Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku Kabur dengan Selingkuhannya, Simpananku Ternyata Sang Pewaris

Episode 1

Bab 1: Amplop Terakhir

"Rafael pulang malam ini, Ci. Dia tidak sendiri. Lianna ikut. Dia hamil."

Kalimat itu datang lewat telepon saat matahari Tangerang Selatan sedang turun pelan di balik deretan atap Villa 9. Cahaya jingga menempel di kaca tinggi ruang tengah, memantulkan wajah Citra Wijaya yang diam terlalu lama.

Di seberang sana, suara perempuan itu masih bicara, hati-hati seperti takut pecahan kabar itu melukai telinganya. "Aku cuma dengar dari orang bandara. Mereka naik penerbangan dari Sydney. Keluarga Gan sudah tahu."

Citra menurunkan pandangan ke lantai marmer. Kakinya telanjang. Dingin lantai merambat sampai betis, tapi ia tidak bergerak.

"Ci?"

"Terima kasih sudah kasih tahu," jawab Citra.

"Kamu baik-baik saja?"

Citra melihat pantulan dirinya di kaca. Rambutnya masih tergulung asal, blus kerjanya belum diganti, lipstik yang ia pakai sejak pagi tinggal garis tipis di bibir. Di belakang pantulan itu, rumah yang selama tiga tahun ia tempati bersama seorang laki-laki terasa mendadak terlalu rapi, terlalu sunyi.

"Aku baik," katanya.

Ia memutus panggilan sebelum kebohongan itu berubah bunyi.

Layar ponsel belum sempat gelap ketika tiga notifikasi masuk. Satu dari bank, pengingat cicilan dua hari lagi. Satu dari kantor pengacara yang menangani kasus Mama Ruyanti, meminta pelunasan biaya pendampingan. Satu lagi dari BPJS, konfirmasi jadwal kontrol Mama di rutan minggu depan.

Citra menatap semua itu tanpa berkedip.

Rafael pulang.

Lianna hamil.

Mama masih menunggu kabar baik dari balik dinding penjara.

Dan di lantai atas, seorang laki-laki yang selama tiga tahun ia sebut Si Ganteng mungkin masih mandi, tidak tahu bahwa hidupnya baru saja diputuskan dalam tiga menit.

Citra mengunci ponsel. Tangannya tidak gemetar. Itu yang paling menakutkan. Kadang tubuh lebih cepat mengerti daripada hati.

Ia berjalan menuju kamar.

Villa 9, Taman Hijau, selalu terlihat seperti rumah dalam majalah interior. Sofa krem, meja kaca, lampu gantung berwarna hangat, dapur bersih yang lebih sering dipakai memanaskan kopi daripada memasak. Semua barang punya tempat. Semua sudut punya jarak. Bahkan hubungan Citra dan Rey pun seperti itu, tertata, diam, dan tidak pernah benar-benar diberi nama.

Kontrak hubungan.

Begitu Citra menyebutnya sejak awal.

Tiga tahun lalu, setelah malam yang kacau di Black Horse Club, ia membawa pulang seorang laki-laki tampan yang terlalu tenang untuk dunia bising seperti itu. Ia menawarkan uang, tempat tinggal, batas-batas yang jelas, dan kebebasan untuk pergi kapan saja.

Rey tidak banyak bertanya waktu itu. Ia hanya menatapnya dengan mata gelap yang sulit dibaca, lalu berkata, "Kalau itu membuatmu tenang, aku ikut."

Sejak hari itu, ia tinggal.

Tidak pernah minta lebih.

Tidak pernah membawa perempuan lain.

Tidak pernah bertanya kenapa Citra masih terikat pada nama Rafael Gan, pada sebuah nikah siri yang dulu ia kira cukup untuk membuatnya punya rumah, punya masa depan, punya seseorang yang pulang.

Lucu, pikir Citra sambil membuka lemari. Laki-laki yang tidak pernah ia nikahi justru lebih mirip rumah daripada laki-laki yang dulu ia sebut suami.

Di bagian paling dalam lemari, di bawah tumpukan kotak sepatu, ada sebuah amplop cokelat tebal. Citra mengambilnya. Permukaan kertasnya sedikit kasar di ujung jari.

Ia sudah menyiapkan amplop itu sejak dua bulan lalu.

Bukan karena ia tahu Rafael akan pulang bersama Lianna. Bukan. Citra hanya selalu percaya bahwa hubungan tanpa nama harus punya pintu keluar yang jelas. Kalau suatu hari semuanya selesai, tidak boleh ada yang terlihat seperti dibuang.

Di dalam amplop itu ada uang dalam jumlah yang cukup untuk membuat orang biasa terdiam, tetapi terlalu kecil untuk membeli tiga tahun keheningan Rey. Ada juga selembar kertas yang ia tulis sendiri.

