Indonesia
NovelToon NovelToon

Dinyatakan Mandul, CEO Ini Tak Tahu Punya Anak Kembar

Episode 1

Bab 1: Bangun di Rumah Asing

Bau lembap dan besi berkarat menyambut Meilan lebih dulu daripada cahaya.

Ia membuka mata dengan napas tersengal. Langit-langit di atasnya rendah, kusam, dan ada noda air melebar seperti bekas luka lama. Dari sudut ruangan, tetes air jatuh pelan ke dalam baskom plastik. Tik. Tik. Tik. Suaranya kecil, tetapi menusuk kepala.

Meilan tidak langsung bergerak.

Tubuhnya terasa asing. Lengannya lebih kurus dari ingatannya. Telapak tangannya kasar, bukan tangan yang terbiasa memegang senjata, bukan juga tangan yang biasa menandatangani laporan keamanan bernilai miliaran.

Ia seharusnya sudah mati.

Ledakan itu masih terasa di telinganya. Wajah sahabat yang mengkhianatinya masih tergantung di benaknya, bersama bau asap, pecahan kaca, dan rasa dingin saat darah mengalir dari tubuhnya sendiri.

Namun sekarang ia terbaring di kasur tipis yang menempel pada lantai semen.

"Mama..."

Suara kecil itu membuat seluruh ototnya menegang.

Meilan menoleh.

Dua anak kecil tidur meringkuk di sampingnya. Seorang anak laki-laki memeluk boneka kelinci lusuh di dada. Wajahnya kecil, tetapi garis alis dan hidungnya terlalu tegas untuk usia semuda itu. Di sisi lain, seorang anak perempuan memeluk ujung baju Meilan, pipinya masih basah oleh bekas air mata.

Jantung Meilan seperti diremas.

Ingatan yang bukan miliknya tiba-tiba masuk dengan kasar.

Meilan Mulyadi. Putri Hendry Mulyadi, pejabat menengah di bagian hubungan pemerintah. Anak sah yang sejak umur lima tahun dikirim jauh ke Bekasi dengan alasan "dibesarkan lebih tenang", padahal sebenarnya dibuang agar tidak mengganggu rumah tangga baru ayahnya dengan Cynthia Mulyadi.

Lima belas tahun. Dipanggil pulang bukan untuk disayangi, tetapi untuk dijadikan pengganti Xenia Mulyadi, dinikahkan ke keluarga Limanto demi membawa keberuntungan bagi pewaris mereka yang sakit parah.

Lalu pelarian.

Hujan.

Gudang tua di Jakarta Timur.

Napas seorang pria yang berat karena obat. Tangan yang sama-sama kehilangan kendali. Ketakutan. Sakit. Gelap.

Meilan menggigit bibir sampai terasa asin.

Ia tidak membiarkan ingatan itu membuka lebih jauh. Bukan sekarang. Bukan saat dua anak kecil bernapas di sampingnya.

Bobo dan Lala.

Nama itu muncul bersama rasa sakit yang bukan miliknya, tetapi segera menjadi miliknya. Anak kembar. Tiga tahun. Lahir dari tubuh yang selama ini dihina seluruh perumahan sebagai janda muda tanpa asal-usul jelas.

Meilan duduk perlahan.

Ruangan itu sempit. Dindingnya mengelupas. Pintu besi di depan berkarat, bagian bawahnya menganga sedikit sehingga angin pagi masuk membawa bau got dari gang kecil. Di dekat kompor satu tungku, ada panci penyok berisi nasi sisa semalam. Di atas piring plastik, hanya tersisa sedikit tempe goreng yang sudah keras.

Itu makanan mereka.

Nasi dengan lauk seadanya.

Meilan menatap piring itu lama. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah bertahan di banyak tempat buruk, tetapi kemiskinan seperti ini berbeda. Ini bukan misi. Ini hidup sehari-hari. Ini keadaan yang harus diterima oleh dua anak berusia tiga tahun.

Jari kecil tiba-tiba menyentuh lengannya.

Anak perempuan itu terbangun. Matanya besar dan basah, seperti anggur hitam yang baru dicuci. Begitu melihat Meilan duduk, bibir kecilnya bergetar.

"Mama sakit?"

Suara Lala begitu pelan sampai hampir hilang ditelan bunyi tetesan air.

Meilan menatapnya. Ada sesuatu yang lunak dan panas pecah di dadanya.

Ia bukan ibu anak ini.

Pikiran itu hanya lewat sekali.

Detik berikutnya, tubuh kecil Lala sudah merangkak mendekat dan menempelkan pipi ke perutnya. Anak itu gemetar, tetapi tetap memeluknya seolah takut Meilan akan menghilang.

Meilan mengangkat tangan. Gerakannya canggung hanya sesaat, lalu telapak tangannya turun ke punggung mungil itu.

"Mama tidak apa-apa, Sayang."

Lala mengendus kecil. "Tadi Mama diam lama."

"Sekarang Mama sudah bangun."

