahwa setidaknya mereka pernah berdiri berdampingan. Hari ini, foto itu tampak seperti bukti pembunuhan.

Foto pernikahan berdarah.

"Lukamu kecil," kata Galang setelah melihat jarinya.

Kecil.

Anisa menekan jarinya dengan tisu. Luka di kulit memang kecil. Yang lain tidak.

"Aku boleh mengambil barangku?" tanyanya.

"Pelayan sudah mengemasnya."

Anisa membeku. "Kamu bahkan sudah mengemas barangku?"

"Lebih praktis."

Jawaban itu membuat sesuatu di dalam dirinya patah dengan bunyi yang hanya ia sendiri bisa dengar.

Ia tidak lagi menangis. Tidak ada tenaga.

Di depan pintu ruang kerja, dua koper kecil sudah menunggu. Hanya dua. Tiga tahun hidupnya di rumah ini ternyata muat dalam dua koper kecil, seperti tamu yang terlalu lama menginap.

Seorang pelayan menunduk canggung saat Anisa keluar. Tidak ada yang berani menatap matanya. Anisa menarik pegangan koper sendiri. Roda kecilnya berbunyi kasar di atas lantai marmer.

Galang berjalan di belakangnya sampai foyer, tidak terlalu dekat, seperti mengantar seseorang yang tidak ingin ia sentuh.

Di pintu utama, hujan mulai turun lagi. Gerimis tipis menyapu halaman, membuat udara Surabaya lembap dan abu-abu.

Anisa berhenti sejenak. "Setelah aku pergi, kamu akan menikahi Sherly?"

Galang tidak langsung menjawab.

Itu cukup.

Anisa mengangguk. "Semoga kali ini kamu benar-benar bahagia."

Kalimat itu keluar tanpa dendam. Justru karena terlalu lelah untuk membenci.

Galang menatap punggungnya saat ia menuruni tangga. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, cepat dan samar, tetapi ia tidak memanggil.

Anisa berjalan melewati gerbang kediaman Gondokusumo tanpa payung. Uang kompensasi dalam map ia tinggalkan di meja. Ia hanya membawa dua koper, cincin pernikahan yang terasa dingin di jari, dan luka yang tidak tahu harus dibawa ke mana.

Di lantai dua, dari balik tirai kamar tamu, seorang perempuan menurunkan ponselnya dari telinga.

Sherly Permata tersenyum tipis.

Ia baru saja mendengar kabar dari orang dalam bahwa surat cerai sudah ditandatangani. Cepat sekali. Galang memang selalu mudah diarahkan kalau menyangkut namanya.

"Dia sudah keluar?" tanya Sherly ke ponsel.

Suara pria di seberang menjawab pendek. "Sudah, Nona. Jalan kaki. Tidak bawa mobil."

Sherly memandang kuku jarinya yang dipoles merah muda lembut. Warna yang selalu Galang bilang cocok untuknya karena terlihat manis.

"Bagus."

"Perintah selanjutnya?"

Senyum Sherly tidak berubah. Di luar, Anisa tampak kecil di balik hujan, berjalan menjauh dari gerbang besar yang selama ini tidak pernah benar-benar menerimanya.

"Pastikan perempuan itu mati," ucap Sherly pelan. "Jangan sampai ada yang bisa menghubungkan ini denganku."

"Baik."

Panggilan terputus.

Sherly menyimpan ponselnya, lalu membetulkan rambut di depan cermin kecil. Wajahnya kembali lembut, matanya kembali basah seolah ia perempuan paling rapuh di dunia.

Di bawah sana, Anisa terus berjalan dalam gerimis.

Ia tidak tahu bahwa pernikahan yang baru saja berakhir bukan luka terakhir hari itu.

Ia juga tidak tahu bahwa di belakangnya, seseorang sudah memutuskan hidupnya harus ikut berakhir bersama nama Anisa Gondokusumo.

Episode 2

Bab 2: Hujan dan Darah

Hujan di Surabaya turun makin rapat ketika Anisa meninggalkan gerbang Kediaman Gondokusumo.

