Indonesia
NovelToon NovelToon

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Bab 1 : Skenario lain

Lantai teratas gedung Vareksa Tower selalu punya atmosfer yang berbeda dari lantai-lantai di bawahnya. Dingin, hening, dan terkesan mengintimidasi. Di balik meja mahoni besar yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta, Areksa Vareksa duduk tegak.

Usianya baru dua puluh lima tahun. Di saat anak muda seumurannya mungkin masih sibuk berhura-hura atau berjuang mencari jalan karier, Areksa sudah berdiri di puncak tertinggi. Sebagai CEO termuda dalam sejarah Vareksa Group, kejeniusannya berhasil membawa perusahaan keluarga itu berkembang pesat. Di mata publik dan lawan bisnisnya, Areksa adalah sosok yang tegas, dingin, dan tak pernah ragu mengambil keputusan ekstrem demi keuntungan perusahaan.

Pandangannya tertuju pada laporan keuangan di layar gawai. Wajah tampannya yang berahang tegas sama sekali tak menunjukkan ekspresi. Sejak dipercaya memegang kendali penuh tiga bulan lalu, ia membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk memegang kekuasaan.

Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kayu ek yang tebal memecah keheningan ruangan. Tak banyak orang yang bisa masuk ke ruangan Areksa tanpa membuat janji temu terlebih dahulu melalui sekretarisnya.

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Aruna, kakak perempuan pertama Areksa. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu tampil anggun dengan setelan blazer desainer ternama. Di sampingnya, seorang anak kecil berusia empat tahun berjalan sambil menggandeng tangannya. Itu Elio, keponakan tersayang Areksa.

Sementara itu, Arthur, kakak laki-laki kedua Areksa yang berusia tiga puluh tahun, lebih memilih menata jalan hidupnya sendiri sebagai pengacara internasional bertangan dingin di luar negeri. Arthur merasa dunia bisnis Vareksa yang penuh intrik memang paling cocok berada di tangan adik bungsu mereka.

Aura dingin yang menyelimuti Areksa seketika luntur begitu ia melihat kedatangan Aruna dan Elio. Senyum tipis yang amat jarang terlihat kini terbit di bibirnya. Di luar sana, Areksa boleh saja ditakuti ratusan karyawan dan rekan bisnisnya. Namun di hadapan sang kakak, ia hanyalah adik bungsu yang dulu selalu dilindungi dan dimanjakan.

"Masih saja berkutat dengan angka-angka itu, Dek? Ini sudah lewat jam makan siang," ucap Aruna dengan nada lembut penuh perhatian.

Areksa bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah menghampiri sofa di tengah ruangan.

"Om Echa!"

Elio yang melihat pamannya langsung melepaskan genggaman tangan ibunya. Bocah kecil itu berlari dan menubruk kaki Areksa dengan tawa riang.

Areksa tidak menunjukkan keberatan sedikit pun. Pria yang biasanya disegani itu justru membungkuk dan mengangkat Elio ke dalam pelukannya. Ia bahkan membiarkan tangan mungil Elio mengacak-acak dasi sutranya tanpa protes.

"Elio, jangan nakal sama Om Echa. Nanti dasi Om bisa rusak," tegur Aruna lembut sembari tersenyum geli melihat kelakuan putranya.

"Tidak apa-apa, Kak," balas Areksa singkat. Ia duduk di sofa sambil memangku Elio, membiarkan keponakannya memainkan pulpen mewah yang terselip di kantong kemejanya.

"Dia dari tadi tantrum mau ketemu kamu," kata Aruna sambil mengamati adiknya. "Oh ya, Kakak ke sini sekalian mau mengingatkan pesan Mama soal makan malam besok. Ini soal kelanjutan aliansi kita dengan keluarga Valerius. Tadi pagi Tuan Danuel Valerius menghubungi Papa secara pribadi untuk mengonfirmasi pertemuannya."

Mendengar nama keluarga itu, gerakan Areksa yang hendak mengambil gelas air minum sempat terhenti sejenak. Tangannya tertahan di udara, rahangnya merapat halus—sebuah reaksi refleks yang sangat singkat, namun cukup untuk ditangkap oleh pengamatan Aruna.

