Matahari tenggelam begitu cepat, waktu terasa cepat berlalu. Langit malam diselimuti awan hitam pekat, sejak tadi langit terasa mendung dan ternyata malam ini hujan turun begitu deras hingga menelan setiap suara di sekitarnya.
Kilatan petir berkali-kali membelah langit, disusul dengan gemuruh Guntur yang menggetarkan udara, suaranya terdengar begitu keras.
Hujan deras membuat aktivitas malam berkurang, jalanan tanpa kosong, hanya lampu-lampu jalan yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang terasa begitu mengerikan.
Gadis remaja memakai seragam SMA putih abu-abu dengan coretan yang terlihat banyak di seragamnya, hijabnya tetap melekat meski sedikit berantakan karena harus berlari tanpa henti di hujan yang deras.
Nafasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, wajahnya panik, terlihat takut, hanya ingin berlari sekencang mungkin.
Di belakangnya...
Terdengar langkah kaki yang menggema di tengah derasnya hujan, ketakutan semakin menjadi-jadi.
Tap... tap... tap...
Tidak tergesa, namun terus mendekat, gadis remaja itu memberanikan diri untuk menoleh sesaat, yang terlihat hanyalah sosok pria dalam balutan kegelapan.
Wajahnya sama sekali tidak tampak terlihat. setiap kali petir menyambar cahaya hanya memperlihatkan siluet tubuhnya yang berdiri di balik tirai hujan, lalu kembali ditelan gelap.
"Astagfirullah....." lirihnya ketika ketakutan.
Tidak ingin mencari tahu sosok bayangan pria gagah tersebut membuat gadis remaja bernama Zena terus melanjutkan langkahnya, nafasnya semakin tidak stabil, rasa panik dan takut bercampur menjadi satu.
Langkah pria itu semakin cepat, entah apa tujuannya dalam malam kegelapan yang begitu sepi. Tetapi Zena masih bisa memperhatikan langkah pria itu tidak stabil.
"Ahhhhhh....." Zena tiba-tiba saja terjatuh dengan kedua lututnya menyentuh lantai.
Zena berbalik badan, sosok pria itu sudah begitu dekat dengannya.
"Jangan... jangan mendekat..."
Suaranya bergetar, nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan.
Tidak ada suara yang diperdengarkan dari sosok pria misterius, hanya Bagaimana pergerakan tubuhnya yang memegang kepalanya dan disaat itu Zena kembali bangkit berdiri, berusaha dengan semampunya, mengambil kesempatan pergi dari tempat itu.
Zena kembali berlari, berbelok ke sebuah gang sempit yang dipenuhi genangan air. Sandalnya beberapa kali tergelincir di jalan yang licin. Hampir saja ia jatuh, tetapi ia memaksakan diri bangkit dan terus berlari.
Zena berpikir dia sudah aman, tetapi ternyata seolah-olah ada jejak kaki yang ditinggalkan membuat sosok tersebut masih terus mengejarnya.
Kilatan petir kembali menyambar.
Kali ini bayangan pria itu jauh lebih dekat.
Begitu dekat hingga bayangannya memanjang di atas genangan air, seolah hendak menelan langkah Zena.
"Ya Allah, bagaimana ini?"
"Siapa dia?"
"Apa yang harus hamba lakukan?"
"Tolong lindungi hamba ya Allah,"
Panik menguasai seluruh pikirannya.
Di ujung gang, sebuah gedung tua yang telah lama terbengkalai berdiri angkuh dalam kegelapan.
Pintu kayunya terbuka sedikit, berayun pelan diterpa angin malam.
Tanpa pilihan lain, Zena menerobos masuk.
BRAKK!!!!!
Pintu kayu tua itu ia dorong hingga tertutup keras.
Tubuhnya bersandar pada pintu sambil menahan napas. Kedua tangannya gemetar hebat, bahkan Zena hampir tidak mampu berdiri.
Lalu...
