Indonesia
NovelToon NovelToon

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Prolog

​Senyum pria itu tidak sekadar melebar—itu adalah seringai predator yang telah menyudutkan mangsanya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Alena menyentak tatapannya. Dingin, menusuk, bertumpu pada sisa-sisa keberanian yang nyaris habis.

​“Tapi dengarkan aku, Monster,” desis Alena. Suaranya serak, tajam bagai belati, bahkan saat air mata masih mengalir deras di pipinya. “Kalau dia mati... aku pastikan kau hanya akan memeluk mayatku. Kau juga akan kehilanganku.”

​Pria itu membeku. Keheningan yang mencekam merayap di antara mereka, sebelum akhirnya tawa pelan—berat, parau, dan terdengar gila—pecah dari bibirnya.

​“Ancaman yang sangat indah, Sayang,” bisiknya, melangkah mendekat hingga bayangannya yang raksasa menelan tubuh Alena di atas ranjang. Ia menatap gadis itu dengan binar kegilaan yang murni, seolah-olah Alena adalah mahakarya yang akhirnya berhasil ia rebut dari dunia.

​Ia membungkuk, menumpu kedua tangannya di sisi kepala Alena. “Tapi kau salah satu hal. Kematianmu pun... adalah hak milikku. Kau tidak bisa mati tanpa izin dariku.”

​Aroma tembakau mahal, kulit, dan aura bahaya yang pekat menguar, mencekik udara di sekitar mereka. Tali di pergelangan tangan Alena dilonggarkan kasar—memberinya ruang untuk bergerak, namun menyisakan jeratan merah yang membakar kulitnya. Sebuah ilusi kebebasan yang kejam.

​“Mulai detik ini,” bisiknya tepat di depan bibir Alena, “setiap tarikan napasmu adalah pinjaman dariku.”

​“Kau milikku. Jiwa, raga, bahkan setiap tetes darahmu.”

​Itu bukan sekadar klaim. Itu adalah vonis mutlak. Alena bungkam, dadanya naik-turun dengan kasar. Di dalam rongga dadanya, badai emosi berkecamuk hebat—benci, takut, amarah yang membakar dan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, kengerian yang mulai terasa candu.

​Jemari kokoh pria itu mencengkeram dagu Alena, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam sepasang manik matanya yang gelap tanpa dasar.

​“Sedikit saja kau menyerah pada rasa sakit ini,” bisiknya serak, jemarinya mengusap bibir Alena hingga memerah, “aku akan membuatmu lupa bagaimana cara mengeja kata 'bebas'.”

​Alena memejamkan mata erat-erat. Pria itu terkekeh rendah, menikmati getaran ketakutan yang menjalar di tubuh Alena bagai melodi yang paling indah di telinganya. Rasa takut gadis ini adalah bahan bakarnya.

​Dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa, pria itu merenggut kancing kemejanya hingga terlepas satu per satu. Di bawah temaram lampu, tubuhnya dipenuhi bekas luka—jejak-jejak distopia dari masa lalu brutal yang membentuk iblis di hadapan Alena saat ini.

​Ia menunduk, bibirnya menyapu daun telinga Alena, membisikkan janji yang terdengar seperti kutukan.

​“Aku tidak akan menghancurkanmu, Alena. Aku hanya akan menguliti seluruh warasmu, sampai kau merangkak memohon agar aku tidak pernah melepaskanmu.”

​Sebelum Alena sempat memuntahkan makiannya, bibir pria itu membungkamnya.

​Ciuman itu kasar, gelap, dan mematikan. Tidak ada ruang untuk kelembutan, tidak ada ruang untuk negosiasi. Itu adalah invasi. Pria itu menghisap habis sisa oksigen Alena, meremukkan segala bentuk perlawanan fisik dengan dominasi yang mutlak. Alena mencakar, meronta, namun setiap pemberontakannya justru memicu gairah yang lebih liar dan berbahaya dari pria itu.

​Setiap sentuhan kasar yang membakar kulitnya, setiap bisikan posesif yang meracuni pikirannya, terasa seperti paku yang menyegel peti mati kebebasannya.

