Matahari terbit di Kerajaan Oakhaven selalu membawa warna yang sama: jepretan warna emas yang menyapa dinding-dinding marmer putih Istana Veridia. Namun bagi Putri Aurelia, keindahan itu tak lebih dari sekadar lukisan mati yang berulang setiap hari. Dari jendela kamarnya yang tinggi—sebuah menara kaca yang dirancang agar ia bisa mengawasi rakyatnya tanpa pernah menyentuh tanah tempat mereka berpijak—Aurelia hanya bisa menghela napas.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kedua puluh satu. Di kerajaan ini, itu berarti satu hal: ia bukan lagi sekadar seorang putri, melainkan sebuah komoditas politik yang siap dilelang kepada penawar tertinggi.
"Anda harus tersenyum, Yang Mulia," bisik Elena, pelayan setianya, sambil dengan hati-hati menyisir rambut pirang keperakan Aurelia.
"Raja-raja dari wilayah Utara sudah tiba di gerbang bawah. Mereka bilang Pangeran Cassian dari Valenica mengenakan jubah beludru hitam yang ditenun dengan benang perak. Ketampanannya menjadi buah bibir di paviliun."
Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai emas. Gaun sutra birunya sangat indah, dihiasi sulaman mutiara yang berkilau setiap kali ia bergerak. Namun, ia merasa seperti seekor burung merak yang dikurung di dalam sangkar emas.
"Ketampanan tidak bisa menyembunyikan bau darah, Elena," sahut Aurelia dingin. "Valenica adalah kerajaan yang dibangun di atas tulang-belulang musuh-musuh mereka. Pangeran Cassian mungkin terlihat seperti dewa di dalam dongeng, tetapi desas-desus mengatakan dia adalah monster di medan perang."
"Tetapi pernikahan ini akan menghentikan perang yang telah berlangsung selama tiga dekade, Putri," Elena mengingatkan dengan nada lembut, penuh kehati-hatian.
Aurelia terdiam. Ia tahu itu. Ayahnya, Raja Alistair, sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Garis pertahanan Oakhaven di perbatasan utara mulai runtuh. Pernikahan politik ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ribuan nyawa rakyat Oakhaven. Namun, harga yang harus dibayar adalah kebebasan Aurelia sendiri.
Ketika lonceng istana berdentang tujuh kali, menandakan jamuan makan malam seremonial akan segera dimulai, pintu kamar Aurelia terbuka.
Ayahandanya masuk dengan langkah yang berat dan bertumpu pada tongkat berkepala singa. Wajah sang Raja tampak pucat, tetapi matanya memancarkan ketegasan seorang penguasa yang tak menerima bantahan.
"Aurelia, putriku," suara Raja Alistair parau namun berwibawa. "Hari ini adalah penentu masa depan kerajaan kita. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Kau mengutukku dalam hati karena menyerahkanmu pada serigala dari Utara."
Aurelia bangkit dari duduknya, membungkuk memberi hormat dengan anggun. "Saya tidak pernah mengutuk Ayahanda. Saya hanya... takut."
Raja Alistair berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang gemetar di bahu Aurelia. "Ketakutan adalah hal yang wajar bagi mereka yang memiliki sesuatu untuk dilindungi. Cassian bukan pria yang mudah, tetapi dia memegang kunci perdamaian. Pakailah mahkotamu dengan tegak, Aurelia. Tunjukkan pada mereka bahwa putri Oakhaven tidak tunduk pada intimidasi."
Dengan kata-kata itu, sang Raja menuntun putrinya keluar dari menara kaca, menuruni tangga melingkar yang tampaknya tak berujung, menuju Aula Agung di mana takdirnya telah menunggu.
*•*
*•*
*•*
*•*
Aula Agung dipenuhi oleh ratusan bangsawan. Lilin-lilin kristal menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya hangat yang memantul pada piala-piala perak dan anggur merah. Musik petikan harpa dan selo memenuhi udara, menciptakan ilusi kedamaian yang semu.
Namun, begitu langkah kaki Aurelia memasuki ruangan, kebisingan itu perlahan mereda. Semua mata tertuju padanya. Di ujung aula, berdiri delegasi dari Valenica. Di tengah-tengah mereka, berdirilah sang Pangeran.
Pangeran Cassian lebih tinggi dari kebanyakan pria di ruangan itu. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat khas orang-orang Utara. Matanya yang sewarna abu-abu badai menatap langsung ke arah Aurelia dengan tatapan yang tajam, seolah-olah ia sedang membedah isi kepala sang Putri. Ada luka parut tipis yang melewati alis kanannya, menambah kesan berbahaya pada wajahnya yang simetris dan tegas.