Zena berharap tempat itu aman untuk berlindung dari sosok yang tidak terlihat tersebut.
Duk...
Sesuatu menghantam pintu dari luar.
Zena langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit, ketakutannya semakin bertambah
Duk... Duk...
Benturan berikutnya terdengar lebih keras.
Kayu tua itu bergetar pelan.
Air matanya mulai jatuh tanpa mampu ia tahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa memenuhi telinganya sendiri.
Zena merasa sudah tidak aman membuatnya, langsung mencari tempat persembunyianya, tetapi sungguh sial lagi-lagi tubuhnya terbentur meja yang ada di sana membuat Zena terjatuh.
Brukkk!!!!
Zena kaget dengan mata terbelalak, sosok pria yang dia hindari berhasil membuka pintu dan sekarang berdiri gagah di depan pintu tanpa wajah yang terlihat karena begitu gelap.
Zena menganggap memasuki gedung tua itu adalah tempat berlindung paling aman dan justru dia semakin terjebak.
"Siapa kamu?"
"Jangan mendekatiku pergi dari sini?"
Pria itu dia membisu, langkahnya yang pasti melangkah masuk. Zena semakin panik, lebih panik lagi ketika sosok tersebut berhasil menutup pintu, ruangan yang begitu gelap semakin membuatnya tidak bisa mencari tempat perlindungan, tetapi Zena masih berusaha untuk lari dengan mencoba berdiri.
Sayangnya tubuhnya terlalu lemah, membuatnya mengesot dan tiba-tiba saja kakinya tertarik.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan!"
Zena berusaha menendang sosok tersebut, dalam hitungan detik tiba-tiba saja tubuhnya ditindih, pelecehan mulai dia dapatkan dari sentuhan dengan kedua tangannya dicengkram begitu keras berada di sisi kiri dan kanan kepalanya.
"Tolong pergi!"
"Jangan menyentuhku!"
"Aku mohon pergi!" Zena berusaha menghindar dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, menghindari sosok laki-laki yang ingin menodai bibirnya.
Zena berusaha memberontak, tapi semakin memberontak justru hanya membuang tenaganya dan pria itu semakin gragas
Zena tidak tahu siapa orang yang melecehkannya, hanya bau alkohol yang tercampur dengan bau parfum yang begitu khas.
"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Benar-benar nasibnya, baru saja pulang menyelesaikan tugasnya, Zena terjebak dalam hujan deras, ada orang jahat yang mengikutinya, Zena pikir bisa menghindar dan mencari pertolongan dan tayang sekali, justru dia terjebak dan kehormatannya direnggut oleh orang yang tidak dikenal.
Zena hanya pasrah menerima nasibnya dengan kesuciannya telah direnggut secara paksa.
*********
3 Tahun Kemudian
Langit sore membentang cerah di atas kampus megah sebuah universitas ternama di luar negeri.
Bangunan-bangunan bergaya klasik anggun mengelilingi halaman luas yang dipenuhi dengan lautan toga hitam dan senyum penuh kebanggaan. hari ini adalah hari kelulusan dari perjuangan para mahasiswa dalam menempuh pendidikannya.
sorak-sorai menggema memenuhi seluruh Arya kampus.
"Three... two... one!"
dalam sekejap, puluhan mahasiswa, terutama para wanita yang mengenakan toga lengkap dengan selempang wisuda berwarna merah cerah, mengangkat topi toga mereka tinggi-tinggi.
Whoosh!
Topi topi toga berterbangan ke angkasa, berputar di udara sebelum membentuk pemandangan yang begitu indah di bawah cahaya matahari.
Tawa bahagia dan tepuk tangan saling bersahutan, sementara kilatan kamera terus mengabadikan momen yang hanya datang sekali seumur hidup.
Beberapa mahasiswa saling berpelukan dengan mata yang berkaca-kaca. ada yang tertawa lepas, ada pula yang menutup mulutnya, tak kuasa menahan harus setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi tugas, ujian, dan malam-malam panjang yang dipenuhi kerja keras untuk mendapatkan hasil terbaik.