​Ruangan itu berubah menjadi medan perang yang sunyi, dipenuhi napas memburu, desahan tertahan, dan kegilaan yang lepas kendali. Malam merentang tanpa akhir. Dan di balik keputusasaan itu, Alena merasakan retakan besar dalam jiwanya. Sesuatu di dalam dirinya patah, runtuh, dan berasimilasi dengan kegelapan pria itu.

​Ia tidak hanya kehilangan kendali atas tubuhnya yang kini disatukan secara paksa tanpa batas dalam badai obsesi yang brutal. Ia kehilangan dirinya sendiri. Kesuciannya direnggut, ditumbalkan di atas altar kegilaan pria tersebut.

​Saat badai itu mereda, menyisakan keheningan yang dingin, pria itu menatap Alena. Wajah gadis itu basah oleh peluh dan air mata kehancuran. Dengan gerakan yang kontradiktif—nyaris lembut namun posesif—ia menyelipkan untaian rambut Alena ke belakang telinga.

​“Lihat diri mu sekarang,” bisiknya dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan. “Kau diciptakan dari rusukku, Alena. Menolakku sama saja dengan bunuh diri.”

​Tubuh Alena bergetar hebat di bawah kungkungan dada bidang pria itu. Bukan lagi karena dinginnya malam, melainkan karena kesadaran brutal yang menghantamnya.

​Mulai malam ini, ia telah mati.

​Ia bukan lagi wanita yang memiliki hari esok. Di dalam kamar yang berbau darah dan tembakau ini, ia telah lahir kembali, sebagai boneka cantik yang terperangkap abadi dalam sangkar emas milik seorang monster yang menato namanya langsung di atas jiwanya yang hancur.

Triplet Remaja.

Apa itu cinta?

"Bullshit!" jawab Pollux dengan senyum sinis.

"Cinta?" Pax tertawa. "Gairah," imbuhnya dengan wajah menggoda.

"Cinta? Pax dan Pollux." jawab Paula dengan gidikan bahu tidak acuh. "Tidak akan ada pria yang mencintaiku sebesar Pax dan Pollux," imbuhnya dengan gumaman kecil.

***

"Kenapa kau ikut kemari?" Pollux menatap sekilas gadis dengan kuncir kuda dan kaca mata berbingkai bertengger di wajahnya yang penuh dengan bintik merah. Megan, gadis kutu buku yang selalu menjadi rival Pollux dalam meraih prestasi.

Megan, sahabat adiknya, Paula. Sahabat. Dan percayalah, keduanya terlihat sangat berbanding terbalik. Paula dengan kecantikan yang paripurna, sedangkan Megan, dengan kesederhanaan yang membuatnya tidak terlihat jika bersanding di sisi Paula.

Kedua sahabat itu selalu saling menempel, tapi banyak warga sekolah yang seakan tidak melihat gadis cupu itu. Ya, penampilan Megan sangat tidak enak dilihat. Dan gadis itu sering menjadi korban bullyan karena bisa dekat dengan Pax, yang menjadi pangeran di sekolah.

"A-aku..."

"Ingin memberikan dukungan pada, Pax?" Pollux kembali menatapnya, hanya sekilas, lalu bersedekap, menyandarkan tubuhnya ke dinding, kembali fokus ke arah para saudaranya yang sedang diintrogasi.

"Bu-bukan..."

"Kenapa tidak sekalian kau membawakan pompom, bernyanyi serta melompat dan menari, mungkin dengan begitu Pax akan tersanjung."

"Tapi aku bukan cheleeders," gumam Megan pelan sembari menundukkan kepalanya, memainkan ujung sepatunya di lantai.

"Aku hanya menyindirmu," aku Pollux jujur, lalu melangkah pergi meninggalkan Megan untuk menghampiri Aaron.

Polisi menarik napas panjang, menatap beberapa siswa SMA yang terbilang cukup sering mendatangi kantornya. Sang polisi bersedekap, menunggu penjelasan dari siswa pembuat onar tersebut. Tapi sepertinya ketujuh siswa itu lebih memilih untuk bungkam.

