Bab 1: Satu Pil Memulai Segalanya
Momo terbangun dengan satu pertanyaan yang langsung membuat darahnya terasa dingin.
Di mana kaus lusuhnya?
Kain yang menempel di tubuhnya bukan katun tipis yang biasa ia pakai tidur di kamar sempit belakang toko kelontong Ama. Ini sutra. Putih. Terlalu halus sampai kulitnya merinding setiap kali napasnya bergerak. Tali tipisnya menggantung di bahu, dingin seperti jari orang asing.
Momo menahan napas.
Langit-langit di atasnya tinggi, dihiasi ukiran emas yang berputar seperti sulur tanaman. Lampu kristal menggantung di tengah kamar, tidak menyala, tetapi cukup besar untuk membuatnya merasa sedang berbaring di bawah sesuatu yang mahal dan berat. Seprai yang menyentuh punggungnya juga putih. Bantalnya wangi, bukan wangi sabun murah yang biasa Ama beli di pasar, melainkan aroma lembut yang bersih, dingin, dan asing.
Ia mencoba bangun.
Dunia langsung miring.
"Aduh..."
Telapak tangannya menekan sisi kasur. Kepalanya berdenyut, seperti ada jarum kecil yang mengetuk dari dalam tengkoraknya. Perutnya kosong. Mulutnya pahit. Ketika ia mengangkat lengan kiri, ia melihat titik merah kecil di dekat lipatan siku.
Bekas suntikan.
Napas Momo tersangkut.
Ingatan datang tidak utuh. Bukan seperti film yang diputar rapi, melainkan pecahan kaca yang dilempar ke wajahnya.
Sebuah gang sempit di Pecinan Semarang.
Lampu toko obat yang berkedip.
Suara Ama, jauh dan pecah, memanggil, "Momo, jangan pulang terlalu malam, Cucu."
Lalu telapak tangan seseorang menutup mulutnya.
Satu pil putih kecil jatuh dari sela jarinya, menggelinding di lantai basah, berhenti di dekat sol sepatu hitam yang tidak ia kenal.
Setelah itu, gelap.
Momo memejamkan mata kuat-kuat. Ia mencoba menarik napas panjang, tetapi dadanya seperti diikat. Jika ini mimpi buruk, ia harus bangun. Jika ini rumah sakit, pasti ada suara perawat, bau antiseptik, bunyi roda ranjang. Jika ini rumah orang, pasti ada suara motor lewat, pedagang sayur, tetangga yang memanggil dari depan pagar.
Namun yang ia dengar hanya ombak.
Ombak.
Ia membuka mata.
Di seberang kamar, tirai putih setinggi dinding bergerak pelan ditiup angin. Di balik tirai itu, cahaya subuh masuk samar, membawa bau garam. Momo turun dari ranjang dengan lutut gemetar. Lantai marmer terasa dingin menusuk telapak kakinya. Ia hampir jatuh ketika ujung gaun tidur itu terseret di bawah tumit.
Gaun tidur.
Ada yang mengganti bajunya.
Pikiran itu membuat perutnya mual.
Lebih buruk lagi, kain itu seolah dipilih untuk membuatnya sadar pada tubuhnya sendiri. Setiap gerak membuat sutra menggesek kulit paha, pinggang, dan lekuk bahunya dengan kelembutan yang memalukan. Momo menarik napas pendek. Rasa takutnya tidak lagi hanya tentang diculik. Ada rasa lain yang lebih pribadi: seseorang telah melihatnya cukup dekat untuk menentukan kain apa yang akan menyentuh tubuhnya.
Ia membenci pikiran itu.
Momo mencengkeram kain di dadanya, menariknya rapat-rapat seolah itu bisa mengembalikan kaus lamanya, celana training pudar, dan rasa aman yang hilang entah di mana. Ia menoleh cepat, mencari tas, ponsel, dompet, apa pun miliknya. Tidak ada. Meja rias terlalu rapi. Sofa beludru kosong. Lemari tertutup rapat. Kamar ini seperti kamar hotel bintang lima yang disiapkan untuk pengantin kaya, bukan untuk gadis yang tadi malam masih menghitung uang receh untuk membeli obat batuk Ama.
Matanya jatuh ke pergelangan tangan kanan.
Di sana ada gelang.
Momo membeku.
Gelang itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rantainya tipis, berwarna perak pucat, dengan hiasan sakura kecil dari batu merah muda bening. Cantik, terlalu cantik untuk berada di tangannya. Tetapi yang membuat tengkuknya meremang bukan keindahannya.
Gelang itu hanya setengah.
