"Kalau aku yang jadi tokoh utama, pasti ceritanya lebih seru."
Kalimat itu sudah menjadi kebiasaan Xu Ming setiap kali selesai membaca novel kultivasi.
Di sebuah kamar kontrakan sederhana yang hanya berisi kasur tipis, meja kecil, kipas angin tua, dan rak penuh novel serta komik, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun sedang tengkurap di atas kasurnya sambil memegang ponsel.
Layar ponsel itu menampilkan bab terakhir dari sebuah novel kultivasi yang baru saja ia tamatkan.
"Yah... tamat lagi."
Xu Ming menghela napas panjang sebelum meletakkan ponselnya di atas bantal.
Sebagai seorang pegawai kantoran biasa, hidupnya nyaris tidak pernah berubah. Pagi berangkat bekerja, sore pulang, malam membaca novel atau komik hingga tertidur.
Banyak orang menghabiskan uang untuk nongkrong atau liburan.
Xu Ming berbeda.
Jika ada uang lebih, ia akan membeli makanan favoritnya, lalu mencari novel kultivasi terbaru untuk dibaca.
Dari sekian banyak genre yang pernah ia coba, hanya kultivasi yang selalu berhasil membuatnya bersemangat.
Ia menyukai dunia yang dipenuhi sekte, teknik rahasia, harta karun surgawi, dan para ahli yang mampu membelah gunung dengan satu ayunan pedang.
Yang paling ia sukai tentu saja...
Sistem.
"Ding! Selamat mendapatkan Teknik Dewa."
"Ding! Selamat memperoleh Tubuh Abadi."
"Ding! Selamat mendapatkan hadiah."
Setiap kali membaca bagian seperti itu, Xu Ming selalu tersenyum lebar.
"Enak banget hidup tokoh utama."
Ia memutar tubuhnya lalu menatap langit-langit kamar.
"Coba saja aku bisa pindah ke dunia seperti itu."
"Aku juga tidak minta jadi yang paling kuat."
"Cukup kasih satu sistem saja."
"Nanti sisanya aku yang usaha."
Membayangkan dirinya menjadi seorang kultivator membuat Xu Ming tertawa sendiri.
Kalau dipikir-pikir, kehidupannya di Bumi memang biasa saja.
Tidak punya bakat istimewa.
Bukan anak orang kaya.
Prestasi juga biasa.
Bahkan saat sekolah dulu, nilainya selalu berada di tengah-tengah.
"Kalau benar ada dunia kultivasi..."
"Aku pasti lebih semangat hidup."
Ia menutup mata sambil membayangkan dirinya mengenakan jubah putih, berdiri di atas pedang terbang, dikelilingi awan.
"Xu Ming Senior!"
"Senior, tolong selamatkan sekte kami!"
"Senior, ini putri kami..."
"Hehehe..."
Belum sempat lamunannya berlanjut, suara notifikasi ponsel berbunyi.
Ting!
Xu Ming membuka mata.
Ternyata grup pertemanan lamanya sedang ramai.
Salah satu temannya mengirim pesan.
"Bro, besok lembur lagi, jangan telat."
Senyum Xu Ming langsung menghilang.
"..."
"Realitas memang kejam."
Ia menghela napas pasrah.
"Kalau benar ada dewa..."
"Tolong pindahkan aku ke dunia kultivasi saja."
"Tidak usah kaya."
"Tidak usah tampan."
"Asal jangan lembur lagi."
Setelah mengucapkan itu, Xu Ming tertawa kecil.
Mana mungkin keinginan konyol seperti itu terkabul?
Ia mematikan lampu kamar.
Ruangan langsung gelap.
Suara kipas angin tua terus berputar pelan.
Xu Ming menarik selimut hingga menutupi dada.
"Mudah-mudahan besok tidak lembur..."
Perlahan, matanya mulai terasa berat.
Kesadarannya semakin kabur.
Entah berapa lama berlalu.
Xu Ming merasa tubuhnya sangat ringan.
Seolah-olah ia sedang melayang.
"Aneh..."
"Aku mimpi, ya?"
Ia mencoba membuka mata.
Yang terlihat bukan lagi langit-langit kamar kontrakannya.
Melainkan atap kayu yang tampak tua.
"..."
Xu Ming berkedip beberapa kali.
"Hah?"
Ia langsung duduk.
Ruangan yang ia tempati benar-benar asing.
Dindingnya terbuat dari kayu.
Di sudut ruangan terdapat kapak, cangkul, dan keranjang bambu.
Sebuah meja kayu sederhana berdiri di dekat jendela.