Musik perayaan mengalun meriah mengiringi langkah para gagasan yang berjalan melintas halaman universitas. mereka saling berfoto di depan gedung utama, di bawah pepohonan rindang, hingga tanda-tanggal kampus yang selama ini menjadi saksi perjalanan mereka menuntut ilmu di negara orang.
Pada akhirnya hari itu dipenuhi tawa, harapan, dan impian. setiap senyum Yang terukir di wajah para lulus sekolah menjadi bukti bahwa seluruh perjuangan pengorbanan dan kerja keras mereka akhirnya berbuah manis.
Bersambung.....
...Hay para pembaca jangan lupa untuk membaca karya terbaru saya Noda Pernikahan Di Balik Cadar, terus ikuti dan baca dari bab 1 sampai bab akhir, sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya akan membuat saya semakin semangat....
...Jangan lupa untuk subscribe, like koment dan subscribe dan vote untuk sebanyak-banyaknya, terima kasih untuk para readers, salam cinta dari saya Author........
"Zena....."
Di antara gadis-gadis cantik yang merayakan kelulusan itu tampak salah satu gadis berhijab dilengkapi dengan cadar terpasang menutup wajahnya memperlihatkan mata indah yang terlihat itu tampak sosok senyum di balik cadarnya.
Ketika sepasang suami istri memanggil namanya dengan buket bunga yang begitu besar.
"Bunda, Ayah....." wanita itu tampak berlari menghampiri dua sosok yang sepertinya sejak tadi dia tunggu.
Zena kemudian langsung mencium punggung tangan kedua orang tersebut, hal yang dia lakukan berikutnya adalah memeluk sosok wanita yang juga berhijab.
"Bunda Ayah terima kasih sudah hadir pada kelulusan Zena," ucapnya begitu bahagia.
Selain mendapatkan IPK tinggi, gelar cumlaude, Zena juga mendapat hadiah besar yaitu kehadiran orang tuanya.
"Selamat. Nak, kamu sudah berjuang. Papa bangga sama kamu," ucap Faisal.
"Terima kasih Ayah," sahut Zena tersenyum.
Tampak haru dari kedua bola matanya, atas kehadiran kedua orang tuanya di hari yang paling penting dalam hidupnya.
*****
Setelah merayakan kelulusan bersama teman-temannya, berfoto, mengabadikan banyak momen di hari-hari kelulusan mereka.
Saat ini Zena menikmati waktu bersama kedua orang tuanya di salah satu restoran di pusat kota dengan makanan khas Turki yang sudah terhidang.
"Zena pikir, Bunda dan Ayah tidak akan datang, karena sebelumnya Bunda mengatakan Papa ada urusan keluar kota," ucap Zena tampak sedih sembari bolak-balik membuka sedikit cadarnya untuk memasukkan makanan itu.
"Ini sebuah prank dan sebenarnya kami hanya ingin memberi kamu surprise," sahut Faisal.
"Jahat sekali," ucapnya dengan nada suara terdengar cemberut.
"Ini sayang....." Amelia tiba-tiba saja memberikan paper bag berwarna biru pada Zena.
"Apa ini?" tanyanya
"Hadiah dari Samudra, Samudra bertugas di Jepang jadi tidak bisa datang di hari kelulusan kamu," ucap Amelia.
"Kak, Samudra repot sekali sampai-sampai harus memberikan hadiah kepada Zena," ucap Zena dengan mata berbinar sudah tidak sabar untuk melihat hadiah tersebut.
Tetapi sebaiknya tidak dibuka sekarang, Zena memilih untuk meletakkan paper bag tersebut di samping bangku kosong di sebelahnya.
"Samudra seperti biasa sangat sulit dihubungi, kalau sempat kamu bisa mengucapkan terima kasih kepadanya," sahut Faisal.
