***
Suara hantaman besi tua yang beradu dengan beton pembatas jalan malam itu akan selalu menjadi melodi paling mengerikan dalam hidup Freya Anindita.
Malam itu hujan turun sangat deras. Kilatan petir sesekali membelah langit hitam, menyinari kaca mobil yang mulai berembun.
Freya yang saat itu baru menginjak usia sebelas tahun—masih mengenakan seragam putih-merah yang sedikit kotor setelah acara perpisahan kelas enam SD—duduk di kursi belakang. Ia memeluk boneka beruang lusuh kesayangannya, mencoba menghalau rasa takut dari gemuruh petir di luar.
"Papa, pelan-pelan. Jalannya licin sekali," Suara lembut sang mama terdengar memperingatkan. Wanita itu menoleh ke belakang, melemparkan senyum menenangkan kepada Freya.
"Freya sayang, tidak apa-apa. Sebentar lagi kita sampai di rumah, ya?".
Itu adalah senyuman terakhir yang Freya lihat dari ibunya.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah truk kontainer dari arah berlawanan kehilangan kendali akibat rem blong di jalanan yang menurun dan licin.
Lampu sorot truk itu membutakan pandangan mereka. Suara klakson panjang berdengung memekakkan telinga, disusul jeritan histeris sang mama. Papa Freya mencoba membanting setir sekencang mungkin, namun terlambat.
BRAKKKK!
Benturan itu begitu dahsyat. Dunia seolah berputar terbalik bagi Freya. Tubuh mungilnya terombang-ambing di dalam kabin mobil yang merangsek hancur.
Suara kaca pecah yang berdenting tajam bercampur dengan derit besi yang bergesekan menciptakan suara yang memilukan. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi gelap gulita.
Bau anyir darah dan aroma obat-obatan yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Freya saat kesadarannya perlahan pulih.
Hal pertama yang ia dengar adalah suara monitor jantung yang berbunyi monoton di ruangan serba putih. Kepala Freya terasa sangat berat, diperban rapat dengan noda darah yang menembus kain kasa.
Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan kengerian yang ia saksikan begitu matanya terbuka sempurna. Ia berada di lorong rumah sakit yang dingin dan bising. Beberapa perawat berlarian dengan pakaian berlumuran darah.
"Mama... Papa..." Bisik Freya parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Seorang suster paruh baya mendekatinya dengan wajah pucat dan mata penuh iba. "Adik... Adik Freya sudah sadar? Syukurlah..."
"Mama di mana, Suster? Papa di mana?". Freya mencengkeram lengan baju suster itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Air mata mulai berlinang, membasahi pipinya yang penuh luka goresan kaca.
Suster itu terdiam sesaat, menggigit bibir bawahnya sebelum berbisik dengan nada tercekik, "Mama... Mama sudah tidak ada, Nak. Jenazahnya sudah dipindahkan ke ruang forensik. Tapi papamu... papamu masih berjuang di dalam ruang rawat darurat. Mari, Suster antar."
Dunia Freya seolah runtuh seketika mendengar kata 'ruang jenazah' dan 'tidak ada'. Di usianya yang baru sebelas tahun, ia dipaksa memahami arti kehilangan yang sesungguhnya.
Dengan langkah gontai dan kaki yang gemetar hebat, ia menolak menggunakan kursi roda. Sambil menangis tersedu-sedu, memeluk dirinya sendiri yang gemetar, ia berjalan menuju sebuah ruangan di mana sang papa tengah terbaring sekarat.
Di dalam ruangan itu, tubuh tegap papanya kini dipenuhi selang dan alat medis. Napasnya pendek dan tersengal-sengal. Mesin detak jantung di samping tempat tidur menunjukkan grafik yang semakin melemah.
"Papa..." Tangis Freya pecah. Ia berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan papanya yang terasa sedingin es. "Papa jangan tinggalkan Freya... Mama sudah pergi, Papa tidak boleh pergi..."
Pria paruh baya itu perlahan membuka matanya yang kuyu. Melihat putri semata wayangnya yang menangis histeris dengan luka di sekujur tubuh, setetes air mata jatuh dari sudut mata sang papa. Ia tahu waktunya tidak banyak. Paru-parunya telah robek akibat benturan setir mobil.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka agak keras. Seorang pria paruh baya berpenampilan berwibawa, mengenakan setelan jas mahal yang tampak sedikit berantakan karena terburu-buru, melangkah masuk dengan napas memburu. Dia adalah Baskoro Danendra, pengusaha raksasa sekaligus rekan bisnis terdekat papa Freya.
