"Ayah... Tunggu! Tika benerin dulu dasinya. Aduh gini amat nasib single parent"
"Ngomong nya. Awas tidak Ayah kasih uang saku lho."
"Kalau tidak di kasih Tika minta sama Oma. Weeek." Oma Indira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putra dan cucu semata wayangnya itu.
"Lha, kalau seperti itu Daddyi pasrah deh." Aldri berpura-pura sedih.
"adudududu kasihan deh Ayah Tika, nih. Sini Tika peluk." Antika memeluk tubuh Aldri dan mencium pipinya. Aldri tersenyum dan mencium pipi Antika.
Aldri memandang wajah putri angkatnya yang sangat cantik ketika tersenyum, terlihat jelas lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Sejak memasuki usia remaja Antika semakin mirip dengan sosok almarhumah ibunya. Wanita yang sangat dicintai Aldri, akan tetapi tak mampu ia miliki.
Terkadang timbul rasa aneh yang menjalar di hati Andri. Hatinya terasa berdebar tatkala memandang gadis mungil itu apalagi ketika Antika memeluknya. Kilasan wajah wanita yang ia cintai selalu melintas ketika Putri angkatnya itu bermanja padanya.
Aldri berusaha menepis jauh rasa itu. Ia sama sekali tak pantas memiliki rasa terhadap putrinya sendiri meskipun Antika bukan darah dagingnya. Ia menghela nafas dan menggelengkan kepala sambil memasang sepatu kerjanya.
"Oh iya, Yah. Di sekolah Tika ada murid baru lho! Cowok guanteng buanget pokoknya dah. Dia pindahan dari kota Jakarta. Selain dia ganteng nya kebangetan dia juga pinter olahraga dan....."
"Cukup, Tika. Ayah tidak mau dengar Tika bicara tentang anak laki - laki sampai Tika cukup umur." Aldri berdiri lalu pamit kepada ibunya untuk berangkat ke kantor. Ia mencium kening sang ibu dan putrinya. Kemudian ia meninggalkan Antika yang masih terbengong mendapatkan reaksi Ayahnya.
Antika menoleh pada Oma nya. Indira hanya bisa tersenyum manis.
"Oma, Ayah kenapa sih?" Antika berjalan mendekati sang Oma yang masih berkutat di meja makan.
Hari ini Antika libur sekolah karena para dewan guru sedang rapat. Ia berjanji pada Oma nya akan membantu pekerjaan rumah.
Indira membelai sayang rambut lurus Antika. "Cucu Oma tersayang, jangan terlalu di ambil hati kata - kata Ayah mu. Ayah mu hanya khawatir saja. Itu hal yang wajar, kan, seorang Ayah mengkhawatirkan putrinya? Apalagi masalah percintaan."
"idih, Oma apaan, sih? Siapa bilang Tika jatuh cinta. Orang Tika cuma kagum aja kok, gak lebih. Lagian, nih ya Tika tuh masih belum kenal juga sama anaknya." Antika mengomel ngomel sambil memanyunkan bibirnya.
Di sisi lain Aldri yang sedang mengendarai mobil menuju ke perusahaan miliknya merasa sangat bersalah atas sikap nya tadi. Ia berusaha menenangkan diri ketika sampai di kantor nya.
Sejak kehadiran Antika kehidupan Aldri sangat bergelimang harta. Perusahaan yang di rintis nya sangat maju pesat. Ia menjadi salah satu sosok konglomerat dengan gelar pria mapan dan lajang yang menjadi incaran para wanita. Tak terkecuali wanita - wanita seksi yang menjadi karyawan dan rekan bisnisnya saat ini.
Aldri memandang foto Antika yang terpajang di meja. Gadis itu tampak ceria dengan senyum khas lesung pipinya. Ia memakai seragam putih abu-abu dan rambutnya tergerai indah. Setengah tahun lagi gadis berhidung mancung itu akan lulus sekolah.
"Tidak terasa 18 tahun sudah berlalu. Padahal seolah baru kemarin aku mendengar tangisan bayi perempuan di rumah sakit. Haaah. Ada apa dengan ku? Kenapa aku begitu marah saat mendengar cerita Tika tentang cowok idola nya? Apa aku ini sudah edan karena menganggap Tika sebagai Tiara, ibunya? Huft..."
