Di pagi hari, dilangit Jakarta sangatlah cerah. Jalanan sudah dipenuhi banyak kendaraan yang saling berebut jalan, sementara orang-orang saling berlari untuk mengejar waktu.
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang gadis cantik berlari sambil mengigit sebuah rotu yang berisikan cokelat.
“Ohh astaga! Kenapa alarmku nggak bunyi, sih?”
katanya dengan napas yang masih tersenggal.
Nayla Putri Maharani sambil melirik jam tangannya.
Pukul 08:05.
Matanya langsung membulat.
“Ya ampun! Hari pertamaku kerja malah telat sih!”
Ia mempercepat langkahnya, tetapi tiba-tiba tali sepatunya terlepas.
“Kenapa ya semuanya harus hari ini terjadi?”
Dengan kesal ia pun berhenti sebentar, untuk mengikat tali sepatunya secepat mungkin, lalu berlari kembali.
Sesampainya di depan gedung pencakar langit yang sangat tinggi dan megah, Nayla langsung terdiam.
Tulisan besar berwarna emas terpampang sangat jelas MAHENDRA GROUP
“Ehh buset... gedungnya tinggi banget.”
ia pun mengangkat kepala sehingga lehernya pegal.
“Kira-kira kalau jatuh dari atas, mungkin nyawaku udah sampai di lantai duluan daripada badanku.”
Ia sambil menggeleng kepalanya sendiri.
“Tidak, Nayla! Harus fokus!”
Hari ini adalah hari pertamanya masuk bekerja sebagai stam administrasi.
Pekerjaan ini sangatlah penting baginya.
Sang ayah baru saja pensiun karena sakit, sedangkan sang ibu hanya membuka waring kecil di rumah.
Nayla berjanji akan membantu perekonomian keluarganya.
Maka dari itu, apapun yang terjadi, ia tidak boleh kehilangan perkejaan ini.
Di waktu yang sama...
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi perusahaan.
Semua satpan lamgsung berdiri tegak. Begitupun para karyawan yang sesang mengobrol, buru-buru merapikan pakaianya.
Pintuk mobil terbuka.
Nampaklah seorang pria bertubuh tinggi dan tampan keluar dengan langkah tenang.
Dengan menggunakan jas abu-abu gelap tampak pas di tubuhnya yang atletis.
Wajahnya yang tampan.
Rahangnya tegas.
Dan tatapan tajam.
Auranya begitu dingin sehingga orang-orang spontan untuk menundukkan kepala.
“Selamat pagi, Pak Arga.”
“Selamat pagi, Pak Direktur.”
Tidak satu pun yang mendapatkan balasan.
Pria itu hanya mengangguk tipis.
Namanya…
Arga Mahendra.
CEO Mahendra Group.
Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi sudah berhasil membawa perusahaan keluarganya menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
Namun…
Di balik kesuksesan itu, ia terkenal sebagai CEO paling menyebalkan itu dia sangat.
Perfeksionis.
Galak.
Tidak suka basa-basi.
Dan sangat membenci orang yang tidak disiplin.
Baginya…
Terlambat satu menit saja sama dengan gagal menghargai waktu.
Di sisi lain…
Nayla sedang berlari sambil membawa sebuah gelas kopi yang baru saja dibelinya.
“Semoga HRD belum marah…”
Bruk!
Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang.
Gelas kopi yang ada di tangannya langsung terlepas.
Byur!
Cairan kopi yang hangat tumpah tepat mengenai jas mahal pria yang ada di depannya.
Suasana lobi yang ramai pun seketika menjadi sunyi.
Semua orang membeku atas kejadian itu.
Beberapa karyawan bahkan menutup mulutnya.
“Ya Tuhan…”
“Dia menabrak Pak Arga…”
“Habislah gadis itu.”
Nayla membeku.
Matanya pun perlahan turun melihat noda kopi memenuhi jas pria itu.
“Eh…”
Ia menelan ludah.
“Maaf…”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pria itu menatapnya dengan wajah datar.
Tatapan yang dingin.
Menusuk.
“Mata kamu dipakai?”
Nayla yang awalnya merasa bersalah langsung mengangkat kepala.
“Lho?”
