Suasana ramai dan damai terdengar di sekeliling kompleks pesantren. Suara para santri yang sedang tikroran terdengar jelas dari aula depan, bersahutan dengan suara para ustad yang sedang menjelaskan pelajaran di aula sebelah.
Tangan perempuan bermata teduh itu memeluk kitab Risalatul Mahid. Zia Clarissa Humaira namanya. Di pondok ini, ia bukan santri biasa. Abah dan Umi memberikan kepercayaan besar padanya untuk memimpin kepengurusan pondok. Zia memang cerdas, lihai mengatur strategi, dan yang paling penting ia santun. Tak heran jika semua rekan santri bahkan teman sekelasnya menaruh simpati yang besar pada gadis manis itu."
Zia berjalan sambil tersenyum ramah ke arah kota santri itu. Menikmati indahnya lantunan tikroran adik-adik kelas.
Pagi itu, Zia diminta Umi untuk mengantarkan barang terlebih dahulu ke area depan kompleks ndalem. Setelah selesai, ia bersiap melangkah menuju aula asrama putri untuk mengajar para santri.
Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa ibu-ibu tetangga pondok yang sedang berjalan. Dengan takzim, Zia menyapa sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Ibu..." Zia mengulurkan tangan, menyalami ketiga ibu tersebut satu per satu.
"Dari mana, Ibu?" tanya Zia lembut.
"Habis beli sayur, Mbak," jawab salah satu dari mereka, membalas dengan senyum yang tak kalah hangat. "Mau mengajar, Mbak?"
"Iya, Ibu. Tadi diminta mengantarkan barang dulu ke depan, jadinya lewat jalur sini."
"Oh, iya, Mbak. Ya sudah, silakan dilanjutkan."
"Mari, Ibu. Permisi." Zia melangkah mundur dengan penuh hormat, tetap menundukkan kepala sampai jarak memisahkan mereka.
Begitu sampai di kelas, ia menarik napas dalam-dalam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab para santri putri serentak.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Zia membuka kitabnya, memulai pelajaran dengan takzim.
***
"Res, kitabku di mana, ya?!" tanya Zizan, suaranya sudah naik lebih tinggi karena panik.
Ares, yang sedang terkapar tak berdaya di lantai akibat kelelahan setelah kerja bakti membersihkan halaman asrama, menjawab dengan nada lemas.
"Ya, mana kutahu. Kemarin habis ngaji kamu taruh di mana?"
"Aku lupa! Perasaan di sini, deh." Zizan mengacak-acak tumpukan kitab di lemari. Lemari yang tadinya tertata rapi dan estetis, dalam sekejap berubah wujud menyerupai gunung setelah erupsi akibat ulahnya.
"Coba diingat-ingat lagi. Kemarin habis gajar langsung pulang ke kamar nggak?" tanya Andi tetangga kamarnya yang sedang dengan posisi yang sama-sama tergeletak di lantai bersama Ares. Matanya merem, tetapi suaranya sudah mulai terdengar jelas, tidak mengelantur lagi seperti orang baru bangun tidur.
Zizan mengetuk-ngetuk dahinya, mencoba memeras otak. "Perasaan habis ngajar, aku..." Matanya tiba-tiba melotot. Bayangan kejadian kemarin siang di depan ndalem Abah mendadak berputar di kepalanya.
"Oh, iya! Ndi, Res! Kemarin setelah selesai mengajar, aku dipanggil Abah ke ndalem. Terus kitabnya aku taruh di meja teras depan! Aku cari ke sana dulu, deh!"
Sambil tergesa-gesa, Zizan menyambar pulpen dan peci yang berada di gantungan baju. "Makasih ya, Res, Ndi! Aku berangkat ngaji dulu. Assalamu'alaikum!"
Zizan berjalan dengan tergesa-gesa karena jam pelajaran hampir dimulai.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ares lemas tanpa membuka mata. "Dasar manusia labil," gerutunya pelan, kembali menikmati dinginnya lantai asrama.
***
Sesampainya di teras ndalem, keringat dingin mulai mengalir di dahi Zizan. "Kok tidak ada? Di mana, sih?" Ia melihat setiap sudut meja dan kursi, namun tidak ada hasil.
Ia melirik jam tangan digitalnya.
"Hah?! Sudah jam 08.45!
Waduh, bisa habis aku kalau telat!" batinnya.
"Mau tanya siapa, coba? Enggak ada orang lewat lagi." Zizan menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ke dapur ndalem saja, deh. Tanya mbak-mbak khadimah, siapa tahu mereka yang beresin." Zizan pun memutar arah lewat jalur samping.
