Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Episode 1

Bab 1: Pertemuan di Bandara

"Sayang, aku lagi meeting. Nanti aku telepon lagi, ya."

Suara Rangga Prasetya masuk ke telinga Evelina Lim bersama hembusan dingin AC Bandara Soekarno-Hatta. Di atas kepala, pengumuman penerbangan bergema dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Roda koper bergesekan dengan lantai mengilap Terminal 3, bercampur dengan langkah orang-orang yang baru turun dari pesawat.

Eve berdiri di tengah arus penumpang, ponsel masih menempel di telinga.

Sepuluh meter di depannya, Rangga tidak sedang meeting.

Laki-laki itu berdiri di dekat jalur VIP kedatangan, mengenakan kemeja putih yang pernah Eve belikan untuk presentasi pertamanya. Di tangan Rangga ada buket mawar putih, bunga kesukaan Eve. Hanya saja bunga itu bukan untuknya.

Seorang perempuan ramping dengan rambut panjang bergelombang baru saja berlari kecil ke arah Rangga. Jesslyn Lim, adik tirinya sendiri, memeluk lengan Rangga seolah tempat itu memang miliknya sejak lama. Rangga menunduk, tersenyum, lalu membiarkan Jess mencium pipinya di depan orang banyak.

Jari Eve yang menggenggam ponsel mendadak dingin.

Di layar, nama Rangga masih menyala. Panggilan belum terputus. Eve bisa melihat jelas bagaimana Rangga menoleh sedikit, memastikan Jess tidak melihat ponselnya, lalu mengulangi dengan suara lebih pelan.

"Aku benar-benar sibuk. Kamu pulang dulu saja."

Eve tertawa sekali. Pendek. Kering.

Sibuk.

Tiga tahun ia percaya pada suara itu. Tiga tahun ia menabung, bekerja lembur, menerima proyek terjemahan sampai matanya perih, lalu mengirim uang satu miliar rupiah untuk perusahaan kecil Rangga karena laki-laki itu bilang, "Kalau aku berhasil, kita menikah."

Ternyata keberhasilan pertama Rangga adalah menjemput perempuan lain dengan bunga kesukaannya.

Eve menurunkan ponsel dan memutus panggilan. Dadanya sesak, tetapi matanya kering. Mungkin karena sakitnya terlalu cepat datang, tubuhnya belum sempat memilih harus menangis atau marah.

Ia menarik napas, menyeret koper hitamnya, lalu berjalan lurus ke arah mereka.

Jess melihatnya lebih dulu. Wajah cantik itu sempat berubah pucat, hanya sepersekian detik. Setelah itu, senyumnya muncul. Lebih manis dari mawar putih di tangan Rangga.

"Kak Eve?" Jess mengangkat alis. "Kok kamu di sini?"

Rangga berbalik. Warna wajahnya hilang.

"Eve?"

"Meeting di bandara?" Eve berhenti di depan mereka. Suaranya tenang, terlalu tenang sampai Rangga tampak makin gelisah. "Meeting dengan adikku?"

Rangga membuka mulut, menutupnya lagi. "Aku bisa jelaskan."

"Silakan." Eve melirik buket mawar putih. "Aku juga ingin tahu, sejak kapan proposal bisnis butuh bunga."

Beberapa orang yang lewat mulai menoleh. Di bandara, orang asing biasanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi drama yang terjadi tepat di jalur keluar kedatangan selalu punya daya tarik sendiri.

Jess merapat pada Rangga, jari-jarinya sengaja mengunci lengan laki-laki itu.

"Kak, jangan salah paham," katanya lembut. Terlalu lembut. "Aku baru pulang. Rangga cuma jemput aku karena Papa minta."

"Papa minta dia bawa mawar putih juga?"

Senyum Jess menegang.

Rangga memijat pangkal hidung. "Eve, jangan bikin ribut di sini. Kita bicara nanti."

Kata-kata itu seperti menampar lebih dulu sebelum tangannya bergerak. Jangan bikin ribut. Seolah yang memalukan bukan pengkhianatan mereka, melainkan keberanian Eve untuk berdiri di depan mereka.

"Nanti?" Eve menatap mata Rangga. "Tiga tahun aku menunggu nanti. Nanti setelah disertasi kamu selesai. Nanti setelah perusahaanmu jalan. Nanti setelah kamu siap bicara ke keluargaku. Ternyata nanti itu artinya kamu jemput Jess di bandara."

Rangga menegang. "Hubungan kita sebenarnya sudah lama tidak sehat."

