BAB 1: KEBANGKITAN MORTHAS
Mereka menyebutnya Anima—entitas misterius dari dimensi lain yang terikat kontrak darah melalui ritual khusus tepat saat seseorang menginjak usia lima belas tahun.
Di dunia yang terisolasi oleh tembok raksasa yang menjulang menembus awan, memiliki Anima bukan lagi sekadar pilihan atau lambang kehormatan.
Entitas pelindung ini adalah satu-satunya tiket emas untuk bertahan hidup dari ancaman miliaran Beast ganas yang mengepung rapat perbatasan luar dinding peradaban manusia.
Namun, semesta memegang satu hukum mutlak yang tak bisa diganggu gugat.
Kekuatan sejati Anima sama sekali tidak ditentukan oleh rapalan mantra kuno yang rumit atau kemurnian darah bangsawan sang pemanggil. Kekuatan mereka murni ditentukan oleh seberapa kokoh jiwa sang tuan yang menjadi wadahnya.
Hukum kausalitas itu bekerja secara adil. Jika nyali seseorang ciut dan mentalnya runtuh di hadapan musuh, entitas terkuat sekalipun akan meredup, kehilangan taringnya, dan meninggalkan pemiliknya dalam kehancuran.
Sayangnya, di kerajaan tempat Kael Ardyn tinggal, hukum semesta yang agung itu telah diselewengkan. Para penguasa militer tingkat tinggi mengontrol segalanya secara absolut.
Mereka memonopoli kristal inti yang dipanen dari tubuh Beast, menjadikannya komoditas mahal yang hanya bisa diakses oleh kalangan elite.
Kristal-kristal itu dimanfaatkan secara egois untuk memperluas ruang jiwa kelas penguasa demi mempertahankan takhta dan kekuasaan abadi secara turun-temurun.
Bagi para penguasa korup ini, Anima baru yang tidak tercatat dalam Kitab Kuno warisan leluhur hanyalah sampah cacat yang tak bisa dikontrol. Sistem mereka ketat dan kejam.
Jika seseorang membangkitkan entitas asing yang tidak dikenal, mereka tidak akan diberi panggung untuk berkembang. Mereka yang menyimpang akan dibuang ke luar dinding atau langsung dimusnahkan sebelum menjadi ancaman bagi tatanan kerajaan.
Hingga saat hari kebangkitannya tiba, Kael Ardyn justru menarik sesuatu yang tabu dari dimensi terdalam. Sesuatu yang seharusnya tetap tertidur dalam keabadian Void.
Aula Kebangkitan adalah tempat sakral di mana takdir hidup mati seseorang ditentukan dalam satu kedipan mata. Sesuai hukum semesta, kekuatan manusia dibagi menjadi dua indikator yang saling melengkapi.
Pertama adalah Ranah Jiwa sang pengguna—yang merangkak dari Kelas Perunggu, Perak, Emas, hingga tingkatan tertinggi Kelas Berlian yang legendaris.
Kedua adalah tingkatan Anima yang berhasil terpanggil dari altar dimensi, mulai dari kelas Normal, Elit, hingga kelas Mitologi dan Misterius yang menduduki puncak takhta kekuatan.
Hari itu, atmosfer di dalam Aula Kebangkitan terasa pekat dan mencekam, menekan mental ratusan remaja yang mengantre dengan cemas.
Di atas podium tertinggi aula, tiga sosok dengan tekanan energi Kelas Berlian berdiri mengawasi dengan angkuh: Grandmaster Vaelen si Kepala Akademi yang berjanggut putih panjang, Tetua Corvus yang berwajah penuh kerutan licik, dan Jenderal Ironclad selaku perwakilan tertinggi militer kerajaan dengan zirah besinya yang berkilau dingin.
“Kael Ardyn.”
Saat nama itu menggema ke seluruh sudut ruangan, seluruh aula hening seketika. Bisik-bisik yang tadinya ramai langsung padam.
