"Kamu pikir aku akan menandatangani surat cerai dan perjanjian gila ini, Mas Bram?" Ujar Shella marah melihat dia tumpukan dokumen didepan nya.
Di sana tertulis dengan tinta hitam : Surat Gugatan Cerai dan Perjanjian Pemisahan Harta. Buruknya, di dalam klausul itu tercetak jelas bahwa seluruh aset, saham perusahaan, hingga properti mewah yang mereka tinggali, adalah hak penuh milik Bramantyo. Nol besar untuk Shella.
Lelucon macam apa ini?
Lima tahun.
Lima tahun ia menemani pria ini merangkak dari dasar neraka. Ia bahkan bertindak layaknya orang gila—menjual seluruh warisan peninggalan mendiang ayahnya yang bernilai miliaran rupiah hanya demi mendanai ambisi suaminya membangun perusahaan ini dari nol.
Bodohnya, dengan dalih 'menjaga harga diri suami' dan 'mempermudah birokrasi bisnis', Shella membiarkan semua jerih payahnya itu didaftarkan atas nama Bramantyo.
Dulu, ia rela menangis dalam diam saat keluarga besarnya mencaci makinya. Mereka menyebutnya wanita dungu yang dibutakan cinta. Dan kini? Bukti kedunguannya menampar wajahnya dengan telak.
Perusahaan yang dibangun dengan darah, keringat, dan uang warisannya kini telah menggurita, namun pria yang dulu bersujud memohon dukungannya kini duduk bersandar dengan angkuh.
Bramantyo merapikan setelan jas bespoke mahal yang membalut tubuhnya—setelan yang dibeli dari keuntungan perusahaan yang modalnya adalah uang Shella. Pria itu menatap Shella lalu berpaling, tak ada niat untuk mengenang masa lalu, kalau diawal pernikahan mereka, bahkan mereka kesulitan untuk mencari makan, karna Shella memilihnya dan dibuang oleh keluarga lainnya.
"Tanda tangani saja, Shella. Jangan membuat ini menjadi drama murahan," ucap Bramantyo tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Setelah semua yang aku korbankan untukmu? Perusahaan ini bernapas pakai uangku, Mas! Dan sekarang kamu membuangku begitu saja?!" Tolak Shella.
"Aku sudah tidak mencintaimu," desis pria itu tanpa ampun. "Lagi pula, kerajaan bisnis sebesar ini butuh seorang pewaris. Dan aku tidak bisa menghabiskan sisa hidupku dengan wanita mandul sepertimu."
"Mas!" Bentak Shella tak ingin direndahkan begitu saja.
"Kamu masih bisa tinggal di sini sampai proses sidang kita selesai," ucap Bramantyo seraya membenarkan kerah jasnya. "Aku yang akan mengalah dan tidur di hotel."
"Mas..."
Shella refleks melangkah maju. Ada dorongan menyedihkan dalam dirinya untuk menahan lengan pria yang selama ini begitu ia cintai. Namun, tangannya membeku di udara, tak sanggup terulur sepenuhnya.
"Apa ada wanita lain?" Suara Shella bergetar hebat, mencoba mencari akal sehat dari situasi ini. "Apa ada perempuan lain yang jadi alasan di balik semua kegilaan ini? Selama ini kamu tidak pernah mempermasalahkan soal keturunan, Mas! Kita sudah sepakat untuk berjuang. Dokter bilang masih ada kesempatan untukku—untuk kita!"
"Kesempatan yang nyaris nol maksudmu?" Pria itu mendecih pelan berhenti didepan pintu kamar. "Dengar, Shella. Aku ini pengusaha. Aku tidak berinvestasi pada sesuatu yang tidak menguntungkan. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan masa mudaku dengan wanita yang hanya bisa menyodorkan tubuh hampa di atas ranjang."
BRAAAK!
Pintu utama ditutup paksa.
