Gaun satin berwarna sage green itu menjuntai anggun hingga menyapu mata kaki. Potongan A-line yang sederhana dipadukan dengan renda bermotif bunga pada bagian lengan dan pinggang, membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berlebihan. Sebuket mawar putih tergenggam di kedua tangannya, sebagai hadiah kecil untuk hari pernikahan sahabatnya.
Ballroom Hotel Mahardika dipenuhi cahaya keemasan yang memantul dari deretan lampu kristal di langit-langit ruangan. Di ujung ballroom, sebuah altar bernuansa putih gading berdiri megah, dihiasi lengkungan bunga mawar putih, lily, baby's breath, dan dedaunan eucalyptus yang menjuntai anggun. Kelopak-kelopak mawar tersebar di sepanjang lorong menuju altar, sementara alunan biola dan piano mengalir lembut, menyatu dengan riuh percakapan para tamu yang terus berdatangan.
Para pelayan berbalut seragam hitam bergerak lincah membawa nampan berisi canapé, minuman, dan segelas sampanye yang berkilau diterpa cahaya lampu. Tawa kecil terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu saling berpelukan setelah lama tak bertemu, sebagian lain sibuk mengabadikan dekorasi pernikahan dengan ponsel mereka. Sesekali terdengar pujian mengenai kemewahan pesta yang diselenggarakan keluarga kedua mempelai.
"Katanya dekorasinya didatangkan langsung dari Jakarta."
"Wedding organizer-nya memang langganan artis."
"Pantas saja sebagus ini."
Percakapan-percakapan semacam itu terdengar samar di telinga Nadira. Tangannya tanpa sadar merapikan kembali ujung gaun yang dikenakan Tiba-tiba dia teringat amplop tagihan yang masih tersimpan di dalam laci meja kasir Toko Buku Senja. Jumlahnya bahkan cukup untuk membayar sebagian dekorasi bunga yang menghiasi altar di hadapannya.
Nadira segera mengusir pikiran itu. Hari ini adalah hari bahagia Raina. Ia tidak ingin membiarkan kekhawatiran tentang toko buku atau kondisi keuangannya merusak senyum yang sejak pagi ia usahakan tetap terlihat tulus. Ia menarik napas pelan, membenarkan buket bunga di tangannya lalu kembali berdiri di posisi semula tepat ketika musik pembuka mulai dimainkan.
Sebelum pelaksanaan janji suci terucap sekitar dua puluh menit lagi, Nadira berkesempatan mendatangi Raina di ruang make up pengantin.
“Nad…” panggil Raina ketika kehadiran Nadira sudah terlihat di pintu.
“Cantik banget sahabatku.” Nadira memeluk Raina hati-hati agar tidak merusak tatanan gaun atau hiasan di kepalanya.
Ruangan serba putih ini mampu membius siapapun yang melihatnya, termasuk Nadira. “Kamu pengantin tercantik yang pernah aku lihat,” ucap Nadira.
“Aku deg-degan banget nih! Gimana dong!” Raina memegang dadanya yang berdetak lebih cepat, tangannya juga berkeringat dingin.
Nadira meraih kursi di dekat Raina, mereka berhadapan dengan tangan saling menggenggam. “Aku terharu liat kamu sampai dititik ini. Satria bakal jadi suami yang baik dan kamu akan jadi istri yang berbakti. I belive you.”
Mata Raina mulai berkaca-kaca, membuat Nadira buru-buru meraih tisu di meja rias dan menghalangi tangis bahagia itu mengotori riasan wajah cantik sahabatnya.
“Siap?” Nadira menginterupsi. Sedangkan, Raina tersenyum sambil mengangguk.
Suara biola yang semula mengalun lembut perlahan berganti menjadi lagu prosesi. Percakapan para tamu mereda, berganti keheningan yang dipenuhi senyum dan tatapan penuh harap menuju pintu utama ballroom.
Di saat yang hampir bersamaan, pintu ballroom kembali terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang dipadukan kemeja putih dan dasi berwarna abu-abu gelap. Rambutnya tertata rapi, sementara wajahnya memancarkan ketenangan yang sulit diabaikan. Beberapa tamu yang mengenalnya mengangguk sopan, dibalas Arga Wijaya dengan senyum tipis sebelum ia berjalan menuju deretan kursi di sisi depan.