Kael adalah putra tunggal dari mendiang Komandan Ardyn, pahlawan militer terbesar dalam sejarah kerajaan yang gugur secara tragis di garis depan pertempuran luar dinding.
Semua pasang mata, termasuk tiga penguasa di atas podium, menaruh ekspektasi sangat besar pada pundak remaja berambut gelap itu. Mereka mengira Kael akan menarik seekor Anima Mitologi yang agung seperti mendiang ayahnya.
Kael melangkah tenang dengan tatapan mata lurus tanpa riak kegugupan. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh permukaan kristal altar yang dingin, takdir dunia berbelok tajam ke arah kegelapan absolut.
Wussss—!
Langit-langit aula yang tadinya diterangi lampu kristal mendadak pekat gulita. Udara di sekitar altar berputar hebat. Aura hitam legam menyebar cepat, merayap di lantai batu dan menekan dada setiap orang di dalam aula hingga mereka sesak napas.
Beberapa remaja di barisan belakang bahkan langsung jatuh berlutut karena tak kuat menahan tekanan spiritual yang luar biasa masif.
Dari dalam pusaran asap dimensi Void yang terkoyak paksa, sesosok entitas raksasa setinggi empat meter memanifestasikan dirinya dengan megah.
Sosok itu adalah Malaikat Maut purba. Jubahnya compang-camping sewarna malam, mengibaskan sepasang sayap hitam lebar yang menebarkan bayangan abadi. Di tangan kanannya yang berupa tulang hitam, ia menggenggam sebilah sabit raksasa merah menyala yang memancarkan hawa haus darah tanpa batas.
Morthas. Sang Penuai Nyawa telah bangkit.
Di atas podium tertinggi, wajah tiga penguasa Kelas Berlian yang tadinya angkuh berubah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipis mereka. Jari-jari Tetua Corvus bergetar hebat saat ia membuka lembaran Kitab Kuno secara tergesa-gesa. Hasilnya nihil.
Makhluk mengerikan itu sama sekali tidak tercatat dalam sejarah ribuan tahun kerajaan.
Morthas bukan sekadar Anima biasa; dia adalah bagian dari sejarah kelam masa lalu yang sengaja dihapus. Dia adalah entitas liar berkesadaran tinggi yang di masa purba pernah membantai para pemanggilnya sendiri karena dianggap terlalu lemah, sebelum akhirnya menciptakan ekosistem Beast di luar dinding sebagai senjata biologis untuk memanen kristal inti secara mandiri.
“Tangkap anak itu! Musnahkan entitas terkutuk itu sekarang juga!” teriak Jenderal Ironclad dengan urat-urat leher menegang penuh kepanikan.
Wajah militernya yang kaku dipenuhi rasa takut yang coba ia sembunyikan, sekaligus kilatan licik untuk memanfaatkan situasi ini demi menyingkirkan putra sang pahlawan yang dianggapnya sebagai ancaman politik terbesar.
Brakkk!
Mendengar perintah sang Jenderal, tekanan energi jiwa kolektif dari ratusan prajurit elite militer yang menjaga aula dilepaskan bersamaan. Gelombang energi itu menghantam tubuh Kael yang masih berusia lima belas tahun dengan telak, memaksanya bertekuk lutut hingga lantai batu di bawah kakinya retak berantakan.
Saat ini, kekuatan sejati Morthas masih tersegel rapat karena Ranah Jiwa Kael masih berada di tingkat Perunggu awal dan belum terlatih.
Beban spiritual dari manifestasi sabit merah Morthas mulai membakar pembuluh darah Kael, menuntut pasokan energi konstan yang membuat tubuhnya kesakitan setengah mati.
Namun, di tengah tekanan ratusan prajurit dan ancaman hukuman mati, sang Malaikat Maut Morthas yang arogan menundukkan kepalanya, menatap ke arah pemanggilnya.