Di belakang Baskoro, berdiri seorang pemuda berusia 23 tahun berwajah dingin, tajam, dan berpostur tegap menawan.
Pemuda itu adalah Galen Danendra, putra sulung Baskoro yang baru saja mulai memegang kendali di salah satu anak perusahaan ayahnya.
Mata Galen yang kelam dan tak tersentuh menatap pemandangan tragis di depannya tanpa ekspresi yang jelas, namun ada kilat ketegangan di rahangnya yang mengeras.
"Hendrawan!". Baskoro langsung menghampiri sisi ranjang, menggenggam pundak sahabatnya dengan tangan gemetar. "Astaga, apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?".
Papa Freya, Hendrawan, menggerakkan jarinya yang lemah, mengisyaratkan Baskoro untuk mendekat. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang terputus-putus. "B-Baskoro... waktuku... sudah habis..."
"Jangan bicara begitu! Dokternya sedang berusaha!". Baskoro berteriak menahan tangis.
"Dengar... dengarkan aku..." Hendrawan terbatuk, memuntahkan sedikit darah dari sudut bibirnya yang membuat Freya semakin menjerit histeris. "Aku tidak punya... siapa-siapa lagi. Keluarga kami... tidak memiliki saudara yang tersisa. Aku menitipkan... Freya..."
Hendrawan mengarahkan pandangannya yang mulai mengabur ke arah Freya, lalu kembali menatap Baskoro. "Ambil alih... seluruh bisnis dan asetku. Kelola semuanya... tapi aku mohon, rawat putriku. Jaga dia... besarkan dia..."
Baskoro mengangguk cepat tanpa ragu, air matanya kini runtuh. "Aku berjanji, Hendrawan. Demi persahabatan kita, demi nama baik Danendra, aku akan merawat Freya seperti putriku sendiri. Seluruh aset dan bisnismu akan kujaga sampai dia dewasa. Kamu tidak perlu khawatir."
Mendengar janji itu, seulas senyum lemah terukir di wajah pucat Hendrawan. Pandangannya beralih pada pemuda yang berdiri tegap di ujung ruangan—Galen.
Mata elang Galen beradu dengan tatapan redup pria yang berada di ambang kematian itu. Entah apa yang dipikirkan Galen saat itu, wajah tampannya tetap sedingin es batu, tanpa empati yang kentara, khas seorang pewaris berdarah dingin yang diajarkan untuk tidak melibatkan emosi dalam hal apa pun.
"Galen..." Panggil Hendrawan sangat lirih, hampir tak terdengar. "Bantu ayahmu... jaga Freya..."
Galen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat tipis, sebuah gestur formalitas yang penuh misteri.
Detik berikutnya, sebuah bunyi berdengung panjang yang statis memekakkan ruangan.
Biiiiiiiiiiiiiiip...
Grafik pada monitor jantung berubah menjadi garis lurus yang kaku. Tangan Hendrawan yang berada di genggaman Freya seketika terkulai lemas, kehilangan seluruh dayanya.
"Papa? Papa!!! Bangun, Papa! Jangan tidur!". Freya menjerit sejadi-jadinya. Tubuh mungilnya terguncang hebat. Ia memeluk dada papanya yang sudah tidak lagi berdetak, meraung memanggil nama sang papa hingga suaranya serak dan habis. "Papa jangan tinggalkan Freya sendirian! Freya takut, Papa! Mama... Papa... bangun!".
Baskoro memalingkan wajahnya, tidak kuasa menahan kesedihan yang amat mendalam melihat anak sedecil itu harus menjadi yatim piatu dalam satu malam. Beberapa dokter dan perawat segera masuk untuk melepas peralatan medis dan menutup wajah Hendrawan dengan kain putih.
Saat kain putih itu hendak menutupi wajah papanya, Freya menolak keras. Ia mencengkeram kain itu sambil terus menangis histeris. "Jangan! Jangan tutup Papa! Papa masih hidup! Papa cuma tidur!".
Di tengah kekacauan dan jerit tangis yang memilukan itu, sebuah tangan besar, kokoh, dan dingin tiba-tiba mencengkeram bahu mungil Freya dari belakang. Kekuatan tangan itu begitu mutlak, memaksa Freya untuk mundur dan menjauh dari ranjang kematian tersebut.
Freya menoleh dengan wajah yang basah oleh air mata dan darah yang mengering, menatap sosok yang menariknya.
Itu adalah Galen.
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu menatapnya dari ketinggian dengan mata yang kelam—kosong dan tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun.
