Indonesia
NovelToon NovelToon

Can I Stay? | By Shea

Episode 1

Brak!

Suara gebrakkan pada meja ruang tamu membuat semua kepala menunduk, pria paruh baya bersetelan jas kantor menatap tajam cowok yang duduk di single sofa berseberangan dengan sofa tempatnya duduk.

"Papa nggak mau tau, kamu harus putus dengan gadis itu dan terima perjodohan ini!"

Pria paruh baya itu beranjak dari sofa, menatap dua orang di depannya dengan sorot mata menahan emosi, lalu pergi meninggalkan dua orang itu menaiki tangga rumahnya. Keputusannya sudah bulat, dan ia tidak menerima bantahan.

Cowok berkaos hitam polos itu meraih jaket cokelat miliknya yang disampirkan di sandaran sofa, lalu beranjak. Kedua tangannya terkepal menahan emosi yang siap meluap kapan saja.

"Alvin."

Langkah cowok bersorot mata tajam itu terhenti, ia berbalik menatap wanita cantik yang kini berjalan mendekatinya.

"Untuk sekali ini saja, tolong turuti kemauan Papa kamu ya, sayang?"

Kening Alvin berkerut. "Kenapa?" tanyanya.

Wanita itu menunduk. "Maaf, Alvin, Mama nggak bisa bantuin kamu untuk saat ini. Mama nggak berani bantah Papa kamu."

Tatapan elang Alvin meredup saat melihat wanita terhebat dalam hidupnya itu menunduk merasa bersalah, kedua tangan besar cowok itu terulur menyentuh pundak sang Mama.

"Mama." Wanita itu mendongak, membuat Alvin langsung menggeleng. "Jangan sedih, Alvin nggak suka lihat Mama sedih."

Rita, wanita yang sangat Alvin sayangi, dengan tatapan teduh menatap putra tunggalnya yang kini sudah beranjak dewasa. Ia tahu, putra kesayangannya itu pasti terbebani dengan keputusan suaminya.

"Alvin akan urus semuanya, Mama jangan khawatir," ucap Alvin meyakinkan sang Mama.

Rita menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Tapi kamu mau pergi ke bandara jemput dia, kan?"

Sorot mata Alvin langsung berubah datar, cowok itu mengenakan jaket cokelatnya seraya mengangguk pelan, lalu meraih tangan Rita dan mengecupnya.

"Alvin berangkat, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam"

Rita menatap punggung putranya nanar, ia merasa bersalah karena tidak bisa membela putranya dalam kondisi ini.

"Maaf, Alvin, Papamu sudah bertekat menjodohkan kamu dengan putri temannya, Mama nggak bisa berbuat banyak."

...☆☆☆...

Alvin merapikan rambut setelah melepas helm fullface miliknya, cowok jangkung itu memerhatikan sekitar, masih duduk di atas motor putih miliknya.

Tring!

Perhatian Alvin teralih pada ponsel yang ada di genggamannya, tampak sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di ponsel Alvin, tapi ia tahu pemilik nomor itu.

Kak Alvin, aku udah di luar.

Alvin membaca pesan itu, lalu mengetikkan balasan.

Gw di tempat parkir

Oke! Aku ke sana!

Cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana, menunggu orang yang tadi mengirim pesan padanya. Sampai sorot mata tajamnya menangkap sosok cewek bersurai hitam panjang berjalan mendekat dengan senyuman lebar.

"Sore, Kak Alvin!" sapa cewek itu, antusias.

"Naik," ujar Alvin datar, lalu memakai helm.

"Kok bawa motor, sih? Koper aku gimana?"

Alvin melirik cewek itu. "Tinggalin aja biar nggak ribet," jawabnya tidak peduli.

Kedua mata bulat cewek itu melebar. "Jangan dong! Ini barang-barang aku!"

"Naik atau gue tinggal?"

Cewek berkulit putih dengan tinggi rata-rata itu langsung diam, menatap boncengan motor Alvin yang tinggi.

"Iya, aku naik." Dengan berat hati menarik koper birunya, lalu meletakkan koper berukuran sedang itu di belakang tubuh Alvin.