Koper di tangan kanannya terseret pincang karena salah satu rodanya tersangkut celah paving. Koper di tangan kiri lebih ringan, tetapi pegangannya melukai telapak yang masih basah. Ia tidak punya payung. Tidak punya mobil. Tidak punya alamat yang bisa ia tuju dengan yakin.

Di belakangnya, gerbang besi besar tertutup perlahan.

Bunyi klik dari sistem otomatis itu terdengar terlalu final.

Anisa berhenti di tepi jalan, menoleh sekali. Rumah besar itu berdiri angkuh di balik pagar tinggi, lampu-lampunya menyala hangat seperti tidak baru saja mengusir seseorang. Selama tiga tahun, ia bangun sebelum matahari untuk memastikan rumah itu punya sarapan hangat. Ia mengingat obat Galang saat pria itu sakit maag. Ia menyiapkan jasnya sebelum rapat penting. Ia menunggu di ruang makan sampai nasi dingin, lalu memanaskannya lagi kalau Galang pulang larut.

Sekarang, bahkan pos satpam pun tidak menawarkan tempat berteduh.

"Bu, hujan deras," suara seorang penjaga terdengar dari balik kaca pos. Nadanya canggung, bukan iba. "Mungkin bisa pesan taksi online."

Anisa menatap ponsel di genggamannya. Layarnya retak tipis di sudut, baterai tersisa tujuh persen. Akun transportasi online masih memakai kartu pembayaran Galang. Ia menatap ikon aplikasi itu beberapa detik, lalu mematikan layar.

Ia tidak mau membawa apa pun yang terhubung dengan pria itu.

"Terima kasih," jawabnya pendek.

Penjaga itu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun, matanya bergerak ke kamera CCTV di atas gerbang, lalu ia diam.

Anisa mengerti. Di rumah itu, bahkan kebaikan kecil pun harus meminta izin.

Ia menarik kedua koper dan mulai berjalan.

Air hujan menempel di rambutnya, turun ke leher, menyusup ke balik kerah blus tipis yang tadi pagi ia pilih dengan hati-hati. Tadi pagi ia masih berpikir mungkin Galang akan makan malam di rumah. Ia bahkan sempat meminta dapur menyiapkan sup kesukaannya.

Lucu.

Hari ini ia menyiapkan makanan untuk suami yang sudah menyiapkan perceraian.

Di persimpangan depan kompleks, jalan mulai ramai. Motor melaju cepat, ban menyibak genangan. Sebuah mobil hitam melewati lubang dan air kotor menyiprat ke ujung rok Anisa. Ia menunduk. Noda cokelat menyebar di kain krem itu, tetapi ia tidak punya tenaga untuk marah.

Ia hanya terus berjalan.

Rasa lapar datang pelan. Sejak pagi ia belum makan. Dalam ruang kerja Galang, perutnya terlalu tegang untuk mengingat makanan. Sekarang, setelah tubuhnya diguyur hujan, lututnya mulai lemas.

Di depan minimarket kecil, Anisa berhenti. Lampunya terang. Orang-orang masuk keluar membawa kantong plastik, tertawa, mengeluh soal hujan, menelepon keluarga agar dijemput. Hal-hal biasa yang tiba-tiba terasa mewah.

Ia merogoh tas kecilnya.

Dompetnya ada, tetapi isinya hanya beberapa lembar uang tunai. Kartu yang selama ini ia pakai adalah kartu rumah tangga Gondokusumo. Galang bisa memblokirnya kapan saja. Mungkin sudah.

Anisa membeli sebotol air mineral paling murah. Kasir muda menatap koper dan rambut basahnya dengan rasa ingin tahu yang disembunyikan.

"Mau sekalian plastik besar, Bu? Biar barangnya tidak basah."

Anisa hampir menggeleng, lalu melihat map kecil berisi beberapa dokumen pribadi di tasnya. "Satu saja."

Saat menerima kembalian, jarinya kembali terasa perih. Luka kecil dari kertas surat cerai terbuka karena air hujan. Darah tipis bercampur air di ujung jarinya.

Ia menekan luka itu dengan tisu dari minimarket.

Luka kecil.