Di sana, Morthas melihat sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Di sepasang mata remaja yang sedang ditekan habis-habisan itu, tidak ada setitik pun rasa takut atau penyesalan.
Kael Ardyn justru menggertakkan giginya, memaksa otot-otot kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak. Jiwanya sekokoh baja, menolak tunduk pada intimidasi militer.
Tindakan Kael berdiri bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari eksekusi, melainkan untuk memasang badan di depan, mencoba melindungi Morthas yang dianggapnya sama-sama tersisih dan ditakuti oleh dunia yang egois ini.
Menyaksikan tekad jiwa tuannya yang tak goyah sedikit pun, Morthas menggeram rendah—sebuah vibrasi kepuasan dari entitas Misterius yang akhirnya menemukan wadah yang layak.
Menggunakan sisa-sisa energi segelnya sebelum terputus, sang Malaikat Maut mengayunkan sabit raksasanya dalam satu putaran horizontal yang lambat namun mematikan.
Wush!
Sebuah kubah perlindungan absolut berwarna hitam kemerahan tercipta secara instan, mementalkan seluruh serangan spiritual dan fisik dari ratusan prajurit elite militer hingga mereka terpental ke belakang.
Setelah memastikan tuannya aman dari ancaman instan, wujud raksasa Morthas perlahan memudar, pecah menjadi butiran partikel Void hitam, dan kembali masuk terlelap ke dalam dimensi jiwa Kael.
Detik itu juga, seluruh pasokan energi spiritual di dalam tubuh Kael terkuras habis tanpa sisa. Rasa lelah yang teramat sangat menghantam kesadarannya.
Pandangan remaja itu mendadak menggelap, napasnya terputus, dan tubuh kurusnya terkapar tak berdaya di atas reruntuhan altar batu Aula Kebangkitan yang hancur.
BAB 2: DEKLARASI DI ATAS RERUNTUHAN
Melihat Kael Ardyn yang terkulai lemas di atas altar yang hancur, Jenderal Ironclad memberikan isyarat tangan yang dingin.
“Pasukan! Amankan area!” teriak sang Jenderal menggelegar, mencabut pedangnya lurus ke udara.
“Eksekusi bocah itu sekarang juga sebelum entitas liar itu benar-benar menggerogoti dan menghancurkan tatanan kerajaan!” lanjut Ironclad penuh penekanan.
BRAKKK!
Ratusan prajurit elite merangsek maju secara serempak, derap langkah zirah besi mereka menggetarkan lantai batu aula.
Aura Ranah Perak dan Emas dari senjata serta perisai mereka berdenting nyaring, bersiap menghabisi nyawa remaja lima belas tahun yang dicap 'cacat terkutuk' itu.
Namun, tepat saat mata pedang pertama hampir menyentuh kulit leher Kael, atmosfer di dalam aula mendadak membeku secara ekstrem.
Hah... Hah...
Napas ratusan orang di ruangan itu seketika berubah menjadi uap putih tipis. Suhu merosot drastis hingga menyengat kulit.
Keheningan yang janggal merayap cepat, melumpuhkan pergerakan prajurit hingga mereka membeku di tempat, seolah waktu telah berhenti berdetak.
Rasa dingin itu bukan sekadar perubahan udara biasa, melainkan hawa pembunuh murni yang menginjak-injak naluri bertahan hidup mereka.
Keringat di dahi para prajurit membeku menjadi kristal es kecil sebelum sempat menetes. Perisai besi tebal yang mereka genggam terasa membakar dingin, membuat jari-jari mereka mati rasa dan hampir menjatuhkan senjata.
Dari balik kegelapan sudut aula yang paling pekat, terdengar suara ketukan tongkat kayu yang santai namun bergaung berat.
Tuk... Tuk... Tuk...
Seorang lelaki tua dengan jubah abu-abu lusuh melangkah keluar dari bayangan. Rambut dan janggut putihnya tampak acak-acakan.