Anak laki-laki di sebelah mereka ikut membuka mata. Berbeda dari Lala yang langsung mencari pelukan, Bobo tidak bergerak cepat. Ia mengamati Meilan dengan mata gelap yang terlalu tenang.

Terlalu dalam.

Untuk sesaat, Meilan merasa melihat bayangan seseorang dari wajah kecil itu. Bukan Hendry Mulyadi. Bukan siapa pun dari ingatan pemilik tubuh ini. Garis wajah Bobo seperti potongan teka-teki yang belum ditemukan tempatnya.

"Mama lapar?" tanya Bobo.

Kalimatnya pendek. Nadanya datar, tetapi tangannya sudah mendorong piring plastik berisi tempe keras ke arah Meilan.

Meilan menatap piring itu, lalu menatap anak itu.

Bobo sendiri tampak menelan ludah.

Ia lapar.

Namun ia memberikan makanan itu untuk ibunya.

Meilan menarik napas pelan. Di dadanya, rasa sakit berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih tajam.

"Bobo makan dulu."

"Mama dulu," jawab Bobo.

Lala ikut mengangguk cepat. "Mama dulu. Lala masih kenyang."

Perut kecilnya berbunyi pada saat yang sama.

Meilan hampir tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu perih.

Ia mengambil piring itu, mematahkan tempe menjadi tiga bagian, lalu menyuapkan bagian paling besar kepada Lala. Bagian berikutnya ia berikan kepada Bobo. Bagian terkecil ia makan sendiri.

Rasanya keras, dingin, dan terlalu asin.

Tetapi ketika Lala mengunyah sambil menatapnya dengan mata penuh percaya, Meilan tahu satu hal dengan sangat jelas.

Ia boleh datang ke dunia asing. Ia boleh bangun di tubuh perempuan yang hidupnya hancur. Ia boleh tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat aman.

Namun mulai detik ini, dua anak ini berada di bawah perlindungannya.

Ketukan keras menghantam pintu.

Lala tersentak sampai hampir menjatuhkan tempe.

Bobo langsung turun dari kasur. Tubuhnya kecil, bahkan lututnya masih tampak bulat seperti anak balita, tetapi ia berdiri di depan Lala.

"Jangan buka," katanya pendek.

Meilan menatap punggung kecil itu. "Kamu tahu siapa?"

Bobo mengangguk. "Bu Ningsih. Suaranya kasar."

Dari luar, suara perempuan melengking menembus pintu.

"Meilan! Jangan pura-pura mati di dalam! Buka pintu!"

Beberapa tetangga mulai berbisik di gang. Meilan bisa mendengar sandal bergesek, jendela dibuka, dan suara ibu-ibu yang pura-pura menyiram tanaman.

Ingatan pemilik tubuh ini memberi jawaban cepat.

Ningsih. Tetangga sebelah yang sering datang meminjam beras tetapi selalu pulang membawa gosip. Perempuan itu suka menuduh Meilan menggoda suaminya, Joni, karena Joni pernah membantu memperbaiki atap bocor.

Meilan berdiri.

Kepalanya masih berat, tetapi langkahnya stabil.

Lala memegang ujung bajunya. "Mama..."

"Duduk di belakang Bobo."

Bobo menoleh. Meilan melihat kilatan waspada di mata anak itu. Ia belum percaya keadaan sudah aman, tetapi ia patuh.

Meilan membuka pintu.

Ningsih berdiri di depan dengan daster bunga-bunga dan wajah penuh amarah yang terlalu siap dipamerkan. Di belakangnya, tiga ibu tetangga berdiri setengah lingkaran. Mereka membawa ekspresi prihatin, tetapi mata mereka hidup karena rasa ingin tahu.

"Akhirnya keluar juga," kata Ningsih. "Kupikir kamu sengaja sembunyi karena malu."

Meilan menyandarkan satu tangan pada kusen. "Malu untuk apa?"

Ningsih tertawa tajam. "Masih tanya? Perempuan tidak tahu diri. Suamiku semalam pulang telat. Kamu pikir aku tidak tahu dia dari mana?"

Bisik-bisik di belakangnya langsung naik.

Meilan memperhatikan wajah perempuan itu. Mata merah, rambut belum disisir, bibir gemetar bukan karena yakin, tetapi karena takut suaminya benar-benar berpaling.

Sayangnya, sasaran kemarahannya salah.

"Kalau suamimu pulang telat, tanya suamimu," kata Meilan.

"Jangan sok polos!" Ningsih menunjuk wajahnya. "Sejak kamu tinggal di sini, laki-laki jadi suka lewat depan rumahmu. Janda muda, anak dua, tapi masih sempat tebar pesona. Kamu mau rebut Joni dari aku?"

Lala meringkuk di belakang kaki Bobo. Meilan merasakan itu tanpa menoleh.

Para tetangga makin mendekat.

Ningsih mendapatkan panggungnya.

Meilan tersenyum tipis.

"Joni tidak ada di sini."