Sebelum melangkah lebih jauh, Zizan mengambil napas dalam-dalam. "Bismillah, Zizan. Tenang! Jaga image-mu yang cool itu. Jangan kelihatan gugup, jangan panik, dan jangan senyum-senyum sendiri," ia membatin, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Zizan adalah tipe santri putra yang terkenal dingin, cuek, irit bicara, dan sangat menjaga jarak dengan santri putri. Istilahnya jual mahal demi harga diri.
Ia sampai di depan pintu dapur yang terbuka lebar. Setelah menata debaran jantung dan mengatur ekspresi wajahnya agar kembali sedingin es kutub Utara, ia melangkah masuk.
"Huuufft... Bismillah."
Zizan memberanikan diri melangkah melewati koridor dapur yang sangat bersih. Tiba-tiba, hidungnya mencium aroma masakan yang sangat tidak ramah untuk perutnya yang belum sarapan.
"Masak apa, sih? Enak banget wanginya. Duh, gulai ayam pula!" batin Zizan meronta, meruntuhkan sedikit pertahanan cool-nya.
Begitu sampai di ambang pintu dapur utama, terdengar suara tawa dan gurauan dari para santri putri yang sedang bertugas. Namun, begitu bayangan Zizan muncul, suasana mendadak hening seketika.
"Assalamu'alaikum, Mbak," ucap Zizan datar, mengalihkan pandangannya ke arah dinding samping agar tidak menatap langsung ke arah kerumunan santri putri.
"Wa'alaikumussalam, Kang," jawab para santri putri dengan suara berbisik, terkesima sekaligus tegang melihat "pangeran es" pesantren mendadak muncul di wilayah kekuasaan mereka.
Zizan mendadak kaku. Ia bingung harus bicara apa di depan beberapa pasang mata yang kini beralih fokus menatapnya. Beruntung, matanya menangkap sosok Rara, keponakannya yang seumuran dan menjadi abdi ndalem di sana. Zizan langsung melangkah mundur, bersembunyi di balik pilar pembatas agar tubuhnya tidak terlihat oleh santri putri yang lain. Tersisa Rara dan satu santri putri lagi yang berada di dekat jangkauan pandangnya.
"Oke, aman. Posisi strategis," batin Zizan lega.
"Mbak, tolong panggilkan Rara," pinta Zizan setengah berbisik kepada Sinta yang kebetulan sedang memotong sayur di dekat situ.
"Oh, iya, Kang," jawab Sinta canggung.
"Ra, dipanggil tuh."
"Eh, iya?"
Rara melangkah maju menemui pamannya. Sambil berjalan, ia mencuci tangannya yang kotor terkena getah sayur di wastafel tepat di samping Zizan.
Crat!
Karena terlalu bersemangat, Rara mengibaskan tangannya dan membuat airnya jatuh di wajah manis Zizan. Zizan terkejut. "Rara!"
tegur Zizan sedikit berbisik kesal, menahan diri agar tidak berteriak.
Rara kaget, baru menyadari kecerobohannya. "Astaghfirullah! Maaf, Kak!" Ia menyengir tanpa dosa. Meskipun status mereka adalah paman dan keponakan, Zizan dengan keras melarang Rara memanggilnya "Paman" atau "Om" di area pondok. Alasan utamanya adalah gengsi. Dipanggil "Om" di depan santri putri akan merusak reputasinya sebagai santri muda yang karismatik.
"Hih, cepat ke sini!" bisik Zizan sewot.
Zizan boleh saja terlihat sedingin kulkas dua pintu di depan santri putri lain, tetapi kalau sudah berhadapan dengan keluarganya sendiri, mode "jaim"-nya langsung hilang tanpa sisa.
"Iya, iya, sebentar." Rara mengambil lap handuk. "Ada apa, Kak?"
"Kamu lihat kitabku di meja teras kemarin nggak?" tanya Zizan lirih, celingukan takut ada yang menguping.
"Kitab? Kitab apa?"
"Kitab shorof! Kemarin sore aku taruh di depan setelah mengajar karena dipanggil Abah."
"Aku tidak lihat. Sebentar, aku tanyain ke yang lain." Rara berbalik badan.
"Mbak, ada yang lihat kitab shorof di meja teras depan kemarin sore nggak?"
"Tidak ada yang lihat, Ra!" sahut suara dari dalam dapur.
Rara kembali menatap pamannya sambil mengedikkan bahu.
"Enggak ada yang lihat, Kak."