"Lo telat lima menit."
Satria yang sudah berdiri di dekat altar, menyempatkan diri berbisik pelan ketika Arga melewatinya.
"Masih sempat, kan?" lirih Arga.
"Untung aja."
Keduanya tersenyum singkat sebelum Arga menempati kursi yang telah disediakan untuk keluarga dan sahabat dekat mempelai.
Tak lama kemudian, seluruh tamu berdiri ketika pintu ballroom kembali terbuka. Raina melangkah memasuki ruangan dengan gaun pengantin putih yang menjuntai anggun, berjalan perlahan didampingi ayahnya menuju altar. Musik memenuhi ruangan, sementara setiap pasang mata tertuju pada calon pengantin perempuan yang sesekali tampak menahan haru. Di belakang Raina, para bridesmaid mengikuti dengan langkah yang teratur.
Tanpa sengaja, perhatian Arga berhenti pada salah satu dari mereka. Gaun sage green yang dikenakan perempuan itu sederhana, tanpa aksesoris mencolok. Rambutnya ditata dalam sanggul rendah yang rapi, membiarkan beberapa helai rambut membingkai wajahnya. Ia menggenggam buket bunga dengan kedua tangan sambil sesekali membantu merapikan ekor gaun Raina agar tidak tersangkut di lantai.
Arga merasa wajah itu tidak asing. Mencoba mengingat wajah siapakah yang dia kenali, tetapi dia masih bimbang.
Ia segera mengalihkan pandangan ketika prosesi pemberkatan dimulai. Pendeta mempersilakan kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan mereka. Ruangan kembali hening, hanya menyisakan suara penuh keyakinan dari Satria dan Raina yang saling berjanji untuk tetap bersama dalam suka maupun duka.
Prosesi pemberkatan berakhir dengan tepuk tangan meriah. Setelah sesi foto bersama keluarga inti selesai, suasana ballroom kembali dipenuhi suara percakapan dan tawa para tamu yang mulai membaur. Alunan musik berganti menjadi lebih ringan, sementara para pelayan berkeliling menawarkan minuman dan hidangan pembuka.
Di sudut dekat altar, Satria akhirnya mengembuskan napas lega. "Akhirnya nikah juga gue, bro."
Arga yang baru menghampiri terkekeh pelan. Satria menatapnya dengan mata memicing. “Gandengan lo mana? Sendirian aja.”
“Lagi sibuk cewek gue.”
“Lo nggak putus, kan? Katanya ada rencana buat lamaran. Nggak jadi?” celetuk Satria.
Raina menyenggol pelan lengan suaminya. “Semoga Bianca cepet kelar, ya, urusannya biar bisa nemenin kamu, Ga.”
Arga hanya tersenyum menanggapi, meski hatinya bergelut dengan banyak pikiran aneh belakangan ini.
"Oh iya," ujar Raina tiba-tiba, matanya menyapu kerumunan tamu. "Nadira ke mana, ya?"
"Tadi masih bantuin WO di belakang," jawab Satria.
Raina melambaikan tangan ke arah seorang perempuan yang baru saja keluar dari area belakang ballroom.
"Nad! Sini sebentar!"
Perempuan itu menoleh lalu berjalan menghampiri mereka sambil membawa senyum tipis. Gaun berwarna sage green yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya. Setelah cukup dekat, ia lebih dulu memeluk Raina singkat sebelum mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Maaf, tadi aku bantu beresin buket yang jatuh."
"Nggak apa-apa," jawab Raina sambil menggandeng lengannya. "Aku mau kenalin seseorang."
Nadira baru mengalihkan pandangannya ke arah pria yang berdiri di samping Satria. Begitu pula Arga. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa detik.
Arga mengernyit pelan, seolah sedang mengingat sesuatu yang lama tersimpan di sudut memorinya. Kini dia mulai mengingat satu nama "... Nadira?"
Perempuan itu tersenyum kecil, kali ini dengan raut wajah yang tak kalah terkejut.
"Arga?"
Raina mengedarkan pandangan bergantian.
"Lho, kalian ternyata saling kenal?"