Aldri bersandar di punggung kursi kerja nya. Ia menengadah dan menghela nafas. Tangan nya memijat pelipisnya. Batin nya berkecamuk mencoba memahami perasaan nya saat ini.
Beberapa bulan telah berlalu. Antika ternyata telah merajut kasih dengan pemuda pindahan yang pernah ia ceritakan pada Ayahnya.
Sejak Antika menyatakan hubungan nya kepada Aldri, pria itu menjadi semakin protektif dan mudah sekali marah. Alih-alih tidak ingin Antika mengalami hal serupa seperti ibunya, yang ditinggal kan begitu saja oleh laki - laki yang menghamilinya. Namun, alasan yang lebih kuat adalah rasa sakit ketika mendengar Antika telah jatuh cinta.
***
"Cukup, Tika! Masuk kamar mu sekarang juga! Suara Aldri menggema di ruang makan rumah nya.
Antika dan Ibu Aldri sangat terkejut mendengar bentakan tersebut. Pasalnya, seorang Aldri Vigoro belum pernah sekalipun marah yang berlebihan apalagi sampai membentak. Antika merasa panik dan ketakutan. Gadis itu langsung menuju kamar nya.
Aldri meremas rambutnya dengan kedua tangannya lalu mengusap wajah nya dengan kasar. Kedua tangannya mengepal mencoba untuk meredam emosi yang meluap-luap tak terkendali.
Setelah beberapa menit Aldri mulai menyadari kekhilafan nya. Ia memandang sang ibu yang masih setia di tempat duduknya.
Ibu Aldri tersenyum. Wanita penyabar itu sangat memahami amarah yang di tunjukkan Aldri adalah wujud dari perhatian dan bentuk kasih sayang putranya terhadap cucu nya.
"Temui dia, Nak! Bicara kan baik- baik. Ibu yakin dia akan mengerti. Saat ini kalian hanya sedang salah faham. Jangan sampai karena masalah dengan orang luar membuat kehangatan keluarga ini menjadi canggung."
Aldri mengangguk. Ia mengecup kening ibunya. Aldri bersyukur memiliki seorang ibu yang sabar, tegar dan lemah lembut. Wanita itu selalu menjadi sosok teladan baginya. Aldri melangkah kan kakinya menuju kamar Antika. Ia mengetuk pelan pintu kamar putri angkatnya itu. Namun, sama sekali tak ada jawaban dari dalam kamar.
Aldri merasa menyesal telah membentak putri nya. Ia bahkan tidak berhak mengatur masa depan nya. Gadis itu bisa melakukan apapun yang dia inginkan asalkan dirinya bahagia. Aldri menghembuskan nafasnya dengan berat menyesali semua yang telah terjadi.
"Tika, ini Ayah, sayang. Ayah minta maaf. Tadi Ayah sudah berkata kasar pada Tika. Tika buka pintu nya,, sayang. Ayah mau bicara dengan Tika."
Beberapa menit menunggu tak juga ada balasan dari Antika, Aldri memutuskan membuka pintu kamar nya. Betapa terkejutnya Aldri mendapati ruang kamar putri nya yang kosong.
"Bu, ibu, dimana Tika?"
Ibu Aldri bergegas mendatangi putranya. "Kenapa, Al? Tadi ibu lihat Tika masuk kamar loh. Kok tidak ada? Duh Gusti... ke mana anak itu malam-malam begini? Al, cepat cari dia sekarang juga! Cepat, Nak! Ibu khawatir terjadi apa-apa sama dia"
Aldri mengangguk dan bergegas keluar rumah mengendarai mobilnya. Aldri sangat yakin gadis itu tidak akan jauh dari rumahnya karena pertengkaran mereka masih belum lama. Setelah beberapa saat berkeliling tak dapat hasil. Akhir nya, Aldri menyerah.
"kemana kamu, Tika? Sudah malam begini."
Di tempat lain.
Antika melangkah perlahan, bola matanya menyisiri sekitar taman sekolah. Ia berjanji untuk berjumpa dengan sang kekasih di sekolahnya setelah mereka berbicara melalui WhatsApp. Sebuah pelukan dari belakang mengagetkannya. Ia pun tersenyum. Namun, ada sesuatu yang aneh. Aroma rokok mengelua menusuk hidung sang gadis. Ia mulai curiga bahwa yang memeluknya saat ini bukanlah sang kekasih. Kepala nya hendak menoleh ke belakang. Tapi tiba-tiba.....