"Aduh, gimana ini bentar lagi jam ngajinya dimulai," gumam Zizan frustrasi. Kebijaksanaan dan ketenangannya hilang entah ke mana.
Di tengah kepanikan Zizan, seorang gadis cantik, putih dan tinggi, muncul dari arah pintu belakang. Gadis itu adalah Zia. Langkah Zia terhenti mendadak. Ia terkejut melihat seorang santri putra yang terkenal anti-santri putri sedang berdiri di area dapur ndalem. Mata mereka tidak sengaja bertemu. Tiga detik penuh ketegangan, sebelum akhirnya kedua pasang mata itu kompak menunduk ke arah lantai, menjaga pandangan.
"Oh, maaf... Permisi, boleh lewat?" tanya Zia halus, memecah kecanggungan.
"Oh, iya, Mbak Zia. Silakan," jawab Rara ramah sambil menggeser tubuhnya memberi ruang.
Zia melangkah cepat dengan kepala menunduk melewati Zizan. Sementara Zizan terdiam di tempat, mendadak kembali ke mode patung es demi menjaga image nya yang hampir retak.
"Udahlah, Kakak pinjam punya temannya aja dulu," usul Karin memberi solusi. "Daripada nanti Kakak telat lalu dihukum Abah, berabe kan?"
"Enggak bisa, Ra! Di dalam kitab itu ada lembaran daftar nilai santri!" bisik Zizan frustrasi.
Zia yang belum berjalan terlalu jauh tak sengaja mendengar potongan obrolan panik tersebut. Jalannya sedikit melambat. "Kitab shorof? Di meja teras kemarin sore? batin Zia menyambungkan benang merah.
Zia membalikkan badannya sedikit, tanpa menatap langsung ke arah Zizan.
"Maaf... Apakah yang sedang dicari adalah kitab shorof bersampul cokelat yang ada di meja teras kemarin?"
Zizan refleks mendongak, matanya berbinar. "Ah, iya! Benar! Kamu lihat, Mbak?!" tanya Zizan, hampir saja melompat kegirangan dan melupakan seluruh kata "jaga image" yang ia bangun bertahun-tahun. Sadar dirinya terlalu senang, Zizan berdeham berat, merapikan kerah bajunya, dan mengubah suaranya agar terdengar berat dan dingin. "Maksud saya...
Ehem, maaf, Mbak. Kamu tahu di mana kitab itu sekarang?" tanya Zizan sok-cool, sedingin detektif di film-film.
Rara yang melihat perubahan drastis pamannya langsung menyenggol lengan Zizan dengan gemas. Ia berbisik sangat lirih, "Ih, Kak! Jangan sok-galak gitu sama Mbak Zia. Dia itu ustazah senior di sini, jangan sok-jaim, nggak sopan tahu!"
"Hust! Diam kamu, bocil," bisik Zizan.
Rara mendengus sebal.
"Hih!"
Zia menahan senyum tipis melihat tingkah paman dan keponakan itu. "Kemarin waktu saya sedang membersihkan meja depan, saya melihat kitab itu dan tertera nama kamu, karena khawatir kitabnya hilang atau terkena hujan, jadi saya amankan dulu. Dan tadi pagi jam tujuh sudah saya titipin ke Kang Ares yang sedang menyapu halaman depan."
Mendengar nama itu disebut, mata Zizan mendadak melotot. Rasa paniknya berganti menjadi rasa kesal.
"Apa?! Ares?!"
Zizan mengepalkan tangannya. "Muhammad Areskha Khalif!!! Awas kamu ya, habis kamu sama aku!" gumamnya lirih. Zizan pun buru-buru berpamitan sedikit berbisik lalu pergi kembali ke asrama putra untuk membalas dendam kepada Ares.
Dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak, Zizan melangkah lebar-lebar, berjalan begitu cepat sampai-sampai ia mengabaikan jam dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit. Artinya, Ia sudah resmi terlambat! Celakanya lagi, ia masih harus merebut kitabnya yang entah mengapa bisa berpindah ke tangan Ares.
"Awas kamu, Res! Bisa-bisanya tadi nuduh aku lupa naruh, ternyata malah dibawa sendiri! Kalau sampai aku kena marah Abah, siap-siap aja nama kamu tinggal kenangan!"
Zizan merutuk sepanjang jalan. Tangannya mengepal kuat, bersiap mengamuk Ares tanpa ampun.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Zizan langsung mendobraknya.
"Woy, Ares! Bangun! Di mana kitabku?!" bentaknya keras. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung melayangkan peci hitamnya, memukul tubuh Ares yang sedang asyik terkapar di lantai.
