"Kak, tolongin aku!"
Suara panik Andara terdengar melalui sambungan telepon.
Di lantai dua sebuah gedung perkantoran yang menjadi kantor perusahaan arsitektur miliknya, Kafa yang sedang meninjau desain sebuah hotel langsung berdiri dari kursinya.
"Kamu kenapa?" Nada suaranya berubah tegang.
"Kakak... tolongin aku dulu."
"Kamu di mana sekarang?"
"Di taman dekat kampus."
"Oke."
Tanpa bertanya lebih banyak, ia langsung mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, meraih kunci mobil, lalu berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.
"Tunggu di sana."
Sambungan telepon pun terputus.
Beberapa detik kemudian...
"Hahaha!"
Andara langsung tertawa puas. "Berhasil!"
Zuleykha memukul pelan lengan Andara. "Ya Allah, Dara! Lo tega banget bohongin Kak Kafa."
Nuha ikut menggeleng. "Gue kira beneran kenapa."
Andara hanya mengangkat bahu santai. "Kalau nggak gini mana mungkin dia datang."
"Segitunya?"
"Iya."
Zuleykha menatap Andara tidak habis pikir. "Lo tuh cantik."
"Iya."
"Pinter."
"Iya."
"Anak orang kaya."
"Iya."
"Banyak cowok yang ngejar."
"Iya."
"Terus kenapa masih ngejar Kak Kafa?"
Andara tersenyum kecil. "Soalnya yang gue mau cuma dia."
Nuha langsung memijat pelipisnya. "Ya Allah...."
"Gue serius."
"Tapi dia itu kakak lo."
"Tolong diralat." Andara mengangkat telunjuk. "Bukan kakak kandung."
"Dara."
"Gue tau." Andara menatap langit sore yang mulai berubah jingga. "Justru karena bukan kakak kandung... gue masih punya harapan."
Kedua sahabat Andara hanya saling pandang. Mereka sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti itu.
Sejak SMA. Sejak Andara sadar kalau rasa sayangnya kepada Kafa sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bukan lagi rasa kagum seorang adik. Melainkan cinta.
"Eh." Nuha tiba-tiba membuka tasnya. "Kalau mau drama sekalian aja."
Nuha mengeluarkan pouch make-up. "Gue bikin muka lo jadi pucat."
Mata Andara langsung berbinar. "Wah, boleh!"
Tak sampai lima menit, wajah Andara berubah.
Pipi yang biasanya merona kini tampak pucat. Bibir Andara dibuat sedikit lebih putih. Area bawah mata juga diberi sentuhan agar terlihat seperti orang yang kelelahan.
Andara menatap hasilnya melalui kamera ponsel. "Bagus banget."
"Ya iyalah." Nuha terkekeh. "Kalau gini Kak Kafa pasti panik."
Belum sempat Andara menjawab, suara mesin mobil terdengar memasuki area taman.
"Itu dia." Jantung Andara langsung berdegup lebih cepat.
Andara buru-buru merebahkan tubuh di bangku taman.
"Eh, jangan senyum!" bisik Zuleykha.
"Iya."
Andara langsung mengatupkan bibir. Beberapa detik kemudian langkah kaki yang tergesa-gesa semakin mendekat.
"Dara!"
Suara itu. Suara yang selalu ingin gadis itu dengar.
Andara membuka mata perlahan. Kafa sudah berjongkok di depannya.
Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Napasnya terdengar tidak beraturan. Sepertinya ia benar-benar berlari setelah memarkir mobilnya.
"Dara." Tangannya langsung menyentuh dahi Andara. "Kamu kenapa?"
Sentuhan sederhana itu selalu berhasil membuatnya gugup.
"Tadi..." jawab Nuha cepat. "Dara hampir pingsan, Kak."
"Iya." Zuleykha ikut mengangguk. "Dia maksa ikut kuliah."
Kafa kembali menatap Andara. "Kamu masih pusing?"
Andara mengangguk pelan. "Hm."
"Kita ke rumah sakit."
Andara buru-buru menggeleng. "Nggak usah."
"Kenapa?"
"Aku mau pulang aja."
"Oke." Ia mengangguk. "Kakak antar."
Dadanya terasa hangat.
Seberapa sibuk apa pun Kafa, pria itu selalu datang. Selalu begitu. Dan justru perhatian seperti itulah yang membuat Andara semakin sulit berhenti mencintainya.
Kafa membantu Andara berdiri. "Hati-hati."