Ketika Aurelia tiba di depan takhta, Cassian melangkah maju. Alih-alih membungkuk rendah seperti bangsawan Oakhaven yang penuh tata krama, Cassian hanya menundukkan kepalanya sedikit, tanda penghormatan yang minimalis namun penuh penekanan ego.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Putri Aurelia," suara Cassian berat dan dalam, mengirimkan getaran aneh yang tak kasat mata ke sepanjang punggung Aurelia. "Kecantikan Anda ternyata bukan sekadar bualan para penyair di pasar."
Aurelia membalas tatapan itu, menolak untuk memalingkan wajahnya ke bawah. "Dan kekejaman Valenica ternyata bukan sekadar cerita pengantar tidur untuk menakuti anak-anak, Pangeran Cassian."
Bisikan kaget langsung terdengar di antara para menteri istana. Raja Alistair terbatuk kecil, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak pekat.
Namun, di luar dugaan, sudut bibir Cassian justru terangkat, membentuk senyuman tipis yang misterius. "Tajam," gumam Cassian rendah, hanya bisa didengar oleh Aurelia. "Saya rasa kehidupan di istana ini tidak akan sebosan yang saya kira."
Malam itu, di bawah tatapan ratusan pasang mata yang penuh intrik, sebuah janji suci namun berbahaya resmi diikat. Aurelia tahu, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai—bukan di medan perang dengan pedang dan perisai, melainkan di dalam dinding istana yang penuh dengan racun dan rahasia, di samping pria yang kini menjadi tunangannya.
*•*
*•*
*•*
*•*
Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam Aula Agung justru semakin mendingin, kontras dengan kehangatan ratusan lilin yang menyala. Musik berganti menjadi ritme waltz yang lambat dan megah—sebuah tanda bahwa lantai dansa telah dibuka untuk pasangan utama malam itu.
Pangeran Cassian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. Gerakannya tenang, namun ada dominasi yang tak terucapkan di sana. Aurelia menatap tangan itu selama satu detik penuh sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Cassian. Kulit pria itu terasa hangat, bahkan menembus kain sarung tangannya.
"Jangan tegang, Putri," bisik Cassian saat ia menuntun Aurelia ke tengah aula. "Rakyat Anda sedang menonton. Jika Anda terlihat seolah-olah sedang digiring ke tiang gantungan, mereka akan mulai panik."
"Saya hanya sedang beradaptasi dengan aroma belerang dan darah yang tampaknya Anda bawa dari Utara, Pangeran," balas Aurelia dengan senyum formal yang dipaksakan, memastikan suaranya cukup rendah agar tidak terdengar oleh para musisi.
Cassian terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang menggetarkan dada bidangnya. Ia menempatkan satu tangannya di pinggang Aurelia, menarik tubuh sang Putri sedikit lebih dekat dari yang lazim dilakukan dalam tata krama Oakhaven. Aurelia tersentak kecil, namun ia berhasil menguasai diri dan meletakkan tangan kirinya di bahu kokoh Cassian.
Saat musik mulai mengalun, mereka mulai bergerak.
Aurelia harus mengakui, di balik reputasinya yang brutal, Cassian adalah seorang pedansa yang luar biasa. Langkah-langkahnya presisi dan mantap, menuntun Aurelia melewati lantai marmer seolah-olah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Namun, mata abu-abu Cassian tidak pernah lepas dari wajah Aurelia, mengunci pandangannya dengan intensitas yang mengintimidasi.
"Anda memiliki lidah yang cukup tajam untuk seorang putri yang menghabiskan hidupnya di menara kaca," ujar Cassian, memutar tubuh Aurelia mengikuti ketukan musik. "Kira-kira, apakah keberanian ini asli, atau hanya topeng untuk menyembunyikan fakta bahwa Anda gemetar di dalam gaun indah ini?"
"Anda boleh menguji saya jika Anda berani, Pangeran," tantang Aurelia, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang seperti badai itu. "Oakhaven mungkin terlihat rapuh di mata kerajaan militer seperti Valenica, tetapi kami tidak sekadar pasrah untuk dihancurkan. Jika saya harus menjadi jembatan perdamaian, maka pastikan Anda tidak mencoba membakarnya, karena saya akan memastikan Anda ikut jatuh bersama saya."