Jess langsung menyambung, "Kak Eve, Rangga itu dari dulu memang milikku. Kamu cuma selingan aja."

Suara di sekitar mereka seakan mengecil. Pengumuman pesawat, roda koper, langkah penumpang, semua terdengar jauh.

Eve menatap adiknya.

Jesslyn Lim. Anak perempuan Melani, perempuan yang mengambil tempat ibunya di rumah Lim. Sejak kecil Jess selalu pintar mengambil milik Eve lalu menangis lebih dulu agar semua orang mengira Eve yang kejam.

Hari ini ia mengambil Rangga dan masih berani tersenyum.

Tamparan itu terjadi begitu cepat.

Plak.

Bunyi telapak tangan Eve mengenai pipi Rangga memecah udara bandara yang bising. Kepala Rangga tersentak ke samping. Jess menjerit kecil, bukan karena takut, melainkan karena orang-orang mulai benar-benar berhenti.

Ada beberapa ponsel terangkat. Lensa-lensa kecil mengarah pada mereka.

"Itu untuk tiga tahun yang kamu buang," kata Eve. Suaranya bergetar, tetapi bukan karena takut. "Dan satu lagi, satu miliar yang aku pinjamkan untuk PT Prasetya Digital, kapan kau kembalikan?"

Bisik-bisik langsung meledak pelan.

"Satu miliar?"

"Pacarnya utang?"

"Ya ampun, sudah selingkuh pula."

Rangga memerah. "Eve, jangan sebut-sebut uang di depan umum."

"Kenapa?" Eve maju setengah langkah. "Waktu minta uang, kamu tidak malu. Sekarang saat aku minta kembali, baru malu?"

Jess menggertakkan gigi. Ia masih memegangi pipi Rangga, tetapi matanya menatap Eve seperti ingin mencabik.

"Kak Eve, kamu jangan sok korban. Kalau kamu bisa menjaga laki-lakimu, Rangga tidak akan mencari yang lain."

Koper Eve mendadak tersangkut di celah sambungan lantai. Ia menariknya terlalu keras. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia miring sesaat.

Sebelum ia jatuh, sebuah tangan kuat menahan pinggangnya.

Aroma bersih seperti sabun dan udara luar menabrak indra penciumannya. Dada yang ia tabrak keras, hangat, dan stabil. Ada kain loreng di depan matanya.

Eve mendongak.

Seorang laki-laki berseragam TNI berdiri di belakangnya. Tingginya membuat Eve harus mengangkat dagu. Bahunya lebar, rahangnya tegas, matanya gelap dan tenang. Di dada seragamnya terpasang nama Kho. Pangkat di bahunya membuat beberapa orang di sekitar otomatis mundur setengah langkah.

Kolonel.

Ada gantungan boneka kecil jatuh dari tali ranselnya karena benturan tadi. Boneka itu lusuh, seperti sudah lama menemani perjalanan jauh, tetapi dijaga dengan hati-hati. Eve refleks membungkuk untuk mengambilnya. Laki-laki itu juga bergerak. Jari mereka hampir bersentuhan sebelum Eve lebih dulu meraihnya.

"Maaf," bisiknya, menyerahkan gantungan itu.

Laki-laki itu menerima dengan tenang. Tatapannya berhenti sesaat pada mata Eve, terlalu lama untuk orang asing.

"Nona, kopernya biar saya bantu."

Suaranya rendah. Tidak keras, tetapi entah kenapa membuat ruang di sekitar mereka seperti lebih sunyi.

Eve seharusnya mundur. Seharusnya berterima kasih, mengambil koper, lalu pergi dari tempat memalukan ini.

Tetapi Rangga masih berdiri di sana. Jess masih tersenyum penuh kemenangan. Ponsel-ponsel masih merekam. Dan di dalam dada Eve, sesuatu yang patah berubah menjadi bara.

Ia menoleh ke arah Rangga, lalu, sebelum akal sehat sempat mengejarnya, Eve menggenggam lengan laki-laki berseragam itu.

"Ini tunanganku."

Keheningan jatuh begitu mendadak.

Rangga menatap tangan Eve yang menempel di lengan pria itu. Jess berkedip, lalu tertawa kecil.

"Tunangan?" Jess memandang seragam TNI itu dari atas ke bawah. "Yang ini? Tentara ini?"

Tangan Eve nyaris terlepas karena malu. Namun laki-laki di sampingnya tidak menarik diri. Ia justru menggeser posisi sedikit, berdiri di depan Eve seperti dinding.

Ia menatap Rangga.