Tidak ada kipas angin.
Tidak ada lampu.
Tidak ada colokan listrik.
"..."
Xu Ming memijat pelipisnya.
"Aku masih mimpi?"
Ia mencubit pipinya.
"Aduh!"
Sakit.
"Sakit berarti..."
"Bukan mimpi?"
Xu Ming buru-buru membuka pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, ia membeku.
Di hadapannya terbentang sebuah desa kecil yang dikelilingi pegunungan hijau.
Asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah kayu.
Beberapa petani sedang bekerja di sawah.
Anak-anak berlari sambil tertawa.
Seekor sapi melintas dengan santai.
Udara yang sejuk membuat Xu Ming tanpa sadar menarik napas panjang.
"Segar sekali..."
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
"Tunggu dulu."
"Ini di mana?"
Ia melihat ke kiri.
Lalu ke kanan.
Tidak ada jalan beraspal.
Tidak ada tiang listrik.
Tidak ada kendaraan.
Semuanya terasa seperti desa kuno.
Xu Ming menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
"Ini..."
"Dunia lain?"
Jantungnya mulai berdebar.
Ia menoleh ke arah pegunungan.
Lalu melihat pakaian yang dikenakannya.
Bukan lagi kaus oblong dan celana pendek.
Melainkan pakaian kain sederhana berwarna abu-abu.
Xu Ming semakin bingung.
"Ini benar-benar bukan Bumi."
Saat itu juga, seorang kakek lewat sambil memikul kayu bakar.
Melihat Xu Ming berdiri mematung, kakek itu tersenyum ramah.
"Pagi, Ming."
Xu Ming spontan menjawab.
"P-pagi..."
Kakek itu lalu melanjutkan langkahnya seolah tidak ada yang aneh.
Xu Ming menggaruk kepala.
"Beliau kenal aku?"
"Tapi aku tidak kenal beliau."
Belum sempat ia berpikir lebih jauh...
Tiba-tiba...
Ding!
Suara mekanis yang sangat jelas terdengar di dalam kepalanya.
Xu Ming membelalakkan mata.
"Tidak mungkin..."
Suara itu kembali terdengar.
Ding!
Mendeteksi tuan rumah berhasil berpindah ke Dunia Tianxuan.
Tubuh Xu Ming langsung menegang.
"Tunggu..."
"Jangan bilang..."
Persyaratan terpenuhi.
Sistem Pembimbing Kultivasi sedang diaktifkan...
Xu Ming menutup mulutnya.
Matanya mulai berbinar.
Dadanya berdebar semakin cepat.
Ia hampir melompat kegirangan.
"A-Aku tahu!"
"Aku benar-benar jadi tokoh utama!"
Air mata haru bahkan hampir keluar dari matanya.
Setelah bertahun-tahun membaca novel kultivasi...
Hari ini...
Gilirannya akhirnya tiba.
Xu Ming mengepalkan kedua tangannya.
"Ayo!"
"Berikan aku teknik dewa!"
"Atau tubuh suci!"
"Atau pedang legendaris!"
"Aku siap!"
Suara sistem kembali terdengar.
Sistem berhasil diaktifkan.
Selamat datang, Tuan Rumah.
Xu Ming tersenyum lebar.
"Ya! Akhirnya!"
Namun...
Kalimat berikutnya membuat senyumnya perlahan membeku.
Misi Pemula telah dibuat.
Silakan menuju sungai di sebelah timur desa.
Ambil air sebanyak dua puluh ember.
Hadiah: Tidak ada.
Xu Ming terdiam.
"..."
Ia berkedip pelan.
"...Hah?"
Bersambung...
Xu Ming berdiri terpaku di depan rumah kayunya.
Angin pegunungan berembus pelan, menggoyangkan dedaunan bambu di sekitar halaman.
Namun, pikirannya sama sekali tidak tenang.
"...Tidak ada?"
Ia mengucek telinga.
"Mungkin aku salah dengar."
Suara mekanis itu kembali terdengar dengan nada datar.
Misi Pemula.
Pergi ke sungai di sebelah timur desa.
Ambil air sebanyak dua puluh ember.
Batas waktu: Sebelum matahari terbenam.
Hadiah: Tidak ada.
Xu Ming membeku.
"..."
"Kenapa hadiahnya tidak ada?"
Bukankah dalam novel yang sering ia baca, misi pertama selalu menghadiahkan sesuatu yang luar biasa?
Minimal pil pencuci sumsum.
Atau teknik kultivasi tingkat surga.
Kalau tidak, senjata roh kelas tinggi juga lumayan.
