Indonesia
NovelToon NovelToon

LENTERA

Karang Wetan

Kalau kau tumbuh di Karang Wetan, hal pertama yang kau pelajari bukan cara membaca atau berhitung. Hal pertama yang kau pelajari adalah cara mendengar—mendengar suara knalpot motor patroli dari kejauhan, mendengar teriakan ibu-ibu yang barang dagangannya digusur, mendengar diam yang datang setelah itu semua.

Namaku Rangga. Waktu itu umurku sepuluh tahun, dan dunia yang kutahu hanya sepanjang tiga gang: gang tempat rumah kami berdiri di atas bilik triplek, gang tempat aku dan teman-teman main bola pakai gulungan kertas koran, dan gang buntu di ujung bantaran kali yang jadi tempat sembunyi paling aman kalau ada razia.

Rumah kami tidak besar. Satu ruangan yang dibagi jadi tiga fungsi sekaligus—dapur, kamar, dan tempat Bapak menjahit sepatu orang. Bapak seorang tukang sol sepatu keliling. Ia bilang, "Sepatu orang boleh compang-camping, tapi kalau sudah lewat tangan Bapak, jalan orang itu bisa lanjut lagi." Aku suka kalimat itu, meskipun waktu itu aku belum paham betul maksudnya.

Ibu berjualan gorengan di depan gang, di atas gerobak kayu yang rodanya sudah dua kali diganti. Setiap pagi aku bangun karena bau minyak panas dan suara ibu menghitung recehan sisa jualan kemarin. Uang itu tidak pernah cukup untuk apa-apa selain hari itu juga. Tapi aku tidak pernah merasa kekurangan—karena aku tidak tahu ada yang namanya "cukup".

Yang aku tahu, ada batas antara kami dan mereka. "Mereka" adalah orang-orang yang datang naik mobil dengan kaca gelap, yang bicara pakai seragam dan map coklat, yang setiap kali muncul di ujung gang, semua orang dewasa langsung berubah wajahnya—jadi kecil, jadi hati-hati, jadi seperti orang yang sedang menunggu dipukul tapi tidak boleh mengaduh.

 

Aku ingat satu sore, waktu Bapak pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya lecet di sudut bibir, tapi ia bilang jatuh dari motor. Ibu tidak percaya, aku bisa lihat itu dari cara ia diam sambil terus mengaduk adonan, tapi ia juga tidak bertanya lagi. Di Karang Wetan, ada hal-hal yang lebih baik tidak ditanya, karena jawabannya cuma akan membuat malam itu lebih berat dari yang sudah ada.

Malam itu aku duduk di samping Bapak sambil ia membetulkan sol sepatu yang sobek. Tangannya cekatan meski gemetar sedikit.

"Bapak nggak apa-apa?" tanyaku.

Ia tersenyum, jenis senyum yang kupelajari kemudian sebagai senyum orang yang sedang menahan sesuatu supaya anaknya tidak ikut menanggung.

"Rangga," katanya, "orang kecil kayak kita ini, kalau mau selamat, harus pintar milih kapan diam dan kapan lari. Jangan pernah pilih lawan yang lebih besar dari kita—kalau nggak siap."

Aku mengangguk, meski waktu itu aku belum tahu bahwa nasihat itu justru yang akan kupatahkan bertahun-tahun kemudian.

 

Teman-temanku di gang sebagian besar sama sepertiku—anak-anak yang orang tuanya jadi buruh cuci, pemulung, tukang becak, pedagang asongan. Kami tidak punya banyak, tapi kami punya satu sama lain. Kalau ada razia dadakan, seseorang pasti berteriak duluan dari ujung gang, dan dalam hitungan detik semua gerobak sudah didorong masuk ke gang buntu, semua barang dagangan disembunyikan di balik terpal.

Itu yang paling kuingat dari masa kecilku: bukan ketakutan, tapi kecepatan orang-orang miskin saling memperingatkan. Seolah-olah itu satu-satunya kemewahan yang kami punya—saling jaga, karena tidak ada yang lain yang akan menjaga kami.