"Tetapi insyaallah, bulan depan, Samudra akan kembali ke Jakarta, sudah 4 bulan anak itu merantau terus," sahut Amelia demen menghela nafas.
"Itu sudah menjadi tugas Samudra. Itu resiko ketika menjadi bagian dari pemerintah," sahut Faisal.
Zena sejak tadi tidak berkomentar apapun dan tetap melanjutkan makannya. Zena merasa bersyukur mendapat hadiah yang begitu banyak di hari wisudanya.
"Zena, kamu akan ikut pulang bersama kami bukan?" tanya Amelia.
Zena mengangkat kepala, melihat serius ke Arab Amelia.
"Memang Bunda sudah menyiapkan apa untuk Zena di Jakarta?" tanya Zena.
"Menyiapkan jangan calon suami untuk kamu," jawab Amelia dengan enteng sampai-sampai membuat Zena tidak melanjutkan makannya.
"Bunda terus saja bercanda," sahut Zena masih tersenyum di balik cadarnya menganggap semua itu hanya lelucon.
"Bunda tidak bercanda Zena. Bunda dan Ayah kamu sudah membicarakan ini, ketika kamu lulus, kamu akan menikah dengan calon suami pilihan kami, mengingat sekarang ini banyak pria nakal, pria yang tidak pernah menghargai wanita dan kami ingin kamu bisa menikah dengan pria yang tepat agar kamu bahagia," ucap Amelia.
Suasana makan itu seketika menegangkan, ternyata pembicaraan itu benar-benar serius.
"Atau jangan-jangan kamu punya Pria idaman di Turki?" Faisal masih bisa bercanda untuk memastikan dari syarat kedua mata putrinya itu yang pasti kaget.
"Tidak. Ayah, selama menjalani pendidikan di Turki, Zena hanya fokus pada pendidikan dan tidak memikirkan untuk menikah, memiliki pasangan atau merencanakan hubungan yang lebih serius," jawab Zena.
"Bunda tahu, kamu memiliki banyak impian, tetapi menikah bukan berarti akan mengubur impian kamu, kami hanya ingin kamu tetap menjadi putri kami dan semua mimpi kamu tidak akan terkendala meski kamu sudah menikah, Zena kami sebagai orang tua melakukan semuanya demi kebaikan kamu," Amelia benar-benar serius menyampaikan keinginannya pada Zena.
"Kamu harus menikah dengan laki-laki yang tepat agar kami sebagai orang tua bisa tenang,"
"Jadi pulang ke rumah, ya. Nak!" ucap Amelia tampak begitu lembut.
"Insyaallah Bunda," sahut Zena tidak protes tetapi juga tidak ada jawaban pasti.
****
Meski sudah lulus, tetapi Zena belum bisa ikut pulang bersama orang tuanya yang pulang terlebih dahulu ke Indonesia. Zena harus menyelesaikan urusannya di Turki, dari mengambil ijazah dari kampusnya dan printilan-printilan lain yang pasti membutuhkan waktu.
Zena gadis cantik berusia 22 tahun, lulus dalam waktu yang sangat cepat, dengan gelar terbaik. Selama ini merantau ke negara lain untuk menempuh pendidikan, mencari pengalaman dan tinggal mandiri di salah satu apartemen yang disediakan orang tuanya.
Ketika mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara. Zena terlihat buru-buru memasuki kamarnya, tampak tidak sabar membuka hadiah tersebut.
Zena tampak begitu excited dalam melihat hadiah tersebut yang sudah tidak sabaran untuk dia lihat. Zena mengeluarkan isinya ternyata berupa pakaian yang berwarna biru, seperangkat pakaian lengkap dengan hijab dan juga cadarnya.
Zena terlihat begitu bahagia menempelkan pakaian tersebut pada tubuhnya, berdiri di depan cermin dan terlihat tidak sabaran ingin memakai pakaian tersebut.
"Kak Samudra ternyata sampai saat ini masih menghafal ukuran pakaianku," ucapnya tampak bahagia.