"Ya Tuhan..." rintihnya di sela isak tangis yang mencekik tenggorokan. "Aku juga ingin hamil! Aku ingin memberinya anak! Tapi bagaimana caranya..."
Tawa sumbang dan getir lolos dari bibir pucat Shella "...bagaimana aku bisa hamil kalau suamiku sendiri nyaris tidak pernah menyentuhku lagi? "
Memori setahun belakangan, tidak pernah hilang dalam Ingatannya. Bramantyo berubah drastis, dan semuanya dimulai dari hubungan ranjang mereka yang tak lagi bernyawa. Shella merindukan Bram yang dulu memujanya, yang menatapnya penuh damba.
Setahun terakhir, pria itu hanya datang untuk menuntut 'jatah' layaknya kewajiban mekanis. Sesekali Bram menyentuhnya, melepaskan hasratnya sendiri dengan egois dan terburu-buru, lalu berbalik memunggungi Shella begitu saja tanpa pernah memikirkan kepuasan istrinya. Penolakan-penolakan halus, aroma parfum asing yang samar di kemeja, alasan lembur yang tak masuk akal—semua tanda itu ada di sana. Namun, Shella terlalu bodoh dan sibuk menutupi semuanya dengan dalih 'dia lelah bekerja'.
"Aku akan cari tahu alasan sebenarnya di balik semua ini," desis Shella tajam. "Aku tidak akan membiarkan perempuan murahan mana pun membutakan matamu dan merampas apa yang kubangun dengan darahku, Mas. Tidak akan pernah."
Sesampainya di kantor, langkah Shella langsung dicegat.
"Bu Shella, maaf, tapi Pak Bram sedang ada tamu penting. Beliau tidak bisa diganggu," ujar resepsionis itu, mencoba menghalangi dengan senyum kaku.
Shella berhenti. Jelas ada yang tidak beres disini. "Tamu penting? Kamu tahu siapa saya? Saya juga pemilik perusahaan ini. Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menahan saya. Paham?"
Melihat resepsionis itu panik dan tangannya bergerak menuju gagang telepon, Shella dengan cepat mencondongkan tubuh dan menahan tangan wanita itu.
"Ingin lapor ke atas kalau saya datang?" bisik Shella tajam, matanya memindai raut ketakutan di wajah resepsionis itu. "Berarti benar, ada sesuatu di atas?"
"Coba saja angkat gagang telepon itu sekali lagi, dan saya pastikan kamu angkat kaki dari gedung ini siang ini juga."
Mendengar ancaman itu, resepsionis menelan ludah dan mengangguk gemetar, membiarkan Shella berlalu menuju lift eksklusif.
Firasatnya berteriak keras menuju ruangan suaminya. Tiba di depan ruangan suaminya, langkah Shella terhenti. Daun pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat—menyisakan celah kecil yang sialnya cukup untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Dari balik celah itu, terdengar suara lenguhan menjijikkan.
"Mas Bram... aku mencintaimu... aaah..."
Shella melihat Melalui celah tersebut, matanya menangkap pemandangan yang membuat perutnya mual. Di atas meja kerja—meja tempat Shella dulu menyusun proposal bisnis mereka hingga larut malam—suaminya tengah beradu peluh dengan seorang wanita muda. Kemeja Bramantyo berantakan, dan pria itu memberikan hentakan kasar dengan raut wajah penuh nafsu yang buta.
Hasrat dan gairah menggebu itu... dulu milik Shella. Kini, wanita asing itu merebutnya dengan murah di atas meja kantor.
Shella mengusap kasar air mata yang sempat lolos di sudut matanya. Tanpa peringatan, ia menendang pintu itu hingga terbuka lebar.
BRAAAK!
Bramantyo yang terkejut setengah mati nyaris tersungkur. Pria itu buru-buru menarik ritsleting celananya dengan wajah pias, sementara sang wanita muda gelagapan menarik kerah kemejanya yang terkoyak.
"Kak... Kak Shella..." gumam wanita itu dengan suara bergetar dan mata membola.