Tangannya menahan lengan Andara agar tidak kehilangan keseimbangan.
Andara menggigit bibir pelan. Kalau begini terus... Mana mungkin Andara bisa berhenti mencintainya?
"Kamu masih kuat jalan?"
Andara mengangguk cepat. "Masih."
Kafa mengernyit. "Tadi katanya hampir pingsan."
"I-iya... sekarang udah agak mendingan."
Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berpindah ke wajah Andara. Lalu ke tangannya. Kemudian kembali ke wajah gadis itu.
"Ada apa, Kak?" tanyanya gugup.
"Kamu habis nangis?"
Andara spontan menggeleng. "Nggak."
"Lalu kenapa maskaranya luntur?"
Jantung Andara serasa berhenti. Maskara?
Andara buru-buru menyentuh bawah matanya.
Nuha langsung menepuk dahinya. "Mati...."
Belum sempat Andara mencari alasan, Kafa mengeluarkan saputangan dari saku celananya.
"Diam."
Ia mengusap pelan bekas maskara yang menempel di pipi Andara. Gerakannya begitu hati-hati. Begitu lembut. Sampai Andara hampir lupa kalau semua ini hanyalah sandiwara.
"Nah." Ia menarik kembali saputangannya. "Lain kali kalau mau pura-pura sakit, jangan pakai maskara."
Andara membeku. "...Hah?"
Nuha dan Zuleykha ikut membeku.
"Kalian bertiga buruk dalam berakting."
Andara menelan ludah. "Kak... kok tau?"
"Sejak telepon."
"Maksudnya?"
"Suara kamu normal."
Andara terdiam.
"Kamu juga masih sempat bercanda sebelum Kakak turun dari mobil."
Andara langsung menoleh ke arah kedua sahabatnya.
"Ketahuan kan."
"Bukan kita!"
Zuleykha langsung membela diri.
Kafa menjawab datar. "Kaca mobil saya tidak kedap suara."
Ya Allah.... Malunya....
Andara langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
"Tapi...Kalau Kakak udah curiga, kenapa tetap datang?"
Kafa menatap Andara beberapa saat. "Kalau dugaan Kakak salah, dan ternyata kamu benar-benar kenapa-kenapa... Kakak nggak akan bisa maafin diri sendiri."
Jawaban itu membuat Andara terdiam.
Jadi... Meski curiga Andara berbohong. Kafa tetap datang.
Karena takut sesuatu benar-benar terjadi padanya. Saat itu juga, Andara sadar, ia tak mungkin lagi menyimpan perasaan ini.
"Kenapa berbohong?"
Andara menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum menjawab.
"...Karena aku kangen."
Kafa mengembuskan napas panjang.
Dua hari lalu mereka baru saja bertemu di rumah. Ia mengira seiring bertambahnya usia, Andara akan mulai menjaga jarak dan memahami posisi mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin dewasa, gadis itu semakin sering mencari alasan untuk menemuinya.
"Kakak marah?" tanya Andara lirih.
Kafa menggeleng pelan. "Kakak nggak marah."
"Serius?"
"Iya."
"Lalu kenapa diam?"
Kafa menatap lurus ke arah danau kecil di depan mereka. "Karena Kakak lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Mikir gimana caranya supaya kamu berhenti melakukan hal kayak gini."
Andara terdiam.
"Kamu bikin Kakak panik, Dara."
"Maaf..."
"Kamu tau nggak? Kalau tadi benar-benar terjadi sesuatu sama kamu, Kakak bakal nyalahin diri sendiri."
Andara semakin merasa bersalah. "Kakak..."
"Kamu itu adik Kakak."
Andara langsung menyela. "Ralat, Kak. Kita bukan saudara kandung."
Kafa menoleh pelan. "Lalu?"
"Kita nggak punya hubungan darah."
"Terus?"
"Itu artinya..."
"Itu nggak mengubah apa pun buat Kakak." Suara Kafa tetap tenang. "Buat Kakak, kamu tetap adik kecil yang Bunda dan Ayah titipkan untuk dijaga."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Andara. "Tapi aku nggak pernah nganggep Kakak cuma sebagai kakak."
Kafa memejamkan mata sejenak.
"Aku cinta sama Kakak."
Kalimat itu akhirnya terucap. Dengan jujur. Tanpa ragu.
"Aku udah hampir dua puluh tahun. Aku bukan anak kecil yang nggak ngerti perasaan sendiri."
Kafa berdiri perlahan. "Dara."