Sebuah tangan membekap mulut Antika dan menyumpalnya dengan sapu tangan. Tangan yang lain mengunci kedua tangan gadis itu dibalik pinggangnya. Gadis itu berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi tenaga orang tersebut lebih kuat berkali lipat. Bulu kuduk Antika meremang. Rasa panik mulai menjalani dirinya. Mencoba untuk berteriak pun sia-sia. Suara nya tertutup sumbat sapu tangan.
Antika meronta sekuat tenaga. Kedua kakinya dihentak-hentakan. Salah satu kaki itu mencoba menendang ke belakang. Ia berharap dapat membuat si b******* kesakitan. Namun semua usaha yang ia lakukan berakhir sia-sia hanya semakin menguras tenaga Antika.
Embusan nafas orang yang diyakini Antika sebagai laki-laki itu mulai memburu. Gadis itu mulai ketakutan. Laki - laki yang membekapnya saat ini semakin memperkuat kuncian tangannya. Antika mulai menyesali diri karena tidak mau mendengar nasihat Ayahnya. Ia terlalu egois sehingga tidak dapat memahami rasa sayang dan khawatir yang ditunjukkan sang Ayah kepadanya.
Tangan Antika yang terkunci diikat menggunakan tali. Gadis mungil itu tetap berusaha berteriak dan memberontak, tapi semua yang ia lakukan tiada hasil.
Tubuh nya diseret ke sebuah gudang di belakang sekolah. Bau apek dan debu berbaur menjadi satu. Ruangan yang gelap semakin menakutkan Antika. Air mata nya meluncur deras berpacu dengan detak jantung yang semakin kencang. Tubuh nya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Ia berdoa semoga semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi. Hingga ia tersadar semuanya nyata adanya ketika tangan laki-laki jahanam itu mulai bergerilya menjamah tubuh Antika.
Antika meraung berharap akan ada seseorang yang datang menolongnya. Namun, semua harapan itu hancur ketika ia merasakan kesakitan luar biasa tepat di alat vitalnya. Laki - laki biadab itu merudapaksa Antika berulang kali hingga gadis itu kehilangan kesadaran.
Aldri mencoba mengingat-ingat ke mana kiranya Antika akan pergi ketika gadis itu sedih atau marah. Bahkan Aldri tidak bisa mengingat Karena semua itu belum pernah terjadi sebelumnya. Perasaan Aldri kembali dirundung rasa bersalah dan penyesalan yang amat sangat.
Aldri mencoba menyisiri semua tempat yang pernah mereka kunjungi bersama tetap saja tanpa hasil. Aldri mulai dilanda rasa khawatir. Waktu telah menunjukkan tengah malam.
Aldri menepikan mobilnya. Ia membenturkan keningnya beberapa kali ke setir mobil. Rasa frustasi mulai melandanya. Ia teringat pertama kali mengetahui kehamilan sahabatnya, ibu Antika saat itu di taman dekat sekolah. Aldri segera membanting setir menuju ke arah sekolah Antika.
"Ya Allah perasaan apa ini? Semoga kamu tidak apa-apa, sayang."
Aldri terus melaju ke sekolah Antika. Aldri bergegas keluar dari mobil menuju taman belakang sekolah yang selalu menjadi tempat favorit putrinya itu.
Antika yang baru sadar dari pingsan merasakan seluruh badannya remuk redam. Seluruh tenaganya seakan-akan terkuras habis tak bersisa. Dengan badan yang lemas dan gemetar Antika mencoba keluar dari gudang sekolah. Tangan dan mulutnya sudah tak lagi diikat dan tersumpal.
Dengan langkah gontai dan terseok-seok, Antika menuju ke taman sekolah. Gadis yang malang itu meraba pohon besar yang ada di tengah taman. Ia meringkuk bersembunyi di dalam akar pohon besar tersebut yang menyerupai sebuah gua kecil. Antika mulai terisak-isak mengingat semua kejadian yang baru saja ia alami. Sekujur tubuhnya menggigil. Kedua tangannya memeluk lutut. Ia membenamkan wajahnya ke lutut diiringi isak tangis.