Penampilannya mungkin terlihat seperti gelandangan biasa, namun begitu ia mendongak, kilatan energi dari mata tuanya membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Tanpa perlu merapalkan mantra atau memanggil Anima, lelaki tua itu hanya mendengus rendah.
BOOOOOM!
Gelombang tekanan jiwa yang luar biasa pekat menghantam mental seluruh prajurit di dalam ruangan.
Ratusan Anima Peringkat Tinggi milik pasukan elite itu melengking ketakutan, gemetar, dan secara paksa ditarik kembali ke dalam wadah pemiliknya.
Lelaki tua itu menatap lurus ke podium tinggi, mengunci pandangan Jenderal Ironclad yang wajahnya mendadak seputih kertas.
“Kalian ini... hanya bisa hidup nyaman dan menjadi pengecut di balik tembok raksasa yang mulai membusuk ini,” ucap lelaki tua itu.
Suaranya rendah, namun getarannya sanggup meretakkan setiap jengkal dinding batu aula.
“Bukannya melindungi putra dari pahlawan yang mengorbankan nyawanya demi kerajaan, kalian justru mengacungkan pedang hanya karena ketakutan setengah mati?”
“K-Kau...!” Ironclad mengepalkan tinjunya hingga sarung tangan kulit militernya berdecit keras.
Guratan urat kemarahan menjalar di pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. Ia berusaha keras menahan guncangan ketakutan di dadanya.
“Mustahil! Bagaimana mungkin bajingan tua sepertimu masih bernapas?!” seru Ironclad dengan nada gemetar.
“Tiga puluh tahun lalu, dalam siklus Pengepungan Besar di Pegunungan Barat... aku melihat sendiri bagaimana tubuhmu terkoyak hingga hancur oleh kawanan Beast!”
Di sebelahnya, Tetua Corvus mencengkeram jubah kebesarannya dengan jari-jari yang gemetar hebat. Keriput di wajahnya tampak makin dalam, memancarkan kepanikan politik yang sulit disembunyikan.
“Dia... salah satu dari tiga pilar yang mendirikan Guild Scar Horizon,” bisik Corvus dengan suara tercekat ke arah Ironclad.
“Manusia yang sejak awal menentang hukum monopoli kristal kita. Jika iblis tua ini kembali, kedamaian palsu yang kita bangun selama tiga dekade berada di ujung tanduk.”
Grandmaster Vaelen, sang Kepala Akademi Kerajaan Barat, hanya mengusap janggut panjangnya dengan tatapan kosong, lurus menatap altar batu yang kini hancur berkeping-keping.
“Aku mengenalnya jauh lebih lama dari kalian,” ucap Vaelen dengan nada berat dan dingin.
“Kemunculannya kembali, ditambah fakta bahwa ia merebut putra mendiang Komandan Ardyn... ini bukan lagi sebuah insiden sepele. Ini adalah deklarasi perang.”
Vaelen menghela napas panjang, lalu memegang pundak Ironclad yang hendak memerintahkan serangan bunuh diri.
“Tahan pasukanmu, Jenderal. Kita tidak bisa gegabah. Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan yang telah dihimpun Scar Horizon di balik kegelapan luar dinding selama ini.”
Lelaki tua di bawah altar itu hanya terkekeh sinis melihat kepanikan para petinggi kerajaan.
“Anak ini akan kubawa dan kulatih dengan caraku sendiri,” tegasnya, menunjuk raga Kael yang tergeletak.
“Duduklah yang tenang di balik sangkar emas kalian. Karena suatu saat nanti... dia akan kembali untuk menuntut penjelasan atas semua pengkhianatan ini.”
Jauh di dalam kegelapan Ranah Jiwa Kael yang nyaris hancur, sepasang mata merah Morthas terbuka tipis. Entitas Kelas Misterius itu terkekeh dingin menyaksikan kekacauan di dunia nyata.