Kata Galang.

Anisa tersenyum tanpa suara. Kalau Galang melihat tubuhnya hancur sekalipun, mungkin pria itu tetap akan menyebutnya kecil selama Sherly tidak terganggu.

Ponselnya bergetar.

Tidak ada nama Galang di layar. Tidak ada pesan apa pun. Hanya notifikasi baterai lemah.

Anisa menelan kecewa yang seharusnya tidak lagi ia miliki. Untuk apa ia menunggu pesan dari pria yang bahkan sudah mengemas barangnya sebelum bicara?

Ia mematikan ponsel agar baterainya bertahan, lalu keluar dari minimarket.

Langit makin gelap. Hujan turun miring diterpa angin. Jalan raya di depan kompleks berkilau oleh lampu kendaraan. Trotoar tidak rata, beberapa bagian tertutup genangan. Anisa menyeret koper lebih dekat ke tubuhnya, mencoba melindungi tas dari hujan.

Di seberang jalan, sebuah van abu-abu terparkir dengan mesin menyala.

Di dalam van itu, seorang pria memegang setir sambil menatap Anisa dari kaca depan. Ponselnya tergeletak di paha, layar masih menampilkan pesan singkat.

Target keluar. Sendiri. Jangan gagal.

Pria itu mengusap wajah. "Nona kaya memang gila," gumamnya. "Masalah cinta saja sampai begini."

Ia menyalakan wiper. Karet wiper menyapu kaca, memperjelas sosok Anisa yang berjalan pelan di bawah hujan. Tidak ada pengawal. Tidak ada saksi yang benar-benar memperhatikan. Hujan selalu membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri.

Ponsel pria itu bergetar lagi.

Nomor tanpa nama.

Ia menjawab dengan earphone kecil. "Saya lihat dia."

Suara Sherly masuk, lembut tetapi dingin. "Jangan terlalu dekat dengan gerbang. Cari titik yang sepi."

"Di jalan depan sudah ramai."

"Makanya tunggu."

Pria itu menatap spion. "Kalau ada CCTV?"

"Aku tidak membayarmu untuk bertanya."

Diam sebentar.

"Baik," jawab pria itu akhirnya.

Panggilan terputus. Tangannya mengencang di setir.

Di luar, Anisa berbelok ke jalan yang lebih kecil, berharap menemukan halte atau tempat berteduh. Ia tidak mengenal kawasan itu dengan baik. Selama menjadi istri Galang, ia jarang pergi sendiri. Kalau keluar, selalu ada sopir keluarga. Kalau ingin mengunjungi pasar atau toko bunga, pelayan akan bertanya dulu untuk apa.

Hidupnya selama tiga tahun ternyata tidak hanya miskin kasih sayang. Ia juga miskin kebebasan.

Sebuah suara klakson membuatnya tersentak.

Motor lewat terlalu dekat. Anisa mundur, tumitnya menginjak genangan, tubuhnya oleng. Koper kecil jatuh ke samping. Beberapa pakaian keluar karena resletingnya tidak tertutup sempurna.

Ia berjongkok di bawah hujan, memungut pakaian satu per satu.

Blus sederhana. Cardigan lama. Satu kotak kecil berisi obat sakit kepala. Foto pernikahan salinan yang entah kenapa masih diselipkan pelayan di antara barangnya.

Anisa memegang foto itu.

Darah di salinan lain tadi mungkin sudah mengering. Foto di tangannya masih bersih, tetapi wajah di dalamnya terasa mati. Ia hampir merobeknya. Hampir.

Lalu ia berhenti.

Entah kenapa, ia memasukkan foto itu kembali ke koper. Bukan karena ia ingin menyimpannya sebagai kenangan. Mungkin karena suatu hari ia perlu mengingat bahwa ada masa ketika ia pernah serendah ini.

Saat ia berdiri, kepalanya berputar.

Jalan di depannya kabur. Lampu kendaraan memanjang seperti garis-garis kuning. Ia memegang tiang rambu di dekatnya, menarik napas pelan.

"Kenapa..." bisiknya.

