Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah Dipenjara, Aku Dinikahi Diam-diam oleh CEO Triliuner

Episode 1

Bab 1: Malam Hujan

Hujan menghantam gerbang tua keluarga Sim seperti ribuan batu kecil yang dilemparkan dari langit.

Kirana Li berlari menembusnya dengan gaun pengantin yang sudah tidak lagi putih. Kain panjang itu melekat di kulitnya, berat oleh air dan bercak merah yang merembes dari bagian bawah rok. Telapak kakinya telanjang. Setiap kali menginjak lantai batu di halaman Boyantara, rasa dingin menusuk sampai ke tulang, bercampur perih dari kerikil yang melukai kulit.

Namun ia tidak berhenti.

"Reuben!"

Suaranya pecah di tengah hujan.

Lampu rumah utama menyala satu per satu. Di balik jendela tinggi, bayangan para pelayan bergerak panik. Gerbang samping terbuka setengah, lalu seorang penjaga berlari keluar dengan payung hitam. Ia tertegun melihat pengantin perempuan yang berdiri di bawah hujan dengan wajah pucat dan rambut menempel di pipi.

"Nona Kirana?"

Kirana tidak menjawab. Napasnya pendek, dadanya naik turun seperti baru saja dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Ia terus menatap pintu utama.

"Panggil Reuben," ucapnya. Bibirnya bergetar. "Tolong panggil Reuben sekarang."

Penjaga itu ragu. Dari dalam rumah terdengar suara ribut, langkah tergesa, dan seseorang menyebut nama Alexander Sim dengan nada tertahan. Malam yang seharusnya menjadi malam pernikahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap daripada langit.

Pintu utama akhirnya terbuka.

Reuben Sim muncul dengan kemeja yang belum rapi, wajahnya pucat, matanya merah karena terkejut atau karena ketakutan. Di belakangnya beberapa anggota keluarga berdiri menjaga jarak. Tidak ada yang mendekat kepada Kirana.

"Kirana?" Reuben turun dua anak tangga. "Kamu dari mana? Apa yang terjadi?"

Kirana melangkah maju, tetapi lututnya hampir menyerah. Ia memegang pilar batu di sisi tangga agar tidak jatuh.

"Aku tidak membunuh Pak Alexander," katanya cepat. "Aku tidak melakukannya, Reuben. Aku bersumpah."

Wajah Reuben menegang.

Di balik bahunya, bisik-bisik langsung pecah. Nama Alexander Sim terdengar lagi. Kata meninggal. Kata darah. Kata batu. Semua bercampur dengan suara hujan sampai seperti vonis yang belum dijatuhkan.

Reuben menatap noda merah di gaun Kirana. Pandangannya turun ke tangan Kirana yang gemetar. Ada darah kering di sela jarinya, sebagian sudah luntur oleh air hujan.

"Kenapa ada darah di bajumu?"

Pertanyaan itu membuat Kirana seperti ditampar.

"Aku tidak tahu." Ia menggeleng cepat. "Aku bangun di dekat gudang belakang. Kepalaku sakit, semuanya berputar. Saat aku sadar, Pak Alexander sudah... sudah tergeletak. Aku panik. Aku lari mencari kamu."

"Kamu lari dari lokasi kejadian?"

Nada Reuben berubah. Tidak keras, tetapi cukup dingin untuk membuat Kirana berhenti bernapas sejenak.

"Aku mencari kamu," ulang Kirana. "Karena kamu satu-satunya orang yang akan percaya padaku."

Satu-satunya.

Kata itu jatuh di antara mereka, basah dan hancur.

Reuben menoleh ke belakang. Seorang paman keluarga Sim menatapnya tajam dari ambang pintu. Seorang perempuan tua menutup mulutnya dengan saputangan. Tidak ada yang berani menyebut Kirana sebagai calon pengantin keluarga malam itu. Mereka melihatnya seperti melihat noda yang harus segera disingkirkan sebelum merusak nama besar mereka.

Kirana menangkap perubahan itu. Jari-jarinya semakin kuat mencengkeram pilar.

