Indonesia
NovelToon NovelToon

Dari Menantu Menjadi Istri

Mendadak Nikah

"Luna, sebelum Tante meninggal, tolong menikahlah dengan anak Tante," ucap seorang wanita paruh baya bernama Imelda.

Luna tidak langsung merespon ucapan Imelda. Ia hanya berdiri mematung sambil mencerna apa yang baru saja diucapkan wanita itu. Dirinya tidak terlalu mengenal sosok Imelda. Luna hanya tidak sengaja menolongnya saat Imelda terkena serangan jantung. Bahkan pertemuan saat ini baru kedua kalinya.

"Aku gak salah dengar, kan?" batin Luna.

Belum sempat ia bisa mencerna permintaan yang menurutnya konyol itu, sebuah genggaman tangan yang dingin membuat Luna tersentak. Pandangannya lantas melihat ke arah Imelda.

"Luna ... Tante mohon." Suara lemah lembut itu membuat Luna tidak tega untuk menolak.

"Tapi, Tante ..." Luna menggantungkan ucapannya lantas menoleh ke arah laki-laki di seberangnya. Laki-laki yang baru ia temui, bahkan namanya saja belum ia ketahui.

"Namanya Raka. Dia anak Tante satu-satunya. Sebelum saya meninggal saya ingin dia mendapatkan pendamping yang tepat," ucap Imelda lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Luna maupun raka.

"Ma, stop bicara yang aneh-aneh. Mama pasti akan sembuh," ucap Raka sedikit kesal. "Aku telepon papa dulu. Aku akan suruh dia pulang."

"Raka ... jangan ganggu papa kamu. Dia sedang bekerja," cegah Imelda.

Raka menggeram kesal, Luna maupun Imelda bisa melihat dengan jelas kekesalan itu.

"Dia suami Mama. Istrinya sedang terbaring di rumah sakit bagaimana bisa dia lebih mementingkan pekerjaan," ucap Raka.

"Raka —"

"Cukup, Ma. Jangan cegah aku. Aku akan menghubunginya segera!" Raka sedikit menjauh lalu mengambil ponselnya dari dalam saku.

Luna sendiri masih berada di tempat yang sama, berdiri sambil memerhatikan Raka yang terlihat sedang menghubungi seseorang.

"Luna ... mau ya. Ini keinginan terakhir Tante."

Luna tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Imelda dengan lembut. "Tante ... Tante jangan bicara seperti itu. Tante pasti akan sembuh."

Imelda menggeleng. "Tante sudah gak punya banyak waktu."

"Lalu bagaimana dengan anak Tante? Dia pasti gak akan setuju."

"Dia akan setuju. Raka selalu menurut sama Tante."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Kenapa harus saya, Tante? Tante belum mengenal saya," ucap Luna.

"Saya sudah tahu siapa kamu. Semuanya," balas Imelda.

Luna melihat Imelda dengan alis yang terangkat sebelah. "Maksud, Tante."

Senyum tipis terukir di bibir Imelda. "Saya sudah mencari tahu siapa kamu. Saya gak merasa keberatan dengan latar belakangmu. Saya tahu kamu perempuan yang baik."

Luna menghela napas panjang, tidak tahu harus mencari alasan apa lagi untuk menolak. Wanita paruh baya itu selalu mematahkan argumennya.

"Saya mohon, Luna."

Pada akhirnya Luna mengangguk. "Saya akan setuju jika anak Tante juga gak keberatan."

Imelda mengangguk. "Terima kasih, Luna."

"Aku berharap Tante gak menyesal nantinya."

"Saya gak akan pernah menyesal dengan keputusan saya sekarang, Luna."

Obrolan mereka terhenti saat Raka kembali mendekat. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya.

"Papa gak menerima panggilanku, Ma."

"Dia pasti sedang sibuk."

"Ma ... kenapa Mama selalu membela papa?" ucap Raka sambil berdecak.

Luna hanya diam sambil memerhatikan keduanya.

KLEK

Semua orang menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Muncul sosok laki-laki gagah dan tampan, tubuhnya terbentuk nyaris sempurna. Wajah laki-laki itu ditumbuhi bulu-bulu tipis yang justru membuatnya terlihat berwibawa.

