Langit di atas Rocking Spur Ranch berubah warna jingga kehijauan tiga hari yang lalu, dan sejak itu tidak ada satu pun kereta pos yang lewat.
Elena Cross berdiri di teras rumah kayunya, satu tangan menopang punggung, satu tangan lagi menggenggam senapan lever-action mendiang suaminya. Perutnya sudah delapan bulan, besar dan keras seperti tong wiski penuh. Di kejauhan, ternak-ternak yang tadinya tenang kini mengembik dan melenguh liar, berlarian menabrak pagar seolah ada sesuatu yang mengejar mereka—sesuatu yang tak terlihat.
Lalu bau itu datang. Bau daging busuk bercampur belerang, terbawa angin gurun yang tiba-tiba terasa dingin di tengah teriknya Juli.
"Bu Cross!" Seorang buruh ranch, Tommy, berlari dari arah kandang kuda, wajahnya pucat pasi. "Sapi-sapi di padang selatan... mereka— mereka jadi sesuatu yang lain, Bu. Matanya... matanya bercahaya."
Elena tidak sempat bertanya lebih jauh. Sesosok bayangan besar—dulunya seekor banteng jantan—menabrak pagar kayu seolah itu hanya ranting kering. Kulitnya sudah membusuk di beberapa bagian, memperlihatkan otot yang berdenyut dengan cahaya ungu pucat.
Elena mengangkat senapan, menarik pelatuk. Satu tembakan tepat di antara kedua matanya. Makhluk itu roboh, namun dua lagi muncul dari balik bukit berdebu.
Di saat genting itulah, sesuatu yang aneh terjadi.
Sebuah cahaya keemasan berkelebat di depan matanya, dan muncullah kotak transparan melayang setinggi dada—seperti peti besi tembus pandang yang tidak mematuhi hukum alam.
> **[SISTEM GUDANG PERBEKALAN TANPA BATAS TELAH DIAKTIFKAN]**
> **[Selamat, Penjaga Terpilih. Anda kini memiliki akses ke Gudang Abadi.]**
> **[Syarat aktivasi: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.]**
Elena mengerjap. Dunia sedang runtuh, ternaknya berubah jadi monster, dan dia baru saja diberi semacam... gudang ajaib?
Tidak ada waktu untuk bingung. Dua makhluk itu semakin dekat, mendengus dan mengeluarkan suara seperti besi berkarat digesek batu.
"Butuh senjata," gumamnya, setengah putus asa, setengah penasaran.
Kotak cahaya itu berdenyut, lalu dari dalamnya meluncur keluar sebuah peti amunisi penuh, dan di sampingnya—senapan berburu dengan teleskop yang jelas bukan buatan tahun ini.
Elena tidak sempat bertanya dari mana asalnya. Ia menyambar senapan itu, membidik, menembak. Dua tembakan, dua makhluk roboh.
Keheningan sesaat menyelimuti ranch, hanya disela suara napasnya yang memburu dan detak jantung ganda—miliknya, dan milik bayi yang masih dikandungnya.
Tommy menatapnya dengan mulut menganga. "Bu Cross... dari mana itu tadi?"
Elena menatap tangannya sendiri, lalu ke kotak cahaya yang masih melayang samar di sudut penglihatannya, seolah menunggu perintah berikutnya.
"Aku juga tidak tahu, Tommy," jawabnya pelan. "Tapi sepertinya... kita baru saja dapat alasan untuk bertahan hidup."
Ia menoleh ke arah rumah, ke kamar kosong yang sudah disiapkannya untuk sang bayi—kini dikelilingi dunia yang telah berubah menjadi neraka berdebu penuh monster. Tangannya terangkat, mengelus perutnya yang membuncit.
"Kita akan bertahan," bisiknya. "Ibu janji."
Di kejauhan, lolongan panjang menggema dari arah kota kecil Redcliff—tempat di mana kekacauan yang jauh lebih besar baru saja dimulai.
## Bab 2: Kafilah Para Buronan
Malam turun lebih cepat dari biasanya, seolah matahari sendiri enggan menyaksikan apa yang telah terjadi pada dunia. Elena duduk di meja dapur, menatap kotak cahaya yang kini mengambang tenang di sudut ruangan, berkedip pelan seperti api lilin yang setia menemani.