Ujungnya seperti sengaja dipatahkan. Bukan patah kasar, melainkan terpotong rapi, meninggalkan ruang kosong seolah seharusnya ada bagian lain yang menyambungnya. Momo menariknya. Tidak lepas. Ia memutar kaitnya. Tidak bergerak. Ia memasukkan kuku ke sela logamnya sampai kulitnya perih.
Tetap terkunci.
"Apa ini?" bisiknya.
Tidak ada yang menjawab.
Di balik sakura kecil itu, ada garis halus yang hampir tidak terlihat. Momo mendekatkan pergelangan tangannya ke cahaya. Ada titik kecil di dalam logam, seperti mata. Bukan perhiasan biasa. Sesuatu di kepalanya berbisik, ini alat. Ini tanda. Ini mungkin penjara yang dipasang di tubuhnya.
Ia mundur satu langkah.
Ombak kembali terdengar, lebih jelas.
Momo berlari ke jendela.
Tirai tersibak. Cahaya pagi menyambar matanya. Di luar, laut terbentang luas, biru tua di ujung dan perak di dekat pantai. Indah sekali sampai terasa tidak nyata. Tebing batu menjulang di salah satu sisi. Pohon-pohon palem bergerak pelan. Jauh di bawah, ombak memecah di pasir putih yang terlalu bersih, terlalu sepi.
Tidak ada jalan raya.
Tidak ada angkot.
Tidak ada atap rumah berdempetan seperti di Pecinan.
Hanya laut di semua arah yang bisa ia lihat.
Momo menempelkan kedua telapak tangan ke kaca. Kacanya tebal. Tidak dingin seperti kaca biasa, tetapi berat, seolah dibuat untuk menahan peluru. Ia mencari gagang pembuka. Ada, tetapi ketika ia menariknya, jendela tidak bergerak sedikit pun. Ia menarik lagi, lebih keras. Bahunya sakit. Kaca tetap diam.
"Tidak. Tidak, tidak, tidak..."
Ia berlari ke pintu.
Pintu kamar itu tinggi, dari kayu gelap dengan gagang kuningan. Momo menariknya. Terkunci. Ia memutar gagang ke kanan, ke kiri, mengguncangnya sampai bunyi logam memantul di kamar besar itu.
"Buka!" suaranya pecah. "Hei! Ada orang di luar? Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
Momo menendang pintu. Sekali. Dua kali. Rasa sakit menjalar dari jari kaki sampai lutut, tetapi pintu tidak berubah. Ia memukulnya dengan kedua tangan sampai telapak tangannya panas.
"Tolong! Siapa pun! Tolong!"
Yang menjawab hanya ombak.
Kamar itu terlalu besar untuk satu orang, tetapi tiba-tiba terasa sempit. Udara berbau bunga samar dan garam. Semuanya putih, emas, bersih, mewah. Tidak ada debu. Tidak ada noda. Tidak ada bukti bahwa dunia luar pernah menyentuh tempat ini.
Momo menekan punggung ke pintu, lalu perlahan turun ke lantai.
Ama.
Pikiran tentang Ama menusuk lebih tajam daripada sakit kepala. Ama pasti menunggu di rumah. Toko kelontong akan dibuka sendiri, dengan batuk yang makin sering dan napas yang makin pendek. Jika Momo tidak pulang, Ama akan menelepon. Jika ponselnya mati, Ama akan mencari ke tetangga, ke Chien, ke semua tempat yang biasa Momo datangi.
Tetapi bagaimana jika tidak ada yang tahu ia dibawa ke sini?
Bagaimana jika orang yang membawanya memang sudah memastikan tidak ada jejak?
Momo menutup mulutnya dengan tangan. Jangan menangis. Jangan sekarang. Menangis tidak membuka pintu. Menangis tidak memecahkan kaca. Menangis tidak membawa Ama ke tempat aman.
Ia harus berpikir.
Ia bangkit lagi, kali ini lebih pelan.
Kamar itu harus punya kelemahan. Semua tempat punya kelemahan. Ama selalu berkata, kunci yang dibuat manusia pasti punya cara untuk dibuka manusia juga. Dulu waktu pintu toko macet, Ama mengajarinya membuka kait dari celah kayu dengan jepit rambut. Momo tidak punya jepit rambut sekarang, tetapi mungkin ada benda tajam.
Ia memeriksa meja rias. Laci pertama berisi sisir gading, pita rambut, dan beberapa botol kecil parfum. Laci kedua kosong. Laci ketiga terkunci. Ia mengambil sisir, mematahkan salah satu giginya dengan paksa. Ujungnya tidak terlalu tajam, tetapi cukup untuk mencoba.
Sebelum ia kembali ke pintu, matanya menangkap sesuatu di meja kecil dekat jendela.
Sebuah kartu.