"Kami satu fakultas waktu kuliah," jawab Nadira lebih dulu. "Cuma udah lama banget nggak ketemu."
Arga mengangguk pelan. Kini ia benar-benar mengenali wajah itu. Dia bercerita “Dulu waktu mau skripsian gue sering banget ke perpustakaan. Suatu ketika gue bingung nyari buku tapi petugasnya nggak ada. Nadira notice gue lagi kebingungan. Akhirnya dibantuin sama dia. Sebenernya malu, sih. Karena Nadira adik tingkat. Dia semester dua, sementara gue semester delapan.”
“Itu udah lama banget kejadiannya. Dari situ kita banyak ngobrol,” ujar Nadira.
“Oh, ngobrol … kirain jatuh cinta.” Satria meledek tetapi mulutnya dibungkam oleh Raina sebelum berbicara lebih panjang lagi. “Nanti kalau kedengaran Bianca dihajar kamu, sayang.” Raina memperingatkan.
“Udahlah, gausah dipikirin. Kayaknya kita juga mau selesai.”
Perkataan Arga mengundang perhatian.
“Jadi putus beneran?” Rania terkaget.
Saat Arga akan mengangkat suara, dering telepon berbunyi berasal dari ponsel Nadira. Begitu melihat kontak yang tertera, Nadira langsung kebingungan.
“Aku pamit dulu ya semuanya, aku harus pergi.” Nadira melengos begitu saja.
“Nad! Kamu kenapa? Are you okay?”
Ucapan Raina tidak digubris. Dari sorot matanya, Raina yakin Nadira menyembunyikan sesuatu. “Dia kenapa, ya?”
“Ada urusan mendadak mungkin,” jawab Satria menenangkan.
Malam semakin larut ketika satu per satu tamu mulai meninggalkan ballroom. Suara musik yang sejak sore memenuhi ruangan kini terdengar semakin pelan, berganti dengan kesibukan para kru yang mulai membereskan dekorasi dan meja resepsi.
Arga menyalami Satria untuk terakhir kalinya sebelum berjalan menuju area parkir hotel. Udara malam menyambutnya begitu pintu otomatis terbuka. Ia mengembuskan napas panjang, melonggarkan sedikit dasinya, kemudian menekan tombol remote mobil hingga lampu sedan hitamnya berkedip dua kali.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ponsel di saku jasnya bergetar. Tertera nama Dimas Prakoso. Arga mengernyit sesaat. Sudah hampir pukul sembilan malam. Jarang sekali pengacara keluarga menghubunginya di luar jam kerja.
"Selamat malam, Pak Dimas."
"Selamat malam, Tuan Arga. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?"
Terdengar jeda beberapa detik di seberang sana.
"Saya menghubungi Anda terkait surat wasiat mendiang Kakek Wijaya."
Arga memicingkan mata. "Bukankah semua urusan warisan sudah selesai sejak beberapa tahun lalu?"
"Itulah yang ingin saya jelaskan. Masih ada satu ketentuan terakhir yang belum terpenuhi."
Arga terdiam, menunggu penjelasan berikutnya.
"Dalam surat wasiat tersebut, mendiang Bapak Wijaya menetapkan bahwa hak kepemimpinan penuh atas Wijaya Group baru dapat dialihkan kepada Anda apabila Anda telah menikah sebelum usia tiga puluh tahun."
Jemari Arga tanpa sadar menggenggam ponselnya lebih erat.
"Dan usia saya ...."
"Tinggal tiga puluh hari lagi sebelum tiga puluh tahun."
"Kalau syarat itu tidak terpenuhi?" tanyanya akhirnya.
"Rapat dewan akan menunjuk pemimpin sementara sesuai ketentuan dalam wasiat sampai syarat tersebut dipenuhi."
Arga mengembuskan napas pelan. Rasanya lebih seperti lelucon daripada kenyataan.
"Baik. Besok pagi saya datang ke kantor Anda."
"Saya tunggu, Tuan Arga."
Sambungan telepon terputus.
Arga tetap berdiri di samping mobilnya, menatap kosong ke arah lampu-lampu kota yang mulai redup. Dalam hidupnya, ia telah menghadapi negosiasi bisnis bernilai miliaran rupiah, mengambil keputusan besar untuk perusahaan, bahkan memimpin ribuan karyawan.