"Aku serius."
"Kakak tau."
"Terus?"
"Tapi perasaan Kakak nggak akan pernah sama."
Jawaban itu membuat dada Andara terasa sesak.
"Kamu tetap keluarga Kakak."
Air mata Andara akhirnya jatuh. "Jadi... Kakak nggak pernah sedikit pun ngelihat aku sebagai perempuan?"
Kafa menggeleng pelan. "Nggak."
Hanya satu kata. Namun cukup untuk mematahkan seluruh harapan yang selama ini Andara simpan.
Kafa menarik napas panjang. "Ayo pulang."
Andara mengusap air matanya kasar. "Nggak mau."
"Kakak antar."
"Nggak."
"Kamu mau pulang sendiri?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Sebelum Kakak pergi..." Andara menatap kedua mata pria itu. "...jawab satu pertanyaan lagi."
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti aku tetap mencintai Kakak... apa Kakak akan tetap menolakku?"
Kafa terdiam beberapa saat. "Iya. Karena sejak awal, kamu adalah adik Kakak."
Andara menundukkan kepala. "Oke..."
Kafa mengusap pelan puncak kepala gadis itu, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. "Jangan nangis lagi."
Andara menepis tangan itu pelan. "Aku benci Kakak."
"Kakak tau."
"Kakak jahat."
"Mungkin."
Kafa berbalik berjalan menuju mobilnya.
Melihat pria itu benar-benar pergi, Andara melongo.
Biasanya, Kafa akan kembali menghampirinya saat ia merajuk.
Namun kali ini tidak.
Pintu mobil tertutup. Mesin menyala. Dan mobil itu perlahan meninggalkan taman.
Andara langsung berdiri sambil menghentakkan kaki.
"Kak Kafaaa... jahat!"
Sementara itu, di dalam mobil...
Kafa memang meninggalkan Andara di taman. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Mobilnya berhenti beberapa puluh meter dari sana, di tempat yang masih memungkinkannya melihat ke arah taman.
Ia menyandarkan punggung pada jok, kedua tangannya menggenggam kemudi. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Andara yang masih berdiri di sana.
"Ayo pulang..." gumamnya pelan.
Ia sengaja tidak kembali menghampiri gadis itu. Kafa tau, jika ia kembali sekarang, Andara akan menganggap tangis dan rengekannya selalu berhasil meluluhkan hati sang kakak. Padahal, ada batas yang harus ia tegakkan.
Beberapa menit kemudian, Andara mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi daring.
Kafa mengembuskan napas lega saat melihat mobil yang dipesan Andara akhirnya datang.
Begitu taksi itu melaju meninggalkan taman, Kafa menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti dari kejauhan.
Bukan untuk mengawasi.
Melainkan untuk memastikan adik angkatnya pulang dengan selamat.
Sejak lulus kuliah, Kafa memilih tinggal di apartemennya sendiri. Ia ingin hidup mandiri sekaligus lebih fokus membangun perusahaan arsitektur dan desain interior yang dirintisnya dari nol.
Sementara itu, Azzam dan Aira—orang tua angkat yang telah membesarkannya sejak usia lima tahun—tetap tinggal di rumah keluarga bersama Andara.
Tak lama kemudian, mobil taksi yang ditumpangi Andara memasuki halaman rumah.
Kafa menghentikan mobilnya di seberang jalan.
Ia menunggu hingga melihat Andara turun, membuka gerbang, lalu masuk ke dalam rumah dengan selamat.
Barulah setelah pintu rumah tertutup, Kafa kembali menginjak pedal gas.
Sepanjang perjalanan pulang, ucapan Andara terus terngiang di kepalanya.
"Aku cinta sama Kakak."
Kafa mengembuskan napas panjang. Gadis itu telah ia jaga sejak kecil. Ia tidak pernah membayangkan hari ketika Andara akan mengucapkan kalimat itu.
Yang ia tahu hanya satu.
Memberi sedikit harapan kepada Andara sama saja dengan memperpanjang luka gadis itu.
Meskipun... Menolak Andara ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun... Ia berharap Andara benar-benar melupakan ucapannya sore itu.
Sebab ia tahu... Jalan yang dipilih gadis itu hanya akan membuat hatinya semakin terluka.
"Assalamu'alaikum." Suara salam Andara terdengar pelan saat ia melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam."
Aira yang sedang duduk di ruang keluarga, langsung menoleh. Senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Sudah pulang, Nak?"