"Reuben, dengarkan aku." Ia naik satu anak tangga. "Aku memang masuk ke rumah belakang karena Jessica bilang kamu menunggu di sana. Katanya kamu ingin bicara sebelum acara keluarga dimulai. Tapi setelah itu semuanya gelap. Aku tidak ingat siapa yang memukulku. Saat aku bangun, aku sudah di sana."

Reuben berkedip. "Jessica?"

Kirana mengangguk cepat. "Dia yang mengirim pesan. Cek ponselku. Cek pesan itu."

Tangan Reuben bergerak seolah ingin meraih ponselnya, tetapi ia berhenti ketika suara mesin mobil terdengar dari sisi halaman. Lampu depan sebuah sedan hitam menyala redup di balik tirai hujan, terparkir agak jauh dari pintu utama, dekat pohon kamboja tua.

Di kursi belakang mobil itu, Jessica Lim duduk dengan gaun pendamping pengantin berwarna champagne. Rambutnya masih rapi. Riasannya hanya sedikit luntur, cukup untuk membuatnya terlihat seperti korban yang baru menangis.

Kirana melihatnya.

Seluruh tubuhnya membeku.

Jessica juga melihat Kirana dari balik kaca jendela yang berembun. Untuk satu detik, wajahnya kosong, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan calon anggota keluarga karena pembunuhan.

Lalu sudut bibirnya naik sedikit.

Sangat sedikit.

Namun Kirana melihatnya.

"Jessica!" Kirana berbalik ke arah mobil itu. "Kamu yang suruh aku ke gudang belakang! Kamu bilang Reuben menunggu di sana!"

Pintu mobil terbuka.

Jessica keluar dengan payung kecil yang langsung miring diterpa angin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, matanya melebar seolah takut. Ketika ia berjalan mendekat, tumit sepatunya mengetuk lantai basah dengan ritme pelan dan terukur.

"Kirana, apa maksudmu?" Suara Jessica terdengar gemetar, tetapi tangannya tidak gemetar sama sekali. "Aku tidak pernah mengirim pesan apa pun."

"Bohong!"

Kirana merogoh kantong kecil di sisi gaunnya. Jari-jarinya licin oleh hujan. Ponselnya tidak ada.

Ia meraba lagi. Tidak ada.

Wajahnya semakin pucat.

Jessica berhenti di samping Reuben, tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk terlihat seperti pihak yang lebih pantas dipercaya. "Reuben, aku tadi bersama tante-tante di ruang tengah. Banyak yang melihat. Aku bahkan baru keluar setelah dengar suara ribut."

"Kamu bohong," bisik Kirana.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" Jessica menatapnya dengan mata basah. "Pak Alexander selalu baik padaku. Aku tidak punya alasan menyakitinya."

Kirana ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti tersumbat. Ia tahu ada sesuatu yang salah. Ada lubang besar di ingatannya. Ada pesan yang hilang, ponsel yang hilang, darah di bajunya, dan wajah Jessica yang terlalu tenang di balik kaca mobil.

Namun semua orang hanya melihat darah di tubuhnya.

Mereka hanya melihat pengantin perempuan yang datang dari arah tempat Alexander Sim ditemukan sekarat.

Reuben melangkah turun satu anak tangga lagi. Payung penjaga bergerak mengikuti kepalanya, tetapi ia menepisnya. Hujan membasahi rambutnya.

"Kirana," katanya pelan. "Kalau kamu tidak bersalah, kenapa kamu tidak langsung panggil orang? Kenapa datang ke sini dalam keadaan seperti ini?"

Kirana menatapnya tidak percaya.

"Karena aku takut," jawabnya. "Karena orang yang tergeletak di lantai itu adalah pamanmu. Karena aku tahu kalau orang lain melihatku lebih dulu, mereka akan mengira aku pelakunya. Aku datang kepadamu karena aku percaya kamu."

Reuben tidak menjawab.

"Kamu bilang setelah menikah nanti, apa pun yang terjadi kita hadapi bersama." Air mata Kirana bercampur dengan hujan. "Kamu bilang kamu percaya padaku lebih dari siapa pun."

Rahang Reuben mengeras.

Di belakangnya, seorang keluarga Sim berkata dengan suara rendah, "Jangan gegabah, Reuben. Ini menyangkut nyawa Pak Alexander."

Kalimat itu seperti tali yang ditarik ke leher Reuben.