Namun, kali ini ia dihadapkan pada persoalan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Menikah.
Dalam waktu tiga puluh hari.
Keesokan paginya, Gedung Wijaya Group sudah dipenuhi aktivitas para karyawan yang berlalu-lalang. Lift eksekutif berhenti di lantai delapan, disusul langkah mantap Arga Wijaya yang keluar dengan setelan jas abu-abu gelap. Seperti biasa, setiap orang yang berpapasan menyapanya dengan hormat.
"Selamat pagi, Pak Arga."
"Pagi, Pak."
Arga membalas dengan anggukan singkat. Wajahnya tetap tenang, nyaris tak memperlihatkan apa pun. Laki-laki itu pandai menutupi wajahnya yang kelelahan karena semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.
Begitu memasuki ruang kerjanya, Arga langsung melepaskan jas dan meletakkannya di sandaran kursi. Di atas meja telah tersusun beberapa map berisi laporan keuangan, proposal kerja sama, hingga agenda rapat dewan direksi yang harus dipimpinnya pagi itu.
Biasanya, sebelum pukul sepuluh semua dokumen itu sudah selesai ia baca. Hari ini berbeda. Hanya separuh dokumen yang Arga sentuh. Tatapannya justru berhenti pada kalender tatakan yang berada di meja kerja.
Tanggal dua puluh tujuh bulan ke tujuh. Sementara hari kelahirannya pada tanggal dua puluh lima bulan ke delapan. Jika wasiat itu benar, masih ada waktu untuk mempersiapkan pernikahan, bukan?
Arga menoleh ketika pintu ruangannya diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya.
"Selamat pagi, Pak." Vania membawakan tablet dan secangkir kopi hitam yang menjadi kesukaan atasannya.
"Rapat dengan divisi investasi dimulai tiga puluh menit lagi. Setelah itu ada penandatanganan kerja sama dengan Sakura Holdings." Sebagai sekretaris, Vania sangat menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas.
"Tunda semua jadwalku sampai siang." Arga terdiam beberapa saat. “Hubungi Pak Dimas Prakoso, saya mau berbicara empat mata dengannya. Untuk saat ini, saya mau mengurus sesuatu dengan pengacara itu. Setelahnya, baru kita atur agenda yang lain.”
"Baik, Pak. Akan saya hubungi segera." Vania langsung bertindak. Selang lima belas menit, dia kembali menemui Arga.
“Pak Dimas sudah mengkonfirmasi pertemuan pukul sebelas."
"Saya berangkat sekarang."
Kantor hukum Dimas Prakoso berada tidak jauh dari kantor pusat Wijaya Group.
Ruangan itu terasa tenang. Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh sisi dinding, dipenuhi dokumen hukum yang tersusun rapi. Aroma kopi dan kertas memenuhi udara.
Dimas berdiri menyambut kedatangan Arga. "Silakan duduk."
Arga langsung mengambil tempat di hadapan meja kerja pria paruh baya itu.
"Saya ingin penjelasan lengkap,” ucap Arga cepat pada topik pembicaraan.
Dimas mengangguk pelan sebelum mengambil sebuah map cokelat dari laci mejanya.
"Ini salinan resmi surat wasiat mendiang Bapak Wijaya."
Map itu berpindah ke tangan Arga. Perlahan ia membuka halaman demi halaman hingga matanya berhenti pada satu paragraf yang sudah semalam disebutkan melalui telepon.
"Hak kepemimpinan penuh atas Wijaya Group diberikan kepada cucu saya, Arga Wijaya, apabila ia telah menikah sebelum genap berusia tiga puluh tahun."
Arga mengembuskan napas panjang.
"Kenapa syarat sepenting ini tidak dibicarakan sejak awal? Kakek saya sudah meninggal sejak lima bulan lalu."
“Anda tidak bertanya lebih lanjut tentang hal lainnya, Pak Arga,” Jawab Dimas yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dari Arga.
“Itu kewajiban anda selaku pengacara untuk menerangkan pada saya.” Arga tak mau kalah.
“Anda terlalu senang menerima semua kekuasaan itu tanpa tahu persyaratan yang lain.”
Arga tersenyum sinis. “Anda berpihak pada siapa sebenarnya.”