Wanita setengah telanjang itu bukan orang asing. Dia adalah Saskia, sepupunya sendiri.
Tawa getir meluncur dari bibir Shella. "Jadi seleramu sekarang jatuh pada wanita murahan ini, Mas?" tunjuk Shella dengan jijik. "Dari sekian banyak perempuan di luar sana, kamu memilih ular ini?"
Saskia segera merangkul lengan Bramantyo, bersembunyi di balik tubuh besar pria itu sambil memasang wajah pias yang menyedihkan. Air mata buaya menetes dari sudut matanya. "Kak Shella, maafkan aku... ini salahku, aku yang menggoda Mas Bram..."
"Tutup mulutmu, Saskia!" potong Shella tajam. Ia menatap Bramantyo yang kini berdiri tegap melingkarkan tangan protektif di pinggang Saskia tanpa ada sedikitpun rasa bersalah di wajahnya.
"Kamu tahu masa lalunya, Mas?" Shella tersenyum sinis. "Di usianya yang bahkan belum menginjak tujuh belas tahun dulu, dia sudah menyerahkan tubuhnya pada pacarnya. Dan kamu tahu? Dia menggugurkan kandungannya diam-diam karena takut diusir dari keluarga! Wanita ini sudah busuk dari dalam, dan kamu mau menjadikannya ratu di atas penderitaanku?!"
Bramantyo mendecih keras, tatapannya merendahkan Shella. "Lalu kamu kira aku peduli dengan masa lalunya?" balas Bramantyo dingin. "Tanpa kamu bersusah payah memburukkannya, Saskia sudah menceritakan semuanya padaku. Dia jujur. Dia bukan gadis munafik sepertimu yang berlindung di balik kata 'pengorbanan'."
Shella terhenyak. Bodoh. Betapa bodohnya pria di hadapannya ini. Bramantyo mengira ia sedang melindungi seorang malaikat yang jujur, padahal ia baru saja tertipu oleh manipulasi tingkat tinggi seorang wanita licik. Saskia sengaja membeberkan masa lalunya lebih dulu dengan versi 'korban' agar Bramantyo merasa menjadi pahlawan yang menyelamatkannya.
"Saskia adalah pilihanku," lanjut Bramantyo. "Bahkan keluarga besarnya sudah merestui hubungan kami. Tahu kenapa? Karena wanita yang kamu sebut murahan ini, sekarang sedang mengandung anakku. Ahli waris perusahaan ini."
Shella menatap Saskia yang terlihat menyembunyikan senyumnya,seolah berkata: Aku menang, dan hidupmu sudah hancur.
"Oh, bagus." Shella tersenyum. "Baiklah, kalau itu jawabanmu, Mas. Lagipula, sampah memang paling pantas berdampingan dengan sampah lainnya, bukan? Bau kalian sangat serasi."
Tanpa sudi menatap wajah dua pengkhianat itu lebih lama, Shella memutar tubuh nya menuju parkiran.
Sesampainya di dalam mobil di area parkir, tawa sinis dan sumbang dan sinis meledak dari bibirnya. "Ya ampun, pria bodoh. Anaknya? Apa dia benar-benar yakin itu benihnya?" gumam Shella, menggelengkan kepala tak percaya. "Saskia memiliki lusinan lelaki hidung belang di luar sana yang bergantian mensponsori gaya hidup mewahnya. Ular itu memang ahli membuat pria bertekuk lutut. Selamat bermimpi indah, Mas. Aku ingin lihat, sebesar apa 'cinta' yang kamu agungkan itu saat kamu sadar sedang membesarkan anak orang lain."
Menjelang malam, mobil Shella sudah sampai dirumah keluarga besarnya. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang keluarga, hawa dingin dan permusuhan langsung menyambutnya.
"Ma..." sapa Shella tertahan, menatap wanita berusia 55 tahun yang duduk di sofa utama.