"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya," Ucap Galen. Suaranya berat, bariton, dan terdengar sangat kejam di telinga seorang anak kecil yang baru saja kehilangan dunianya.
Freya menatap Galen dengan rasa takut sekaligus benci yang amat sangat. Di malam yang paling kelam itu, dibawah bayang-bayang kematian orang tuanya, Freya menyadari satu hal: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia telah diserahkan ke dalam genggaman keluarga Danendra, dan pria dingin di hadapannya ini akan menjadi bagian dari takdir kejam yang siap menjeratnya di masa depan.
Namun, Freya yang hancur tidak memedulikan ucapan pria dewasa di belakangnya itu. Ia mengabaikan tatapan tajam dan kehadiran Galen seolah pemuda itu tidak ada. Fokus hidupnya saat ini telah runtuh bersama hembusan napas terakhir sang papa.
Dengan sisa kekuatan di tubuh mungilnya yang gemetar, Freya melepaskan cengkeraman tangan Galen pada bahunya. Ia melompat kembali ke atas ranjang rumah sakit, menjatuhkan tubuhnya diatas dada sang papa yang sudah kaku dan mendingin. Ia memeluk leher papanya erat-erat, menolak melepaskannya meski sedetik saja.
"Papa... bangun, Pa... Freya mohon," Isak Freya dengan suara yang parau, nyaris habis karena terlalu banyak menjerit. Air matanya menetes deras, membasahi kain seprai rumah sakit yang ternoda darah.
"Papa sudah janji mau temani Freya ke SMP baru... Papa janji mau belikan tas baru kalau Freya lulus kelas enam... Kenapa Papa bohong? Kenapa Papa malah tidur di sini? Kalau Papa pergi, Freya sama siapa? Freya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Papa..."
Suara tangisan anak berusia sebelas tahun itu begitu memilukan, menggema di dinding-dinding lorong rumah sakit yang dingin. Para perawat yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menunduk, menyeka air mata mereka karena tidak tega.
Melihat situasi yang semakin larut dan tidak kondusif, Baskoro Danendra menghela napas berat. Ia menepuk pundak Galen, memberikan isyarat agar putranya tetap mengawasi Freya.
"Galen, Papa urus semua administrasi biaya, ruang forensik, dan ambulans untuk pengurusan jenazah sahabat Papa dulu di depan. Jaga anak ini."
Galen hanya mengangguk pelan tanpa suara. Setelah Baskoro melangkah keluar ruangan, Galen hanya berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan mahalnya.
Sepasang mata elangnya yang kelam menatap datar ke arah punggung Freya yang terguncang hebat akibat tangis yang tak kunjung reda.
Galen membiarkannya. Pria itu memberikan waktu sepuluh menit bagi Freya untuk mendekap jasad ayahnya untuk yang terakhir kali. Baginya, menangis adalah hal paling tidak berguna di dunia ini, tetapi ia tahu anak kecil di depannya butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit.
Sepuluh menit berlalu dengan cepat. Dua orang petugas pengurus jenazah rumah sakit masuk ke dalam ruangan membawa kantong jenazah baru, siap untuk memindahkan jasad Hendrawan ke ruang forensik demi proses pembersihan dan autopsi awal.
"Maaf, Dek... jasad papanya harus segera kami urus dan bersihkan terlebih dahulu," Ucap salah satu petugas dengan sangat lembut, mencoba membujuk Freya.
Namun, Freya justru semakin mempererat pelukannya pada leher sang papa. "Tidak! Jangan bawa Papa! Jangan sentuh Papa saya! Pergi kalian semua! Pergi!" teriak Freya histeris, melindungi jasad ayahnya dengan tubuh kecilnya sendiri.
Melihat situasi yang mulai menghambat pekerjaan rumah sakit, Galen mengembuskan napas panjang dari hidungnya. Ia tidak bisa membiarkan drama ini berlarut-larut. Langkah kakinya yang berat maju mendekati ranjang.
Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekar milik Galen langsung menyusup ke bawah ketiak dan paha Freya. Dengan satu gerakan yang mutlak dan tidak bisa dibantah, Galen menarik tubuh kecil Freya dan langsung mengangkatnya, menggendong anak perempuan itu dalam dekapannya untuk menjauh dari ranjang kematian tersebut.
"Lepas! Lepaskan aku!". Freya langsung meronta-ronta dengan brutal di dalam gendongan Galen. Karena ia belum mengenal siapa pemuda berwajah dingin ini, ia berteriak dengan penuh kepanikan. "Lepas, kak! Kakak siapa?! Jangan bawa aku jauh dari Papa! Kakak jahat! Lepasin!".