"Almarhum pernah berkata bahwa perusahaan sebesar ini tidak cukup dipimpin oleh orang yang cerdas. Pemimpinnya juga harus mampu membangun keluarga. Tujuannya untuk menjaga keberlangsungan."
Dimas membuka lembar berikutnya. "Selama syarat itu belum terpenuhi, hak kepemimpinan penuh belum dapat dialihkan kepada Anda. Dewan komisaris berhak menunjuk pemimpin sementara untuk mengambil keputusan strategis perusahaan."
Arga mengernyit. "Jadi posisiku sebagai CEO bisa digantikan?"
"Bukan digantikan tetapi kewenangan Anda akan sangat terbatas." Dimas memilih kosa katanya dengan hati-hati. “Saya tidak memihak kepada siapapun, Pak Arga. Saya hanya menjalankan tugas.”
Melihat respon Arga yang hanya mematung, membuat Dimas kembali bersuara. "Syaratnya hanya menikah. Tidak cukup berat menurut saya. Apalagi kalau tidak salah, Anda sudah bertunangan dengan Nona Bianca."
Arga tersenyum hambar. "Hubungan kami sedang tidak baik."
"Apakah masih bisa diselamatkan?"
Arga tidak langsung menjawab. Ia mengingat beberapa bulan terakhir Bianca semakin sering menolak makan malam bersama. Pesan-pesannya mulai dibalas singkat. Telepon yang biasanya berlangsung berjam-jam kini hanya beberapa menit. Mereka masih bertahan, tetapi sama-sama tahu ada sesuatu yang berubah.
"Saya tidak tahu,” singkat Arga menjawab.
Dimas mengangguk pelan. "Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda."
"Tidak apa-apa."
"Namun, jika memang Anda ingin memenuhi wasiat itu ..." Sebagai pengacara, Dimas berhak memberikan solusi. "... Anda tidak punya banyak waktu."
Keluar dari kantor Dimas, Arga langsung menuju mobilnya. Baru saja pintu tertutup, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuatnya terdiam beberapa detik.
Bianca Calling...
Tanpa berpikir panjang, ia mengangkatnya.
"Ga ..."
Suara Bianca terdengar pelan.
"Kita bisa ketemu hari ini?"
Arga memejamkan mata sejenak. "Aku juga memang mau ketemu kamu."
"Sore nanti?"
"Boleh."
"Aku tunggu di cafe biasa."
Telepon terputus. Selama beberapa detik Arga hanya menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Entah kenapa, ada firasat yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Sore harinya, di cafe kecil kawasan Senopati mulai dipenuhi pengunjung yang baru pulang bekerja. Tempat itu bukan sesuatu yang asing bagi Arga maupun Bianca.
Di sinilah mereka pertama kali sepakat menjalin hubungan tiga tahun lalu.
Arga datang lebih dulu. Secangkir americano di depannya sudah mulai dingin ketika Bianca akhirnya muncul. Perempuan itu masih secantik biasanya. Blazer krem dipadukan dress putih sederhana membuat penampilannya tetap elegan. Namun, senyumnya tidak lagi sehangat dulu.
"Maaf, buat kamu menunggu.” Bianca menyapa.
Arga tersenyum sambil menggeleng. Menatap Bianca yang mengambil kursi di depannya. Padahal dahulu, perempuan itu senang sekali menyandar di bahunya sehingga mereka sering duduk bersebelahan.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Suara mesin kopi dan percakapan pengunjung lain justru terasa lebih jelas dibanding keheningan di antara mereka.
"Aku dengar kamu sibuk." Bianca membuka percakapan.
"Seperti biasa."
"Kamu kelihatan capek."
Arga tersenyum tipis. "Semalam memang nggak tidur."
Bianca menundukkan pandangan. "Ga..." panggilnya lirih.
"Hm?"
"Aku rasa kita harus menyelesaikan semuanya."
Kalimat itu membuat jemari Arga yang menggenggam cangkir berhenti bergerak. "Maksud kamu?"
Bianca menarik napas panjang. "Aku nggak bisa lanjut."
Arga memandang perempuan di depannya cukup lama, seolah berharap kalimat berikutnya akan mengubah arti ucapan itu.
"Aku minta maaf."