"Ada masalah?"

Dua kata saja. Datar. Tapi Rangga langsung mundur setengah langkah.

Eve mendengar beberapa orang berbisik tentang seragam, pangkat, dan wajah laki-laki itu. Ia sendiri tidak tahu siapa orang ini. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak melihat Rangga memeluk Jess, ada seseorang yang berdiri di sisinya.

Rangga berusaha mengembalikan wibawa. "Ini urusan pribadi kami."

"Kalau pribadi, jangan permalukan dia di tempat umum," jawab laki-laki itu.

Jess mendengus. "Pak, Anda tidak tahu apa-apa. Kak Eve itu memang suka drama. Lagipula, kalau benar tunangannya, kenapa kami tidak pernah dengar?"

Eve baru akan bicara, tetapi laki-laki itu menoleh padanya.

Hanya satu detik.

Tatapan itu seperti bertanya, boleh?

Eve bahkan belum memahami pertanyaannya ketika jari laki-laki itu menyentuh dagunya. Lembut, tetapi pasti. Detik berikutnya, bibirnya disentuh bibir asing.

Bandara lenyap.

Yang tersisa hanya suhu tubuh laki-laki itu, aroma seragam yang bersih, dan suara napas Eve yang tersangkut di tenggorokan. Ciuman itu tidak kasar, tetapi jelas. Bukan ciuman main-main. Bukan ciuman yang meminta izin pada Rangga. Itu ciuman yang membuat semua orang berhenti bicara.

Saat laki-laki itu melepaskannya, Eve masih membeku.

Ia mendengar seseorang berbisik, "Astaga."

Rangga terlihat seperti baru ditampar untuk kedua kalinya.

Laki-laki itu menatapnya. "Hutangnya satu miliar, bukan nominal kecil. Saya sarankan kau selesaikan baik-baik."

Rangga mengepalkan tangan. "Kau siapa?"

Laki-laki itu memasukkan satu tangan ke saku seragam. Wajahnya tetap tenang. "Orang yang tidak suka melihat perempuan dipermalukan setelah uangnya dipakai."

Jess menarik lengan Rangga. "Ayo pergi. Ini nggak worth it."

"Jess," Rangga menahan suara.

"Ayo!" Jess menatap ponsel-ponsel yang masih merekam. Keberaniannya mengecil begitu menyadari wajahnya mungkin sudah masuk video orang asing.

Rangga menatap Eve sekali lagi. Ada marah, malu, dan sesuatu yang terlambat disebut penyesalan. Tetapi Eve sudah tidak memberi ruang untuk itu.

Mereka pergi.

Mawar putih masih di tangan Rangga, kelopaknya sedikit rusak karena genggamannya terlalu keras.

Begitu punggung mereka menghilang ke arah pintu keluar, tenaga Eve ikut hilang. Ia melepas lengan pria berseragam itu seolah baru sadar telah memegang bara.

"Maaf." Kali ini wajahnya panas. "Saya benar-benar minta maaf. Tadi saya..."

"Menjadikan saya tunangan dadakan?"

Nada laki-laki itu hampir datar, tetapi ujung mulutnya naik sedikit.

Eve ingin lantai bandara terbuka dan menelannya. "Saya akan jelaskan kalau ada yang bertanya. Anggap saja tadi balas budi. Saya tidak akan merepotkan Anda lagi, Pak Kolonel."

"Edric Kho."

Eve berkedip. "Apa?"

"Nama saya." Ia mengulurkan tangan, lalu seperti berubah pikiran dan menurunkannya lagi. "Edric Kho."

"Evelina Lim." Eve menjawab otomatis. "Eve."

"Saya tahu."

Kalimat itu terlalu cepat, terlalu pelan. Eve hampir mengira ia salah dengar.

"Maksud Anda?"

Edric tidak langsung menjawab. Ia menunduk mengambil koper Eve, lalu berjalan ke arah yang lebih sepi, dekat area kafe di lantai keberangkatan. Aneh, Eve mengikutinya. Mungkin karena kakinya masih lemas. Mungkin karena ia belum sanggup sendirian setelah ditonton begitu banyak orang.

Di meja kecil dekat kaca, Eve duduk dengan punggung tegak. Ia berusaha mengembalikan napas. Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Lampu landasan menyala seperti garis-garis panjang.

Edric berdiri di depannya, tidak duduk sampai Eve mengangkat wajah.

"Terima kasih," kata Eve akhirnya. "Tapi ciuman tadi..."

"Terlalu jauh?"