Tak ada hasil. Ares hanya terdiam. Jangankan bangun, bergeser satu sentimeter pun tidak. Membangunkan Ares yang sudah sangat terlelap memang butuh kesabaran.
"Res, ah! Bangun dong! Aku udah telat ini!" pekik Zizan frustrasi.
Namun, pandangannya mendadak terpaku pada jam dinding kamar. Angkanya sudah bergeser ke pukul 09.15 WIB.
"Hah?!" Zizan menepuk jidatnya keras-keras. Panik setengah mati, ia kembali mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya yang sebenarnya sudah hancur lebur seperti habis diterjang puting beliung akibat pencariannya tadi.
"Di mana sih?! Dasar Ares beban! Habis ini tamat riwayatku!"
Kehabisan kesabaran, mata Zizan menangkap segelas air di atas meja samping lemari. Tanpa pikir panjang, ia mengambil gelas itu dan langsung mencipratkan dan mengguyur air tersebut ke wajah sahabatnya.
"Woy, bangun! Kebakaran, woy!" teriak Zizan sambil terus memercikkan air.
"Apaan sih, Zan?!" Ares akhirnya menggeliat, terbangun dalam kondisi setengah sadar dengan wajah yang sudah basah kuyup mirip korban banjir bandang.
"Apa, apa?! Masih nanya kamu?! Mana kitabku? Aku udah terlambat ngajar!
'Oh... udah dibawa Mas Charis tadi," sahut Ares santai sambil mengusap air di wajahnya.
"Hah?! Maksudmu apa?!" Suara Zizan sedikit naik karena tensinya kian memuncak. "Duduk nggak kamu?!" Zizan menarik paksa lengan Ares, memaksanya agar duduk tegak.
"Aduh, sakit tahu!" Ares menggerutu, mengusap lengannya yang memerah.
"Tadi aku udah ke ndalem, katanya kitabnya udah dititipin ke kamu. Sekarang kenapa bisa ada di Kang... eh, di Mas Charis? Gimana ceritanya Ares?!"
"Maaf, ih. Jadi gini, emang tadi dititip ke aku, tapi aku lupa terus aku taruh di atas kusen pintu. Pas aku ingat, kamu udah pergi. Mau aku susul, tapi kaki aku rasanya udah nggak kuat, capek banget. Maaf ya?" rengek Ares dengan wajah sangat polos tanpa dosa.
"Astaghfirullahaladzim... Terus, terus kenapa bisa dibawa Mas Charis?!"
"Katanya kelas kamu belum ada yang ngisi. Udah telat sepuluh menit dan anak-anak udah hampir bubar jalan. Akhirnya langsung diisi sama Mas Charis."
"Ya Allah, Areeesss!" Zizan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai telentang. Ia menutupi seluruh wajahnya dengan peci hitam, meratapi nasib.
"Jadi dari tadi aku lari ke sana kemari kayak orang kesurupan itu nggak ada hasilnya? Terus sekarang malah diisi Mas Charis? Habis aku bisa kena marah Mas Charis."
Ahmad Nizami Charis Al-Fatih, atau yang lebih akrab disapa Mas Charis. Beliau adalah santri senior yang masa baktinya paling lama di pondok ini, bahkan sudah dianggap seperti penghuni asli pesantren karena saking lamanya berkhidmah. Beliau juga memegang kepercayaan tertinggi dari Abah dan Umi untuk membimbing pengurus serta santri lainnya.
Di tengah kekhawatiran Zizan yang sedang merenungi nasib di lantai, bayangan tinggi besar mendadak menghalangi cahaya lampu kamar. Sesosok pemuda tampan, berkulit putih, dengan tatapan mata selembut namun setegas elang, sudah berdiri tegak di hadapannya.
Zizan terlonjak kaget dan langsung bangkit berdiri dengan kikuk.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Zizan, ini kitabmu," ucap Mas Charis dengan suara beratnya yang berwibawa. "Maaf tadi saya langsung mengambil alih kelas. Saat saya berjalan menuju asrama, saya melihat para santri masih terdiam mengantuk karena pengajar belum datang. Jam pelajaran sudah terlambat sepuluh menit. Jadi, saya langsung ke sini mencari kamu, tapi katanya kamu sedang pergi. Karena saya tidak punya banyak waktu untuk membiarkan pengajian tertunda, maaf, langsung saya isi."
Kata-kata itu meluncur dengan tegas. Zizan bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sang senior. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung jempol kakinya sendiri.