"Karena pekerjaanmu?"
Bianca menggeleng.
"Lalu?" tanya Arga lagi.
"Aku cuma merasa..." Bianca tersenyum pahit. "...hubungan kita sudah lama berubah."
Arga ingin menyangkal. Ingin mengatakan bahwa semuanya masih bisa diperbaiki tetapi jauh di dalam hati, ia tahu Bianca tidak sepenuhnya salah.
Kesibukan membuat mereka semakin jauh. Pertemuan berubah menjadi formalitas. Telepon hanya membahas jadwal. Tidak ada lagi mimpi yang mereka bangun bersama.
"Jadi ini keputusanmu?"
Bianca mengangguk pelan.
"Sudah tidak bisa berubah?"
"Maaf."
Arga mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bianca bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Percayalah..." Ia berhenti beberapa detik. "...aku nggak pernah berniat menyakitimu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Bianca berbalik dan berjalan meninggalkan cafe.
Arga tetap duduk di tempatnya. Tidak mengejar ataupun memanggil Bianca supaya kembali kepadanya. Beberapa jam yang lalu ia masih berpikir Bianca adalah jawaban atas syarat wasiat kakeknya. Kini Perempuan itu juga telah pergi.
“Padahal aku mau mengajaknya menikah.” Arga tersenyum hambar. Menyayangkan segalanya berakhir disaat yang benar-benar dia butuhkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arga tidak hanya berpacu dengan waktu. Ia juga harus mencari seseorang yang bersedia menjadi istrinya sebelum hitungan itu berakhir.
Aroma kertas dan kopi menjadi hal pertama yang menyambut Nadira setiap kali membuka pintu Toko Buku Senja.
Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika ia memutar papan kecil bertuliskan TUTUP menjadi BUKA. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar di bagian depan, menerangi rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku berbagai genre.
Toko itu tidak besar. Hanya dua lantai dengan dinding berwarna krem serta hiasan dinding dengan beberapa lukisan pada abad pertengahan. Di sudut ruangan terdapat beberapa meja baca, lengkap dengan tanaman hias yang sengaja dirawat Nadira agar pengunjung merasa nyaman berlama-lama. Meski sederhana, tempat itu selalu terasa seperti rumah. Rumah yang dibangun dari mimpi ayahnya.
"Selamat pagi, Mbak Nad." Suara Maya, pegawai paruh waktu yang masih kuliah, memecah lamunannya.
"Pagi, May."
"Semalam pulang dari nikahan jam berapa?"
"Hampir jam sepuluh."
"Wah, pasti capek."
Nadira hanya tersenyum kecil.
Kalau dipikir-pikir, rasa lelahnya bukan karena menghadiri pesta pernikahan Raina. Melainkan karena setelah pulang, ia masih harus menghitung pemasukan toko yang lagi-lagi tidak mencapai target.
Semalam Nadira menerima telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa ada beberapa orang datang ke rumah menagih cicilan bank. Dia tidak bercerita pada siapapun. Dia tidak mau membebani Raina yang sedang bahagia setelah menikah malah ikut menanggung kesedihannya.
Maya mulai menyalakan komputer kasir.
"Semoga hari ini ramai." Ucapan itu terdengar seperti doa yang setiap pagi mereka ulang.
Menjelang pukul sepuluh, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Seorang ibu membeli buku cerita anak. Dua mahasiswa mencari buku referensi. Seorang bapak paruh baya datang hanya untuk membaca koran sambil memesan kopi.
Semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ramai. Namun cukup untuk membuat toko tetap hidup.
Nadira berdiri di balik meja kasir sambil menghitung hasil penjualan pagi itu. Belum sampai lima ratus ribu rupiah. Ia menghela napas pelan.
Dulu, saat ayahnya masih hidup, akhir pekan seperti ini selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan beberapa orang rela duduk lesehan karena seluruh kursi penuh.
Kini banyak orang lebih memilih membeli buku secara daring. Sebagian lagi beralih membaca versi digital. Toko Buku Senja perlahan kehilangan pengunjungnya.
"Mbak." Maya memanggil pelan. "Ada kurir."
Seorang pria berseragam ekspedisi menyerahkan sebuah amplop putih. "Atas nama Nadira Pramesti."