Eve menelan ludah. Bibirnya masih terasa panas. "Sangat."

"Kalau hanya saya bilang saya tunanganmu, mereka tidak akan percaya."

Eve ingin membantah, tetapi tidak bisa. Jess memang tidak akan percaya. Rangga juga tidak.

"Tetap saja, Anda seharusnya minta izin."

"Benar." Edric mengangguk. "Maaf."

Permintaan maaf itu terlalu mudah keluar. Tidak defensif, tidak menyalahkan keadaan. Eve justru kehilangan amarah.

Ia menatap gantungan boneka kecil yang kini kembali tergantung di ransel Edric. Boneka itu berbentuk kelinci kecil, telinganya sudah agak aus.

"Itu penting?"

Tatapan Edric mengikuti arah matanya. Untuk sesaat, wajahnya berubah. Bukan sedih, bukan juga lembut sepenuhnya. Seperti ada pintu lama yang hampir terbuka.

"Hadiah dari seseorang."

"Pacar?"

"Bukan."

Jawaban itu pendek. Eve tidak bertanya lagi.

Edric mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku dada. Kartu itu hitam sederhana, terlalu mewah untuk orang yang katanya hanya tentara. Tetapi ia tidak menyerahkannya. Jarinya menekan tepi kartu, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Kamu tadi bilang itu balas budi."

"Iya. Saya tidak bisa membayar banyak, tapi kalau Anda butuh bantuan terjemahan dokumen, saya bisa bantu. Spanyol, Inggris, Mandarin, Indonesia. Tarif saya normal, tapi untuk Anda saya kasih diskon."

Edric menatapnya beberapa detik.

Lalu ia tertawa pelan.

Eve mengerutkan kening. "Lucu?"

"Tidak." Edric menyimpan kembali kartu nama itu. "Saya tidak kekurangan apa-apa. Hanya kurang seorang istri."

Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti koper yang dibanting dari bagasi pesawat.

Eve membeku.

Ia menatap pria di depannya. Seragam TNI. Pangkat kolonel. Mata tenang yang seperti sudah melihat perang, tetapi masih bisa menatapnya seolah ia bukan perempuan yang baru saja dipermalukan, melainkan seseorang yang layak dipilih.

"Anda bercanda."

"Saya jarang bercanda soal pernikahan."

Jantung Eve memukul rusuknya terlalu keras.

Di layar ponselnya, pesan lama dari Rangga masih tersimpan. "Nanti kalau perusahaanku stabil, kita menikah." Tiga tahun ia menunggu kata nanti. Tiga tahun ia percaya pada janji yang selalu mundur.

Di depannya, seorang laki-laki asing baru saja mengatakan kata istri tanpa ragu.

Gila.

Ini jelas gila.

Tetapi bagian tergelap dari hati Eve, bagian yang masih panas karena pengkhianatan, tiba-tiba bertanya, apa salahnya sekali saja ia yang membuat Rangga menyesal?

Eve mengangkat dagu.

"Deal."

Episode 2

Bab 2: Nikah Kilat

"Deal."

Begitu kata itu keluar, Eve ingin menariknya kembali.

Edric Kho tidak langsung tersenyum. Ia hanya menatapnya seolah kata itu sudah menjadi tanda tangan di atas kertas. Di luar kaca area kafe bandara, lampu landasan memanjang seperti garis api. Orang-orang masih berlalu-lalang dengan koper, tetapi bagi Eve, dunia mendadak terlalu sunyi.

"Maksudku," Eve cepat-cepat memperbaiki, "deal untuk sandiwara tadi. Terima kasih sudah membantu. Bukan deal untuk..."

"Menikah?"

Wajah Eve panas. "Jangan ucapkan itu dengan santai."

Edric menarik kursi di depannya. "Duduk dulu. Kakimu masih gemetar."

Eve hampir membantah, tetapi lututnya memang terasa lemah. Ia duduk, meletakkan koper di samping kursi, lalu memeluk tasnya seperti tameng. Bibirnya masih terasa asing setelah ciuman di depan Rangga dan Jess. Malu, marah, dan sesuatu yang tidak mau ia namai bercampur jadi satu.

Edric duduk di seberangnya. Ia mengambil ponsel dari saku seragam, mengetuk layar beberapa kali, lalu suara Eve sendiri terdengar dari speaker kecil.

"Ini tunanganku."

Eve membeku.

Di rekaman itu terdengar juga suara Jess yang mengejek, suara Rangga yang berusaha membela diri, lalu suara Edric yang tenang. Semua ada. Bahkan bunyi tamparan tadi ikut terekam jelas.