"Kamu kenapa tiba-tiba datang?" ucap Imelda masih dengan suaranya yang lirih.

"Kamu ada di sini bagaimana aku gak datang," ucap laki-laki itu.

"Dari mana saja Papa? Mama di sini sudah lebih dari tiga hari dan Papa baru datang?" tanya Raka.

Dari nada bicaranya jelas Raka terlihat sangat marah.

"Raka, jangan seperti itu. Yang penting papa kamu sudah datang, kan?"

Raka mengangguk kecil dan menghela napas untuk meredam kemarahannya.

Tatapan laki-laki itu tiba-tiba tertuju pada Luna, membuat Luna gugup seketika.

"Dia siapa?" tanyanya.

Imelda menoleh ke arah Luna sambil tersenyum kecil. "Dia wanita yang kupilihkan untuk Raka."

Pandangan Imelda kembali mengarah ke laki-laki itu. "Bagaimana? Dia cantik, kan?"

Laki-laki itu mengangguk.

"Luna, dia papanya Raka. Namanya Bara."

Luna mengangguk lantas mengulurkan tangannya ke arah Bara. "Salam kenal, Om."

Bara mengangguk sebelum membalas uluran tangan Luna.

"Karena kalian sudah berkumpul. Aku ingin Raka dan Luna menikah secepatnya. Aku merasa waktuku sudah akan habis."

"Ma ... jangan bicara seperti itu."

Imelda hanya tersenyum tipis menggapai ucapan Raka.

"Raka ... kamu setuju dengan pilihan Mama?"

Raka tidak langsung menjawab, ia melihat ke arah Luna sesaat seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Mama yakin dengan pilihan Mama?"

"Mama sangat yakin, Raka." Imelda menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan meskipun suaranya masih lemah.

"Baiklah, Raka setuju."

Luna menoleh ke arah Raka, ia sedikit terkejut dengan persetujuan Raka. Luna mengira Raka akan menolaknya dengan tegas.

"Lihat, Luna. Raka menurut pada Tante, kan?"

Luna sendiri tidak bisa menjawab dengan kata-kata lagi, hanya lewat anggukan dan senyuman kecil saja.

"Bara, kamu urus pernikahan mereka ya," ucap Imelda.

"Baiklah. Aku akan mengurus pernikahan mereka sekarang juga."

-

-

-

Tiba-tiba menikah membuat Luna nyaris tidak percaya dengan kehidupannya saat ini. Baru saja kemarin ia mengatakan setuju untuk menikah dan pada hari ini, ia sudah memakai pakaian pengantin berwarna putih.

Padahal umurnya baru dua puluh tahun. Dirinya sama sekali tidak pernah membayangkan akan menikah muda.

Ia duduk di cermin sambil menatap pantulan wajahnya sendiri. Luna hampir tidak percaya jika itu adalah dirinya sendiri, begitu cantik dan anggun.

"Aku benar-benar akan menikah?"

"Dengan laki-laki yang belum aku kenal sebelumnya?"

"Bagaimana kalau dia jahat padaku nantinya?"

Kata-kata itu terus berputar di benak Luna membuatnya sedikit takut. Akan tetapi dirinya tidak bisa mundur saat ini. Apalagi Imelda sudah menolongnya untuk keluar dari jerat hutang yang hampir menelan hidupnya. Ia nyaris dijual oleh ayah tirinya ke rumah bordir untuk dijadikan wanita penghibur.

"Ayo Luna. Jalani saja pernikahan ini lebih dulu. Jangan pikirkan nantinya. Jika suamimu nanti gak baik, kamu tinggal minta cerai," batinnya mencoba untuk menenangkan.

"Huff." Luna menarik napas panjang lantas berdiri dan bersiap untuk pergi.

TOK TOK

Luna menoleh ke arah pintu, seorang wanita paruh baya datang untuk menjemputnya.

"Semuanya sudah siap. Saya datang untuk menjemput Anda," ucapnya.

"Iya, ayo," balas Luna.

Setelahnya Luna merangkul lengan wanita itu dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia dan Raka rencananya akan melakukan pernikahan di sana. Pernikahan yang tadinya akan digelar satu minggu lagi justru terjadi lebih awal. Keadaan Imelda tiba-tiba kritis.