Aldri yang tiba sesaat setelah Antika meringkuk di bawah pohon bergegas mengelilingi taman. Ia tak dapat menemukan siapapun juga. Lampu taman yang sedikit redup semakin menyulitkan untuk melihat suasana sekitar hingga ia samar-samar mendengar suara tangis seseorang.
Aldri berjalan perlahan mendekati sumber suara. Suara itu semakin dekat ketika ia berada di sekitar akar pohon besar yang rindang di tengah taman sekolah tersebut. Aldri membungkuk dan mencoba memastikan apakah itu benar Antika. Saat ia melihat gaun yang dikenakan gadis yang menangis itu dirinya sangat yakin bahwa gadis itu adalah Antika.
"Tika..." suara Aldri sangat pelan. Ia mengelus lembut kepala Antika.
"Aaaaarghhh......jangaaaaaan!" Aldri sangat terkejut ketika mendapati reaksi Antika. Seketika gadis itu menjerit lalu jatuh pingsan.
Aldri yang panik segera menggendong putrinya dan membawanya ke mobil melalui pintu belakang sekolah. Ia bergegas membawa Antika pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan Aldri terus menutupi dirinya Karena lalai menjaga Antika. Ia pun menyesali diri sendiri karena membentak Antika sehingga gadis itu memilih kabur dari rumah.
~ Ya Allah, kalau sampai terjadi apa-apa padanya bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan kepada almarhumah sahabatku? Semua ini adalah salahku. Aku sudah teledor. Aku yang tidak becus menjaganya. Aku yang tidak bisa mengontrol emosiku.~
Indira merasa sangat cemas. Tubuh nya dari tadi mondar-mandir menunggu kedatangan putranya di depan rumah.
Sesampainya di rumah Aldri langsung menggendong Antika.
" Aldri apa yang terjadi, Nak?" ibu Aldri sangat terkejut mendapati cucu angkatnya yang pingsan dalam gendongan putra semata wayangnya. Ia pun melihat darah pada rok yang dikenakan Antika.
"Saya juga tidak tahu, Bu. Bu tolong panggil dokter segera!"
"i- iya, Nak." Sang ibu bergegas melaksanakan titah putra nya.
"Tika, bangun sayang. ini Ayah, Nak." Aldri menepuk pelan pipi Antika, tapi tidak ada reaksi apapun juga.
Beberapa saat kemudian dokter vino yang biasa menangani kesehatan keluarga Aldri tiba. Dokter sekaligus sahabat SMA-nya. Ia pun memeriksa kondisi Antika.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan prediksi awal, dokter tersebut menyatakan bahwa kemungkinan terbesar Antika telah menjadi korban kekerasan seksual.
Aldri dan ibunya merasa sangat sok mendengarnya. Ibu Aldri terduduk lemas. Tangan Aldri mengepal dan buku-buku tangannya memerah.
"Brengsek! Bajingan! Siapa yang berani menyentuh Antika ku? Aargh!" Aldri memukulkan tangannya ke dinding sangat keras hingga darah mengucur di tangannya.
"ALDRI!" ibu Aldri dan Vino pun teriak bersamaan karena terkejut.
"Al, sabar, Nak." ibu Aldri mencoba menenangkan meskipun air matanya tak dapat ia sembunyikan.
Setelah mengobati luka di tangan sahabatnya, Aldri. Dokter Vino memberikan saran agar masalah ini segera dilaporkan ke pihak berwenang.
Namun, Aldri menolak keras karena ia tidak ingin masalah ini diketahui oleh khalayak ramai. Ia tidak ingin Putri angkatnya merasa malu dan menjadi bahan perbincangan setiap orang. Ia akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.
Meskipun pada mulanya sang dokter tidak setuju. Pada akhirnya dia memahami penjelasan dari sang sahabat dan menyetujui untuk menyimpan rahasia tersebut.
"Ga-ra, ma-na, Gara? Jangan! To- long lepas kan, Tika." Antika menggigil dan mengigau. Badannya demam dan panasnya cukup tinggi.
"Tika! Tika ini Ayah, sayang. Kamu kenapa?"