"Valerius?" kening Areksa berkerut halus. "Kudengar kondisi internal mereka sedang kurang stabil setelah cucu perempuan Tuan Danuel yang dulu sempat hilang akhirnya kembali. Kenapa perjodohan ini terkesan sangat terburu-buru?"

Aruna menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Tuan Danuel cuma ingin mengamankan posisi garis keturunan utamanya. Bagi Vareksa, ini kesempatan bagus untuk memperluas jaringan pelabuhan di wilayah timur. Tapi..." Aruna menatap adiknya dengan raut khawatir. "Apa kamu yakin mau menerimanya? Kakak dengar kamu masih belum sepenuhnya lupa sama mantanmu."

Wajah Areksa kembali tenang. Topeng profesionalnya terpasang rapat. Ingatannya sempat melayang sejenak ke masa lalu—masa-masa sekolah saat ia mengenal Valerie, teman kecilnya yang penuh percaya diri, hingga kesalahpahaman yang membuatnya jatuh hati pada Zevanna, gadis lugu dan pendiam yang dulu pernah mengisi kesehariannya.

Namun, Areksa menyapu bersih kenangan itu dari benaknya.

"Pernikahan bisnis adalah hal yang wajar di lingkaran kita," ujar Areksa dingin sambil meletakkan gelasnya kembali ke meja. "Siapa pun wanita yang ditunjuk oleh keluarga Valerius, aku akan menerimanya, selama hal itu membawa dampak besar dan keuntungan bagi Vareksa."

Aruna menatapnya penuh selidik. "Kamu yakin, Sa? Dari obrolan dengan teman-teman sosialita, Valerie itu tumbuh jadi gadis yang sangat ambisius dan manja. Kalian memang teman kecil dulu, tapi apa kamu yakin bisa berbagi hidup dengannya? Papa dan Mama sebenarnya tidak memaksa. Mereka hanya tidak ingin kamu terlalu fokus bekerja sampai lupa mencari pasangan."

Areksa menyandarkan punggungnya ke sofa. Tangan kirinya merapikan rambut Elio yang mulai mengantuk di pangkuannya. Ia mengecup perlahan puncak kepala keponakannya itu sebelum akhirnya kembali menatap Aruna.

"Perasaan tidak ada hubungannya dengan urusan ini, Kak," kata Areksa datar. "Aku tidak punya waktu untuk hal-hal sentimental. Dalam bisnis, cinta cuma akan jadi kelemahan yang membuat kita rapuh."

Aruna menghela napas panjang, memahami betul betapa keras kepalanya adik bungsunya jika sudah membuat keputusan.

Namun tepat sebelum suasana makin serius, sudut bibir Areksa terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan—sebuah garis senyum yang menyimpan niat tersembunyi.

"Kakak tenang saja," bisik Areksa pelan, matanya berbinar penuh teka-teki. "Ada skenario lain yang sedang berjalan. Kakak cuma perlu datang dan menikmati makan malamnya besok."

Bab 2: Bukan gadis lemah

Di sudut lain ibu kota Jakarta, di dalam kediaman megah keluarga Valerius yang berdiri kokoh dengan arsitektur ala istana Eropa klasik, suasana justru terasa begitu tegang dan mencekam. Kemewahan yang terpampang jelas di setiap sudut rumah ini sama sekali tidak membawa ketenangan bagi Zevanna.

Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berdiri membisu di depan cermin besar setinggi langit-langit kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker, sebuah mahakarya dari perancang busana ternama yang dipesan khusus untuk acara penting malam ini.

Zevanna baru saja menyelesaikan kuliahnya sebulan yang lalu. Alih-alih merayakan kelulusannya secara sederhana dan hangat bersama teman-teman seperjuangannya, ia kini justru terperangkap di dalam rumah megah bak istana yang terasa tidak ubahnya seperti penjara berlapis emas.