"Bu, itu... itu benar-benar nyata?" Tommy masih belum bisa melepaskan pandangannya dari kotak transparan itu. Sejak insiden di padang selatan, ia tak henti mengintai dari balik bahu Elena, seolah takut kotak itu tiba-tiba melahap mereka berdua.
"Kelihatannya begitu." Elena mengulurkan tangan, dan seperti sebelumnya, kotak itu merespons. Sebuah daftar samar muncul di udara—peti amunisi, kotak obat, karung gandum, bahkan sebuah selimut wol tebal.
> **[Gudang: 3 unit tersimpan]**
> **[Kapasitas: TANPA BATAS]**
> **[Catatan: item hanya dapat dikeluarkan, tidak dapat disimpan sembarangan. Prioritaskan kelangsungan hidup.]**
"Tanpa batas," gumam Elena pelan. Kata-kata itu terasa seperti mimpi di tengah dunia yang baru saja runtuh berkeping-keping.
Dari luar, suara derap kuda dan roda kereta memecah keheningan malam. Elena bangkit, menyambar senapan, isyarat pada Tommy untuk memadamkan lampu minyak.
Melalui celah jendela, ia melihat serombongan orang—delapan, mungkin sepuluh—berjalan kaki dan menuntun kuda yang keletihan, membawa gerobak penuh barang seadanya. Wajah-wajah mereka dipenuhi debu dan ketakutan, khas orang-orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan.
Seorang pria tua berjanggut lebat berjalan paling depan, menyandang senapan tua di bahu. Ia mengetuk pagar ranch dengan gagang senapannya.
"Halo rumah!" serunya, suara serak namun masih berwibawa. "Kami bukan bandit. Kami dari Redcliff—kota itu sudah tak ada lagi. Kami butuh tempat berlindung, walau cuma semalam."
Elena menimbang situasi dengan cepat. Delapan orang asing di tengah malam, di dunia yang para hewan ternaknya saja bisa berubah jadi monster—ini adalah pertaruhan besar. Namun di antara rombongan itu, ia melihat dua anak kecil menggigil kedinginan, dan seorang wanita muda yang tampak begitu kelelahan hingga nyaris ambruk.
"Redcliff kenapa?" teriak Elena dari balik jendela, senapan masih siaga.
Pria tua itu menghela napas panjang, matanya menerawang seolah masih melihat bayangan kengerian yang baru saja ditinggalkannya. "Langit di atas kota berubah warna, lalu tanah sendiri yang terbelah. Yang keluar dari sana bukan lagi manusia atau hewan, Nyonya. Setengah kota sudah rata. Kami kabur begitu ada kesempatan."
Elena menatap Tommy sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menurunkan senapannya dan membuka pintu gerbang ranch.
"Kalian bisa istirahat di gudang jerami," katanya. "Tapi aku ingin nama dan jumlah kalian yang pasti. Dunia sudah cukup berbahaya tanpa orang-orang yang saling curiga membunuh satu sama lain karena panik."
Pria tua itu mengangguk hormat, memperkenalkan dirinya sebagai Marshal Abel Whitlock—mantan penegak hukum Redcliff—yang kini memimpin sisa-sisa warga yang selamat.
Saat rombongan itu mulai masuk, wanita muda yang tadi terlihat nyaris ambruk tersandung, jatuh berlutut di tanah berdebu. Perutnya juga membuncit—mungkin enam bulan, tebak Elena.
"Sarah!" seorang pemuda berlari menghampirinya, memeluk bahunya erat. "Bertahanlah, kita hampir sampai—"
Elena bergegas mendekat, kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut seolah tahu apa yang dibutuhkan. Ia mengulurkan tangan, dan sebuah botol air bersih beserta sepotong roti gandum meluncur keluar dari udara kosong, tepat ke telapak tangannya.
Beberapa orang dalam rombongan terperanjat, mundur selangkah dengan mata melebar.
"Jangan takut," kata Elena tegas, menyerahkan air itu pada Sarah. "Ini... hadiah aneh dari dunia yang sudah gila ini. Tapi selama masih bisa menyelamatkan nyawa, aku tidak akan bertanya kenapa."