"Bentar, aku naiknya pelan-pelan biar nggak jatuh."

"Lo jatuh pun gue nggak peduli."

...☆☆☆...

"Assalamu'alaikum, Tante Ritaaaaa!"

Rita sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah saat mendengar suara melengking yang lama sekali tidak ia dengar, wanita itu menoleh, senyum lebarnya langsung mengembang.

"Wa'alaikumsalam, Michelle."

Cewek dengan jaket bulu warna merah muda itu berhambur memeluk Rita, tersenyum sangat lebar dan bahagia karena ini pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya.

"Michelle kangen banget sama Tante." Cewek itu menarik tubuhnya. "Gimana kabar Tante Rita?"

Michelle Eveline, remaja 16 tahun yang menghabiskan masa kecilnya di Negeri Kincir Angin setelah keluarganya pindah saat ia berusia delapan tahun. Setelah delapan tahun berlalu, cewek yang akrab disapa Michelle ini akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, dan mendapat izin untuk menetap di negara ini.

Michelle sangat senang saat Papanya menawarkan untuk kembali ke Indonesia karena ia memang sangat rindu semua hal tentang negara ini. Selain itu, Michelle pindah karena ingin menemui seseorang yang akan menjadi miliknya di masa depan, kedua orang tua mereka telah menjodohkan mereka berdua sejak kecil.

Ya, Alvin Erlangga. Teman kecil Michelle yang telah ia anggap seperti Kakak sendiri. Seperti mimpi saat Papa Michelle memberitahu kalau ia dan Alvin telah dijodohkan dan akan menikah di masa depan.

"Tante baik, kamu sendiri? Kamu tambah cantik deh," puji Rita, membuat Michelle tersenyum malu.

"Ma, Alvin izin keluar."

Atensi Rita dan Michelle teralih saat mendengar suara berat Alvin, cowok itu masih memasang wajah dingin tidak bersahabat, membuat Michelle merasa sedikit kecewa karena Alvin tidak menyambut kedatangannya dengan ramah.

"Mau ke mana?" tanya Rita.

Alvin meraih tangan Rita, lalu mencium punggung tangan wanita itu. "Ada janji."

"Sama dia?"

Alvin tidak menjawab namun Michelle melihatnya mengangguk, cowok itu pergi begitu saja naik motor putihnya.

Michelle menatapnya lesu, Alvin tampak tidak senang dengan kehadirannya. Alvin yang Michelle lihat sekarang sangat berbeda dengan Alvin yang dulu berteman dengannya, apa Alvin melupakan momen masa kecil mereka?

"Kak Alvin mau ke mana?"

Rita sempat terkejut mendengar pertanyaan Michelle, tapi dengan cepat wanita itu mengondisikan ekspresinya. "Ayo masuk, Michel, Tante udah masak banyak buat kamu."

Michelle tahu Rita sedang mengalihkan pembicaraan, ia juga tidak bertanya lagi karena takut mengganggu privasi. Lagipula Michelle belum punya hak sejauh itu untuk terus bertanya sedang apa dan di mana Alvin sekarang. Tapi bukan berarti Michelle tidak boleh mencari tahu sendiri.

Episode 2

"Wajah kamu kenapa ditekuk gitu? Kamu ada masalah?" tanya cewek rambut coklat yang terurai itu dengan suara lembutnya.

Alvin menggeleng, menatap cewek itu seolah tidak ada objek lain yang menarik untuk ditatap selama ini, membuat cewek bernama Nara Erlinda itu salah tingkah.

"Kamu kenapa sih ngelihatinnya gitu banget? Penampilan aku hari ini aneh, ya?"

Raut wajah cewek yang akrab disapa Nara itu berubah lesu, ia sudah berusaha berpenampilan sebaik mungkin agar Alvin tidak malu saat jalan dengannya. Nara memang tidak berasal dari kalangan berada seperti Alvin, ia sering minder saat jalan dengan cowok yang sudah menjadi pacarnya selama tiga bulan itu.