"Kamu rekam dari tadi?!"

"Kebiasaan tentara." Edric mematikan rekaman. "Selalu siap bukti."

"Itu bukan bukti. Itu jebakan."

"Kalau saya mau menjebakmu, saya sudah kirim video tadi ke Rangga."

Eve menggigit bibir. Ia tahu Edric benar. Video dari orang-orang sekitar mungkin sudah menyebar ke grup WhatsApp entah milik siapa. Namun rekaman suara lengkap dari awal sampai akhir, dengan ia sendiri mengaku punya tunangan, akan membuatnya terdengar seperti perempuan nekat yang menyeret orang asing dalam drama pribadi.

"Apa maumu?" tanyanya pelan.

Edric tidak menjawab cepat. Ia memandang gantungan boneka kecil di ranselnya, lalu kembali menatap Eve.

"Saya serius tadi. Kalau kamu juga serius, besok pagi jam sembilan, Kantor Catatan Sipil Jakarta Pusat."

Eve menatapnya seperti menatap orang gila. "Kita baru bertemu."

"Benar."

"Aku bahkan tidak tahu kamu punya keluarga atau tidak."

"Punya."

"Pekerjaan?"

"Tentara."

"Utang?"

"Tidak."

"Penyakit menular?"

Kali ini sudut bibir Edric bergerak. "Tidak. Kalau perlu, saya bawa hasil medical check-up."

Eve menutup mata sebentar. "Ini tidak lucu."

"Saya juga tidak sedang melucu."

Kalimat itu membuat napas Eve tertahan. Ada banyak laki-laki yang pernah bicara manis padanya. Rangga paling ahli melakukannya. Namun Edric berbeda. Ia tidak memberi janji berbunga. Ia seperti membuka pintu, berdiri di sana, lalu membiarkan Eve memilih masuk atau pergi.

"Kenapa aku?" Eve bertanya. "Kamu bisa cari perempuan lain."

Tatapan Edric menuruni wajahnya sejenak. Tidak kurang ajar. Justru terlalu tenang, seperti ia sedang memastikan sesuatu yang hanya ia sendiri tahu.

"Mungkin karena kamu tidak menangis di depan mereka."

Eve tercekat.

Ia memang belum menangis. Bukan karena kuat. Air matanya seperti tertahan di tempat yang lebih dalam.

"Pulanglah," kata Edric akhirnya. "Tidur. Besok kalau kamu tidak datang, saya anggap malam ini selesai di sini."

"Lalu rekamannya?"

"Tetap di ponsel saya."

"Kamu tidak akan sebar?"

"Tidak."

"Aku harus percaya begitu saja?"

"Tidak harus." Edric berdiri. "Tapi kamu sudah percaya cukup jauh saat memegang lengan saya tadi."

Eve tidak punya jawaban.

Malam itu ia pulang ke kos kecilnya dengan taksi online. Kamar berukuran sempit di lantai dua itu biasanya terasa aman. Ada meja kerja, rak buku, lemari kecil, dan kasur yang seprai pink-nya sudah mulai pudar. Namun begitu pintu terkunci, tubuh Eve meluncur ke lantai.

Air mata akhirnya jatuh.

Bukan hanya untuk Rangga. Bukan hanya untuk Jess. Ia menangisi tiga tahun yang ia rawat sendirian, uang satu miliar yang ia kumpulkan seperti menyusun batu, dan dirinya sendiri yang terlalu percaya pada kata nanti.

Pukul dua pagi, matanya masih terbuka.

Di layar ponsel ada foto Oma Ong yang dikirim dari Cirebon minggu lalu. Wajah tua itu tersenyum di depan altar kecil, dengan pesan suara pendek, "Lina, Oma cuma ingin lihat kamu ada yang jagain."

Eve menekan dadanya. Oma selalu takut ia sendirian. Papa punya keluarga baru. Mama Lili sudah tidak ada. Dan Rangga, laki-laki yang dulu ia kira rumah, ternyata cuma pintu yang sengaja dibiarkan terbuka untuk perempuan lain.

Ia membuka kontak baru yang baru saja disimpan.

Pak Kolonel.

Jarinya berhenti lama di atas layar.

"Aku gila ya?" bisiknya pada kamar kosong.

Lalu ia mengetik.

Jam 9 ya. Jangan telat.

Balasan datang dalam beberapa detik.

Siap.

Eve menatap satu kata itu sampai matanya perih. Orang itu belum tidur. Entah kenapa, kenyataan kecil itu membuat dadanya lebih kacau daripada semua rayuan Rangga dulu.