Kirana melihat matanya berubah. Bukan lagi mata lelaki yang beberapa jam lalu hampir menjadi suaminya. Ada hitungan di sana. Ada rasa takut terhadap keluarga, nama besar, polisi, dan masa depan.

Ia mundur setengah langkah.

Kirana melihat gerakan kecil itu.

Dadanya terasa runtuh.

"Kamu mundur?" tanyanya hampir tanpa suara.

Reuben menelan ludah. "Aku cuma ingin semuanya jelas."

"Jelas?" Kirana tertawa pendek, tetapi tidak ada suara gembira di dalamnya. "Aku berdiri di depanmu seperti ini, meminta kamu percaya padaku, dan kamu bicara soal jelas?"

Jessica menunduk. Dari sudut wajahnya, Kirana melihat senyum itu lagi, cepat seperti kilat.

Kirana mendadak maju.

"Katakan yang sebenarnya!" Ia menunjuk Jessica. "Kamu tahu sesuatu. Kamu tahu apa yang terjadi malam ini!"

Jessica terperanjat mundur dan meraih lengan Reuben. "Reuben, aku takut."

Sentuhan itu kecil, tetapi cukup.

Reuben langsung berdiri di antara mereka.

"Kirana, jangan menyerang dia."

Kirana berhenti.

Hujan terasa semakin dingin.

"Menyerang dia?" Bibir Kirana bergetar. "Aku bahkan tidak bisa berdiri dengan benar."

Ia mengangkat kedua tangannya. Ada luka tipis di telapak kirinya. Cincin pertunangan di jarinya memantulkan cahaya lampu halaman, basah oleh air dan darah yang sudah pudar.

"Lihat aku, Reuben. Lihat aku baik-baik. Apa menurutmu aku bisa membunuh seseorang lalu datang ke sini untuk memohon seperti orang bodoh?"

Reuben menatap cincin itu.

Sesaat, matanya goyah.

Kirana melihat harapan kecil terbuka. Ia segera naik satu anak tangga lagi. "Tolong. Kita cari ponselku. Kita cek kamera. Kita tanya semua orang. Aku tidak takut diperiksa, asal kamu jangan meninggalkan aku."

Kata terakhirnya pecah.

Jangan meninggalkan aku.

Untuk pertama kalinya malam itu, Reuben seperti ingin meraih tangannya.

Namun dari kejauhan terdengar suara lain.

Sirene.

Awalnya tipis, tertutup hujan. Lalu semakin dekat. Lampu merah biru memantul di jalan basah di luar gerbang Boyantara.

Tubuh Kirana menegang. "Reuben..."

Jessica memegang lengan Reuben lebih kuat. "Polisi sudah datang. Kita harus hati-hati dengan apa yang kita katakan."

Kirana menoleh cepat. "Kita?"

Jessica segera menunduk lagi, seolah kalimat itu keluar karena panik.

Tetapi Reuben mendengarnya.

Dan justru karena mendengarnya, wajah Reuben berubah.

Kirana melihat semua yang tersisa dari malam pernikahan mereka mati di matanya. Kepanikan yang tadi membuatnya tampak manusiawi perlahan mengeras menjadi sesuatu yang dingin, rapi, dan jauh.

Ia melepas tangannya dari jangkauan Kirana.

"Kirana," ucap Reuben pelan, "sampai polisi selesai memeriksa, jangan bicara apa pun lagi."

Kirana seperti tidak mengenali suaranya.

"Kamu tidak percaya padaku."

Reuben menatap jalan, bukan wajahnya.

Mobil polisi berhenti di depan gerbang. Dua petugas turun dengan jas hujan gelap. Cahaya lampu mereka menyapu halaman, menyapu gaun pengantin Kirana yang basah kuyup, menyapu darah di ujung kain, lalu berhenti di wajahnya.

Jessica berdiri di belakang Reuben.

Ketika petugas pertama melangkah masuk, ia mengangkat tangan ke kaca mobil yang masih terbuka sedikit. Dua jarinya membentuk tanda kemenangan kecil, tersembunyi dari semua orang kecuali Kirana.

Kirana menatap tanda itu, lalu menatap Reuben.

Pria itu tetap diam.

Di tengah suara hujan dan sirene yang semakin dekat, ekspresi Reuben berubah dari panik menjadi dingin.