"Tentu saja sekarang tidak ada!"

"Semalam juga tidak ada."

Ningsih membuka mulut, tetapi Meilan sudah melanjutkan.

"Kalau kamu benar-benar ingin tahu dia dari mana, tanya Bu Ani. Rumahnya dua gang dari sini. Pagar hijau. Lampu terasnya mati sejak magrib, tetapi sandal Joni ada di depan pintunya sampai hampir jam sebelas."

Gang mendadak sunyi.

Wajah Ningsih berubah.

"Kamu bohong."

"Kamu boleh cek." Meilan menatap sandal jepit Ningsih yang basah oleh lumpur. "Atau kamu sudah cek, tapi tidak berani ribut ke sana karena Bu Ani punya dua kakak laki-laki?"

Salah satu ibu tetangga menutup mulutnya.

Yang lain berbisik, "Pagar hijau itu benar rumah Bu Ani, kan?"

Ningsih tampak kehilangan pijakan. Kemarahannya masih ada, tetapi arah anginnya berubah. Ia melirik ke belakang, melihat para tetangga yang tadi ia bawa sebagai saksi kini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang baru.

"Kamu memfitnah aku," desis Ningsih.

"Tidak. Aku mengembalikan fitnahmu ke tempat asalnya."

Meilan maju setengah langkah.

Ningsih otomatis mundur.

Gerakan kecil itu membuat bisik-bisik makin ramai. Meilan melihatnya, lalu sengaja merendahkan suara. Bukan untuk melembut, tetapi agar setiap kata terdengar jelas.

"Dengar baik-baik, Bu Ningsih. Aku tidak tertarik pada suamimu. Aku juga tidak punya waktu meladeni drama rumah tanggamu. Kalau kamu datang lagi membawa tuduhan di depan anak-anakku, aku tidak akan hanya bicara di depan pintu."

Ningsih menelan ludah. "Kamu mengancam?"

"Aku memberi batas."

"Aku bisa lapor Ketua RT. Perempuan seperti kamu memang tidak cocok tinggal di Gang Pelita. Bikin malu warga."

Meilan memandang gang sempit itu. Dinding kusam, kabel listrik menjuntai, orang-orang yang menonton penderitaan orang lain seperti hiburan pagi. Di tempat ini, pemilik tubuh sebelumnya menunduk terlalu lama.

Meilan tidak akan menunduk.

"Silakan lapor," katanya. "Sekalian bawa Joni dan Bu Ani. Kita bicara di depan Ketua RT, lengkap dengan saksi."

Ningsih pucat.

Meilan tidak memberinya ruang untuk pulih. Ia memegang daun pintu dan menatap para tetangga satu per satu.

"Pertunjukan selesai."

Lalu ia menutup pintu tepat di depan wajah Ningsih.

Tidak dibanting. Tidak perlu.

Di luar, suara Ningsih masih terdengar memaki, tetapi nadanya sudah pecah. Beberapa tetangga mulai bertanya tentang Bu Ani. Panggung yang ia bawa untuk mempermalukan Meilan berubah menjadi tempat orang menguliti rumah tangganya sendiri.

Di dalam, Lala berlari memeluk kaki Meilan.

"Mama hebat," bisiknya.

Meilan menunduk dan mengusap rambutnya. "Mama hanya tidak mau orang jahat berisik di depan Lala."

Bobo masih berdiri dekat pintu. Matanya menatap kayu tipis itu, seolah memastikan Ningsih tidak kembali. Baru setelah suara di luar menjauh, bahunya turun sedikit.

"Dia akan panggil Ketua RT," kata Bobo.

Meilan berjongkok di depannya. "Tak apa. Kalau dia panggil, Mama hadapi."

Bobo menatapnya lama. "Mama tidak takut?"

"Tidak."

"Dulu Mama takut."

Kalimat itu sederhana. Namun tepat mengenai tempat paling sakit dari ingatan pemilik tubuh ini.

Meilan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Bobo. Kulit anak itu hangat. Wajah kecilnya begitu dekat, begitu jelas, dan sekali lagi rasa ganjil itu muncul. Mata, hidung, bentuk rahang yang masih lembut tetapi sudah memperlihatkan garis seseorang yang tidak dikenal.

Seseorang yang pasti bukan keluarga Mulyadi.

Meilan menahan napas.

Bobo mengerutkan kening. "Mama kenapa?"

Meilan memaksa ujung bibirnya naik. "Tidak apa-apa."

Ia menarik kedua anak itu ke dalam pelukan. Lala langsung menyusup ke dadanya. Bobo kaku sebentar, lalu membiarkan diri dipeluk.

Di luar, pagi Gang Pelita tetap sempit dan penuh gosip. Di dalam kontrakan bocor itu, Meilan memejamkan mata dan membuat keputusan pertama dalam hidup barunya.

Ia akan bertahan.

Ia akan memberi makan anak-anak ini, memberi mereka rumah yang layak, dan membuat siapa pun yang pernah menginjak mereka menyesal sudah pernah mencoba.