Aku tidak tahu, sore itu waktu aku pulang sekolah lewat jalan pintas dekat pasar, bahwa dalam hitungan bulan semua yang kuanggap "normal" akan berubah selamanya. Bahwa kejadian yang menimpaku nanti bukan hanya akan melukai tubuhku, tapi akan menunjukkan padaku sesuatu yang jauh lebih menyakitkan—bahwa hukum yang katanya melindungi semua orang, ternyata punya pintu belakang untuk orang-orang tertentu.

Dan orang-orang seperti kami, tidak pernah diundang lewat pintu itu.

 

*(Bersambung ke Bab 2)*

Yang Tidak Bisa Diadukan

Lima tahun berlalu sejak malam Bapak pulang dengan luka di sudut bibir. Aku sudah lima belas tahun, lebih tinggi dari Ibu, dan mulai ikut membantu Bapak menjahit sepatu di sore hari sepulang sekolah. Karang Wetan tidak banyak berubah—gang masih sesak, kali masih coklat, hanya saja sekarang aku mulai mengerti bahasa yang dulu tidak kupahami: bahasa orang dewasa yang saling berbisik soal "setoran", soal "yang punya wilayah", soal nama-nama yang tidak boleh disebut keras-keras.

Salah satu nama itu adalah Broto.

Broto bukan orang penting kalau dilihat sepintas—badannya gempal, kulitnya penuh tato kasar, dan ia selalu datang naik motor bebek yang knalpotnya sudah dicopot biar berisik. Tapi semua orang di pasar tahu, Broto punya "backingan". Setiap awal bulan, ia berkeliling dari lapak ke lapak, memungut apa yang disebutnya "uang keamanan". Yang tidak bayar, dagangannya bisa "kebakar sendiri" atau "kecolongan sendiri". Semua orang tahu itu bukan kebetulan. Semua orang juga tahu, tidak ada gunanya lapor.

"Kenapa nggak dilaporin, Pak?" tanyaku suatu sore, waktu melihat Bapak menyisihkan sebagian uang hasil jahit sepatu ke amplop kecil yang akan diberikan ke Broto minggu itu.

Bapak menatapku lama, seperti menimbang apakah aku sudah cukup umur untuk mendengar jawabannya.

"Rangga," katanya pelan, "orang macam Broto itu, kalau ditarik benangnya, ujungnya sampai ke kantor polisi. Bapak pernah coba lapor, dulu, waktu kamu masih kecil. Tahu apa hasilnya? Bapak yang ditanya-tanya macam-macam, disuruh buktiin, sementara Broto malah dikasih tahu siapa yang lapor."

Aku ingat luka di bibir Bapak lima tahun lalu. Baru sekarang aku tahu asalnya.

 

Yang membuat semuanya berubah terjadi dua minggu kemudian.

Ibu telat menyetor uang keamanan bulan itu—bukan karena menolak, tapi karena dagangan sepi dan uangnya memang belum terkumpul. Broto datang lebih awal dari biasanya, dan kali ini tidak sendiri. Aku baru pulang sekolah waktu mendengar suara gerobak Ibu dibalik di tengah gang, minyak panas tumpah, dan teriakan yang langsung membuat isi perutku terasa dingin.

Aku berlari. Aku ingat suara Bapak yang mencoba melerai, suara Broto yang membentak, dan aku ingat—ini bagian yang paling sering kuputar ulang di kepalaku sampai sekarang—aku ingat diriku sendiri melompat di antara mereka, mencoba menahan tangan Broto yang terangkat, dan rasa sakit yang datang setelahnya bukan cuma di tubuhku.

Aku terkapar cukup lama untuk membuat tetangga berkerumun. Ada yang merekam pakai ponsel. Ada yang berteriak memanggil polisi. Aku ingat, di tengah kepala yang berdenging, aku merasa aneh—lega. *Ada bukti. Ada saksi. Kali ini pasti beda.*

Aku salah.