Episode 2

Bab 2: Pengakuan di Dalam Mobil

Sirene belum berhenti ketika Reuben masuk ke dalam sedan hitam itu.

Pintu tertutup, memisahkan mereka dari hujan, lampu polisi, dan suara Kirana yang masih berusaha menjelaskan sesuatu kepada petugas di luar. Di dalam mobil, udara terasa pengap. Aroma parfum Jessica bercampur bau lembap dari jas Reuben yang basah.

Jessica duduk di kursi belakang, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu halaman, tetapi matanya tidak lagi selembut saat ia berdiri di samping Reuben tadi.

"Kenapa kamu minta aku masuk?" tanya Reuben. Suaranya rendah dan tegang. "Polisi sudah di luar."

"Karena kalau kamu keluar dengan wajah seperti itu, semua orang akan tahu kamu panik."

Reuben menoleh cepat. "Jessica."

"Dengarkan aku." Jessica mengangkat wajah. "Kamu tidak punya banyak waktu."

Di luar, seorang petugas bertanya kepada penjaga rumah. Nama Alexander Sim terdengar samar, lalu nama Kirana. Setiap kali nama itu muncul, rahang Reuben bergerak seperti menahan sesuatu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Reuben bertanya. "Kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa."

Jessica menatap tetesan hujan yang mengalir di kaca. Lama sekali ia diam. Lalu ia tersenyum, kecil, hampir malas.

"Aku memang tahu."

Reuben membeku.

Jessica memutar cincin tipis di jarinya. Gerakannya pelan, terlalu tenang untuk malam ketika seorang kepala keluarga baru saja ditemukan tewas.

"Pak Alexander seharusnya tidak ikut campur," katanya. "Dia tahu terlalu banyak tentang rencana pemindahan saham itu. Dia juga tahu aku pernah bicara dengan orang kantor akuntan."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, kalau dia tetap hidup, semuanya akan hancur." Jessica menatap Reuben sekarang. "Termasuk kamu."

Wajah Reuben kehilangan warna. "Jangan bicara sembarangan."

"Aku tidak sedang sembarangan."

Suara hujan semakin deras, tetapi di dalam mobil, setiap kata Jessica terdengar terlalu jelas.

Reuben mencondongkan tubuh. "Jessica, katakan padaku kamu tidak melakukan apa yang kupikirkan."

Jessica tertawa pendek. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Reuben merinding.

"Kamu selalu seperti ini. Ingin menang, tapi takut melihat darah. Ingin keluar dari bayang-bayang keluarga besar Sim, tapi tidak berani mengambil satu langkah kotor pun."

"Kamu membunuh Pak Alexander?"

Pertanyaan itu keluar seperti napas yang patah.

Jessica tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka tas kecilnya, mengambil sepasang sarung tangan tipis yang sudah dibungkus tisu. Pada bagian ujungnya ada noda gelap, tertutup setengah oleh kain.

Reuben mundur sampai punggungnya menabrak sandaran kursi.

"Kamu gila."

"Tidak." Jessica memasukkan kembali bungkusan itu. "Aku hanya lebih cepat daripada mereka."

"Dia keluarga kita."

"Keluargamu," ralat Jessica. "Bukan keluargaku."

Reuben menatapnya seolah baru pertama kali mengenal perempuan itu. Perempuan yang beberapa bulan terakhir menempel di lingkarannya, mendengar keluhannya tentang Kirana, tentang tekanan keluarga, tentang dirinya yang selalu dianggap cabang kecil tanpa pengaruh.

Perempuan yang selalu tahu kapan harus terlihat rapuh.

Dan malam ini, ia duduk di depannya dengan mata dingin.

"Kenapa Kirana?" tanya Reuben.

Kali ini senyum Jessica hilang.

"Karena dia selalu punya semua yang seharusnya menjadi milikku."

"Apa?"

"Dia punya nama baik. Punya kamu. Punya kesempatan masuk ke keluarga Sim lewat pernikahan. Semua orang melihatnya seperti perempuan bersih yang harus dilindungi." Jessica mendekat setengah badan. "Padahal dia bukan siapa-siapa. Anak angkat keluarga Li yang hampir bangkrut. Apa hebatnya dia?"