“Manusia-manusia lemah... gemetar hanya karena secuil tekanan dari Merak Void itu,” bisik Morthas sinis, sebelum kembali tenggelam ke dalam kegelapan batin tuannya.
Atmosfer di dalam aula mendadak bergejolak hebat. Tidak ada satu pun prajurit yang berani memunculkan niat membunuh lagi.
Di belakang punggung sang lelaki tua, sesosok Anima purba bermanifestasi penuh—sesosok Merak Void yang anggun dengan bulu-bulu bercahaya sewarna ruang hampa.
WUUUUUHHHSSSSSS!
Dengan satu kepakan sayap yang memancarkan kilatan cahaya perak, ruang dimensi di sekitar mereka terkoyak paksa.
Detik berikutnya, sosok lelaki tua itu dan tubuh Kael yang tak sadarkan diri lenyap seketika, berpindah menembus ruang tanpa meninggalkan jejak.
Meninggalkan Aula Kebangkitan yang kini diselimuti oleh kesunyian mencekam dan api kepanikan politik yang mulai membesar.
Jauh di balik jangkauan peradaban manusia, di sebuah kabin tersembunyi yang terbuat dari batu gunung dan kayu ek kuno, sang lelaki tua mendaratkan kakinya.
Ia membaringkan tubuh Kael yang terkulai lemas di atas ranjang kayu sederhana.
Napas remaja itu sangat tipis dan terputus-putus. Pembuluh darah di tangannya sempat menghitam akibat beban spiritual dari sabit merah Morthas yang terlalu masif bagi Ranah Jiwa Perunggu Awal.
Di dalam kabin tua itu, hembusan angin malam memukul jendela kayu yang berderit pelan. Lelaki tua itu berdiri di dekat tungku api, menyeduh ramuan herbal yang memancarkan aroma pahit yang pekat.
Setiap kali Kael meringis menahan sakit dalam tidurnya, pembuluh darah hitam di tangannya berdenyut pelan, menolak sekaligus beradaptasi dengan sisa-sisa energi maut Morthas.
Lelaki tua itu menatap Kael dengan pandangan rumit. Setelah tiga abad lamanya sejak tragedi kelam masa lalu, baru kali ini entitas Kelas Misterius muncul kembali di dunia manusia.
Lelaki tua itu—yang tidak lain adalah Grand Master Alden sang pelindung Merak Void, pendiri Guild Scar Horizon—menghela napas panjang.
“Bertahanlah, Bocah. Jika jiwamu hancur hanya karena menampung entitas itu di tahap awal... maka nama besar Ardyn benar-benar telah mati di dunia ini,” gumam Alden pelan.
Alden melangkah keluar kamar, membiarkan waktu yang menyembuhkan luka spiritual di dalam wadah jiwa anak itu.
“Jaga tempat ini sampai dia siuman,” ucap Alden tegas kepada salah satu sosok pengawal yang berdiri di dalam kegelapan koridor.
Tiga hari penuh, Kael terjebak dalam koma yang sangat dalam, mengambang di antara garis tipis hidup dan mati.
Di dalam kegelapan dimensi Void yang pekat, suara berat Morthas kembali bergaung mengguncang kesadaran Kael yang rapuh.
“Ujianmu baru saja dimulai, Manusia Fana... Mari kita lihat, seberapa kokoh jiwamu yang sebenarnya di hadapan takdir ini.”
BAB 3: KAWAN ABNORMAL
Pada fajar hari ketiga, kesadaran Kael Ardyn perlahan kembali dari kegelapan Void.
Kelopak matanya terasa seberat timah, membutuhkan usaha keras hanya untuk sekadar mengerjap.
Aroma obat-obatan herbal yang pekat berpadu wangi kayu manis langsung menyengat indra penciumannya, memicu denyut pening di pelipis.