"Setidaknya kali ini, kau datang tidak dengan penampilan berantakan, Nona Paula," si polisi membuka suara.

"Ya, kali ini aku menjadi rebutan, sir. Bukan korban atau pun tersangka," sahutnya enteng, membuat Pax yang duduk di sebelahnya berdecak kesal. Wajah tampan saudara kembarnya itu terlihat memar, dan sudut bibirnya terlihat berdarah.

"Rebutan? rebutan saudara kembarmu sendiri?" si polisi mengernyitkan dahi tidak faham.

Paula memutar bola mata jengah. Si polisi ini bodoh atau bagaimana. Bagaimana mungkin Pax memperebutkan dirinya.

"Di mana sopan santunmu, Lala." Aaron menegurnya dengan lembut.

Paula menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tajam. "Pertanyakan itu pada dirimu yang menghajar wajah kekasihku!" sengitnya dengan wajah kesal bercampur marah.

Pria yang duduk di sisi kirinya tersenyum simpul karena merasa mendapat pembelaan. Pria yang Paula sebut sebagai kekasihnya-Lucky, nama pria itu. Melihat wajahnya yang babak belur, nama Lucky sungguh tidak sesuai dengan dirinya. Paula meringis, bibir dan mata pria itu sudah membengkak sebesar telur angsa yang siap santap.

"Jadi maksudmu keributan kali ini terjadi hanya karena dua pria ini memperebutkanmu?" si polisi menunjuk Aaron dan Lucky secara bergantian.

"Sepertinya aku harus meralatnya," Paula melipat kedua tangannya di atas meja, menatap wajah si polisi dengan serius. "Jadi kejadiannya seperti ini."

Paula mulai membeberkan cerita menurut versinya. Ia dan Lucky, sedang berjalan di pelataran parkir sekolah, menuju mobil pria itu. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada saudara kembarnya untuk pulang bersama Lucky.

Pax dan Pollux tidak memberi izin, tapi ia tidak peduli sama sekali, karena sesungguhnya mereka tidak menyukai Lucky. Tepatnya Pax yang tidak menyukai Lucky.

Sesampainya di depan mobil, Lucky membukakan pintu untuk Paula. Sebelum Paula masuk, Lucky membenarkan anak rambut yang menempel di wajah cantiknya, dan saat itu lah si pengacau Aaron datang, menarik leher Lucky hingga terjungkal ke belakang.

Lucky tidak terima, berhubung pria itu adalah ketua basket di sekolah, tentu saja ia juga cukup terkenal dan disegani. Para anak buahnya segera menghampiri dan membantu Lucky. Pax dan Pollux datang. Melihat Aaron berkelahi dengan beberap orang, rasa persaudaraannya terpanggil begitu saja. Terjadilah baku hantam antara Aaron, Pax melawan Lucky bersama teman-temannya.

Lalu apa yang dilakukan Pollux? tentu saja menghubungi polisi. Ia tidak ingin mengotori tangannya untuk hal unfaedah seperti itu. Ia melihat Paula baik-baik saja, jadi sepertinya ia tidak perlu turun tangan.

"Aku mengira dia menciummu," Aaron bersuara setelah Paula menjelaskan kronologinya.

"Memangnya kenapa jika dia menciumku? Dia kekasihku."

"Kau masih kecil!" Aaron, Pollux dan Pax, kompak menjawab.

Baru saja Paula ingin menjawab, pintu ruangan terbuka. Lucas Willson, Daddy mereka memasuki ruangan, menatap satu persatu wajah anak-anaknya.

"Daddy," Paula segera berdiri, dan menghambur ke dalam pelukan Daddy-nya. "Kali ini bukan ulahku, Dad." Ia mendongakkan kepalanya.

Lucas menunduk, tersenyum geli sembari mengusap rambut putri semata wayangnya itu. "Jika pun ulahmu, Daddy tidak akan terkejut, Honey. Hanya saja kenapa pria itu berdiri di sana?" tunjuk Lucas kepada Aaron. Pasalnya Aaron sedang berada di luar negeri melanjutkan study-nya.