Helena, ibu kandungnya, langsung mendengus sinis. "Berani pulang juga kamu akhirnya? Kenapa? Apa sekarang Bram kesayanganmu itu sudah terlihat busuknya, sampai kamu sadar kalau selama ini kamu memilih jalan yang salah dan mempermalukan keluarga?"
Di sekeliling ruangan, tatapan merendahkan menghujani Shella. Ayah tirinya membuang muka dengan ekspresi masam. Dua kakaknya, Gladis dan Vino, tersenyum mengejek, tampak menikmati penderitaannya. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada tempat untuk bersandar.
"Aku tidak pulang untuk membahas masa laluku, Ma," sela Shella menolak untuk terlihat hancur di depan mereka. Matanya beralih menatap tajam ke sisi lain sofa. "Aku datang untuk bicara dengan Tante Sekar dan Om Galuh."
Semua mata kini tertuju padanya.
"Duduk, Sayang," ujar Tante Sekar memecah ketegangan. Di rumah neraka ini, Sekar adalah satu-satunya sosok yang terkadang masih memperlakukannya layaknya manusia. Sementara suaminya, Om Galuh—ayah kandung Saskia—hanya duduk bersandar acuh tak acuh sambil menyesap cerutunya.
"Tidak perlu, Tante. Aku cuma mau tanya satu hal," ucap Shella. "Kenapa Om dan Tante membiarkan Saskia merusak rumah tanggaku? Sejak kapan kalian merestui hubungan Saskia dengan suamiku?"
Mendengar hal itu suasana mendadak hening. Cerutu di tangan Galuh tertahan di udara, sementara wajah Sekar berubah pias seketika. Tantenya itu berdiri dari sofa dengan tubuh bergetar.
"Apa?! Saskia... dan Bram?!" pekik Sekar, matanya membelalak kaget. "Hubungan apa maksudmu, Shella?! Merestui apa?!"
Melihat reaksi keluarga Saskia, Shella bisa menyimpulkan. "Keluarga besarnya belum tahu apa-apa. Saskia tidak hanya menipu Bram, tapi juga memanipulasi keadaan dengan sangat sempurna. Gadis ular itu menyuapkan kebohongan manis bahwa 'keluarga sudah merestui mereka karena ia hamil' untuk membuat Bramantyo merasa aman menceraikannya. Dan pria bodoh yang dulu menjadi suaminya itu menelan semuanya mentah-mentah." Batin Shella. "Kasian sekali kamu mas."
"Kamu pulang? Bukannya tadi kamu bilang mau menginap di hotel?" Ucap Shella tanpa menoleh. Tangannya masih luwes meratakan krim malam di wajahnya, menatap pantulan suaminya dari cermin meja rias.
Bramantyo melempar jam tangan mahalnya ke atas nakas dengan kasar. Wajahnya kusut masai, jasnya sudah tak lagi menempel di tubuh. "Aku akan pergi sebentar lagi. Aku cuma butuh sedikit ketenangan."
Sudut bibir Shella berkedut, menahan senyum sinis. "Ketenangan? Kenapa? Apa ini gara-gara Om Galuh dan Tante Sekar?"
Sontak, dari pantulan cermin, Shella melihat mata Bramantyo menatapnya tajam. Dia yakin tebakannya benar. Tentu saja, setelah Shella menjatuhkan bom waktu di rumah keluarga besarnya tadi, kedua orang tua Saskia pasti langsung melabrak Bramantyo di kantor, dia yakin itu. Rencana malam panas pria itu dengan selingkuhannya jelas hancur berantakan.
"Aku akan tetap memperjuangkannya," Ujar nya mengabaikan sindiran istrinya.
Shella memutar tubuhnya perlahan di kursi rias, menatap pria yang dulu begitu ia puja itu dengan tatapan kasihan. "Setelah dia membohongimu mentah-mentah soal restu keluarganya? Kamu benar-benar sudah buta, Mas. Pahami ini, tidak ada satu pun wanita baik-baik yang sudi merusak rumah tangga orang lain. Kamu akan menyesal karena telah mengorbankan segalanya demi ular seperti Saskia. Percayalah padaku."