Marshal Whitlock menatap Elena dengan sorot mata yang berubah—dari kelelahan seorang pengungsi menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih menghitung. "Nyonya Cross," katanya pelan, "kurasa Tuhan—atau apapun yang tersisa di langit itu—baru saja mengirim kami ke tempat yang tepat."
Elena tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah cakrawala gelap, ke arah Redcliff yang kini hanya tinggal bara dan kenangan, dan bertanya-tanya berapa banyak lagi rombongan seperti ini yang akan datang mengetuk pintunya sebelum malam benar-benar berakhir.
Pagi datang dengan warna langit yang masih belum kembali normal—ungu pucat bercampur jingga, seolah matahari sendiri ragu untuk terbit sepenuhnya. Elena berdiri di ambang gudang jerami, mengawasi para pengungsi yang mulai bangun satu demi satu, tubuh mereka kaku karena tidur di atas jerami dingin.
Sarah masih tertidur di sudut, kepalanya bersandar di bahu suaminya, Daniel. Wajahnya sudah tidak sepucat semalam. Setidaknya air dan roti dari Gudang semalam berhasil membuatnya bertahan.
"Bu Cross." Marshal Whitlock mendekat, topi kulitnya sudah terpasang rapi meski matanya masih menyisakan kelelahan semalam. "Boleh aku bicara sebentar? Empat mata."
Elena mengangguk, dan mereka berjalan menjauh dari gudang, menuju pagar kayu yang menghadap padang luas.
"Aku dulu Marshal selama dua puluh tahun," Whitlock memulai, suaranya rendah. "Aku sudah lihat segala jenis orang—perampok, penipu, pembunuh berdarah dingin yang tersenyum manis di depan juri. Aku tahu caranya membaca orang, Nyonya Cross. Dan aku sudah membaca dua puluh dua orang yang kubawa dari Redcliff semalam."
"Lalu?"
"Sebagian dari mereka baik. Sebagian lagi..." Whitlock menghela napas. "Sudah putus asa sampai titik di mana moral jadi barang mewah. Kalau mereka tahu apa yang kau punya—kekuatan mengeluarkan makanan dan senjata dari udara kosong—sebagian orang akan berterima kasih. Tapi sebagian lagi akan mulai berpikir bagaimana caranya merebut itu darimu."
Elena menatap Whitlock lama, lalu memandang ke arah gudang jerami tempat rombongan itu mulai bergerak, anak-anak kecil berlarian riang seolah dunia tidak baru saja kiamat.
"Jadi maksudmu aku harus menyembunyikannya?"
"Maksudku," Whitlock menjawab hati-hati, "kau harus mengendalikan siapa yang tahu, dan bagaimana kau menunjukkannya. Kekuatan seperti itu bisa jadi alasan orang mengikutimu sampai ke ujung dunia... atau alasan mereka menusukmu dari belakang saat kau tidur."
Kata-kata itu menggantung di udara pagi yang dingin. Elena meletakkan tangan di perutnya, merasakan tendangan kecil dari dalam—pengingat bahwa apa pun keputusan yang ia ambil sekarang, taruhannya bukan cuma nyawanya sendiri.
"Aku menghargai peringatanmu, Marshal," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak bisa menutup pintu ranch ini untuk orang-orang yang butuh bantuan. Bukan begitu caraku dibesarkan, dan bukan begitu pula yang ingin kutunjukkan pada anakku kelak—kalau dia sempat lahir ke dunia yang masih punya arti kebaikan."
Whitlock tersenyum tipis, sorot matanya melunak. "Itulah jawaban yang kuharapkan, sejujurnya. Aku hanya ingin memastikan kau sadar risikonya."
Sebelum Elena sempat menjawab, teriakan Tommy memecah pagi. "Bu Cross! Ada yang datang dari arah bukit timur—bukan pengungsi. Mereka bawa kuda perang dan senjata banyak!"
Elena dan Whitlock bergegas ke arah pagar depan. Di kejauhan, sekelompok penunggang kuda—sekitar lima belas orang—bergerak cepat menyusuri jalan setapak menuju ranch, debu mengepul tinggi di belakang mereka. Di depan barisan, seorang pria bertopi hitam lebar menunggangi kuda hitam legam, jubah panjangnya berkibar seperti sayap gagak.