Ketika Lala kembali tenang, Bobo tertidur di pangkuannya. Meilan menatap wajah anak laki-laki itu dalam cahaya tipis dari celah pintu.

Semakin lama dilihat, semakin kuat rasa tidak masuk akal itu.

Wajah ini terlalu mirip dengan seseorang.

Tapi siapa?

Episode 2

Bab 2: Anak yang Diculik

Tapi siapa?

Pertanyaan itu menempel di kepala Meilan bahkan setelah matahari naik lebih tinggi di atas lorong sempit Gang Pelita.

Bobo masih tertidur di pangkuannya, wajah kecilnya tenang, tetapi alisnya sesekali berkerut seperti orang dewasa yang sedang menahan banyak pikiran. Lala tidur di sisi lain, satu tangannya tetap menggenggam ujung baju Meilan.

Meilan tidak berani bergerak terlalu keras.

Di luar, suara Ningsih sudah hilang. Yang tersisa hanya bisik-bisik tetangga, suara panci dipukul dari rumah sebelah, dan derit gerobak sayur yang lewat di ujung gang.

Rumah ini terlalu miskin untuk disebut rumah.

Meilan membuka lemari plastik yang pintunya retak. Hanya ada dua baju anak yang sudah pudar, satu kaus milik pemilik tubuh ini, dan kain lap yang mungkin dulu pernah menjadi handuk. Di sudut bawah, sebuah dompet kain terlipat.

Isinya membuat Meilan terdiam.

Beberapa lembar uang kecil. Koin. Tidak cukup untuk membeli beras dan lauk selama dua hari.

Ia menutup dompet itu pelan.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mengatur evakuasi untuk keluarga orang kaya, membaca peta risiko, menilai harga sebuah kontrak keamanan hanya dari satu kali rapat. Sekarang, persoalan paling mendesak adalah membeli telur, minyak, dan obat merah untuk dua anak kecil.

Lala terbangun lebih dulu. Begitu sadar Meilan sudah berdiri, anak itu langsung duduk.

"Mama mau pergi?"

"Sebentar saja. Mama beli makanan."

Lala langsung panik. "Lala ikut."

Bobo ikut membuka mata. Ia duduk pelan, rambutnya berantakan tetapi tatapannya sudah waspada.

"Gang ramai," katanya.

Meilan menangkap maksudnya. Ningsih mungkin belum selesai membuat masalah. Ketua RT mungkin akan datang. Namun anak-anak butuh makan.

"Bobo jaga Lala di dalam. Jangan buka pintu untuk siapa pun."

Bobo mengangguk, lalu menarik Lala lebih dekat. "Kalau ada orang, Lala diam."

Lala menggigit bibir. "Mama cepat pulang?"

Meilan berjongkok di depan mereka. Ia memegang pipi Lala, lalu menyentuh kepala Bobo.

"Mama cepat pulang. Kunci pintu. Kalau ada yang memaksa masuk, teriak sekeras mungkin."

Bobo menatapnya. "Bobo tidak takut."

"Takut itu boleh," kata Meilan. "Yang penting kamu tahu harus apa."

Anak laki-laki itu diam sebentar, lalu mengangguk.

Meilan mengunci pintu dari luar dengan gembok kecil yang hampir berkarat. Ia tidak suka meninggalkan mereka, tetapi pasar kecil hanya beberapa gang dari rumah. Ia berjalan cepat, membeli beras paling murah, telur enam butir, sedikit ayam potong, obat merah, plester, dan dua roti manis yang membuatnya memikirkan mata Lala.

Semua harus cepat.

Tetapi ketika ia kembali, gang depan kontrakannya sudah ramai.

Ada suara tangis Lala.

Langkah Meilan berhenti sepersekian detik. Darahnya seperti membeku, lalu mendidih.

"Lala!"

Ia berlari.

Pintu kontrakan terbuka. Gemboknya jatuh di lantai, dipukul paksa dengan batu. Di dalam, piring plastik pecah. Kasur tipis terseret. Tidak ada Lala.

Bobo juga tidak ada.

Meilan menaruh belanjaan begitu saja dan keluar lagi. Di ujung gang, seorang ibu menunjuk ke arah belakang perumahan dengan wajah pucat.

"Mbak Mei, tadi anak-anak itu lari ke sana. Dedi bawa anak perempuanmu!"

"Dedi?"

"Anaknya Pak Joko. Dia sama Dimas dan Fajar. Katanya cuma bercanda, tapi Bobo mengejar sambil menangis."

Meilan tidak menunggu kalimat itu selesai.

Ia berlari ke belakang perumahan.

Sandalnya hampir lepas dua kali. Kantong belanja di tangannya menghantam pagar dan membuat telur pecah, tetapi ia tidak berhenti. Setiap sudut gang seperti tiba-tiba memanjang. Setiap bisikan tetangga terdengar seperti hinaan.

"Tadi mereka bilang cuma mau main," ujar seorang bapak dari teras, suaranya ragu.