Kael mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir kabut pada pandangannya.
Dinding batu kasar yang kokoh, langit-langit tinggi dari kayu ek yang menghitam, serta perabotan kuno sederhana. Ini jelas bukan kamar mewah di kediaman militer keluarganya.
Saat mencoba menggeser tubuhnya yang kaku, sendi-sendinya berderit protes.
Rasa nyeri menusuk langsung ke pusat saraf, sisa dari pembuluh darahnya yang sempat menghitam akibat beban spiritual Morthas.
Namun, rasa sakit itu mendadak menguap ketika Kael menoleh ke sisi kanan tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, memicu lonjakan adrenalin instan.
Tepat di samping ranjangnya, sepasang mata bulat besar berwarna hitam legam sedang menatapnya lurus dari jarak dekat.
Itu adalah kepala seekor Mammoth Purba berbulu lebat setinggi langit-langit kamar.
Sepasang gadingnya yang melengkung tajam berkilau mengancam, tampak mampu merobek zirah besi tebal dalam sekali seruduk. Hawa kuno yang berat menguar dari makhluk itu, memenuhi ruang kamar yang sempit.
Secara refleks, insting bertahan hidup Kael yang terlatih di lingkungan militer langsung aktif.
Ia menggertakkan gigi, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu memaksakan energi jiwanya yang masih rapuh untuk menarik kembali sabit merah Morthas dari dimensi Void.
“Hei, tenang! Jangan tegang begitu!” sebuah suara cempreng dan santai menginterupsi dari balik perut besar sang Mammoth.
“Wajahmu jadi tambah pucat seperti mayat tahu, bisa-bisa kau pingsan lagi.”
Kael tertegun, menghentikan aliran spiritualnya yang baru saja memercik.
Seorang pemuda berbadan gemuk dengan pipi tembem melangkah maju sambil membawa sepasang tangan yang kerepotan memegang mangkuk sup hangat.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi waspada, melainkan cengiran polos tanpa beban.
Bocah ini gila atau otaknya memang lowong? umpat Kael dalam hati.
Bagaimana bisa seseorang dengan santai memanggil Anima berukuran raksasa di dalam ruang tidur yang sempit seperti ini?
Jika insting bertarungnya tadi tidak ditahan, kamar ini pasti sudah hancur berantakan.
“Bisakah kau... menarik kembali makhluk purba ini?” ucap Kael.
Suaranya terdengar serak dan kering, sengaja dibuat sedatar mungkin untuk menyembunyikan keterkejutan yang sempat mengguncang egonya.
“Oh! Maaf, maaf. Morgrath cuma penasaran denganmu,” Hugo, pemuda gemuk itu, terkekeh tanpa rasa bersalah.
Dengan satu lambaian tangan yang kasual, Mammoth raksasa itu memudar, pecah menjadi butiran cahaya spiritual kebiruan yang kembali meresap ke dalam dadanya.
Hugo meletakkan mangkuk sup di meja kecil, lalu menjelaskan dengan nada santai bahwa mereka saat ini berada di markas tersembunyi Guild Scar Horizon.
Tempat ini terletak di Lapisan Kedua luar dinding—sebuah zona mematikan yang dihuni kawanan Beast ganas setara Kelas Perak. Tempat di mana manusia biasa tanpa persiapan seharusnya sudah mati tercabik-cabik dalam hitungan menit.
Belum sempat Kael mencerna informasi tentang lokasi keberadaannya saat ini—
BRAKKK!
Pintu kayu tebal kabin dihantam terbuka dari luar dengan kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya yang berkarat.
Detuman keras itu bergema memekakkan telinga, membuat mangkuk sup di atas meja bergetar hebat.
“Woi, Gendut! Keluar tidak kau?!”
Sesosok pemuda kurus dengan rambut merah acak-acakan menerobos masuk tanpa permisi. Matanya menyala-nyala penuh gairah bertarung.