Aldri yang selalu menemani Antika bergegas mendekat. Aldri menggenggam erat tangan Antika. Ia merasa amarahnya memuncak dan sudah melampaui batas. Dirinya sudah tidak tahan lagi melihat kondisi Antika. Tubuh nya berdiri dan bergegas pergi, tapi ibunya menahannya.
"Al, Kamu mau ke mana, Nak? Ini masih jam 04.00 subuh."
" Ibu, Saya tidak tahan lagi! Saya akan menemui bajingan tengik itu!"
"Nak, ibu tahu kamu sedang emosi, tapi ingat saat ini Antika yang lebih utama. Kalau ada apa-apa bagaimana? Ibu hanya sendirian di rumah."
Aldri menghembuskan nafas kasar. Dirinya sangat frustrasi karena tidak dapat berbuat apa-apa saat ini. Namun, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Aldri menundukkan dirinya kembali ke salah satu kursi di kamar Antika. Ia menunduk menutup matanya dan mengepalkan kedua tangannya.
~ Sialan! Benar benar sialan! Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang anak muda. Kamu sudah menghancurkan kebahagiaan gadis yang sangat penting dalam hidupku. Brengsek!~
" Cucu ku yang malang. Duh Gusti.... kenapa harus seperti ini?" ibu Aldri menitikkan air matanya.
"Maaf, Bu. Ini semua salahku."
"Sudah lah, Nak. Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua sudah takdir. Saat ini yang terpenting adalah kesembuhan Antika. Yang sabar ya, Nak. Kamu harus kuat, Al."
Aldri hanya mengangguk pasrah. Ia menyadari semua yang dikatakan ibunya benar adanya. Saat ini ia harus fokus pada kondisi fisik dan psikis Antika. Hal yang justru semakin membuat hatinya nelangsa adalah menyaksikan Antika mengalami sakit seperti saat ini. Seumur hidup gadis itu sangat jarang mendapatkan sakit hingga mengigau dan demam tinggi.
Antika mengalami demam selama 3 hari berturut-turut. Dokter selalu datang setiap hari untuk memastikan dan mengecek kondisi gadis itu. Selama itu juga gadis itu dalam kondisi setengah sadar dan tertidur setelah mendapatkan pengobatan. Dalam keadaan tidak sadarnya. Antika selalu mengigau hal yang sama. Kalimat serupa ketika pertama kali Aldri dan ibunya mendengar dari bibir gadis itu.
Aldri menyewa seseorang untuk menyelidiki permasalahan Antika. Ia meminta informasi keberadaan kekasih putrinya. Aldri memastikan bahwa pemuda itu pasti akan mendapatkan ganjaran. Selama 3 hari ini dirinya lebih memilih fokus merawat Antika dan sama sekali tidak memperdulikan masalah lainnya termasuk pekerjaannya.
Tepat di hari ketiga Atika mulai sadar sepenuhnya. Kondisi fisiknya masih sangat lemah. Matanya mulai menyusuri tempatnya berbaring saat ini. Ia mengenal jelas tempat saat ini adalah kamarnya. Ia mencoba mengingat perlahan. Ketika kesadaran itu datang dengan sempurna, gadis itu mendadak histeris.
Teriakan Antika membuat Aldri dan ibunya terkejut. Sesaat setelah melihat keduanya gadis itu kembali tak sadarkan diri.
"Tika!" Aldri dan ibunya pun panik.
Hari berikutnya ketika Antika sadar dan mendapati Aldri dan ibunya panik.
Hari berikutnya ketika ketika sadar dan mendapati Aldri berada di sampingnya ia merasakan ketakutan yang sangat luar biasa.
"Jangaaan! Pergiiii! Aargh!" Antika menjambak-jambakan rambutnya dan kembali tak sadarkan diri.
Kejadian serupa itu selalu terulang setiap kali Aldri muncul di hadapan Antika. Gadis itu berteriak ketakutan dan jatuh pingsan. Dokter menjelaskan salah satu alasannya karena trauma yang dialami gadis itu. Meskipun Aldri mencoba perlahan-lahan mendekati putrinya itu selalu saja berakhir dengan ketakutan.
