Indonesia
NovelToon NovelToon

Return To You

#1

Suara dentuman musik yang di-remix oleh DJ malam itu memainkan trek Gasoline, menggema liar membelah udara kelab malam paling elite di jantung Los Angeles.

Bass yang menghentak-hentak terasa menggetarkan lantai kaca di bawah kaki para pengunjung, seolah beresonansi dengan detak jantung orang-orang yang tengah tenggelam dalam lautan alkohol, keringat, dan euforia malam.

Lampu strobo berkedip agresif, menyapu wajah-wajah yang berdansa tanpa beban, memantulkan cahaya neon pada gelas-gelas kristal dan botol sampanye bernilai ribuan dolar.

Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, di sebuah sofa VIP berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari beludru merah marun, tiga wanita duduk dengan aura yang sama sekali tidak sinkron dengan kebahagiaan palsu di sekeliling mereka.

"Kau harus bisa melupakan pria brengsek itu!"

Teriakan itu meluncur dari bibir seorang gadis bergaun hitam ketat bernama Alessia Cestaro.

Suaranya nyaris tenggelam oleh irama Gasoline yang semakin memuncak, tetapi intonasinya tajam dan penuh penekanan.

Tanpa ragu, Alessia menyodorkan sebuah gelas seloki yang terisi penuh oleh cairan amber ke hadapan Svea Nycekerh, sahabatnya yang duduk di sisi kiri, dan kemudian menuangkan hal yang sama untuk dirinya sendiri.

"Chirssss!!!"

Teriak keduanya serempak, mendentingkan gelas kaca tebal itu hingga bunyinya nyaring memecah udara di antara mereka.

Mereka menenggak cairan keras pembakar tenggorokan itu dalam satu tarikan napas, meringis sesaat sebelum meletakkan gelas kosong dengan keras ke atas meja kaca.

Di samping kedua wanita itu, duduklah Zacheriyya Tengiz. Gadis berusia 26 tahun itu memutar-mutar gelas di tangannya dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi kilat kemarahan.

Gaun sutra zamrud yang membalut tubuh rampingnya tampak kontras dengan ekspresi kelam di wajah cantiknya. Tanpa aba-aba, ia membanting pelan gelasnya dan mulai mengumpat kasar, merutuki nasib, merutuki malam, dan merutuki ingatannya sendiri.

"Sialan! Kenapa alkohol sialan ini tidak membuatku melupakannya? Berapa botol yang harus kutenggak agar otakku berhenti memutar wajah bajingan itu?!" geram Zacheriyya, suaranya parau oleh campuran frustrasi dan efek vodka murni.

Mendengar keluhan yang terdengar begitu putus asa namun komikal itu, Alessia Cestaro dan Svea Nycekerh saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa lepas.

Bukan tawa mengejek, melainkan tawa ironi dari sahabat yang sudah terlalu lelah melihat temannya terperangkap dalam kubangan masa lalu yang beracun.

Svea mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Zacheriyya tepat di manik matanya.

Wajah Svea berubah serius, menanggalkan sisa tawa di bibirnya.

"Cherry, dengarkan aku," ucap Svea memanggil Zacheriyya dengan nama panggilan kesayangannya. "Kau harus bisa melupakan pria itu. Harus! Dan kau tahu kenapa? Karena berita ini valid, Cherry. Dia mungkin saja sudah menikah dengan jalang itu."

Zacheriyya mematung. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

Svea melanjutkan dengan suara yang menggebu-gebu, mengabaikan dentuman musik yang masih menghajar telinga mereka.

"Aku tidak sedang mengarang cerita untuk membuatmu membencinya. Aku sering melihatnya, Cherry. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Bajingan itu sering mengantar wanita hamil itu untuk pemeriksaan rutin di rumah sakitku."

Bagai disiram air es di tengah gurun pasir, Zacheriyya merasa darahnya berhenti mengalir.

Dunia di sekelilingnya yang berputar karena alkohol tiba-tiba berhenti. Kata 'wanita hamil' berdengung di telinganya, menenggelamkan suara DJ, menenggelamkan tawa orang-orang, menenggelamkan segalanya.

Alessia Cestaro mengangguk mantap, membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Svea.

Gadis itu lalu menurunkan tangannya, mengelus perut ratanya sendiri untuk memberikan gambaran visual yang menyakitkan bagi Zacheriyya.

"Jalang itu hamil, Cherry," ucap Alessia dengan nada final yang tidak terbantahkan. Matanya memancarkan simpati sekaligus ketegasan.

"Dilihat dari ukuran perutnya, mungkin sudah lima atau enam bulan. Mereka tidak membuang-buang waktu setelah menghancurkan hidupmu."

Zacheriyya Tengiz terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun suku kata yang berhasil lolos. Matanya menatap nanar ke arah meja kaca yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.

Lima atau enam bulan.

Angka itu berputar-putar di kepalanya.

Pria yang pernah berjanji akan memberikan dunia kepadanya, pria yang merangkai masa depan bersamanya selama delapan tahun, kini sedang menanti kelahiran seorang anak dari wanita yang pernah menjadi duri dalam hubungan mereka.

Tangan Zacheriyya mengepal erat di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Kuku-kuku panjangnya menancap pada telapak tangannya sendiri, mencari rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit tak kasat mata yang merobek dadanya. Ia menarik napas panjang, paru-parunya terasa seolah diisi oleh pecahan kaca.

Saat ia menghembuskan napas, sebuah sumpah berdarah terucap di dalam batinnya. Ia bersumpah akan benar-benar melupakan pria pengkhianat itu.

Tidak ada lagi sisa cinta, tidak ada lagi harapan, yang tersisa hanyalah kebencian yang murni dan absolut.

"Evander Vale-Knight...." bisik Zacheriyya perlahan.

Nama itu meluncur dari bibirnya, terasa seperti racun yang lama mengendap di lidahnya. "Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu sampai aku mati."

...oOo...

Zacheriyya—atau yang biasa dipanggil Cherry oleh orang-orang terdekatnya—bukanlah wanita sembarangan yang mudah hancur oleh patah hati remaja. Ia adalah anomali.

Di balik wajahnya yang secantik supermodel dengan garis rahang tegas, mata cokelat hazel yang tajam, dan bibir penuh yang menggoda, ia adalah seorang wanita bernyali baja.

Cherry berprofesi sebagai seorang agen EOD (Explosive Ordnance Disposal) Technician.

Pekerjaannya bukanlah duduk di balik meja menghadap layar komputer, melainkan berada di garis depan antara hidup dan mati.

Ia adalah penjinak bom.