Terima kasih untuk tiga tahun. Jaga dirimu.

Citra membaca kalimat itu sekali lagi. Terlalu sopan. Terlalu bersih. Seperti nota belanja, bukan perpisahan.

Ia hampir menambahkan sesuatu. Maaf. Jangan membenciku. Aku tidak tahu harus jadi apa setelah ini.

Ujung pulpennya berhenti di atas kertas.

Tidak.

Kalimat seperti itu hanya akan membuatnya terlihat sedang meminta dipahami. Hari ini ia tidak punya tenaga untuk meminta apa pun.

Dari kamar mandi terdengar suara air berhenti.

Citra melipat kertas itu kembali, memasukkannya ke amplop, lalu turun ke ruang tengah.

Langkahnya pelan. Bukan karena ragu. Ia hanya sedang mengingat bagaimana rumah ini bernapas. Aroma sabun Rey yang samar dari lantai atas. Bekas cangkir kopi hitam di meja kecil dekat jendela. Selimut abu-abu yang selalu Rey lipat terlalu rapi setelah mereka tertidur di sofa menonton film setengah jalan.

Hal-hal kecil seperti itu tidak pernah masuk kontrak.

Mungkin karena itu yang paling mahal.

Citra meletakkan amplop cokelat di atas meja kaca.

Suara kertas menyentuh kaca terdengar terlalu keras.

Ketika ia mengangkat wajah, Rey sudah berdiri di ujung tangga.

Rambutnya masih basah. Beberapa tetes air jatuh dari ujung rambut ke leher, lalu hilang di balik kaus hitam polos yang menempel pada bahunya. Ia tidak memakai jam tangan. Tidak memakai apa pun yang membuatnya terlihat seperti laki-laki mahal. Hanya kaus, celana panjang santai, dan wajah yang terlalu tampan untuk disebut kebetulan.

Tiga tahun, dan Citra tetap belum bisa menebak dari mana laki-laki ini datang.

Rey melihat amplop itu.

Lalu melihat Citra.

"Apa itu?" tanyanya.

Suaranya rendah. Biasa saja. Seperti menanyakan kenapa lampu dapur belum dimatikan.

Citra menyilangkan tangan di depan tubuh. "Uang pesangon."

Rey tidak turun. "Untuk siapa?"

"Untuk kamu."

Tangga itu hanya berjarak beberapa meter, tetapi ruang di antara mereka tiba-tiba terasa seperti lorong panjang.

Rey akhirnya turun satu anak tangga. "Aku dipecat?"

Kata itu seharusnya terdengar lucu. Dulu, mungkin Citra akan tertawa. Ia akan bilang, jangan drama, Si Ganteng. Lalu Rey akan mengangkat alis sedikit, satu-satunya tanda bahwa ia mengerti candaan.

Hari ini, bibir Citra tidak bergerak.

"Kontrak kita selesai," ucapnya.

Rey berhenti di anak tangga terakhir.

Tidak ada kilat marah di wajahnya. Tidak ada pertanyaan terburu-buru. Ia hanya menatap Citra, begitu diam sampai suara pendingin ruangan terdengar jelas.

"Kenapa hari ini?"

Citra menarik napas. Pelan. "Karena Rafael pulang."

Nama itu jatuh di antara mereka seperti gelas pecah.

Untuk pertama kalinya, tatapan Rey berubah. Sangat sedikit, hampir tidak terlihat. Tetapi Citra yang hidup dengannya selama tiga tahun tahu kapan udara di sekitar laki-laki itu mengeras.

"Sendiri?" tanya Rey.

Citra menatap amplop di meja. "Dengan Lianna."

Rey tidak menjawab.

"Dia hamil."

Sunyi kembali turun.

Di luar, suara azan Magrib dari masjid kompleks sebelah terdengar jauh, tipis, menembus kaca yang tertutup rapat. Kota bergerak seperti biasa. Motor lewat. Seekor anjing di rumah tetangga menggonggong sekali. Hidup orang lain tetap berjalan, seolah berita tentang perempuan hamil yang dibawa pulang oleh laki-laki orang tidak punya kuasa merusak langit.

Citra justru merasa dadanya kosong.

"Rafa harus menghadapi keluarganya," katanya. "Aku juga harus menghadapi hidupku sendiri."

"Dengan mengusirku?"

"Aku tidak mengusir." Citra memaksa suaranya tetap rata. "Aku menyelesaikan sesuatu yang sejak awal memang sementara."

Rey turun sepenuhnya. Ia berdiri di sisi meja, tetapi tidak menyentuh amplop itu.

"Tiga tahun sementara?"

Pertanyaan itu pelan, tetapi membuat tenggorokan Citra mengering.

Ia ingin berkata, jangan buat ini sulit. Ia ingin berkata, kau tahu sendiri hubungan ini tidak punya masa depan. Ia ingin berkata, aku tidak bisa membayar biaya pengacara Mama sambil mempertahankan laki-laki yang dunia tidak boleh tahu ada di rumahku.