Pertanyaan itu bukan hanya untuk Galang. Bukan hanya untuk Sherly yang ia belum tahu wajah aslinya malam ini. Pertanyaan itu untuk langit, untuk tubuhnya yang lelah, untuk hidup yang memberinya nama tanpa akar dan rumah tanpa pintu pulang.

Kenapa aku?

Apa salahku?

Dari ujung jalan, van abu-abu mulai bergerak.

Pelan pada awalnya. Lalu makin cepat.

Anisa mendengar suara mesin menembus hujan. Ia menoleh, tetapi cahaya lampu depan langsung menusuk matanya. Terlalu dekat. Terlalu cepat.

Tangannya masih memegang pegangan koper.

Tubuhnya membeku satu detik, hanya satu detik, tetapi satu detik itu cukup untuk membuat dunia berubah.

Klakson panjang membelah jalan.

Benturan itu datang seperti ledakan.

Anisa merasa tubuhnya terangkat dari tanah. Koper terlepas. Botol air mental ke selokan. Payung seseorang di kejauhan jatuh. Hujan, lampu, aspal, semuanya berputar tanpa bentuk.

Lalu ia menghantam jalan.

Sakit datang terlambat, kemudian menyapu semuanya.

Ia tidak bisa berteriak. Udara seperti hilang dari paru-parunya. Pipinya menempel pada aspal basah. Ada rasa besi di mulut. Di dekat wajahnya, air hujan berubah warna, membawa merah tipis mengalir ke garis putih jalan.

Van itu tidak berhenti lama. Pintu samping sempat terbuka sedikit, sepasang mata memastikan tubuhnya tidak bergerak. Lalu kendaraan itu melaju pergi, menelan diri ke balik hujan dan deretan lampu.

Beberapa orang mulai berteriak.

"Astaga! Ada yang ketabrak!"

"Panggil ambulans!"

"Plat nomornya kelihatan?"

Suara-suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dasar air. Anisa mencoba menggerakkan jari. Tidak bisa. Kelopak matanya berat, tetapi ia memaksa tetap terbuka.

Di jalan utama yang berjarak beberapa meter, sebuah mobil hitam mewah melambat karena kemacetan kecil akibat kecelakaan.

Di kursi belakang, Galang menatap layar ponselnya. Sherly baru saja mengirim pesan.

Kamu sudah makan? Jangan lupa istirahat. Aku khawatir.

Galang membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat. Sopir di depan melirik kerumunan di pinggir jalan.

"Pak, sepertinya ada kecelakaan."

Galang mengangkat wajah sekilas. Dari balik kaca mobil yang basah, ia melihat orang-orang berkumpul, lampu motor berhenti, seseorang berjongkok di jalan. Namun, hujan menutup semuanya. Ia tidak bisa melihat wajah perempuan yang tergeletak di sana.

"Jalan saja kalau bisa lewat," katanya.

"Baik, Pak."

Mobil itu bergerak pelan melewati lokasi kecelakaan.

Saat ban mobil Galang melewati genangan di dekat tubuhnya, percikan air dingin mengenai tangan Anisa yang terentang di aspal. Cincin pernikahan di jarinya memantulkan cahaya lampu mobil sebentar, lalu redup lagi tertutup darah dan hujan.

Anisa tidak tahu mobil siapa yang baru saja lewat.

Mungkin lebih baik begitu.

Matanya menatap samar ke arah lampu belakang yang menjauh. Dalam kabur kesadaran, ia hanya melihat warna merah, merah yang sama dengan darah di foto pernikahan tadi.

Kenapa...

Aku sudah pergi...

Kenapa masih tidak boleh hidup?

Suara sirene belum terdengar. Hujan jatuh di wajahnya, membasuh air mata yang bahkan tidak ia sadari keluar.

Napasnya tersendat. Dunia mengecil menjadi suara air, bau aspal basah, dan sakit yang perlahan berubah menjadi dingin.

Pikiran terakhir Anisa sebelum gelap menelannya hanya satu.

Apa benar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mencariku?

Episode 3

Bab 3: Kebangkitan

Gelap tidak menjawab pertanyaan Anisa.