Reuben menelan ludah. "Jadi kamu menjebaknya?"

"Aku hanya memakai kesempatan."

"Kamu memukulnya?"

"Cukup untuk membuatnya pingsan." Jessica mengatakannya seperti membahas noda lipstik. "Pesan dari ponselnya sudah kuhapus. Ponselnya kulempar ke saluran air dekat gudang. Batu yang kupakai ada sidik jarinya karena tangannya kutekan ke sana saat dia tidak sadar."

Reuben memejamkan mata. Napasnya berat.

"Polisi akan memeriksa."

"Mereka akan menemukan perempuan dengan gaun pengantin berlumur darah, lari dari lokasi kejadian, berteriak tidak bersalah." Jessica memiringkan kepala. "Kira-kira siapa yang akan mereka percaya?"

Di luar, suara Kirana terdengar lebih keras.

"Aku tidak melakukannya! Tanya Jessica, dia tahu!"

Reuben membuka mata.

Kata-kata itu menembus kaca mobil seperti tangan yang menarik dadanya. Ia melihat Kirana berdiri di bawah payung polisi yang miring, bahunya menggigil, rambutnya menempel di pipi. Gaun pengantinnya sudah kotor oleh lumpur di bagian bawah. Salah satu petugas memegang lengannya, tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa mendekat ke rumah.

Kirana menoleh ke arah mobil.

Mata mereka bertemu.

Reuben hampir membuka pintu.

Jessica menangkap pergelangan tangannya.

"Kalau kamu keluar dan membelanya, kamu ikut tenggelam."

"Dia tidak bersalah."

"Dan siapa yang akan percaya kamu kalau kamu tiba-tiba bilang begitu?" Jessica bertanya pelan. "Kamu tadi berdiri di depan semua orang. Kamu melihat darah di bajunya. Kamu mendengar dia menyebut namaku. Kalau sekarang kamu membelanya, polisi akan bertanya kenapa. Keluargamu akan bertanya kenapa. Mereka akan menggali hubungan kita, Reuben."

Wajah Reuben menegang.

Jessica melihat celah itu. Ia menekan lebih dalam.

"Mereka akan tahu kamu sudah lama dekat denganku sebelum pernikahanmu. Mereka akan tahu calon pengantin yang katanya setia itu sebenarnya sudah ragu sejak awal. Kamu pikir keluarga Sim akan membiarkan skandal seperti itu?"

"Diam."

"Kirana masuk penjara atau kamu hancur bersamanya. Pilih."

Reuben menarik tangannya, tetapi tidak membuka pintu.

Di luar, seorang petugas mulai membacakan sesuatu kepada Kirana. Kirana menggeleng berkali-kali. Bibirnya bergerak cepat, memohon, menjelaskan, menyebut nama Reuben lagi.

Reuben menunduk.

"Dia pernah menolongku," katanya tiba-tiba.

Jessica menatapnya tanpa berkedip.

"Saat semua orang di keluarga bilang aku cuma anak cabang yang tidak berguna, dia yang bilang aku bisa membuktikan diri." Reuben menekan kedua tangan ke wajahnya. "Malam ini seharusnya aku menikah dengannya."

"Dan setelah menikah?" Jessica bertanya. "Kamu akan tetap menjadi laki-laki yang diselamatkan oleh perempuan yang lebih bersih darimu. Selamanya kamu akan merasa berutang. Selamanya dia akan menjadi saksi bahwa kamu pernah lemah."

Reuben menurunkan tangan. "Berhenti memutar semuanya."

"Aku hanya mengatakan apa yang selama ini kamu takut katakan." Suara Jessica menjadi sangat pelan. "Kamu tidak benar-benar ingin menikah dengan perempuan yang membuatmu merasa kecil."

Reuben menatapnya tajam, tetapi kali ini ia tidak membantah secepat tadi.

Di luar, Kirana masih menunggu.

Tunggu itu yang paling menyiksa, karena ia percaya Reuben akan keluar membawa kebenaran.

"Aku tidak bisa," katanya nyaris tanpa suara.

Jessica menghela napas seperti orang yang akhirnya mendengar jawaban benar.

"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Itu bagian paling mudah."

"Kau mau aku diam saat dia dibawa?"

"Ya."