“Emangnya Bapak jalan pakai mata ya?”
Arga mengernyit.
“Maksudmu apa?”
“Ya sama saja. Saya lari memang salah, tapi Bapak juga jalan lurus kayak jalan ini punya bapak sendiri.”
Beberapa orang langsung menarik napas panjang mendengar jawaban gadis itu.
Berani sekali gadis itu.
Belum pernah ada seseorang yang berani membantah CEO mereka.
Arga menatap Nayla tanpa ekspresi.
“Kamu merasa benar?”
Nayla mengangkat dagunya.
“Saya salah karena lari.”
“Dan Bapak pun salah karena nggak lihat ada orang.”
“Jadi impaskan.”
Seorang manajer pu. hampir pingsan mendengar jawaban Nayla.
Apa katanya impas?
Dia bilang sama CEO impas?
Arga melirik jasnya yang penuh noda kopi.
“Ini jas saya seharga lima puluh juta.”
Nayla langsung melotot.
“Apa? Lima puluh juta?”
“Iya.”
Ia spontan mendekat lalu memperhatikan kain jas itu.
“Hah?”
“Emang bisa ya buat kopi sendiri?”
Beberapa karyawan sampai menggigit bibir agar tidak tertawa.
Arga pun menghela napas pelan.
“Kamu sedang bercanda?”
“Tidak.”
“Saya hanya heran.”
“Kalau jas seharga lima puluh juta tetap aja fungsinya dipakai, kan?”
Arga menatapnya beberapa detik.
Baru kali ini ada orang yang berani berbicara seperti itu kepadanya.
Biasanya semua orang akan gemetar.
Tetapi gadis ini…
Bukannya takut.
Malah terus membalas.
“Kamu siapa?”
“Nayla.”
“Bagian mana?”
“Staf administrasi.”
Baru saja diterima.
Belum sempat mulai kerja.
Sudah bikin keributan.
Arga mengangguk tipis.
“Bagus.”
Nayla menghela napas lega.
“Ternyata Bapak baik juga.”
“Tidak.”
“Saya hanya ingin HRD mengevaluasi proses perekrutan.”
Senyum Nayla langsung menghilang.
“Hah?”
“Perusahaan ini tidak membutuhkan pegawai yang ceroboh.”
Kalimat itu terdengar dingin.
Dan menusuk.
Wajah Nayla punmemerah.
Apa katanya ceroboh?
Ia memang salah.
Tetapi bukan berarti ia harus dihina.
Dengan kesal ia menyilangkan tangan.
“Kalau perusahaan ini cuma menerima manusia sempurna, berarti Bapak juga harus resign dong?.”
Lagi.
Semua orang menahan napas.
Arga menatapnya.
“Kenapa?”
“Soalnya Bapak juga salah di sini.”
“Kita sama-sama nabrakan?.”
“Kalau saya ceroboh…”
“Berarti bapak ya sombong.”
Hening.
Benar-benar hening.
Beberapa detik kemudian…
Terdengar suara seseorang berlari.
“Pak Arga!”
Seorang pria berkacamata datang tergesa-gesa.
Itu adalah Dimas.
Asisten pribadi Arga.
“Maaf, Pak. Rapat direksi sudah menunggu.”
Arga tetap tidak mengalihkan pandangan dari Nayla.
“Ada nama pegawai baru?”
“Ada, Pak.”
“Nayla Putri Maharani.”
“Catat.”
Dimas pun mengangguk cepat.
“Siap, Pak.”
Nayla langsung panik.
“Eh, kenapa nama saya dicatat pak?”
Arga berjalan melewatinya.
Tanpa menoleh.
“Karena saya tidak menyukai orang yang membuat masalah.”
Langkahnya terus menjauh.
Sementara Nayla berdiri mematung.
“Enak aja!”
Ia berteriak pelan.
“Situ juga masalah buat saya!”
Dimas yang mendengar itu hanya bisa memijat pelipis.
Gadis ini…
Belum satu jam bekerja…
Sudah berani perang mulut dengan CEO.
Beberapa menit kemudian…
Di ruang HRD.
“Nayla.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa hari pertama langsung bikin Pak Arga marah?”