Sampai di rumah sakit. Luna segera pergi ke ruangan rawat Imelda. Beberapa orang di sana memerhatikan dirinya. Luna merasa sedikit canggung, tetapi mencoba untuk biasa saja.

Hingga beberapa saat kemudian, Luna sampai di ruangan rawat Imelda. Di sana sudah ada Bara dan Raka juga seseorang yang mungkin akan menikahkan mereka.

"Silahkan ke tempat masing-masing."

Luna mengantuk lantas duduk di samping Raka yang terlihat tampan dengan setelan jasnya. Seseorang di hadapan mereka mulai mengucapkan doa sebelum memimpin Luna dan Raka untuk melakukan janji suci.

Masalah Raka

Selesai mengikrarkan janji suci, Raka membawa Luna ke hotel yang berada dekat dengan rumah sakit. Suasana kamar itu begitu romantis, didesign khusus untuk malam pertama. Lampu-lampu kecil dengan cahaya temaram membuat ruangan itu terlihat begitu hangat. Kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai dan ranjang, membuat suasana semakin romantis. Namun suasana ruangan itu berbanding terbalik dengan perasaan canggung yang sedang merayap di dada Luna.

Tidak ada obrolan saat keduanya berada di kamar itu. Luna lebih memilih untuk duduk di sofa sambil menunduk. Sesekali mencuri pandang ke arah Raka yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak tahu harus berbuat dan berucap apa lagi.

Suhu kamar cukup dingin, tetapi telapak tangan Luna justru berkeringat. Jemarinya beberapa kali meremas ujung gaun untuk mengendalikan perasaan gugupnya.

Malam ini adalah malam pertama mereka. Luna benar-benar gugup. Apalagi mereka belum saling mengenal.

"Huff." Luna menggela napas berat, siap ataupun belum, ia harus menyerahkan tubuhnya saat itu juga jika Raka memintanya.

"Maaf, Luna. Aku gak bisa."

Kalimat itu membuat Luna mengangkat kepalanya. Pandangannya mengarah pada Raka, keningnya ikut mengernyit. Ia tidak tahu maksud dari kalimat yang keluar dari mulut Raka.

"Maksud kamu?" tanya Luna ragu.

"Aku gak bisa menyentuhmu," jawab Raka. Matanya menatap lurus ke arah Luna.

Seketika Luna menganga sampai akhirnya ia mengangguk pelan karena merasa sangat lega. "Gak apa-apa. Pernikahan ini sangat mendadak dan aku tahu kamu pasti gak siap."

"Atau mungkin kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai," imbuh Luna. "Kita bisa berpura-pura untuk sementara waktu. Jika kondisi tante Imelda lebih baik ... kita bisa ajukkan perpisahan."

Raka tidak langsung menjawab. Ia memilih untuk menatap Luna sejenak. "Bukan begitu. Aku percaya pilihan mama pasti baik."

Luna sedikit tersipu mendengar pujian dari Raka. Ia nyaris salah tingkah jika saja ia tidak bisa mengendalikan diri.

"Lalu?"

"Aku sebenarnya ... impoten."

Mata Luna terbelalak. "Hah, apa? Im--poten?"

Raka mengangguk. "Ya aku gak bisa kasih kamu kehangatan seperti suami-suami yang lain. Bukan hanya itu. Aku juga mungkin gak bisa kasih kamu keturunan."

"Benarkah?"

Raka mengangguk. "Kamu menyesal sudah mau menikah denganku?"

Luna menggeleng. "Kalau hanya karena itu alasannya, aku gak akan menyesal. Masalah seperti itu bukannya masih bisa diatasi. Yang terpenting kamu mau menerima aku apa adanya."

Raka mengangguk. "Aku akan berusaha." Ia lalu berdiri dan menghampiri Luna. Ia duduk di hadapan Luna sebelum menggenggam kedua tangannya. "Kamu mau nunggu aku?"

Kini giliran Luna yang mengangguk.

"Tapi tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Aku gak mau masalah ini membebani mama maupun papa."

Luna kembali mengangguk. "Tenang saja. Aku akan merahasiakan ini dari siapapun."

"Terima kasih, Luna. Kamu benar-benar wanita yang baik," ucap Raka dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.