"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli, Dad."

Lucas terkekeh, ia mengangguk lalu merangkul putrinya mendekati para saudaranya.

"Maafkan anak-anakku Mr. Robert. Kau selalu disusahkan oleh mereka," pungkas Lucas dengan wajah tidak benar-benar meminta maaf.

"Sudah menjadi tugas kami," sahut Mr. Robert dengan tarikan napas panjang. Memangnya siapa yang bisa menghukum anak-anak dari Lucas Willson?

"Jadi adakah yang bisa menjelaskan perkara ini?" tanya Lucas, menatap Aaron, Pollux, Pax, Lucky dan dua temannya.

"Aku menghajar pria yang disebut putrimu sebagai kekasihnya, Uncle," sahut Aaron, dengan tatapan tertuju pada Paula yang langsung meleletkan lidahnya.

"Aku membantu Aaron, karena dia diserang oleh si brengsek itu dan teman-temannya."

"Pax, perhatikan ucapanmu," tegur Daddy-nya, yang tidak membenarkan anak-anaknya berkata kasar.

"Maafkan aku, Dad."

"Sepertinya kau kalah, wajahmu mendapat banyak luka. Aaron tidak terluka sama sekali. Dan kau Pollux? Apa yang kau lakukan?" Lucas menatap Pollux.

"Menghubungi polisi," jawabnya lempeng.

"Ya, pekerjaan bagus, Dude!" puji Lucas dengan wajah geli.

"Butuh rumah sakit?" Kembali Lucas menatap Pax dan Lucky juga teman-temannya.

"Aku tidak butuh rumah sakit, tapi sepertinya calon menantumu dan para anteknya butuh perawatan," Pax tersenyum sinis, menatap Lucky dengan tatapan mengejek.

"Baiklah Lucky, melihat lukamu dan teman-temanmu, apa kalian ingin mengajukan tuntutan kepada Pax dan Aaron?"

"Dad!" tegur Pax tidak suka dengan pertanyaan Lucas.

Sebelum menjawab pertanyaan Lucas, Lucky menatap Paula untuk mendapat persetujuan. Pax berdecak.

"Kau sudah mendapat perlakuan tidak enak, kau berhak untuk menuntut mereka," ucap Paula dengan melayangkan senyum sinis ke arah Aaron.

Aaron terlihat tenang, tiak peduli apakah Lucky mau menuntutnya atau tidak.

"Karena kau berkata seperti itu, aku tidak akan sungkan, baby," semua mata kompak menoleh ke arah Lucky yang membuat pria itu susah payah untuk menelan ludahnya.

Lucky pun membuat laporan terhadap Aaron dan Pax, yang langsung dicatat oleh Mr. Robert.

"Adik macam apa kau ini," Pax menatap Paula dengan kesal.

"Dad," rengek Paula.

"Pax, jangan melotot ke arah adikmu!" Lucas memberi peringatan.

"Lucky sudah membuat laporan, apa kau tidak ingin membuat laporan, Aaron" Lucas kembali bertanya pada Aaron yang membuat semuanya mengernyit kecuali Aaron dan Mr. Robert. Ia cukup mengenal Lucas, pria itu tidak akan membiarkan putranya mendekam di penjara.

"Tentu saja. Pelecehan di depan umum terhadap adik perempuanku."

Paula dan Lucky menganga. Itu tidak betul.

"Itu fitnah!" sergah Lucky.

"Aku punya saksi. Pax dan Pollux. Kau ingin mencium Paula," jawab Aaron dengan tenang yang diangguki si kembar dengan kompak.

"Paula." Lucky meminta pembenaran.

"Dad.." rengek Paula.

"Maaf, honey. Tidak ada kemenangan untukmu kali ini." Lucas menyentil hidung putrinya.

NB: Bab selanjutnya, cerita si Kembar Tiga sudah dewasa ya.

Wanita Bar

​“Bersulang!”