Kartu itu diletakkan di atas nampan perak, ditahan oleh gelas kristal berisi air. Kertasnya tebal, berwarna krem, dengan tulisan tangan hitam yang rapi dan tajam.
Selamat datang di Pulau Raja.
Kamu milikku.
Momo membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Setiap huruf terasa seperti jari yang menyentuh tenggorokannya.
Pulau Raja.
Milikku.
Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan, fakta bahwa tempat ini punya nama, atau fakta bahwa seseorang menuliskan kata itu seolah ia sedang menyambut barang kiriman.
"Aku bukan milik siapa pun," bisiknya.
Suaranya kecil, tetapi kemarahan membuatnya tidak pecah.
Ia meremas kartu itu sampai sudutnya melengkung. Kemudian ia sadar, jangan rusak bukti. Ia membuka kembali kertas itu, membaca tulisan tangan tersebut, menghafal bentuk hurufnya. Orang ini percaya diri. Tidak menyembunyikan tempat. Tidak takut ia tahu nama pulau. Berarti pulau ini sulit ditemukan, atau orang itu terlalu berkuasa untuk takut.
Momo menoleh ke laut.
Pulau pribadi.
Kamar mahal.
Gelang terkunci.
Seseorang yang bisa membuatnya hilang dari Pecinan Semarang tanpa jejak.
Kakinya tiba-tiba lemas, tetapi ia menggigit bagian dalam pipi sampai rasa asin darah muncul. Rasa sakit membantu. Rasa sakit membuat semuanya nyata.
Ia menarik napas, lalu mulai memeriksa kamar lebih sistematis.
Pintu utama terkunci dari luar. Jendela tidak bisa dibuka. Balkon tidak ada. Ventilasi terlalu kecil. Kamar mandi luas, dindingnya marmer, tidak ada jendela, hanya cermin besar yang memantulkan wajahnya yang pucat. Di bawah wastafel ada handuk, sabun, dan kotak P3K kecil. Momo membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Kapas, plester, antiseptik, gunting kecil.
Gunting.
Jantungnya melonjak.
Ia mengambilnya dan langsung mencoba memotong gelang. Ujung gunting mengenai logam tipis itu, tetapi bukannya tergores, bilah guntingnya justru terpental. Ia mencoba lagi, lebih keras. Tidak berhasil. Ia menusukkan ujung gunting ke sela kunci, memutar sampai pergelangan tangannya merah.
Tidak terbuka.
"Sial," napasnya tersengal.
Ia tidak biasa mengumpat. Ama tidak suka. Tetapi kali ini kata itu keluar sendiri.
Momo duduk di tepi bathtub, menatap gelang itu dengan benci. Sakura kecilnya berkilau lembut, manis seperti hadiah ulang tahun. Padahal benda itu terasa seperti borgol.
Sakura.
Kenapa sakura?
Ia bukan gadis yang suka perhiasan. Ia bahkan tidak pernah membeli gelang selain gelang kain murah di pasar malam. Tidak ada orang yang cukup dekat untuk memberinya benda semahal ini. Tidak ada, kecuali...
Ingatan lain menyambar.
Bukan wajah. Hanya tangan.
Tangan besar dengan urat jelas, memakai cincin gelap berbentuk ular. Jari-jari itu mengambil pil putih dari lantai basah. Suara rendah berkata sesuatu yang tidak ia pahami, terlalu dekat dengan telinganya.
Wangi tajam, seperti hujan di atas batu.
Lalu tubuhnya diangkat.
Momo tersentak. Gunting jatuh ke lantai, berdenting.
Cincin ular.
Siapa pria itu?
Ia memaksa dirinya berdiri. Takut boleh ada. Panik boleh lewat. Tetapi ia tidak boleh diam. Jika pintu terkunci dari luar, maka ada orang di luar. Jika ada orang di luar, ia harus membuat orang itu membuka pintu. Bukan dengan menangis. Bukan dengan memohon. Dengan sesuatu yang membuat mereka panik.
Momo kembali ke meja kecil. Ia mengambil gelas kristal berisi air, menimbang beratnya, lalu melemparkannya ke lantai sekuat tenaga.
Prang!
Pecahan kaca menyebar seperti es. Suara itu keras sekali sampai membuat telinganya berdenging.
Ia mengambil botol parfum dan melemparkannya ke pintu.
Prang!
Aroma bunga menyengat pecah di udara.
"Buka pintunya!" teriak Momo, kali ini lebih keras. "Kalau kalian tidak buka, aku akan menghancurkan semuanya!"
Diam.
Ia mengambil botol kedua.
Sebelum sempat melempar, terdengar bunyi klik.
Sangat kecil.