Tangan mungil Freya memukul-mukul dada bidang Galen berkali-kali. Kaki kecilnya menendang ke udara, mencoba melepaskan diri dari kekangan lengan Galen yang terasa seperti borgol besi.
Freya menangis histeris, menjangkaukan jemarinya ke arah ranjang ayahnya yang semakin menjauh saat petugas mulai menutup kain putih ke seluruh wajah papanya.
"PAPA!!! PAPA!!!". Jerit Freya memenuhi ruangan, sementara Galen tetap melangkah keluar dari kamar rawat dengan ekspresi wajah yang datar, mengabaikan seluruh rontaan, pukulan, dan air mata anak kecil di pelukannya.
***
***
Rontaan Freya sama sekali tidak menggoyahkan langkah tegap Galen. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin, mengabaikan tatapan iba dari orang-orang yang mereka lewati.
Baginya, tangisan anak kecil adalah suara paling bising dan mengganggu yang pernah ia dengar.
Namun, amanat terakhir dari mendiang rekan bisnis ayahnya memaksa Galen untuk menahan diri.
Galen mendorong pintu kaca lobi rumah sakit dengan bahunya, membawa Freya keluar menuju area parkir VIP di bawah guyuran sisa-sisa hujan malam itu.
Sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek Mercedes-Benz keluaran terbaru sudah terparkir rapi.
Dengan satu tangan yang menahan tubuh Freya agar tidak merosot, Galen merogoh saku jasnya, menekan tombol remote kunci, lalu membuka pintu kursi penumpang bagian belakang.
BRUK!
Galen mendudukkan Freya di atas jok kulit yang empuk dengan sedikit kasar, tidak berniat untuk bersikap lembut sama sekali.
"Duduk disini dan diam". Perintah Galen. Suara baritonnya terdengar rendah—tajam, dan penuh penekanan yang mutlak.
Namun, Freya yang dunianya baru saja hancur tidak sudi mendengarkan perintah pria asing tersebut.
Begitu pantatnya menyentuh jok, gadis kecil itu langsung bergerak merangkak, mencoba membuka pintu mobil dari dalam untuk kembali ke ruang rawat papanya yang sudah terbaring kaku tak bernyawa.
"Tidak mau! Aku mau Papa! Kakak jahat, lepaskan aku! Aku mau kembali ke dalam!". Jerit Freya. Air matanya bercampur dengan peluh, membuat anak rambut di keningnya menempel berantakan.
Luka goresan kecil di pipinya akibat kecelakaan tadi kembali perih terkena tetesan air mata, namun Freya sama sekali tidak peduli.
KLIK.
Sebelum jemari mungil Freya berhasil menyentuh tuas pintu, Galen lebih cepat menekan tombol child lock dari panel kemudi di bagian depan.
Pintu mobil itu terkunci otomatis dari luar, mengurung Freya di dalam kabin yang kedap suara.
Galen mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di kursi pengemudi. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, lalu melirik ke kaca spion tengah.
Di sana, pantulan wajah Freya yang memerah dan sembap terlihat jelas. Gadis kecil berumur sebelas tahun itu kini memukul-mukul kaca jendela mobil dengan kepalan tangan kecilnya, terus meraung memanggil nama sang papa.
"PAPA! PAPA JANGAN TINGGALKAN FREYA! KAK, BUKA PINTUNYA!"
Suara lengkingan Freya yang serak memenuhi kabin mobil yang sempit itu. Menangis histeris selama berjam-jam sejak di lokasi kejadian hingga di rumah sakit membuat pita suaranya nyaris rusak.
Galen memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia menyalakan mesin mobil, membiarkan AC dingin mulai berembus, berharap suhu udara yang sejuk bisa membungkam mulut anak kecil itu.
Namun, usahanya sia-sia. Freya justru beralih memukul bagian belakang jok tempat Galen duduk.
"Kakak egois! Kakak tidak punya hati! Papa dan mamaku masih di dalam, kenapa kakak bawa aku ke sini?!". Raung Freya, menatap punggung tegap Galen dengan pandangan benci yang amat mendalam. "Aku benci kakak! Buka pintunya!".
Galen membalikkan tubuh nya perlahan. Sepasang mata elangnya yang sedingin es menatap lurus ke dalam manik mata Freya yang basah.
Tatapan itu begitu mengintimidasi, membuat tangis Freya sempat tertahan sedetik karena rasa takut yang tiba-tiba menyergap.
