Indonesia
NovelToon NovelToon

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Episode 1

Bab 001

"Nona Keira, Anda positif hamil."

Kalimat dokter itu jatuh begitu pelan, tetapi rasanya seperti memecahkan seluruh udara di ruang periksa RS Pusat Jakarta.

Keira duduk kaku di kursi pasien. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam ujung tas langsung mengeras. Di luar jendela, langit Jakarta sudah gelap oleh awan hujan. Lampu putih ruang konsultasi membuat wajahnya tampak semakin pucat.

"Hamil?" ulangnya lirih.

Dokter perempuan di depannya mengangguk. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya tenang seperti orang yang sudah berkali-kali menyampaikan kabar besar kepada pasien. Namun, kali ini tatapannya menyimpan kehati-hatian.

"Usia kandungan masih sangat muda. Dari hasil pemeriksaan awal, kemungkinan sekitar lima minggu."

Lima minggu.

Keira merasa tenggorokannya tercekat. Ingatannya mundur ke malam kacau yang selama ini ia paksa kubur dalam-dalam. Aroma alkohol yang terlalu kuat. Kepala yang berat. Kamar hotel yang gelap. Suara napas laki-laki asing yang tidak pernah ia kenali wajahnya dengan jelas.

Besok ia seharusnya menikah dengan Ryan Salim.

Besok seluruh Jakarta kelas atas akan melihatnya berdiri sebagai calon istri keluarga Salim.

Dan hari ini, dokter mengatakan ia hamil.

"Dok," suara Keira hampir tidak keluar, "kalau... kalau kandungan ini tidak bisa dipertahankan?"

Dokter menutup map di tangannya dengan lebih hati-hati. "Saya harus jujur, Nona Keira. Lapisan rahim Anda tipis. Kondisi tubuh Anda juga sedang lemah. Jika dipaksa menggugurkan kandungan, risikonya besar."

"Seberapa besar?"

"Anda bisa mengalami pendarahan berat. Kemungkinan paling buruk, Anda tidak bisa hamil lagi."

Ruangan itu mendadak terasa dingin. Keira menunduk, kedua tangannya tanpa sadar bergerak ke perut yang masih datar. Tidak ada gerakan apa pun di sana. Tidak ada tanda yang bisa dilihat mata. Namun, sejak dokter mengatakannya, bagian tubuh itu terasa seperti menyimpan sesuatu yang rapuh dan hidup.

"Jadi saya harus mempertahankannya?"

"Secara medis, itu pilihan yang paling aman untuk tubuh Anda." Dokter menatapnya lembut. "Saya tahu situasi ini mungkin sulit. Tapi apa pun keputusan Anda, jangan ambil sendirian dalam keadaan panik."

Keira ingin tertawa, tetapi dadanya terlalu sakit.

Jangan ambil sendirian.

Seumur hidupnya di Rumah Mulyono, keputusan tentang dirinya selalu diambil orang lain. Setelah Engkong Mulyono meninggal, Hendra mengambil alih rumah itu. Siska mengambil alih semua urusan perempuan di keluarga. Vania mengambil apa pun yang pernah membuat Keira sedikit bahagia, mulai dari gaun, undangan pesta, sampai tatapan Ryan.

Keira hanya punya nama Mulyono, tetapi bahkan nama itu terasa seperti pinjaman yang bisa dicabut kapan saja.

"Saya mengerti, Dok." Ia mengambil napas pelan. "Tolong rahasiakan hasil pemeriksaan ini."

Dokter mengangguk. "Tentu. Data pasien bersifat rahasia."

Keira baru berdiri ketika pintu ruang konsultasi yang tidak tertutup sempurna bergerak sedikit. Hanya sedikit. Namun, cukup untuk membuat bayangan di luar pintu menghilang terlalu cepat.

Jantung Keira berdebar.

"Ada orang di luar?" tanyanya.

Dokter ikut menoleh. "Mungkin pasien berikutnya."

Keira tidak menjawab. Ia keluar dengan langkah pelan, tetapi koridor sudah kosong. Hanya bau antiseptik, suara roda ranjang dari ujung lorong, dan rintik hujan yang mulai memukul kaca.

Ia mencoba menenangkan diri.

Mungkin benar hanya pasien lain.

Namun di sudut koridor dekat lift, Vania Mulyono menempelkan ponsel ke telinganya. Bibirnya melengkung, matanya berkilat seolah baru menemukan hadiah ulang tahun.

"Papa," bisiknya, "Keira hamil."

Keira tidak mendengar kalimat itu.

Ia baru tahu hidupnya runtuh satu jam kemudian, ketika mobil yang membawanya pulang berhenti di depan Rumah Mulyono.

Rumah besar di Kebayoran Baru itu berdiri megah di balik pagar tinggi. Lampu taman menyala kekuningan, memantul di genangan air hujan. Biasanya rumah itu terasa dingin. Malam ini, dinginnya seperti sengaja menunggu.

Begitu Keira masuk, ruang tengah sudah penuh.

Hendra berdiri di dekat sofa utama dengan wajah gelap. Siska duduk di sampingnya, dagu terangkat. Vania berdiri tidak jauh dari tangga, mengenakan gaun rumahan mahal, senyumnya manis tetapi matanya penuh racun.

Beberapa pelayan berdiri merapat di dinding. Mereka menunduk, tetapi telinga mereka jelas terbuka.