Namun di kamar yang terlalu hening itu, bunyinya seperti petir.
Momo mematung.
Gagang pintu bergerak turun perlahan.
Ia mundur, satu langkah, dua langkah. Botol parfum masih di tangannya. Pecahan kaca mengilap di lantai di antara dirinya dan pintu. Jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras sampai ia sulit bernapas.
Pintu terbuka.
Cahaya dari koridor masuk lebih dulu, panjang dan pucat. Lalu bayangan seorang pria memenuhi ambang pintu. Tinggi. Terlalu tinggi. Bahunya lebar, menutup sebagian cahaya. Momo tidak bisa melihat wajahnya jelas, hanya garis rahang, pakaian gelap, dan sesuatu yang berkilau di jarinya.
Cincin ular.
Tubuh Momo terasa dingin sampai ujung kaki.
Pria itu berdiri tanpa tergesa, seolah pecahan kaca, teriakan, dan ketakutannya hanyalah bagian dari pagi yang sudah ia perhitungkan. Tatapannya turun sekilas ke gaun tidur yang ia cengkeram di dada, lalu naik lagi ke wajahnya. Tidak lama. Tidak vulgar. Justru karena begitu singkat, wajah Momo terasa terbakar.
Ia merasa seperti pintu sudah dibuka, tetapi ruang untuk bernapas justru dicuri.
Lalu suara rendah itu terdengar.
"Sudah bangun?"
Bab 2: Monster di Balik Pintu
Botol parfum di tangan Momo hampir terlepas.
Pria di ambang pintu itu tidak bergerak masuk. Ia hanya berdiri, membiarkan cahaya koridor membentuk garis gelap di sekeliling tubuhnya. Pecahan kaca di lantai memantulkan sepatunya yang hitam mengilap. Tingginya membuat pintu yang tadi terasa besar mendadak seperti bingkai yang terlalu kecil.
Momo menelan ludah.
Ia pernah melihat pria tinggi di jalan, di kampus, di depan hotel tempat orang kaya turun dari mobil. Tetapi pria ini berbeda. Tubuhnya bukan sekadar tinggi, melainkan seperti terbiasa membuat ruang tunduk padanya. Kemeja hitamnya rapi tanpa lipatan. Rambut gelapnya tersisir ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan rahang keras. Matanya berwarna amber, indah dengan cara yang salah, seperti cahaya matahari yang tenggelam di dasar jurang.
Dan di jari telunjuk kanannya, cincin ular bermata batu hitam itu berkilau.
Ingatan tentang pil putih dan lantai basah menusuk kembali.
"Jangan mendekat," kata Momo.
Suaranya tidak setegas yang ia inginkan. Botol parfum di tangannya terasa licin karena keringat.
Pria itu menatap botol tersebut, lalu kembali menatap wajahnya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keterkejutan. Seolah seorang gadis yang baru bangun dan menghancurkan kamar mewah hanyalah masalah kecil yang bisa dibereskan dengan satu gerakan tangan.
"Kalau kau ingin melempar, arahkan ke kepalaku," ucapnya datar. "Pintu itu lebih mahal dari keberanianmu."
Momo terpukul oleh nada tenang itu. Lebih menakutkan daripada teriakan.
"Siapa kamu?"
"Renard."
Hanya satu kata. Tidak ada penjelasan.
Momo menggenggam botol itu lebih erat. "Aku tidak kenal kamu. Kenapa aku ada di sini? Mana ponselku? Mana bajuku?"
Renard melangkah masuk.
Momo otomatis mundur. Kakinya menginjak pecahan kaca kecil. Rasa perih menusuk telapak, tetapi ia menahan suara. Renard melihatnya. Matanya turun sebentar ke lantai, lalu kembali naik. Dalam sorot itu ada sesuatu yang hampir seperti kesal, tetapi terlalu cepat hilang.
Jarak di antara mereka menyusut, dan Momo baru menyadari aroma tubuh pria itu, dingin seperti hujan di atas batu, bercampur wangi kayu mahal yang samar. Bukan parfum manis. Bukan aroma orang yang ingin disukai. Aroma itu masuk ke napasnya tanpa izin, membuat dada Momo makin sesak karena tubuhnya mengingat sesuatu sebelum pikirannya mampu menolak.
Ia benci bahwa tubuh bisa mengingat penculiknya.
"Kau banyak bertanya untuk seseorang yang posisinya tidak memberi pilihan."
"Posisiku?" Momo tertawa pendek, kering. "Kamu menculikku."
"Aku mengambil apa yang sudah dibayar."
Kalimat itu membuat udara kamar seperti berhenti.
Momo menatapnya tanpa berkedip. "Apa maksudmu?"