​Pax mengangkat tinggi gelas kristalnya. Denting kaca mewah itu langsung tenggelam dalam dentum subwoofer musik elektronik yang menggetarkan dinding ruang VIP. Di bawah lampu neon yang menari liar, aroma alkohol berkelas, parfum desainer, dan atmosfer penuh dosa berbaur menjadi satu—menciptakan candu yang akrab bagi Pax dan lingkaran pergaulannya.

​Bagi mereka, wanita cantik dan malam yang liar adalah elemen hidup yang mutlak.

​“Malam masih sangat muda, Gentlemen!” seru salah satu temannya, disambut sorak provokatif yang riuh.

​“Permisi.” Seorang pelayan wanita memecah kerumunan kecil itu. Ia meletakkan dua mangkuk camilan ringan dan beberapa botol minuman impor baru di atas meja dengan gerakan yang cekatan, tenang, dan profesional.

​Saat wanita itu sedikit membungkuk untuk merapikan gelas, sudut bibir Pax otomatis terangkat. Seringai nakal andalannya muncul.

​Dengan gestur santai yang terlampau percaya diri, Pax menarik beberapa lembar uang kertas bernilai tinggi, lalu menyelipkannya langsung ke belahan dada sang pelayan tanpa ragu sedikit pun.

​Sentuhan lancang itu membuat wanita itu tersentak dan langsung menegakkan tubuh. Tatapan mereka berbenturan di udara.

​Pax mendadak terkunci. Wanita di hadapannya bukan perempuan lokal. Parasnya eksotis dengan kulit sawo matang yang hangat memikat, dibingkai rambut hitam legam bergelombang yang jatuh di bahu. Namun, yang paling menawan adalah sepasang mata bulat tajamnya—tegas, dingin, dan sangat berbahaya.

​Pax bersiul rendah. “Wow…” gumamnya, jujur terpesona. “Matamu indah sekali, Nona.”

​Byur!

​Cairan alkohol dingin langsung menghantam wajah tampan Pax telak.

​Itu jelas di luar skenario. Di dalam kepala Pax yang dipenuhi ego, ia membayangkan reaksi yang jauh lebih bersahabat—kedipan mata genit, atau mungkin sebuah kecupan tipis di pipi jika wanita itu cukup berani. Bukan siraman air es yang merusak tatanan rambutnya.

​Suasana meja VIP itu langsung meledak ricuh.

​“Astaga!”

​“HAHAHA! Pax Willson disiram!”

​“Tutup pintunya, ini momen langka!”

​Pax memejamkan mata sejenak, lalu menyeka wajahnya perlahan menggunakan sapu tangan sutra. Alih-alih murka, ketertarikannya justru melonjak drastis saat mendapati wanita itu sedang menatapnya dengan kilat amarah yang menyala-nyala.

​“Thanks—bukankah seharusnya kata itu yang keluar dari bibirmu, Nona?”

​“Bajingan tak tahu sopan santun!” umpat wanita itu tajam, tanpa ada ketakutan sedikit pun.

​Pax menaikkan sebelah alisnya, terkekeh pelan. “Ada apa denganmu, Sayang?” Ia memperbaiki posisi duduknya, memasang senyum maut yang biasanya sanggup membuat wanita mana pun menyerahkan diri tanpa syarat. “Aku hanya memberimu tip. Beginikah caramu memperlakukan pelanggan dermawan?”

​Wanita itu bergeming. Wajahnya sedingin es, kebal terhadap pesona Pax.

​“Harusnya aku yang bertanya padamu,” sahut wanita itu datar, jemarinya menunjuk ke arah dadanya sendiri tempat uang itu tadi diselipkan. “Apa yang sedang kau lakukan, Tuan?”

​“Memberi tip,” jawab Pax santai sembari bersandar ke sofa. “Sangat jelas, bukan?”

​“Kau melecehkanku.”

​Seketika, tawa teman-teman Pax pecah kembali, kali ini lebih keras hingga menarik perhatian meja sebelah.

​“Melecehkan, katanya!”

​“Sejarah baru telah tercipta!”

​“Pax dituduh melakukan pelecehan! Cepat rekam!”