Keira berhenti di ambang pintu.

"Om Hendra," panggilnya pelan.

Tamparan kata-kata Hendra datang lebih dulu daripada penjelasan.

"Jangan panggil aku Om dengan mulut kotor itu."

Keira membeku.

Siska mendecak. "Masih pura-pura tidak tahu? Dasar anak tidak tahu malu."

Keira menatap Vania. Senyum sepupunya semakin lebar. Saat itu ia mengerti. Bayangan di depan ruang konsultasi bukan pasien lain.

"Vania," suara Keira bergetar, "kamu mengikuti aku?"

"Mengikuti?" Vania tertawa kecil. "Aku hanya kebetulan lewat. Tapi ternyata aku dengar berita bagus. Besok calon pengantin keluarga Salim menikah, hari ini sudah hamil. Hebat sekali, Keira."

Wajah Keira memanas. "Aku bisa menjelaskan."

"Menjelaskan apa?" Hendra melangkah maju. Suaranya keras, memenuhi ruang tengah. "Menjelaskan bagaimana kau membawa aib ke rumah ini? Menjelaskan bagaimana kau mempermalukan nama Mulyono tepat sebelum pernikahanmu?"

"Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi," kata Keira cepat. "Malam itu... aku dijebak. Aku tidak sadar. Aku bahkan tidak tahu siapa pria itu."

Siska tertawa sinis. "Dijebak? Perempuan yang ketahuan hamil memang selalu punya alasan."

"Tante Siska, aku tidak bohong."

"Jangan sebut aku Tante." Siska berdiri. "Aku tidak punya keponakan seperti kamu."

Keira menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada satu pun orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja, apakah ia takut, apakah ia butuh pertolongan.

Yang mereka lihat hanya aib.

Atau mungkin lebih tepat, kesempatan.

Hendra mengangkat dagu. "Mulai malam ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Mulyono."

Suara hujan di luar terdengar semakin deras.

Keira seperti tidak mendengar dengan benar. "Apa?"

"Aku akan umumkan kepada keluarga besar bahwa kau sudah dikeluarkan. Semua hakmu atas rumah ini, atas aset keluarga, dibekukan sampai pemeriksaan selesai."

Keira akhirnya mengerti. Ia menatap pria yang selama ini mengatur warisan peninggalan Engkong Mulyono dengan tangan terlalu rakus.

"Jadi ini tentang harta?" tanyanya pelan.

Mata Hendra menyipit. "Jaga mulutmu."

"Engkong meninggalkan bagian untukku." Keira menahan napas, berusaha tetap berdiri tegak. "Om tidak bisa mencabutnya begitu saja."

Hendra tertawa dingin. "Anak yang mencoreng nama keluarga tidak pantas bicara soal warisan."

Rasa takut di dada Keira berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam. "Aku belum menikah dengan Ryan, tapi kalian semua tahu aku tidak pernah menyentuh pria lain dengan sadar. Kalau ada yang salah malam itu, seharusnya kalian cari kebenarannya, bukan langsung membuangku."

Vania berjalan mendekat. Wangi parfumnya manis menyengat.

"Kebenaran?" Ia berhenti tepat di depan Keira. "Kebenarannya sederhana. Ryan tidak akan menikahi perempuan hamil anak orang lain."

Nama Ryan membuat dada Keira tersayat. "Ryan sudah tahu?"

Vania tersenyum lebih puas. "Belum. Tapi dia akan tahu. Semua orang akan tahu kalau kamu tidak pergi malam ini."

"Vania, kenapa kamu melakukan ini?"

"Karena aku muak melihat semua orang memujimu." Suara Vania turun, tetapi kebenciannya justru semakin jelas. "Perempuan tercantik nomor satu di Jakarta, cucu kesayangan Engkong, calon istri Ryan Salim. Kamu selalu berdiri di tempat yang seharusnya jadi milikku."

Sebelum Keira sempat menjawab, telapak tangan Vania sudah melayang.

Plak!

Kepala Keira terdorong ke samping. Pipi kirinya langsung panas. Suara tamparan itu membuat beberapa pelayan menahan napas, tetapi tidak ada yang bergerak.

Keira perlahan menoleh kembali. Matanya memerah, tetapi air matanya belum jatuh.

"Tamparan ini," bisik Vania, "untuk mengingatkanmu agar tahu diri."

Siska maju dan menarik gelang dari pergelangan tangan Keira. Tarikannya kasar sampai kulitnya perih.

"Ini milik keluarga."

"Itu pemberian Engkong untukku!"

"Engkong sudah meninggal." Siska mencabut kalung kecil dari leher Keira. Rantai tipis itu putus, meninggalkan garis merah di kulitnya. "Orang mati tidak bisa membelamu."

Keira merasakan napasnya patah.

Hendra memberi isyarat kepada dua pelayan laki-laki. "Bawa dia keluar."

"Om Hendra, tolong." Keira mundur setengah langkah, kedua tangannya kembali memeluk perut. "Aku tidak minta kalian percaya sekarang. Beri aku waktu. Aku akan cari bukti."

"Bukti tidak akan menghapus aib." Hendra menatapnya seperti menatap noda di lantai. "Rumah ini tidak menampung perempuan murahan."

Kata itu membuat seluruh tubuh Keira gemetar.

Perempuan murahan.

Padahal ia korban. Padahal ia juga takut. Padahal ia bahkan belum sempat memahami ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya.