Tangan-tangan lentiknya yang kini gemetar karena memegang gelas vodka, adalah tangan yang sama yang terlatih untuk memotong kabel merah atau biru dalam hitungan detik.

Ia berurusan dengan ranjau darat, bahan peledak militer sisa konflik, IED (Improvised Explosive Device), dan ancaman mematikan lainnya.

Ia terbiasa mengendalikan adrenalin, terbiasa mematikan ketakutan, dan terbiasa menjinakkan hal-hal yang dirancang untuk menghancurkan.

Ironisnya, dari sekian banyak bahan peledak dan bom kompleks yang berhasil ia jinakkan dengan kejeniusan dan ketenangannya, ia justru gagal total dalam satu hal. Ia tidak bisa menjinakkan hati orang yang sangat dicintainya.

Ia gagal membedah kompleksitas pikiran Evander, dan pada akhirnya, ledakan emosional dari pria itulah yang menghancurkan dirinya berkeping-keping.

Ingatannya kembali terlempar ke masa lalu. Masa di mana semuanya hancur tanpa sisa.

Dua tahun yang lalu, saat usianya masih menginjak 24 tahun.

Cherry baru saja kembali dari sebuah misi lanjutan yang sangat melelahkan dan menguras fisik serta mental di pangkalan militer Florida.

Selama berminggu-minggu ia berada di bawah tekanan tinggi, menjinakkan ancaman yang bisa merenggut nyawanya dan rekan-rekannya.

Setiap kali ia berhasil memotong kabel yang tepat dan melihat timer bom berhenti berdetak, hanya satu nama yang terlintas di kepalanya: Evander.

Harapan untuk pulang ke pelukan pria beraroma maskulin campuran parfum mahal dan oli mesin itu adalah satu-satunya bahan bakar yang membuatnya bertahan di tengah cuaca Florida yang mencekik.

Hari itu, penerbangannya tiba lebih awal.

Dengan membawa sebuah kotak hadiah berisi jam tangan Rolex Daytona pesanan khusus yang ia beli menggunakan nyaris seluruh bonus misinya, Cherry berniat memberikan kejutan besar pada sang kekasih.

Evander baru saja memenangkan kejuaraan bergengsi dalam dunia balap mobil sport underground maupun sirkuit legal, sebuah pencapaian yang sudah lama diidam-idamkan pria itu.

Cherry ingin merayakannya bersama. Ia merindukan senyum arogan Evander, kerlingan mata pria itu, dan ciuman yang selalu berhasil membuat Cherry merasa aman.

Cherry menuju ke sebuah hotel mewah di pusat San Francisco, tempat yang diberitahukan oleh manajer Evander sebagai lokasi perayaan kemenangan.

Ia melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal dengan langkah ringan dan jantung berdebar antisipasi. Ia memegang kartu akses duplikat yang selalu ia bawa ke mana-mana. Saat ia menempelkan kartu itu ke pintu Presidential Suite, terdengar bunyi klik pelan.

Pintu terbuka.

Alih-alih menemukan pesta perayaan dengan sampanye atau kejutan manis, Cherry disuguhkan oleh pemandangan yang akan terus menghantuinya hingga detik ini.

Pakaian berserakan di sepanjang lantai kayu ek yang mengilap. Kemeja balap Evander yang sangat ikonik tergeletak asal, bercampur dengan gaun merah sutra yang jelas bukan milik Cherry.

Langkah Cherry terhenti, napasnya tercekat. Suara rintihan pelan terdengar dari arah ranjang king-size di tengah ruangan.

Dengan tangan bergetar, Cherry melangkah maju, dan saat itulah dunianya runtuh.

Di atas ranjang berseprai putih yang berantakan, pria yang ia cintai sejak ia masih remaja, pria yang menjadi pusat semestanya, tengah bergumul tanpa busana, bersama seorang wanita berambut pirang.

Wajah Evander yang tadinya tertutup bayangan menoleh saat menyadari kehadiran Cherry.

Bukannya panik atau melompat bangun dengan penuh penyesalan, rahang Evander mengeras. Ia menatap Cherry dengan tatapan yang sangat asing, tatapan yang sedingin es.

Hancur. Kecewa. Murka.

Semua emosi melebur menjadi satu ledakan di dalam dada Cherry.

Hubungan percintaan yang mereka bangun dan pertahankan mati-matian selama delapan tahun harus kandas dengan cara yang paling menjijikkan karena sang kekasih berkhianat.

Jam tangan Rolex di tangannya jatuh ke lantai berdawai, kacanya retak, seolah menjadi simbol dari hati Cherry yang tak lagi utuh.

Namun, yang membuat Cherry hampir kehilangan kewarasannya, yang membuat rasa sakit itu berkali-kali lipat lebih menyiksa, adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh Evander Vale-Knight saat ia turun dari ranjang sambil melilitkan selimut di pinggangnya.

Dengan nada datar tanpa empati, pria itu menatap mata Cherry yang mulai berkaca-kaca dan berkata, "Sekarang kita impas, Cherry."

Kalimat itu bagai peluru sniper yang menembus tepat di tengah dahi Cherry. Kita impas.

Sejarah hubungan mereka berdua memang bukanlah dongeng tentang pangeran dan putri yang sempurna.

Hubungan mereka di masa lalu sangat labil, bagai menaiki rollercoaster tanpa sabuk pengaman.

Mereka Berpacaran Sejak usia 17 tahun, darah muda yang penuh gairah namun miskin kebijaksanaan.

Selama bertahun-tahun, Cherry harus berhadapan dengan sifat Evander yang terlalu posesif, cemburuan, dan mendominasi. Evander ingin mengontrol setiap aspek kehidupan Cherry, sementara di sisi lain, pria itu sendiri nyaris tidak pernah punya waktu untuknya.

Evander terlalu sibuk dengan sirkuit balapnya, terobsesi dengan trofi, kecepatan, dan menghabiskan malam-malam panjang di bengkel bersama komponen-komponen mobil sport.

Cherry merasa diabaikan, kesepian di tengah hubungan yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar.

Tekanan pekerjaan sebagai teknisi EOD yang mempertaruhkan nyawa dan rasa sepi di rumah membuatnya mencari kenyamanan.

Ya, Cherry tidak memungkiri bahwa ia memang pernah melakukan kesalahan fatal.

Ia berselingkuh. Namun, perselingkuhan itu lebih ke arah pelarian emosional. Ia dekat dengan seorang rekan kerjanya, pria yang mau mendengarkannya, yang mau menemaninya minum kopi setelah misi yang melelahkan, yang memberikannya perhatian yang tidak lagi ia dapatkan dari Evander.

Karena dihantui rasa bersalah yang menggerogoti hati nuraninya, Cherry yang tidak tahan menyembunyikan kebohongan akhirnya mengaku sendiri.