"Dengar, Anak Kecil," Ucap Galen, setiap katanya terdengar lambat namun menusuk. "Menangis sampai matamu keluar pun tidak akan membuat orang tuamu hidup kembali. Mereka sudah menjadi mayat. Dan di dunia ini, mayat tidak bisa berjalan pulang."
"Bohong! Papa cuma tidur! Papa janji tidak akan tinggalkan Freya!". Freya menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak mentah-mentah ucapan kejam Galen.
Gadis kecil itu menutup kedua telinganya dengan tangan, meringkuk di sudut jok mobil sambil terus terisak. "Papa tidak mungkin mati... Mama tidak mungkin mati..."
"Aku tidak suka membuang waktu untuk berbohong pada anak kecil sepertimu". Balas Galen dingin, kembali menghadap ke depan. "Mulai hari ini, hidupmu adalah urusan keluarga Danendra. Jadi, simpan suaramu sebelum aku kehilangan kesabaran dan menonaktifkan AC di mobil ini."
Freya tidak menjawab lagi. Ia hanya bisa menangis sesenggukan. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat, memeluk kedua lututnya sendiri di atas jok mobil.
Rasa kehilangan yang amat besar—rasa takut akan masa depan yang tidak pasti—serta rasa sakit di kepalanya akibat benturan kecelakaan tadi berbaur menjadi satu, menyiksa batin dan fisiknya yang masih sangat belia.
"Mama... Papa... jemput Freya... Freya takut di sini bersama kakak menyeramkan ini..." Bisik Freya lirih di sela-sela tangisnya yang mulai melemah. Napasnya mulai memburu, tersengal-sengal karena pasokan oksigen ke paru-parunya terganggu akibat terlalu lama meraung.
Galen memejamkan mata nya sejenak di balik kemudi. Suara isakan Freya yang kini berubah menjadi rintihan kecil tetap saja mengusik ketenangannya.
Ia melirik jam tangan Rolex-nya. Sudah lewat tengah malam, dan ayahnya, Baskoro, masih belum juga kembali dari ruang administrasi rumah sakit.
Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyelimuti bagian belakang mobil. Suara rintihan Freya yang tadinya konstan perlahan-lahan menghilang.
Kabin mobil itu kini hanya menyisakan suara deru mesin yang halus.
Merasa ada yang aneh, Galen kembali melirik ke arah kaca spion tengah. Keningnya langsung berkerut dalam saat melihat tubuh Freya yang tadinya meringkuk, kini sudah terkulai lemas di atas jok kulit.
Kepala gadis kecil itu terkulai ke samping, dengan mata yang terpejam rapat dan wajah yang pucat pasi seputih kertas.
Galen tersentak kaget. Jantungnya sempat melewatkan satu detakan. "Hei," panggilnya dari kursi depan.
Namun tidak ada jawaban dari gadis kecil itu.
"Anak Kecil, jangan main-main. Bangun," suara Galen naik satu oktaf, namun tubuh di kursi belakang tetap bergeming.
Dengan perasaan gusar yang bercampur panik—meski ia tidak mau mengakuinya—Galen langsung melepas sabuk pengamannya dan berpindah ke kursi belakang dengan cepat.
Ia meraih bahu mungil Freya dan mengguncangnya pelan. Tubuh gadis itu terasa sangat lemas, persis seperti boneka kain yang kehilangan penyangganya.
Saat tangan Galen tidak sengaja menyentuh kening Freya, hawa panas yang menyengat langsung terasa.
Anak ini demam tinggi, ditambah dehidrasi dan kelelahan ekstrem karena menangis tanpa henti.
Freya benar-benar pingsan.
Galen mengembuskan napas kasar dari mulutnya, menyugar rambut hitamnya ke belakang dengan perasaan sangat jengkel.
Alisnya menukik tajam menatap wajah polos Freya yang masih menyisakan jejak air mata di pipinya.
"Sialan". Umpat Galen berbisik, rahangnya mengeras karena menahan kekesalan. "Baru beberapa jam aku memegang tanggung jawab ini, dan dia sudah membuat masalah."
Pria itu menatap tangan kanan Freya yang terkulai. Di jari-jari mungil itu, masih ada noda darah kering yang berasal dari luka papanya di ruang rawat tadi.
Galen mendengus, merasa bahwa kehadiran anak perempuan berumur sebelas tahun ini hanya akan menjadi kerikil tajam dalam kehidupan dewasanya yang tenang dan penuh perhitungan bisnis.
"Benar-benar menyusahkan". Gumam Galen dengan nada yang sarat akan rasa kesal dan dingin. "Kenapa Papa harus menerima beban seperti ini dari orang mati?"