"Itu..." Whitlock menyipitkan mata, wajahnya berubah tegang. "Itu Silas Rourke. Bekas pemburu bayaran, sekarang memimpin genk perampok terbesar di county ini. Kalau dia sampai di Redcliff sebelum kota itu hancur, dia pasti sudah dengar kabar tentang 'keajaiban' yang terjadi di sini."
Jantung Elena berdegup kencang. "Dari mana dia bisa tahu?"
"Berita menyebar cepat, bahkan di tengah kiamat," jawab Whitlock getir. "Salah satu dari rombongan kita semalam pasti bicara terlalu banyak di persimpangan jalan sebelum sampai kemari."
Elena menggenggam senapannya erat, menatap kotak cahaya yang samar mengambang di sudut penglihatannya, seolah menanyakan apakah keajaiban itu siap digunakan untuk pertarungan yang jauh lebih berbahaya daripada melawan ternak bermutasi.
Silas Rourke menghentikan kudanya tepat lima puluh meter dari gerbang ranch, mengangkat tangan sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk berhenti. Suaranya menggelegar melintasi jarak itu, penuh keyakinan seorang pria yang terbiasa selalu menang.
"Nyonya Cross!" serunya, nada bicaranya nyaris ramah, namun ada ancaman tersembunyi di setiap kata. "Aku dengar kau baru saja jadi wanita paling beruntung—atau paling terkutuk—di seluruh wilayah ini. Aku cuma ingin bicara. Tidak ada yang perlu terluka... asalkan kau mau berbagi sedikit dari 'berkah' yang kau punya."
Di belakang Elena, para pengungsi mulai berkumpul, ketakutan terpancar jelas di wajah mereka. Sarah menggenggam tangan Daniel erat-erat, sementara anak-anak kecil disembunyikan di balik tubuh orang dewasa.
Elena melangkah maju, berdiri tegak di depan gerbang ranch-nya sendiri, satu tangan di senapan, satu tangan lagi terkepal di sisi perutnya yang membuncit.
"Rourke," serunya balik, suaranya lantang meski jantungnya berdegup liar. "Dunia sudah cukup hancur tanpa orang-orang sepertimu menambah kekacauan. Pergi sekarang, dan aku janji tidak ada yang perlu mati hari ini."
Rourke tertawa keras, suara yang menggema mengerikan di tengah padang kosong. "Berani juga, untuk wanita hamil yang sendirian menghadapi lima belas orang bersenjata."
"Siapa bilang aku sendirian?"
Di belakangnya, Whitlock mengangkat senapan tuanya, dan satu demi satu, para pengungsi pria yang masih punya keberanian tersisa mengambil posisi di sepanjang pagar—garpu jerami, kapak, apa pun yang bisa mereka temukan sebagai senjata.
Untuk sesaat, keheningan mencekam menggantung di antara dua kelompok itu, hanya dipecah oleh angin gurun yang membawa debu berputar-putar di antara mereka, seolah dunia sendiri menahan napas menunggu siapa yang akan menembakkan peluru pertama.
---
Angin berhenti bertiup sesaat, seolah alam sendiri menahan napas. Silas Rourke masih duduk santai di atas kudanya, namun matanya—dingin dan menghitung—tidak pernah lepas dari Elena.
"Kau punya nyali, aku akui itu," katanya akhirnya, memecah keheningan. "Tapi nyali tidak menghentikan peluru, Nyonya. Aku datang untuk bernegosiasi, bukan bertarung. Berikan aku sepersepuluh dari apa pun keajaiban yang kau punya, dan aku janji ranch ini tidak akan kusentuh."
"Dan kalau aku menolak?"
Senyum Rourke melebar, menampilkan gigi yang menguning oleh tembakau. "Maka aku akan mengambil semuanya, dan kau tidak akan sempat melahirkan anak itu untuk melihatnya."
Kata-kata itu bagai percikan api di padang kering. Elena merasakan amarah membakar dadanya, namun ia menahan diri, tahu betul bahwa satu kesalahan bisa mengorbankan nyawa dua puluh dua orang yang kini bergantung padanya.
Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut pelan, seolah merespons detak jantungnya yang memburu. Sebuah ide gila melintas di benaknya.