Aldri menyimpulkan bahwa keberadaannya di sekitar Antika membuat gadis itu ketakutan. Ia menyerahkan sepenuhnya perawatan Antika kepada ibunya. Ia mencoba sebisa mungkin tidak muncul ketika Antika sadar.
Secara perlahan-lahan intensitas pingsan Antika pun berkurang. Gadis itu sudah mau keluar kamar meskipun kadang tiba-tiba saja berteriak dan marah-marah sampai membanting barang-barang. Pernah juga ia menangis di bawah kucuran air kamar mandi dan berteriak hingga pingsan.
Aldri dan ibunya sangat sabar menghadapi semua keadaan Antika. Setidaknya usaha itu tidak sia-sia. Antika mulai mau makan sendiri dan menjawab pertanyaan dari Omanya. Itu merupakan kemajuan luar biasa setelah tiga pekan berlalu.
Antika mulai mengalami mual-mual setiap makan. Kondisi itu membuat Aldri khawatir hingga ia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Dokter sekaligus sahabatnya menyatakan bahwa putrinya itu kini sedang hamil.
"Apaaaa!" Aldri dan ibunya sangat syok mendengar berita yang baru saja disampaikan dokter tersebut. Badan Aldri langsung luruh dan terduduk lemas di sofa rumahnya.
Lagi. Hal itu terjadi lagi. Wanita yang sangat aku sayangi harus menanggung aib.
Kali ini Aldri benar-benar memutuskan untuk pergi menemui kekasih Antika di rumahnya. Bukan untuk meminta pertanggungjawaban pemuda itu, sama sekali tidak! Akan tetapi, untuk memberikan pelajaran berharga kepada bajingan tengik itu. Aldri datang dengan tatapan dingin, tapi hatinya panas berkobar.
Aldri menggedor-gedor pintu rumah pemuda itu dengan kencang. Namun, sama sekali tidak ada jawaban. Amarah Aldri semakin menjadi ia memperkeras gedoran di pintu, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Setelah lama menunggu Aldri hilang kesabaran. Ia menendang keras pintu tersebut. Hal yang membuatnya semakin muak saat bergegas pulang salah seorang tetangga menyatakan bahwa Anggara dan keluarganya tidak berada di rumahnya sejak tiga pekan lalu.
"Brengsek. Ternyata Kamu benar seorang bajingan Anggara. Lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang. Kemana pun kamu pergi jangan berharap bisa sembunyi dariku." Aldri memukul setir mobil karena tak dapat meluapkan emosinya.
Aldri menjelaskan semua yang terjadi pada ibunya. Tanpa mereka sadari Antika mendengar percakapan keduanya. Gadis itu menjadi talak dan depresi. Ia berlari keluar dari rumah. Satpam yang melihatnya berteriak mencegah kepergian Antika, tapi gadis itu menggigit tangannya.
Aldri yang mendengarkan teriakan itu pun bergegas keluar dan mengejar Antika.
"Tika berhenti!"
Antika sama sekali tak peduli ia terus berlari kencang menuju ke salah satu jembatan. Tak ada rasa takut dalam dirinya yang ada hanya amarah dan kesedihan hingga membuatnya terjun bebas.
"TIDAAAK! TIKAAA!"
Beberapa warga berdatangan setelah mendengar jeritan Aldri. Mereka berkerumun memandang Aldri yang terduduk lemas berpegangan pada besi jembatan. Salah satu warga mencoba menenangkan.
Sirine ambulans berbunyi nyaring. Mobil serba putih itu datang setelah beberapa warga melaporkan kejadian yang menimpa Antika. Petugas paramedis membantu proses evakuasi tubuh Antika.
Suatu keberuntungan karena tubuh gadis 18 tahun itu masih bernafas meski lemah dan tak sadarkan diri.
Aldri berada di dalam ambulans bersama Antika. Pria jangkung itu menangis sambil memeluk erat tubuh Putri angkatnya yang bersimbah darah. Dirinya tak pernah menyangka akan ada peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupannya. Beberapa bulan lalu hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Namun, kini dalam sekejap mata semuanya terasa hancur musnah tanpa sisa.
Tika, bertahanlah, sayang! Tolong jangan tinggalkan Ayah. Maafkan Ayah, sayang."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu lama. Aldri tak mampu menutupi rasa cemasnya. Ia sama sekali tak peduli dengan keberadaan orang di sekitar nya. Tangisotak henti beriringan dengan bunyi sirine.