Gelap hanya menelannya, lama sekali, sampai suara hujan berubah menjadi bunyi lain. Titik air menjadi tetes infus. Aspal basah menjadi seprai kasar. Bau darah dan jalanan perlahan berganti dengan bau antiseptik yang menusuk hidung.

Ketika Anisa membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukan lega.

Sakit.

Sakit itu seperti paku panas yang ditancapkan dari belakang kepalanya, lalu diputar pelan sampai seluruh tubuhnya ikut gemetar. Ia ingin mengangkat tangan, tetapi lengannya terasa berat. Ada selang infus tertempel di punggung tangan. Pergelangan kirinya dibalut. Rusuknya seperti diremas setiap kali ia bernapas.

"Nona? Anda sudah sadar?"

Suara perempuan muda terdengar dekat. Anisa mencoba menoleh, tetapi kepalanya langsung disambar nyeri.

"Jangan bergerak dulu," kata perawat itu cepat. "Anda mengalami kecelakaan. Saya panggil dokter."

Kecelakaan.

Kata itu jatuh ke dalam kepalanya seperti batu ke sumur.

Hujan. Koper. Lampu van. Benturan.

Anisa memejamkan mata. Napasnya tersengal. Potongan gambar datang terlalu cepat, membuat perutnya mual. Gerbang Gondokusumo tertutup. Surat cerai. Darah di foto pernikahan. Galang yang berkata, `Tanda tangan.`

Ia membuka mata lagi dengan susah payah.

"Saya di mana?" Suaranya serak, hampir tidak terdengar.

"Rumah sakit, Bu. Di Surabaya." Perawat mengecek monitor di samping ranjang. "Anda ditemukan di jalan tiga malam lalu. Ada warga yang memanggil ambulans."

Tiga malam.

Anisa menatap langit-langit putih. Jadi ia tidak mati. Entah siapa yang membawanya, entah siapa yang membayar perawatan awal, tubuhnya masih ada di dunia ini.

Namun, hidup terasa seperti kamar asing.

"Ada keluarga yang bisa kami hubungi?" tanya perawat itu lebih pelan. "Dari awal Anda tidak membawa identitas lengkap. Ponsel Anda rusak. Kami hanya menemukan nama Anisa di beberapa barang."

Keluarga.

Kata itu membuat dada Anisa terasa kosong.

Keluarga mana?

Gondokusumo bukan lagi keluarganya. Galang bahkan mungkin tidak tahu ia di sini. Atau tahu dan memilih diam. Ia tidak punya orang tua dalam ingatan. Tidak punya saudara. Tidak punya siapa pun yang akan panik ketika namanya dipanggil di ruang gawat darurat.

"Tidak ada," jawabnya.

Perawat itu terdiam sebentar. Wajahnya berubah iba, lalu cepat ditutup dengan profesionalitas. "Istirahat dulu. Dokter akan segera datang."

Anisa mengangguk kecil.

Begitu perawat pergi, ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara monitor yang berdetak teratur. Di luar jendela, langit siang terlihat pucat. Tirai setengah tertutup, membiarkan garis cahaya jatuh di lantai.

Anisa menatap tangannya.

Di jari manisnya, cincin pernikahan masih ada.

Entah kenapa benda itu belum hilang saat kecelakaan. Lingkaran dingin itu menempel di kulit yang membiru, seperti ejekan terakhir dari hidup yang baru ia tinggalkan.

Ia mencoba menarik cincin itu.

Jarinya bengkak. Sakit menyengat membuat napasnya tertahan. Ia berhenti, lalu tertawa pelan tanpa suara. Bahkan setelah bercerai, ia belum bisa melepaskan benda itu.

Tiba-tiba kepalanya berdenyut lebih keras.

Anisa menutup mata. Bukan sakit biasa. Ada sesuatu yang bergerak di balik tengkoraknya, seperti pintu yang selama ini terkunci tiba-tiba dipukul dari dalam.

Sebuah suara laki-laki tua muncul dalam ingatan.

`Keira, jangan lari terlalu jauh. Engkong tidak bisa mengejarmu.`

Anisa membuka mata.

Siapa?