Nayla menggaruk kepala.
“Itu… kecelakaan.”
Wanita HRD menghela napas.
“Kamu beruntung.”
“Pak Arga biasanya langsung memecat.”
Nayla mengangkat alisnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu berarti beliau nggak galak.”
“Masih ada hati.”
Semua orang di ruangan itu menatap Nayla dengan bingung.
Bukannya takut.
Dia malah memuji CEO?
Salah satu karyawan berbisik.
“Kayaknya dia belum tahu.”
“Kalau pak Arga itu dijuluki Rajanya Es.”
“Kalau senyum saja bisa dihitung pakai jari.”
Nayla tertawa kecil.
“Ya sudah.”
“Kalau begitu target saya gampang.”
“Apa target?”
“Membuat Pak CEO senyum.”
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menatap Nayla seolah sedang melihat makhluk aneh.
Seorang senior bahkan berbisik lirih.
“Kasihan…”
“Gadis itu belum tahu dunia sekejam apa.”
Nayla hanya tersenyum penuh percaya diri.
Dalam pikirannya, tidak ada manusia yang benar-benar seseram itu.
Yang ada hanyalah orang yang terlalu serius menjalani hidup.
Ia tidak tahu…
Bahwa kalimat yang baru saja ia ucapkan akan menjadi awal dari kekacauan besar di hidupnya.
Karena di lantai paling atas gedung itu…
Arga Mahendra sedang berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap ke arah bawah.
Bayangan gadis berambut kepang yang berani menyebutnya sombong terus terlintas di kepalanya.
Entah mengapa…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ada seseorang yang membuatnya menjadi kesal hanya dalam waktu lima menit.
Arga menyipitkan mata.
“Nayla Putri Maharani…”
“Kita lihat saja, seberapa lama kamu bisa bertahan di perusahaan ini.”
Di sisi lain, Nayla yang sama sekali tidak mengetahui hal itu sedang tersenyum lebar sambil menikmati camilan dari meja pantry.
“CEO nyebelin begitu…”
“Pasti suatu hari saya bisa buat dia minta maaf.”
Takdir seolah mendengar ucapan keduanya.
Karena sejak hari itu…
Perang dingin antara CEO paling arogan dan gadis paling bar-bar resmi dimulai.
Pukul sembilan pagi.
Mahendra Group kembali dipenuhi suara ketukan keyboard dan dering telepon. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tetapi satu topik masih menjadi bahan pembicaraan.
“Gadis baru itu benar-benar nekat.”
“Belum pernah ada yang berani membantah Pak Arga.”
“Menurutku dia nggak bakal bertahan seminggu.”
Bisik-bisik itu terdengar hingga ke telinga Nayla yang sedang membawa setumpuk dokumen.
Bukannya takut, ia malah tersenyum tipis.
“Lebay banget. Memangnya CEO itu monster?” batinnya.
Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang administrasi.
“Permisi…”
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun menoleh.
“Kamu Nayla?”
“Iya, Kak.”
“Aku Rina, supervisor kamu.”
Rina tersenyum ramah.
“Mulai hari ini kamu belajar semua pekerjaan administrasi. Kalau ada yang belum paham, langsung tanya.”
“Siap!”
Melihat semangat Nayla, Rina ikut tersenyum.
Namun senyum itu perlahan memudar saat mengingat kejadian di lobi tadi.
“Kamu tahu orang yang kamu tabrak tadi siapa?”
“Pak Arga.”
“Iya.”
“Kenapa memang?”
Rina menghela napas.
“Beliau bukan tipe orang yang gampang melupakan kesalahan.”
Nayla terkekeh kecil.
“Ya sudah. Saya juga nggak gampang lupa kalau dibilang ceroboh.”
Rina hanya bisa menggeleng.
“Anak ini benar-benar berbeda.”
Sementara itu…
Di lantai tiga puluh.
Ruangan CEO tampak sunyi.
Arga duduk di balik meja besar dari kayu mahoni sambil membaca laporan keuangan.
Setelan jasnya sudah berganti.
Namun noda kopi pagi tadi seolah masih membekas di ingatannya.
Tok…
Tok…
“Masuk.”