“Tiga hari penuh kau bersembunyi di kamar ini hanya untuk menjaga anak baru!” teriaknya meluap-luap.
“Cepat panggil Morgrath-mu keluar, aku sudah gatal ingin bertarung!”
Kael memijat pelipisnya yang mendadak pening berlipat ganda.
Pemuda berambut merah yang baru datang ini—yang belakangan ia ketahui bernama Ren—terus mengoceh tanpa memedulikan kondisi pasien.
Ren mondar-mandir seperti cacing kepanasan, sementara Hugo hanya membalas makian itu dengan cengiran provokatif.
Suasana kamar yang harusnya menjadi tempat pemulihan jiwa yang tenang kini tak ubahnya seperti pasar malam yang bising.
Namun, kegaduhan itu terputus secara absolut dalam satu detik berikutnya.
WUSSSSS!
Suhu di dalam ruangan batu mendadak melonjak drastis secara ekstrem.
Oksigen di sekitar mereka seolah tersedot habis, digantikan oleh gelombang hawa panas yang pekat hingga menekan dada.
Dinding-dinding batu kamar mulai mengeluarkan uap panas, dan lantai kayu di bawah kaki mereka berderit seakan siap menyala menjadi bara.
Merasakan tekanan aura yang mengerikan itu, Hugo yang tadinya santai langsung menciut.
Dengan wajah yang mendadak pucat ketakutan, ia melompat dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya, menyembunyikan wujud tambunnya di balik punggung Kael yang kurus.
Hugo menjadikan si anak baru yang bahkan belum bisa berdiri tegak sebagai tameng hidup.
Sementara Ren, pemuda cerewet yang tadinya berapi-api menantang duel, langsung membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat.
Tubuhnya kaku seperti batu, dan pelipisnya bercucuran keringat dingin yang langsung menguap. Semua kesombongan bertarungnya lenyap tanpa sisa.
Kael mengepalkan tangannya erat-erat di atas selimut, matanya menatap tajam ke arah pintu.
Aura intimidasi ini... rasanya seperti sedang dihampiri oleh perwujudan matahari itu sendiri. Penuh kehancuran sekaligus keagungan.
Dari balik koridor yang gelap, siluet sesosok wanita melangkah maju dengan anggun namun mengintimidasi.
Setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas abu hitam yang membara di lantai kayu, diiringi oleh kibasan samar sayap api ilusi seekor Phoenix yang bertengger di balik pundaknya.
Gadis itu bernama Elena. Dia adalah cucu dari lelaki tua legendaris yang telah menyelamatkan nyawa Kael.
Di balik punggungnya bertengger Pyrael—Anima kelas Mitologi berwujud burung Phoenix api purba yang memancarkan hawa neraka.
Sepasang mata merah menyala milik Elena langsung mengunci ketiga pemuda di dalam kamar dengan tatapan menusuk.
“Ren... Hugo...” suaranya terdengar rendah, namun mengandung getaran vibrasi api yang sanggup membakar nyali siapa saja yang mendengarnya.
“Bisa kalian jelaskan padaku, kenapa pasien yang baru saja sadar dari koma tiga hari sudah kalian ajak ribut seperti ini?”
Kekesalan di wajah cantik Elena semakin mendalam melihat kedua temannya diam membisu seperti patung lilin.
Di balik pundaknya, wujud ilusi Pyrael membesar, mengepakkan sayap api yang memercikkan bara merah ke udara, membuat oksigen di dalam ruangan semakin menipis.
Ironisnya, Elena datang untuk menghentikan keributan agar Kael bisa istirahat, namun kehadirannya justru membuat kamar tersebut terancam hangus terbakar menjadi abu.
Melihat lantai kayu yang mulai menghitam di dekat kaki Elena, Kael tahu ia harus menengahi sebelum mereka semua benar-benar terpanggang hidup-hidup di tempat tidur ini.