Ia duduk di hadapan Evander, menangis tersedu-sedu, dan mengakui perselingkuhannya.

Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ia memohon ampun, berjanji tidak akan pernah mengulanginya, dan bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya demi menyelamatkan hubungan mereka.

Dan saat itu, Evander yang murka luar biasa pada akhirnya luluh.

Pria itu memeluknya, menerima permintaan maafnya, dan mengatakan bahwa ia memaafkan Cherry. Ia berjanji mereka akan memulai semuanya dari awal, memperbaiki komunikasi, dan membangun kembali kepercayaan.

Cherry percaya. Ia benar-benar percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati badai itu.

Namun, ternyata ia salah besar. Kata maaf itu hanyalah kepalsuan belaka yang keluar dari bibir Evander.

Pria itu tidak pernah benar-benar memaafkannya.

Ego laki-lakinya yang terluka diam-diam menyusun rencana balas dendam yang lebih kejam.

Evander sengaja membuat Cherry merasa aman, membuat Cherry kembali menyerahkan seluruh hatinya, hanya untuk menghancurkannya pada saat yang paling tidak terduga.

Yang paling membuat dada Cherry sesak oleh ketidakadilan adalah kenyataan tentang batas yang mereka langgar.

Saat Cherry berselingkuh secara emosional, ia bersumpah demi nyawanya bahwa ia tidak pernah tidur dengan pria lain. Ia masih menjaga batas fisiknya, karena di lubuk hatinya yang terdalam, tubuh dan cintanya hanya milik Evander. Ia hanya mencari teman bicara, bukan teman tidur.

Namun Evander?

Pria itu telah melangkah sejauh itu. Ia menggunakan kesalahan masa lalu Cherry sebagai alibi, sebagai senjata untuk membenarkan tindakannya.

Ia sengaja tidur dengan wanita lain—wanita yang kini mungkin hamil anaknya—hanya untuk membalas dendam, untuk menghancurkan harga diri Cherry dan menunjukkan bahwa ia yang memegang kendali atas rasa sakit.

°°°°

"Impas," gumam Cherry di tengah kelab malam, dua tahun kemudian.

Air mata akhirnya lolos dari sudut matanya, menetes melewati pipinya yang ber-makeup sempurna, jatuh ke atas gaun sutranya.

Alessia dan Svea yang melihat sahabat mereka mulai menangis segera merapat, memeluk tubuh Cherry dari kedua sisi.

Mereka memberikan kehangatan yang tak bisa diberikan oleh alkohol sekeras apa pun.

"Menangislah, Cher. Keluarkan semuanya malam ini. Tapi besok, kau harus bangkit. Kau adalah teknisi EOD terbaik di negaramu, kau menjinakkan bom untuk hidupmu. Jangan biarkan pria berengsek pengkhianat itu menjadi bom waktu yang menghancurkan masa depanmu," bisik Alessia sambil mengelus rambut panjang Cherry.

Svea mengangguk menyetujui, menyandarkan kepalanya di bahu Cherry.

"Dia tidak pantas mendapatkan air matamu. Bayi yang dikandung wanita itu, pernikahan mereka, itu semua adalah karma yang akan mereka jalani. Kau harus menutup buku itu sekarang."

Cherry mengusap air matanya dengan kasar. Tatapannya yang tadi sayu kini berubah menajam, dipenuhi oleh determinasi dingin yang biasanya hanya muncul saat ia sedang mengenakan pakaian anti-ledakan dan memegang tang untuk memotong sirkuit bom.

Detik di mana Evander mengatakan 'kita impas' di kamar hotel itu, adalah detik di mana hubungan yang terjalin sejak usia 17 tahun itu mati, terbakar hangus tanpa sisa.

Delapan tahun kebersamaan, tawa, air mata, pertengkaran, dan cinta yang membara, ditukar dengan pengkhianatan di ranjang hotel dan seorang bayi di rahim wanita lain.

Cherry mengangkat kepalanya, menatap ke arah lampu strobo yang berputar di langit-langit kelab.

Dentuman musik Gasoline masih menghajar gendang telinga, tetapi kini suaranya terdengar seperti soundtrack kebangkitannya. Ia menuangkan satu gelas penuh vodka, mengabaikan protes dari lambungnya.

"Kalian benar," suara Cherry kini lebih stabil, dingin, dan mematikan. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Untuk masa lalu yang mati. Untuk Evander Vale-Knight dan keluarga kecilnya yang menyedihkan."

Alessia dan Svea tersenyum bangga, kembali mengangkat gelas mereka masing-masing.

"Dan untuk Zacheriyya Tengiz," tambah Alessia.

"Wanita yang tidak akan pernah hancur hanya karena seorang pembalap sialan," sahut Svea.

Mereka mendentingkan gelas sekali lagi.

Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu Los Angeles, Cherry membuat janji pada dirinya sendiri.

Tidak akan ada lagi air mata untuk Evander. Tidak akan ada lagi rasa sakit yang ia biarkan menguasainya.

Jika hidup adalah medan pertempuran penuh ranjau, maka mulai besok, ia akan memastikan langkahnya tidak lagi berpijak pada sisa-sisa masa lalunya yang meledakkan.

Ia akan menjinakkan hatinya sendiri, dan memastikan Evander Vale-Knight tahu, bahwa membuang berlian demi batu kerikil adalah penyesalan terbesar yang akan menghantui pria itu seumur hidupnya.

🌷🌷🌷🌷

Ini Cerita Evander Vale-Knight adiknya Killian-Millian Vale Knight.

Cerita Keluarga Knight ke-3.

HIDDEN LINES (Killian Vale knight)

MY FAKE KNIGHT (Millian Vale-Knight)

#2

Keesokan paginya, matahari Los Angeles terbit dengan begitu terik, menembus celah-celah gorden tipis di salah satu apartemen mewah kawasan Los Angeles Pusat.

Di dalam kamar utama yang luas dan berdesain minimalis modern itu, Zacheriyya Tengiz mengerang tertahan. Ia terbangun dengan kepala yang serasa dilempar batu besar.

Rasa pening yang luar biasa menghantam dinding kesadarannya—efek samping yang tak terhindarkan setelah menenggak bergelas-gelas vodka murni dan tequila bersama Alessia dan Svea semalam.

Cherry memijat pelipisnya perlahan, berusaha mengumpulkan nyawanya yang seolah tercecer. Ia melirik jam dinding digital.

Sudah hampir pukul sembilan pagi. Jika ini adalah hari biasa, ia pasti sudah berada di barak militer atau di dalam jet menuju zona konflik.