"Terima kasih." Tanpa berpikir panjang, Nadira langsung membukanya. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Logo bank yang tercetak di pojok kiri atas membuat dadanya mendadak sesak. Matanya membaca setiap kalimat dengan perlahan. Apabila dalam waktu empat belas hari tidak dilakukan pembayaran tunggakan sesuai ketentuan, pihak bank berhak mengambil langkah hukum sesuai perjanjian kredit. Tangannya mulai bergetar.
"Mbak Nad...?" Maya memperhatikan perubahan raut wajah atasannya.
"Nggak apa-apa." Nadira buru-buru melipat kembali surat itu. Suaranya tidak lagi setenang tadi.
Menjelang siang, toko kembali sepi. Maya sibuk menyusun buku-buku baru di rak bagian belakang. Sementara Nadira duduk sendiri di meja kasir. Tatapannya tertuju pada sebuah foto berbingkai yang diletakkan di sudut meja.
Di dalam foto itu tampak seorang pria paruh baya tersenyum hangat sambil merangkul dirinya yang masih mengenakan seragam SMA.
"Ayah ..." Nadira mengusap bingkai foto itu perlahan. "Aku masih berusaha." Suara itu nyaris hanya berupa bisikan. Kenangan kembali memenuhi kepalanya.
Dulu, ayahnya sering berkata bahwa toko buku bukan sekadar tempat menjual buku. "Kalau orang pulang membawa satu buku, berarti kita ikut mengubah hidup satu orang." Kalimat itu yang membuat Nadira bertahan sampai sekarang.
Meski keuntungan semakin kecil. Meski cicilan semakin berat. Meski semua orang menyarankan agar toko itu dijual. Ia tidak pernah benar-benar sanggup melepaskannya.
Bel pintu kembali berbunyi. Seorang pria berkemeja biru masuk sambil membawa map hitam. "Selamat siang. Saya dari Bank Nusantara."
Jantung Nadira kembali berdegup lebih cepat.
"Saya hanya ingin memastikan Ibu sudah menerima surat peringatan yang kami kirim pagi ini."
Nadira mengangguk pelan. "Sudah."
"Kami berharap Ibu segera menghubungi pihak bank."
"Saya sedang mengusahakannya."
Pria itu tersenyum sopan. "Kami memahami kondisi Ibu tetapi keputusan akhir tetap berada di kantor pusat."
Setelah mengucapkan salam, pria itu kembali pergi. Maya yang sedari tadi pura-pura menyusun buku akhirnya mendekat.
"Mbak..."
"Iya?"
"Itu soal pinjaman toko, ya?"
Nadira tersenyum kecil. "Iya."
"Parah?"
Nadira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap rak-rak buku yang memenuhi ruangan. Setiap sudut toko menyimpan kenangan bersama ayahnya. Di sana ayahnya mengajarinya menghitung uang hasil penjualan. Di sana mereka pernah tertawa karena listrik mati saat hujan deras. Di sana pula ayahnya mengembuskan napas terakhir setelah terkena serangan jantung beberapa tahun lalu.
Bagaimana mungkin ia menjual semua kenangan itu?
"Selama toko ini masih berdiri aku akan mempertahankannya." Nadira berkata pelan.
Maya mengangguk. "Kalau butuh bantuan, bilang aja ya, Mbak."
"Terima kasih."
Menjelang sore, seorang anak kecil berlari masuk sambil menggandeng tangan ibunya.
"Mama yang kemarin!" Anak itu menunjuk sebuah buku dongeng bergambar kelinci.
Ibunya tersenyum meminta maaf. "Maaf ya, Mbak. Dia memang suka sekali ke sini."
"Nggak apa-apa." Nadira mengambil buku yang dimaksud lalu menyerahkannya kepada anak itu.
Wajah bocah kecil itu langsung berbinar. "Terima kasih, Kak." Hanya dua kata sederhana cukup membuat hati Nadira terasa sedikit lebih hangat.
Mungkin inilah alasan ayahnya tidak pernah menyerah. Karena selalu ada seseorang yang menemukan kebahagiaan lewat sebuah buku.
Menjelang toko tutup, Nadira kembali membuka laci meja kasir. Surat dari bank masih berada di sana. Ia menggenggam amplop putih itu erat-erat.