Dua pelayan mendekat. Keira mencoba menahan diri di sisi meja, tetapi Siska merampas tasnya. Kartu identitas, paspor, dan dompetnya dikeluarkan satu per satu.

"Semua dokumen keluarga tinggal di sini," kata Siska.

"Aku perlu kartu identitasku!"

"Untuk apa? Agar bisa membawa nama Mulyono kabur sambil menjual cerita sedih?" Siska memasukkan semua ke laci meja dan mengunci. "Pergi dengan baju yang kau pakai. Itu sudah cukup baik."

Keira menatap pintu utama yang terbuka. Angin hujan masuk membawa bau tanah basah. Di luar, halaman gelap menunggu seperti lubang.

"Aku sedang hamil," katanya. Suaranya pecah untuk pertama kali. "Setidaknya biarkan aku mengambil obat dari dokter."

Vania mendekat lagi. "Kalau begitu jaga baik-baik anak harammu itu di jalan."

Keira mengangkat mata.

Mungkin karena tatapan itu terlalu tajam, senyum Vania hilang sesaat. Namun hanya sesaat. Ia mendorong bahu Keira.

"Keluar."

Keira tersandung.

Pelayan yang diperintah Hendra menarik lengannya. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia melewati ruang tengah, melewati deretan mata yang pura-pura tidak melihat, melewati foto keluarga besar Mulyono yang tergantung megah di dinding.

Di foto itu, Keira masih tersenyum di samping Engkong Mulyono.

Malam ini, tidak ada lagi yang tersisa dari senyum itu.

Begitu sampai di teras, hujan langsung menghantam wajahnya. Air dingin menyusup ke rambut, ke leher, ke gaun tipis yang ia pakai sejak dari rumah sakit. Petir menyala sesaat, memperlihatkan pagar tinggi dan jalanan kosong.

"Mulai malam ini," suara Hendra terdengar dari belakang, "jangan pernah kembali ke Rumah Mulyono."

Keira menoleh. "Om akan menyesal."

Hendra tertawa pendek. "Kau pikir siapa yang akan membelamu?"

Keira tidak punya jawaban.

Tidak ada Ryan. Tidak ada keluarga. Tidak ada dokumen. Tidak ada payung.

Hanya ada detak jantungnya yang kacau dan perut datar yang ia lindungi dengan kedua tangan.

Vania berdiri di belakang Hendra, wajahnya diterangi lampu teras. Siska di sampingnya tersenyum puas. Keduanya tampak seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu.

Pintu besar Rumah Mulyono ditutup.

Suara bantingannya lebih keras daripada petir.

Keira berdiri beberapa detik di bawah hujan. Tubuhnya menggigil. Ketika ia mencoba melangkah menuruni tangga, kakinya terpeleset di anak tangga yang licin.

Tubuhnya jatuh.

Dahinya membentur sudut batu.

Rasa sakit meledak putih di kepalanya. Ia mendengar dirinya mengerang, tetapi suara itu langsung ditelan hujan. Sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya, bercampur air, turun ke pipi, ke dagu, lalu menetes ke punggung tangannya.

Darah.

Keira terbaring miring di bawah gerbang rumah yang pernah ia sebut pulang. Matanya kabur oleh air hujan dan air mata yang akhirnya tidak bisa ia tahan.

Namun, tangannya tidak bergerak ke dahinya.

Tangannya tetap memeluk perut.

"Jangan takut," bisiknya pada kehidupan kecil yang belum bisa mendengar. Bibirnya gemetar. "Mommy di sini."

Kata itu keluar begitu saja.

Mommy.

Keira menangis tanpa suara. Bukan untuk dirinya saja, melainkan untuk anak yang belum lahir dan sudah ditolak dunia sebelum sempat melihatnya.

Di balik pintu, tidak ada yang membuka. Tidak ada yang memanggil namanya. Tidak ada langkah tergesa datang menolong.

Malam itu, Keira Mulyono menghilang dari Rumah Mulyono dengan dahi berdarah, tubuh basah kuyup, dan satu janji yang tumbuh bersama rasa sakit di dadanya.

Ia akan hidup.

Ia akan menjaga anak ini.

Dan suatu hari, ia akan kembali.

Lima tahun kemudian, Jakarta akan belajar bahwa perempuan yang mereka buang di tengah hujan bukan lagi gadis yang bisa mereka injak. Ia pulang membawa nama, kekuatan, dan luka yang cukup tajam untuk membuat seluruh keluarga Mulyono berlutut.

Episode 2

Bab 002

Lima tahun kemudian, pagi di Soekarno-Hatta terasa seperti halaman baru yang sengaja dibuka terlalu cepat.

Pintu kedatangan internasional bergeser. Dari arus penumpang bisnis yang bergerak tergesa, Keira muncul dengan kacamata hitam, gaun hitam sederhana yang jatuh pas di tubuh, dan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan ritme tenang.

Tidak ada lagi gadis basah kuyup di depan Rumah Mulyono.

Tidak ada lagi perempuan yang berjalan tanpa paspor, tanpa dompet, tanpa tempat pulang.

Di belakangnya, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berjalan sambil memeluk tablet tipis. Wajahnya putih bersih, matanya bulat seperti anggur hitam, dan bibirnya kemerahan seperti habis mencuri permen. Di samping bocah itu, seorang gadis kecil dengan rambut halus diikat dua menenteng boneka kelinci sambil melompat kecil.