Andara menghampiri sang bunda, lalu mengecup punggung tangannya sebelum memeluknya singkat, seperti kebiasaannya sejak kecil.
"Iya, Bunda."
Aira mengusap lembut kepala putrinya. "Capek banget, ya?"
Andara menggeleng pelan. "Nggak kok, Bun."
"Kalau nggak capek, kenapa wajahnya lesu begitu?"
Andara mengembuskan napas panjang. "Lagi galau."
Aira terkekeh pelan. "Galau? Galau kenapa?"
Andara menatap wajah bundanya beberapa detik sebelum menjawab lirih, "...Kak Kafa nolak aku."
Senyum Aira perlahan memudar. Ia menghela napas panjang. "Ya Allah, Dara..."
"Bunda..."
"Kamu masih ngomongin itu lagi?"
"Aku nggak bercanda, Bun."
"Bunda tau."
"Perasaan aku beneran, tolong mengerti aku."
Aira menggenggam kedua tangan putrinya. "Tapi, Nak... kalian dibesarkan sebagai kakak dan adik."
"Tapi kami nggak punya hubungan darah."
"Bunda tau, sayang-"
"Lalu kenapa semua orang selalu mempermasalahkan itu?"
Aira tersenyum tipis. "Bukan mempermasalahkan."
"Terus?"
"Bunda cuma takut... apa yang kamu rasakan sekarang adalah rasa kagum seorang adik kepada kakaknya. Kalian tumbuh bersama sejak kecil. Kafa selalu menjaga kamu. Wajar kalau kamu merasa sangat bergantung sama dia."
Andara menggeleng mantap. "Bukan, Bun."
"Dara..."
"Perasaan ini bukan baru kemarin muncul. Aku udah suka sama Kak Kafa dari umur sepuluh tahun. Sekarang hampir sepuluh tahun berlalu. Dan perasaan itu nggak berubah sedikit pun."
Suara Andara mulai bergetar. "Kalau ini cuma rasa kagum, harusnya dari dulu udah hilang."
Aira menatap putrinya dengan penuh iba. "Bunda nggak bilang perasaan kamu bohong."
"Terus?"
"Bunda cuma gak mau kamu terus-terusan mengejar seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama."
"Aku nggak ngejar."
"Lalu?"
"Aku cuma berusaha memperjuangkan hati Kak Kafa."
"Dara..."
"Aku cuma mau buktiin kalau perasaan ini bukan perasaan anak kecil."
Aira kembali menghela napas. "Sayang..."
Namun Andara sudah lebih dulu menyela. "Kenapa sih semua orang selalu nganggep aku masih anak kecil?" Nada suaranya mulai meninggi.
"Aku sudah dua puluh tahun, Bun. Aku udah dewasa. Aku udah ngerti apa yang aku rasain. Dan perasaan itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Dan tidak akan pernah berubah!"
Usai mengatakan itu, Andara berbalik dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Dara..."
Langkah gadis itu tidak berhenti. Pintu kamarnya pun tertutup pelan.
Aira hanya mampu memandang ke arah lantai dua sambil mengembuskan napas panjang.
"Ya Allah..." Matanya berkaca-kaca. "Bunda bukan nggak mendukungmu, Nak. Bunda cuma nggak mau kamu terlalu berharap lalu akhirnya menjadi orang yang paling terluka."
Ia tau betul bagaimana Kafa memandang Andara. Penuh kasih sayang. Penuh perhatian. Namun kasih sayang itu masih sebatas seorang kakak kepada adik yang telah ia jaga sejak kecil. Dan justru itulah yang paling ditakutkan Aira.
Jika suatu hari nanti perasaan Kafa tidak pernah berubah, maka Andara lah yang akan menanggung patah hati paling besar.
Begitu pintu kamarnya tertutup, Andara langsung menjatuhkan tas kuliahnya ke atas sofa dengan kesal.
Bruk!
Tas itu terlempar begitu saja tanpa ia pedulikan. Dengan gerakan tergesa, ia melepas kerudung yang masih menutupi kepalanya lalu melemparkannya ke atas tempat tidur.
Kesal. Kecewa. Sedih. Semua emosi itu bercampur menjadi satu.
Andara berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil mengacak rambutnya sendiri. Ia benar-benar tidak mengerti.
Mengapa tidak ada seorang pun yang mendukungnya?
Mengapa semua orang selalu menganggap perasaannya hanya sekadar kekaguman seorang adik kepada kakaknya?