"Ck! Jangan sok tahu kamu!" bentak Bramantyo, urat di lehernya menonjol. Ia menunjuk wajah Shella dengan telunjuknya. "Urus saja nasibmu sendiri! Sebentar lagi kamu hanya akan jadi janda miskin! Bisa apa kamu setelah ini, hah? Ingat, Shella, sepeser pun—aku tidak akan membagi hartaku denganmu!"
Alih-alih meledak dalam tangis atau amarah seperti yang Bramantyo harapkan, Shella hanya menatap pria itu dengan sorot mata yang benar-benar kosong.
"Oh."
Hanya satu suku kata itu yang keluar dari bibir Shella. Datar, dingin, dan tak bernyawa.
Ia memutar tubuhnya kembali, meletakkan botol skincare-nya ke atas meja dengan tenang. Tanpa repot-repot menatap suaminya lagi, Shella berjalan menuju ranjang, merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut sebatas bahu—memunggungi Bramantyo sepenuhnya.
Di balik punggungnya yang tampak tegar, dada Shella sebenarnya bergemuruh hebat. Ia tahu, setelah ketukan palu hakim nanti, ia akan terhempas kembali ke titik nol. Ia tidak punya apa-apa. Rumah ibunya jelas bukan lagi tempat berlindung, mengingat betapa hinanya ia dipandang di sana. Sahabat? Selama lima tahun pernikahan ini, ia terlalu sibuk menjadi pion untuk ambisi Bramantyo hingga dunianya terisolasi.
Bisa saja besok ia benar-benar berakhir di jalanan tanpa uang sepeser pun. Ketakutan itu nyata.
"Aku hanya berharap... suatu saat karma itu datang untukmu dengan sangat kejam, Mas," gumamnya nyaris tak terdengar. Perlahan, ia memejamkan mata, memeluk erat kehancurannya sendirian.
**
"Apa salahnya? Toh, sekarang Bram sudah jadi pria sukses," ujar Galuh santai pada istrinya.
Sekar menatap dengan pandangan tak percaya pada suaminya sendiri. Pria yang dulu ikut membenci Bram, kini seolah berbalik membela demi materi. Padahal baru kemarin Sekar mendatangi kantor Bram untuk memberikan wanti-wanti keras agar menjauhi putri mereka, Saskia. Sekar tidak ingin anaknya merusak hubungan Shella dan Bram. Dia tahu batasan moral itu.
"Mas, kamu sadar tidak? Kamu itu seperti mau memasukkan ular ke dalam keluarga kita. Bisa saja kan, setelah bosan dengan Saskia, dia akan mencari wanita lain lagi?" tegas Sekar.
Dia tahu betul tipe pria seperti Bram—sekali berani bermain api, dia akan terus melakukannya. Sekar tidak ingin anak kandungnya berakhir terluka dan hancur seperti Shella.
"Om, Tante, tenang saja. Aku bakal menjaga Saskia dengan baik," ucap Bramantyo santai.
Sebuah senyum jemawa tersungging di bibirnya setelah berhasil merebut hati ayah Saskia yang memang gila harta. Bram tahu tidak mudah meluluhkan hati Sekar, tapi dia yakin uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya. Apalagi sekarang, ada kartu as di tangannya: Saskia sedang hamil.
"Setelah menghancurkan Shella, sekarang kamu ingin merusak Saskia juga? Bagus sekali, Bramantyo. Tapi ingat, sampai kapan pun saya tidak akan pernah memberikan restu!" sergah Helena, ibu kandung Shella.