Pagi harinya, ia memakai gaun putih sederhana. Bukan gaun pengantin. Hanya gaun kantor yang jarang dipakai karena terlalu rapi untuk proyek lapangan. Namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, Eve hampir tertawa.

"Selamat, Evelina. Kamu benar-benar kehilangan akal."

Kantor Catatan Sipil Jakarta Pusat sudah ramai ketika ia tiba. Edric berdiri di dekat pintu, tidak lagi memakai seragam. Kemeja putih, celana gelap, jam tangan sederhana. Ia tampak seperti orang yang punya segalanya dalam kendali.

Di tangannya ada map cokelat.

"Kamu datang," katanya.

"Aku bilang jangan telat. Bukan berarti kamu boleh datang terlalu cepat."

"Saya sudah di sini sejak jam delapan."

Eve terdiam. "Kenapa?"

"Agar kalau kamu berubah pikiran, kamu tidak menunggu sendirian."

Jawaban itu terlalu tidak adil. Eve ingin marah, tetapi dadanya malah melemah.

Mereka masuk. Dua saksi sudah menunggu, Fajar yang hanya mengangguk sopan, dan seorang staf senior yang Edric sebut sebagai kenalan lama keluarga. Eve tidak sempat mempertanyakan terlalu jauh karena map cokelat sudah dibuka di depannya.

Formulir. Fotokopi KTP. Surat pernyataan. Berkas yang seharusnya butuh waktu.

"Formulirnya kok sudah diisi?"

"Data kamu ada di sistem militer. Nama lengkap, NIK, alamat, sudah saya verifikasi semalam."

Punggung Eve dingin. "Itu terdengar sangat tidak legal."

"Legal kalau ada alasan keamanan."

"Aku alasan keamanan?"

"Mulai hari ini, iya."

Ia mengatakan itu dengan datar. Eve tidak tahu harus tertawa atau takut.

Prosesnya cepat, terlalu cepat. Petugas perempuan di balik meja menanyakan beberapa hal dengan suara formal. Eve menjawab, tetapi suaranya beberapa kali bergetar. Saat pena diberikan, tangannya berhenti di atas kertas.

Edric tidak mendesak.

Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Eve, hangat dan stabil. Bukan genggaman romantis. Lebih seperti seseorang yang berkata tanpa suara, kalau kamu jatuh, saya tahan.

Eve menandatangani.

Cap basah turun di atas kertas.

Akta Perkawinan keluar dalam dua rangkap. Eve menatap nama itu lama.

Edric Kho.

Nama pria yang bahkan semalam belum ia kenal sekarang berdiri di sebelah namanya.

Di luar kantor, matahari Jakarta sudah menyengat. Eve memegang akta itu seperti memegang sesuatu yang bisa meledak.

"Jadi sekarang kita..."

Ponsel Edric berdering.

Ia melihat layar. Wajahnya berubah tipis, tetapi Eve menangkapnya. Keseriusan yang datang mendadak, seperti pintu baja turun di balik matanya.

"Saya harus pergi."

"Sekarang?"

"Nanti malam saya hubungi kamu."

"Edric."

Ia berhenti. Untuk pertama kalinya Eve memanggil namanya tanpa gelar.

"Aku baru saja menikah denganmu."

Edric menatapnya. "Saya tahu."

"Kamu tahu, tapi kamu pergi?"

Ada jeda pendek. Lalu ia mengambil ponsel Eve, mengetik sesuatu, dan mengembalikannya.

Di kontaknya, nama Edric sudah berubah menjadi Pak Kolonel. Di ponsel Edric, ia melihat sekilas namanya tersimpan sebagai Nyonya Kho.

"Saya kembali," katanya. "Hari ini juga."

Lalu ia pergi.

Eve berdiri di depan Kantor Catatan Sipil, sendirian, dengan akta di tangan dan matahari di wajah. Kemarin ia masih punya pacar. Hari ini ia punya suami yang pergi sebelum mereka sempat membicarakan tempat tinggal.

Ia menatap kertas itu sekali lagi.

Lalu memasukkannya ke bagian terdalam tas, seolah menyembunyikan rahasia yang terlalu besar untuk dunia.

Episode 3

Bab 3: Rumah Besar

Fajar Wicaksono menunggu di tepi jalan ketika Edric keluar dari Kantor Catatan Sipil.

Wajah mantan prajurit itu tetap datar, tetapi matanya sempat turun ke map tipis di tangan Edric. Ia tidak bertanya. Fajar tahu kapan seorang komandan ingin bicara dan kapan semua orang lebih baik diam.