Baru dua bulan berlalu sejak kehidupan Zevanna berubah total dan berbalik seratus delapan puluh derajat. Sang kakek, Tuan Danuel Valerius, pemimpin tertinggi dan pemegang kekuasaan absolut di keluarga Valerius, berhasil menemukan keberadaannya setelah pencarian panjang dan menguras energi yang memakan waktu belasan tahun.

Dulu, mendiang ibu Zevanna yang merupakan putri bungsu kesayangan Tuan Danuel, nekat pergi dan melangkah keluar dari rumah ini tanpa membawa sepersen pun uang demi memilih menikah dengan pria pilihannya, seorang pria sederhana yang hidup susah.

Zevanna kecil pun harus tumbuh dan melintasi masa child-hood yang keras di panti asuhan sederhana setelah kedua orang tuanya berpulang. Ketika Tuan Danuel akhirnya berhasil melacak keberadaannya dua bulan lalu, pria tua itu menangis hebat di depan Zevanna. Pria itu memeluknya erat-erat dan bersumpah di depan makam putrinya bahwa ia akan menebus semua masa penderitaan Zevanna dengan memanjakannya layaknya seorang putri mahkota yang berharga.

Namun, kepulangan Zevanna yang mendadak itu bagaikan petaka dan ancaman besar bagi anggota keluarga Valerius yang lain.

Braak!

Pintu kamar berbahan kayu jati tebal itu dihempaskan terbuka tanpa peringatan sama sekali, membentur dinding dengan suara keras. Keheningan kamar Zevanna seketika pecah berkeping-keping. Zevanna bahkan tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa gerangan manusia yang berani masuk tanpa sopan santun seperti itu. Aroma parfum menyengat yang berlebihan serta hawa permusuhan yang pekat sudah cukup menjadi penanda jelas.

Di sana berdiri Paman Bram, Bibi Melinda, serta putri tunggal mereka yang bernama Valerie. Sejak Zevanna pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, paman dan bibinya yang gila harta itu selalu memandang Zevanna dengan tatapan penuh dendam dan rasa tidak suka.

Bagi mereka, Zevanna hanyalah parasit dari masa lalu yang mendadak muncul untuk merebut remah-remah warisan keluarga. Semua fasilitas terbaik, perhatian mutlak dari Tuan Danuel, dan posisi terhormat dalam silsilah keluarga kini terancam beralih ke tangan seorang anak yang selalu mereka cap sebagai 'anak jalanan yang miskin dan tak berkelas'.

Zevanna berbalik dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut apalagi ketakutan. Ia menatap Valerie yang berdiri di barisan paling depan dengan napas memburu dan mata yang memerah akibat rasa amarah yang meluap. Valerie malam ini juga mengenakan gaun malam yang luar biasa mewah bertabur kristal, namun riasan wajahnya yang tebal sama sekali tidak mampu menyembunyikan guratan rasa iri yang mendalam.

"Kau merasa sangat hebat sekarang, huh? Hanya karena kakek tua itu terus memanjakanmu dan memperlakukanmu seperti ratu?!" seru Valerie dengan nada melengking yang beracun, menunjuk tepat ke wajah Zevanna dengan jari telunjuknya yang gemetar.

Zevanna melipat kedua tangannya di dada, mempertahankan posisinya dengan dagu terangkat tinggi. Bertahun-tahun hidup mandiri dan menempa diri di lingkungan yang keras telah membentuk mentalnya menjadi sangat tangguh. Dia bukan gadis manja yang akan menangis tersedu-sedu hanya karena digertak atau diintimidasi. Di dalam dadanya mengalir keberanian murni yang ia warisi dari almarhumah ibunya.

"Jaga bicaramu dan tolong turunkan jarimu sebelum aku sendiri yang menurunkannya dengan cara yang tidak menyenangkan," jawab Zevanna. Suaranya terdengar begitu tenang, namun memiliki tekanan tajam yang membuat suasana makin dingin. "Aku tidak pernah meminta Kakek untuk memanjakanku. Jadi, jika kau punya masalah dengan hal itu, silakan protes langsung pada Kakek, bukan berteriak-teriak seperti orang yang tidak punya pendidikan di dalam kamarku."

"Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri!" Bibi Melinda ikut menimpali, melangkah maju ke samping putrinya dengan tangan terlipat angkuh di dada, menatap Zevanna dari atas ke bawah dengan pandangan menghina. "Jangan pernah berlagak suci dan terhormat di depan kami, Zevanna! Papa itu sudah tua dan keputusannya mulai kabur. Beliau hanya kasihan melihat anak pembawa sial sepertimu terlantar di luar sana. Ingat posisimu di rumah ini! Kau hanyalah anak dari seorang perempuan pelarian yang kabur dari rumah demi pria miskin!"

Tangan Zevanna yang terlipat di dada seketika mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Menghina mendiang ibunya adalah garis merah yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun di dunia ini. Sinar matanya yang semula tenang seketika berubah menjadi setajam belati, menusuk langsung ke manik mata bibinya.

Zevanna melangkah maju beberapa tindak, memperpendek jarak di antara mereka. Aura berani dan menantang terpancar begitu kuat dari tubuhnya, membuat Bibi Melinda secara tidak sadar mundur setengah langkah karena terintimidasi.

"Setidaknya ibuku pergi dari rumah terkutuk ini dengan memegang teguh kehormatan dan cintanya, Bibi," balas Zevanna dengan nada rendah yang bergetar penuh penekanan. "Beliau memilih hidup sederhana daripada harus tinggal bersama orang-orang bermuka dua seperti kalian. Bukankah justru jauh lebih menyedihkan melihat kalian berdua? Tinggal di istana ini bertahun-tahun layaknya parasit, menjilat kaki Kakek setiap hari demi mendapatkan harta, sementara di belakangnya kalian mengutuk agar beliau cepat tiada? Siapa sebenarnya yang tidak tahu diri di sini?"

"Kau benar-benar kurang ajar!" Valerie yang sudah kehilangan kendali atas emosinya melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya terangkat tinggi di udara, siap melayangkan tamparan keras ke wajah cantik Zevanna.

Namun, Zevanna jauh lebih sigap dan tenang. Sebelum telapak tangan Valerie sempat menyentuh kulit wajahnya, Zevanna menangkap pergelangan tangan sepupunya itu di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat dan kokoh. Valerie memekik kesakitan saat merasakan cengkeraman tangan Zevanna yang begitu menjepit.

Zevanna menarik pergelangan tangan Valerie mendekat, memaksa tubuh sepupunya itu membungkuk sedikit ke arahnya. Dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja, Zevanna berbisik lirih namun penuh ancaman tajam di telinga Valerie.

"Jangan pernah coba-coba menyentuhku atau menghina ibuku lagi. Aku bukan ibuku yang memilih diam dan mengalah. Jika kau berani melakukan hal ini lagi, aku pastikan malam ini juga aku akan mengadu pada Kakek bahwa kau mencoba mencelakakan aku. Kau tahu betul siapa yang lebih didengar dan dipercaya Kakek saat ini, bukan? Sekali saja aku membuka mulut, Kakek tidak akan ragu untuk memotong seluruh anggaran belanja bulananmu dan mengusir kalian dari rumah ini."

Zevanna kemudian menghempaskan tangan Valerie dengan kasar hingga gadis manja itu limbung dan hampir jatuh jika tidak segera ditangkap oleh ibunya.

Valerie memegang pergelangan tangannya yang memerah, napasnya memburu karena kombinasi rasa sakit fisik dan harga dirinya yang hancur berkeping-keping.

"Mami! Lihat dia! Dia benar-benar keterlaluan!" adu Valerie dengan mata berkaca-kaca menahan rasa marah dan malu yang meledak-ledak.

Melinda menunjuk Zevanna dengan wajah memerah padam karena murka. "Kau... kau akan menyesali ucapanmu ini, Zevanna! Jangan pernah berpikir karena Tuan Danuel ada di pihakmu, kau bisa berkuasa sesukamu di sini. Kami akan memastikan kau didepak dari rumah ini secepatnya!"