 

Polisi yang datang mencatat semuanya dengan tenang, terlalu tenang. Nama, kronologi, keterangan saksi. Rekaman video dari ponsel tetangga bahkan sempat diminta untuk "barang bukti". Aku dan Bapak diperiksa di kantor, ditanya berulang-ulang dengan cara yang membuatku merasa seperti aku yang bersalah.

Broto dipanggil juga. Tapi ia datang dengan tenang, duduk di ruang lain, dan keluar tidak sampai satu jam kemudian sambil menyalakan rokok di depan kantor polisi—di depan kami yang masih menunggu giliran diperiksa.

Dua minggu setelah itu, surat dari kejaksaan datang. Bahasanya berbelit, tapi intinya satu: perkara dihentikan. Alasan resminya "kurang bukti". Rekaman video yang jadi harapan kami, entah bagaimana, "tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya".

Aku masih ingat nama yang menandatangani surat itu, meski waktu itu aku belum tahu wajahnya: **Komisaris Yusuf Baskoro.**

 

Malam setelah surat itu sampai, aku duduk di depan rumah, menatap gang yang sama tempat aku besar. Bapak keluar, duduk di sampingku, tidak bicara apa-apa untuk waktu yang lama.

"Bapak dulu bilang," kataku akhirnya, "pilih kapan diam, kapan lari. Tapi nggak ada yang bilang, gimana kalau kita nggak boleh milih dua-duanya. Gimana kalau mereka yang milihin buat kita?"

Bapak tidak menjawab. Mungkin karena tidak ada jawaban yang bisa ia berikan tanpa berbohong.

Malam itu juga, untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya di Karang Wetan—bukan takut, bukan sedih. Sesuatu yang lebih dingin dan lebih tenang dari itu.

Aku mulai berpikir: kalau hukum yang katanya melindungi semua orang ternyata punya pintu belakang untuk orang seperti Broto, mungkin orang-orang seperti kami butuh pintu kami sendiri. Bukan pintu yang menunggu diketuk. Pintu yang kami bangun sendiri, dijaga sendiri, dengan cara kami sendiri.

Aku belum tahu bagaimana caranya. Aku baru lima belas tahun, tidak punya apa-apa selain kemarahan dan tangan yang masih gemetar sisa kejadian sore itu.

Tapi malam itu, sesuatu di dalam diriku sudah menyala—kecil, redup, tapi tidak bisa lagi dipadamkan.

Itulah lentera pertama.

 

*(Bersambung ke Bab 3)*

Yang Pertama Bergabung

Setelah kejadian itu, aku berhenti jadi anak yang sama.

Bukan dalam artian dramatis seperti di sinetron—aku masih bangun pagi, masih bantu Bapak jahit sepatu, masih pura-pura dengar waktu guru di sekolah menjelaskan pelajaran yang rasanya tidak ada gunanya. Tapi ada sesuatu yang berubah caranya aku melihat gang-gang di Karang Wetan. Dulu aku melihatnya sebagai rumah. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai peta—siapa dikuasai siapa, jalur mana yang dilewati Broto tiap malam, jam berapa polisi patroli lewat dan jam berapa mereka "tidak ada di tempat".

Aku juga mulai memperhatikan orang-orang yang selama ini cuma jadi latar di gang-gang itu.

Ada Ujang, anak jalanan seumuran denganku, yang tidur berpindah-pindah sejak orang tuanya kena gusur dan berpisah entah ke mana. Ujang punya satu bakat aneh: ia bisa masuk-keluar dari tempat mana saja tanpa terlihat, dan tahu setiap sudut gang lebih baik daripada orang yang lahir di situ.

Ada juga Yanto, umurnya sekitar dua puluh lima, mantan buruh pabrik tekstil yang dipecat sepihak karena ikut-ikutan protes soal gaji yang telat tiga bulan. Ia besar, pendiam, dan punya cara bicara yang membuat orang percaya tanpa perlu berteriak.