"Kirana akan hancur."

"Dia sudah hancur sejak berlari ke sini dengan gaun itu."

Reuben menatap Jessica dengan marah, tetapi kemarahannya tidak punya tempat untuk berdiri. Di luar mobil, garis hidup Kirana sedang diputus satu per satu. Di dalam mobil, Jessica menggenggam rahasia yang bisa menyeretnya juga.

"Kamu monster," bisik Reuben.

Jessica mendekat, suaranya turun menjadi lembut.

"Mungkin. Tapi aku monster yang berdiri di pihakmu."

Reuben tertawa hampa. "Pihakku?"

"Kamu ingin hidup, kan?" Jessica menatapnya tanpa berkedip. "Kamu ingin tetap punya tempat di keluarga Sim. Kamu ingin pernikahan itu batal tanpa kamu terlihat sebagai pengkhianat. Malam ini memberimu semuanya."

Kata-kata itu terlalu kejam.

Dan terlalu tepat.

Reuben memukul sandaran kursi di depannya. Suaranya tumpul, tertelan kabin mobil.

"Aku tidak pernah ingin dia masuk penjara."

"Kalau begitu berdoalah hukumannya ringan."

Reuben menoleh tajam.

Jessica kembali memasang wajah pucat. Di luar, salah satu petugas berjalan menuju mobil mereka. Dalam sekejap, matanya basah, bahunya gemetar, bibirnya menggigil seperti perempuan yang baru saja menyaksikan tragedi.

"Reuben," bisiknya, "buka pintu. Dan ingat, kamu tidak tahu apa-apa."

Petugas mengetuk kaca.

Reuben memandang Jessica untuk terakhir kalinya sebelum membuka pintu. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu mati di tenggorokannya.

Hujan langsung menyambut mereka.

Kirana berdiri beberapa meter dari mobil, kedua tangannya sudah ditahan di depan tubuh. Bukan diborgol, belum. Tetapi posisi itu cukup membuatnya terlihat seperti tersangka.

"Reuben!" Ia memanggil dengan suara parau. "Tolong bilang pada mereka. Aku datang kepadamu. Aku tidak kabur."

Reuben melangkah keluar.

Jessica berdiri di belakangnya, menunduk, memeluk tubuh sendiri.

Petugas bertanya, "Bapak mengenal perempuan ini?"

Reuben membuka mulut.

Kirana menatapnya dengan harapan yang tersisa sangat tipis.

Reuben melihat gaun pengantin itu. Melihat cincin di jari Kirana. Melihat darah yang seharusnya membuatnya mencari kebenaran, bukan menyelamatkan diri.

Lalu ia berkata, "Saya mengenalnya."

Kirana menarik napas lega.

Tetapi kalimat berikutnya menghancurkan napas itu.

"Tapi saya tidak tahu apa yang dia lakukan sebelum datang ke sini."

Mata Kirana kosong.

Jessica menunduk lebih dalam agar tidak ada yang melihat senyumnya.

Petugas membawa Kirana menuju mobil polisi. Ia tidak berteriak lagi. Setelah Reuben bicara, semua pembelaan seperti kehilangan kaki. Ia hanya menoleh sekali, menatap rumah keluarga Sim yang terang, menatap pria yang seharusnya menjadi suaminya, lalu menatap Jessica.

Saat pintu mobil polisi dibuka, Jessica mengangkat tangan sedikit.

Dua jarinya membentuk tanda kemenangan yang santai, seolah ia baru memenangkan permainan kecil.

Kirana melihatnya.

Reuben juga melihatnya.

Namun tidak satu pun dari mereka bergerak ketika pintu mobil polisi tertutup di depan wajah Kirana.

Episode 3

Bab 3: Vonis Tiga Tahun

Lampu ruang pemeriksaan terlalu putih.

Kirana duduk di kursi besi dengan selimut tipis menutupi bahunya. Gaun pengantin yang basah sudah diganti dengan pakaian tahanan sementara, tetapi rasa dingin dari malam hujan itu masih tertinggal di kulitnya. Di seberang meja, seorang penyidik perempuan membuka map berisi foto tempat kejadian.

"Kirana Li," ucap petugas itu, "kami akan mengulangi pertanyaan. Apa hubungan Anda dengan korban, Alexander Sim?"