Meilan menatapnya sambil terus berlari. "Anak menangis dibawa paksa, dan Anda menyebut itu main?"

Bapak itu langsung diam.

Di ujung gang, seorang anak kecil menunjuk ke tanah kosong. "Kak Bobo tadi jatuh di sana!"

Kata jatuh itu membuat napas Meilan makin pendek. Ia melihat jejak sandal kecil di tanah basah, satu garis terseret seperti seseorang mencoba bertahan. Di sampingnya ada pita rambut Lala yang putus.

Meilan memungut pita itu.

Tangannya dingin.

Di tanah kosong dekat tembok pembatas, tiga anak laki-laki yang lebih besar sedang mengelilingi sesuatu. Dedi, sekitar sepuluh tahun, memegangi Lala yang menangis keras. Fajar berdiri di sampingnya, tertawa gugup. Dimas, tubuhnya paling besar, menindih Bobo ke tanah.

Wajah Bobo penuh debu.

Lala menendang-nendang kecil. "Bobo! Mama!"

Dedi tertawa sambil mengencangkan pegangan. "Jangan nangis. Mulai sekarang kamu pacar kecilku. Kalau sudah besar, kamu tinggal di rumahku."

Kalimat itu membuat Meilan hampir kehilangan kendali.

Namun sebelum ia sampai, Bobo bergerak.

Tubuh tiga tahun itu tidak mungkin menang melawan Dimas. Tangannya tertahan. Punggungnya ditekan lutut. Tetapi kepalanya masih bebas.

Ia menoleh, membuka mulut, lalu menggigit lengan Dimas sekuat-kuatnya.

Dimas menjerit.

"Aduh! Lepas! Bocah gila!"

Bobo tidak melepas.

Matanya merah. Air mata bercampur debu di pipinya, tetapi giginya tetap menancap. Itu bukan serangan. Itu bukan keberanian yang dibuat-buat. Itu keputusasaan seorang kakak kecil yang melihat adiknya dibawa pergi.

Dimas memukul kepala Bobo dengan tangan satunya.

Lala menjerit lebih keras.

"Jangan pukul Bobo!"

Meilan tiba tepat saat Dimas mengangkat tangan lagi.

Ia mencengkeram pergelangan tangan anak itu dan memutarnya. Dimas terlempar ke samping, jatuh berguling sambil meraung. Bobo tersedak, tetapi masih mencoba bangun.

Meilan menangkap tubuh Bobo dengan satu lengan.

"Mama datang."

Bobo tidak menangis. Ia hanya berkata dengan suara serak, "Lala."

Meilan menoleh.

Dedi sudah pucat, tetapi masih memeluk Lala sebagai tameng.

"Jangan dekat!" teriak Dedi. "Papa saya Ketua RT Griya Asri. Kamu tidak bisa apa-apa!"

Meilan melangkah.

"Lepaskan anakku."

Fajar mundur duluan. "Dedi, udah. Mamanya serem."

"Diam!" Dedi membentak. "Lala mau kubawa pulang. Mama bilang anak perempuan cantik bisa jadi menantu bagus."

Lala menggigil di pelukan kasar itu.

Meilan melihat jari Dedi yang menekan lengan Lala terlalu kuat. Ada bekas merah muncul di kulit anak itu.

Sesuatu yang dingin turun ke matanya.

"Aku hitung sampai tiga."

Dedi mencoba tertawa, tetapi suaranya pecah. "Kamu siapa berani ngatur aku?"

"Satu."

Orang-orang mulai datang. Ada yang berbisik, ada yang menutup mulut. Tidak ada yang langsung maju.

"Dua."

Dedi memeluk Lala lebih erat.

Meilan tidak menunggu tiga.

Ia bergerak cepat, menangkap pergelangan Dedi, menekan titik sakit di antara ibu jari dan telunjuk. Dedi menjerit. Lala terlepas. Meilan menarik Lala ke dadanya, lalu menendang lutut Dedi cukup keras untuk membuatnya jatuh, tetapi tidak sampai patah.

Dedi meraung di tanah.

"Mama!" Lala menangis terisak dan memeluk leher Meilan.

Bobo merangkak mendekat, satu tangannya memegang lengan yang lecet. Bibirnya berdarah karena menggigit terlalu kuat.

Meilan memeluk keduanya.

Namun suara berat tiba-tiba membelah kerumunan.

"Siapa yang berani menyentuh anakku?"

Seorang pria besar berlari dari arah gang, wajahnya merah, napasnya bau rokok dan amarah. Itu bapaknya Dimas. Di tangannya ada pisau dapur panjang, masih basah entah karena air atau bekas memotong sesuatu.

Dimas langsung berteriak, "Pa! Anak kecil itu gigit aku!"

Pria itu melihat lengan Dimas, lalu melihat Bobo.

Tidak ada niat bertanya di matanya.

"Bocah kurang ajar!"

Ia menerjang.