Aku tidak mendekati mereka dengan rencana besar. Awalnya sederhana saja—aku mulai membagi info. Kalau aku dengar Broto akan lewat gang tertentu malam itu, aku kasih tahu Ujang, dan Ujang menyebarkannya lebih cepat dari radio manapun. Kalau ada preman kecil yang coba memalak pedagang baru, aku dan Yanto akan "kebetulan" berdiri di situ, tanpa bicara apa-apa, cukup berdiri, sampai preman itu berpikir dua kali.

Kami belum punya nama. Belum punya aturan. Tapi tanpa disadari, kami sudah mulai jadi sesuatu.

---

Titik yang membuat semua ini terasa nyata terjadi waktu seorang ibu bernama Bu Marni datang ke rumah kami larut malam, menangis, karena anak gadisnya, Nurul, diganggu oleh salah satu orang suruhan Broto yang mabuk di dekat kios. Bu Marni sudah lapor ke RT, ke kelurahan, bahkan sempat ke kantor polisi—dan seperti biasa, semua jawaban yang ia dapat adalah janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Malam itu aku tidak berpikir panjang. Aku kumpulkan Ujang dan Yanto, dan untuk pertama kalinya aku bicara bukan sebagai anak yang minta tolong, tapi sebagai orang yang mengajak.

"Kita nggak bisa nunggu mereka yang harusnya lindungi kita, beneran lindungi kita," kataku. "Jadi mulai sekarang, kita lindungi diri kita sendiri. Kita jaga gang ini. Kita jaga orang-orang di sini. Kalau ada yang macam-macam, kita nggak akan diam kayak dulu."

Yanto mengangguk pelan. Ujang, seperti biasa, cuma menyeringai—tapi kali ini seringainya beda. Ada sesuatu yang menyala di matanya, sesuatu yang kukenali karena aku merasakannya juga.

Malam itu, kami bertiga mendatangi orang suruhan Broto itu bukan dengan kekerasan besar-besaran seperti yang mungkin dibayangkan orang—cukup dengan jumlah, dengan sikap tidak gentar, dan dengan satu pesan yang jelas: Karang Wetan bagian ini, mulai sekarang, ada yang jaga.

Ia pergi malam itu juga dan tidak pernah kembali ke kios Bu Marni.

---

Kabar soal kejadian itu menyebar cepat, seperti biasanya kabar menyebar di gang-gang sempit. Sebagian orang bilang kami nekat, cari mati, bakal kena masalah lebih besar. Tapi sebagian lain—orang-orang yang selama ini cuma bisa diam sambil menahan amarah—mulai mendekat, menawarkan bantuan kecil-kecilan. Ada yang mau jadi mata-telinga. Ada yang menawarkan tempat sembunyi kalau dibutuhkan. Ada yang cuma bilang, "Kalau butuh apa-apa, bilang aja."

Malam itu, waktu aku duduk di gang buntu dekat bantaran kali—tempat sembunyi favoritku sejak kecil—aku sadar sesuatu. Ini bukan cuma soal balas dendam ke Broto atau ke Komisaris Baskoro. ini soal sesuatu yang lebih besar: orang-orang kecil di Karang Wetan tidak butuh pahlawan tunggal. Mereka butuh cahaya yang bisa mereka pegang sendiri-sendiri, yang bisa mereka bagi ke tetangga, yang tidak akan padam cuma karena satu orang jatuh.

Malam itu juga aku mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya, ke Ujang dan Yanto, setengah bercanda, setengah serius.

"Kita namain aja... Lentera."

Ujang tertawa kecil. "Kayak nama warung."

"Nama warung yang nggak akan mereka lupa," jawabku.

Yanto tidak bicara apa-apa. Ia cuma mengangguk sekali, pelan, seperti seseorang yang baru saja menandatangani sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata.

---

*(Bersambung ke Bab 4)*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!