"Baiklah," serunya, mengangkat satu tangan sebagai tanda damai. "Aku akan tunjukkan padamu apa yang kupunya."
Whitlock menoleh cepat, matanya melebar penuh peringatan, namun Elena mengangkat tangan lagi, isyarat agar ia percaya.
Elena melangkah beberapa kaki ke depan gerbang, cukup jauh agar terlihat jelas oleh seluruh rombongan Rourke, namun masih dalam jangkauan perlindungan pagar. Ia mengulurkan tangan ke udara kosong, dan kotak cahaya keemasan itu berpendar terang, terlihat jelas bahkan di bawah sinar matahari pagi yang aneh.
Gumaman kaget terdengar dari barisan anak buah Rourke. Beberapa dari mereka menarik kekang kuda mundur selangkah, mata melebar ketakutan.
"Ini yang kau inginkan?" seru Elena, suaranya menggema tegas. "Baik. Tapi ingat satu hal, Rourke—kekuatan ini merespons niatku untuk melindungi kehidupan, bukan untuk menghancurkannya. Dan sistem ini punya cara tersendiri untuk menghukum keserakahan."
Ia tidak benar-benar tahu apakah kalimat itu benar, namun taruhannya sudah dilempar. Dari dalam kotak cahaya, bukan peti amunisi atau makanan yang muncul kali ini—melainkan sebuah tong kayu besar, berdebar dengan suara mendesis aneh dari dalamnya.
> **[Item Khusus Tersedia: Bubuk Mesiu Terkutuk]**
> **[Peringatan: hanya dapat digunakan untuk pertahanan diri. Efek samping tidak terduga bagi mereka yang berniat jahat.]**
Elena sendiri terkejut membaca peringatan itu, namun cepat menyembunyikan keraguannya. Ia menendang tong itu hingga terguling beberapa kaki ke arah Rourke, lalu mundur kembali ke belakang pagar.
"Ambil kalau kau berani," tantangnya. "Tapi jangan salahkan aku kalau keserakahanmu membakarmu sendiri."
Rourke menyipitkan mata, curiga namun juga tergoda. Ia memberi isyarat pada salah satu anak buahnya—pria bertubuh kekar bernama Grubbs—untuk memeriksa tong itu.
Grubbs turun dari kuda, mendekat dengan hati-hati, lalu membuka tutup tong itu dengan laras senapannya.
Yang keluar bukan mesiu biasa.
Asap ungu pekat menyembur keluar, disusul suara mendesis seperti ular raksasa. Grubbs terlonjak mundur, namun terlambat—asap itu sudah menyelimuti wajahnya. Ia terbatuk keras, matanya berair, dan dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk ke tanah, mengerang kesakitan namun tidak sekarat—hanya lumpuh sesaat, seolah diracuni oleh sesuatu yang menghukum niat jahatnya.
Kepanikan menjalar cepat di antara anak buah Rourke. Beberapa dari mereka mulai menarik kekang kuda mundur, wajah pucat pasi menyaksikan rekan mereka ambruk begitu saja.
"Ilmu hitam," gumam salah satu dari mereka. "Wanita itu punya ilmu hitam!"
Elena sendiri tidak tahu persis apa yang baru saja terjadi, namun ia memanfaatkan momen kepanikan itu sepenuhnya. "Sistem ini tahu siapa yang punya niat baik dan siapa yang tidak," serunya lantang, suaranya penuh keyakinan palsu yang meyakinkan. "Kalian masih punya kesempatan untuk pergi. Tapi jika kalian menyerang ranch ini, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kalian semua."
Rourke menatap Grubbs yang masih mengerang di tanah, lalu menatap Elena dengan sorot mata campuran antara amarah dan ketakutan tersembunyi. Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, keraguan mulai muncul di wajahnya.
"Ini belum berakhir, Nyonya Cross," geramnya, menarik kekang kudanya mundur. "Aku akan kembali—dengan lebih banyak orang, dan lebih siap."
Ia memberi isyarat pada anak buahnya yang tersisa untuk mengangkut Grubbs dan mundur, kembali ke arah bukit timur dari mana mereka datang. Debu mengepul tinggi mengiringi kepergian mereka, hingga akhirnya siluet mereka menghilang di balik cakrawala.