"Jangan bilang gitu lagi, Ra, kamu cantik," ujar Alvin, lalu menoleh ke arah jendela kaca kafe ini.

Ia tidak sanggup melihat senyum manis yang kini muncul di bibir ranum Nara, padahal senyum itu adalah favoritnya. Alvin hanya takut, suatu saat ia akan membuat senyum itu hilang dan berganti dengan kesedihan. Alvin takut membuat cewek itu terluka.

"Alvin, kalau kamu ada masalah, cerita sama aku, ya? Jangan diem aja, aku jadi bingung," ujar Nara, membuat Alvin kembali menatap cewek itu. "Aku tau kamu nggak suka bahas masalah kamu sama orang lain, tapi—"

"Kamu pacar aku, Ra, bukan orang lain,' potong Alvin, tidak suka dengan pemilihan kata yang Nara gunakan untuk mewakili dirinya.

Nara tersenyum. "Iya, maaf."

Alvin menghela napas, ia ingin menceritakan semua pada Nara, semua yang kini ada di benaknya dan membuatnya gelisah. Tapi Alvin tetap Alvin, ia bukan tipe orang yang suka orang lain mengetahui masalah apa yang sedang dihadapinya.

"Maaf, Ra, aku belum bisa."

Alih-alih menampilkan raut kecewa, Nara malah tersenyum. Cewek itu meraih tangan Alvin yang berada di atas meja, lalu mengusap punggung tangan cowok itu dengan ibu jarinya.

"Aku nggak maksa, aku cuma mau bilang kalau aku bakal selalu ada saat kamu butuh teman cerita masalah kamu."

Nara tersenyum tulus, senyuman yang selalu bisa membuat perasaan Alvin membaik. Inilah yang membuat Alvin memutuskan untuk mendekati Nara padahal banyak cewek yang berusaha menarik perhatiannya. Nara tidak berusaha menarik perhatian Alvin, tapi Alvin yang tertarik dengan cewek itu.

Si cewek rambut coklat yang bergabung dengan tim paduan suara, Alvin pertama kali bertemu Nara saat kelasnya mendapat tugas mengisi penampilan paduan suara untuk perpisahan kelas XII, kebetulan Nara ikut melatih. Sejak saat itu Alvin sering memerhatikan Nara, si manis yang sangat murah senyum.

Banyak yang kaget saat kabar hubungan keduanya menyebar, bahkan teman-teman Alvin banyak yang tidak setuju. Banyak yang bilang kalau Alvin dan Nara tidak sepadan, namun Alvin tidak peduli. Alvin sudah berhasil mendapatkan Nara, cewek itu telah menjadi miliknya sekarang, Alvin tidak akan melepaskannya.

Alvin tetap memegang prinsip itu sampai beberapa hari lalu Papanya memberi kabar yang menjadi badai untuk keteguhannya. Sekarang ada rasa tidak yakin di benak Alvin kalau dia bisa menjaga Nara lebih lama, Alvin sangat mengerti sifat Papanya yang tidak jauh berbeda dengannya. Sekali memutuskan, akan sulit mengusik atau bahkan membantahnya.

Alvin hanya takut akan melukai Nara nanti, perempuan yang sangat ia cintai setelah Rita, Ibunya.

"Aku sayang kamu, Alvin."

Alvin jauh lebih sayang Nara, walau sampai sekarang ia tidak pernah mengatakannya secara langsung. Alvin si dingin dan kaku ini lebih banyak bertindak daripada berkata-kata.

Di meja lain tak jauh dari dua remaja itu, seorang cewek bermata biru menarik ujung bibirnya. Ia tersenyum miris, merasa sakit namun tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang pernah ia takutkan akhirnya terjadi, ia sangat takut akan kehilangan hal yang sangat berarti di masa kecilnya. Tapi sekarang, hal itu telah menjadi orang asing. Lagi.

Michelle langsung membuang muka saat melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat, cewek bersurai cokelat itu tersenyum miris. Ia mengikuti Alvin sampai ke tempat ini, di sebuah kafe remaja dekat taman, Michelle sangat penasaran dengan sosok 'dia' yang dimaksud Rita. Dan sekarang Michelle tahu, si dia ini adalah pacar Alvin.