Namun pagi ini, situasinya berbeda. Hari ini, dia hanya akan meluangkan waktunya untuk tidur dan bermalas-malasan.

Cherry tidak memiliki kegiatan sama sekali, karena memang dia telah mengambil cuti panjang dua hari yang lalu.

Setelah dua tahun penuh ketegangan, ancaman kematian, dan perpindahan tugas yang melelahkan, ia ingin bebas untuk sementara waktu.

Dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit berantakan, Cherry berjalan ke dapur bersihnya yang bernuansa marmer putih. Ia menyalakan kompor, mulai melakukan aktivitasnya memasak.

Bau harum roti panggang, mentega, dan bacon segera memenuhi ruangan, sedikit meredakan rasa mual di perutnya. Ia menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula untuk mengusir rasa kantuk dan pening.

Saat duduk di meja makan dan menyantap sarapannya dengan baik, Cherry menatap pemandangan kota Los Angeles dari jendela besar apartemennya.

Ternyata seindah ini jika menjadi pengangguran dan tidak lagi bekerja, batinnya lirih.

Ada rasa tenang yang langka, sebuah kemewahan yang tidak pernah ia rasakan sejak menginjakkan kaki di dunia penjinakan bahan peledak.

Hingga akhirnya, keheningan yang damai itu dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering keras di atas meja.

Bzzzzzz... Bzzzzzz...

Cherry melirik layar ponsel. Nama 'Daddy' tertera di sana. Ia menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.

"Halo Dad," kata Cherry, suaranya masih agak serak.

"Kapan kau pulang? Kenapa tidak pulang ke Mansion?"

Tanya sang Ayah di seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun menyimpan nada menuntut.

Cherry menyandarkan punggungnya ke kursi, senyum sinis terukir di bibirnya. "Aku tidak akan pulang ke mansion, Dad. Dan lagi pula, aku tidak ingin mengganggu kesehatan istri tersayangmu."

Tut.

Telepon dimatikan sepihak oleh Cherry tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari ayahnya.

Hubungan mereka memang merenggang sejak sang ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita yang Usianya mungkin sebaya dari Cherry sendiri.

Cherry memang baru saja kembali dari New York setelah menyelesaikan serangkaian operasi EOD yang rumit.

Dan ini adalah cuti panjang pertamanya setelah dua tahun hanya sibuk berpindah-pindah kota dan pangkalan, melarikan diri dari bayang-bayang patah hati di Los Angeles.

Ia meletakkan ponselnya kembali, berniat melanjutkan sarapannya yang tertunda.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari satu menit.

Ponselnya kembali berdering hebat. Bukan dengan nada dering standar yang tadi, melainkan sebuah nada khusus yang nyaring dan berirama cepat.

Bzzzzz... Bzzzzz...

Itu telepon khususnya. Telepon terenkripsi yang hanya digunakan untuk keperluan dinas darurat. Jantung Cherry seketika berdegap kencang. Naluri agennya langsung mengambil alih.

Ia mengangkatnya. "Zhach di sini."

"Kode merah," kata Angel, rekan kerja sekaligus operator pusatnya di agensi.

Suara Angel terdengar panik dan terburu-buru.

Cherry mengernyitkan dahi, rasa pening di kepalanya seolah menguap digantikan oleh adrenalin. "Aku sedang cuti, Angel. Aku ingin tenang untuk sebulan—"

"Ancaman peledak terorisme ada di kotamu, Zach," jawab Angel cepat, memotong kalimat Cherry. Di dunia pekerjaan, Cherry memang lebih dikenal dengan nama depan atau nama panggilannya yang terdengar maskulin, Zach.

"Kami benar-benar membutuhkanmu. Skalanya besar."

"Lokasi?" Jawab Cherry cepat. Profesionalismenya tidak bisa berkompromi jika menyangkut nyawa orang banyak, seburuk apa pun suasana hatinya.

"Terduga Arena Sirkuit Kota Pusat Los Angeles. Target spesifiknya adalah sebuah mobil sport mewah. Tim B sudah berada di sana sejak satu jam lalu. Namun, jenis bom itu benar-benar baru, menggunakan sistem pemicu frekuensi ganda dan Tim B benar-benar tidak bisa mengatasinya. Mereka angkat tangan, Zach. Hanya kau yang punya sertifikasi untuk jenis custom device seperti ini."

Mendengar kata 'Sirkuit Kota Pusat Los Angeles', dada Cherry berdenyut aneh. Namun ia menepis perasaan itu.

"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Cherry dengan cepat.

Ia menutup telepon, menyambar jaket kulit hitamnya, dan langsung mengambil sebuah kunci motor besarnya yang terletak di atas nakas dekat pintu keluar.

...oOo ...

Raungan mesin motor sport milik Cherry membelah jalanan Los Angeles Barat menuju pusat kota.

Hanya dalam waktu lima belas menit, ia sudah sampai di gerbang belakang Arena Sirkuit Pusat Los Angeles.

Tempat ini sudah ditutup total oleh garis polisi. Mobil-mobil penjinak bom, ambulans, dan kendaraan taktis militer berjejer rapi, merusak pemandangan sirkuit yang biasanya megah.

Lompat dari motornya dan berjalan memasuki Sirkuit Pusat Los Angeles, tampaknya Cherry tidak merasa asing pada arena itu.

Langkah kakinya begitu mantap melewati pembatas trek.

Bagaimana bisa asing? Karena memang dia sudah hafal di luar nalar arena ini.

Selama delapan tahun hubungannya dengan Evander, separuh waktunya dihabiskan di tribun, di pit stop, dan di sepanjang lintasan ini untuk menonton pria itu memacu kecepatan.

Setiap sudut sirkuit ini menyimpan memori tentang sorak-sorai kemenangan Evander.

"Dimana?" Tanya Cherry pada rekannya, seorang pria bertubuh tegap, sambil dirinya dipakaikan alat dan baju pelindung khusus yang sangat tebal dan berat.

Helm pelindung ber-visor antipeluru sudah siap di tangannya.

Rekannya menunjuk ke arah area pit lane yang dikosongkan. "Mobil sport hitam di sana. Bomnya dipasang di bagian sasis bawah, terhubung langsung dengan tangki bahan bakar dan sistem pengapian elektronik."

Cherry akhirnya mengarahkan pandangannya pada tangan rekannya yang saat itu mengarahkannya untuk ke arah mobil itu.

Deg.

Jantung Cherry rasanya seperti berhenti berdetak sesaat.

Tatapannya terkunci pada kendaraan yang terparkir di bawah naungan kanopi baja.

Mobil itu... mobil itu sangat dikenalnya.