"Maaf, Mas. Tadi itu..." Kalimat Zizan langsung terputus.
"Sudah, saya tidak peduli dengan alasanmu," potong Mas Charis, dingin namun telak. "Yang pasti, lain kali jika kamu berhalangan atau terlambat mengajar, carilah pengganti. Suruh orang lain menggantikanmu. Jangan biarkan para santri menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Belajarlah untuk lebih disiplin."
Sebagai sosok yang terkenal sangat menjunjung tinggi waktu, wajar saja jika Mas Charis paling alergi dengan ketidakdisiplinan.
"Baik, Mas. Maafkan kelalaian saya," Zizan pasrah.
Mas Charis mengangguk pelan. "Assalamu'alaikum." Beliau kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan kamar Zizan yang suasananya mendadak sedingin es.
Begitu langkah Mas Charis tak lagi terdengar, emosi Zizan yang tertahan langsung meledak.
Brak!
Zizan menyambar bantal di sebelahnya dan melemparkannya sekuat tenaga, tepat mendarat di wajah Ares yang masih setengah mengantuk.
"Aduh!!" Ares menjerit keras akibat hantaman bantal maut tersebut.
"Gara-gara kamu, aku kena semprot Mas Charis! Hancur, Res! Hancur sudah reputasiku sebagai santri teladan di pondok ini!" amuk Zizan.
"Ya maaf, namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa," sahut Ares sambil nyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Maaf, maaf! Makan tuh maaf!" ketus Zizan sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dengan menghentakkan kaki karena kesal.
***
Sementara itu, di koridor luar, Mas Charis sedang berjalan kembali menuju ndalem. Di tengah perjalanan, langkahnya mendadak melambat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat matanya melihat sosok wanita yang selama ini diam-diam menghuni hatinya, ia adalah Zia.
Gadis itu sedang sibuk menyapu halaman depan ndalem bersama Salsa, sahabat dekatnya. Meskipun berbeda angkatan, kedewasaan dan tingkat kedisplinan Zia yang tinggi membuat Salsa yang dua tahun lebih senior merasa sangat cocok berdiskusi banyak hal tentang pesantren dengannya. Apalagi, di kelas Salsa kini tinggal dirinya sendiri setelah teman-teman seangkatannya memutuskan untuk pulang.
Fakta pentingnya adalah Charis dan Zia sebenarnya sudah dijodohkan oleh Abah. Namun, dari Abah sendiri belum memberi ruang untuk mereka menjawab perjodohan tersebut. Mereka boleh memutuskannya setelah ngajinya selesai agar tidak mengganggu proses belajar mereka. Di samping memang hubungan itu masih hanya sekitar santri pengurus yang tahu dan belum dibawa ke arah yang lebih serius, keduanya memang berkomitmen untuk menyelesaikan tugas dan mengaji terlebih dahulu.
Langkah kaki Charis mendadak terasa berat. Ingin rasanya ia putar balik dan mencari jalan lain, tetapi sialnya, Zia telanjur melihat kedatangannya.
"Kalau aku putar balik sekarang, malah kelihatan aneh. Nanti dikira kenapa-kenapa," batin Charis panik.
Mau tidak mau, harga dirinya sebagai santri senior memaksa kakinya untuk tetap melangkah maju.
Namun, jika ia hanya lewat begitu saja tanpa menyapa, suasananya pasti akan terasa sangat kaku dan canggung. Otaknya yang biasa encer mendadak buntu, berputar keras mencari topik pembicaraan agar bisa mengobrol walau hanya sebentar.
Sebenarnya, sudah lama ia berniat menemui Zia, tetapi kesibukan pesantren selalu mengambil waktunya. Begitu jarak mereka semakin dekat, Charis berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak gugup sebelum mendekat.
Akhirnya, demi memecah kecanggungan sekaligus mencari alasan legal agar bisa berdiri di dekat Zia, sebuah ide taktis melintas di kepalanya.
"Maaf, Mbak. Tolong sampaikan pada adik saya, saya ingin bertemu nanti jam lima sore," ujar Charis kepada Zia. Nada bicaranya mendadak melunak sekitar 180 derajat, sangat jauh dari ketegasannya saat mengomeli Zizan beberapa menit lalu.
Pesan untuk adiknya itu sebenarnya bisa disampaikan nanti, tetapi ia tak perduli, yang penting ia punya alasan untuk berhenti dan berbicara dengan Zia sekarang.
"Baik, Mas. Insya Allah nanti saya sampaikan," jawab Zia lembut. Keduanya sama-sama menundukkan pandangan, menjaga pandangan, meski dalam hati ada kembang api yang meletup-letup.
"Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu." Dengan sikap yang sangat sopan dan formalitas yang kaku demi menutupi rasa salah tingkahnya, Charis melangkah pergi.
Sungguh ajaib, pesona seorang Zia mampu melunturkan aura menyeramkan dan ketegasan sang singa pesantren dalam sekejap mata.
Setelah punggung Charis benar-benar menghilang di balik tikungan koridor, Salsa langsung menghentikan aktivitas menyapunya.
"Ehem! Cie... yang baru aja ketemu calon imam masa depan," goda Salsa sambil menyenggol heboh siku Zia dengan wajah usil.
Wajah Zia yang memang sudah asli kemerah-merahan mendadak semakin merona mirip tomat matang. "Apaan sih, Mbak Salsa? Udah ah, ayo lanjut nyapu lagi nanti tidak selesai-selesai!" ujar Zia, berusaha mengalihkan pembicaraan demi menyembunyikan senyumnya yang sudah hampir lolos.
Salsa hanya tersenyum melihat sahabatnya yang salah tingkah, dan keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan menyapu halaman dengan sisa-sisa tawa yang tertinggal.
Setelah jamaah salat Zuhur usai, suasana pesantren kembali ramai oleh kesibukan para santri, menandakan dimulainya jadwal mengaji kitab sesuai tingkatan kelas masing-masing.
Di kamar pengurus pusat sekaligus abdi ndalem, tujuh orang santriwati tampak sibuk bersiap-siap. Sebenarnya, untuk tingkatan kelas Zia ke atas, jadwal mengaji di jam tersebut sudah kosong. Namun, Zia tetap ikut bersiap. Siang ini, ia bertugas untuk mengajar Kitab Sulam Taufiq di kelas dua.
Sementara itu, teman-teman sekamarnya yang lain sedang sedang asyik dengan kesibukan mereka sendiri. "Aku berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum," pamit Zia sambil memeluk kitabnya.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut teman-temannya kompak.
***
Di sisi lain kompleks pesantren, suasana yang sama terasa di kamar Zizan dan Ares. Kamar yang dihuni delapan santri putra itu terlihat ramai dengan persiapan mengaji. Hanya ada tiga orang yang tidak ikut sibuk bersiap mengaji, seperti Ares dan Dafa. karena kelasnys yang sama dengan Zia, sudah tidak ada pelajaran siang.
Sementara Zizan, walaupun sudah tidak ada jam pelajarannya ia harus bersiap untuk mengajar Kitab Sulam Taufiq di kelas putra.
Sebagai pimpinan Dewan Qori'in di bidang pendidikan dan pembelajaran pesantren, pundak Zizan memikul beban kepemimpinan yang besar. Ia dituntut menjadi teladan bagi adik-adik kelasnya. Prestasi Zizan yang berkali-kali memperoleh penghargaan santri teladan dan peringkat terbaik membuatnya selalu menjaga diri. Ia mati-matian menjaga kehormatan dan nama baiknya agar tidak menyia-nyiakan prestasinya.
"Ngaji dulu. Assalamu’alaikum," ucap Zizan mantap sebelum melangkah keluar.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab seisi kamar serentak, menaruh hormat pada sang ketua.
***
(Suasana mengaji kitab sulam taufiq putri)
Fashlun: Fii ma’aashil qalbi. Wa min ma’aashil qalbi: Ar-riya’u bi a’maalil birri... Wal ‘ujbu bi thaa’atillah... Wal kibru... Wal hasadu... Wal hiqdu... Wa suu’uzh-zhanni billahi wa bi ‘ibaadillah...
"Fasal mengenai maksiat-maksiat hati," suara Zia terdengar halus, bersiap memberikan penjelasan.
"Dan di antara maksiat-maksiat hati adalah riya atau pamer dengan amal kebaikan, ujub alias bangga diri atas ketaatan, sombong, hasad alias dengki, dendam, serta suuzan kepada Allah dan sesama makhluk."
Zia menatap deretan santriwati di hadapannya yang menyimak dengan takzim. "Itu baru judul absen penyakitnya ya, Anak-Anak. Isinya mengerikan, tapi tenang, dokternya ada di sini. Mari kita bedah satu per satu biar paham cara tobatnya."
"Yang pertama, Ar-riya’u bi a’maalil birri—Riya. Gampangnya, riya itu ibadah tapi butuh panggung. Tujuannya ingin dilihat, dipuji, atau dapat stempel 'salihah' dari manusia. Sifat ini fokusnya ke penilaian makhluk, bukan ke Allah. Jangan sampai hati kita terjangkit penyakit haus pujian ini, ya."