"Oma?" tanya Edric.

"Di Rumah Besar, Pak. Katanya sakit."

"Katanya?"

Fajar membuka pintu mobil. "Saya lihat video yang dikirim Feli. Oma masih bisa marah-marah."

Edric masuk ke mobil, menutup mata sesaat. "Berarti belum sekarat."

"Belum, Pak."

Mobil hitam bergerak menuju Menteng. Di layar ponsel, kontak baru bertuliskan Nyonya Kho belum sempat ia hubungi lagi. Edric menatap nama itu, lalu menyimpan ponselnya saat gerbang besar Rumah Besar Kho terbuka.

Rumah itu berdiri di lahan luas yang hampir tidak masuk akal untuk pusat Jakarta. Bangunan kolonial tua dengan pilar putih, lantai marmer, dan halaman yang dijaga pohon beringin raksasa. Tidak ada papan nama, tidak ada kemewahan yang berteriak. Justru karena itu semua orang tahu, keluarga yang tinggal di sana tidak perlu membuktikan apa-apa.

Di ruang tengah, Liana Kho duduk tegak di kursi kayu ukir.

Tidak ada selimut. Tidak ada wajah pucat. Tidak ada orang sakit.

Yang ada hanya Oma Kho dengan gelang giok di pergelangan tangan, teh panas di sampingnya, dan tatapan siap mengadili cucu sulungnya.

"Edric."

"Oma."

"Kalau Oma benar-benar mati tadi, kamu baru pulang besok?"

Felicia Kho yang duduk di sofa langsung menahan tawa. "Koh Edric, Oma bilang kalau kamu nggak pulang, dia mau mati tiga kali."

"Feli," Hendra Kho menegur pelan.

Yuliana Kho duduk di samping suaminya, anggun seperti biasa, tetapi mata tajamnya memindai wajah Edric dari ujung rambut sampai sepatu. "Kamu dari mana? Kemejamu kusut."

"Urusan pribadi."

Oma Kho mengetuk meja dengan cangkir. "Urusan pribadi? Bagus. Oma juga punya urusan pribadi. Kamu sudah dua puluh delapan. Cucu teman-teman Oma sudah punya anak tiga. Kamu mau Oma mati tanpa lihat cicit?"

Edric mengambil tempat duduk. "Oma belum mati."

"Jangan mengalihkan."

"Saya tidak mengalihkan. Saya hanya menyampaikan fakta."

Feli tertawa kecil. Hendra menutup mulut dengan tangan, pura-pura batuk. Yuliana melirik mereka berdua seolah memperingatkan bahwa ruang tengah ini bisa berubah menjadi ruang sidang kapan saja.

Oma Kho mencondongkan tubuh. "Keluar dari TNI. Masuk Kho Group. Papa kamu tidak muda lagi. Hendra butuh kamu. Perusahaan juga butuh kamu."

"Saya masih mempertimbangkan."

"Kamu mempertimbangkan sejak enam tahun lalu."

"Karena enam tahun lalu saya sedang bertugas."

"Sekarang tugasmu pulang."

Kalimat itu membuat ruang tengah diam sesaat. Edric memandang ayahnya. Hendra tidak memaksa. Seperti biasa, Papa-nya memberi ruang, tetapi kelelahan di wajah pria itu tidak bisa disembunyikan.

Edric tahu. Kho Group bukan sekadar perusahaan. Itu medan perang lain, dengan dasi, saham, senyum palsu, dan keluarga yang saling menunggu celah.

Ia dulu memilih seragam loreng karena perang di lapangan lebih jujur.

"Soal perusahaan, saya pertimbangkan," katanya akhirnya.

Oma Kho menyipit. "Dan soal istri?"

Feli langsung duduk tegak.

Yuliana meletakkan cangkir. "Oma, jangan mulai lagi."

"Oma akan mulai terus sampai dia membawa perempuan pulang."

Edric diam selama satu detik terlalu lama.

Oma menangkapnya.

"Ada?"

Feli hampir melompat dari sofa. "Ada?! Koh Edric punya pacar?! Siapa? Dari keluarga mana? Cantik nggak? Dia tahu kamu galak?"

"Feli."

"Apa? Ini berita nasional keluarga Kho."

Edric menyandarkan punggung. "Mungkin sebentar lagi saya bawa seseorang pulang."

Ruangan itu benar-benar berhenti.