Dimas masuk sambil membawa tablet.
“Pak, jadwal hari ini sudah saya susun.”
Arga tidak mengangkat kepala.
“Gadis itu.”
Dimas langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Nayla?”
“Iya.”
“Bagaimana hasil tes masuknya?”
“Nilainya bagus, Pak.”
“IPK juga tinggi.”
“Rekomendasinya sangat baik.”
Arga akhirnya mendongak.
“Tidak mungkin.”
Dimas mengangguk.
“Justru itu, Pak.”
“Semua pewawancara bilang dia pekerja keras.”
Arga mendengus pelan.
“Pekerja keras yang mulutnya lebih cepat daripada pikirannya.”
Dimas hampir tertawa.
Selama lima tahun menjadi asisten pribadi Arga, baru kali ini atasannya membicarakan seorang pegawai baru lebih dari satu kali.
Di ruang administrasi.
“Nayla.”
“Iya, Kak.”
“Tolong antar dokumen ini ke ruang CEO.”
Nayla yang sedang mengetik langsung membeku.
“Hah?”
“Ke… ke ruang siapa?”
“Pak Arga.”
“Kenapa saya?”
“Karena sekretaris beliau sedang rapat.”
Nayla menelan ludah.
“Baru juga sejam kerja…”
Melihat ekspresi Nayla, Rina tersenyum geli.
“Tadi katanya berani.”
Nayla langsung mengangkat dagu.
“Siapa takut?”
Lima menit kemudian…
Ia berdiri di depan pintu besar bertuliskan:
CEO
Tangannya berkeringat.
“Tenang, Nayla.”
“Cuma antar berkas.”
“Bukan masuk kandang singa.”
Tok…
Tok…
“Masuk.”
Suara dingin itu langsung membuat bulu kuduknya merinding.
Ia membuka pintu perlahan.
Ruangan itu sangat luas.
Didominasi warna hitam dan abu-abu.
Di ujung ruangan, Arga sedang membaca dokumen tanpa sedikit pun menoleh.
“Pak…”
“Dokumen.”
Hanya satu kata.
Tanpa melihat siapa yang datang.
Nayla berjalan mendekat lalu meletakkan map di atas meja.
“Nih…”
Arga mendongak.
Tatapan mereka kembali bertemu.
“Kamu lagi.”
“Iya.”
“Sayangnya saya juga nggak bisa milih.”
Arga menatap datar.
“Kamu selalu bicara sebanyak ini?”
“Kalau lawan bicara saya diam terus, ya saya yang ngomong.”
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Arga membuka map itu.
“Kamu telat tiga belas menit tadi pagi.”
Nayla langsung mengerutkan dahi.
“Lho?”
“Masih diingat?”
“Saya mengingat semua pelanggaran.”
Nayla tersenyum tipis.
“Hebat.”
“Memori Bapak kuat.”
“Tapi sayang dipakai buat nyimpen dendam.”
Untuk pertama kalinya…
Sudut bibir Dimas yang berdiri di samping meja bergerak, hampir tertawa.
Arga melirik tajam.
Dimas langsung memasang wajah serius kembali.
“Keluar.”
“Iya, Pak.”
Dimas buru-buru keluar sebelum benar-benar tertawa.
Kini hanya tersisa Arga dan Nayla.
“Kamu tidak takut pada saya?”
Nayla berpikir sejenak.
“Takut.”
Arga mengangkat alis.
“Tapi…”
“Kalau saya takut terus, nanti Bapak makin besar kepala.”
Arga menghela napas panjang.
“Silakan kembali bekerja.”
“Baik.”
Saat hendak keluar…
Bruk!
Nayla tidak sengaja menyenggol vas bunga tinggi di dekat pintu.
Vas itu oleng.
“Astaga!”
Refleks Arga berdiri.
Dengan cepat ia menangkap vas itu sebelum jatuh.
Namun…
Tubuh Nayla kehilangan keseimbangan.
Tanpa sadar ia memegang lengan Arga.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Nayla bisa mencium aroma parfum pria itu.
Sementara Arga menatap wajah Nayla yang membeku.
Beberapa detik…
Tak satu pun berbicara.
Jantung Nayla berdegup lebih cepat.