Sebuah hypercar edisi terbatas dengan garis aerodinamis yang agresif, dicat hitam pekat dengan aksen garis merah khas.

Itu adalah mobil mewah milik mantannya, Evander Vale-Knight.

Mobil yang dibeli Evander tepat sebelum mereka putus, mobil yang menjadi simbol kejayaan pria itu di lintasan balap.

"Kami benar-benar kesulitan mengenal komponen ini, Zach. Kabel-kabelnya terbungkus serat karbon dan pemicunya sangat sensitif terhadap perubahan tekanan," keluh rekannya lagi, tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah Cherry di balik tudung pelindungnya.

Cherry mematung di depan mobil itu. Pikirannya berputar hebat.

Mengapa bom ini harus berada di mobil Evander? Apakah ini serangan personal terhadap mantan kekasihnya, atau sekadar kebetulan yang kejam?

Hingga dari belakang, sebuah langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat.

Seseorang dengan suara dingin dan berat yang sangat akrab di telinga Cherry mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Aku tidak mau gara-gara ancaman murahan ini merusak komponen mobilku. Lakukanlah dengan baik," kata Evander Vale-Knight tiba-tiba.

Pria itu berjalan mendekat dengan setelan kasual mewah, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, dan aura arogansi yang tidak berkurang sedikit pun sejak dua tahun lalu.

Evander menatap mata Cherry yang saat ini mematung di balik kaca helm pelindungnya.

Kemungkinan besar, Evander tidak mengenal dirinya.

Pakaian EOD yang sangat tebal, tudung kepala, dan helm pelindung ber-visor gelap itu menyembunyikan seluruh identitas fisik Cherry dengan sempurna. Evander hanya mengira dia adalah salah satu agen pria dari tim penjinak bom militer.

Deg.

Suara yang dirindukannya ini... suara yang dulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya, namun sekarang menjadi suara dari orang yang paling ia benci di muka bumi ini.

Pertemuan kembali yang begitu mendadak ini membuat Cherry merasa dadanya sesak.

Hingga rekannya yang tidak tahu apa-apa mengatakan, "Zach, kita harus memeriksa bagian bagasi juga. Kami akan langsung mencari, apa mungkin ada di tempat lain juga di sekitar sirkuit ini."

"Tunggu," kata Cherry dengan cepat. Suaranya agak teredam oleh mikrofon internal helm, namun intonasinya tegas.

Dia masih menatap mata Evander yang tampaknya bertingkah sombong itu. Pria itu berdiri berkacak pinggang, memandang mobilnya seolah-olah nyawanya sendiri tidak sedang berada di ujung tanduk karena bom waktu yang sedang berdetak.

"Ada apa, Zach?" Tanya rekan kerjanya yang merupakan seorang pria, bingung melihat Cherry yang mendadak tidak bergerak.

Cherry menarik napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya yang bergejolak. Ia menoleh sedikit pada rekannya.

"Bisa kau beri tahu pria di depanku ini? Katakan padanya, untuk pergi menjauh dari area ini. Jika tidak, aku terpaksa meledakkan mobilnya."

Deg.

Evander Vale-Knight yang mendengar kalimat samar-samar itu mengerutkan dahi. Ia mengira agen di depannya begitu lancang karena berani mengancam aset berharganya.

Dia tidak tahu saja bahwa agen itu adalah seorang wanita—dan lebih spesifik lagi, mantan kekasihnya—karena memang terhalang pelindung juga pakaian tebal itu membuat Evander Vale-Knight tidak mendengar suaranya secara jelas, melainkan hanya nada bicaranya yang menantang.

"Apa kau bilang, hah?" Evander maju satu langkah dengan wajah mengeras, emosinya terpancing.

"Itu edisi terbatas! Harganya bisa membeli seluruh markas kalian. Kau harus melakukannya dengan baik dan menjamin tidak ada goresan sedikit pun! Kalau saja aku mengerti soal bomnya, aku tidak akan menelpon kalian untuk datang ke sirkuitku!"

"Oh, ya?" Ucap Cherry.

Suaranya meninggi, rasa kesal dan dendam masa lalu yang menumpuk membuat dia sampai lupa untuk bekerja profesional secara penuh.

Sifat arogan Evander yang selalu mengutamakan benda mati dan egonya sendiri di atas segalanya benar-benar menyulut api kemarahan Cherry.

"Aku memang harus membakar mobil itu sejak dulu, sialan," desis Cherry perlahan, namun kali ini ia menekan tombol interkom luar helmnya sehingga suaranya terdengar jernih dan menggema di area pit lane.

Deg.

Evander terdiam seketika. Langkahnya terhenti di udara. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam membelalak lebar.

Suara ini. Nada sinis ini. Cara penyebutan kata 'sialan' yang khas itu.

Ini suara kekasihnya... Bukan... Mantannya.

C-cherry... lirih Evander dalam hati.

Nama itu menghantam dadanya seperti gada besi. Namun, kata itu tertahan di tenggorokannya, tidak mampu keluar di mulutnya karena syok yang teramat sangat.

Pria itu memandang sosok bertubuh besar karena pakaian pelindung di depannya dengan tatapan tidak percaya.

Wanita yang dua tahun lalu pergi meninggalkannya dengan hati hancur, kini berdiri di depannya sebagai malaikat maut bagi mobilnya.

Dengan cepat dan tanpa memedulikan keterpanaan Evander, Cherry membalikkan badannya menghadap kap mobil, lalu mengatakan dengan dingin, "Pergi dari sini. Beri kami ruang."

Tanpa diusir untuk kedua kalinya pun, Evander mundur satu langkah, lalu dua langkah.

Kesombongannya mendadak menguap, digantikan oleh kecanggungan dan gejolak emosi yang rumit melihat kembali wanita yang pernah menguasai hidupnya.

Namun, ego Evander yang tinggi menolak untuk terlihat lemah.

Pria itu menghentikan langkahnya, menatap rekan kerja pria dari Cherry yang berdiri di dekat alat detektor.

Dengan nada suara yang dipaksakan terdengar acuh tak acuh, Evander mengatakan pada pria yang menjadi rekan kerja dari Cherry itu, "Buang saja mobil itu, aku tidak membutuhkannya lagi. Aku tidak suka mobilku disentuh oleh orang lain."

Kata-kata itu bagai belati yang sengaja ditusukkan Evander untuk membalas harga dirinya yang terusik.

Cherry yang mulai fokus beberapa detik lalu untuk melihat rangkaian kabel di bawah kap mesin, mendadak mematung. Tangan yang memegang tang pemotong kabel bergetar kecil.

Aku tidak suka mobilku disentuh oleh orang lain.