Hendra mengangkat alis. Yuliana dan Oma bertukar pandang, satu penuh perhitungan, satu penuh kemenangan.

"Siapa?" tanya Oma pelan. "Dari keluarga mana?"

"Nanti Oma tahu."

"Edric."

"Saya serius."

Dua kata itu cukup. Oma Kho hidup cukup lama untuk membedakan cucunya sedang menunda atau sedang menjaga sesuatu yang belum siap disentuh.

Yuliana menatap putranya lebih lama. "Kamu bertemu dia di mana?"

Edric mengambil cangkir teh yang belum ia minum. "Di tempat yang ramai."

Feli mengerang. "Jawaban macam apa itu?"

Oma tidak ikut tertawa. "Afrika Selatan?"

Jari Edric berhenti di gagang cangkir.

"Kamu pulang dari misi PBB dua tahun lalu dengan mata yang berbeda," lanjut Oma. "Oma bukan buta. Ada orang yang kamu lihat di sana?"

Edric tidak menjawab.

Keheningan itu lebih keras dari pengakuan.

Sementara itu, di kos kecilnya, Eve mengunci pintu dan akhirnya menangis sampai tenggorokannya sakit.

Ia tidak menangis saat Rangga menggandeng Jess. Tidak saat ponsel orang-orang mengarah padanya. Tidak saat menandatangani akta di Catatan Sipil. Namun begitu sendirian, tubuhnya menyerah.

Ia menangisi uang satu miliar yang mungkin tidak kembali. Ia menangisi Mama Lili yang tidak ada untuk memeluknya. Ia menangisi dirinya sendiri yang selama tiga tahun percaya bahwa kesetiaan bisa membuat orang lain ikut setia.

Setelah dua jam, air matanya habis.

Eve mencuci wajah. Matanya bengkak, hidungnya merah, tetapi ia masih bisa berdiri. Di cermin, ia melihat perempuan yang kemarin diselingkuhi, pagi tadi menikah, dan sekarang tidak tahu harus menyebut dirinya apa.

Istri?

Kata itu terlalu aneh.

Ia mengambil ponsel dan menelepon Daniel Tjioe.

"Dan."

Di seberang, suara Dan langsung berubah. "Eve? Suaramu kenapa?"

"Malam ini temenin aku minum. Aku butuh teman."

"Rangga?"

Eve diam.

Dan mengumpat pendek. "Di mana? Velvet Lounge? Aku booking."

"Jangan tanya dulu."

"Aku tidak tanya. Aku cuma siap-siap menghajar orang."

Untuk pertama kalinya hari itu, Eve hampir tersenyum.

Malamnya, Velvet Lounge di Kuningan menyambutnya dengan lampu redup, musik rendah, dan aroma parfum mahal. Dan sudah menunggu di lobi dengan jaket hitam dan wajah marah yang ditahan.

Begitu melihat mata Eve, ia tidak mengatakan "kan sudah kubilang". Ia hanya membuka tangan. Eve masuk ke pelukannya sebentar, lalu cepat-cepat melepaskan diri sebelum menangis lagi.

Mereka duduk di ruang privat biasa. Dan memesan minuman yang tidak terlalu keras, tetapi Eve meminum semuanya seperti air putih.

"Rangga sama Jess," kata Eve akhirnya.

Dan meletakkan gelasnya terlalu keras. "Aku dari dulu sudah bilang dia nggak bener."

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan bilang begitu malam ini." Eve menatap gelasnya. "Aku tahu kamu benar. Itu yang paling sakit."

Dan langsung diam.

Mereka minum dalam hening yang tidak canggung. Dan tidak memaksa. Ia hanya duduk di sana, memastikan gelas Eve tidak terlalu cepat kosong, memastikan tidak ada orang asing mendekat, memastikan sahabatnya tidak sendirian.

Menjelang pukul sebelas, Eve berdiri.

"Toilet."

"Aku antar?"

"Aku masih bisa jalan."

Dan memandang langkahnya yang sudah tidak lurus. "Itu definisi masih bisa jalan versi siapa?"

Eve melambaikan tangan tanpa menoleh.

Koridor Velvet Lounge bercabang dua. Lampu dindingnya redup, pintu-pintu privat memakai nomor emas. Eve menyipit, mencoba mencari tanda toilet. Musik dari ruang lain berdenyut pelan di telinganya.

606.

Entah kenapa angka itu terlihat seperti pintu yang benar.

Ia mendorongnya.

Di dalam, tiga laki-laki menoleh.

Dan di tengah sofa, dengan gelas wiski di tangan, duduk suaminya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!