“Kenapa malah jadi begini?”
Ia buru-buru melepaskan pegangan.
“Maaf!”
Arga meletakkan kembali vas itu.
“Lain kali lihat jalan.”
Nayla langsung cemberut.
“Lho.”
“Katanya tadi pagi kita impas.”
Arga menatapnya sekilas.
“Lain kali jangan ceroboh.”
Nayla menjulurkan lidah pelan saat membalikkan badan.
“Nyebelin.”
Ia mengira Arga tidak mendengar.
Padahal…
Pendengaran pria itu sangat tajam.
Arga hanya menggeleng kecil.
Begitu pintu tertutup, Dimas masuk kembali.
“Pak…”
“Apa?”
“Tadi…”
“Sepertinya Bapak hampir tersenyum.”
Arga langsung menatap tajam.
“Saya?”
“Iya.”
“Itu halusinasi.”
Dimas menahan senyum.
“Kalau begini terus, kantor bakal lebih seru.”
Sementara itu, Nayla berjalan keluar sambil mengelus dadanya.
“Ya Tuhan…”
“Kenapa deg-degan?”
“Bukan karena dia ganteng.”
“Pasti karena dia nyebelin.”
Namun jauh di dalam hatinya, ia tidak bisa membohongi diri.
Tatapan dingin Arga barusan justru membuat pikirannya terusik.
Ia menggeleng cepat.
“Nggak boleh.”
“Targetku cuma kerja, bantu orang tua, lalu pulang.”
“Urusan CEO es batu itu bukan urusanku.”
Sayangnya…
Takdir sepertinya punya rencana lain.
Karena tanpa disadari, sejak pagi tadi Arga sudah mulai memperhatikan setiap gerak-gerik gadis yang paling berisik di kantornya.
Dan bagi Arga Mahendra…
Perhatian kecil itu adalah sesuatu yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun.
Matahari baru merambat naik ketika Nayla tiba di Mahendra Group. Berbeda dengan kemarin, kali ini ia datang tiga puluh menit lebih awal.
“Aku nggak mau dibilang telat lagi sama manusia kulkas itu.”
Ia tersenyum puas sambil menyeruput kopi dingin.
Begitu melewati pintu lobi, beberapa karyawan menyapanya.
“Pagi, Nayla.”
“Pagi!”
“Gimana? Masih hidup setelah ketemu Pak Arga?”
Nayla terkekeh.
“Masih, kan? Berarti beliau nggak seganas yang kalian bilang.”
Beberapa orang hanya saling pandang.
Mereka yakin Nayla belum benar-benar mengenal Arga Mahendra.
Di lantai tiga puluh…
Arga berdiri di depan jendela ruangannya.
Tatapannya mengarah ke halaman depan gedung.
Dimas masuk membawa tablet.
“Pak, rapat dimulai lima belas menit lagi.”
Arga mengangguk.
Namun matanya menangkap sosok Nayla yang baru saja turun dari ojek online.
Gadis itu berjalan santai sambil sesekali melompat kecil menghindari genangan air.
Arga menggeleng pelan.
“Seperti anak kecil.”
“Hah, Pak?”
“Tidak ada.”
Jam menunjukkan pukul sepuluh.
Seluruh staf administrasi sibuk menyusun dokumen untuk rapat besar dengan investor.
“Nayla.”
“Iya, Kak Rina?”
“Tolong fotokopi berkas ini tiga puluh rangkap.”
“Siap!”
Nayla menerima map tebal itu dan segera menuju ruang fotokopi.
Sayangnya…
Mesin fotokopi yang sudah tua tiba-tiba berbunyi keras.
Krekk…
“Lho?”
“Lho, jangan macet sekarang dong.”
Ia membuka penutup mesin.
Kertas tersangkut.
Dengan hati-hati ia menariknya.
Bruak!
Seluruh kertas malah robek.
“Astaga…”
Belum sempat bernapas lega…
Mesin itu mengeluarkan asap tipis.
“Cklek!”
Listrik mati sesaat.
Semua orang menoleh.
Rina memegang dahinya.
“Nayla…”
“Maaf, Kak…”
“Aku nggak sengaja.”