​Bahkan salah satu temannya dengan dramatis menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Nona, tolong beri aku tanda tanganmu. Kau adalah pahlawan baru kami.”

​Ketegasan di wajah wanita itu tidak surut barang seinci pun. Tatapan matanya yang menusuk perlahan-lahan justru membungkam tawa riuh di meja tersebut.

​Pax terus mengamatinya, membiarkan rasa penasarannya tumbuh liar. Kulit eksotisnya yang kontras dengan pencahayaan klub, intonasi bicaranya yang lugas, dan keberanian yang tidak biasa ini... sangat menantang.

​“Kau benar-benar menganggap tindakanku sebagai pelecehan?” tanya Pax, memindai tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai.

​“Apa bahasaku terlalu sulit dipahami?” balas wanita itu dingin. Ia memperagakan kembali gerakan menyelinapkan uang dengan gestur menyindir. “Tanganmu masuk ke wilayah ini.”

​Pax hampir kelepasan tertawa melihat kepolosannya yang berani. “Kau pelayan baru, ya? Selama ini, tidak ada satu pun yang protes. Mereka justru sangat senang menerima tip dariku.” Ia menyeringai tengil. “Bahkan, kadang aku mendapat bonus ciuman.”

​Belum sempat kalimat Pax selesai, sebuah gerakan kilat membelah udara.

​Buk!

​Pax memekik tertahan. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar instan dari pangkal pahanya. Tendangan wanita itu mendarat tepat di titik vitalnya.

​“SHIT!” Pax langsung membungkuk dalam-dalam, mendekap area selangkangannya dengan wajah memerah menahan sakit. “WANITA GILA!” umpatnya dengan suara parau.

​Sementara itu, teman-temannya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mereka tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perut.

​“Astaga, legenda kita runtuh malam ini!”

​“Abadikan wajahnya! Ini aset berharga!”

​Wanita itu mendengus jijik. “Aku tidak butuh uang harammu, pria brengsek.” Ia merenggut kasar lembaran uang yang masih terselip di dadanya, lalu melemparkannya tepat ke wajah

Pax yang masih meringis.

​Tak cukup sampai di situ, wanita itu merogoh dompetnya sendiri, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyentak kerah kemeja Pax hingga pria itu terpaksa menegakkan tubuhnya yang masih lemas.

​Dengan gerakan cepat yang sangat merendahkan, wanita itu menyelipkan uang tersebut langsung ke dalam celana Pax.

​“Luar biasa!” Teman-teman Pax bersorak liar.

​“Periksakan dirimu ke dokter,” bisik wanita itu, tajam dan dingin tepat di depan wajah Pax. “Itu pun kalau kau masih ingin aset berhargamu berfungsi sebagaimana mestinya.”

​Pax hanya bisa melongo, menatap kepergian wanita itu dengan campur aduk antara murka, malu, dan keterpukauan yang tak bisa ia jelaskan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang wanita berhasil menelanjangi harga dirinya di depan umum.

​Dan sialnya, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari punggung wanita itu.

​“Dasar Buaya Bangke,” gerutu wanita itu dalam bahasa asing yang seksi sebelum akhirnya hilang di balik kepulan asap dan kerumunan lantai dansa. Kibasan rambutnya sempat menyapu wajah Pax, meninggalkan jejak aroma sensual yang secara refleks dihirup oleh pria itu.

​“Ugh!” Pax menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan frustrasi. “Aku bersumpah akan membuat wanita sombong itu bertekuk lutut di hadapanku.”

​“Kelihatannya tidak akan semudah itu, Dude,” seloroh temannya.

​“Dia pikir dia siapa?!” geram Pax, rahangnya mengeras. “Aku hanya memberinya tip!”

​“Kau menyelipkan uang itu langsung ke belahan dadanya,” timpal temannya yang lain, sengaja mengingatkan.

​“Harusnya dia tersanjung! Ribuan wanita di luar sana mengemis untuk posisi itu!”

​“Sayangnya, dia bukan salah satu dari mereka, Pax.”