Renard mengangkat tangan sedikit. Dari belakangnya, seorang pria lain muncul dengan langkah diam. Tubuhnya tinggi besar, memakai setelan hitam, wajahnya kaku seperti tembok. Di tangannya ada map cokelat.
"Albert," kata Renard.
Pria itu menunduk singkat. "Tuan."
Momo langsung menegang. Jadi ada orang lain. Ada penjaga. Ada sistem. Bukan satu pria gila saja.
Albert menyerahkan map itu kepada Renard. Renard tidak membukanya. Ia melemparkannya ke atas meja kecil, tepat di dekat kartu yang tadi diremas Momo.
"Gunawan Salim," ucap Renard.
Nama itu menghantam lebih keras daripada pecahan kaca di telapak kaki Momo.
"Jangan sebut dia."
"Ayah kandungmu."
"Dia bukan ayahku."
Untuk pertama kalinya, mata Renard berubah tipis. Bukan terkejut. Lebih mirip seseorang yang menemukan luka dan menekan tepat di sana.
"Namun namanya masih ada di dokumen kelahiranmu."
"Apa urusanmu dengan dia?"
Renard berjalan melewati pecahan kaca tanpa menunduk. Momo mundur sampai punggungnya menyentuh sisi meja rias. Botol parfum terangkat di antara mereka.
"Gunawan punya utang. Banyak. Terlalu banyak untuk orang yang masih berpura-pura menjadi pengusaha terhormat." Renard berhenti hanya satu langkah di depannya. "Ia menawarkan sesuatu sebagai jaminan."
Momo mendengar napasnya sendiri. "Tidak."
"Kau."
"Bohong."
"Ia menandatangani suratnya sendiri."
"Bohong!" Momo melempar botol itu.
Renard menangkap pergelangan tangannya sebelum botol lepas sempurna. Gerakannya cepat sekali sampai Momo baru sadar setelah kulitnya terjepit oleh jari-jari panjang itu. Botol jatuh ke karpet tanpa pecah. Tubuh Momo terdorong ke meja. Punggungnya membentur tepi kayu.
"Lepas!"
Renard tidak melepaskan. Tangannya yang lain mengangkat dagu Momo, memaksanya menatap mata amber itu.
Sentuhannya tidak keras sampai memar, tetapi cukup untuk membuatnya tidak bisa menghindar.
Ibu jarinya menekan tepat di bawah bibir Momo. Kulit di sana langsung panas, bukan karena sakit, melainkan karena jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa melihat garis halus di bibir Renard, bayangan gelap di bawah bulu matanya, napasnya yang tenang menyentuh ujung hidung Momo. Dunia mengecil menjadi genggaman di pergelangan tangannya dan jari di dagunya.
"Lepaskan," bisik Momo, tetapi suaranya terdengar lebih lemah dari kemarahannya.
"Dengarkan baik-baik, gadis kecil." Suaranya rendah, nyaris tanpa emosi. "Mulai sekarang, kamu milikku. Bukan manusia bebas. Bukan tamu. Milikku."
Momo merasa seluruh wajahnya panas. Terhina. Takut. Marah. Semua bercampur sampai matanya pedih.
"Aku bukan barang."
"Di dunia Gunawan, kau sudah dijadikan barang jauh sebelum aku datang."
Kalimat itu membuatnya membeku. Karena ada bagian dirinya yang tahu, Gunawan memang mampu melakukan hal sekejam itu. Pria itu pernah menjual janji, nama keluarga, bahkan darahnya sendiri demi uang. Tetapi mengetahui kemungkinan itu benar tidak membuatnya lebih mudah diterima.
Momo menarik napas gemetar. "Aku mau pulang. Ama menungguku."
Jari Renard di dagunya menegang sangat singkat.
Terlalu singkat untuk disebut peduli. Namun cukup bagi Momo untuk melihat ada sesuatu yang bergerak di balik wajah dingin itu.
"Kau akan pulang kalau aku mengizinkan."
"Kamu orang gila."
"Banyak orang sudah mengatakan itu."
Renard melepaskan dagunya. Momo hampir jatuh karena lututnya lemas, tetapi ia menahan diri di meja. Albert berdiri di dekat pintu, wajahnya tidak berubah, namun matanya turun ke kaki Momo yang berdarah.
"Bersihkan lantai," kata Renard tanpa menoleh. "Dan bawa sandal."
"Baik, Tuan."
"Aku tidak butuh sandalmu," sela Momo.
Renard menatapnya lagi. "Kau butuh makan."
"Aku tidak akan makan apa pun dari kamu."