Kirana menelan ludah. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis dan menjelaskan.

"Dia kerabat keluarga tunangan saya."

"Reuben Sim?"

"Iya."

Petugas mencatat. "Kenapa Anda berada di gudang belakang rumah Boyantara malam itu?"

"Ada pesan dari Jessica." Kirana langsung menegakkan punggung. "Jessica Lim. Dia bilang Reuben menunggu saya di sana."

"Ponsel Anda belum ditemukan."

"Karena diambil." Tangan Kirana mengepal di bawah selimut. "Saya yakin diambil."

Petugas perempuan itu tidak mengejek. Ia hanya menatap Kirana dengan ekspresi datar yang lebih menyakitkan daripada ejekan.

"Saksi di rumah mengatakan Anda datang dari arah gudang dengan pakaian berlumur darah. Sidik jari Anda ditemukan pada batu yang diduga digunakan untuk memukul korban."

"Saya tidak menyentuh batu itu saat sadar."

"Tetapi sidik jari Anda ada di sana."

"Karena seseorang menekankan tangan saya saat saya pingsan." Napas Kirana mulai cepat. "Tolong cari Jessica. Tanya dia. Periksa kamera. Periksa ponsel saya."

Petugas membalik halaman. "Kamera di dekat gudang rusak sejak sore. Menurut teknisi rumah, listrik area belakang sempat padam."

Kirana merasa lantai bergerak di bawah kakinya.

Semuanya terlalu rapi.

Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

"Saya dijebak," katanya. Kali ini suaranya pelan. "Saya benar-benar dijebak."

Di sudut ruangan, pengacara bantuan hukum yang baru ditemuinya pagi itu hanya menghela napas. Pria itu tidak tua, tetapi wajahnya sudah lelah sebelum bekerja. Ia membuka berkas dengan gerakan lambat.

"Nona Kirana," katanya, "untuk saat ini, yang paling penting adalah kooperatif. Kalau Anda terus menyebut nama orang tanpa bukti, posisi Anda makin sulit."

Kirana menatapnya. "Jadi saya harus diam?"

"Saya tidak bilang begitu."

"Tapi Bapak tidak percaya saya."

Pengacara itu tidak menjawab.

Diamnya cukup.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti lorong tanpa ujung. Kirana mengulang cerita yang sama kepada penyidik berbeda. Ia menggambar ulang posisi gudang. Ia menyebut nama Jessica sampai lidahnya terasa kering. Ia meminta rekaman kamera. Ia meminta ponselnya dicari lagi.

Setiap permintaan kembali kepadanya dalam bentuk kalimat pendek.

Tidak ditemukan.

Tidak cukup bukti.

Saksi tidak mendukung.

Sementara itu, berita mulai bergerak lebih cepat daripada kebenaran.

Foto dirinya dengan gaun pengantin basah muncul di beberapa akun gosip. Judul-judulnya tajam. Calon pengantin membunuh keluarga konglomerat. Skandal berdarah di rumah Boyantara. Nama Kirana Li berubah menjadi bahan bisik-bisik yang dikunyah orang di warung kopi, grup WhatsApp keluarga, dan kolom komentar yang tidak pernah ia baca tetapi tetap melukainya.

Kabar itu sampai kepada Herman Li.

Ayah angkatnya, yang selama ini tidak banyak bicara tetapi pernah menjadi satu-satunya nama keluarga yang membuat Kirana merasa punya rumah, jatuh sakit setelah menonton berita. Serangan jantung, kata tetangga yang datang menjenguk ke kantor polisi. Rumah mereka yang kecil mendadak penuh tagihan dan orang-orang yang datang bukan untuk menolong, melainkan memastikan mereka tidak ikut terseret malu.

Sylvia Leng tidak datang membawa pakaian bersih.

Ia datang membawa wajah marah.

"Kamu benar-benar membawa sial ke keluarga ini," katanya dari balik ruang kunjungan. "Papa kamu masuk rumah sakit. Jonathan tidak bisa keluar rumah karena orang-orang membicarakan kita."

Kirana menggenggam gagang kursi. "Ibu, aku tidak melakukannya."

"Jangan panggil aku Ibu kalau ujungnya hanya minta dipercaya tanpa bukti."