​Pax menjentikkan jarinya dengan senyum arogan yang kembali terukir di bibirnya. “Aku akan mendapatkannya. Pasti.” Tak ada kamus penolakan dalam hidup Pax. Selama ini, dialah yang selalu kewalahan menyortir wanita yang mengantre di ranjangnya.

​Suasana hati Pax berubah masam dalam sekejap saat matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali di sudut klub yang remang.

​Kevin. Rival abadinya di panggung modeling. Pria itu sedang duduk santai dengan seringai jemawa, sementara tangannya meremas kasar bokong pelayan bar—wanita angkuh yang baru saja mempermalukan Pax.

​Pax menyipitkan mata, membaca situasi dengan lebih saksama. Wanita itu tidak nyaman. Tubuhnya menegang kaku, dan meskipun ia tetap bergeming, tatapannya menyiratkan gelombang ketakutan yang coba disembunyikan.

​“Oh, jadi dia serendah itu sampai berselera pada Kevin?” gumam Pax sinis, meski ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya melihat sentuhan Kevin yang semakin berani.

​“Abaikan saja,” tebak salah satu temannya cepat, menyadari perubahan aura Pax.

“Jangan cari keributan dengan Kevin malam ini.”

​Pax mengumpat pelan di dalam hati. Di tengah kilatan lampu strobo, bayangan wajah Paula, adik perempuannya, tiba-tiba melintas di kepalanya. Bagaimana jika Paula yang berada di posisi pelayan bar itu?

​Sang ayah selalu menanamkan satu prinsip absolut yang dipegang teguh oleh Pax: Jangan pernah memaksa wanita yang sudah berkata tidak.

​Dan gestur tubuh pelayan itu jelas-jelas meneriakkan penolakan. Pax meneguk habis sisa minumannya dalam sekali tenggak, lalu bangkit berdiri.

​“Pax, jangan konyol,” tahan temannya.

​Pax menyeringai tipis, hawa dingin menguar dari tubuhnya. “Terkadang, seorang pria harus melakukan hal yang paling ia benci.” Ia melangkah tegap membelah kerumunan menuju meja Kevin. “Menyelamatkan wanita galak adalah salah satunya.”

​Pax berdiri tepat di hadapan mereka.

​“Willson?!” Kevin mendongak, seringainya melebar protektif sementara tangan liarnya kini mendarat di paha si pelayan bar.

​Pax melirik pergerakan tangan itu dengan tatapan membunuh. “Dia tidak nyaman.”

​Mendengar ucapan Pax, si pelayan bar tersentak, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​“Kurasa ini bukan urusanmu, Willson.”

​“Menjadi urusanku jika ini melibatkan wanita cantik yang merepotkan.” Tanpa peringatan, Pax menyambar pergelangan tangan Kevin dan memelintirnya ke belakang dengan satu gerakan brutal.

​Detik berikutnya, kekacauan pecah. Klub malam yang semula elegan berubah menjadi arena gladiator yang riuh. Teriakan histeris menggema, kursi-kursi bertumbangan, dan botol-botol alkohol mahal hancur berkeping-keping di lantai.

​Beberapa menit setelah baku hantam yang sengit, Pax berakhir diseret oleh tim keamanan klub menuju ruang investigasi. Tubuhnya lebam, namun yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa wanita itu sama sekali tidak berterima kasih.

Sebaliknya, wanita itu justru tampak pasang badan membela Kevin saat keributan terjadi agar Kevin tidak terluka lebih parah.

​Pax mendengus kasar di sepanjang koridor menuju ruang keamanan, menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

​“Sialan,” gerutunya sinis. “Aku babak belur, ditendang, dan ditangkap demi menyelamatkan wanita yang bahkan tidak tahu cara berterima kasih.”

​Teman-temannya yang mengekor di belakang justru tertawa lepas tanpa beban. “Mungkin dia memang lebih suka tipe pria brengsek seperti Kevin.”

​Pax mengacak rambutnya dengan frustrasi yang memuncak.

​“Shit.”

​“Double shit.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!