Mendengar itu, kilatan aneh muncul di mata Cassian. Bukannya marah, seringai tipis kembali menghiasi wajahnya yang tegas. "Menarik. Ayah Anda menawarkan pernikahan ini sebagai tanda penyerahan diri, tetapi Anda... Anda berbicara seperti seorang jenderal yang siap berperang."
"Pernikahan ini adalah negosiasi, bukan penyerahan diri," ketus Aurelia.
Sebelum Cassian sempat membalas, musik mencapai puncaknya dan melambat, menandakan dansa mereka telah usai. Cassian melepaskan pinggang Aurelia dengan perlahan, lalu mengambil tangan kanan sang Putri. Kali ini, ia mendekatkan jemari Aurelia ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di punggung tangannya, tanpa melepaskan kontak mata.
"Kita akan sering bertemu sebelum hari pernikahan, Putri Aurelia," bisik Cassian, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Persiapkan diri Anda. Udara di Utara jauh lebih dingin daripada konfrontasi malam ini."
Cassian membungkuk hormat, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju delegasinya, meninggalkan Aurelia yang berdiri mematung di tengah lantai dansa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena adrenalin. Aurelia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di hadapannya kini ada seorang pria yang tidak bisa ia kendalikan, dan di belakangnya ada sebuah kerajaan yang harus ia selamatkan.
*•*
*•*
*•*
*•*
Pagi hari setelah malam pesta dansa yang menegangkan, Istana Veridia tampaknya diselimuti oleh kabut tebal yang enggan beranjak. Aurelia terbangun dengan rasa lelah yang menggelayuti pundaknya. Kehadiran Pangeran Cassian masih membayangi pikirannya, seperti bayangan hitam yang tak kunjung hilang meski matahari telah terbit tinggi. Sentuhan tangan pria itu dan tatapan matanya yang sepekat badai seolah masih tertinggal di kulitnya.
Untuk menenangkan pikirannya yang kalut, Aurelia memutuskan untuk berjalan-jalan di Taman Mawar Putih. Tempat itu adalah satu-satunya sudut di Istana Veridia di mana ia bisa menghirup udara segar tanpa harus dikelilingi oleh para pengawal yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Kelopak mawar yang basah oleh embun pagi memancarkan aroma harum yang menenangkan, namun kedamaian itu tidak bertahan lama.
Saat melintasi koridor luar yang berbatasan langsung dengan paviliun barat, Aurelia mendengar bisikan-bisikan mencurigakan dari balik pilar marmer besar yang ditumbuhi tanaman merambat. Langkah kakinya seketika terhenti. Instingnya memperingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Aurelia menahan napas dan merapatkan tubuhnya ke dinding batu yang dingin, mencoba mendengarkan lebih dekat.
"...pernikahan ini tidak boleh terjadi," sebuah suara berat yang sangat dikenalnya berbisik dengan nada tajam dan penuh penekanan.
Jantung Aurelia berdegup kencang. Itu adalah suara Duke Valerius, pamannya sendiri, yang juga menjabat sebagai kepala penasihat militer Oakhaven.
"Jika aliansi dengan Valenica terbentuk, pengaruh kita di dewan kerajaan akan habis tak bersisa," lanjut Duke Valerius dingin. "Raja Alistair sudah semakin lemah dan sekarat. Kita harus bertindak cepat sebelum gadis itu dikirim ke Utara."
"Tapi apa rencana Anda yang sebenarnya, Yang Mulia?" suara lain menyahut dengan nada cemas. Aurelia mengenalinya sebagai Lord Brandon, bendahara kerajaan yang selama ini dikenal sebagai pengikut setia ayahnya.
"Racun yang lambat akan menyelesaikan tugasnya pada sang Raja dalam beberapa minggu ke depan. Dan untuk sang Putri... sebuah 'kecelakaan' tragis di perjalanan menuju Utara akan mengakhiri semuanya. Kita akan membuat Valenica mengira bahwa Oakhaven-lah yang mengkhianati perjanjian ini. Perang akan kembali berkobar, dan dalam kekacauan itu, kita akan mengambil alih takhta yang kosong," jawab Duke Valerius tanpa setitik pun keraguan atau penyesalan.
Darah Aurelia mendadak terasa membeku di dalam pembuluh darahnya. Pengkhianatan. Pamannya sendiri, orang yang sering tersenyum hangat padanya saat makan malam, merencanakan pembunuhan ayahnya dan dirinya demi sebuah takhta yang retak. Tangannya gemetar hebat, dan ia hampir saja menjatuhkan kipas sutra yang dipegangnya ke lantai batu.