Kalimat itu membuat Kirana diam.

Setelah Sylvia pergi, Kirana duduk lama di ruang tahanan sementara. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang berputar sampai membuatnya mual.

Jika semua orang memilih tidak percaya, apakah kebenaran masih punya tempat untuk berdiri?

Bulan berganti dengan cepat di luar jendela jeruji, tetapi di dalam proses hukum, waktu terasa seperti pisau tumpul yang terus digesekkan ke tulang.

Sidang pertama di Pengadilan Negeri berlangsung dengan ruangan penuh pengunjung. Keluarga Sim duduk di barisan depan. Jessica hadir dengan pakaian hitam sederhana, wajahnya pucat, matanya sembap. Ia memegang tisu seolah kesedihannya terlalu besar untuk ditanggung.

Reuben duduk dua kursi darinya.

Kirana masuk dengan langkah pelan. Saat matanya mencari Reuben, pria itu menoleh sebentar, lalu segera mengalihkan pandangan.

Jessica dipanggil sebagai saksi. Ia berdiri dengan suara yang sengaja dibuat rapuh, mengaku melihat Kirana keluar dari arah belakang rumah dengan mata kosong dan gaun bernoda darah. Ia menangis saat menyebut nama Alexander Sim, lalu meminta maaf karena "tidak cukup cepat menolong". Ruang sidang bergerak bersama air matanya. Kirana melihat orang-orang mengangguk, seolah air mata lebih kuat daripada fakta yang hilang.

Di depan hakim, jaksa membacakan dakwaan dengan suara mantap. Pembunuhan. Motif pertengkaran. Bukti darah. Sidik jari. Kesaksian bahwa Kirana terlihat panik keluar dari area belakang.

Pengacara bantuan hukumnya berdiri dan menyampaikan pembelaan. Singkat. Terlalu singkat. Ia menyebut kliennya tidak mengakui perbuatan, meminta majelis hakim mempertimbangkan usia muda dan kondisi psikologis terdakwa.

Kirana menoleh kepadanya.

Kondisi psikologis?

Ia bukan orang yang kehilangan kendali. Ia korban.

Namun ketika ia ingin berdiri, petugas di sampingnya memberi isyarat agar ia tetap duduk.

Sidang demi sidang berjalan seperti itu. Bukti yang seharusnya menyelamatkannya tidak pernah muncul. Ponselnya tidak ditemukan. Kamera rusak. Saksi keluarga Sim berbicara hati-hati, semuanya menjaga nama keluarga lebih daripada mencari siapa yang benar-benar mengayunkan batu malam itu.

Pada sidang terakhir, Kirana diminta berbicara.

Ia berdiri. Kakinya gemetar, tetapi suaranya tidak lagi menangis.

"Saya tidak membunuh Alexander Sim," katanya. "Saya dijebak. Mungkin hari ini tidak ada yang percaya saya. Tapi suatu hari, orang yang melakukan ini akan berdiri di tempat yang sama seperti saya."

Ruang sidang sunyi.

Jessica menunduk. Reuben menatap lantai.

Hakim mengetuk berkas, lalu membacakan putusan.

Tiga tahun penjara.

Kirana mendengar angka itu seperti mendengar pintu besi ditutup dari dalam kepalanya.

Di belakang ruang sidang, Reuben bangkit. Untuk sesaat, Kirana mengira ia akan menoleh, akan mengatakan sesuatu, akan memberi tanda bahwa setidaknya ada bagian kecil dari dirinya yang masih ragu.

Namun Reuben hanya berjalan keluar.

Punggungnya lurus, dingin, dan jauh.

Jessica mengikutinya beberapa langkah di belakang.

Kirana tidak menangis lagi. Matanya kering sampai terasa sakit. Ketika petugas menyentuh sikunya, ia berjalan tanpa melawan. Suara palu sidang tadi masih berulang di telinganya, bercampur dengan suara hujan dari malam pernikahan yang tidak pernah selesai.

Tiga tahun kemudian, pintu Lembaga Pemasyarakatan terbuka pelan.

Kirana berdiri di ambangnya dengan tas kain kecil di tangan, rambut lebih panjang, tubuh lebih kurus, dan mata yang tidak lagi mencari siapa pun untuk mempercayainya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!