Suara itu hangat, serak, penuh tawa tertahan. Ia melihat kilatan halaman luas, pohon kamboja tua, tangan kecilnya menggenggam layangan berwarna biru. Lalu gambar itu pecah.

Nyeri menusuk lagi.

Ia menggigit bibir.

Gambar lain datang.

Seorang perempuan memeluknya dari belakang, aroma sabun mahal dan teh melati menempel di baju. `Keira, rambutmu basah. Nanti sakit.`

Keira.

Nama itu kembali.

Kali ini lebih jelas.

Anisa mencengkeram seprai dengan tangan yang tidak diinfus. Jantungnya berdetak liar.

Bukan Anisa.

Ada nama lain.

Keira.

Keira siapa?

Pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk bersama perawat tadi. Dokter itu paruh baya, berkacamata, membawa tablet medis.

"Selamat siang. Anda sudah sadar sepenuhnya?"

Anisa menatapnya. Fokusnya berusaha kembali pada ruangan nyata. "Kepala saya sakit sekali."

"Itu wajar setelah benturan keras. Ada trauma kepala, beberapa memar, dan retak ringan di tulang rusuk. Untungnya tidak perlu operasi besar." Dokter memeriksa respons pupilnya dengan senter kecil. "Anda ingat nama Anda?"

Pertanyaan sederhana itu membuat lidah Anisa kelu.

Selama tiga tahun, jawabannya selalu mudah.

Anisa.

Sekarang nama itu terasa seperti pakaian basah yang bukan miliknya.

"Saya..." Ia berhenti.

Dokter menunggu.

Di belakang matanya, potongan lain meledak.

Ruang kerja gelap dengan layar komputer berlapis kode. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sebuah ikon burung api muncul di monitor, diikuti suara sintetis perempuan.

`Chaos, akses berhasil.`

Chaos.

Anisa terengah.

Layar komputer berganti menjadi ruang operasi terang. Sarung tangan bedah. Darah. Suara seseorang berkata panik, `Tekanan turun!` Lalu suaranya sendiri, tenang dan tegas, menjawab, `Clamp. Sekarang.`

Ia melihat tangannya sendiri memegang pisau bedah.

Tidak.

Itu mustahil.

Ia bukan dokter. Ia hanya istri yang gagal. Perempuan tanpa keluarga, tanpa uang, tanpa tempat pulang.

Namun ingatan itu tidak terasa seperti mimpi. Tubuhnya mengenali berat alat bedah. Jarinya mengenali posisi keyboard. Kepalanya mengenali pola kode yang berlarian seperti bahasa ibu.

"Bu?" Dokter memanggilnya lagi. "Nama Anda?"

Anisa menatap dokter dengan mata melebar.

"Keira," bisiknya.

Perawat saling pandang dengan dokter.

"Maaf?"

Napas Anisa bergetar. Air mata tiba-tiba mengumpul, bukan karena sedih saja, tetapi karena ada bagian dirinya yang selama ini terkubur mulai mencakar keluar.

"Nama saya..." Ia menekan pelipisnya. "Saya tidak tahu lengkapnya. Tapi saya bukan hanya Anisa."

Dokter segera memberi isyarat pada perawat. "Tenang. Jangan paksa ingatan Anda. Trauma kepala bisa memicu ingatan lama, tetapi kalau dipaksa, sakitnya bisa memburuk."

Anisa hampir tidak mendengar.

Keira.

Nama itu berputar di kepalanya, memecahkan dinding demi dinding.

Ia melihat wajah seorang pria muda berseragam gelap, memanggilnya `Kapten`. Ia melihat deretan mobil hitam di depan rumah besar. Ia mendengar suara beberapa pria memanggil serempak, `Nona Besar.`

Nona Besar.

Panggilan itu membuat seluruh tubuhnya merinding.

Siapa yang mereka panggil?

Aku?

Dokter menyuntikkan obat pereda nyeri melalui selang infus. "Anda harus istirahat. Kami akan lakukan pemeriksaan lanjutan. Kalau ada keluarga atau siapa pun yang Anda ingat, beri tahu kami."

Keluarga.