Zia menjeda kalimatnya sambil tersenyum penuh arti. "Contohnya begini. Ada santriwati yang kalau salat sendiri, gerakannya secepat kilat. Allahuakbar-samiallahuhalimun-assalamualaikum-assalamualaikum, selesai! Tapi begitu tahu di saf belakang ada calon mertua atau ustaz idaman lewat, mendadak sujudnya lama sekali, sampai-sampai dikira ketiduran. Sengaja biar dikira khusyuk."
Tawa kecil mulai terdengar di seisi kelas. Beberapa santriwati saling lirik dan menyenggol lengan temannya.
"Atau," Zia melanjutkan, "pas lagi giliran piket pondok terus sedekah ke pengemis, langsung ambil HP. Cekrek! Upload di status dengan caption 'Indahnya berbagi, semoga berkah'. Padahal murni biar netizen muji kalau dia itu orang yang der..."
"Dermawan!" sahut para santriwati serentak sambil tertawa kecil."Nah, paham kan? Itu namanya ibadah rasa endorse," canda Zia, membuat suasana makin cair.
"Lalu yang kedua, Wal ‘ujbu bi thaa’atillah—Ujub. Kalau riya tadi butuh penonton, nah kalau ujub ini penyakit hati. Pengertiannya adalah mengagumi diri sendiri atas ketaatan yang dilakukan. Merasa diri hebat karena bisa ibadah, sampai lupa kalau semua itu bisa terjadi murni karena pertolongan Allah. Sampai di sini, ada yang mau bertanya?"
Seorang santriwati di barisan kedua mengacungkan jarinya. "Maaf Ustazah, izin bertanya. Berarti apa perbedaan mendasar antara riya dan ujub? Apakah keduanya sama-sama dengan sombong?"
"Pertanyaan yang cerdas!" puji Zia. "Jadi begini bedanya. Riya itu butuh penonton atau saksi mata di luar diri kita. Sedangkan ujub? Wah, ujub bisa menyerang kapan pun dan di mana pun walau kalian sedang sendirian di dalam kamar mandi atau di pojokan kamar yang gelap gulita sekalipun. Karena dia sembunyi di dalam keangkuhan ego kita sendiri."
"Contoh gampangnya: malam-malam kalian bangun tahajud. Sukses nangis-nangis di atas sajadah. Begitu selesai salam, sambil melipat mukena, hati kecil kalian membatin, 'Ya Allah, hebat banget ya aku ini. Di saat satu kamar pada tidur ngorok berjamaah sampai subuh, cuma aku hamba-Mu yang terpilih buat bangun malam.' Nah! Merasa paling suci sendiri padahal lagi sendirian, itulah ujub. Jadi, jangan langsung merasa jadi wali ya kalau habis tahajud," tutur Zia diiringi senyum geli para santri.
Zia membalik halaman kitabnya perlahan. "Kita lanjut. Wal kibru—Takabur atau sombong. Ini adalah kelanjutan dari ujub yang dipelihara. Merasa diri lebih mulia, lebih tinggi, atau lebih hebat dari orang lain, yang akhirnya bikin kita merendahkan sesama dan hobi menolak kebenaran."
"Contoh mudahnya: seorang santri senior yang sudah hafal banyak kitab, tapi mendadak telinganya mendengung panas dan langsung menolak waktu dinasihati oleh santri baru yang lebih muda. Merasa egonya terluka karena merasa jauh lebih pintar. Itu kesombongan."
"Selanjutnya, Wal hasadu—Hasad alias dengki. Ini penyakit yang bikin dada sesak waktu lihat orang lain dapat nikmat, dan langsung syukuran pakai tumpeng waktu lihat orang lain dapat musibah." Zia menggeleng-gelengkan kepala dramatis, memancing tawa santrinya.
"Contohnya, tetangga sebelah rumah baru beli motor baru, eh kita yang meriang sampai masuk angin. Hati terasa panas, gelisah, terus tiap malam berdoa, 'Ya Allah, semoga motor barunya mogok atau bannya bocor terus-menerus.' Itu namanya hasad. Rugi di kita; motor tetangga tetap jalan, kita yang habis uang buat beli koyo karena masuk angin mikirin hidup orang."
Kelas kembali dipenuhi tawa renyah. Suasana materi yang tadinya berat kini terasa begitu dekat dengan keseharian mereka.