Michelle kembali menatap dua remaja yang duduk di meja berseberangan dengan tempatnya duduk, ia iri dengan tatapan Alvin pada cewek itu yang terlihat tulus. Sementara tadi, Alvin bahkan terkesan enggan menatap Michelle saat mereka berhadapan.

Michelle menatap Nara, menilai cewek itu dari atas sampai bawah, dalam hati tidak percaya kalau tipe seorang Alvin Erlangga seperti itu. Rasanya Michelle ingin menghampiri cewek itu dan mengatakan keras-keras kalau Alvin adalah miliknya.

Alih-alih melakukan apa yang ada di dalam benaknya, tubuh Michelle bereaksi lain. Cewek itu beranjak setelah meninggalkan selembar uang di atas meja, lalu berjalan cepat keluar dari kafe saat sensasi aneh menjalar di dadanya. Michelle tidak kuat jika harus di sini lebih lama.

"Hei, awas!"

Michelle mengerjap berkali-kali saat melihat sebuah motor melintas beberapa senti di depannya, motor itu baru berbelok memasuki area halaman kafe, dan hampir menyerempet Michelle.

"Woi! Bawa motor hati-hati dong!" ujar suara berat yang tadi menarik Michelle mundur di waktu yang tepat. "Lo nggak apa-apa?"

Michelle menoleh perlahan, tatapannya kosong, masih shock. "M-makasih, ya," ucap Michelle setelah berhasil mengembalikan kesadaran.

Cowok berjaket denim itu melepaskan tangannya dari bahu Michelle, menatap cewek itu tidak yakin.

"Tunggu di sini," ujar cowok itu, lalu pergi meninggalkan Michelle di halaman kafe.

Michelle mengusap dadanya, hampir saja ia celaka karena keteledorannya yang melamun saat sedang berjalan. Kejadian hampir terserempet ini bukanlah yang pertama kali untuk Michelle, tapi yang tadi benar-benar memberikan efek yang membuat Michelle langsung terlihat seperti orang linglung.

Kedua mata Michelle memanas saat merasakan sesak yang semakin menjadi di dadanya, dan beberapa saat kemudian cewek itu terisak, air mata perlahan luruh melewati pipi putihnya.

"Ini minum—loh? Lo nangis?"

Michelle menunduk, malu karena menangis di depan umum. Tangan cewek itu bergerak mengusap air mata yang membasahi pipinya.

"Sini minggir dulu, duduk." Cowok itu menunjuk bangku panjang yang ada di luar kafe. "Udah jangan nangis, ini minum dulu, lo pasti shock."

Michelle duduk agak jauh di samping cowok itu, menerima sebotol air mineral yang disodorkan cowok berjaket denim itu, lalu meminumnya sampai tinggal separuh.

Cowok itu terkekeh. "Lo haus apa kekeringan?"

Michelle hanya melirik, lalu kembali meneguk sisa air di botol itu sampai habis, membuat cowok bersurai hitam agak berantakkan itu menatapnya heran.

"Makasih," ucap Michelle, lalu beranjak.

Michelle melemparkan botol plastik yang sudah kosong ke tempat sampah tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun.

Cowok berjaket denim itu hanya menatap punggung Michelle yang semakin menjauh, ia tertawa kecil melihat cewek aneh yang terus menggerutu sepanjang jalan itu.

...☆☆☆...

"Kak Alvin."

Michelle beranjak saat melihat Alvin melewati pintu rumah, cowok itu hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh. Lagi dan lagi Michelle hanya bisa menghela napas, ia terus meyakinkan diri mungkin Alvin seperti ini karena belum terbiasa dengan kembalinya Michelle setelah delapan tahun meninggalkan negara ini.

"Michelle, di luar ada motornya Alvin, dia udah pulang?"

Rita mendekat dengan beberapa kantung belanjaan, wanita paruh baya itu memang sempat keluar untuk membeli bahan makanan, rencananya akan ada makan malam spesial menyambut kedatangan Michelle.