Beberapa menit kemudian, Momo duduk di ruang makan yang terlalu mewah untuk orang yang sedang ditawan.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana tanpa benar-benar diseret. Renard hanya berjalan di depan, Albert di belakang, dan dua pengawal berdiri di ujung koridor. Pintu-pintu terbuka sebelum Renard menyentuhnya. Semua orang menunduk. Semua orang diam. Momo merasa seperti masuk ke dalam perut makhluk besar yang seluruh organnya bekerja untuk satu pria.
Ruang makan itu menghadap laut. Meja panjangnya bisa menampung dua puluh orang, tetapi hanya ada dua piring yang disiapkan. Di depan Momo, mangkuk bubur hangat mengepul. Ada telur rebus setengah matang, ikan kukus, potongan buah, dan segelas air madu. Makanan itu terlihat lembut, seperti disiapkan untuk orang sakit.
Perut Momo berbunyi.
Ia membenci tubuhnya sendiri saat itu.
Renard duduk di seberangnya, memotong roti panggang dengan tenang. Cincin ular di jarinya bergerak mengikuti pisau. Ia makan seolah tidak ada gadis yang baru saja ia hancurkan hidupnya di meja yang sama.
Momo mendorong mangkuk itu menjauh. "Aku bilang tidak mau."
"Kau boleh membenciku setelah makan."
"Takut aku mati kelaparan sebelum kamu selesai bermain jadi pemilik?"
Renard mengangkat mata. "Kalau aku ingin kau mati, kau tidak akan bangun di kamar."
Momo merinding.
Albert berdiri tidak jauh di belakang Renard. Seorang pelayan perempuan datang hendak menuang teh, tetapi Renard memberi isyarat kecil. Pelayan itu mundur tanpa suara.
"Makan," katanya.
"Tidak."
Renard mengambil sendok dari sisi mangkuk Momo, mencicipi bubur itu sendiri, lalu meletakkan kembali sendok dengan rapi.
"Tidak ada racun."
"Aku tidak bilang takut racun."
"Wajahmu bilang."
Momo ingin membalas. Namun perutnya kembali bergerak, kali ini lebih menyakitkan. Ia belum tahu sudah berapa lama tidak makan. Kepalanya masih berdenyut. Telapak kakinya perih. Dan di depan matanya, bubur itu mengepul dengan bau kaldu yang hangat.
Ia mengambil sendok.
Satu suap.
Hanya satu suap, katanya pada diri sendiri. Untuk bertahan. Bukan karena menuruti pria itu.
Bubur menyentuh lidahnya, hangat dan lembut. Tubuhnya yang lapar langsung mengkhianatinya. Suapan kedua datang lebih cepat. Lalu ketiga.
Renard menyaksikan tanpa komentar.
Itu lebih memalukan daripada jika ia mengejek.
Tatapannya tidak turun ke mangkuk. Tatapan itu tetap di mulut Momo, di cara ia menelan, di bibirnya yang basah oleh kuah hangat. Momo sadar, lalu gerakannya mendadak kaku. Rasa lapar berubah menjadi sesuatu yang canggung, terlalu intim untuk sebuah meja makan. Ia menekan sendok lebih keras, seolah logam kecil itu bisa menjadi tameng.
Momo berhenti setelah setengah mangkuk. Pipinya panas. "Jangan lihat aku."
Sudut bibir Renard bergerak.
Bukan senyum ramah. Bukan juga tawa. Hanya lengkungan tipis yang membuat wajah tampannya terlihat lebih berbahaya, seperti predator yang akhirnya melihat mangsanya berhenti berdarah.
"Kau lebih patuh saat lapar."
Momo meletakkan sendok keras-keras. "Aku makan supaya bisa hidup. Bukan supaya patuh."
"Hidup juga bagian dari kepatuhan di sini."
Sebelum Momo sempat menjawab, Albert mendekat dan menunduk ke sisi Renard. Suaranya sangat pelan, tetapi ruang makan itu terlalu sunyi.
"Tuan, laporan dari Semarang sudah masuk."
Tangan Renard berhenti di atas cangkir.
Momo mendengar satu kata itu. Semarang.
Jantungnya langsung melonjak.
Albert melanjutkan lebih rendah. Momo tidak menangkap semuanya, hanya potongan kecil yang membuat darahnya berdesir.
"Ama Hsia... batuknya kambuh pagi ini."
Wajah Renard berubah.
Hanya sekejap. Namun Momo melihatnya. Tatapan amber yang sejak tadi dingin mendadak menjadi tajam, bukan ke arahnya, melainkan ke sesuatu yang jauh di luar ruang makan ini.
"Pastikan dokter itu datang sebelum siang," kata Renard.
Momo membeku.
Dokter?
Untuk Ama?
Renard menatap Albert. Suaranya turun, lebih dingin dari sebelumnya.