Belum lima menit…
Dimas datang ke ruang administrasi.
“Nayla Pramesti.”
“Iya?”
“Pak Arga memanggil.”
Seluruh ruangan langsung sunyi.
Beberapa orang menatap Nayla dengan wajah iba.
“Semoga selamat.”
“Kalau besok nggak masuk, kami paham.”
Nayla menarik napas panjang.
“Doakan aku.”
Tok…
Tok…
“Masuk.”
Nayla membuka pintu perlahan.
Arga sedang membaca laporan.
“Pak…”
“Kamu merusak mesin fotokopi?”
Nayla menggaruk tengkuk.
“Bukan merusak…”
“Cuma…”
“Dia yang rusak.”
Arga mengangkat kepala.
“Mesin itu baik-baik saja sejak tiga tahun lalu.”
“Iya.”
“Terus pas ketemu saya dia pensiun.”
Dimas spontan batuk menahan tawa.
Arga melirik tajam.
Dimas langsung diam.
“Biaya perbaikannya cukup mahal.”
Nayla langsung pucat.
“Pak…”
“Gaji saya belum keluar.”
Arga berdiri dari kursinya.
Perlahan ia berjalan mendekat.
Setiap langkahnya membuat Nayla tanpa sadar mundur.
Sampai…
Punggungnya menyentuh dinding.
Kini jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
Nayla menelan ludah.
“Kenapa dia tinggi banget, sih?”
Arga menatap lurus ke matanya.
“Kamu tahu hukuman bagi pegawai yang ceroboh?”
Nayla menggeleng pelan.
“Dipecat?”
“Tidak.”
Nayla mengembuskan napas lega.
“Syukurlah…”
“Kamu akan lembur.”
Senyumnya langsung lenyap.
“Hah?”
“Lembur?”
“Sampai semua dokumen selesai.”
“Tapi, Pak…”
“Tidak ada tapi.”
Nayla mengembuskan napas panjang.
“Baik.”
Saat hendak keluar, suara Arga kembali terdengar.
“Dan satu lagi.”
Nayla menoleh.
“Besok jangan bawa kopi.”
“Hah?”
“Kenapa?”
“Saya tidak ingin jas saya mandi kopi untuk kedua kalinya.”
Nayla memutar bola matanya.
“Tenang saja.”
“Besok saya bawa teh.”
Arga terdiam.
Dimas menunduk agar tidak tertawa.
Malam harinya.
Seluruh lantai administrasi sudah hampir kosong.
Hanya tersisa Nayla yang masih sibuk menyusun dokumen.
Perutnya berbunyi.
“Kriiuk…”
“Ya Allah…”
“Lapar…”
Ia membuka tas.
Kosong.
“Bekalku habis.”
Saat sedang mengeluh…
Sebuah kotak makan diletakkan di mejanya.
Nayla mendongak.
Dimas tersenyum.
“Silakan dimakan.”
“Eh?”
“Ini buat saya?”
“Iya.”
“Pak Arga yang menyuruh.”
Nayla langsung melongo.
“Serius?”
“Iya.”
“Masa sih?”
Dimas mengangguk.
“Beliau bilang pegawai yang pingsan karena kelaparan justru bikin pekerjaan makin lama selesai.”
Nayla mendengus.
“Tuh, kan.”
“Alasannya tetap nyebelin.”
Meski begitu…
Ia membuka kotak makan itu.
Isinya nasi hangat, ayam goreng, sayur, dan buah.
Perutnya langsung berbunyi lebih keras.
“Kalau begini…”
“Pak CEO memang nyebelin.”
“Tapi…”
“Masih punya hati.”
Di balik pintu kaca ruangannya…
Arga diam-diam melihat Nayla yang sedang makan dengan lahap.
Tanpa sadar…
Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup membuat Dimas yang berdiri di sampingnya terkejut.
“Wah… jangan-jangan gunung es itu mulai mencair…”
Arga kembali memasang wajah datar.
“Apa?”
“Tidak ada, Pak.”
Namun dalam hati, Dimas yakin satu hal.
Sejak Nayla datang…
Suasana kantor yang selama ini terasa dingin mulai berubah.
Dan perubahan itu baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!