"Tapi ..."

"Tapi apa, Luna?"

"Kamu yakin gak ada wanita lain yang kamu cintai? Maksudku ... aku gak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian," jelas Luna.

Raka menggeleng. "Kamu tenang saja. Aku gak sedang memiliki hubungan spesial dengan wanita mana pun."

"Hmmm, syukurlah," ucap Luna senang.

"Baiklah. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan pergi ke rumah sakit untuk menemani mama," ucap Raka. Ia lantas berdiri.

Seketika Luna ikut berdiri. "Boleh aku ikut?"

Raka menggeleng. "Kamu pasti lelah. Istirahatlah di sini malam ini. Besok aku janji akan menjemputmu."

"Baiklah jika itu maumu," balas Luna tak ingin membantah.

"Aku pergi dulu. Selamat malam," ucap Raka. Ia lalu pergi setelah mendaratkan kecupan di kening Luna.

Jangan ditanya seperti apa perasaan Luna saat ini. Ia benar-benar tersipu dan merasa beruntung mendapatkan suami sebaik Raka.

"Daah," sapa Raka seraya melambaikan tangannya.

Luna juga membalas lambaian tangan Raka. "Hati-hati. Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah sakit," ucap Luna dibalas anggukkan oleh Raka.

Raka pun lenyap di balik pintu kamar itu. Luna menghela napas sambil melihat sekeliling. Malam pertamanya yang harusnya indah kini terasa begitu sepi. Di tambah sang suami pergi meninggalkan dirinya sendiri. Namun Luna tidak akan menuntut banyak. Yang terpenting sekarang ia sudah terbebas dari ayah tirinya.

"Lebih baik aku mandi dulu setelah itu tidur," gumam Luna.

Keesokan harinya ....

Luna sudah mandi dan berganti pakaian. Ia beberapa kali melihat waktu pada jam di ponselnya. Waktu sudah menujukkan pukul sepuluh pagi, tetapi Raka belum juga datang. Sarapan yang sudah disiapkan untuk mereka juga sudah dingin. Luna bahkan belum menyentuhnya sedikit pun, ia sengaja menunggu sang suami untuk sarapan bersama. Namun sampai saat ini Raka belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia juga sudah mencoba menghubungi Raka, tetapi laki-laki itu tidak menerimanya.

"Lebih baik aku menyusul saja ke rumah sakit," gumam Luna. "Aku sebaiknya kirim pesan pada mas Raka."

Tanpa pikir panjang, Luna kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Raka. Setelahnya mengambil roti dan minum segelas jus untuk mengganjal perutnya.

Luna kembali melihat ke layar ponselnya, waktu hampir pukul setengah sebelas. Ia segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Selesai bersiap, Luna keluar dari kamar hotel. Berjalan ke arah lobi seorang diri dengan langkah sedikit terburu-buru.

Sambil melangkah sesekali Luna melihat ke layar ponselnya. Berharap ada pesan balasan dari Raka, namun sayangnya nihil. Jangankan telepon, pesannya saja belum terbaca.

"Mungkin dia sedang sibuk," gumam Luna.

Saking fokusnya memerhatikan ponselnya, ia sampai tidak menyadari seseorang juga berjalan ke arah yang sama dengannya dari arah yang berlawanan.

DUK

Ponsel Luna terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai saat ia bertabrakan dengan seseorang. Ia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan nyaris terjatuh jika saja tidak ada yang menahan tubuhnya.

"Kamu gak apa-apa?"

Suara berat itu terdengar lembut di telinga Luna. Ia segera menegakkan tubuhnya dan sedikit tersentak saat matanya bertatapan langsung dengan seorang laki-laki yang familiar. Laki-laki itu adalah ayah mertuanya. "Om Bara."

Jantungnya serasa hampir lepas dari tempatnya ketika melihat wajah tampan ayah mertuanya itu. Luna segera menjauhkan diri, memberikan jarak dengan Bara. Segera ia memungut ponselnya dan bernapas lega karena ponselnya masih menyala. Ia kembali melihat ke arah Bara lalu berucap, "Maaf aku tidak sengaja."