"Dan jangan biarkan siapa pun menyentuhnya."
Bab 3: Penjara Berselimut Sutra
Hari kedua di Pulau Raja dimulai tanpa Renard.
Itu seharusnya membuat Momo lega. Tidak ada mata amber yang menekan napasnya. Tidak ada suara rendah yang menjadikan tubuhnya milik seseorang hanya dengan satu kalimat. Tidak ada cincin ular yang berkilau di depannya seperti tanda bahaya.
Namun ketidakhadiran Renard justru membuat pulau itu terasa lebih luas dan lebih mengancam.
Pagi itu Albert mengetuk pintu kamar tepat pukul tujuh. Ia masuk setelah Momo menjawab, membawa nampan sarapan dan sepasang sandal datar. Wajahnya tetap kaku, tetapi kali ini ia menaruh nampan di meja tanpa mendekat terlalu jauh.
"Nona harus makan sebelum berjalan-jalan," katanya.
Momo menatapnya curiga. "Berjalan-jalan?"
"Tuan mengizinkan Nona melihat area utama."
"Mengizinkan," ulang Momo pelan. Kata itu membuat lidahnya pahit. "Jadi aku harus berterima kasih?"
Albert tidak menjawab sindirannya. "Nona juga tidak boleh melewati garis penjagaan."
"Kalau aku melewati?"
"Saya akan menghentikan Nona."
"Dengan sopan?"
"Jika memungkinkan."
Momo menatap pria itu lama. Albert tidak seperti Renard. Ia tidak memancarkan kegilaan dingin yang membuat kulit merinding. Tetapi justru karena wajahnya terlalu tenang, Momo tahu pria ini berbahaya dengan cara lain. Ia tipe orang yang akan meminta maaf sambil tetap mengunci pintu.
Momo makan sedikit, bukan karena menuruti perintah, melainkan karena ia butuh tenaga. Setelah itu ia membiarkan Albert membawanya keluar dari kamar.
Pulau Raja ternyata lebih besar dari yang terlihat dari jendela.
Bangunan utama berdiri seperti istana modern di punggung pulau. Dinding putih, jendela tinggi, balkon-balkon tertutup kaca, dan koridor panjang yang selalu bersih. Di lantai bawah ada ruang makan, ruang musik, ruang kerja yang pintunya dikunci, serta aula kecil dengan lukisan-lukisan laut. Semua indah. Semua mahal. Semua tidak memberi jalan keluar.
Momo berjalan sambil menghitung.
Dua pengawal di koridor timur.
Satu kamera di sudut langit-langit.
Tiga pintu menuju taman, semuanya memakai kunci elektronik.
Albert memperhatikannya, tentu saja. "Nona suka menghitung?"
"Aku suka tahu jumlah orang yang menghalangi jalanku."
"Jumlahnya berubah tiap jam."
"Terima kasih sudah memberi tahu."
"Itu bukan informasi yang membantu Nona kabur."
Momo menahan geram. "Kamu yakin?"
Albert menoleh sekilas. "Sangat yakin."
Di luar, udara pagi terasa lembap dan asin. Taman Pulau Raja dipenuhi tanaman yang dipangkas rapi, kolam dangkal, dan jalan batu yang mengarah ke beberapa sisi pulau. Dari tempat tinggi, Momo bisa melihat laut mengepung mereka seperti cincin raksasa.
Tiga sisi pulau berupa pantai.
Indah, dangkal di dekat tepi, tetapi setelah beberapa meter warnanya berubah gelap. Momo tahu arus seperti itu tidak ramah. Sisi utara lebih buruk. Tebing curam berdiri seperti tembok batu, disiram ombak dari bawah. Tidak ada tangga. Tidak ada jalan setapak yang jelas.
Di sisi timur ada dermaga.
Momo berhenti.
Di sana, sebuah speedboat putih tertambat. Dua pengawal berdiri di dekatnya. Salah satu memegang radio, yang lain menatap laut. Di pos kecil dekat dermaga, Momo melihat kotak kunci elektronik.
Albert berhenti satu langkah di belakangnya. "Dermaga terlarang."
"Aku belum bergerak."
"Nona baru memikirkannya."
Momo menggigit bibir. "Kamu bisa baca pikiran?"
"Tidak. Tapi semua orang yang ingin kabur akan menatap dermaga dengan cara yang sama."
"Berapa jauh ke daratan?"
"Terlalu jauh untuk berenang."
"Aku tidak bertanya apakah bisa berenang."
"Jawaban saya tetap sama."
Momo mengepalkan tangan. Di atas bangunan utama, ia melihat helipad. Tidak ada helikopter saat itu, tetapi tanda lingkaran putih di atap cukup untuk menunjukkan jalan keluar lain. Jalan keluar yang juga pasti dijaga.