Meskipun mulut nya terus mengeluarkan kata-kata kejam dan penuh keluhan, tangan besar Galen tetap bergerak. Ia merapikan posisi tidur Freya di atas jok agar kepalanya tidak tertekuk, lalu melepaskan jas hitam mahalnya.
Dengan gerakan yang kaku dan tidak terbiasa, Galen menyelimuti tubuh mungil Freya yang menggigil kedinginan menggunakan jasnya yang hangat.
Galen kembali ke kursi kemudi, menatap lurus ke arah pintu keluar rumah sakit dengan pandangan yang semakin menggelap.
Di malam yang terkutuk ini, ia tahu bahwa takdir telah mengikatnya pada seorang anak yatim piatu yang rapuh—sebuah ikatan yang ia yakini akan berjalan dengan sangat kejam dan penuh paksaan di masa depan.
Malam yang panjang itu akhirnya berlalu dengan ketegangan yang merayap di dalam kabin mobil sedan hitam milik Galen.
Baskoro Danendra baru kembali ke mobil hampir dua jam kemudian, setelah seluruh urusan administrasi dan persiapan jenazah selesai.
Pria paruh baya itu terkejut melihat Freya yang sudah terbaring pingsan dengan berselimutkan jas milik putranya.
Tanpa banyak bicara, malam itu mereka membawa Freya langsung ke kediaman utama keluarga Danendra.
Sepanjang sisa malam, Freya dirawat oleh dokter pribadi keluarga untuk menurunkan demam tingginya akibat syok berat.
Sementara Galen?
Pria itu memilih langsung mengunci diri di ruang kerjanya, menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas perusahaan, berusaha mengusir rasa jengkel akibat tangisan anak kecil yang seolah masih terngiang di telinganya.
***
***
Keesokan pagi harinya...
pukul setengah delapan pagi, langit di atas pemakaman umum San Diego Hills tampak mendung, seolah ikut berduka atas tragedi yang menimpa keluarga Hendrawan.
Angin bertiup cukup kencang, menggugurkan dedaunan kering di atas tanah merah yang baru saja digali. Dua liang lahat terletak berdampingan, siap menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sepasang suami istri yang pergi begitu cepat.
Freya berdiri di tepi liang lahat dengan tubuh yang masih sangat lemas. Langkah kakinya goyah, disangga sepenuhnya oleh Kirana—ibu kandung Galen.
Wanita yang berhati lembut itu terus memeluk erat bahu mungil Freya, mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
Kirana tidak bisa menahan air matanya sendiri melihat anak perempuan sekecil Freya harus melepas kedua orang tuanya sekaligus.
"Mama... Papa... jangan tinggalin Freya..." Isakan Freya terdengar begitu serak dan menyayat hati saat kedua peti jenazah perlahan diturunkan ke dalam tanah.
Jemari mungilnya mencengkeram kuat pakaian hitam yang dikenakan Kirana. Matanya yang bengkak dan merah menatap kosong ke bawah.
"Tante... suruh mereka berhenti. Jangan ditutup tanah... nanti Papa dan Mama tidak bisa bernapas... Freya mohon, Tante..."
Kirana semakin erat memeluk Freya, menyembunyikan wajah anak itu di dadanya agar tidak melihat proses pengurukan tanah.
"Sabar, Sayang... Sabar, Nak. Mama dan Papa sudah tenang di surga. Ada Tante di sini, ya? Freya tidak sendirian..."
"Tapi Freya maunya Mama dan Papa, Tante! Freya tidak mau surga kalau tidak ada mereka!" raung Freya lagi.
Tangisnya kembali pecah dengan brutal. Suara tangisan anak sebelas tahun itu begitu memilukan, membuat beberapa pelayat yang hadir—sebagian besar adalah kolega bisnis—turut menyeka air mata mereka.
Beberapa berbisik kasihan, meratapi nasib sang ahli waris tunggal yang kini sebatang kara.
Di sudut lain, agak menjauh dari kerumunan pelayat, berdiri Galen Danendra.
Pemuda tersebut tampil sangat rapi namun misterius dengan setelan kemeja hitam, celana kain hitam, dan sepasang kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dari balik lensa gelap kacamata itu, mata elangnya menatap lurus ke arah Freya dengan pandangan yang sedingin es.
Tidak ada setitik pun rasa iba di wajah tampannya. Justru sebaliknya, rahang Galen tampak mengeras. Setiap kali lengkingan tangis Freya membelah kesunyian makam, sudut bibir Galen berkedut menahan rasa jengkel yang amat sangat.