Tapi ini?
Mengambil air... tanpa hadiah?
Xu Ming mengangkat tangan.
"Hei, Sistem."
Tidak ada jawaban.
"Apakah kamu rusak?"
Sistem berfungsi normal.
Xu Ming menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Tapi..."
"Kenapa misi pertamaku jadi tukang angkut air?"
Seluruh misi telah dihitung berdasarkan kebutuhan pertumbuhan Tuan Rumah.
"Jadi memang benar harus mengambil air?"
Benar.
Xu Ming menatap langit.
"Baiklah."
"Mungkin ini memang latihan dasar."
Di novel yang pernah ia baca, banyak tokoh utama ditempa melalui pekerjaan sederhana sebelum menjadi kuat.
Mengangkat air untuk melatih tubuh.
Menebang kayu untuk memperkuat lengan.
Bermeditasi untuk menenangkan hati.
"Kalau dipikir-pikir..."
"Masuk akal juga."
Xu Ming pun mengambil dua ember kayu yang bersandar di dekat pintu rumah.
"Anggap saja ini latihan."
Sungai di sebelah timur desa mengalir jernih.
Airnya begitu bening hingga dasar sungai terlihat jelas.
Xu Ming mengisi kedua ember, lalu mulai berjalan kembali.
Baru beberapa puluh langkah...
Lengannya mulai terasa pegal.
"Berat juga..."
Ia tertawa kecut.
"Dasar tubuh kantoran."
Selama hidup di Bumi, olahraga paling berat yang pernah ia lakukan hanyalah mengejar bus.
Kini ia harus bolak-balik mengangkut air.
Setelah perjalanan kesepuluh...
Kakinya gemetar.
Setelah perjalanan kelima belas...
Bajunya basah oleh keringat.
Saat perjalanan kedua puluh selesai...
Xu Ming langsung menjatuhkan diri di halaman rumah.
"Hah..."
"Hah..."
"Aku hampir mati."
Suara sistem terdengar.
Misi selesai.
Xu Ming langsung duduk tegak.
"Nah!"
"Hadiahnya apa?"
Hadiah telah diberikan.
Xu Ming melihat ke kanan.
Lalu ke kiri.
"Mana?"
"Tidak ada apa-apa."
Tubuh Tuan Rumah telah diperkuat.
Xu Ming berkedip.
"Sudah?"
Ya.
"Itu saja?"
Benar.
Xu Ming menggaruk kepala.
"Aneh sekali."
Ia mengepalkan tangan.
Tidak terasa ada perubahan.
Tubuhnya masih sama.
"Tidak apa-apa."
"Mungkin efeknya kecil."
"Namanya juga misi pertama."
Ia memilih tidak terlalu memikirkannya.
Keesokan paginya.
Ding!
Misi Harian.
Tebang lima puluh batang bambu.
Xu Ming tersenyum tipis.
"Nah."
"Ini baru terasa seperti latihan."
Ia mengambil kapak yang berada di samping rumah.
Kapak itu tampak biasa.
Pegangannya dari kayu.
Mata kapaknya juga tidak berkilau.
"Sistem ini benar-benar pelit."
"Kapak pun tidak diberi yang bagus."
Sesampainya di hutan bambu...
Xu Ming mengangkat kapak.
"Wush!"
Kapak itu menebas lurus.
Krak!
Sebatang bambu langsung tumbang.
"Hm?"
Xu Ming memiringkan kepala.
"Ringan sekali."
Ia mengayunkan lagi.
Krak!
Satu batang lagi tumbang.
"Sepertinya tubuhku memang sedikit lebih kuat."
Xu Ming mulai bersemangat.
Dalam waktu singkat, lima puluh batang bambu selesai ditebang.
Padahal kemarin, mengangkat air saja hampir membuatnya pingsan.
Misi selesai.
Hadiah telah diberikan.
"Tubuhku diperkuat lagi?"
Benar.
Xu Ming tersenyum puas.
"Sedikit demi sedikit juga tidak masalah."
"Yang penting ada perkembangan."
Hari demi hari berlalu.
Misi sistem selalu aneh.
Mengambil air.
Menebang kayu.
Menanam sayuran.
Memancing.
Membersihkan halaman.
Memasak.
Menyeduh teh.
Bahkan suatu hari...
Misi Harian.
Pelajari kaligrafi selama sepuluh jam.
Xu Ming langsung memprotes.
"Hei!"
"Ini sistem kultivasi atau sistem kursus?"
Semua misi memiliki tujuan.
"Baiklah..."