"Aku akan dengan senang hati menunggu saat itu tiba, Bibi. Tapi sebelum hari itu benar-benar datang, sebaiknya kalian segera keluar dari kamarku sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeret kalian keluar," sahut Zevanna dingin, berbalik kembali menghadap cermin besarnya tanpa memedulikan keberadaan mereka lagi.

Bab 3: Pengorbanan di Atas Meja Aliansi

Ketegangan di dalam ruang keluarga utama kediaman Valerius mencapai puncaknya malam itu, beberapa jam sebelum mereka melangkah keluar menuju acara makan malam akbar yang sudah dijadwalkan.

Tuan Danuel Valerius, pria tua yang memegang kendali penuh atas seluruh kekayaan dan dinasti bisnis keluarga, duduk tenang di kursi kebesarannya. Meskipun usianya sudah lanjut dan ia harus bertumpu pada tongkat kayu berkepala perak, aura kepemimpinannya sama sekali tidak pudar. Sinar matanya masih sangat tajam, sanggup membuat siapa saja berpikir dua kali sebelum berani membantah ucapannya.

Di samping kanannya, Zevanna duduk santai. Jari-jari lenturnya dengan telaten memijat lembut tangan sang kakek yang mulai keriput, mencoba memberikan ketenangan di tengah dinginnya atmosfer ruangan. Sementara di seberang mereka, Paman Bram, Bibi Melinda, dan Valerie duduk dengan posisi tubuh kaku. Valerie melipat kedua tangannya di dada dengan bibir cemberut.

Matanya tak henti-henti melemparkan tatapan sinis dan penuh rasa tidak suka ke arah Zevanna.

"Pertemuan dengan keluarga Vareksa malam ini sangat penting buat masa depan dinasti kita," suara berat Tuan Danuel memecah keheningan ruangan. Setiap kata yang diucapkannya terdengar pelan, namun tegas tanpa ragu. "Aliansi ini bukan cuma soal bisnis saham atau penguasaan pelabuhan. Ini soal menjaga posisi Valerius agar tetap berada di puncak. Dan sesuai dengan kesepakatan lama, perjodohan ini harus tetap berjalan demi menyatukan kedua keluarga."

Mendengar hal itu, Valerie langsung menegakkan posisi duduknya. Senyum tipis yang angkuh mulai terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah terang. Sejak ia masih kecil, ibunya selalu membisikkan bahwa dialah yang kelak akan menjadi pendamping Areksa Vareksa. Menjadi istri dari pria paling sukses, tampan, dan disegani di dunia bisnis adalah impian terbesarnya untuk mengukuhkan posisi di kalangan sosialita atas.

"Tentu saja, Kakek," sahut Valerie dengan nada suara yang dibuat manis dan penuh percaya diri. "Aku sudah bersiap dari jauh-jauh hari untuk malam ini. Aku janji tidak akan membuat Kakek malu atau memalukan nama keluarga di depan keluarga Vareksa."

Namun, Tuan Danuel tidak membalas senyuman itu. Pria tua itu hanya menghela napas pendek, menatap Valerie sejenak, lalu beralih melihat Zevanna di sampingnya dengan pandangan lembut yang sarat akan rasa penyesalan atas masa lalu.

"Tapi setelah Kakek pikir-pikir lagi dan mempertimbangkan banyak hal..." lanjut Tuan Danuel tenang. "Kakek memutuskan kalau Zevanna yang akan maju untuk perjodohan ini, menggantikan Valerie."

Seketika, ruangan besar itu menjadi sangat hening sebelum akhirnya pecah oleh kepanikan.

"Apa?!" seru Valerie kaget. Ia langsung berdiri spontan dari sofanya tanpa peduli lagi pada etika sopan santun. Wajah cantiknya berubah merah padam dalam sekejap. "Kakek! Ini tidak adil! Dari kecil kan aku yang disiapkan buat Areksa! Aku yang belajar semua hal soal mereka, aku yang kenal dia dari dulu! Kenapa tiba-tiba anak ini yang ditunjuk?!"