"Sini Tante, biar Michelle bantuin," tawar Michelle, mengambil alih beberapa kantung belanjaan yang dibawa Rita.

Rita tersenyum. "Baik banget calon mantu Tante Rita," ujar wanita itu, membuat Michelle tersenyum malu.

"Ma, tadi ada yang masuk kamar Alvin?"

Perhatian Michelle dan Rita teralih saat Alvin menuruni tangga dengan terburu-buru dan bertanya dengan nada menahan kesal.

"Iya, tadi Mama ajak Michelle--"

"Kenapa?" tanya Alvin. "Kenapa Mama nggak izin dulu, apalagi ajak dia?" Cowok itu melirik Michelle, membuat Michelle langsung menunduk.

Alvin bahkan tidak menyebutkan namanya dan mengganti dengan panggilan 'dia' yang terdengar kasar.

"Alvin," tegur Rita.

Alvin menatap Michelle dengan kedua tangan terkepal, lalu mengerang kesal dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Terdengar suara pintu dibanting beberapa saat setelah itu, membuat Michelle terlonjak. Rita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya, perhatiannya teralih pada Michelle yang masih menunduk.

"Michelle," panggil Rita, membuat Michelle langsung menegakkan wajah menatap wanita itu. "Maafin Alvin, ya? Dia kayaknya lagi capek makanya ngomel-ngomel."

Michelle berusa menarik kedua ujung bibirnya.

"Nggak apa-apa kok Tante, aku cuma kaget aja, baru pertama kali lihat Kak Alvin semarah itu." Dan mendengar kalimat kasar Alvin yang terasa seperti tertuju padanya, Michelle tidak pernah mengira itu sebelumnya.

"Ya udah, mau bantu Tante masak?" tawar Rita mengalihkan topik obrolan yang sepertinya mulai tidak menyenangkan.

Michelle mengangguk antusias dengan senyum lebar, membuat Rita juga ikut tersenyum.

...☆☆☆...

Alvin melirik sekilas cewek yang sekarang duduk berseberangan dengannya, berbatas meja makan. Ia merasa tidak nyaman karena kehadiran Michelle di makan malam keluarganya hari ini.

"Alvin, mau ke mana kamu?" tanya Rita saat Alvin beranjak.

"Mau makan di luar, Ma," jawab Alvin sambil memakai jaketnya.

"Nggak ada makan di luar." Suara berat diiringi suara langkah yang mendekat membuat tiga orang di ruang makan itu lantas menoleh.

"Kamu makan di rumah."

Alvin menghela napas, sekeras kepalanya dia, Alvin tidak pernah membantah ucapan Papanya. Cowok itu kembali duduk setelah melepaskan jaket cokelatnya.

Jordan yang baru pulang dari kantor langsung duduk di kursinya, pria paruh baya dengan rambut mulai memutih itu tersenyum saat melihat Michelle berada di antara mereka.

"Bagaimana kabarmu, Michelle?"

Michelle tersenyum, cewek itu beranjak untuk salim dengan Jordan, lalu kembali ke kursinya.

"Baik, Om. Daddy titip salam, belum bisa ikut ke Indonesia."

Jordan tertawa kecil. "Allan memang selalu sibuk, dia bahkan tidak datang di acara reuni sekolah dua tahun berturut-turut," ujar pria itu.

Perhatian Jordan teralih pada Alvin yang tampak ogah-ogahan menatap makanan di depannya, sementara Michelle sesekali mencuri pandang pada cowok itu.

Ada rasa kesal di benak Jordan melihat Alvin mengabaikan Michelle, padahal alasan Michelle diizinkan tinggal di rumah ini selain karena cewek itu di Indonesia seorang diri adalah agar Alvin dan Michelle semakin dekat, agar nantinya pertunangan mereka tidak didasari oleh penolakan dari salah satu mau pun keduanya.