Bara tidak merespon ucapan Luna, justru ia mengalihkan pembicaraan.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bara. "Lalu di mana suamimu itu."

"Oh itu ... mas Raka semalam pergi. Katanya mau nemuin Tante Imelda," jawab Luna.

"Rumah sakit?" tanya Bara dengan kening yang mengerut.

"Iya, Om," jawab Luna. "Ada apa, Om, Kenapa Om kelihatan bingung."

"Tidak apa-apa," jawab Bara. "Jadi semalam kamu sendiri di sini?"

Luna mengangguk pelan.

"Dia keterlaluan."

"Tidak apa, Om. Mas Raka pasti khawatir sama tante Imelda. Kami masih punya waktu lain.

"Dia memang anak bodoh," ucap Bara lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Luna.

Luna sendiri memilih untuk diam, tidak berani menjawab ucap sang ayah mertua.

"Sekarang kamu mau ke mana?"

"Aku mau ke rumah sakit, Om."

"Baiklah, ayo kita pergi bersama."

Luna kembali mengangguk.

Keduanya kembali berjalan. Namun baru satu langkah, Bara kembali berhenti membuat langkah Luna ikut berhenti.

"Satu lagi."

"Apa, Om."

"Kamu sudah menikah dengan Raka. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Jadi berhenti memanggilku dan Imelda dengan sebutan seperti orang asing."

"Lalu?"

"Panggil kami seperti Raka memanggil kami."

"Hah, ba-baiklah." Meskipun terasa canggung, Luna tetap mencoba. "Pa ..."

Senyum tipis terukir di bibir Bara. "Good girl." Bara berucap sambil mengacak-acak rambut Luna.

Kepergian Imelda

Raka tak kunjung datang membuat Luna memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersama Bara. Mereka sama-sama keluar dari lobi. Pada saat yang bersamaan datang mobil sedan berwarna silver berhenti di depan mereka.

Bara melangkah lebih dulu, tangannya terulur membuka pintu belakang dan mempersilahkan Luna masuk. "Masuklah."

"Baiklah," sahut Luna sedikit canggung.

Luna masuk lalu duduk di bangku penumpang belakang, sedangkan Bara duduk di bangku penumpang depan. Mobil pun kembali melaju meninggalkan hotel.

Tidak ada obrolan. Namun sesekali pandangan Luna dan Bara bertemu di kaca spion di depan mereka. Suasana sunyi terus berlanjut sampai mereka tiba di rumah sakit. Jarak yang tidak terlalu jauh dan jalanan yang tidak padat membuat mereka sampai di rumah sakit dengan cepat.

Mobil sedan mewah itu melaju lebih lambat sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya di lobi rumah sakit. Luna ingin membuka pintu, tetapi ada yang lebih dulu membukanya. Orang itu tidak lain adalah Bara.

Luna lantas turun dari mobil. Angin pagi langsung menyambutnya, menerbangkan rambutnya yang setengah tergerai. Setelah benar-benar berada di luar mobil, Luna langsung berterima kasih pada ayah mertuanya atas sikap baiknya.

"Terima kasih," ucap Luna dibalas anggukan kecil oleh Bara.

"Ayo masuk," ajak Bara.

Luna mengangguk pelan.

Keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan rawat Imelda. Sambil berjalan sesekali Luna melihat ponselnya, berharap ada pesan balasan dari Raka. Senyumnya mengembang saat keinginannya terkabul.

"Maaf, aku ada pekerjaan mendadak sampai lupa mengabarimu."

Luna tersenyum lalu membalas. "Tidak apa-apa."

Luna kembali menyimpan ponselnya di dalam tas sambil tersenyum. Entah mengapa ia senang sekali. Padahal dirinya dan Raka belum terlalu saling mengenal, tetapi Luna merasa bahagia. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada laki-laki itu.

"Kamu bahagia menikah dengan Raka?" tanya Bara tiba-tiba.

Seketika Luna menoleh. "Jujur iya. Meskipun kami belum saling mengenal, tapi aku yakin kalau dia laki-laki yang baik."

Bara tidak merespon dengan kata-kata, hanya anggukkan saja. "Semoga kamu tidak akan menyesal nantinya."

Eh?