Ambulans tiba langsung di sambut oleh beberapa paramedis. Mereka dengan sigap menangani Antika. Aldri tak lagi di izinkan mengikuti mereka ke ruang penanganan.
Aldri masih shock, bahkan sisa air mata masih terlihat jelas di kedua pipinya. Namun, dia berusaha menguatkan diri dan tetap tenang. Tangan nya mencoba menekan angka di ponselnya.
"Assalamualaikum, Ibu."
"Aldri, Masha Allah, Nak. Bagaimana Antika? Ibu cemas sekali. Tubuh tua ibu ini tidak mampu mengejar kalian."
"Begini Ibu...." Aldri pun menjelaskan semua kejadian yang menimpa Antika.
Ibu Aldri yang shock terduduk lemas di sofa ruang tamu nya. Bulir air mata mengalir di kedua pipinya yang mulai muncul garis keriput. Ia tak menyangka semua akan menjadi seperti itu kejadian nya. Setelah berusaha menenangkan diri, ibu Aldri meraih tasnya dan beranjak pergi menyusul Aldri ke rumah sakit.
Aldri mencoba duduk di deretan kursi tunggu. Tangan nya meraih rambut dan meremas nya frustasi. Dokter yang menangani kondisi Antika belum juga keluar. Beribu doa dan istighfar ia ucapkan dalam hati berharap berita baik yang datang menjelang.
Dokter yang menangani Antika akhirnya keluar. "Apakah Anda keluarga dari pasien?"
"Betul, Dok. saya Ayahnya. Bagaimana putri saya, Dok?"
"Kamu masih melakukan observasi lebih lanjut. Melihat kondisi nya saat ini lukanya sangat parah. Sementara kami menyatakan pasien dalam kondisi koma. Dan mohon maaf janin dalam kandungannya tidak dapat kami selamatkan."
Dokter berpamitan setelah menyampaikan kemungkinan terburuk yang akan dialami Antika. Aldri tak mampu menopang bobot tubuhnya. Kakinya lunglai seketika mendapatkan kabar tersebut. Perlahan ia mencoba duduk kembali dengan berpegangan di pinggiran kursi.
Ibu Aldri yang tiba sejak tadi mendengar semua percakapan tersebut. Ia duduk di samping Aldri dan membelai bahu putranya.
Aldri menoleh dengan wajah lesu. Ketika mengetahui keberadaan sang ibu tanpa pikir panjang, tubuhnya langsung memeluk sang ibu.
Keesokan harinya kondisi Antika masih sama belum ada perubahan. Keadaan ini berlangsung selama sebulan. Aldri memutuskan untuk meminta pihak rumah sakit memindahkan Antika ke ruangan lain yang lebih nyaman ketika luka-luka nya sudah mulai sembuh. Meskipun kesadaran Antika belum juga tiba.
"Kasihan banget katanya dia coba bunuh diri. Mungkin karena hamil di luar nikah."
"Hush jangan kenceng - kenceng dong, nanti ketahuan kita. Emang bener, seperti itu?" perawat satunya menjawab dengan kedikkan bahu.
Aldri Vigoro yang mendengar percaya dua perawat urung keluar dari toilet.
"Maaf. Aku cuma prihatin aja. kalau benar dia coba bunuh diri karena hamil di luar nikah.... Masih eksis aja cowok brengsek di dunia ini. Aku jadi ingat almarhumah kakak sepupu ku. Dia juga bunuh diri karena cowok nya gak mau tanggung jawab." perawat itu menghela nafas.
"Kakakku..gak akan menghadapi kejamnya dunia lagi karena dia sudah pergi dari dunia ini. Sedangkan gadis ini, dia bakalan menghadapi kenyataan buruk. Prespektif adat masyarakat ketimuran yang kolot. Dia sudah nggak perawan lagi dan lebih menyedihkan kemungkinan untuk memberikan keturunan sangat tipis karena kondisi rahimnya yang....hahh. Gak akan mudah menemukan cowok yang bisa menerima apa adanya terutama keluarganya."
"Ya, apapun alasannya tetap nggak bisa dibenarkan untuk mengakhiri hidup."