Tetapi semua kalimat itu terdengar seperti pembelaan.

Jadi ia hanya berkata, "Aku tidak bisa mempertahankan semuanya."

Mata Rey turun ke ponsel di tangan Citra. Mungkin ia melihat sisa notifikasi di layar yang belum benar-benar mati. Mungkin ia tidak melihat apa pun. Rey memang selalu bisa tahu hal-hal yang tidak Citra ucapkan.

"Berapa biaya pengacara Mama Ruyanti bulan ini?" tanyanya.

Citra langsung menegang. "Itu bukan urusanmu."

"Cicilan rumah?"

"Rey."

"BPJS?"

"Aku bilang, itu bukan urusanmu."

Kali ini suaranya sedikit naik. Tidak keras, tetapi cukup untuk memecahkan lapisan tenang yang ia susun sejak telepon tadi.

Rey menatapnya lama. "Selama tiga tahun, kamu selalu bilang begitu."

"Karena memang begitu."

"Tapi kamu tetap pulang ke rumah ini setiap kali terlalu lelah berdiri sendiri."

Citra menggigit bagian dalam pipinya.

Kalimat itu tidak kejam. Justru karena tidak kejam, ia terasa lebih berbahaya.

Ia memalingkan wajah ke jendela. Di kaca, ia melihat bayangan mereka berdiri berhadapan. Ia dengan blus kusut dan ponsel yang penuh tagihan. Rey dengan rambut basah dan mata yang tidak pernah meminta apa pun, kecuali izin untuk tetap tinggal.

Seandainya hari ini ia sedikit lebih lemah, mungkin ia akan menangis.

Tapi Citra sudah terlalu sering melihat perempuan menangis di depan laki-laki yang tidak memilihnya. Mama Ruyanti menangis diam-diam setelah vonis. Jessica menangis keras setiap kali ingin dipercaya. Lianna, entah menangis seperti apa ketika berdiri di samping Rafael dengan perut yang mulai berisi.

Citra tidak mau memberi Rafael air matanya.

Tidak juga memberi Rey alasan untuk kasihan.

"Besok aku akan keluar dari sini," katanya. "Beberapa barangku bisa kuambil nanti. Villa ini atas namamu, jadi tidak ada yang perlu dibagi."

"Kamu mau ke mana?"

"Puri Bojong Gede dulu."

"Rumah itu terlalu jauh dari kantor."

"Aku bisa naik KRL."

"Kamu pulang malam setiap hari."

"Aku sudah biasa."

"Tidak."

Citra menoleh. "Tidak?"

Rey mengulangi dengan suara yang sama datarnya. "Tidak."

Untuk sesaat, Citra hampir tertawa. "Kamu lupa posisi kita?"

"Aku ingat."

"Aku yang memulai kontrak ini."

"Aku tahu."

"Aku juga yang mengakhirinya."

"Kamu boleh mengakhiri apa pun yang kamu tulis di kertas." Tatapan Rey turun ke amplop. "Tapi tidak semua yang terjadi di rumah ini pernah kamu tulis di kontrak."

Jantung Citra berdetak sekali, terlalu kuat.

Ia tidak suka kalimat itu. Terlalu dekat. Terlalu tahu. Terlalu seperti tangan yang menyentuh luka tanpa izin.

"Jangan membuat ini terdengar romantis," kata Citra. "Ini bukan cerita cinta."

Rey menatapnya. "Bukan?"

Citra tidak menjawab.

Di luar, langit makin gelap. Lampu taman menyala otomatis, membuat bayangan pohon palem jatuh panjang di lantai teras. Citra tiba-tiba sadar ia belum makan sejak siang. Perutnya kosong, tetapi bukan itu yang membuatnya mual.

Ia mengambil tas dari sofa.

"Aku pergi sekarang."

Rey tidak bergerak.

Citra melewati meja. Jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa mencium aroma sabun dan mint dari tubuh Rey. Aroma yang selama ini menempel di bantal sebelahnya, di handuk bersih, di udara pagi ketika ia bangun dan menemukan kopi sudah dibuat.

Ia tidak menoleh.

Kalau menoleh, ia takut melihat sesuatu yang membuatnya tinggal.

Di ambang pintu, langkah Citra tertahan oleh kilatan kecil di sisi wajah Rey.

Anting safir itu.

Sebuah batu biru kecil di telinga kirinya menangkap cahaya lampu ruang tengah. Warnanya tidak mencolok, tetapi hidup, seperti pecahan laut yang disimpan diam-diam. Selama tiga tahun, Rey selalu memakainya. Saat tidur. Saat mandi pun kadang tetap ada. Saat mereka bertengkar kecil karena Citra pulang terlalu malam. Saat Citra demam dan Rey duduk semalaman mengganti kompres.