"Berisik. Menyebalkan. Lemah". Batin Galen mencemooh.
Bagi Galen yang sejak kecil dididik dengan keras oleh dunia bisnis untuk menjadi sosok yang rasional dan tak tersentuh, air mata adalah simbol kelemahan paling mutlak.
Baginya, menangis berjam-jam tidak akan mengubah takdir atau menggali kembali tanah yang sudah menimbun peti-peti itu.
Ia merasa muak berada di tempat ini, menyaksikan drama emosional yang menurutnya hanya membuang-buang waktu berharganya.
"Galen". Suara berat Baskoro mengejutkannya. Sang ayah berjalan mendekat setelah menaburkan bunga terakhir di atas makam sahabatnya. "Setelah ini, kita bawa Freya pulang lagi ke rumah kita. Dan Mulai hari ini, dia adalah adikmu. Jaga dia dengan baik jika nanti Papa sama Mamamu sedang ke luar kota."
Galen menoleh lambat, menatap ayahnya dari balik kacamata hitam. "Aku tidak punya waktu untuk menjadi pengasuh anak kecil untuknya, Pah. Urusan proyekku jauh lebih penting daripada mendengarkan anak itu merengek sepanjang hari."
"Galen! Jaga bicaramu! Ini pemakaman sahabat Papa!". Tegur Baskoro dengan nada berbisik namun penuh penekanan. "Hendrawan sudah menyelamatkan perusahaan kita dulu. Merawat Freya adalah utang budi sekaligus janji Papa pada mendiang. Kau harus menerimanya."
Galen hanya mendengus tipis, hampir tak kentara. Ia melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
"Utang budi Papa, bukan utang budiku". Gumamnya sangat pelan, memastikan sang ayah tidak mendengarnya.
Prosesi pemakaman baru saja selesai, para pelayat mulai berpamitan satu per satu. Beberapa kolega sempat menghampiri Baskoro dan Galen, memberikan ucapan belasungkawa formal yang hanya dibalas anggukan kaku oleh Galen.
Pikirannya sudah melesat jauh ke dokumen-dokumen rapat yang menumpuk di mejanya.
Di sana, Freya masih bersimpuh di atas gundukan tanah merah yang bertabur bunga, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk nisan kayu bertuliskan nama ibunya. Gaun hitamnya kini kotor penuh noda tanah.
"Freya sayang, ayo kita pulang dulu, Nak. Sudah siang, nanti kamu sakit lagi". Bujuk Kirana lembut, mencoba menuntun Freya untuk berdiri.
"Tidak mau, Tante! Freya mau tidur di sini bersama Mama dan Papa! Biarkan Freya di sini!". Freya meronta lemah, jemarinya yang kotor terkena tanah merah mencengkeram rumput di sekitar makam dengan erat.
"Freya, dengarkan Tante, sayang..." Kirana mulai terisak, tidak tega memaksa anak itu.
Melihat pemandangan itu, rasa sabar Galen benar-benar habis. Langkah kakinya yang panjang berderap mendekat, membelah jarak antara dirinya dan kerumunan kecil yang tersisa.
Kehadirannya yang intimidatif membuat Kirana mendongak kaget.
"Galen, bantu Mama bujuk Freya—"
"Berdiri". Potong Galen, suaranya terdengar dingin dan mutlak, memotong kalimat ibunya.
Freya yang masih terisak tidak mendengarkan. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di atas tanah makam yang basah oleh air matanya sendiri.
Galen berdecak jengkel. Ia membungkuk, lalu tanpa aba-aba mencengkeram lengan atas Freya dengan cukup kuat, memaksanya berdiri.
"Aku bilang berdiri. Jangan bertingkah konyol dan membuang waktu semua orang di sini."
"Galen! Jangan kasar pada Freya!". Pekik Kirana terkejut, mencoba melepaskan tangan putranya.
Freya mendongak dengan wajah yang kacau. Air mata, keringat, dan tanah merah bercampur di pipinya.
"Lepaskan! Aku mau sama Mama dan Papa! Kakak jahat! Lepas!". Freya memukul-mukul dada Galen dengan kepalan tangan mungilnya yang tak bertenaga.
Bagi Galen, pukulan itu tak lebih dari gigitan semut, namun histeria Freya merusak harga dirinya. Galen melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan yang membuat Freya agak terhuyung ke pelukan Kirana.
"Jika kau ingin mati kelaparan di atas makam ini, silakan. Tapi jangan susahkan orang tuaku". Ucap Galen tanpa perasaan.