"Mommy," bisik Tiffany, "Jakarta panas, ya?"

Keira menunduk. Suaranya langsung melunak. "Baru keluar pesawat, Tiffi sudah protes?"

Tiffany mengerucutkan bibir. "Bukan protes. Tiffi cuma memberi laporan cuaca."

Ethan tidak mengangkat wajah dari tabletnya. "Laporan cuaca tidak penting. CCTV terminal B mati dua detik lagi. Mommy, belok kanan. Jalur VIP kosong."

Keira berhenti setengah langkah. "Eth."

Bocah itu menatapnya dengan mata polos yang terlalu pintar. "Aku cuma lihat. Belum merusak apa-apa."

"Belum?"

"Belum banyak."

Keira menahan senyum. Lima tahun membesarkan dua anak ini sendirian membuatnya terbiasa pada kejutan kecil setiap pagi. Ethan bisa membuka sistem keamanan hotel sebelum ia bisa mengikat tali sepatu dengan rapi. Tiffany bisa membuat puluhan ribu orang di TikTok Live meleleh hanya dengan menyanyikan lagu anak-anak sambil salah lirik.

Mereka adalah alasannya bertahan.

Mereka juga alasannya kembali.

Keira menatap papan kedatangan beberapa detik. Lima tahun di Singapura mengajarinya berjalan tanpa menoleh. Ia membangun SH Corporation dari ruang sewa kecil, tidur di sofa kantor ketika Ethan demam, menyusui Tiffany sambil membaca laporan investasi, dan menangis hanya setelah dua anaknya tertidur.

Namun Jakarta punya bau yang tidak berubah. Campuran kopi bandara, parfum mahal, dan udara lembap setelah hujan. Bau itu membuat luka lama bergerak seperti bekas jahitan yang terkena dingin.

"Mommy takut?" tanya Ethan tiba-tiba.

Keira menatap anak itu. Di balik gaya sok dewasanya, Ethan tetap anak kecil yang bisa membaca napas ibunya.

"Tidak."

Ethan memiringkan kepala. "Kalau begitu kenapa tangan Mommy dingin?"

Keira menunduk pada tangan yang menggenggam koper kecil Tiffany. Benar. Ujung jarinya dingin.

Tiffany langsung memeluk pinggangnya. "Kalau ada orang jahat, Tiffi bisa nyanyi keras-keras sampai mereka pusing."

Keira tertawa pelan. Suara itu pendek, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit longgar.

"Mommy punya kalian. Jadi Mommy tidak takut."

Di sisi lain terminal, suasana berubah lebih dingin ketika Kevin Hartono melangkah keluar dari lift privat. Setelan gelapnya rapi tanpa satu lipatan, wajahnya tampak seperti tidak pernah belajar tersenyum kepada dunia. Feng mengikuti di belakangnya sambil membawa map dan ponsel kedua.

"Boss," kata Feng cepat, "manifest penumpang dari Singapura sudah cocok. Nama Ainara tidak muncul, tapi data biometrik menunjukkan target berada di pesawat yang sama."

Kevin berhenti. "Dia memakai identitas lain."

"Kemungkinan besar."

"Cari dari kamera kedatangan."

"Sedang dilakukan."

Di samping Kevin, Darren berjalan tanpa suara. Bocah itu memakai kemeja kecil warna putih dan celana pendek mahal. Wajahnya begitu mirip Kevin sampai beberapa staf bandara sempat menoleh dua kali. Namun matanya lebih sunyi daripada anak seusianya.

Kevin menunduk. "Ren, pegang tangan Daddy."

Darren tidak menjawab, tetapi jari kecilnya bergerak masuk ke telapak Kevin.

Feng melirik bocah itu sebentar. "Tuan muda terlihat gelisah sejak turun dari mobil, Boss."

Kevin tidak suka orang lain membicarakan Darren seolah anak itu laporan medis. Namun Feng sudah bekerja dengannya cukup lama untuk tahu kapan harus bicara.

"Dia tidur?"

"Kurang dari tiga jam. Pak Hadi bilang semalam tuan muda terus melihat jendela."

Kevin menunduk lagi. "Ren, mau pulang?"

Darren menggeleng hampir tak terlihat.

Itu sudah jawaban panjang untuk ukuran Darren.

Kevin mengusap puncak kepala anaknya. Hatinya yang biasa dingin selalu melemah di satu tempat ini. Darren datang ke hidupnya dari panti asuhan privat dengan berkas terlalu bersih dan mata terlalu sepi. Tidak ada nama ibu. Tidak ada riwayat keluarga. Hanya bayi kecil yang berhenti menangis begitu Kevin menggendongnya.

Sejak hari itu, Kevin tidak pernah melepasnya.

Sejak tiga tahun lalu, Kevin belajar membaca diam anaknya. Diam saat lelah berbeda dengan diam saat takut. Diam saat ingin sesuatu berbeda dengan diam saat menahan tangis. Hari ini Darren terlalu diam, tetapi tubuh kecilnya tidak tampak sakit. Hanya gelisah.

Lalu Darren berhenti.

Matanya terpaku pada satu arah.

Kevin mengikuti pandangannya.

Di antara kerumunan, seorang perempuan berkacamata hitam berjalan menuju jalur VIP. Rambutnya tergerai halus, bibirnya merah, langkahnya tidak cepat tetapi membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Di sampingnya ada dua anak kecil.