Tetapi tiba-tiba sorot matanya itu menghilangkan senyum di balik cadarnya. Zena ternyata mengingat bagaimana permintaan orang tuanya untuk dirinya kembali ke Jakarta dan akan menikah.
Entah mengapa semangatnya tiba-tiba saja hilang, Zena tiba-tiba saja merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
Sepertinya ada rasa keberatan, bahwa dirinya akan kembali ke Jakarta, tetapi ada juga janji yang telah terlanjur dia ucapkan. Zena benar-benar gundah.
******
1 Bulan Kemudian.
Matahari begitu cerah di pagi hari, dengan suara kicauan burung yang terdengar begitu indah. Siapapun yang menjalani aktivitas di pagi hari ini sudah pasti aktivitas itu penuh dengan ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa di ungkapkan.
Kediaman rumah mewah seketika itu sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas dan lampu taman yang menerangi jalan setapak menuju pintu utama.
Suara mesin mobil yang mereda menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tengah suasana yang tenang.
Pintu mobil terbuka, lalu seorang pria turun dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Ia mengenakan seragam Angkatan Laut yang rapi, setiap detail pakaiannya tampak terjaga sempurna.
Seragam putihnya memantulkan cahaya lampu, mempertegas sosoknya yang gagah dan berkarisma.
Pria itu berdiri sejenak di depan mobil, menatap rumah besar di hadapannya. Wajahnya tampan dengan sorot mata tajam, namun menyimpan ketenangan seorang pemimpin yang telah terbiasa menghadapi berbagai keadaan.
Rambutnya tertata rapi, bahunya tegap, dan caranya berjalan menunjukkan kedisiplinan seorang prajurit.
Langkahnya perlahan melewati halaman rumah.
Tidak ada keraguan dalam gerakannya, hanya ketenangan dan keyakinan. Setelah lama berada di lautan dan menjalankan tugas yang mengharuskannya jauh dari rumah, hari ini ia kembali membawa cerita, tanggung jawab, dan kerinduan yang selama ini ia simpan dalam diam.
Pintu besar rumah itu semakin dekat. Di balik ketegasan seorang perwira Angkatan Laut, ada seorang wanita yang juga memiliki sisi lembut dibalik cadar yang menutup wajahnya.
Bersambung .....
...Hay para pembaca jangan lupa untuk membaca karya terbaru saya Noda Pernikahan Di Balik Cadar, terus ikuti dan baca dari bab 1 sampai bab akhir, sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya akan membuat saya semakin semangat....
...Jangan lupa untuk subscribe, like koment dan subscribe dan vote untuk sebanyak-banyaknya, terima kasih untuk para readers, salam cinta dari saya Author........
Baru saja ingin mendorong kedua pintu besar itu, tiba-tiba saja sudah terbuka. Sosok wanita bercadar tampak berdiri, tatapan matanya terlihat kaget ketika melihat sosok pria tersebut.
"Assalamualaikum!" ucapnya begitu lembut ketika kepalanya sedikit menunduk.
"Kak Samudra," sahut Zena.
"Kamu apa kabar Zena?" tanya Samudra.
"Alhamdulillah, kak. Zena baik-baik saja," jawabnya dengan tersenyum menganggukkan kepala.
"Samudra kamu sudah kembali?" Samudra menoleh ke arah belakang Zena.
"Mama!" Samudra berlalu dari hadapan Zena dan kemudian berjalan menghampiri Amelia.
"Kamu sudah kembali. Nak," sahut Amelia.
"Alhamdulillah. Ma," sahut Samudra dengan tersenyum.
"Bunda, Zena kembali ke perpustakaan dulu. Assalamualaikum!" ucap Zena berpamitan.
"Walaikum salam," sahut Samudra dan Amelia.
Zena kemudian langsung pergi, keluar dari rumah tersebut.
"Samudra ayo temui Papa kamu," ajak Bunda.