Xu Ming hanya bisa pasrah.
Beberapa bulan kemudian.
Ia sudah terbiasa.
Kalau sistem menyuruh memasak...
Ia memasak.
Kalau sistem menyuruh melukis...
Ia melukis.
Kalau sistem menyuruh memainkan qin...
Ia belajar hingga jari-jarinya lecet.
Setiap kali bertanya alasannya...
Jawaban sistem selalu sama.
Semua memiliki tujuan.
Xu Ming akhirnya berhenti bertanya.
"Kalau tokoh utama di novel bisa bertahan..."
"Aku juga bisa."
Ia yakin.
Suatu hari nanti.
Sistem pasti memberinya teknik kultivasi tingkat dewa.
Atau setidaknya...
Sebuah pedang terbang.
Yang belum diketahui Xu Ming...
Setiap kali ia menyelesaikan satu misi, sistem diam-diam menghapus satu batas pada tubuhnya.
Potensi.
Bakat.
Pemahaman.
Jiwa.
Tubuh.
Dao.
Semua berkembang tanpa henti.
Namun, seluruh perubahan itu dilakukan secara perlahan agar Xu Ming tidak menyadarinya sedikit pun.
Dan bagi Xu Ming...
Hari-harinya hanya terasa seperti...
Menjadi kuli gratis milik sistem.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sepuluh tahun kemudian, pekerjaan-pekerjaan sederhana inilah yang akan menjadikannya sosok yang bahkan tak mampu dipahami oleh seluruh Dunia Tianxuan.
Bersambung...
Musim semi berganti menjadi musim panas.
Musim panas berganti menjadi musim gugur.
Daun-daun yang menguning kembali tumbuh hijau.
Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa.
Desa Qinghe tetap tenang seperti biasanya.
Penduduk desa hidup sederhana, bercocok tanam, berburu, dan saling membantu.
Di mata mereka, Xu Ming hanyalah pemuda rajin yang tinggal sendirian di ujung desa.
Tidak ada yang tahu...
Setiap hari selama sepuluh tahun terakhir, Xu Ming menjalani latihan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh para kultivator terkuat sekalipun.
"Pukul lagi."
Suara sistem terdengar datar.
Xu Ming menghela napas.
"Sudah lima ribu kali."
Target hari ini: Sepuluh ribu ayunan pedang.
Xu Ming memandang pedang kayu di tangannya.
Pedang itu sudah beberapa kali diganti selama bertahun-tahun.
Bukan karena rusak.
Melainkan karena sistem selalu berkata,
"Pedang hanyalah alat. Yang terpenting adalah orang yang memegangnya."
Xu Ming tidak begitu mengerti.
Namun ia tetap menurut.
"Wus!"
Satu ayunan.
"Wus!"
Dua ayunan.
"Wus!"
Tiga ayunan.
Gerakannya tampak sederhana.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada aura yang menggetarkan langit.
Namun jauh di atas langit Desa Qinghe...
Awan-awan perlahan terbelah mengikuti lintasan pedang Xu Ming.
Seekor burung roh yang kebetulan melintas langsung berbalik arah dengan ketakutan.
Sementara Xu Ming sama sekali tidak menyadarinya.
Hari berikutnya.
Misi Harian.
Mainkan qin selama enam jam.
Xu Ming memijat dahinya.
"Aku sudah hafal semua lagu."
Mainkan kembali.
"Baiklah."
Ia duduk di bawah pohon tua.
Jarinya mulai memetik senar qin.
Alunan musik yang lembut mengalir mengikuti angin.
Daun-daun berguguran perlahan.
Bunga-bunga bermekaran di luar musim.
Bahkan hewan-hewan liar yang berada di hutan sekitar tanpa sadar mendekat dan duduk diam mendengarkan.
Seekor kelinci berbaring di samping kaki Xu Ming.
Burung-burung hinggap di ranting pohon.
Ular yang terkenal ganas hanya melingkar tenang di balik batu.
Xu Ming tersenyum tipis.
"Musik memang bisa menenangkan hati."
Ia sama sekali tidak tahu bahwa alunan qin-nya telah menyatu dengan Dao Musik.
Beberapa hari kemudian.
Misi Harian.
Lukis pemandangan matahari terbit.
Xu Ming mengambil kuas.
"Semoga kali ini lebih bagus."
Selama beberapa jam ia melukis dengan serius.
Setelah selesai, ia mengangguk puas.
"Lumayan."
"Tidak sebagus pelukis profesional di Bumi."
Ia menggantung lukisan itu di dalam rumah.
Begitu selesai...