Kevin menyipit.

Ada sesuatu pada perempuan itu. Bukan sekadar cantik. Bukan sekadar mahal. Ia membawa jarak, seolah seluruh bandara hanya ruang singgah yang boleh ia tinggalkan kapan pun.

Darren tiba-tiba melepas tangan Kevin.

"Pretty Mommy."

Suara itu kecil. Hampir tertelan suara pengumuman bandara. Namun bagi Kevin, dua kata itu seperti benda keras yang jatuh ke lantai kaca.

Darren bicara.

Anaknya yang selama ini hanya mengucapkan kata-kata pendek ketika benar-benar dipaksa, baru saja memanggil perempuan asing.

"Ren?"

Darren sudah berlari.

Kevin bergerak cepat mengejarnya. "Darren!"

Beberapa penumpang terkejut ketika bocah kecil itu menyelip di antara koper. Kevin nyaris menabrak seorang pria asing yang membawa tas golf. Feng langsung mengambil alih, meminta maaf sambil memberi jalan. Dalam beberapa detik, aura rombongan Hartono membuat petugas bandara ikut bergerak, tetapi Kevin mengangkat tangan, melarang mereka menyentuh Darren.

Anaknya tidak pernah berlari kepada siapa pun.

Tidak kepada guru terapi.

Tidak kepada dokter anak.

Tidak kepada keluarga besar Hartono yang mencoba memanjakannya dengan hadiah mahal.

Namun hari ini Darren berlari kepada perempuan yang bahkan belum mereka kenal.

Di depan, Keira baru saja menerima pesan dari Rio bahwa mobil sudah menunggu di pintu VIP. Ia meraih tangan Tiffany, sementara Ethan mendadak mengangkat kepala.

"Mommy."

Nada Ethan berubah.

"Ada yang mengejar kita."

Keira tidak menoleh terlalu jelas. Cukup dari pantulan kaca toko bebas bea, ia melihat bocah kecil berwajah sama persis dengan Ethan berlari ke arahnya.

Dunia berhenti.

Wajah itu.

Mata itu.

Tinggi badan itu.

Lima tahun luka yang ia simpan rapi mendadak retak.

Bocah itu berhenti beberapa langkah darinya, terengah kecil. Bibirnya bergetar seperti ada banyak kata yang tidak tahu jalan keluar.

"Pretty Mommy," ulangnya.

Keira merasa lututnya hampir lemas.

Tiffany menatap bocah itu, lalu menatap Ethan. "Koko Eth, kenapa kamu ada dua?"

Ethan tidak menjawab. Jarinyalah yang bergerak cepat di tablet.

"Mommy, kita harus pergi sekarang."

Kevin tiba tepat saat Keira menoleh. Untuk satu detik, mata mereka bertemu.

Tidak ada nama. Tidak ada masa lalu yang dikenali. Hanya hentakan asing di dada, tajam dan tidak masuk akal.

Kevin melihat perempuan itu menahan napas. Keira melihat laki-laki itu berdiri seperti badai yang memakai jas mahal.

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Namun ia tahu bocah di depannya milik pria itu.

Dan hati kecilnya, bagian yang paling keras kepala dari seorang ibu, berteriak bahwa bocah itu juga miliknya.

"Nona," Kevin berkata rendah, "tunggu."

Keira mendengar suara itu dan sesuatu di tulang punggungnya menegang. Suara laki-laki itu tidak keras, tetapi terbiasa dipatuhi. Di masa lalu, suara seperti itu pernah membuatnya kehilangan rumah. Hari ini ia tidak akan membiarkan siapa pun memakai nada perintah untuk mengambil anak-anaknya.

Ethan menekan layar.

Lampu indikator di jalur VIP berkedip. Sistem pintu otomatis terbuka lebih cepat. Dua petugas keamanan yang tadinya ingin menghentikan Keira tiba-tiba menerima notifikasi prioritas di perangkat mereka.

"Mommy, kanan. Sekarang."

Keira menggenggam tangan Tiffany dan menarik napas. Ia ingin berlutut, memeluk bocah itu, bertanya siapa namanya, dari mana ia datang, kenapa wajahnya sama seperti anak yang ia peluk setiap malam. Namun langkah Kevin mendekat. Instingnya berubah menjadi perlindungan.

Ia tidak boleh panik.

Belum.

"Maaf," katanya kepada Darren, suaranya lembut sampai hampir patah. "Mommy harus pergi dulu."

Darren membeku pada kata itu.

Mommy.

Kevin juga mendengarnya. Matanya langsung menggelap.

Sebelum ia sempat meraih Keira, Ethan sudah menarik ibunya masuk ke jalur VIP. Pintu kaca menutup. Di layar informasi bandara, sistem tiba-tiba mengalami gangguan kecil. Kamera di tiga sudut terminal membeku selama tujuh detik.

Tujuh detik cukup untuk membuat Keira menghilang.

Kevin berdiri di depan pintu tertutup. Feng berlari mendekat dengan napas tertahan.

"Boss, kamera terminal kehilangan jejak."

"Berapa lama?"

"Tujuh detik."

Kevin menatapnya.

Feng langsung menunduk. "Seseorang masuk ke sistem internal bandara. Bukan amatir. Sangat bersih."