"Baik Bunda," sahut Samudra dengan menganggukkan kepala dan kemudian mereka pergi.
*******
"Apa menikah!"
Samudra terbukti kaget saat ini duduk gagah di hadapan Amelia dan Faisal dengan situasi yang seketika menjadi tegak.
"Bagaimana mungkin Mama dan papa menikahkanku dengan Zena. Zena memang bukan adik kandung, tetapi bagaimanapun dia sudah dianggap anak di keluarga ini," sahut Samudra.
"Justru itu Samudra. Papa sudah berjanji pada ibu almarhum Zena, jika akan terus menjaga putri mereka yang sejak 8 tahun sudah tinggal bersama kita, jangan sekarang banyak laki-laki yang tidak dapat dipercaya, Papa takut Zena mendapat pasangan hidup yang tidak tepat, kamu sudah pasti tidak akan mungkin menyakiti Zena dan hanya kamu yang bisa membahagiakannya dan menjaganya ketika Bunda dan Papa sudah tidak ada lagi," ucap Faisal.
"Pa, ini tetap tidak masuk akal. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, harus ada Perjodohan dan terlebih lagi Zena dan aku bagaimanapun adalah saudara, meski tidak ada ikatan darah di antara kami," tegas Samudra.
"Kamu keberatan hanya karena Zena merupakan adik angkat kamu atau karena wanita itu?" tanya Amelia.
"Apalagi maksud Mama?" tanya Samudra dengan mengayun suaranya.
"Mama melihat berita beberapa waktu belakangan ini bagaimana kamu terlibat hubungan dengan salah satu selebritis. Ariana, dan sudah pasti hubungan kalian serius dan yang membuat kamu tiba-tiba saja mempertimbangkan perjodohan ini dengan alasan yang tidak masuk akal," sahut Amelia.
"Samudra, Zena adalah gadis yang baik, fasih membaca Alquran, ibadahnya benar-benar terjamin, sejak usia dini sudah belajar agama, menutup aurat sejak remaja dan sampai saat ini Zena menggunakan cadar, pendidikannya tinggi, apa yang membuat kamu ragu untuk tidak mempersuntingnya sebagai istri dan sementara selebriti yang bernama Ariana yang terus mengumbar aurat di mana-mana, hidup terus terekspos dengan privasi yang tidak tersimpan, kedekatan kamu dengan wanita itu hanya membuat dosa dan kamu juga lama-lama bisa terjerumus," ucap Amelia.
"Kenap Bunda sekarang harus membandingkan orang lain dengan Zena. Semua wanita di dunia ini tidak ada yang sempurna dan bukan berarti Ariana yang terlihat seperti itu sudah pasti buruk di dalamnya," sahut Samudra.
"Bisa-bisanya kamu membela wanita itu di hadapan Mama," Amelia justru semakin kesal mendengar pengakuan putranya yang membela wanita lain.
"Sudahlah Samudra tidak perlu ada pertengkaran seperti ini. Kami sebagai orang tua melakukan yang terbaik dan ini juga demi kebaikan kamu dan Zena, jadi tolong hargai keputusan kami sebagai orang tua," ucap Faisal sepertinya tidak menginginkan protes apapun.
Samudra yang adanya semakin pusing pulang-pulang ke rumah orang tuanya dan tiba-tiba saja sudah dijodohkan dengan adik angkatnya.
Kedua orang tua Zena meninggal di saat usianya masih 8 tahun dan saat itu terjadi kecelakaan mobil. Zena masih selamat dalam kecelakaan itu dan tidak memiliki siapa-siapa. Orang tua Samudra merupakan sahabat dekat dari kedua orang tua Zena untuk menganggap Zena sebagai putri mereka.
Masa kecil bisa dikatakan dihabiskan bersama dengan Samudra. Karena pada saat itu Samudra masih menempuh pendidikan pertamanya di Jakarta, tetapi ketika menyelesaikan sekolahnya, Samudra melanjutkan SMA di Singapura.