Padahal ia sudah berulang kali menjelaskan bahwa perasaan itu nyata. Sangat nyata. Dan sudah bertahan begitu lama.
Andara menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Ucapan Kafa kembali terngiang di kepalanya.
"Kamu tetap adik Kakak."
"Perasaan Kakak nggak sama."
Andara memejamkan mata kuat-kuat. "Pembohong..." gumamnya lirih.
Ia tidak percaya sepenuhnya pada ucapan itu. Bukan karena keras kepala. Tetapi karena selama bertahun-tahun, ia melihat sendiri bagaimana Kafa memperlakukannya.
Kafa memang selalu menyebutnya adik. Namun perhatian yang diberikan laki-laki itu sering kali terasa lebih dari sekadar kewajiban seorang kakak.
Setidaknya begitulah yang dirasakan Andara. Laki-laki itu selalu datang ketika ia membutuhkan bantuan. Selalu mengutamakannya. Selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Bahkan hari ini. Kafa memang meninggalkannya di taman.
Namun Andara tau, laki-laki itu pasti tidak benar-benar pergi begitu saja. Karena Muhammad Kafa Athalla adalah orang yang paling sulit membiarkannya sendirian.
Andara mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya meraih sebuah buku bersampul cokelat yang tersimpan rapi di laci meja belajarnya.
Buku harian. Tempat ia menyimpan semua rahasia yang bahkan tidak pernah berani ia ceritakan kepada siapa pun.
Perlahan ia membuka halaman demi halaman yang telah penuh oleh tulisan tangannya.
Beberapa lembar sudah menguning karena usia. Beberapa sudut kertas bahkan tampak mulai kusut karena terlalu sering dibaca ulang.
Di sana tersimpan begitu banyak cerita. Tentang seorang gadis kecil yang selalu mengikuti ke mana pun kakak angkatnya pergi.
Tentang rasa kagum yang awalnya sederhana. Tentang jantung yang mulai berdebar tanpa alasan ketika melihat senyum seseorang.
Tentang rasa cemburu yang tidak bisa dijelaskan. Dan tentang perasaan yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun.
Di halaman pertama yang ia buka malam itu tertulis sebuah tanggal sepuluh tahun lalu. Tulisan tangan Andara saat masih kecil memenuhi halaman tersebut."
12 Mei
"Hari ini Kak Kafa ngajarin aku naik sepeda roda dua. Aku jatuh tiga kali. Sakit. Tapi Kak Kafa bilang aku hebat. Aku seneng banget."
3 Oktober
"Hari ini Kak Kafa beliin aku es krim. Aku mau nikah sama Kak Kafa kalau udah gede."
Senyum tipis terbit di bibir Andara. Ia membalik halaman berikutnya. Lalu berikutnya lagi.
Saat usiaku 6 tahun. "Aku takut disuntik. Kak Kafa pura-pura bilang jarumnya kecil. Padahal setelah selesai dia ketawa karena aku nangis."
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tulisan yang dibuat beberapa tahun setelahnya.
"Kayaknya aku suka Kak Kafa."
Andara menatap kalimat itu lama. Dulu ia sempat menyangkalnya. Ia berpikir mungkin itu hanya perasaan kagum. Mungkin hanya karena Kafa terlalu baik kepadanya. Mungkin hanya karena Kafa selalu ada untuknya.
Namun waktu terus berjalan. Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan perasaan itu tidak pernah menghilang.
Justru semakin jelas. Semakin kuat. Hingga akhirnya Andara mengerti.
Apa yang ia rasakan bukanlah perasaan seorang adik kepada kakaknya. Bukan pula kekaguman sesaat. Melainkan perasaan seorang perempuan kepada laki-laki yang selama ini memenuhi seluruh ruang di hatinya.
Perasaan yang telah bertahan selama sepuluh tahun. Perasaan yang tidak berubah meski berkali-kali ditolak. Perasaan yang tetap sama meski seluruh dunia mengatakan bahwa ia seharusnya menyerah.
Andara menutup buku harian itu perlahan. Lalu memeluknya erat ke dada. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Aku tau mungkin jalannya masih sangat panjang. Bahkan mungkin tidak akan pernah berhasil. Tapi hari ini... aku belum sanggup menyerah." bisiknya pelan. "Mungkin sekarang Kakak belum bisa melihat aku sebagai perempuan. Tapi suatu hari nanti..."