Kevin mengingat bocah laki-laki yang berjalan di samping perempuan itu. Wajahnya hanya terlihat sekilas, tetapi cukup. Anak itu terlalu mirip Darren. Bukan mirip seperti anak-anak yang kebetulan memiliki bentuk mata sama. Itu wajah yang sama, seolah dunia membuat salinan lalu menyembunyikannya lima tahun.

"Anak laki-laki tadi," kata Kevin, "ambil fotonya dari kamera sebelum gangguan."

"Baik, Boss."

Darren menyentuh kaca pintu yang sudah tertutup. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, bibir kecilnya bergerak lagi.

"Mommy..."

Kevin menoleh pelan. Dada pria itu seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak ia pahami.

"Ren, kamu kenal dia?"

Darren tidak menjawab. Air matanya jatuh satu, tanpa suara.

Itu lebih mengganggu Kevin daripada seribu laporan buruk.

Kevin menatap Darren. Anak itu masih memandang pintu, mata hitamnya basah, tetapi tidak menangis.

"Cari perempuan itu," kata Kevin.

"Ainara?"

Kevin menoleh pelan. "Cari semuanya. Ainara, perempuan berkacamata hitam itu, dua anak kecil yang bersamanya. Aku mau nama mereka sebelum matahari terbenam."

Di luar terminal, Keira masuk ke mobil hitam yang sudah menunggu. Begitu pintu tertutup, tubuhnya yang sejak tadi tegak akhirnya sedikit merosot.

Tiffany memeluk bonekanya erat. "Mommy, anak tadi siapa?"

Ethan menatap layar. Di sana, satu foto buram dari CCTV sempat tersimpan sebelum ia memutus akses. Wajah bocah itu sama dengannya, hanya matanya lebih sepi.

Keira menyentuh layar dengan ujung jari.

Untuk pertama kali sejak kembali ke Jakarta, suaranya terdengar tidak stabil.

"Mommy pulang ke Jakarta," bisiknya, "untuk mencari kakak kalian."

Tiffany menutup mulut kecilnya. "Koko yang hilang?"

Keira mengangguk. Matanya masih melekat pada foto buram itu. "Mommy belum pasti. Tapi hati Mommy..."

Ia tidak mampu melanjutkan.

Ethan memegang tangan ibunya. Untuk semua kecerdasan yang membuat orang dewasa kewalahan, ia tetap anak yang ingin melihat ibunya tidak menangis.

"Aku akan cari, Mommy. Aku akan cari semua tentang Darren Hartono."

Mobil melaju masuk ke jalan tol bandara. Jakarta terbentang di depan mereka, padat, bising, dan penuh musuh lama.

Keira mengusap layar, tepat di wajah bocah yang memanggilnya Pretty Mommy.

"Kita akan menemukannya," katanya. "Apa pun yang harus Mommy hadapi."

Episode 3

Bab 003

Siang itu, The Grand Ballroom, Ritz-Carlton Pacific Place, dipenuhi bunga putih, lampu kristal, dan senyum palsu yang mahal.

Nama Ryan Salim dan Vania Mulyono terpampang di layar besar dekat panggung. Para tamu dari lingkaran bisnis Jakarta duduk berbaris rapi. Kamera bergerak pelan, merekam gaun pengantin Vania yang berkilau seperti ia benar-benar perempuan paling bahagia hari itu.

Keira berdiri di balik pintu utama ballroom.

Di tangannya tidak ada undangan. Tidak ada buket. Tidak ada ucapan selamat. Hanya satu map tipis berisi dokumen digital yang cukup untuk mengubah pesta itu menjadi lelucon.

Dari celah pintu, ia melihat wajah-wajah yang dulu membuang namanya seperti noda. Tante-tante sosialita yang pernah memuji kulitnya, sekarang duduk di baris depan sambil memakai berlian. Para pebisnis yang dulu menunduk hormat kepada Hendra, sekarang menunggu kesempatan berfoto dengan keluarga Salim.

Jakarta memang mudah lupa.

Keira tidak.

Di luar pintu, Rio menunggu dengan tablet berisi dokumen kepemilikan. Di dalam, suara pembawa acara terdengar lembut.

"Sekarang kita masuk pada prosesi janji setia."

Keira menatap pintu tertutup itu.

Lima tahun lalu, nama Ryan pernah ditulis di undangan pernikahannya.

Lima tahun lalu, pria itu tidak datang saat ia dilempar keluar dari Rumah Mulyono. Tidak menelepon. Tidak bertanya. Beberapa minggu kemudian, kabar yang ia dengar hanya satu: Ryan sering terlihat bersama Vania.

Hari ini, Ryan berdiri di tempat yang dulu seharusnya menjadi milik Keira.

Dengan perempuan yang menamparnya di malam hujan itu.

"Bos," Rio berkata pelan, "semua dokumen sudah diverifikasi. Grand Ballroom dan unit komersial terkait resmi di bawah kendali anak perusahaan SH Corporation sejak pukul sembilan pagi."

Keira mengangguk.

"Bagus."

"Perlu saya masuk dulu?"

"Tidak." Keira melepas kacamata hitamnya. Lipstik merahnya tampak menyala di bawah lampu koridor. "Mereka mengusirku di depan orang banyak. Aku juga akan kembali di depan orang banyak."

Rio menatap punggungnya. Ia mengenal Keira setelah perempuan itu sudah menjadi bos yang bisa menandatangani kontrak bernilai ratusan miliar tanpa mengubah ekspresi. Namun setiap kali nama Mulyono disebut, ada sesuatu yang lebih dingin muncul di mata Keira.