"Valerie! Jaga sikap dan bahasamu!" tegur Tuan Danuel tegas sambil menepuk pelan lengan kursinya hingga menimbulkan suara ketukan nyaring. "Zevanna itu cucu Kakek juga, anak dari putri bungsu Kakek. Keputusan Kakek sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Keluarga Vareksa menginginkan aliansi dari garis keturunan utama, dan Kakek memilih Zevanna untuk mewakili nama Valerius!"

Bibi Melinda yang tidak terima melihat masa depan putrinya terancam runtuh langsung menyenggol lengan suaminya agar ikut angkat bicara.

"Ayah, tolong dipikirkan baik-baik lagi," kata Paman Bram coba menengahi dengan nada berpura-pura cemas. "Areksa Vareksa itu dikenal sebagai pria yang sangat dingin, tegas, dan tidak punya ampun dalam dunia bisnis. Zevanna kan baru saja kembali ke rumah ini dan belum terbiasa dengan gaya hidup lingkungan kita. Bagaimana kalau dia malah canggung atau salah sikap di sana?"

"Iya, benar kata Mas Bram, Ayah," tambah Bibi Melinda cepat dengan raut muka dibuat prihatin. "Zevanna juga cuma lulusan universitas lokal sederhana, beda sama Valerie yang lulusan luar negeri. Kita cuma takut kalau nanti keluarga Vareksa merasa kurang berkenan atau malah tersinggung disodori menantu yang... yah, asal-usulnya agak berbeda."

Mendengar sindiran halus yang dilemparkan bertubi-tubi itu, Zevanna tidak tampak sedih atau berkecil hati sedikit pun. Ia pelan-pelan menghentikan pijatannya pada tangan sang kakek, lalu mengangkat kepala dan menatap paman serta bibinya dengan sangat tenang, sebuah tatapan santai namun dingin yang justru membuat Paman Bram dan Bibi Melinda makin salah tingkah.

Di dalam benaknya, Zevanna mulai menimbang-nimbang situasi dengan cepat.

Menikah dengan pria asing bernama Areksa dari keluarga Vareksa yang katanya sangat dingin dan tak tersentuh memang terdengar cukup berisiko. Namun, jika ia harus terus tinggal di dalam rumah ini bersama paman, bibi, dan sepupunya yang selalu mencari cara untuk menjatuhkannya setiap hari, hidupnya tidak akan pernah tenang. Kakeknya juga sudah makin tua dan sakit-sakitan; beliau tidak akan bisa terus-terusan menjadi perisai untuk melindunginya dari intrik keluarga ini.

Pindah ke keluarga Vareksa melalui pernikahan bisnis justru bisa menjadi jalan keluar terbaik yang masuk akal. Selain memberinya posisi dan status yang aman secara hukum, ia bisa melangkah keluar dengan kepala tegak dari rumah Valerius yang penuh kepalsuan ini.

"Kakek," panggil Zevanna lembut namun mantap, memotong perdebatan yang mulai memanas di antara para tetua.

Tuan Danuel beralih menatap cucunya dengan binar mata yang hangat. "Iya, sayang? Ada yang mau kamu sampaikan?"

"Kalau ini memang keputusan terbaik buat kebaikan keluarga kita, dan buat menjaga nama baik almarhumah Ibu... aku bersedia," jawab Zevanna tanpa ada keraguan dalam suaranya. Ia menatap Valerie lurus-lurus, membiarkan sepupunya itu melihat keteguhan yang tak tergoyahkan di matanya. "Aku siap menerima perjodohan ini dan menikah dengan Areksa."

Tuan Danuel menghembuskan napas lega, senyum bahagianya terkembang sempurna. Ia mengusap pelan punggung tangan Zevanna dengan penuh rasa sayang. "Anak pintar. Kamu benar-benar mirip dengan ibumu, selalu berani dan punya pendirian. Kakek sangat bangga sama kamu."

Sementara itu di seberang sana, Valerie mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah menatap Zevanna penuh rasa benci dan dendam yang mendalam.

"Lihat saja nanti, Zevanna," batin Valerie dengan amarah yang membakar dada. "Kamu pikir kamu bisa menang dan tertawa dengan mudah? Areksa itu milikku dari dulu, dan kamu tidak akan pernah betah berurusan dengan pria sekeras dia!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!