Ia menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas yang membakar tenggorokannya, lalu angkat bicara menembus tekanan aura tersebut.
“Nona... sebaiknya tenangkan dulu amarahmu,” ucap Kael.
Suaranya terdengar sangat tenang dan datar, namun memiliki ketegasan di tengah gemuruh hawa panas.
“Aku Kael. Dan situasi di sini tidak seburuk yang kau lihat.”
Mendengar suara sang pasien yang merespons auranya tanpa rasa takut, fokus Elena beralih penuh.
Sepasang mata merah menyalanya menatap Kael lekat-lekat, menyelidiki kekuatan jiwa remaja di depannya.
Perlahan, melihat Kael yang sama sekali tidak gentar atau gemetar seperti dua orang lainnya, wujud raksasa Pyrael mengecil dan memudar kembali ke dalam Ranah Jiwa Elena.
Hawa mencekam yang menindas di dalam ruangan sedikit mereda, meskipun Elena tetap melipat tangan di depan dada dengan tatapan yang masih tajam.
“Bicara yang jelas,” ketus Elena, nadanya dingin meskipun sisa auranya masih terasa panas.
“Aku ke sini sebenarnya hanya ingin memastikan dua idiot ini tidak membuat pasien yang baru sadar mati jantungan karena ulah mereka.”
Kael tersenyum tipis secara samar, merasa geli dengan kontras sifat gadis di depannya.
Niatnya menenangkan, tapi kehadirannya hampir membakar seisi rumah, gumam Kael dalam hati.
“Sebenarnya, kami tidak sedang bertengkar,” Kael berdeham sedikit, mencoba mencairkan suasana yang kaku sambil menyenggol Hugo yang masih gemetar di belakang bahunya.
“Kami hanya... sedang bertukar cerita tentang pengalaman luar biasa mereka bertarung di Lapisan Kedua luar dinding. Iya kan, Hugo?”
Mendengar namanya disebut sebagai pelampung keselamatan dari amarah Elena, Hugo memberanikan diri melongokkan kepalanya dari balik bahu Kael dengan cengiran yang dipaksakan.
“Ah! Iya, Elena! Benar kata Kael!” seru Hugo panik.
“Kami hanya terlalu bersemangat menceritakan luar dinding sampai terbawa suasana!”
Tak mau menanggung beban interogasi sendirian, Hugo melirik ke sampingnya, memberikan kode mata.
“Iya kan, Ren?!”
Ren yang merasa mendapat giliran langsung tersentak dari kekakuannya, mengangguk patah-patah seperti boneka rusak.
“I-iya! Betul! Cuma cerita pengalaman masa lalu, tidak ada ribut-ribut sama sekali, bersumpah!”
Melihat kekompakan yang dipaksakan dan wajah ketakutan dari ketiga pemuda itu, Elena menghela napas panjang, memutar matanya dengan ekspresi bosan yang kentara.
Sisa-sisa hawa panas benar-benar lenyap dari ruangan, mengembalikan suhu kabin batu ke kondisi semula yang sejuk berkat angin malam luar dinding.
Ketegangan yang tadinya mencekam perlahan mencair, digantikan oleh kecanggungan yang menggelikan di antara mereka berempat.
Di dalam kamar sederhana di Lapisan Kedua yang berbahaya itu, Kael, Ren, Hugo, dan Elena akhirnya mulai duduk bersama dengan layak.
Tanpa mereka sadari, di antara sisa abu hangat yang ditinggalkan oleh Phoenix api, ikatan pertemanan pertama mereka baru saja terbentuk—sebuah awal dari persekutuan empat jiwa abnormal yang siap mengguncang hukum dunia yang korup.
Namun, kedamaian sejenak itu mendadak terusik saat Morthas berbisik dingin di relung jiwa Kael, memperingatkan hadirnya sesuatu yang mengerikan dari batas luar dinding.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!