Cherry tahu persis arti ganda dari kalimat itu. Itu bukan sekadar soal mobil, melainkan sindiran kejam Evander tentang masa lalu mereka, tentang perselingkuhan emosional Cherry yang tak pernah benar-benar dimaafkan pria itu.

Perkataan pria pengkhianat itu benar-benar menyakiti hatinya, merobek kembali luka yang baru saja ia coba jahit semalam dengan bantuan alkohol.

Kau benar-benar tidak berubah, Evander. Kau tetap bajingan egois yang tahu cara menyakiti orang paling dalam, kutuk Cherry dalam hati.

Rasa sakit itu berubah menjadi fokus yang mematikan. Cherry membuang semua keraguannya.

Matanya menatap tajam pada kotak pemicu bom yang memiliki tiga kabel utama berwarna merah, hitam, dan biru tua yang terjalin rumit di antara sensor tekanan.

Timer digital di atasnya menunjukkan waktu tersisa: 5 menit 45 detik.

Tek.

Bunyi kabel pertama yang ia potong terdengar nyaring di tengah keheningan sirkuit. Itu adalah kabel sensor frekuensi.

Timer di bom itu mendadak melompat maju, berkedip cepat menuntut keputusan instan.

Rekan kerjanya menahan napas, bersiap untuk skenario terburuk. Namun tangan Cherry bergerak dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa. Ia memotong kabel kedua, lalu mencabut modul pemicu utama dari sasis.

"Selesai," ucap Cherry dengan cepat melalui radio komunikasi.

Dan tindakan cepatnya itu langsung disambut dengan keharuan dan helaan napas lega yang luar biasa oleh rekan kerjanya.

"Kerja bagus, Zach! Kau benar-benar penyelamat!" Seru rekannya sambil menepuk bahu tebal pelindung Cherry.

Namun, Cherry tidak merayakan keberhasilannya. Wajahnya di balik helm sangat datar.

Dengan langkah yang elegan dan penuh wibawa meskipun mengenakan pakaian pelindung yang berat, dia melepaskan topi pelindung atau helmnya.

Rambut panjangnya terurai jatuh membingkai wajah cantiknya yang kini dipenuhi keringat.

Ia menatap lurus pada Evander yang masih berdiri beberapa meter di sana, mengawasi setiap gerakannya dengan pandangan yang tak terbaca. Cherry melemparkan tang pemotongnya ke dalam tas peralatan, lalu memandang seluruh kru tim EOD dan kru sirkuit.

Dengan suara lantang dan tegas, Cherry berkata, "Tinggalkan sirkuit. Sirkuit ini akan meledak dalam lima menit kedepan."

Deg.

Semua orang yang berada di sana terkejut setengah mati. Kepanikan instan langsung melanda.

Para petugas polisi dan tim B mulai mundur dengan teratur namun cepat, mengosongkan area lintasan utama.

Tak terkecuali Evander Vale-Knight. Wajah pria itu berubah pias. Ia melangkah maju, menatap Cherry dengan kilat kemarahan dan kebingungan yang bercampur aduk.

"Kau benar-benar meledakkan mobilku, Cherry?!" Tanya Evan dengan nada jengkel dan menuntut, langkahnya mendekat ke arah wanita itu. Ia mengira Cherry sengaja membiarkan bom sekunder aktif demi membalas dendam padanya.

Dan Cherry, yang saat ini sudah menyampirkan ransel peralatannya di bahu dan bersiap berjalan menuju motor sportnya, berbalik sedikit. Ia menatap Evander dengan senyuman paling dingin dan paling menawan yang pernah ia miliki.

"Aku hanya menuruti kemauan pemilik mobil," jawab Cherry tenang, mengutip kembali kata-kata Evander tentang membuang mobil itu.

"Kau bilang kau tidak membutuhkannya lagi dan tidak suka mobilmu disentuh orang lain, bukan? Bom di dalam mesin memang sudah kujinakkan, tapi bom kedua yang tertanam di bawah aspal pit stop ini... sengaja tidak kusentuh. Selamat untuk menyelamatkan dirimu sendiri, Tuan Vale-Knight."

Evander mematung di tempatnya saat mendengar sirene peringatan evakuasi sirkuit mulai melolong nyaring di udara, menandakan bahwa sang mantan kekasih benar-benar tidak sedang bermain-main dengan ucapannya.

#3

Langkah kaki Zacheriyya Tengiz terlihat begitu santai, kontras dengan alarm evakuasi yang masih melolong-lolong membelah udara Sirkuit Pusat Los Angeles.

Dengan ransel taktis yang bertengger di salah satu bahunya, ia berjalan mendekati motor sport hitamnya yang terparkir anggun di dekat gerbang pembatas.

Punggung tegaknya memancarkan aura kemenangan yang mutlak, seolah ia baru saja menyelesaikan pertunjukan teater alih-alih menjinakkan sebuah bom militer berdaya ledak tinggi.

Di tempatnya berdiri, Evander Vale-Knight menatap punggung mantan kekasihnya itu dengan rahang yang mengeras dan sepasang mata yang menyipit tajam.

Detak jantungnya berpacu cepat, bukan hanya karena adrenalin menghadapi ancaman kematian, tetapi karena kehadiran wanita itu yang mendadak mengacaukan seluruh sistem pertahanannya yang telah dibangun selama dua tahun terakhir.

"Evan! Sialan, tunggu apa lagi?! Ayo lari!" seru Ben, sahabat sekaligus manajer tim balapnya, sambil menarik paksa lengan kemeja Evander.

Ben sudah bersiap untuk mengambil langkah seribu, wajahnya pucat pasi memikirkan sirkuit megah ini akan berubah menjadi lautan api dalam hitungan menit.

Evander, yang akhirnya tersadar dari keterpakuannya, baru saja hendak mengayunkan kakinya untuk bersiap berlari meninggalkan area pit lane.

Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, rekan kerja pria dari Cherry yang tadi bertugas memegang detektor tiba-tiba menepuk dahinya sendiri dan setengah berteriak memanggil mereka.

"Tunggu! Maaf, Tuan Knight! Maaf semuanya!" teriak pria itu sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar ketakutan massal itu dihentikan.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan menyeluruh pada sirkuit sekunder melalui pemindai frekuensi... tidak ada bom kedua yang dimaksud! Bom tadi telah dijinakkan sepenuhnya oleh Zach, dan sirkuit ini aman!"

Langkah kaki Evander terhenti seketika. Sirene evakuasi di atas kanopi tiba-tiba mati, menyisakan keheningan yang canggung di antara kru sirkuit yang masih tersisa.