Jordan memang sengaja menjodohkan keduanya karena mereka sangat dekat saat kecil, seperti Jordan dan Allan, Ayah Michelle. Walau pun Jordan melihat kalau Alvin belum mencintai Michelle, tapi Jordan percaya rasa itu akan tumbuh perlahan. Dulu ia dan Rita juga dijodohkan, dan dulu Jordan juga menolak.

Tapi sampai dua puluh tahun pernikahan, mereka tetap bertahan walau dulu tidak jarang terjadi kesalahpahaman, bukankah itu wajar?

Lambat laun Alvin pasti bisa menerima Michelle, apalagi tampaknya Michelle sudah menerima Alvin, itu akan menjadi lebih mudah.

Episode 3

"Michelle, apa kamu sudah menentukan akan sekolah di mana?"

Michelle yang semula sibuk memerhatikan Alvin, langsung mengalihkan pandangan, sempat gugup karena terkejut.

"Michelle belum tau, Om, belum lihat-lihat sekolah juga. Kata Daddy, kalau Michelle nggak cocok sama sekolah di sini, disuruh homeschooling aja," jawab Michelle.

"Nggak apa-apa homeschooling, tapi Tante saranin kamu masuk sekolah aja. Di sini banyak sekolah bagus kok, sekalian cari teman biar nggak sama Alvin doang," ujar Rita lalu tertawa.

Michelle menyaut dengan tawa kecil sambil melirik Alvin, cowok itu sibuk makan dan tidak peduli.

"Temenan sama Kak Alvin udah cukup kok Tante, tapi kalau bisa sih mau punya temen lagi biar kalau Kak Alvin ada janji sama temennya aku nggak kesepian." Michelle sengaja menekankan beberapa kata di akhir kalimatnya, membuat Alvin langsung menatap cewek itu.

Jordan mengangguk setelah memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau kamu bersekolah di SMA yang sama dengan Alvin, SMA Lentera Bangsa? SMA itu salah satu yang terbaik di daerah ini, kalau kamu mau, Om bisa daftarkan kamu segera."

Alvin langsung menoleh mendengar penawaran itu, jelas sekali dari raut wajahnya kalau ia tidak setuju. Sementara Michelle menarik kedua ujung bibirnya, lalu mengangguk antusias.

"Baiklah, Om akan segera mendaftarkan kamu."

"Nanti kamu bisa berangkat sama Alvin kalau kalian satu sekolah, iya kan?" tanya Rita pada Alvin.

Alvin menatap Michelle datar, cowok itu mengangguk tanpa menjawab. Dari raut wajahnya memperlihatkan kalau Alvin tidak suka, Michelle tahu. Tapi ini adalah salah satu cara agar ia tetap dekat dengan Alvin, dan Michelle juga bisa mencari tahu tentang cewek yang bersama Alvin tadi jika mereka satu sekolah.

...☆☆☆...

Alvin berdecak kesal saat melihat Michelle di taman depan rumahnya, cewek itu sedang menyirami bunga. Keberadaan Michelle di rumah ini belum terbiasa dilihat oleh Alvin, cowok yang baru pulang sekolah dengan seragam sedikit berantakkan itu berjalan malas menuju pintu utama.

"Kak Alvin!"

Mendengar suara melengking Michelle saja sudah membuat Alvin kesal, cowok berjaket cokelat itu menghentikan langkah namun tidak menoleh. Michelle melangkah mendekat dengan senyuman lebar karena Alvin mau mendengarkan panggilannya walau tidak merespon.

"Akhirnya Kak Alvin pulang juga. Kak, aku boleh minta anter—"

"Nggak," sahut Alvin, tatapan datarnya langsung menusuk tepat di mata biru Michelle. "Nggak lihat gue baru pulang? Capek," ujar cowok itu.

Senyuman di wajah Michelle perlahan memudar, Alvin juga melihat binar di mata cewek itu meredup, membuat Alvin langsung membuang muka, enggan melihatnya lebih lama.

Tidak lama kedua sudut bibir Michelle kembali tertarik. "Ya udah, Kak Alvin istirahat ya kalau capek? Aku bisa beli sendiri kok."