Andara menatap foto kecil yang terselip di antara halaman buku hariannya. Foto dirinya dan Kafa saat beberapa tahun lalu.
"...aku akan membuat Kakak melihatku dengan cara yang berbeda."
Andara membuka kembali buku hariannya yang mulai usang. Ujung penanya menyentuh selembar halaman kosong, lalu perlahan ia mulai menulis.
"Jika matamu lebih indah dari senja, apa lagi yang bisa kulakukan selain jatuh cinta?"
Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan tulisannya.
"Orang-orang selalu bertanya kenapa aku mencintaimu. Padahal aku sendiri tidak pernah tau sejak kapan perasaan ini tumbuh. Yang aku tau, setiap kali melihatmu, hatiku selalu memilihmu.
Kamu mungkin menganggap semua yang kamu lakukan hanyalah tanggung jawab seorang kakak. Tapi bagiku, setiap perhatian kecilmu selalu berarti besar.
Kamu selalu memastikan aku pulang dengan selamat. Kamu selalu datang saat aku meminta tolong. Kamu selalu menjadi orang pertama yang berdiri di depanku ketika aku membutuhkan seseorang.
Aku menyukai caramu memikul tanggung jawab. Caramu menepati janji. Caramu melindungi orang-orang yang kamu sayangi tanpa banyak bicara.
Dan entah kenapa, setiap kali melihatmu melakukan semua itu, aku selalu semakin yakin bahwa aku telah jatuh pada orang yang sama selama bertahun-tahun.
Namamu masih sama di halaman-halaman buku ini.
Muhammad Kafa Athalla.
Laki-laki yang, sampai hari ini, masih menjadi rumah bagi seluruh perasaanku."
Di sudut bawah halaman, Andara menuliskan satu kalimat terakhir sebelum menutup buku hariannya.
"Kalau memang mencintaimu adalah perjalanan yang panjang, semoga Allah juga mengajarkanku cara mencintaimu dengan sabar."
Sore itu, langit mulai dihiasi semburat jingga. Di taman belakang rumah, Aira tampak sibuk menyiram tanaman kesayangannya.
Andara berdiri beberapa saat di ambang pintu. Dadanya dipenuhi rasa bersalah. Ia tau, tadi ia telah berbicara dengan nada tinggi kepada bundanya. Padahal, Aira hanya mengkhawatirkannya.
Ia menghela napas pelan, Andara melangkah menghampiri sang bunda. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung memeluk Aira dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggang wanita itu.
"Bunda..."
Aira yang sedang menyiram tanaman sontak terkejut. "Ya Allah, Dara... Bunda kaget."
Andara terkekeh kecil di tengah rasa bersalahnya. "Maaf, Bun."
"Enggak apa-apa." Aira mematikan aliran air dari selang, lalu menoleh ke arah putrinya. "Bunda cuma gak nyangka kamu datang diam-diam."
Andara menundukkan kepala. "Bukan cuma itu yang mau aku minta maaf."
Aira menatapnya lembut.
"Tadi... aku sempat ninggiin suara ke Bunda. Aku nggak bermaksud begitu. Dara benar-benar minta maaf."
Senyum hangat langsung terukir di wajah Aira. Tanpa berkata apa-apa, ia mengusap lembut pipi putrinya.
"Ayo." Aira menggandeng tangan Andara menuju gazebo kecil di sudut taman belakang.
Semilir angin sore berembus pelan, menemani keduanya yang kini duduk berdampingan.
Aira menggenggam salah satu tangan Andara dengan hangat.
"Sayang..."
Andara mengangkat wajahnya.
"Bunda sama sekali gak marah sama kamu."
"Benar?"
"Iya." Aira tersenyum tipis. "Bunda tau kamu lagi capek. Capek sama keadaan, capek sama perasaan yang belum menemukan jawaban."
Mata Andara mulai berkaca-kaca.
"Dan... kalau tadi kata-kata Bunda terdengar seperti nggak mengerti kamu, Bunda minta maaf. Bunda bukan nggak percaya sama perasaan kamu. Bunda hanya takut..."
Aira mengusap punggung tangan putrinya perlahan. "...takut kamu terlalu mencintai seseorang yang belum tentu bisa membalas perasaanmu dengan cara yang sama."
Andara menunduk.
"Bunda pernah muda, Dara. Bunda tau rasanya mencintai seseorang. Bunda juga tau rasanya berharap."
Aira menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Harapan itu indah, Nak. Tapi kalau kita menggantungkan seluruh kebahagiaan pada seseorang, saat harapan itu tidak terwujud, yang paling terluka adalah hati kita sendiri."