Beberapa perempuan menjerit. Seseorang berteriak meminta pria itu berhenti. Tetapi tubuhnya sudah maju, pisau terangkat ke arah Bobo.

Bobo berdiri di depan Lala meski kakinya gemetar.

Meilan meletakkan Lala ke belakang tubuhnya, menarik Bobo dengan satu tangan, lalu berputar.

Kaki kanannya melesat.

Tendangan itu mengenai lengan pria tersebut tepat di pergelangan. Pisau terlempar, berputar di udara, lalu jatuh menghantam tanah dengan bunyi kering.

Pria itu terhuyung, belum sempat memahami apa yang terjadi.

Meilan sudah menendang dadanya.

Tubuh besar itu jatuh ke tanah, debu naik di sekitar punggungnya.

Seluruh tanah kosong membeku.

Meilan berdiri di antara pria dewasa yang terkapar dan dua anaknya yang menangis. Napasnya tidak berat. Matanya gelap.

Ia menatap pria itu dari atas.

"Menyentuh anakku?" suaranya rendah, tetapi semua orang mendengar. "Kamu harus bersyukur aku pulang tidak terlalu terlambat."

Bobo batuk kecil di belakangnya.

Meilan langsung menoleh. Amarah di matanya retak sesaat ketika melihat anak itu memegang perutnya sambil tetap berdiri di depan Lala. Ia ingin menggendongnya, ingin memeriksa setiap luka, tetapi pria dewasa di tanah masih bergerak dan pisau masih tergeletak tidak jauh.

"Bobo, mundur tiga langkah," katanya.

Bobo patuh, meski kakinya goyah.

Meilan menendang pisau itu menjauh sampai masuk ke selokan kering. Baru setelah itu ia berdiri lebih tegak, menghadap semua orang yang menyaksikan.

"Siapa pun yang masih mau menyebut ini urusan anak-anak," ucapnya, "silakan maju sekarang."

Tidak ada satu pun orang bergerak.

Angin lewat membawa bau tanah basah dan telur pecah dari kantong belanja Meilan yang tertinggal jauh di depan rumah. Hal kecil itu tiba-tiba membuatnya makin marah. Ia tadi hanya pergi membeli makanan. Sepuluh menit saja. Dalam sepuluh menit, dunia ini hampir merampas satu anaknya dan melukai yang lain.

Ia menatap bapaknya Dimas sekali lagi. Pria itu kini tidak lagi berteriak. Matanya melebar, akhirnya paham bahwa perempuan kurus di depannya bukan Meilan lama yang bisa ditekan.

"Menyentuh anakku?" ulang Meilan pelan. "Kamu harus bersyukur aku pulang tidak terlalu terlambat."

Episode 3

Bab 3: Ibu yang Tidak Bisa Ditindas

"Kamu harus bersyukur aku pulang tidak terlalu terlambat."

Suara Meilan jatuh di tanah kosong seperti pisau.

Bapaknya Dimas mencoba bangun, tetapi Meilan menginjak dadanya lebih dulu. Tidak terlalu keras untuk meremukkan tulang, tetapi cukup untuk membuat pria itu tersedak dan kembali terbaring di tanah.

Kerumunan mundur setengah langkah.

Lala menangis di belakang Meilan, wajahnya merah, napasnya patah-patah. Bobo berdiri di samping adiknya, tangan kecilnya menggenggam kaus Lala. Lengan Bobo lecet. Di bibirnya ada darah tipis.

Meilan melihat itu.

Tekanan di kakinya bertambah.

Pria di bawahnya mengerang.

"Kau mau pakai pisau untuk anak tiga tahun?" tanya Meilan.

"Dia gigit anakku!"

"Karena anakmu menindih dia dan temanmu membawa adiknya."

"Anak-anak cuma bercanda!"

Meilan menunduk. "Bercanda dengan menculik anak perempuan?"

Kata itu membuat suara bisik-bisik berubah. Menculik. Tidak ada ibu-ibu yang berani mengulang keras, tetapi wajah mereka langsung berubah.

Dedi menangis sambil memegang lututnya. Dimas merintih memeluk lengan. Fajar sudah bersembunyi di belakang orang dewasa.

Dari ujung gang, seorang pria berbatik datang tergesa. Wajahnya serius, tetapi matanya langsung menilai situasi dengan cara yang membuat Meilan tahu ia tidak akan berpihak pada kebenaran.

"Ada apa ini? Saya Ketua RT Gang Pelita," katanya. "Bu Meilan, turunkan kaki Anda dulu. Jangan bikin keributan."

Meilan tidak menurunkan kaki.

"Keributan dimulai saat anak-anak ini merusak pintu rumah saya dan membawa pergi putri saya."

Ketua RT melihat Lala sekilas. "Namanya juga anak-anak. Jangan dibesar-besarkan."

Bobo mendongak. "Mereka bawa Lala. Lala nangis."

Kalimatnya pendek. Suaranya serak. Tetapi semua orang mendengar.

Ketua RT tampak tidak nyaman, lalu memilih memandang Meilan.