Ia tidak sudi berlama-lama di bawah terik matahari hanya untuk menunggu seorang anak kecil menyelesaikan aksi mogoknya.
Tanpa pamit kepada ayah atau ibunya, Galen membalikkan badannya dengan cepat. Langkah kakinya yang lebar dan tegap melangkah meninggalkan area pemakaman menuju mobil sport miliknya yang terparkir di luar gerbang.
"Galen! Mau ke mana kamu?!". Seru Baskoro menoleh dengan amarah yang tertahan, namun putranya itu sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Galen membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam, dan membanting pintu dengan cukup keras.
Pria tersebut melepas kacamata hitamnya, melemparkannya ke atas dasbor dengan perasaan dongkol.
Melalui kaca spion, ia bisa melihat dari kejauhan ibunya akhirnya berhasil membopong Freya yang tampaknya mulai kehabisan energi dan hampir pingsan.
"Sialan. Hidupku benar-benar akan berantakan karena anak kecil itu". Gumam Galen dingin sembari menyalakan mesin mobilnya yang menderu keras.
Pria itu langsung menginjak pedal gas, melesat pergi meninggalkan area pemakaman dan pulang terlebih dahulu.
Ia memilih kembali ke dunianya yang dingin, kaku, dan penuh perhitungan, mengabaikan takdir yang sebenarnya baru saja resmi mengikat hidupnya dengan gadis kecil yang sangat ia benci tangisannya itu.
***
Satu jam kemudian...
Tepat pukul sembilan pagi, mobil mewah milik Baskoro memasuki pekarangan mansion keluarga Danendra. Rumah megah berarsitektur modern itu terasa sunyi.
Kirana keluar dari mobil dengan perlahan, menggendong tubuh kurus Freya yang tertidur dan terkulai lemas karena kelelahan menangis.
Baskoro berjalan di sampingnya dengan wajah yang sarat akan beban pikiran.
Saat mereka melintasi ruang tamu, mereka melihat Galen sudah duduk santai di sofa panjang. Kemeja hitamnya sudah diganti dengan kaus santai, dan sebuah laptop menyala di pangkuannya.
Ia bahkan sedang menyesap kopi hitam seolah-olah tidak terjadi apa-apa beberapa jam lalu.
Baskoro menghentikan langkahnya, menatap putranya dengan pandangan tajam.
"Kamu tidak punya empati sama sekali, Galen. Di mana hatimu? Kau meninggalkan kami begitu saja di pemakaman."
Galen tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Jemarinya masih lincah mengetik. "Aku punya jadwal pertemuan virtual dengan investor Surabaya tiga puluh menit lagi, Pa. Aku sudah katakan, pekerjaanku tidak bisa menunggu anak kecil itu selesai menangis."
"Dia punya nama, Galen! Namanya Freya!". Bentak Baskoro, kehilangan kesabaran.
Suara bentakan itu membuat Freya yang berada di gendongan Kirana sedikit melenguh, bergerak gelisah dalam tidurnya yang tidak nyenyak.
"Pa, sudah. Jangan ribut disini, kasihan Freya sedang tidur". Bisik Kirana menenangkan suaminya. Wanita itu kemudian menatap Galen dengan pandangan kecewa yang mendalam.
"Mama kecewa dengan sikapmu hari ini, Galen. Suatu hari, kamu akan tahu rasanya kehilangan, dan Mama harap saat itu tidak ada orang yang memperlakukanmu sedingin kamu memperlakukan Freya hari ini."
Kirana kemudian melangkah pergi, membawa Freya menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah
Baskoro memberikan tatapan peringatan terakhir pada Galen sebelum menyusul istrinya.
Setelah kedua orang tuanya pergi, keheningan kembali menguasai ruangan. Galen menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik.
Perkataan ibunya barusan entah mengapa menyisakan sedikit rasa tidak nyaman di dadanya. Namun, ego dan logikanya dengan cepat menepis perasaan itu.
Galen melirik ke arah lorong, tempat ibunya tadi membawa Freya ke kamar tamu.
"Keluarga ini bukan tempat penampungan anak yatim". Gumam Galen pada dirinya sendiri, suaranya berbisik tajam di tengah kesunyian rumah. "Kita lihat, berapa lama kau bisa bertahan dirumah ini, Freya."
Dengan perasaan acuh tak acuh, Galen kembali memfokuskan matanya pada layar laptop, melanjutkan pekerjaannya dan menutup rapat hati nuraninya dari kehadiran anggota baru di rumah tersebut.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!