Kali ini kata itu tidak lagi kosong.

Ada bayangan meja makan panjang. Ada tawa laki-laki muda. Ada seorang anak perempuan kecil berlari melewati lorong, lalu suara tua memanggilnya dengan kesal yang penuh sayang.

`Keira Hartono!`

Anisa, atau Keira, membuka mata lebar.

Hartono.

Nama itu muncul seperti kilat membelah langit.

Ia tahu nama itu. Bukan dari koran bisnis, bukan dari pembicaraan keluarga Gondokusumo, melainkan dari tempat yang jauh lebih dalam. Nama itu seperti pintu rumah yang lama tertutup.

Keluarga Hartono.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai monitor di samping ranjang ikut berbunyi lebih cepat. Perawat mendekat, tetapi Keira mengangkat tangan lemah.

"Saya..." Suaranya serak. "Saya harus mengingat sesuatu."

"Nanti, Bu. Jangan sekarang."

"Ada orang yang mencari saya."

Kalimat itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya.

Perawat itu terdiam.

Keira menatap langit-langit lagi. Air mata mengalir ke pelipis. Pertanyaan terakhir sebelum pingsan kembali menghantamnya.

Apa benar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mencariku?

Ternyata mungkin ada.

Mungkin selama ini ada seseorang. Banyak orang. Mungkin ia bukan perempuan yang jatuh dari langit tanpa asal. Mungkin namanya, keluarganya, seluruh hidupnya, menunggu di balik kabut yang sekarang mulai sobek.

Sore turun perlahan.

Obat membuat tubuhnya lemah, tetapi tidurnya tidak tenang. Ia beberapa kali terbangun oleh potongan ingatan yang saling bertabrakan. Suara Galang bercampur dengan suara seorang pria memanggil `adik`. Wajah Sherly yang manis berubah menjadi kilatan lampu van. Di sela semuanya, nama Keira terus memanggilnya dari dalam.

Menjelang malam, koridor rumah sakit mendadak lebih ramai.

Keira sedang setengah terjaga ketika ia mendengar langkah sepatu yang berbeda dari langkah perawat. Lebih teratur. Lebih berat. Lalu suara seseorang berbicara rendah di luar kamar.

"Kamar ini?"

"Iya, Pak. Tapi pasien harus banyak istirahat."

"Saya hanya perlu melihatnya."

Pintu terbuka.

Seorang pria paruh baya masuk lebih dulu. Tubuhnya tegap meski rambut di pelipisnya sudah memutih. Setelan jasnya rapi, tetapi matanya merah seperti seseorang yang menahan tangis terlalu lama. Di belakangnya berdiri pria muda bertubuh besar dengan pakaian gelap, wajah waspada, pandangan menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Keira.

Keira menatap mereka.

Ia tidak mengenal wajah pria paruh baya itu sepenuhnya. Namun, begitu pria itu melangkah mendekat, tubuhnya bereaksi lebih dulu. Ada rasa aman yang aneh, tua, dan familiar, seperti bau rumah yang lama hilang.

Pria itu berhenti di sisi ranjang. Bibirnya bergetar.

"Nona Besar..."

Dua kata itu menghantam sisa kabut di kepala Keira.

Matanya memanas.

"Siapa..." Ia hampir tidak bisa bersuara. "Siapa Anda?"

Pria itu menunduk dalam, bukan seperti orang asing memberi hormat, tetapi seperti seseorang yang akhirnya menemukan nyawa yang hilang.

"Saya Om De." Suaranya pecah halus. "Maafkan saya terlambat."

Di belakangnya, pengawal itu menunduk. "Aqil, Nona."

Keira menggenggam seprai. Nama Om De tidak utuh di kepalanya, tetapi dadanya tahu. Ada bagian dirinya yang ingin menangis, ingin bertanya, ingin memanggil seseorang pulang.

Om De mengangkat wajah. Air matanya sudah jatuh, tetapi ia tetap berdiri dengan sikap paling hormat.

"Nona Besar," ucapnya, setiap kata seperti ditahan agar tidak hancur, "kami sudah mencari Anda selama empat tahun."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!