Udara spiritual di sekitar rumah berubah jauh lebih pekat.
Namun Xu Ming hanya mengira sinar matahari pagi memang terasa lebih hangat.
Malam harinya.
Misi Harian.
Masak sup ayam.
Xu Ming langsung tertawa.
"Untung bukan menebang sepuluh ribu pohon."
Memasak sudah menjadi rutinitasnya.
Awalnya hasil masakannya biasa saja.
Kini...
Bahkan dirinya sendiri merasa rasanya semakin enak.
"Mungkin karena sering latihan."
Ia tidak pernah berpikir lebih jauh.
Hari-hari seperti itu terus berulang.
Kadang sistem menyuruhnya menempa besi.
Kadang memahat patung.
Kadang membuat meja.
Kadang menanam bunga.
Kadang membaca kitab kuno sampai semalaman.
Xu Ming pernah mengeluh.
"Sistem."
Ya.
"Kenapa aku belajar banyak sekali?"
Untuk menjadi kultivator yang sempurna.
Xu Ming mengangguk.
"Masuk akal."
Kalau ingin menjadi tokoh utama...
Memang harus serba bisa.
Suatu sore.
Xu Ming duduk di depan rumah sambil menghitung dengan jari.
"Sudah sepuluh tahun..."
Ia tersenyum lebar.
"Kalau mengikuti alur novel..."
"Hari ini seharusnya aku mendapatkan teknik kultivasi tingkat dewa."
"Atau membuka alam rahasia."
"Atau bertemu guru misterius."
Semakin dipikirkan, ia semakin bersemangat.
"Mungkin sistem sengaja melatih dasar selama ini."
"Setelah itu..."
"Barulah petualangan dimulai!"
Tiba-tiba.
Suara sistem kembali terdengar.
Seluruh misi tutorial telah selesai.
Xu Ming langsung berdiri.
"Akhirnya!"
Ia mengepalkan tangan.
"Ayo!"
"Apa hadiah akhirnya?"
Suara sistem tetap terdengar tenang.
Selamat.
Selama sepuluh tahun terakhir, Tuan Rumah telah menyelesaikan seluruh program pembinaan.
Xu Ming mengangguk berkali-kali.
"Iya, iya."
"Lalu?"
Seluruh hadiah telah diberikan.
Xu Ming terdiam.
"...Sudah?"
Ya.
"Tapi..."
"Teknik kultivasiku?"
Telah diberikan.
"Hah?"
"Pedang surgawi?"
Telah diberikan.
"Artefak dewa?"
Telah diberikan.
Xu Ming mulai panik.
"Tunggu!"
"Aku tidak pernah menerima semua itu!"
Namun sistem tidak menjawab pertanyaannya.
Sebaliknya, suara mekanis itu mengucapkan kalimat terakhir.
Sistem Pembimbing Kultivasi telah menyelesaikan tugasnya.
Sistem akan dihentikan dalam...
3...
Xu Ming membelalakkan mata.
"Hei!"
"Tunggu dulu!"
"Aku masih banyak pertanyaan!"
2...
"Jangan pergi!"
"Aku bahkan belum bertemu sekte!"
"Belum ikut turnamen!"
"Belum jadi abadi!"
1...
Xu Ming berlari keluar rumah seolah sistem berada di hadapannya.
"Hei! Kembalilah!"
Namun...
Selamat tinggal, Tuan Rumah.
Semoga perjalanan Anda menyenangkan.
Suara itu menghilang.
Benar-benar menghilang.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun...
Tidak ada lagi suara sistem di dalam kepalanya.
Suasana menjadi sunyi.
Xu Ming berdiri terpaku cukup lama.
Lalu terduduk lemas di halaman rumah.
"...Pergi?"
"Benar-benar pergi?"
Ia menatap langit dengan ekspresi kosong.
Setelah beberapa saat...
Ia menghela napas panjang.
"Baiklah..."
"Mungkin sekarang aku harus hidup sendiri."
Xu Ming mengepalkan tangannya.
"Tenang."
"Setidaknya tubuhku lebih sehat daripada dulu."
"Ilmu pedangku lumayan."
"Masakanku juga lumayan."
"Kaligrafiku lumayan."
"Selebihnya..."
"Aku masih seorang mortal."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa, tepat setelah sistem menghilang, seluruh batas yang selama ini menyembunyikan auranya ikut lenyap.
Di tempat yang sangat jauh...
Beberapa eksistensi kuno yang telah tertidur selama puluhan ribu tahun perlahan membuka mata mereka secara bersamaan.
"...Aura ini..."
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!