Elena baru merasakan lututnya gemetar setelah rombongan itu benar-benar hilang dari pandangan. Whitlock bergegas mendekat, menopang bahunya.
"Itu," katanya, suaranya penuh kekaguman sekaligus kekhawatiran, "adalah salah satu hal paling berani sekaligus paling gila yang pernah kulihat seumur hidupku."
"Aku juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi," Elena mengaku jujur, menatap kotak cahaya yang kini kembali tenang di sudut penglihatannya. "Tapi sepertinya... Gudang ini punya batasannya sendiri. Dan sepertinya ia tidak suka orang-orang serakah."
Whitlock mengangguk pelan, namun matanya tetap menerawang ke arah bukit timur. "Rourke bukan orang yang mudah menyerah, Nyonya. Ancamannya bukan gertakan kosong. Dia akan kembali."
Elena menatap ke arah para pengungsi yang perlahan mulai bernapas lega, anak-anak kecil yang tadi bersembunyi kini mengintip dari balik gudang jerami. Sarah tersenyum lemah padanya dari kejauhan, satu tangan di perutnya sendiri.
"Kalau begitu," kata Elena pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Whitlock, "kita punya waktu untuk bersiap. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggut apa yang sudah kubangun—atau siapa pun yang kulindungi."
Ia menoleh ke arah cakrawala barat, ke arah matahari yang mulai naik penuh di langit yang masih berwarna aneh, dan untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai, ia merasakan sesuatu selain ketakutan murni: sebuah tekad yang membara, setajam padang gurun di bawah terik matahari.
Tiga hari berlalu tanpa tanda-tanda Rourke kembali, namun ketegangan itu tidak pernah benar-benar hilang dari Rocking Spur Ranch. Elena tahu betul—orang seperti Rourke tidak akan menyerah semudah itu. Ia hanya menunggu waktu yang tepat.
"Kita butuh lebih banyak tangan di pagar," kata Whitlock pagi itu, menggelar peta lusuh ranch di atas meja dapur. "Dan kita butuh jalur mundur kalau semuanya gagal. Aku sudah bicara dengan beberapa orang—mereka bersedia membantu berjaga, asal ada kepastian mereka dan keluarganya aman."
Elena mengangguk, menatap peta itu dengan saksama. "Berapa banyak orang yang bisa memegang senjata?"
"Sekitar sembilan, termasuk aku dan Tommy. Sisanya perempuan, anak-anak, dan dua orang tua yang lebih berguna untuk memasak dan merawat yang terluka."
"Sembilan orang melawan lima belas—atau lebih, kalau Rourke benar-benar kembali dengan bala bantuan." Elena menghela napas, tangannya terangkat ke perutnya yang kini terasa semakin berat setiap hari. "Itu bukan pertarungan yang bisa kita menangkan hanya dengan keberanian."
Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut pelan, seolah menawarkan diri. Elena menatapnya lama, sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya.
"Whitlock," katanya perlahan, "kalau Gudang ini bisa mengeluarkan senapan berburu dan bubuk mesiu aneh yang menghukum niat jahat... mungkin ada lebih banyak yang bisa kutemukan di dalamnya. Aku hanya belum tahu caranya menggali lebih dalam."
Ia mengulurkan tangan ke arah kotak cahaya, memusatkan pikiran. "Aku butuh cara mempertahankan ranch ini. Bukan cuma senjata—pertahanan yang bisa menyelamatkan semua orang di sini."
Kotak itu berdenyut lebih terang, dan sederet daftar samar muncul di udara, lebih panjang dari yang pernah Elena lihat sebelumnya.
> **[Kategori Baru Terbuka: Pertahanan Wilayah]**
> **[Item tersedia: Kawat Berduri Diberkati (5 gulung), Obor Sinyal (3 unit), Dinamit Pertambangan (2 peti), Menara Pengawas Portabel (1 unit)]**
> **[Catatan: pembukaan kategori baru memerlukan niat yang jelas dan tulus untuk melindungi, bukan menyerang.]**
Mata Elena melebar. "Whitlock—lihat ini."