Air mata Andara akhirnya jatuh. "Aku cuma... nggak bisa berhenti mencintai Kak Kafa, Bun."
Aira mengusap air mata putrinya dengan ibu jari. "Bunda gak akan menyuruh kamu berhenti mencintainya. Tapi Bunda ingin kamu tetap menjaga dirimu. Jangan sampai karena terlalu mengejar seseorang, kamu lupa mencintai dirimu sendiri."
Andara mengangguk pelan. "Aku akan berusaha, Bun."
Aira tersenyum, lalu memeluk putrinya erat. "Apa pun yang terjadi nanti, Bunda akan selalu ada di pihakmu. Bunda mungkin tidak selalu setuju dengan keputusanmu. Tapi Bunda akan selalu menjadi tempatmu pulang."
Andara membalas pelukan itu sambil terisak pelan. "Terima kasih, Bunda."
Aira mengecup puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Sekarang... boleh Bunda minta satu hal?"
"Apa?"
"Jangan bohong lagi cuma buat ketemu Kafa. Apalagi sampai mengada-ada bahwa kamu lagi sakit, nak."
Andara langsung tersenyum malu. "Iya, Bun."
"Janji?"
Andara menganggukkan kepala mantap. "Janji."
Mendengar jawaban itu, Aira tersenyum lega. Baginya, tak ada yang lebih penting selain melihat putrinya kembali tersenyum, meski ia tau perjalanan hati Andara masih akan panjang.
***
Jam dinding hampir menunjukkan pukul enam sore ketika sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah keluarga Malik yang megah.
Perjalanan pulang hari itu terasa begitu melelahkan. Kemacetan yang panjang membuat Azzam dan putra keduanya, Azra, baru tiba menjelang waktu Magrib.
Azra memang mulai ikut sang ayah ke perusahaan untuk belajar mengelola Malik Group. Selama ini ia lebih fokus mengejar mimpinya sebagai seorang penyanyi. Azzam tidak pernah memaksanya.
Baginya, setiap anak memiliki waktunya masing-masing. Perusahaan yang telah berdiri puluhan tahun itu memang kelak akan diwariskan kepada anak-anaknya. Sebuah perusahaan keluarga yang dibangun sejak masa kakek buyut Azzam dan terus berkembang hingga sekarang. Begitu turun dari mobil, keduanya disambut senyum hangat Aira yang telah menunggu di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Belum sempat Azzam melangkah masuk, ia sudah lebih dulu merangkul pinggang istrinya.
"Mas, capek ya?"
"Iya. Tapi capeknya langsung hilang begitu lihat kamu."
Aira hanya menggeleng geli. "Mas ini ada-ada aja."
Azzam terkekeh, lalu memeluk istrinya sebentar dengan penuh kasih sayang.
Di belakang mereka, Azra hanya bisa menghela napas panjang. "Halo... ada jomblo di sini, lho."
Azzam menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Abi kira tadi patung selamat datang."
"Abi..."
"Lagian kamu udah 24 tahun. Kapan cari jodoh?"
Azra mendengus pelan. "Biar Kak Kafa dulu, deh."
"Kok Kafa?"
"Ya masa aku duluan? Abi aja nikah umur dua puluh enam tahun."
Azzam mengangguk santai. "Iya, soalnya Abi nunggu Bunda kamu."
Ia menoleh pada Aira sambil tersenyum tipis. "Harus dipisahin lima tahun dulu baru dipertemuin lagi."
(Kisah Azzam dan Aira bisa kalian baca di buku aku yang berjudul: Penawar Luka Aira)
Pip!
Sebuah cubitan mendarat telak di lengan Azzam. "Aduh... sakit, Sayang."
"Rasain."
"Padahal lagi nostalgia."
"Makanya jangan godain terus."
Azra memijat pelipisnya sendiri. "Ya Allah... tiap hari begini terus."
Azzam malah tertawa. "Makanya cepet cari istri. Biar nanti nggak iri lihat Abi sama Bunda."
"Yang ada aku trauma."
"Trauma kenapa?"
"Setiap pulang rumah isinya pamer kemesraan."
Aira tak kuasa menahan tawanya. "Udah, jangan dikerjain terus anaknya."
Azzam masih tersenyum jahil. "Baik, Tuan Putri."
Aira kemudian mengingatkan suaminya. "Mas, udah mau Magrib. Mandi dulu, ya? Air hangatnya udah aku siapin."