"Begini saja. Demi damai, mungkin lebih baik anak perempuan itu sementara dititipkan ke keluarga Dedi. Anak itu suka padanya. Kalau nanti sudah besar, siapa tahu cocok."

Lala berhenti menangis karena terlalu kaget.

Meilan juga diam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia tertawa pelan.

Tidak ada kehangatan di dalam tawa itu.

"Anda baru saja menyarankan saya menyerahkan anak perempuan saya kepada anak yang menculiknya?"

Ketua RT berdeham. "Jangan kasar begitu. Ini soal menjaga hubungan warga."

"Hubungan warga?" Meilan menatapnya lurus. "Anak saya bukan barang arisan."

Beberapa ibu menunduk.

Bapaknya Dimas mencoba meraih kaki Meilan. Ia ingin mendorong. Meilan menggeser posisi dan menekan bahunya dengan tumit. Pria itu memaki, tetapi tidak bisa bangun.

"Bu Meilan!" Ketua RT menaikkan suara. "Kalau Anda terus seperti ini, saya bisa minta Anda keluar dari Gang Pelita."

"Tidak perlu diminta."

Meilan menatap gang sempit, pintu-pintu yang terbuka setengah, wajah-wajah yang sejak pagi lebih senang menonton daripada menolong.

"Saya sendiri yang pergi."

Ketua RT terkejut. "Apa?"

"Saya tidak akan membesarkan anak-anak saya di tempat yang menganggap penculikan sebagai bercanda."

Ia menyingkirkan kaki dari dada bapaknya Dimas, tetapi sebelum pria itu sempat merangkak bangun, Meilan menekan lengannya ke belakang. Bunyi retak kecil terdengar. Pria itu menjerit.

Meilan tidak mematahkan sampai hancur. Cukup untuk membuatnya tidak bisa memegang pisau lagi dalam waktu dekat.

"Itu untuk pisau tadi," katanya.

Lalu ia menggendong Lala dan menarik Bobo.

"Dedi di mana tinggal?"

Tidak ada yang menjawab.

Meilan menoleh ke Fajar.

Anak itu langsung menunjuk arah gang lain. "Di sana! Rumah pagar biru!"

"Terima kasih."

Ketua RT mencoba menghalangi. "Bu Meilan, jangan bikin masalah baru."

Meilan melewatinya tanpa berhenti. "Masalah baru akan dimulai kalau Lala tidak saya temukan dalam keadaan utuh."

Rumah pagar biru itu lebih besar dari kontrakannya. Di teras, seorang perempuan berpakaian rapi keluar dengan wajah panik. Bu Joko. Di belakangnya, Pak Joko, ayah Dedi sekaligus Ketua RT dari Griya Asri, muncul dengan ponsel di tangan.

"Ada apa ini?" tanya Pak Joko.

Dedi yang dibawa tetangga dari belakang langsung bersembunyi di balik ibunya.

Meilan menurunkan Lala, lalu memeriksa lengan dan leher anak itu di depan semua orang. Ada bekas merah, tetapi tidak ada luka berat.

Baru setelah itu ia menatap Pak Joko.

"Anak Anda merusak pintu rumah saya, menculik putri saya, dan menyebutnya pacar kecil. Temannya menindih putra saya. Bapaknya Dimas datang membawa pisau. Ketua RT Gang Pelita menyarankan saya menyerahkan Lala kepada keluarga Anda."

Wajah Pak Joko berubah pucat.

Bu Joko menampar belakang kepala Dedi. "Kamu ngapain, hah?"

Dedi menangis lebih keras.

Pak Joko mencoba menjaga wibawa. "Bu Meilan, saya minta maaf. Anak-anak memang kadang kelewatan. Kita bisa bicarakan baik-baik."

"Bisa." Meilan mengeluarkan ponsel tua milik pemilik tubuh ini. "Saya juga bisa bicara dengan polisi. UU Perlindungan Anak cukup jelas."

Pak Joko menegang.

"Ibu tidak perlu membawa hukum terlalu jauh," kata Bu Joko cepat. "Anak saya memang salah, tapi Dedi juga masih kecil."

"Anak saya juga kecil."

Bu Joko tersentak.

Meilan menatapnya tanpa berkedip. "Bedanya, anak saya yang kecil dipaksa, ditindih, dibawa pergi, lalu hampir dilukai orang dewasa dengan pisau. Kalau Dedi masih kecil, tugas orang tuanya mengajari batas. Kalau tidak diajari sekarang, suatu hari hukum yang akan mengajari."

Pak Joko menurunkan ponselnya. Wajahnya tidak lagi mencoba menjadi berwibawa. Ia mulai menghitung risiko.

Di belakang pagar, beberapa tetangga mulai merekam diam-diam. Meilan sengaja tidak melarang. Publik yang tadi menjadi ancaman, sekarang bisa menjadi perlindungan.

"Dan kalau Bapak ingin menjaga nama baik sebagai Ketua RT, jangan mulai dengan membela penculikan anak."