Marshal tua itu mendekat, membaca daftar yang mengambang di udara dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan. "Dinamit pertambangan," gumamnya. "Itu bisa meruntuhkan jalur masuk kalau kita atur dengan benar. Dan menara pengawas—itu bisa memberi kita mata di kejauhan sebelum mereka sampai ke gerbang."
Sepanjang hari itu, ranch berubah menjadi sarang kesibukan. Tommy dan dua pemuda lain memasang kawat berduri di sepanjang titik-titik lemah pagar, sementara Whitlock mengatur peletakan dinamit di jalur sempit antara dua bukit—satu-satunya jalan yang mudah dilalui kuda menuju ranch dari arah timur.
Elena sendiri, meski tubuhnya kian berat, tak tinggal diam. Ia mengajari beberapa perempuan dan remaja cara memuat ulang senapan dengan cepat, sementara Sarah—kini sudah cukup pulih—membantu menyortir perbekalan medis yang dikeluarkan dari Gudang untuk mengantisipasi yang terburuk.
"Kau seharusnya istirahat, Elena," kata Sarah suatu sore, menatap khawatir saat Elena membantu mengangkat karung pasir untuk memperkuat dinding gudang jerami. "Kau delapan bulan, bukan delapan hari."
Elena tersenyum lelah, mengusap keringat di dahinya. "Kalau aku istirahat sekarang, Sarah, mungkin tidak akan ada waktu istirahat lagi nanti untuk siapa pun di sini."
Sarah menatapnya lama, lalu meletakkan tangan di bahu Elena. "Kau tahu, sejak malam pertama kami sampai di sini, aku terus berpikir—mungkin bukan kebetulan Gudang itu memilihmu. Seorang ibu yang rela mempertaruhkan segalanya demi orang lain, bahkan orang asing. Itu bukan kekuatan sembarangan yang dipilih untuk sembarang orang."
Kata-kata itu mengendap dalam diri Elena sepanjang sisa hari, terngiang bahkan saat malam tiba dan ia berbaring di ranjangnya, mendengarkan detak jantung ganda yang menjadi pengingat konstan tentang apa—dan siapa—yang sedang ia pertaruhkan.
Menjelang tengah malam, Tommy yang bertugas jaga pertama di menara pengawas portabel berlari tergesa ke rumah utama, wajahnya pucat di bawah cahaya bulan yang aneh.
"Bu Cross," katanya terengah, "ada obor menyala di kejauhan. Banyak. Bergerak ke arah sini."
Elena bangkit dari ranjangnya secepat tubuhnya yang berat mengizinkan, menyambar senapan yang selalu tersedia di sisi tempat tidurnya. Di luar jendela, ia bisa melihatnya sendiri—titik-titik api kecil berkelap-kelip di kegelapan bukit timur, semakin banyak, semakin dekat.
Rourke telah kembali. Dan kali ini, ia tidak datang sendirian.
---
Lonceng peringatan yang dipasang Whitlock di menara pengawas berdentang keras, membelah keheningan malam. Dalam hitungan menit, seluruh ranch terjaga—para pria bergegas ke posisi pertahanan yang telah mereka latih selama tiga hari terakhir, sementara perempuan dan anak-anak berkumpul di ruang bawah tanah rumah utama yang telah diperkuat dengan karung pasir.
Elena berdiri di teras, senapan di tangan, menyaksikan barisan obor yang kini jelas terlihat—puluhan, bukan lagi lima belas. Rourke benar-benar telah mengumpulkan bala bantuan dari genk-genk lain di county, memanfaatkan kekacauan kiamat untuk merekrut siapa pun yang cukup putus asa atau serakah untuk bergabung dengannya.
"Mereka menuju jalur sempit di timur," lapor Tommy dari menara, suaranya bergetar namun tegas. "Persis seperti yang diperkirakan Marshal."
Whitlock berdiri di samping Elena, wajahnya keras seperti batu karang. "Ini saatnya, Nyonya Cross. Beri aba-aba kapan pun kau siap."
Elena menatap ke arah jalur sempit antara dua bukit, tempat dinamit telah ditanam dengan hati-hati tiga hari sebelumnya. Rencananya sederhana namun berisiko tinggi—biarkan sebagian besar rombongan Rourke memasuki jalur sempit itu sebelum meledakkannya, mempersempit jumlah musuh yang bisa mencapai ranch secara langsung.