Banyak momen remaja yang terlewatkan Zena bersama dengan Samudra dan apalagi ketika keduanya sudah sama-sama dewasa, bahkan mereka juga sempat tidak bertemu selama beberapa tahun karena Zena menempuh pendidikan di luar negeri. Waktu tidak pernah bertepatan karena kesibukan Samudra yang berada di angkatan Laut.
******
"Bunda ingin Zena menikah dengan kak Samudra?" tanya Zena saat ini berada di dalam kamarnya dan diajak berbicara berduaan dengan Amelia.
Wajah cantik itu harus terlihat karena keadaan yang dilepas.
"Benar. Zena," jawab Amelia menggenggam tangan Zena.
"Tetapi, bukankah kami adalah saudara dan bagaimana dalam hubungannya Kak Samudra dengan wanita yang belakangan ini terdengar?" tanyanya.
"Samudra tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain, Samudra laki-laki yang tepat untuk menjadi suami kamu. Seperti apa yang Bunda katakan waktu itu, ketika menikah kamu masih bisa melanjutkan karir dan lagi pula kamu mengetahui sendiri Samudra sering bertugas di luar kota dan luar negeri dan jarang pulang. Jadi sudah pasti kamu tidak akan terganggu dengan karir kamu dan Samudra juga akan mendukung kamu,"
"Tetapi Bunda..."
"Zena kami sangat menyayangi kamu dan selalu ingin bertanggung jawab kepada kamu, kami ingin kamu menikah dengan laki-laki yang tepat, putra kandung kami tidak mungkin menyakiti kamu karena jika beliau melakukan itu sudah pasti sama saja menyakiti kami sebagai orang tuanya. Jadi tolong jangan tolak pernikahan ini, Bunda dan Ayah melakukan semua ini demi kebahagiaan kamu!" pinta Amelia membuat Zena hanya terdiam.
******
Zena dan Samudera sama-sama berjalan di belakang rumah dengan langkah keduanya tampak pelan dengan saling beriringan.
"Sudah pasti kita sama-sama kaget dengan apa yang direncanakan oleh Bunda dan Ayah memang aneh, tapi apa yang bisa kita lakukan," sahut Samudra tampak begitu pasrah dengan mengangkat kedua bahunya.
"Maaf kak Samudra. Zena juga tidak tahu jika laki-laki yang dijodohkan kepada Zena tak lain adalah Kakak. Setelah kelulusan, Zena diperintahkan pulang oleh bunda dan ayah dan setelah itu Zena akan menikah dengan laki-laki pilihan mereka dan jujur Zena kaget jika sebenarnya itu adalah Kakak," ucap Zena tampak begitu takut.
Samudera menghentikan langkahnya dan menghadap Zena.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, saya tahu kamu bahkan sama seperti saya, sama-sama tidak punya pilihan lain dan mau tidak mau harus menuruti permintaan kedua orang tua kita, entah ini demi kebaikan kita berdua atau justru kebaikan mereka," sahut Samudra.
"Tetapi saya adalah seorang angkatan laut, kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaan saya, tugas yang diberikan kepada saya tidak bisa stand by 24 jam untuk menjadi suami, tidak bisa ada satu hari di rumah, satu minggu bahkan saya harus kembali 3 bulan sekali, 6 bulan sekali dan mungkin bisa bertugas sampai 1 tahun," ucap Samudra menyampaikan semua bagaimana resiko jika seseorang menikah dengannya dan sudah pasti Zena mengetahui hal itu.
"Zena paham itu, tapi sebelum kita menikah ada sesuatu hal penting yang ingin Zena sampaikan kepada Kakak," ucapnya seketika deg-degan dengan kedua tangannya yang saling memencet.
"Katakan Zena," sahut Samudera
Dibalik cadar itu tempat terlihat kegugupan dari sorot matanya yang indah. Samudera benar-benar menunggu.
Bersambung.......
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!