"Anak-anak sudah aman di suite," kata Rio.

"Ethan?"

"Sedang membongkar data Hartono Estate."

Keira menghela napas kecil. "Tentu saja."

"Tiffany menonton kartun."

"Pastikan dia tidak membuka live."

"Sudah saya kunci tabletnya."

Baru setelah itu Keira mendorong pintu.

Di dalam ballroom, Ryan mengambil mikrofon. Wajahnya tampan, senyumnya dibuat penuh perasaan.

"Vania," ucapnya, "aku berjanji akan menjagamu, menghormatimu, dan membuatmu menjadi perempuan paling bahagia."

Vania tersenyum manis. Matanya berkaca-kaca, tetapi bukan karena cinta. Ia terlalu menikmati semua tatapan iri.

Hendra duduk di barisan depan dengan dada membusung. Siska di sampingnya terus berbisik kepada tamu lain, memastikan semua orang tahu bahwa Mulyono dan Salim akan menjadi aliansi keluarga yang kuat.

"Mulyono akhirnya punya menantu sekelas Salim," kata seorang tamu.

Siska tersenyum. "Tentu saja. Vania memang pantas."

Di sisi lain, Nyonya Salim menerima ucapan selamat dengan dagu terangkat. Baginya, pernikahan ini adalah transaksi cantik. Ryan mendapatkan koneksi Mulyono, Vania mendapatkan nama Salim, dan skandal lima tahun lalu terkubur tanpa perlu dibicarakan.

Tidak ada yang menyebut Keira.

Nama itu dianggap sudah mati.

Saat Vania hendak mengucapkan janjinya, pintu ballroom terbuka.

Tidak keras.

Tidak dramatis dengan teriakan.

Namun seluruh ruangan tetap menoleh.

Keira masuk mengenakan gaun merah. Warna itu seharusnya menjadi warna keberuntungan dalam pesta, tetapi di tubuhnya, merah itu seperti peringatan. Langkahnya tenang. Rambutnya tersusun rapi. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sepasang anting kecil dan tatapan yang membuat suara piano berhenti satu nada lebih cepat.

Gaun itu bukan gaun pengantin, tetapi seluruh perhatian tamu berpindah kepadanya seolah ia yang seharusnya berdiri di altar.

Seorang fotografer tanpa sadar menekan tombol kamera. Kilatan lampu menyala. Setelah itu kilatan lain menyusul. Tidak ada yang tahu apakah mereka sedang merekam tamu tak diundang atau kelahiran skandal baru, tetapi semua orang tahu satu hal: ini terlalu menarik untuk dilewatkan.

Seorang tamu berbisik, "Itu... Keira Mulyono?"

"Bukannya dia sudah diusir?"

"Lima tahun tidak muncul. Kenapa dia ada di sini?"

Ryan menurunkan mikrofon. Senyumnya menghilang.

Keira.

Nama itu bergerak di bibirnya tanpa suara. Perempuan yang dulu ia tinggalkan telah kembali dengan wajah yang membuat seluruh ballroom kehilangan napas.

Vania menggenggam buketnya terlalu kuat. "Kamu?"

Keira berhenti di tengah lorong. Matanya menyapu panggung, bunga, tamu, lalu berhenti pada Vania.

"Lanjutkan," katanya ringan. "Aku datang sebagai pemilik tempat, bukan tamu undangan."

Ruangan itu meledak dalam bisik-bisik.

Hendra langsung berdiri. "Keira! Apa maksudmu membuat keributan di acara keluarga?"

"Acara keluarga?" Keira tersenyum tipis. "Menarik. Lima tahun lalu Om bilang aku bukan keluarga."

Wajah Hendra menegang. Siska berbisik tajam, "Panggil keamanan."

Vania menggenggam lengan Ryan. "Sayang, lakukan sesuatu."

Ryan tidak langsung bergerak. Ia masih menatap Keira, seolah otaknya gagal menyatukan gadis pucat yang dulu lenyap dengan perempuan di hadapannya sekarang.

"Ryan!" Vania mendesis.

Baru saat itu Ryan berkedip. "Keira, ini bukan tempatnya."

"Justru ini tempatnya," jawab Keira.

Dua petugas keamanan mendekat, tetapi Rio sudah menunjukkan tablet kepada manajer ballroom. Wajah manajer berubah pucat. Ia segera memberi isyarat agar petugas mundur.

Hendra melihat itu. "Kenapa kalian diam? Keluarkan dia!"

Manajer membungkuk kaku. "Maaf, Pak Hendra. Kami tidak bisa."

"Tidak bisa?"

Keira berjalan lagi. Hak sepatunya terdengar jelas di lantai marmer.

"Mereka bekerja untuk pemilik gedung." Ia berhenti tepat di depan panggung. "Dan sejak pagi tadi, pemiliknya adalah aku."

Siska tertawa tidak percaya. "Jangan mengada-ada. Kamu pikir orang-orang di sini bodoh?"

Hendra menatap manajer ballroom. "Saya yang menandatangani kontrak sewa tempat ini. Saya kenal general manager kalian."

Manajer menunduk lebih dalam. "Benar, Pak. Kontrak sewa tetap berlaku. Tetapi hak pengelolaan gedung berpindah pemilik. Kami wajib mengikuti instruksi pemilik baru selama tidak melanggar hukum."