Citra tidak pernah bertanya dari mana anting itu berasal.

Mungkin karena ia takut jawabannya membuka pintu yang tidak sanggup ia masuki.

"Kamu tidak pernah melepas itu," ucapnya tanpa sadar.

Rey mengikuti arah pandangnya. Jari telunjuknya hampir menyentuh anting itu, tetapi berhenti sebelum sampai.

"Tidak bisa," katanya.

"Kenapa?"

Rey menatap Citra. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang lewat terlalu cepat untuk diberi nama.

"Karena seseorang pernah memberiku alasan untuk hidup."

Kalimat itu membuat udara di dada Citra berhenti setengah detik.

Ia ingin bertanya. Siapa? Kapan? Kenapa selama ini tidak pernah kau ceritakan?

Tetapi ponselnya bergetar lagi.

Nama Rafael muncul di layar.

Rafa.

Begitu singkat. Begitu akrab. Begitu terlambat.

Citra menatap nama itu sampai getarannya berhenti sendiri. Setelah panggilan itu mati, muncul satu pesan.

Ci, aku sudah mendarat. Kita perlu bicara.

Citra mematikan layar.

"Pergilah kalau kamu harus pergi," kata Rey.

Kalimat itu membuat Citra mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak turun dari lantai atas, Rey terlihat seperti seseorang yang menahan sesuatu dengan seluruh tubuhnya. Bahunya diam, rahangnya tenang, tetapi matanya tidak.

Citra mengangguk pelan. "Terima kasih untuk tiga tahun, Rey."

Ia membuka pintu.

Udara malam masuk, membawa bau rumput basah dan asap tipis dari jalan kompleks. Citra melangkah satu kaki keluar.

"Ci."

Suara Rey menghentikannya.

Citra tidak berbalik sepenuhnya. "Apa?"

Rey akhirnya menyentuh amplop cokelat di meja. Ia mengambilnya, tetapi bukan untuk membuka. Ia berjalan melewati Citra, masuk ke kamar utama, lalu muncul lagi beberapa detik kemudian tanpa amplop itu di tangan.

Seolah benda itu tidak pernah ada.

Seolah perpisahan bisa dikembalikan ke laci.

Rey berdiri di depan pintu kamar, rambutnya masih setengah basah, anting safirnya berkilat pelan dalam cahaya.

"Amplop-nya buat kamu saja," katanya. "Aku tidak akan pergi."

Citra berdiri di ambang pintu, dengan satu kaki di luar dan satu kaki masih di dalam rumah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Episode 2

Bab 2: Pulang

Pagi setelah Rey berkata ia tidak akan pergi, Citra justru tidak kembali ke Villa 9.

Ia pulang ke Puri Bojong Gede sebelum matahari naik tinggi, membawa satu tas kerja, dua potong pakaian, dan kepala yang terlalu penuh untuk diajak berdebat. Rumah lama Mama Ruyanti berdiri di ujung cluster, cat pagarnya mulai pudar, pot melati di teras sudah kering separuh karena tidak ada lagi tangan yang rajin menyiramnya setiap sore.

Begitu pintu dibuka, bau rumah lama menyambutnya. Bukan bau mewah seperti Villa 9, melainkan campuran minyak goreng, kayu lemari tua, dan sabun lantai yang selalu Mama beli di minimarket dekat warung.

Sepasang sandal jepit Mama masih ada di dekat rak sepatu.

Citra berhenti di ambang pintu.

Untuk sesaat, ia hampir memanggil, "Ma, aku pulang."

Tapi dapur sepi. Tidak ada suara spatula menyentuh wajan, tidak ada radio kecil memutar lagu lama, tidak ada Mama Ruyanti yang menoleh dari kompor sambil berkata, "Cuci tangan dulu, Ci."

Citra menutup pintu pelan.

Di pintu kulkas masih tertempel menu lama Warung Tentrem. Nasi campur, bakmi ayam jamur, cap cay kuah, kue lapis buatan hari Jumat. Di bawahnya ada catatan tulisan tangan Mama, sedikit miring, ditempel dengan magnet bentuk ayam: jangan lupa bayar gas.

Hal kecil seperti itu membuat dada Citra terasa lebih sakit daripada kabar Rafael semalam.

Di atas meja makan, ada toples kerupuk yang tutupnya tidak rapat. Citra membukanya, menemukan isinya sudah melempem. Dulu Mama selalu marah kalau kerupuk dibiarkan kena angin. Katanya, rumah boleh sederhana, tapi jangan sampai tamu makan kerupuk lembek.

Citra menutup toples itu rapat-rapat, seolah memperbaiki satu hal kecil bisa membuat rumah ini kembali bernapas.

Ponselnya berbunyi berkali-kali.

Ia membuka layar. Grup WhatsApp "Ibu-ibu Puri Bojong Gede" sedang ramai.