Luna tiba-tiba berhenti, bingung dengan ucapan Bara. Ucapan itu tiba-tiba membuat Luna merasa cemas.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bara.

Suara berat itu membuat Luna tersadar dan segera menepis kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya.

"Tidak apa-apa, Pa."

"Kalau begitu, ayo jalan."

"Iya, Pa."

Keduanya kembali berjalan. Luna dibuat bingung saat Bara membawanya ke arah yang berbeda.

"Kenapa ke sini, Pa. Ruang rawat tante ... maksudku mama Imelda bukan ke arah sini?“ tanya Luna.

"Semalam tiba-tiba Imelda kritis. Dia langsung tidak sadarkan diri. Jadi dokter memindahkannya ke ruangan ICU," jawab Bara.

Luna terkejut bukan main. Padahal siang kemarin Dokter mengatakan keadaan sang ibu mertua menunjukkan pemulihan. "Maksudnya sekarang mama koma?"

Bara mengangguk.

"Kenapa mas Raka tidak memberitahuku."

Bara merespon dengan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia juga tidak tahu."

"Maksudnya, Pa?"

"Lupakan saja. Kamu kabari saja dia sekarang."

Meskipun masih belum bisa mencerna ucapan Bara, Luna dengan cepat mengirim pesan pada Raka.

Tidak ada obrolan lagi sampai mereka tiba di ruangan ICU. Luna berdiri di depan kaca besar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Imelda terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak peralatan medis terpasang di tubuhnya.

Hati Luna merasa sakit. Meskipun belum sepenuhnya mengenal ibu mertuanya itu, namun Luna merasa yakin jika Imelda orang yang baik.

"Kapan mama akan sadar, Pa?" tanya Luna.

Bara menggeleng pelan. "Kita berdoa saja untuk kesembuhannya."

Luna mengangguk sambil menunduk.

-

-

-

Malam hari, Luna kembali ke hotel diantar oleh Bara. Luna turun di lobi sementara, Brian memilih untuk kembali ke rumah sakit.

"Terima kasih, Pa."

"Sama-sama," balas Bara. "Masuk dan istirahatlah."

"Iya, Pa. Kabari aku tentang kondisi mama."

"Tentu."

"Sampai jumpa." Luna melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Bara.

Luna lantas masuk ke dalam hotel, melangkah dengan sedikit tergesa ke kamarnya. Tiba di kamarnya ia terkejut dengan keberadaan Raka.

"Kamu kapan pulang?" tanya Luna dengan suaranya yang lembut.

"Belum lama. Aku lelah sekali jadi gak bisa ke rumah sakit."

Luna mengangguk mencoba mengerti dengan keadaan sang suami.

"Kamu sudah makan?" tanya Luna.

"Aku sudah makan tadi di luar," jawab Raka. "Kamu sendiri?"

"Aku sudah makan. Tadi papamu mengajakku makan," jawab Luna.

"Baiklah, ayo kita istirahat saja," ucap Raka disambut anggukkan oleh Luna.

Obrolan kecil itu terhenti. Luna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Hampir setengah jam Luna berada di kamar mandi. Ia masih gugup jika harus tidur satu ranjang dengan Raka, meskipun mereka tidak melakukan apa pun.

"Jangan gugup Luna," kata Luna pada dirinya sendiri.

Luna memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum saat pandangnya bertemu dengan Raka. Rasa canggung seketika merayap di dada Luna.

Drttt ....

Suara dering ponsel milik Raka membuyarkan suasana. Raka langsung menerima panggilan yang ternyata dari Bara. Senyum Raka tiba-tiba mengembang. Dengan cepat ia mengakhiri sambungan telepon dan meminta Luna untuk segera bersiap.

Luna tersenyum bahagia saat ia mendapatkan kabar jika Imelda telah sadar. Ia dan Raka buru-buru pergi dari hotel menuju ke rumah sakit.

Tidak berselang lama mereka tiba di rumah sakit. Sebelumnya Bara sudah memberitahu jika Imelda sudah dipindahkan ke ruangan rawat yang sebelumnya. Buru-buru mereka menuju ke tempat itu.

"Ma," ucap Raka saat ia tiba di ruangan rawat Imelda.

"Raka," sambut Imelda dengan suaranya yang lirih.