Evander membalikkan tubuhnya perlahan, menatap ke arah gerbang belakang tempat Cherry berada. Namun, yang didengarnya hanyalah raungan nyaring mesin motor sport Cherry yang sengaja digerung keras, sebelum wanita itu melesat membelah jalanan, meninggalkan kepulan asap tipis dan rasa dongkol yang membakar dada Evander.

"Wah, sialan... dia membohongiku," desis Evander, suaranya bergetar oleh campuran antara amarah dan rasa tidak percaya.

Senyum sinis yang getir perlahan terbit di sudut bibirnya.

Tangan pria itu mengepal kuat di dalam saku celananya hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan. Rupanya hobimu memang selalu membohongiku, Cherry... lirihnya dalam hati.

Ingatan masa lalu tentang bagaimana Cherry menyembunyikan perselingkuhan emosionalnya dulu kembali berkelebat, berpadu dengan kebohongan kecil yang baru saja wanita itu lakukan hari ini hanya untuk mengerjainya dan membuatnya terlihat bodoh.

Cherry tahu persis bagaimana cara membalikkan keadaan dan menginjak harga diri Evander yang setinggi langit.

Hingga tiba-tiba, getaran keras disertai nada dering dari ponsel di saku celananya membuyarkan lamunan kelam Evander. Ia menarik keluar benda persegi itu dan melihat nama yang tertera di layar.

Jantungnya berdenyut lelah. Ia menggeser tombol jawab dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Hallo, Kakak Ipar..." ucap Evander, berusaha menekan nada frustrasinya agar terdengar selembut mungkin.

Suara seorang wanita menyahut dari seberang telepon.

"Evan, maaf menganggumu di jam begini. Apakah kau bisa menjemput Gabriella di klinik pagi ini? Jadwal pemeriksaannya sudah selesai. Aku tidak tenang jika dia pulang sendirian menggunakan taksi online dengan kondisinya."

Evander memejamkan matanya sesaat, mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. "Baik, Kak... aku akan menjemputnya. Kau tidak perlu khawatir. Salam untuk keponakanku."

"Terima kasih banyak, Evan. Kau selalu bisa diandalkan," sahut kakak iparnya sebelum memutuskan sambungan.

Tut.

"Siapa?" tanya Ben yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi bersalah di wajah sahabatnya itu.

"Kakak iparku," jawab Evander pendek. Ia berjalan mendahului Ben, melangkah lebar menuju area parkir VIP di mana mobil SUV milik Ben terparkir.

Evander langsung membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam, menyandarkan kepalanya yang mendadak terasa pening pada headrest kulit.

Ben ikut masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin mobil, namun tidak segera menginjak gas. Ia menoleh ke arah Evander dengan tatapan menuduh sekaligus prihatin.

"Menjemput wanita hamil itu lagi?"

Evander tidak menoleh, matanya menatap kosong ke luar jendela. Ia hanya mengangguk pelan sekali. "Sudah jadi tanggung jawabku untuk menjemput dan mengantarnya. Kau tahu itu, Ben."

Ben terdiam cukup lama. Ia tahu betul seluruh kerumitan dan benang kusut yang melatarbelakangi sikap Evander selama lima bulan terakhir.

Sebagai sahabat, ada kalanya Ben ingin meneriaki Evander agar berhenti menjadi martir bagi kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.

Namun melihat gurat kelelahan yang mendalam di wajah Sahabat terbaiknya itu, Ben hanya bisa menghela napas panjang, mengangguk, dan berkata, "Baiklah. Kita ke klinik sekarang."

...oOo...

Sepuluh menit kemudian, mobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan lobi sebuah klinik bersalin elite di kawasan Beverly Hills.

Seorang gadis berambut cokelat bergelombang dengan gaun hamil longgar berwarna pastel sudah duduk manis di kursi tunggu lobi, ditemani oleh seorang perawat. Itu Gabriella Margareth.

Setelah dibantu oleh Evander untuk berpindah ke kursi penumpang depan, Gabriella melirik jam tangannya dan langsung mendengus pelan saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota.

"Kau terlambat menjemputku. Kau begitu sibuk sampai membiarkan wanita hamil menunggu?" tanya Gabriella dengan nada ketus yang kentara.

"Tidak juga," jawab Evander tenang, matanya tetap fokus pada jalanan di depan.

Sifat manja dan mudah tersinggung Gabriella bukanlah hal baru baginya. "Aku memiliki sedikit masalah di sirkuit tadi. Kakak ipar meneleponku dan menyuruhku untuk menjemputmu."

"Aah, iya." jawab Gabriella Margareth dengan nada pahit di akhir kalimatnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap deretan pohon palem yang bergerak mundur.

...°°°°...

Selama perjalanan menuju mansion kakaknya, Evander Vale-Knight selalu menanyakan kenyamanan Gabriella Margareth. Ia memastikan pendingin udara mobil tidak terlalu dingin, menanyakan apakah posisi duduk wanita itu sudah nyaman, atau apakah Gabriella membutuhkan sesuatu untuk meredakan mualnya.

Sikap perhatian yang konstan itu ia lakukan bukan karena didasari oleh getaran cinta, melainkan sebuah bentuk formalitas dan kewajiban moral yang mengikat lehernya.

Hingga akhirnya, mobil itu berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan mewah dan berhenti tepat di depan halaman mansion megah milik kakak kandung Evander.

Evander mematikan mesin mobil, melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Gabriella.

"Tunggu dulu di dalam, jangan bergerak. Aku akan keluar untuk mengeluarkan kursi rodamu dari bagasi."

Gabriella mematung. Tangannya yang mengelus perut buncitnya yang kini memasuki usia tujuh bulan mendadak berhenti.

Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi sendu, dilapisi oleh lapisan rasa bersalah dan keputusasaan yang mendalam. Ia menatap Evander dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Apa kau muak menggendongku, Evan?" tanya Gabriella dengan suara yang bergetar. "Aku tahu aku merepotkanmu. Tapi kau harus ingat... aku cacat juga karena dirimu."

Deg.

Evander terdiam seribu bahasa. Tangannya yang baru saja hendak membuka pintu mobil mencengkeram tuas pintu dengan sangat kuat.

Kata-kata Gabriella barusan bagai palu gada yang menghantam ulu hatinya, memicu rasa bersalah yang teramat sangat yang selama ini ia coba kubur di balik sikap dinginnya.

Evander menatap gadis di sampingnya itu dengan pandangan yang rumit. Pikirannya seketika terlempar pada peristiwa berdarah lima bulan yang lalu.

Malam di mana semuanya berubah menjadi mimpi buruk bagi semua orang yang terlibat.

Lima bulan yang lalu, Gabriella Margareth mengalami kecelakaan parah yang hampir merenggut nyawanya dan janin di dalam kandungannya.