Bu Ninik: Ada yang lihat story bandara? Itu Rafael Gan ya?

Bu Tati: Iya, yang dulu sama Mbak Citra itu kan?

Bu Rina: Kasihan ya Mbak Citra, suaminya pergi sama perempuan lain.

Bu Ninik: Perempuannya hamil katanya. Ya ampun.

Citra menatap kalimat itu cukup lama sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Kasihan.

Kata itu terdengar lembut, tapi selalu punya ujung tajam. Orang-orang mengucapkannya seolah sedang mengusap kepala, padahal yang mereka lakukan adalah membuka luka di depan meja arisan.

Ia mematikan notifikasi grup.

Telepon lain masuk dari nomor tak dikenal. Citra tidak mengangkat. Ia sudah tahu dunia sedang lebih cepat daripada dirinya. Seseorang di bandara pasti memotret Rafael. Seseorang lain mengunggahnya. Lalu Jakarta melakukan pekerjaannya: membicarakan kehidupan orang lain sebelum orang itu sendiri sempat bernapas.

Ia duduk di sofa lama ruang tengah. Busanya sudah kempis di bagian tengah, bekas Mama sering duduk sambil menghitung uang warung. Citra membuka kalkulator di ponsel.

Biaya pengacara Mama masih kurang Rp 45 juta.

Gaji Citra TV bulan ini belum masuk.

Cicilan rumah tinggal delapan kali, tapi tetap terasa seperti delapan dinding.

BPJS menunggu jadwal kontrol Mama minggu depan.

Kartu hitam dari pendapatan MISSY masih terkunci di brankas Villa 9. Citra bisa saja mengambilnya. Secara praktis, tidak sulit. Tinggal kembali, membuka brankas, mengambil kartu, lalu pergi lagi.

Tapi semalam ia sudah meletakkan amplop di meja.

Ia sudah berkata selesai.

Dan Rey, dengan wajah basah dan mata yang terlalu tenang, berkata ia tidak akan pergi.

Citra menutup kalkulator. Angka-angka itu tidak hilang dari kepala. Mereka hanya pindah tempat, dari layar ke dada.

Ia berjalan ke kamar Mama. Seprai masih rapi karena tidak ada yang tidur di sana sejak Ruyanti dipindahkan ke Lapas Perempuan Tangerang. Di meja rias, ada sisir bergagang kayu, bedak tabur murah, dan foto Citra waktu wisuda UI. Dalam foto itu, Mama Ruyanti memeluknya dari samping, senyumnya lebar sekali sampai matanya menyipit.

"Nanti kamu jangan cuma jadi orang pintar, Ci," kata Mama waktu itu. "Jadi orang yang hatinya tetap pulang."

Citra mengambil foto itu, mengusap debu tipis di bingkainya, lalu meletakkannya kembali.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini dari Nolan.

Citra menekan tombol voice note. Ia tidak berniat bicara banyak, tapi begitu suara rekam menyala, kalimat-kalimat keluar terlalu cepat.

"Nol, Rafael sudah pulang. Sama Lianna. Dia hamil. Orang perumahan sudah bahas di grup. Aku sekarang di rumah Mama. Aku belum tahu harus apa dulu. Pengacara Mama belum lunas, gaji belum masuk, dan aku... aku capek."

Ia berhenti. Napasnya terdengar di rekaman.

"Tapi aku baik. Jangan khawatir."

Ia mengirim voice note itu.

Balasan Nolan datang kurang dari sepuluh detik kemudian.

Nol: Bohong. Orang baik-baik saja tidak kirim voice note dengan napas kayak dikejar debt collector.

Lalu satu pesan lagi.

Nol: Ke Bar Janji yuk, malam ini. Aku traktir. Kopi susu, kentang goreng, dan hak untuk maki-maki orang yang pantas dimaki.

Citra tertawa kecil. Suaranya terdengar asing di rumah kosong itu.

Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta, Rafael Gan keluar dari pintu kedatangan internasional dengan kemeja biru muda dan wajah yang tampak lebih tirus dari ingatan Citra.

Di sampingnya, Lianna Halim menggenggam lengan Rafael.

Perutnya memang belum besar, tapi cukup jelas untuk membuat orang yang melihat menoleh dua kali. Ia mengenakan gaun longgar warna putih tulang, rambutnya jatuh rapi di bahu, wajahnya pucat manis seperti perempuan yang perlu dilindungi dari segala hal.

"Rafa, pelan sedikit," katanya lembut.

Rafael langsung memperlambat langkah. "Kamu capek?"

Lianna menggeleng, lalu tersenyum kecil. "Tidak. Cuma ramai."

Di sisi lain area kedatangan, seorang perempuan muda mengangkat ponsel. Ia mengenali Rafael dari artikel bisnis tentang Keluarga Gan. Rekaman pendek itu langsung naik ke IG story.