Alvin melirik sekilas. "Terserah." Lalu melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

Michelle menatap punggung Alvin sampai menghilang masuk rumah, senyum yang sejak tadi berusaha ia pertahankan seketika langsung menghilang. Ia kecewa karena Alvin bahkan tidak mau mendengarkan permintaannya, cowok itu langsung menolak sebelum tahu apa yang Michelle inginkan.

"Nggak apa-apa, Michelle, kan Kak Alvin lagi capek baru pulang sekolah. Mungkin lain kali Kak Alvin mau," ujar Michelle menyemangati dirinya sendiri.

Michelle mencoba memaklumi, walau rasanya tetap sedih di dalam hati. Semalaman Michelle memikirkan kemungkinan kenapa Alvin bersikap seperti ini, bahkan sampai mencari tahu di internet. Dan menurut yang Michelle baca, penyebabnya adalah belum terbiasa lagi dengan kehadiran orang yang sempat pergi.

Salah satu yang bisa merubah atau setidaknya membuat Alvin sedikit perhatian pada Michelle adalah dengan cara sering berada di dekat cowok itu dan mencoba sesering mungkin berinteraksi, itu yang Michelle baca di internet sampai jam setengah dua pagi tadi.

...☆☆☆...

"Ada yang ketabrak! Ayo tolongin!"

Suara heboh seorang bapak-bapak membuat dua cowok berjaket denim di depan sebuah percetakan langsung menoleh, tampak kerumunan orang di seberang jalan.

"Ada apaan tuh rame-rame?" tanya cowok yang baru keluar dari percetakan sambil membawa lipatan banner pesanan mereka.

"Udah jadi nih? Bagus nggak lo cek tadi?" tanya Devis, salah satu dari dua cowok yang tadi menunggu di depan percetakan.

"Bagus, angkatan sebelumnya juga suka cetak di sini, terpercaya," jawab Arya. Devis hanya mengangguk, banner baru ini akan mereka pasang di markas sebagai pengganti banner lama yang sudah rusak.

Devis dan dua temannya memang bergabung dengan sebuah geng motor di daerah Jakarta, jaket denim dengan gambar jaguar di punggung dan sebuah logo di dada kanan yang mereka kenakan adalah tanda bahwa mereka bagian dari geng bernama Jaguar itu.

"Kok ada ambulans segala? Parah banget ya?" tanya Juna, keningnya berkerut melihat orang-orang menyingkir saat ambulans datang.

Devis mengedikkan bahu. "Ayo balik ke markas, nanti—"

"Aduh!"

Kalimat Devis terhenti saat terdengar suara pekikkan tidak jauh dari tempat mereka mengobrol, suara itu berasal dari tepi jalan. Sebuah motor melesat cepat, meninggalkan seorang cewek yang kini jatuh terduduk.

"Wah! Tabrak lari!" pekik Juna, segera turun dari motornya.

Juna baru saja akan menghampiri cewek berpita biru yang masih terduduk sambil memeriksa kakinya itu, tapi Devis menahannya.

"Kenapa, Vis?" tanya Juna heran.

Kening Devis berkerut, merasa tidak asing dengan cewek bersurai hitam dengan outfit dominan warna pink itu.

"Vis! Yah, malah pergi."

"Kayak nggak tau Devis aja lo, kalau lihat bening dikit langsung gercep lah!" ujar Arya berkomentar, lalu tertawa.

Juna hanya mendesis, dua cowok itu masih memerhatikan Devis yang semakin mendekati cewek berpita biru itu.

Devis mengulurkan tangannya tepat di depan wajah cewek itu, membuatnya langsung mendongak. Kening cewek bersurai cokelat yang tak lain adalah Michelle itu berkerut, wajah cowok di depannya ini terlihat tidak asing untuknya.

"Ayo berdiri," ujar Devis, masih dengan tangan terulur.

Michelle menatap tangan Devis ragu sebelum menyambutnya, ia berdiri sambil meringis menahan perih karena lututnya tergores.