"Dan mengusirku?" tanya Keira. "Itu jelas melanggar instruksi pemilik."

Beberapa tamu mulai tertawa kecil. Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat wajah Hendra mengeras.

Rio mengangkat layar. Dokumen kepemilikan, cap notaris, dan nama perusahaan pengelola muncul di layar ballroom setelah staf teknis menerima perintah dari sistem pusat. Semua tamu melihatnya.

Grand Ballroom itu berada di bawah anak perusahaan SH Corporation.

Nama kuasa pengendali tertulis jelas: Keira Mulyono.

Suara bisik berubah menjadi riuh.

Vania mundur satu langkah. "Tidak mungkin."

"Apa yang tidak mungkin?" Keira menatapnya. "Aku membeli tempat yang kalian sewa tanpa izin. Itu saja."

"Kamu tidak punya uang sebanyak itu," Vania berkata tajam. "Kamu pergi dari rumah tanpa sepeser pun."

"Benar." Keira mengangguk. "Aku pergi tanpa sepeser pun. Tanpa dokumen. Tanpa keluarga. Terima kasih sudah mengingatkan semua orang."

Ruangan kembali senyap.

Keira menatap Vania. "Itu yang membuat hari ini lebih menarik, kan? Karena perempuan yang kalian kira mati di luar sana ternyata bisa membeli atap di atas kepala kalian."

Ryan akhirnya turun dari panggung. Ia mencoba tersenyum seperti dulu, senyum yang pernah membuat Keira percaya bahwa masa depan bisa sederhana.

"Keira, kita bisa bicara baik-baik."

Keira memandangnya seperti melihat dokumen lama yang sudah tidak berlaku.

"Kita punya lima tahun untuk bicara baik-baik. Kamu memilih diam."

Ryan terdiam.

Hendra menahan malu di depan ratusan orang. "Kamu sengaja datang untuk mempermalukan kami?"

"Tidak." Keira mengangkat alis. "Aku datang untuk memakai hakku."

Siska berdiri, suaranya melengking. "Hak apa? Kamu perempuan yang sudah mencoreng nama Mulyono!"

Beberapa tamu saling pandang. Kata-kata itu terlalu kasar untuk acara mewah, tetapi justru karena kasar, semua orang mendengarnya.

Keira tidak marah. Ia hanya tersenyum lebih dingin.

"Tante Siska, lima tahun lalu Tante mengambil gelang, kalung, paspor, bahkan kartu identitasku. Hari ini aku hanya mengambil kembali ruangan yang memang milikku. Rasanya masih jauh lebih sopan."

Wajah Siska memerah.

Vania tiba-tiba maju. "Kamu iri, kan? Kamu iri karena Ryan akhirnya menikahiku."

Keira menoleh kepada Ryan. "Iri?"

Ryan tampak ingin menjawab, tetapi matanya masih melekat pada wajah Keira. Vania melihat itu. Bibirnya bergetar.

Keira tertawa pelan. "Vania, kalau aku benar-benar menginginkan sesuatu, aku tidak perlu merebut sisa dari tanganmu."

Kalimat itu membuat beberapa tamu menunduk menyembunyikan senyum. Wajah Vania langsung pucat.

Ryan tampak tersinggung, tetapi lebih banyak karena menyadari dirinya disebut sisa. Nyonya Salim menatap putranya dengan kecewa yang cepat disembunyikan. Dalam keluarga seperti Salim, rasa malu tidak boleh terlihat terlalu lama.

Hendra memukul sandaran kursi. "Cukup! Kamu tidak punya hak mengatur pernikahan ini."

"Aku punya hak mengatur ruangan ini." Keira mengangkat tangan.

Lampu panggung meredup setengah. Layar besar berganti menampilkan sertifikat kepemilikan dan klausul penggunaan venue. Pembawa acara kehilangan kata-kata. Musik berhenti sepenuhnya.

Keira menatap seluruh ruangan.

"Kalian boleh tetap di sini jika mengikuti aturanku."

Hendra mendesis, "Aturan apa?"

Keira naik satu anak tangga menuju panggung. Gaun merahnya menyapu lantai seperti api yang tidak terburu-buru membakar.

"Karena ini tempatku," katanya, setiap kata terdengar jernih, "maka aku yang menentukan siapa boleh berdiri di atas panggung."

Ia menatap Vania, lalu Ryan, lalu Hendra.

"Siapa yang ingin memakai ballroom milikku untuk menikah, turun dari panggung dulu."

Vania menggigil oleh marah. "Kamu gila."

Keira tersenyum.

"Belum. Aku baru mulai."

Ia mengangkat tangan, menghentikan seluruh suara yang mulai naik.

"Kalau kalian masih ingin memakai aula milikku," katanya, "berlututlah dan minta izin."

Kamera ponsel yang sejak tadi diam-diam merekam kini terangkat lebih tinggi. Tidak ada yang ingin berkedip. Jakarta sudah lama menyukai drama orang kaya, tetapi jarang ada drama yang disajikan lengkap dengan gaun merah, mantan tunangan, sepupu perebut calon suami, dan dokumen kepemilikan properti dalam satu panggung.

Keira melihat semua itu dan membiarkannya.

Lima tahun lalu, rasa malunya disebar tanpa izin.

Hari ini, ia memilih sendiri panggungnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!