Raka berlari kecil dan langsung memeluk Imelda. "Bagaimana keadaan Mana?"

"Mama baik-baik saja," jawab Imelda. "Kamu dan Luna bagaimana? Oh iya bagaimana malam pertama kalian? Sukses, kan? Mama sudah tidak sabar untuk menggendong cucu."

DEG

Jantung Luna berdetak lebih cepat. Ia tak berani mengucapkan sepatah kata pun.

"Ma, jangan membahas ini dulu. Kita fokus dulu dengan kesehatan Mama," ucap Raka.

"Iya, Ma. Yang dikatakan Mas Raka benar. Mama harus sembuh dulu," imbuh Luna.

Imelda mengangguk dibarengi dengan senyuman tipis. Ia lantas mengulurkan tangannya memberikan isyarat pada Luna untuk mendekat.

Luna langsung menyambut uluran tangan Imelda.

"Luna, jika nanti saya sudah pergi ... tolong jaga Raka dengan baik. Apapun yang terjadi jangan tinggalkan dia," ucap Imelda.

"Mama tidak akan ke mana-mana," ucap Luna.

"Semua orang akan pergi dari dunia ini, Luna," balas Imelda.

Luna menunduk sambil mengangguk. "Iya, Ma," ucap Luna lirih nyaris seperti bisikan.

"Ya sudah. Mama ngantuk. Mama mau tidur sebentar," ucap Imelda.

Luna dengan penuh perhatian membantu Imelda berbaring. Ia dan Raka memilih untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan bersama Bara dan membiarkan Imelda untuk beristirahat.

Sudah lebih dari dua jam. Luna mulai merasakan ada keanehan. Imelda tak kunjung bangun. Ia lantas meminta pada Raka dan Bara untuk memeriksanya. Kedua laki-laki bergerak menuju tempat tidur Imelda.

"Ma," panggil Raka.

Dua kali Raka memanggil Imelda bahkan sampai menggoyangkan tubuh Imelda, tetapi tak kunjung bangun.

Terlihat Bara memeriksa napas dari hidung Imelda. Wajah Bara berubah serius dan langsung menekan tombol nurse call yang ada di dekatnya. Tidak berselang lama satu Dokter dan perawat datang. Mereka mulai memeriksa Imelda.

Beberapa saat kemudian Dokter menghela napas dan mendekat ke arah Bara. "Maaf, ibu Imelda sudah tiada."

Semua orang terkejut dengan kepergian Imelda yang tiba-tiba. Namun di sini yang paling terpukul adalah Raka.

"Ma, hiks ... hiks ..." Raka berlari ke dekat ranjang.

"Control your self, Raka," ucap Bara.

"Aku gak bisa, Pa."

"Mas, ikhlaskan kepergian mama, ya." Luna berucap sambil mengusap-usap punggung Raka. "Mama sudah gak sakit lagi."

"Kalian pulanglah dulu. Urus semua keperluan pemakamannya. Aku akan tetap di sini mengurus kepulangan jenazahnya," kata Bara.

Raka menggeleng. "Papa saja. Aku yang akan mengurus kepulangan jenazah mama."

"Jangan membantah. Aku tahu kamu tidak bisa," ucap Bara tak ingin menerima bantahan.

"Ayo, Mas," bujuk Luna.

Meskipun berat hati, pada akhirnya Raka menyetujuinya.

-

-

Tidak terasa sudah tujuh hari kematian Imelda. Luna, Raka, dan Bara, duduk bersama di ruangan tengah kediaman Mahendra. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Bara. Namun dari raut wajah laki-laki itu, sepertinya ada hal yang serius.

"Papa akan pindah ke luar negeri untuk sementara waktu," ucap Bara.

"Kenapa tiba-tiba, Pa?" tanya Raka.

"Bisnis di sana tidak ada yang mengurus," jawab Bara. "Saya serahkan semuanya urusan pekerjaan di sini padamu, Raka."

"Baik, Pa."

"Satu lagi, jangan macam-macam. Jaga istrimu dengan baik."

"Tentu, Pa."

"Jangan sampai kamu ingkar. Kamu akan tahu konsekuensi jika kamu melakukan itu."

Raka mengangguk seperti anak yang penurut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!