Rafael Gan pulang bawa cewek cantik. Ini siapa? Bukannya istrinya Citra?

Dalam dua jam, story itu berpindah dari satu akun ke akun lain.

Menjelang sore, Citra melihat potongan video itu dari kiriman Nolan.

Nol: Jangan buka kalau belum makan.

Citra tetap membukanya.

Rafael terlihat menunduk membantu Lianna membetulkan selendangnya. Gerakan itu sederhana, tapi intim. Jenis perhatian yang dulu pernah Citra tunggu dari Rafael di banyak malam dan tidak pernah datang.

Ia menutup video sebelum selesai.

Sakitnya tidak datang seperti ledakan. Lebih mirip air dingin yang dituang perlahan ke dalam tubuh.

Ia berdiri, mengambil tas, lalu mematikan lampu ruang tengah.

Bar Janji menunggu.

Tepat saat Citra mengunci pintu, ponselnya berdering.

Nama di layar membuat jari Citra berhenti di atas gagang pintu.

Tante Fenny.

Citra mengangkat.

Suara Fenny Gan terdengar sangat sopan, terlalu hati-hati untuk sekadar menanyakan kabar.

"Ci, besok malam ada makan malam keluarga di rumah. Kamu datang ya."

Citra menatap jalan cluster yang mulai gelap.

Ia tahu.

Makan malam itu bukan undangan.

Itu panggilan untuk menyaksikan tempatnya diberikan kepada perempuan lain.

Episode 3

Bab 3: Makan Malam Keluarga Gan

Gan rumah itu masih sama seperti yang Citra ingat.

Pagar hitam tinggi, halaman kecil dengan pohon palem botol, lampu teras kuning hangat, dan bau masakan Fenny Gan yang selalu terlalu banyak untuk jumlah orang di meja. Dulu, Citra pernah datang ke rumah ini dengan perasaan gugup yang manis, membawa kue lapis dari Warung Tentrem karena Mama Ruyanti bilang, "Kalau datang ke rumah calon mertua, jangan tangan kosong."

Malam ini ia datang dengan tangan kosong.

Tidak ada lagi yang perlu ia buktikan.

Fenny membuka pintu sendiri. Wanita itu memakai blouse sutra warna hijau pucat, wajahnya masih cantik dengan garis lelah di sekitar mata. Begitu melihat Citra, senyumnya muncul, tapi tidak sampai ke mata.

"Ci, masuk."

"Malam, Tante."

Fenny menyentuh lengan Citra sekilas. "Kamu kurus."

Kalimat itu seharusnya terdengar penuh perhatian. Tapi di rumah ini, perhatian selalu punya kepentingan yang menunggu di belakangnya.

Di ruang tamu, beberapa foto keluarga Gan masih terpajang di kabinet kayu. Ada foto Rafael kecil memegang piala lomba piano. Ada foto Fenny dan suaminya di depan proyek perumahan pertama keluarga mereka. Di sudut paling kanan, masih ada satu bingkai yang membuat Citra berhenti setengah detik: foto acara nikah siri mereka.

Citra mengenakan kebaya putih. Rafael tersenyum lebar. Fenny berdiri di samping mereka dengan mata yang waktu itu tampak berkaca-kaca.

Sekarang foto itu seperti bukti dari sebuah sandiwara yang terlalu lama dibiarkan menggantung.

Citra masuk.

Di ruang makan, Rafael sudah duduk. Ia berdiri ketika melihat Citra, tapi tidak langsung melangkah mendekat. Kemeja putihnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, wajahnya tampak seperti seseorang yang beberapa hari terakhir berlatih mengucapkan kalimat sulit di depan cermin.

"Ci," katanya pelan.

Citra mengangguk. "Rafa."

Di samping Rafael, Lianna Halim menoleh.

Ia mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya setengah diikat, telapak tangannya bertumpu di perut yang mulai terlihat. Wajahnya lembut, hampir terlalu lembut. Begitu berdiri, ia menunduk sedikit.

"Ci," katanya. "Terima kasih sudah datang."

Citra menatapnya selama satu detik lebih lama dari sopan.

"Ini rumah Tante Fenny," jawab Citra. "Aku datang karena beliau yang mengundang."

Senyum Lianna tidak berubah. Justru itu yang membuat Citra merasa dingin.

Makan malam dimulai dengan suara sendok menyentuh piring, mangkuk sup berpindah tangan, dan percakapan yang terlalu aman. Fenny bertanya tentang pekerjaan Citra di Citra TV. Rafael menanyakan kondisi Mama Ruyanti dengan suara rendah. Lianna beberapa kali menawarkan bantuan.

"Tante, mau aku ambilkan nasi lagi?"

"Tante, kuahnya enak sekali."

"Tante jangan berdiri, biar aku saja."

Calon menantu sempurna.