Helena sangat membenci pria di hadapannya ini. Pria oportunis yang memanfaatkan keringat anaknya, lalu mendepaknya begitu saja setelah sukses. Helena sebenarnya tidak keberatan jika Bram menceraikan Shella—karena sejak awal dia memang membenci pernikahan itu. Namun, melihat bagaimana Shella mengorbankan seluruh hidup dan uang warisannya hanya untuk dibalas dengan pengkhianatan sekeji ini, ego Helena sebagai ibu terusik. Dia tak habis pikir bagaimana dulu Shella bisa begitu tergila-gila pada pria busuk ini, hingga membuat hubungannya dengan Shella menjadi dingin dan berantakan.
"Biarkan saja, Ma. Sudah... Bramantyo sekarang kan sudah sukses," potong Surya Atmadja, matanya berbinar menatap peluang bisnis di depan mata.
Selama ini, Helena selalu menolak kehadiran Bram di rumah mereka, tapi kini Surya melihat celah keuntungan. Dia bisa memanfaatkan Bram untuk menyuntikkan dana ke perusahaannya yang sedang merangkak megap-megap.
Tidak seperti mendiang suami Helena terdahulu yang sukses, karier bisnis Surya tidak pernah berjalan mulus. Perusahaan yang dulu dibangun oleh mantan suami Helena terpaksa dijual karena desakan anak mereka yang serakah. Hanya berbekal sisa modal dari Helena-lah, Surya bisa membangun bisnisnya kembali, meski kini terseok-seok.
Di sudut ruangan, Gladis dan Vino hanya bungkam, sama sekali tidak peduli pada nasib Shella maupun Saskia. Pikiran mereka hanya dipenuhi oleh gaya hidup mewah. Bagi Gladis yang sejak kecil dimanja oleh ayah kandungnya, bekerja keras adalah hal tabu. Dengan modal kecantikannya, dia yakin bisa menggaet pengusaha kaya mana pun kelak. Sementara Vino, hanyalah pria manja yang tumbuh di tengah pesta pora tanpa memikirkan masa depan.
Melihat situasi itu, Surya sebenarnya merasa sedikit gelisah. Keluarga besar ini tergolong berantakan dan penuh intrik. Namun, dia menepis ego morilnya. Bisnis Helena masih menggurita di mana-mana—mulai dari butik mewah hingga perhotelan. Jika suatu saat bisnis pribadinya bangkrut, Surya tahu dia masih bisa menumpang hidup nyaman pada kekayaan istrinya.
"Kenapa, Pah? Aku tetap tidak suka. Aku tahu pria ini tidak akan pernah berubah, busuk luar dalam!" kekeh Helena sinis menatap suaminya, Surya.
"Saya tidak akan menolak gugatan ceraimu pada anak saya, Bram. Tapi soal Saskia? Saya yakin kamu hanya ingin mempermainkannya."
"Ma, kita bisa membangun perusahaan kita jauh lebih besar lagi. Aku bahkan berniat menawarkan proyek kerja sama eksklusif dengan Papa Surya. Aku yakin, begitu kita bergabung, kita semua akan untung besar. Kita tidak perlu saling membenci lagi, bukan?" tawar Bramantyo penuh manipulasi.
"Saya tetap tidak merestui kalian!" bantah Sekar telak, memotong ucapan Bram.
"Tapi, Ma... aku mencintai Mas Bram. Kami saling menyayangi!" ujar Saskia, mencoba memasang wajah memelas demi meyakinkan ibunya.
Sekar mendecih ketus. "Cinta dan nafsu itu beda tipis, Saskia! Kamu masih mau menjerumuskan dirimu sendiri dengan buaya darat seperti dia?!"
"Aku serius, Ma! Kami tidak sedang bermain-main!" potong Saskia dengan nada tinggi. Matanya melirik tajam ke arah ibunya sebelum menjatuhkan bom waktu yang sesungguhnya.
"Bahkan... saat ini aku sudah mengandung anak Mas Bram. Usia kehamilanku sudah jalan dua bulan."
"Apa?!" teriak Sekar, wajahnya seketika pias dan matanya membelalak tak percaya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!