"Ngapain duduk di pinggir jalan? Di sana banyak kursi padahal," ujar Devis, ikut memerhatikan lutut Michelle yang tergores.

"Lo pikir apa, gue keserempet!"

"Keserempet?" Devis malah terkekeh. "Keserempet udah jadi hobby lo, ya?"

Michelle menatap Devis, wajahnya ditekuk saat melihat luka di lutut dan kakinya. Ini yang membuatnya enggan untuk keluar sendirian, Michelle mudah sekali terluka karena hal-hal tidak terduga. Dan yang paling sering adalah keserempet atau hampir keserempet.

"Luka lo mau dibiarin gitu apa diobatin?"

Michelle menegakkan wajah menatap Devis. "Kalau dibiarin gini bisa infeksi, kan?"

"Nah itu tau, jadi harus diobatin."

Michelle tampak berpikir. "Tapi gue nggak bawa P3K."

Jawaban Michelle membuat Devis merotasikan kedua bola matanya sambil menghela napas, tanpa izin meraih lengan cewek itu dan menariknya mendekati teman-temannya yang masih menunggu.

"Lo berdua balik dulu aja," ujar Devis pada Arya dan Juna.

"Mau ke mana?" tanya Arya.

Devis tidak menjawab, cowok itu hanya mengedikkan dagu pada Michelle yang terdiam bingung. Arya dan Juna yang mengerti lantas menarik satu ujung bibir membentuk smirk, membuat Michelle semakin bingung.

"Naik."

Michelle mengerjap saat Devis menoleh padanya. "Gue?"

"Iya, lo."

"Nggak mau!" Michelle menggeleng. "Mau ke mana? Nyulik gue?"

Pertanyaan Michelle yang terdengar spontan membuat Arya tertawa, Juna yang sedang memundurkan motornya juga tidak bisa menahan tawa.

Devis mendesis. "Naik aja, nanti juga tau."

"Nggak mau! Sok kenal banget, emang lo siapa?"

"Nah, skak mat!" sahut Arya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Devis.

Arya mengangkat kedua tangannya seperti maling tertangkap, lalu segera naik ke boncengan motor Juna. Keduanya melesat meninggalkan halaman percetakan sebelum Devis mengamuk.

"Heh, lo siapa sih?" tanya Michelle heran bercampur kesal.

Devis mengulurkan tangannya. "Devis," jawab cowok itu memperkenalkan diri.

Michelle menatap tangan Devis yang menggantung di udara, lalu kembali menatap cowok itu. Devis tampak datar-datar saja.

"Gue nggak ada maksud jahat, cuma mau anterin ke klinik atau ke apotek cari obat, kaki lo luka," ujar Devis lagi, menarik tangannya karena tidak kunjung dijabat oleh Michelle.

Tatapan kesal Michelle berubah, pandangan cewek itu turun ke lututnya yang kembali terasa perih. Terlihat mengeluarkan darah karena tadi bergesekkan dengan aspal.

"Nggak usah deh, nanti gue obatin di rumah aja," tolak Michelle, nada bicaranya tidak sekesal tadi.

"Kalau gitu gue anterin pulang."

Michelle langsung menegakkan kepala dan menggeleng cepat. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai diantar pulang cowok asing, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Rita kalau wanita itu tanya siapa yang mengantarnya pulang? Dan bagaimana kalau Alvin juga melihatnya? Pasti Alvin akan berpikir macam-macam. Walaupun mungkin hanya 10% peluang Alvin akan berpikir yang tidak-tidak saat melihat Michelle dengan cowok lain, sisanya tidak peduli.

"Kalau gitu jangan nolak gue anter ke klinik atau apotek, ayo naik."

Michelle tidak langsung menjawab, ia masih berpikir dan ragu. Ia merasa takut kalau ternyata Alvin akan melihatnya berboncengan dengan cowok ini, tapi setelah itu bayangan Alvin yang menolak mengantarnya tadi langsung menepis rasa takut Michelle.

"Lo mikir lama amat, ayo keburu luka lo makin kotor kena debu, nanti infeksi," ujar Devis dengan nada sedikit kesal.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!