" Iya, kamu benar. Sebenarnya yang kejam bukan dunia, tapi pandangan masyarakatnya. Apapun kondisinya, mereka tetap memandang negatif korban."
Kedua perawat itu pun pergi setelah selesai melakukan tugas rutinnya.
Aldri menghela nafas. Ia menyandarkan diri ke dinding toilet. Kepalanya menengadah. Kedua tangannya menyisir kasar rambutnya. Saat ini dirinya semakin merasa jatuh ke dalam penyesalan.
Aldri menyentuh tangan Antika dan duduk di sampingnya. Putri cantiknya itu kini sangat kurus dan pucat.
"Sayang, kapan kamu bangun? Ayah sangat rindu canda tawamu. Apapun pendapat orang, kamu tetap putri cantik Ayah yang sama seperti dulu. Karena itu bangunlah, sayang."
Aldri mengecup lembut tangan Antika. Air mata yang datang tanpa diundang menetes ke punggung tangan Antika.
Jemari Antika bergerak lemah, Aldri terkejut merasakan gerakan itu. Ia menghapus air matanya dan refleks menekan tombol panggil dokter.
"Alhamdulillah, sepertinya Putri anda sudah sadar, Pak. Kami sudah melakukan pemeriksaan awal. Meskipun masih sangat lemah, saya dapat memastikan ia sudah sepenuhnya sadar. Kami akan tetap melakukan observasi dan memantau kondisinya."
" Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih banyak, Dok."
Kedua mata Antika perlahan terbuka. Pupil nya menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk karena lama tak sadarkan diri.
"Tika, kamu sudah sadar, Sayang. Alhamdulillah." Aldri mendekat dan memeluk tubuh Antika.
"Ka-mu sia-pa?" tanya Antika lirih.
Aldri menatap wajah Antika dan dokter secara bergantian. Ia tak memahami apa yang terjadi. Mengapa putrinya tak mengingatnya.
"Dokter?"
"Tenang, Pak. Coba saya periksa dulu. Tika, apa yang kamu rasakan?"
"I-ni di-ma-na? Ke- pa- la- ku sa- kit." Antika memegang kepalanya dan kembali tak sadarkan diri.
"Tika! Ada apa ini, Dok?"
"Sabar, Pak jangan panik. Praduga sementara saat ini Putri anda dalam kondisi amnesia."
"Apa??"
" Kemungkinan karena benturan di kepala putri anda. Kita lihat lagi esok hari, ya, Pak!"
Antika dalam kondisi, selama sebulan. Ketika sadar gadis itu telah kehilangan ingatannya. Keesokan harinya pun Antika belum juga sadar. Akan tetapi dokter menyatakan hal yang melegakan karena semua hasil pemeriksaan normal. Hanya kondisi ingatan Antika saja yang bermasalah.
"Salah satu kemungkinan terbesar penyebab amnesianya karena trauma yang dia alami, Pak. Menurut Saya justru ini hal terbaik bagi Antika. Setidaknya hal ini akan mempercepat proses penyembuhannya. Dengan melupakan kejadian buruk yang menimpanya, ia akan lebih fokus sembuh. Di ambil hikmahnya saja, pak."
"Dok, apakah benar putri saya tidak akan bisa memiliki keturunan?"
" Sebagai petugas medis saya hanyalah manusia biasa. Apapun yang saya katakan tidak bisa menentukan masa depan seseorang. Semua akan kembali kepada takdir dari sang maha kuasa. Tapi, kami akui bahwa kemungkinan memiliki keturunan sangat kecil mengingat kondisi rahim nya yang mengalami benturan keras. Hampir 80% rahimnya terluka. Proses pemulihan luka dalam itu tidak sama setiap orang, Pak."
Aldri memikirkan semua perkataan dokter. Meskipun dokter mengatakan bahwa kemungkinan kecil berbeda dengan tidak mungkin. Masih ada kesempatan memiliki keturunan meski hanya 10% setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Aldri mengingat semua perkataan perawat tempo hari. Ia menghubungkan dengan kejadian yang menimpa Antika. Akan kah ada pria yang bisa menerima Antika apa adanya? Dokter mengatakan kemungkinan ingatannya bisa kembali suatu saat, seandainya waktu itu tiba apakah yang akan dirasakan dan dialami Antika?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!