Azzam mengangguk. "Iya, Sayang. Terima kasih."
Sebelum masuk ke dalam rumah, ia sempat mengecup singkat pipi Aira.
Cup!
Azra yang melihatnya langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. "Astaghfirullah... nasib jomblo."
Azzam terkekeh.
"Ya gimana ya, Abi punya tiga anak eh, tiga-tiganya masih jomblo."
Azra langsung menyahut cepat. "Ralat, Bi. Kak Kafa mah calon istrinya udah ada."
Azzam dan Aira saling berpandangan.
"Kok bisa?" tanya Azzam heran.
Azra menyeringai jahil. "Soalnya ada yang tiap hari ngejar-ngejar Kak Kafa."
Mendengar kalimat itu, Aira hanya menghela napas pelan.
Sementara Azzam mengernyit, merasa ada sesuatu yang belum ia ketahui. "Ada apa ini sebenarnya?"
"Andara, Bi."
Mendengar nama itu disebut, senyum di wajah Azzam perlahan memudar. Ia menggeleng pelan.
"Azra, jangan bicara seperti itu."
"Memang kenapa, Bi?"
"Mereka itu kakak dan adik."
Azra mengembuskan napas pelan.
"Tapi Andara memang suka sama Kak Kafa."
"Azra..." Nada suara Azzam terdengar lebih tegas dari sebelumnya. "Cukup."
Aira segera menengahi sebelum pembicaraan itu semakin panjang.
"Sudah, nanti saja ngobrolnya. Ini sudah mau Magrib."
Azra mengangguk. "Iya, Bun."
Tak ada lagi yang melanjutkan percakapan itu. Masing-masing memilih masuk ke dalam rumah untuk bersiap menunaikan salat Magrib.
Sebenarnya, Azra bukan satu-satunya yang mengetahui perasaan Andara kepada Kafa. Hampir seluruh anggota keluarga menyadarinya.
Andara tidak pernah pandai menyembunyikan perasaannya. Cara gadis itu memandang Kafa, mencari keberadaannya, hingga berbagai alasan yang ia buat hanya untuk bisa bertemu dengannya, sudah cukup menjadi jawaban.
Kalau mengikuti istilah anak muda sekarang, Andara benar-benar seorang cegil—cewek gila karena cinta.
Ia tidak malu mengakui perasaannya. Tidak gengsi mengejar laki-laki yang ia cintai. Bahkan sudah berkali-kali ditolak pun, Andara tetap datang dengan senyum yang sama, seolah yakin suatu hari nanti hati Kafa akan berubah.
Kadang sikapnya membuat semua orang gemas. Kadang juga membuat mereka khawatir. Karena cinta yang terlalu besar sering kali membuat seseorang lupa menjaga hatinya sendiri. Dan itulah yang paling ditakutkan keluarga mereka.
Bukan karena mereka membenci perasaan Andara. Melainkan karena mereka takut, jika pada akhirnya hati Kafa benar-benar tidak pernah berubah, maka Andara lah yang akan menanggung luka paling dalam.
***
Usai menunaikan salat Magrib berjamaah di musala rumah, keluarga itu berkumpul di ruang makan.
Aroma masakan yang telah disiapkan sejak sore memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat yang selalu mereka rindukan di tengah kesibukan masing-masing.
Seperti biasa, Azzam duduk di ujung meja makan. Di sebelahnya Aira, sementara Azra dan Andara duduk saling berhadapan.
Sebelum mulai makan, Azzam memimpin doa bersama.
"Selamat makan."
"Selamat makan, Bi."
Suasana makan malam berlangsung santai. Sesekali Azra menceritakan kegiatannya di kantor, sementara Aira menambahkan beberapa cerita tentang aktivitasnya di rumah.
Tak lama kemudian, Azzam menoleh kepada putri bungsunya.
"Gimana kuliah kamu hari ini, Sayang?"
Andara yang sedang menyendok nasi mengangkat wajahnya. "Alhamdulillah, lancar kok, Bi."
"Alhamdulillah." Azzam tersenyum bangga. "Semangat terus, ya. Jangan lupa putri Abi harus jaga kesehatan.
"Iya, Abiku sayang."
Beberapa detik suasana kembali dipenuhi suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Hingga akhirnya...
"Abi."
"Hm?"
Andara meletakkan sendoknya perlahan. "Tolong lamarin aku buat Kak Kafa."
Krek.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!