Menyadari bahaya yang mengancam jiwanya, Aurelia melangkah mundur dengan sangat hati-hati, berniat untuk segera melarikan diri dan melaporkan hal ini kepada ayahnya. Namun, saat ia berbalik, tubuhnya langsung menabrak dada bidang seseorang.
Aurelia hampir memekik histeris karena terkejut, tetapi sebuah tangan kokoh yang terbungkus sarung tangan kulit hitam dengan cepat mendekap mulutnya. Di saat yang sama, lengan kuat lainnya melingkari pinggangnya, menarik tubuh mungilnya masuk ke dalam ceruk gelap di balik semak-semak mawar yang rimbun dan lebat.
Aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju langsung menyerbu indra penciuman Aurelia. Kehangatan tubuh yang mendekapnya begitu familier hingga ia tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa orang itu. Pangeran Cassian.
"Ssst," bisik Cassian tepat di telinga Aurelia. Napas hangatnya menggelitik leher sang Putri, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Jika Anda bersuara sekarang, paman tercinta Anda akan tahu bahwa rahasianya telah bocor, dan hidup Anda tidak akan bertahan sampai matahari terbenam."
Aurelia mendongak, matanya membelalak menatap wajah Cassian yang berada sangat dekat darinya. Mata abu-abu pria itu tampak waspada, mengawasi celah di antara daun-daun mawar. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki Duke Valerius dan Lord Brandon yang menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di taman itu.
Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Cassian perlahan melepaskan tangannya dari mulut Aurelia. Namun, ia tidak mundur. Ia tetap berdiri begitu dekat, mengurung Aurelia di antara tubuhnya dan dinding batu yang dingin.
"Bagaimana... bagaimana Anda bisa ada di sini?" tanya Aurelia dengan suara gemetar, berusaha menutupi kepanikan dan rasa takut yang mendera dadanya.
"Saya suka berjalan-jalan pagi, Putri. Dan tampaknya, taman istana Anda menyimpan jauh lebih banyak duri beracun daripada mawar yang indah," jawab Cassian dengan senyuman miring yang dingin namun penuh teka-teki. "Jadi, apa rencana Anda sekarang? Berlari ke hadapan ayah Anda yang sekarat dan menangis memberi tahu bahwa adiknya adalah seorang pengkhianat?"
Aurelia mengepalkan tangannya di dada Cassian, mencoba mendorong pria itu agar memberi jarak, namun dada bidang itu terasa sekeras dinding batu. "Saya harus menyelamatkan ayah saya! Duke Valerius meracuninya!"
"Dan Anda pikir dewan istana yang korup itu akan mempercayai Anda tanpa bukti fisik?" potong Cassian tajam, meraih pergelangan tangan Aurelia yang mengepal dan mencengkeramnya dengan lembut namun tegas. "Ayah Anda terlalu lemah untuk bertindak. Begitu Anda menuduh Valerius, dia akan memutarbalikkan fakta dan menuduh Anda berhalusinasi atau sengaja ingin menggagalkan aliansi karena takut menikah dengan saya. Anda akan dikurung di menara itu selamanya, atau disingkirkan dengan cara yang lebih sunyi."
Aurelia menatap Cassian dengan frustrasi yang mendalam. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. Pria di hadapannya ini benar. Istana Oakhaven telah digerogoti dari dalam, dan ia tidak memiliki sekutu yang cukup kuat untuk melawan pamannya sendiri.
"Lalu apa yang Anda usulkan, Pangeran?" tanya Aurelia dengan suara bergetar namun memancarkan tekad yang keras. "Apakah Anda hanya akan menonton saya dan kerajaan saya hancur?"
Cassian menatap wajah Aurelia yang menantangnya, memperhatikan binar kemarahan di mata sang Putri. Tatapannya melembut sesaat sebelum kembali mengeras seperti es Utara.
"Saya tidak datang jauh-jauh ke Selatan untuk membiarkan calon pengantin saya dihancurkan oleh tikus-tikus istana," ujar Cassian dingin. "Kita percepat pernikahan ini. Kita pergi ke Valenica minggu ini juga. Di sana, Anda akan aman di bawah perlindungan pedang saya, dan dari sana, kita akan menyusun rencana untuk menghancurkan paman Anda bersama-sama."
Sebuah tawaran kerja sama dari sang "monster". Aurelia tahu bahwa menyerahkan diri ke dalam pelukan Valenica adalah hal yang sangat berbahaya, tetapi di tengah badai pengkhianatan yang mengintai di Oakhaven, Cassian adalah satu-satunya jangkar yang ia miliki untuk bertahan hidup.
*•*
*•*
*•*
*•*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!