Gadis itu mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan luar biasa di bawah guyuran hujan deras, menerobos lampu merah hingga berujung menghantam pembatas beton dengan sangat keras.

Dan penyebab dari tindakan nekat itu sangatlah fatal: Gabriella Margareth baru saja ditolak mentah-mentah oleh Evander Vale-Knight soal perasaannya malam itu.

Gabriella, nekat mendatangi apartemen Evander dan menyatakan cinta dengan penuh histeria.

Dan gilanya, ungkapan perasaan yang penuh air mata itu disaksikan langsung oleh suami Gabriella sendiri yang ternyata diam-diam membuntuti istrinya karena curiga.

Malam itu juga, di depan mata Evander yang syok, suami Gabriella langsung menjatuhkan talak, menceraikan istrinya dengan penuh kemurkaan.

Pria itu bahkan meludahkan makian keji, menghina Gabriella dan menyatakan dengan lantang bahwa anak di dalam kandungan Gabriella bukanlah darah dagingnya, melainkan hasil perselingkuhan haram dengan Evander.

Secara logika dan hukum, Evander berhak menolak siapapun yang berusaha masuk ke dalam hidupnya.

Apalagi penolakan itu ditujukan pada seorang Gabriella yang jelas-jenis berstatus sebagai istri orang lain.

Evander tidak pernah menanggapi godaan Gabriella, ia tidak pernah menyentuh wanita itu, dan ia sama sekali tidak bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya.

Namun sayangnya, malam setelah kecelakaan tragis itu terjadi, Evander Vale-Knight seakan tidak punya pilihan lain untuk cuci tangan.

Saat Gabriella terbaring koma di ruang ICU dengan kedua kaki yang lumpuh sementara akibat trauma saraf tulang belakang.

Kakak ipar Evander—yang merupakan adik kandung dari Gabriella—bahkan sampai bersujud di kaki Evander di koridor rumah sakit yang dingin.

Wanita itu menangis, memikirkan bagaimana masa depan kakaknya yang kini cacat, diceraikan oleh suaminya, dan harus menghidupi putri yang dikandungnya sendirian di tengah cemoohan publik.

Tak hanya itu, sang Mommy, sosok wanita paruh baya yang paling dihormati dan dipatuhi oleh Evander di dunia ini, juga berada di sana.

Melihat bagaimana menantunya yang malang sampai bersujud di hadapan putra kandungnya, sang Mommy yang berhati lembut tidak tega.

Beliau memegang pundak Evander dan meminta dengan sangat, agar selama masa kehamilan dan pemulihan Gabriella Margareth, Evander bersedia membantu mengurangi beban psikologis dan fisik yang dimiliki Gabriella di masa sulitnya.

Sang Mommy tidak ingin keluarga mereka menanggung rasa bersalah jika Gabriella sampai melakukan tindakan nekat lagi yang bisa membunuh janin di rahimnya.

Dan sejak malam itu, Evander mengikat dirinya dalam sebuah janji suci pada kakak iparnya dan juga sang Mommy.

Mengantar juga menjemput untuk pemeriksaan rutin ke rumah sakit, menjaga keselamatan kehamilan Gabriella, dan menoleransi setiap amarah wanita itu adalah tugas yang ia terima tanpa protes—sebuah bentuk penebusan rasa bersalah atas kecelakaan yang tidak sengaja ia picu.

Bagaimana mungkin dia tega menolak membantu?

Gabriella kecelakaan hingga cacat sementara, Gabriella diceraikan suaminya, dan sekarang malah Evander yang harus menjaga dan merawatnya layaknya seorang suami siaga.

Ini adalah sebuah ironi yang luar biasa kejam bagi hidupnya.

Namun di sisi lain, di balik tirai rahasia yang paling kelam di hatinya, Evander yang memang cerdas memanfaatkan situasi rumit ini untuk satu tujuan krusial lainnya. Ia sengaja membiarkan rumor kedekatannya dengan Gabriella menyebar luas di kalangan elite.

Ia membiarkan dunia luar mengira bahwa dirinya adalah pria berengsek yang menghamili istri orang.

Mengapa? Karena Evander sedang berusaha dengan segala cara membuat para wanita di luar sana—para sosialita, model, dan gadis-gadis yang disodorkan ibunya—dapat menjauh darinya.

Ia ingin membangun reputasi sebagai pria beracun yang tidak layak didekati, agar hatinya tetap terjaga, bersih, dan tak tersentuh pada satu nama saja yang masih ia rahasiakan dari dunia: tentu saja nama itu adalah Zacheriyya Tengiz.

Dua tahun lalu, kalimat "kita impas" yang ia ucapkan di kamar hotel mewah Los Angeles bukanlah sebuah pernyataan kemenangan karena berhasil membalas dendam pada Cherry.

Itu adalah puncak dari kebodohan ego laki-lakinya yang terluka.

Malam itu, wanita yang tidur di ranjangnya hanyalah sebuah rekayasa murahan yang sengaja ia sewa untuk membuat Cherry cemburu setengah mati dan merasakan sakit yang sama seperti saat Cherry mengaku berselingkuh emosional dengannya.

Evander tidak pernah meniduri wanita itu. Wanita Itu Adalah Wanita Yang Ia Sewa untuk Sandiwara Besarnya.

Sentuhan fisiknya hanya pernah dan akan selalu menjadi milik Cherry.

Namun, sandiwara bodoh itu justru menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan delapan tahun hubungan mereka tanpa sisa.

Cherry pergi membencinya sampai mati, dan Evander terjebak dalam lingkaran setan kebohongannya sendiri.

...°°°°°°...

Dan sekarang, melihat Cherry kembali berdiri di depannya hari ini sebagai agen EOD yang dingin, Evander tahu bahwa dinding kebencian di antara mereka sudah setebal gunung es.

Evander menghela napas pendek, menatap Gabriella dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan ketegasan.

"Aku tidak pernah muak bersamamu, Gabriella. Aku hanya ingin kau nyaman," ucapnya bohong, sebuah kalimat penenang yang sudah ratusan kali ia ucapkan demi menjaga stabilitas emosi wanita hamil itu.

Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar ke bawah terik matahari Los Angeles, dan berjalan menuju bagasi untuk mengambil kursi roda.

Di bawah langit yang cerah itu, Evander bersumpah dalam hati, ia akan menyelesaikan kewajibannya pada Gabriella secepat mungkin.

Dan setelah wanita itu melahirkan serta pulih, ia akan mengejar Cherry kembali, bahkan jika ia harus merangkak di atas pecahan kaca untuk mendapatkan maaf dari satu-satunya wanita yang memegang kunci kewarasannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!