Kalimat itu membuat wajah Pak Joko berubah. Ia bukan orang bodoh. Dalam hitungan detik, ia sudah tahu persoalan ini bisa menghancurkan reputasinya.

"Apa yang Ibu inginkan?"

"Pertama, Dedi meminta maaf kepada Lala dan Bobo. Bukan pura-pura. Sekarang."

Bu Joko menarik telinga Dedi. Anak itu akhirnya maju dengan wajah basah.

"Maaf, Lala. Maaf, Bobo."

Lala bersembunyi di belakang Meilan.

Bobo menatap Dedi tanpa berkedip. "Jangan dekat Lala lagi."

Dedi mengangguk cepat.

"Kedua," lanjut Meilan, "Dedi menjadi pesuruh saya selama tiga bulan. Beli barang, angkat barang, bersih-bersih halaman. Biar dia tahu perempuan dan anak kecil bukan mainan."

Bu Joko hampir protes, tetapi Pak Joko menahannya.

"Baik."

"Ketiga. Saya pindah dari Gang Pelita hari ini. Bapak carikan tempat tinggal di Griya Asri. Kontrakan kecil tidak masalah, asal aman dan punya ruang sendiri."

Pak Joko menghela napas. "Ada satu rumah kecil. Lama kosong. Halamannya sempit, tapi lebih baik dari tempat Ibu sekarang."

"Saya lihat sekarang."

Sore itu juga, Meilan mengambil barang-barangnya yang sedikit dari kontrakan lama. Tidak banyak yang bisa dibawa. Dua tas plastik, satu kasur tipis, beberapa piring, dan pakaian anak-anak.

Bobo bersikeras membawa baskom plastik yang semalam menampung tetesan air.

"Tidak perlu," kata Meilan.

"Bisa buat cuci baju," jawabnya.

Meilan terdiam. Anak tiga tahun seharusnya memikirkan mainan, bukan baskom bocor dan pakaian kotor.

Lala memeluk boneka lusuhnya, matanya sembap. Setiap kali ada suara keras dari rumah tetangga, tubuh kecilnya tersentak. Meilan melihat semua itu dan menambahkan satu lagi nama dalam daftar orang yang kelak harus membayar: lingkungan yang membuat anak-anaknya belajar takut terlalu cepat.

Ketika mereka melewati mulut Gang Pelita, Ningsih berdiri di depan rumahnya. Wajahnya ingin mengejek, tetapi setelah melihat Bapaknya Dimas dengan lengan dibebat kain, ia memilih diam.

Meilan tidak menoleh.

Griya Asri tidak mewah, tetapi udaranya lebih lega. Rumah kecil yang ditunjukkan Pak Joko punya halaman tanah, pintu kayu tua, dan dua kamar sempit. Dindingnya perlu dicat, jendelanya macet, tetapi ada ruang untuk bernapas.

Lala tertidur di pelukan Sari kecil yang belum ada, pikir Meilan lalu sadar dirinya belum punya siapa-siapa untuk membantu. Ia menggeleng pelan. Untuk saat ini, ia hanya punya dua anak dan keberanian.

Bobo berdiri di tengah ruang kosong, melihat ke sekeliling.

"Ini rumah kita?"

"Mulai malam ini, iya."

Lala mengusap mata. "Ningsih tidak ke sini?"

"Tidak akan."

Meilan meletakkan barang di sudut. Ia belum punya uang untuk kasur baru. Belum punya kompor yang layak. Belum punya pekerjaan. Tetapi ketika angin masuk dari jendela kecil, ia merasa dunia memberinya satu celah.

Bobo tiba-tiba memegang tangan Lala.

"Mama," katanya pelan, "nanti kalau ada yang ganggu Lala, Bobo lindungi."

Meilan berjongkok. Cahaya senja jatuh di wajah anak laki-laki itu. Lagi-lagi, garis wajahnya membuat dada Meilan terasa ganjil.

Ia mengusap pipi Bobo.

"Kamu masih kecil, Nak. Tugasmu tumbuh sehat. Tugas Mama yang melindungi."

Bobo menggeleng kecil. "Bobo bisa teriak. Bisa gigit."

Meilan menariknya ke pelukan. "Teriak boleh. Gigit kalau benar-benar terpaksa. Tapi jangan cari bahaya."

Bobo mengangguk di bahunya.

Lala mengangkat tangan kecilnya. "Lala juga mau lindungi Mama."

Meilan tersenyum, kali ini sungguh-sungguh.

"Lala boleh lindungi Mama dengan makan yang banyak dan tidur yang nyenyak."

"Kalau begitu Lala bisa," jawab anak itu serius.

Untuk pertama kalinya hari itu, Bobo ikut tersenyum tipis.

Malam turun perlahan. Di rumah baru yang tua tetapi berdiri sendiri, Meilan duduk di lantai dengan dua anak di kanan kiri.

Ia menatap wajah Bobo sekali lagi.

Anak ini, sebenarnya darah siapa?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!