"Tunggu," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Tunggu sampai mereka benar-benar masuk."
Barisan obor semakin dekat, cahaya jingga mereka menari-nari mengerikan di kegelapan. Elena bisa mendengar derap kuda, gemerincing senjata, dan suara tawa kasar beberapa perampok yang terlalu percaya diri akan kemenangan mudah malam ini.
Ketika barisan terdepan Rourke akhirnya memasuki jalur sempit—diikuti sebagian besar rombongan di belakangnya—Elena mengangkat tangan.
"Sekarang!"
Whitlock menyalakan sumbu yang telah disiapkan. Ledakan pertama mengguncang malam, disusul ledakan kedua tepat beberapa detik kemudian. Tanah dan batu berhamburan ke udara, jeritan kaget dan kepanikan segera menggantikan tawa kasar yang tadi terdengar.
Sebagian jalur runtuh, mengubur beberapa penunggang kuda di bawah longsoran batu, sementara sisanya terpental mundur dalam kekacauan total. Namun tidak semua orang Rourke terjebak—sekitar dua puluh penunggang berhasil melewati jalur sebelum ledakan, kini berpacu langsung menuju ranch dengan amarah membara.
"Bersiap!" teriak Whitlock, dan barisan pembela ranch mengangkat senjata mereka.
Pertempuran pecah dalam kekacauan cahaya obor dan kilatan tembakan. Elena menembak dari balik pagar, setiap peluru dihitung dengan hati-hati—ia tidak punya kemewahan untuk membuang-buang amunisi meski Gudangnya nyaris tak terbatas, karena mengeluarkan perbekalan di tengah pertempuran sengit membutuhkan konsentrasi yang tidak selalu ia miliki.
Seorang perampok berhasil melompati pagar dekat gudang jerami, namun Sarah—yang seharusnya bersembunyi di ruang bawah tanah—muncul dari balik tumpukan jerami dengan garpu di tangan, menusuknya dengan keberanian yang mengejutkan sebelum pria itu sempat menembakkan senjatanya.
"Sarah!" jerit Elena panik, namun wanita muda itu hanya menatapnya dengan mata berkilat penuh tekad. "Aku tidak akan bersembunyi sementara kalian mempertaruhkan nyawa untuk kami!"
Di tengah kekacauan itu, Elena melihat sosok Rourke sendiri, menunggangi kudanya menerobos garis pertahanan, langsung menuju arahnya dengan pistol terhunus.
"Kau pikir dinamit murahan bisa menghentikanku, Nyonya Cross?!" teriaknya murka, matanya menyala penuh dendam.
Elena mengangkat senapannya, namun terlambat—kudanya sudah terlalu dekat. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti selamanya, ia melihat moncong pistol Rourke terarah tepat ke perutnya.
Naluri lebih cepat dari pikiran. Elena melemparkan diri ke samping, tembakan Rourke meleset tipis, mengenai tiang pagar di belakangnya. Namun gerakan tiba-tiba itu membuatnya kehilangan keseimbangan—ia jatuh terjerembab ke tanah, rasa sakit tajam menjalar dari perutnya.
"Tidak," desisnya, panik menyergap. "Tidak sekarang—"
Whitlock muncul dari sisi lain, menembak kaki kuda Rourke hingga hewan itu meringkik keras dan menjatuhkan penunggangnya. Sebelum Rourke sempat bangkit, Whitlock sudah berdiri di atasnya, moncong senapan terarah tepat ke dahinya.
"Sudah cukup, Rourke," geram Whitlock. "Perintahkan anak buahmu mundur, atau aku bersumpah demi Tuhan aku akan menariknya sekarang juga."
Rourke, menyadari posisinya yang terjepit dan melihat semakin banyak anak buahnya yang tumbang atau melarikan diri dalam kekacauan, akhirnya mengangkat tangan tanda menyerah, wajahnya dipenuhi amarah yang tertelan kekalahan.
Namun perhatian Elena bukan lagi pada Rourke. Ia meringkuk di tanah, satu tangan menekan perutnya yang terasa kram hebat, napasnya memburu tidak teratur.
"Elena!" Sarah berlari mendekat, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Elena. "Astaga—dia mau melahirkan!"
---
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!