Perempuan hamil yang sopan, halus, tahu cara menurunkan suara di depan orang tua, tahu kapan harus menyentuh perut agar semua orang ingat ada calon bayi di ruangan itu.

Citra makan pelan. Ia mencicipi sup, ayam kecap, dan cap cay tanpa benar-benar merasakan apa pun.

Rafael tidak banyak bicara. Sesekali ia melirik Citra, tapi setiap kali mata mereka hampir bertemu, ia lebih dulu menunduk.

Pengecut, pikir Citra. Tapi pikirannya terasa datar, tanpa api.

Dulu, ia mungkin akan terluka oleh sikap itu. Malam ini ia hanya merasa lelah.

Setelah piring-piring diangkat, Fenny menyuruh ART membawa teh hangat ke ruang tengah. Mereka pindah ke sofa. Lianna duduk sedikit menyamping, satu tangan tetap di perut. Rafael duduk di dekatnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk membuat posisi itu jelas.

Fenny meletakkan cangkirnya.

"Ci," ucapnya.

Akhirnya, pikir Citra.

Ia mengangkat wajah.

Fenny menarik napas pelan. "Kita bicara terbuka ya. Tante tidak ingin menyakitimu."

Kalimat pembuka yang selalu dipakai orang ketika mereka sudah siap menyakiti.

Citra menaruh cangkir di meja. "Silakan, Tante."

Fenny menatap Rafael sebentar, lalu Lianna. "Lianna sudah hamil empat bulan."

Lianna menunduk. Pipi perempuan itu memerah tipis, seperti malu. Citra hampir kagum pada ketepatan waktunya.

"Anak ini butuh ayah yang sah," lanjut Fenny. "Rafael ingin bertanggung jawab."

Rafael akhirnya bicara. "Ci, aku tahu ini tidak mudah."

Citra menoleh padanya. "Tidak mudah untuk siapa?"

Rafael terdiam.

Fenny cepat mengambil alih. "Tante tahu kamu dan Rafael punya sejarah. Tante juga tahu dulu kalian pernah... mengadakan acara itu."

Acara itu.

Begitu cara mereka menyebut malam ketika Citra mengenakan kebaya putih sederhana, berdiri di depan seorang ustaz yang dibayar entah berapa, mendengar Rafael menggenggam tangannya sambil berjanji menjaga. Tidak ada catatan negara. Tidak ada akta. Hanya keluarga dekat, beberapa foto, dan keyakinan seorang perempuan muda bahwa cinta bisa menggantikan hukum.

"Tapi keadaan berubah," kata Fenny.

Citra tersenyum tipis. "Keadaan berubah karena Rafael pulang membawa perempuan hamil."

Lianna mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. "Ci, aku tidak pernah bermaksud..."

"Jangan," potong Citra.

Satu kata itu membuat ruangan sunyi.

Fenny yang sejak tadi berusaha menjaga wajah keluarga ikut terdiam. Di meja, teh Lianna masih mengepul. Aroma melati dari cangkir porselen bercampur dengan bau ayam kecap yang tersisa dari ruang makan. Dulu Citra menyukai aroma rumah ini karena terasa seperti keluarga yang hangat. Sekarang, aroma yang sama terasa seperti kain bersih yang dipakai menutup sesuatu yang busuk.

Citra menatap Lianna, lalu Rafael, lalu Fenny. Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu.

"Jangan bilang kamu tidak bermaksud. Kehamilan empat bulan bukan kecelakaan yang baru kamu sadari tadi pagi."

Rafael terlihat seperti ditampar.

Fenny memegang sandaran sofa. "Ci..."

"Tante mau aku memberi jalan?" tanya Citra.

Fenny tidak menjawab, tapi diamnya cukup.

Citra mengambil napas, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di lutut. Ia merasa tubuhnya sangat tenang. Terlalu tenang sampai ia tahu nanti, setelah keluar dari rumah ini, tubuh itu mungkin akan menagih semuanya sekaligus.

Ia teringat Mama Ruyanti yang pernah mengajarinya cara menghadapi orang yang ingin membuatnya terlihat buruk.

"Kalau orang memancingmu berteriak, jangan beri mereka suara," kata Mama sambil menggoreng bakmi di warung. "Beri mereka kalimat yang rapi. Orang yang niatnya jahat paling takut sama perempuan yang tetap rapi saat dilukai."

Malam ini, Citra meminjam seluruh kerapian itu dari ingatan Mama.

"Silakan."

Rafael menatapnya. "Apa?"

Citra tersenyum. "Silakan beri nama untuk anak itu. Silakan menikahi Lianna. Silakan lakukan apa pun yang menurut kalian benar."

Lianna berkedip, seolah jawaban itu tidak ada dalam skenario.

Fenny terlihat lega sekaligus bingung. "Ci, Tante tahu kamu perempuan baik."