"Lalu ada Wal hiqdu—Dendam," sambung Zia lagi.
"Menyimpan rasa benci dan permusuhan dalam waktu lama, sambil pasang radar nunggu momen yang pas buat balas dendam. Contohnya, pernah disalahpahami sama teman waktu kelas satu. Eh, sampai mau lulus kelas enam, dendamnya masih disimpan rapi di dompet. Tiap ketemu, mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika, terus sibuk cari celah buat mempermalukan teman itu di depan umum. Jangan ya, rugi waktu, rugi pahala."
"Terakhir, suuzan atau berburuk sangka. Kitab ini membaginya jadi dua arah. Pertama, suuzan kepada Allah. Menggerutu dan menuduh Allah tidak adil waktu dikasih ujian sakit atau gagal ujian. 'Kenapa harus aku yang kena cobaan ini? Kenapa bukan dia aja ya Allah?' Padahal ujian itu tanda Allah rindu sama rintihan doa kita."
"Kedua, suuzan kepada hamba-hamba Allah. Menuduh niat baik orang lain tanpa bukti. Contoh, melihat pengurus pondok mendadak rajin ke masjid dan bersih-bersih, hatinya langsung membatin, 'Halah, paling rajin karena mau pemilu ketua pondok baru, biar dibilang saleh.' Nah, pikiran-pikiran begini nih yang bikin kuota pahala kita kesedot habis."
Zia menutup penjelasannya dengan pandangan menatap seluruh kelas. Suaranya melembut, membawa emosi santri kembali ke inti kitab.
"Semua penyakit tadi disebut maksiat hati.
Bahayanya tersembunyi karena tidak terlihat dari luar. Kelihatannya kita rajin ngaji, rajin salat, tapi di dalam hati ternyata keropos karena penyakit-penyakit ini menghapus seluruh pahala amalan kita tanpa sisa. Sayang kan, sudah lelah ibadah tapi pahalanya zonk? Memang susah buat menghindarinya, Ustazah juga masih belajar.
Menghindari maksiat hati itu di awal rasanya seperti mendaki gunung, berat sekali. Tapi kalau hati kita sudah terbiasa dilatih untuk ikhlas dan bersih, insya Allah semuanya akan terasa ringan dan indah. Sampai di sini, paham ya semuanya?"
"Insya Allah," jawab serentak semua murid.
"Wallahu a'lam bish-shawab."
"Amin," sahut para santriwati kompak dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Zia beranjak dari tempat duduknya, memberikan senyum ramah, lalu melangkah meninggalkan kelas yang kini terasa jauh lebih hangat.
***
Sesampainya di kamar, Zia meletakkan kitabnya ke dalam lemari. Namun, saat jemarinya tengah merapikan letak kitab-kitab tersebut, sebuah pertanyaan dari sahabatnya seketika meruntuhkan ketenangannya.
"Zi... pesan dari Mas Charis udah kamu sampaiin belum?" tanya Salsa, mengingatkan.
Zia syok. Jantungnya berdetak hebat.
"Astaghfirullahaladzim! Aku lupa, Mbak Sal!" serunya syok. Zia bergegas memutar tubuh, bersiap kembali keluar dengan tergesa-gesa.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti oleh kelanjutan ucapan Salsa.
"Udah, udah aku sampaikan tadi, Zi," potong Salsa santai. "Tadi waktu aku ke asrama kompleks, kebetulan bertemu sama dia yang baru pulang ngaji. Jadi langsung aku sampaiin sekalian. Takutnya kamu lupa atau enggak keburu nanti.
"Di sudut kamar, Sinta yang mendengar kalimat Salsa mendadak mengubah raut wajahnya. Tatapannya dingin, menatap Salsa dengan pandangan sinis. Ada ketegangan yang terlihat dari caranya memandang, seolah-olah ada kesalahan besar atau maksud tersembunyi dari ucapan yang baru saja meluncur dari bibir sahabatnya itu.
"Hih! Astaghfirullah, Astaghfirullah... Tenang, Sin. Jaga hatimu," batin Sinta bergejolak, mencoba sekuat tenaga menekan ego dan gejolak negatif yang mendadak bangkit di dadanya.
Zia yang tidak menyadari ketegangan tersembunyi itu mengembuskan napas lega. Sebuah senyuman manis terkembang di wajahnya, menghapus kepanikan yang sempat mendera.
"Oh, iya... Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Mbak Sal," sahut Zia tulus.
"Iya, sama-sama," jawab Salsa ramah, menutup percakapan siang itu dengan misteri yang belum terungkap.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!