Ia menyimpan semuanya di kepala.
Pantai tiga sisi. Tebing utara. Dermaga timur. Helipad di atap. Kamera di koridor. Kunci elektronik. Jadwal pengawal berubah tiap jam.
Penjara, pikir Momo.
Penjara yang memakai sutra, marmer, dan pemandangan laut sebagai selimut.
Menjelang siang, rasa perih di lengan kirinya kembali mengganggu. Bekas suntikan itu memerah karena semalam ia menggaruknya tanpa sadar. Momo menyembunyikan lengan di balik tubuh, tetapi Albert melihat.
"Nona, tunggu sebentar."
Ia memberi isyarat kepada seorang pelayan. Tidak sampai lima menit, pelayan itu datang membawa kotak kecil berwarna biru pucat.
Albert menyerahkannya kepada Momo. "Salep Mawar Biru."
Momo tidak menerimanya. "Apa lagi ini?"
"Untuk bekas suntikan."
"Dari kamu?"
"Tuan menyuruh saya memberikan ini."
Nama Renard tidak disebut, tetapi bayangannya langsung masuk ke kepala Momo. Pria itu tahu lengannya sakit. Tentu saja tahu. Di pulau ini mungkin tidak ada sudut yang luput dari matanya.
Momo menatap bekas suntikan di lengannya. Tiba-tiba ia teringat ibu jari Renard di bawah bibirnya, tangan besar yang menahan pergelangannya, suara rendah yang berkata ia miliknya. Salep ini bukan kebaikan polos. Ini cara lain pria itu menyentuhnya tanpa hadir, meninggalkan sesuatu di kulitnya lalu memaksa tubuhnya merasa lebih baik.
Rasa marahnya naik, tetapi lengan kirinya tetap berdenyut meminta pertolongan.
"Aku tidak mau."
Albert menaruh kotak itu di bangku taman. "Kalau begitu saya letakkan di sini."
"Kamu tidak akan memaksa?"
"Perintahnya memberi, bukan mengoleskan."
Momo menatap kotak itu seolah benda kecil tersebut bisa menggigit. Tutupnya berkilau lembut, ada lambang mawar biru di atasnya. Terlalu cantik untuk obat luka. Terlalu lembut untuk sesuatu yang datang dari pria seperti Renard.
Ia tetap tidak mengambilnya.
Namun saat sore turun dan kulit lengannya makin panas, Momo akhirnya membuka kotak itu. Salep di dalamnya berwarna biru bening, hampir seperti gel. Baunya ringan, seperti bunga setelah hujan. Ia mengoles sedikit. Rasa dingin menyebar perlahan, menenangkan perih yang sejak pagi mengganggu.
Momo membenci fakta bahwa salep itu bekerja.
Senja datang dengan warna jingga di permukaan laut.
Albert memberi jarak beberapa meter ketika Momo duduk di bangku batu dekat pantai selatan. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia bisa mendengar suara dunia tanpa dinding di sekelilingnya. Ombak. Daun palem. Burung laut. Tetapi kebebasan itu palsu. Di belakangnya ada pengawal. Di depannya ada laut yang terlalu luas.
Momo menatap Gelang Sakura di pergelangan tangannya. Setengah. Terkunci. Cantik dan kejam.
"Ama," bisiknya, sangat pelan. "Tunggu aku."
Saat itulah ia mendengar suara statis.
Krrk.
Momo menoleh.
Di ujung bangku, sedikit tertutup lipatan jaket hitam milik salah satu pengawal, ada walkie-talkie. Mungkin tertinggal. Mungkin sengaja diletakkan. Layarnya menyala redup.
Krrk.
Lalu suara pria terdengar.
Bukan Renard. Bukan Albert.
Suaranya tenang, agak parau, seperti seseorang yang berbicara sambil tersenyum tipis.
"Target dalam kondisi stabil. Lanjutkan pemantauan."
Tubuh Momo menegang.
Target?
Ia menatap benda itu, lalu perlahan meraihnya. Jari-jarinya hampir menyentuh tombol ketika suara itu muncul lagi, lebih rendah.
"Jangan sampai dia tahu jalur utara."
Jantung Momo jatuh.
"Siapa kamu?" bisiknya, meski ia tahu pria itu mungkin tidak mendengar.
Walkie-talkie mendesis.
Di belakangnya, langkah Albert mendekat cepat.
Momo menggenggam benda itu lebih erat, mata terpaku pada layar kecil yang berkedip.
Jika Renard adalah orang yang mengurungnya, lalu siapa pria yang memantau dari balik suara ini?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!