"Tante belum selesai mendengar."

Fenny menutup mulut.

Citra menatap Rafael. "Nikah siri kita bukan pernikahan yang sah. Tidak ada akta perkawinan. Tidak ada pencatatan di Disdukcapil. Bahkan kalau mau jujur, acara itu lebih mirip pertunjukan keluarga daripada pernikahan."

Wajah Rafael berubah pucat.

"Jadi tidak perlu cerai," lanjut Citra. "Aku tidak perlu tanda tangan apa pun. Aku tidak perlu memberi izin apa pun. Secara hukum, aku bukan istrimu."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi efeknya seperti kaca pecah.

Fenny tampak benar-benar membeku.

Rafael membuka mulut. "Ci, aku tidak pernah menganggapmu bukan..."

"Rafa." Citra memotongnya, kali ini lebih lembut. "Jangan memperbaiki kalimat yang sudah terlambat."

Lianna menunduk lebih dalam. Dari sudut mata, Citra melihat bibir perempuan itu bergerak sedikit. Bukan menangis. Bukan menahan isak.

Senyum.

Sangat tipis, sangat cepat, tapi ada.

Citra menyimpannya di kepala.

Ia berdiri.

"Terima kasih makan malamnya, Tante. Saya permisi."

Fenny ikut berdiri. "Ci, tunggu dulu. Tante..."

"Tidak apa-apa." Citra mengambil tasnya. "Aku tidak marah pada Tante."

Itu benar. Fenny bukan akar masalah. Ia hanya seorang ibu yang memilih cucu yang belum lahir daripada perempuan yang pernah ia panggil anak.

Citra berjalan menuju pintu.

Rafael menyusul setengah langkah. "Ci."

Citra berhenti tanpa menoleh.

"Aku... maaf."

Ada masa ketika dua kata itu akan menghancurkannya. Malam ini, dua kata itu hanya terdengar seperti struk belanja yang terlambat dibayar.

"Semoga kamu bisa jadi ayah yang baik," kata Citra.

Lalu ia keluar.

Udara malam Pondok Indah terasa lebih lembap dari biasanya. Citra berjalan sampai melewati pagar rumah Gan, lalu belok ke sisi jalan yang lebih gelap. Di sana, tepat setelah tidak ada yang bisa melihatnya dari ruang tamu, lututnya melemah.

Ia berjongkok di tepi trotoar.

Kedua tangannya menekan lutut. Napasnya pendek-pendek. Ia tidak menangis. Air mata mungkin lebih mudah, tapi tubuhnya memilih gemetar.

Di dalam rumah itu, seseorang mungkin sedang merasa menang.

Di luar sini, Citra sedang memastikan dirinya tidak hancur di tempat yang salah.

Ia membuka aplikasi Grab dengan jari yang masih bergetar. Sebelum sempat memilih tujuan, ponselnya mati karena baterai habis.

Citra tertawa pelan. Sial.

Di tasnya masih ada power bank, tapi kabelnya tertinggal di meja makeup Citra TV. Hal kecil yang biasanya bisa ia atasi itu mendadak terasa seperti lelucon buruk. Perempuan yang baru saja mengembalikan seorang laki-laki ke perempuan hamilnya ternyata tidak bisa memanggil kendaraan pulang.

Ia berdiri, hendak berjalan ke minimarket terdekat, ketika matanya menangkap sesuatu di depan rumah lama kosong di seberang jalan.

Sebuah kotak makan stainless kecil diletakkan di atas bangku taman.

Tidak ada nama. Tidak ada kertas.

Tapi ketika Citra membukanya, uap hangat langsung naik. Bakmi ayam jamur. Irisan ayamnya tipis, jamurnya dimasak kecap, minyak bawang putihnya wangi.

Persis seperti buatan Warung Tentrem.

Mama Ruyanti ada di penjara.

Mbak Yu tidak tahu ia ke rumah Gan malam ini.

Citra mengambil sumpit yang terselip di sisi kotak, mencicipi satu suap.

Rasanya benar.

Terlalu benar.

Ada sedikit lada putih di kuahnya, persis kebiasaan Mama. Potongan sawi hijaunya tidak terlalu matang. Mie-nya masih kenyal. Siapa pun yang membuat ini tidak hanya tahu resep Warung Tentrem, tapi juga tahu cara Citra memakannya: tanpa acar, sambal dipisah, bawang goreng jangan terlalu banyak.

Perhatian sedetail itu tidak terasa seperti belas kasihan.

Rasanya seperti seseorang melihatnya sejak lama, bahkan ketika ia terlalu sibuk pura-pura kuat.

Di kepalanya, muncul satu wajah. Rambut basah. Mata gelap. Kalimat rendah di ambang pintu.

Aku tidak akan pergi.

Citra menelan bakmi itu pelan.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah Gan, dadanya terasa tidak sekosong tadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!