Empat belas hari.
Waktu yang bahkan lebih singkat daripada yang ia bayangkan. Jika tidak berhasil melunasi tunggakan, bukan hanya tokonya yang akan hilang. Melainkan seluruh kenangan yang selama ini ia jaga atas nama ayahnya.
Nadira menarik napas panjang sebelum melipat kembali surat itu. Jemarinya masih terasa dingin. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin ketika Maya menghampiri.
"Mbak, nggak apa-apa?"
"Iya."
"Yakin?"
Nadira mengangguk sambil memaksakan senyum. "Cuma surat dari bank."
Maya menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mendengar pembicaraan Nadira dengan pihak bank melalui telepon, tetapi tak pernah berani bertanya lebih jauh.
"Apa masih soal cicilan?"
"Iya."
"Kalau boleh tahu, masih banyak?"
Nadira tidak langsung menjawab. Ia membuka laci kasir, mengambil buku catatan keuangan yang sampulnya mulai lusuh, lalu membalik beberapa halaman.
"Beberapa bulan terakhir pemasukan terus turun." Ia menunjukkan deretan angka yang ditulis rapi dengan tinta biru. "Kalau begini terus, aku nggak bisa nutup cicilan bulan depan."
Maya memandang buku itu dengan perasaan bersalah. "Maaf ya, Mbak. Aku malah nambah beban karena harus digaji."
Nadira langsung menggeleng. "Jangan bilang begitu. Kalau bukan karena kamu, aku nggak mungkin bisa ngurus toko sendirian."
Maya tersenyum tipis. "Kalau memang lagi susah, gajiku bisa ditunda."
Nadira spontan menatapnya. "Nggak."
"Tapi, Mbak—"
"Nggak boleh."
Nada suara Nadira terdengar lebih tegas daripada biasanya.
"Ayah selalu bilang, orang yang bekerja sama kita jangan sampai pulang dengan perasaan haknya diambil."
Kalimat itu membuat Maya terdiam. Ia baru menyadari satu hal. Walaupun sedang berada dalam kesulitan, Nadira tidak pernah sekalipun mengurangi hak orang lain.
"Terima kasih, Mbak."
Nadira hanya tersenyum kecil. "Sekarang bantu aku bikin promo akhir pekan."
"Promo?"
"Iya."
"Diskon?"
"Bukan."
Nadira berpikir sejenak. "Gimana kalau beli dua buku gratis kopi?"
Mata Maya langsung berbinar. "Itu bagus!"
"Atau bikin tantangan membaca buat anak-anak."
"Wah, seru tuh!"
Keduanya mulai menuliskan beberapa ide di atas kertas kecil. Nadira masih ingin berusaha sebelum menyerah. Sekitar satu jam kemudian, seorang pelanggan tetap datang memasuki toko. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum ramah.
"Seperti biasa, Mbak. Novel sejarah terbaru sudah datang?"
"Sudah." Nadira mengambil satu buku dari rak bagian atas lalu menyerahkannya.
Pak Hendra membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya mengangguk puas. "Kalau bukan karena toko ini, saya mungkin sudah berhenti beli buku."
Nadira tersenyum. "Kenapa memangnya, Pak?"
"Di toko besar rasanya beda." Pria itu memandang sekeliling. "Di sini saya selalu merasa seperti datang ke rumah teman."
Ucapan sederhana itu membuat hati Nadira menghangat. "Terima kasih."
"Jangan sampai tutup ya, Mbak."
Kalimat itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, dada Nadira kembali terasa sesak. Ia hanya mampu mengangguk pelan.
Pak Hendra membayar bukunya lalu berpamitan. Begitu pintu kembali tertutup, Maya menatap Nadira sambil tersenyum.
"Tuh kan."
"Hm?"
"Masih banyak yang sayang sama Toko Buku Senja."
Nadira memandang rak-rak kayu yang memenuhi ruangan. Benar. Mungkin jumlah mereka tidak sebanyak dulu. Masih ada orang-orang yang datang bukan hanya untuk membeli buku. Mereka datang karena merasa memiliki tempat ini dan selama masih ada satu saja orang yang percaya pada Toko Buku Senja. Nadira ingin terus memperjuangkannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!