Setiap orang memiliki cerita tentang tempat ia memulai. Ada yang mengenangnya sebagai tempat penuh tawa dan kebahagiaan, tetapi ada pula yang baru menyadari betapa berharganya sebuah tempat setelah semuanya berubah. Bagiku, tempat itu adalah sebuah desa kecil yang menjadi saksi masa kanak-kanakku, tempat pertama kali aku mengenal keluarga, merasakan kasih sayang, dan tanpa kusadari mulai belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Suara ayam yang saling bersahutan selalu menjadi pertanda bahwa pagi telah datang di Desa Arawa. Embun masih bergelayut di ujung dedaunan, sementara angin yang berembus pelan menyelinap melalui celah-celah dinding rumah kayu kami. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang mulai berangkat ke kebun, disusul langkah kaki anak-anak yang berlarian di jalan tanah sambil membawa tawa kecil mereka. Desa itu tidak pernah ramai, tetapi selalu terasa hidup dengan kesederhanaannya.
Di desa kecil itulah kisahku bermula. Sebuah tempat yang mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi menyimpan begitu banyak cerita yang perlahan membentuk diriku hingga hari ini. Bagi sebagian orang, desa itu mungkin hanya sebuah tempat sederhana yang jauh dari keramaian. Namun, bagiku, Desa Arawa adalah tempat pertama kali aku mengenal arti keluarga, perjuangan, kasih sayang, dan kehidupan.
Namaku Hitas Nursyah. Aku lahir pada tanggal 1 Januari 2005 di Desa Arawa, di tengah keluarga yang hidup dengan penuh keterbatasan. Kami tidak memiliki rumah besar ataupun harta yang berlimpah, tetapi rumah sederhana itu selalu terasa hangat karena di dalamnya ada Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku. Aku adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Enam perempuan dan satu laki-laki tumbuh bersama dalam rumah kecil yang hampir setiap hari dipenuhi berbagai cerita. Ada suara tawa ketika kami bermain, tangisan kecil ketika terjadi pertengkaran, serta nasihat orang tua yang selalu mengingatkan kami untuk saling menjaga.
Saat itu aku belum memahami bahwa kehidupan sederhana yang kami jalani sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bagiku, hari-hari tersebut hanyalah masa kecil yang biasa. Aku belum tahu bahwa waktu akan terus berjalan dan membawa sebagian dari kenangan itu menjadi sesuatu yang kelak sangat ingin kukembalikan.
Di balik kehangatan keluarga kami, ada satu hal yang sejak kecil perlahan mulai kukenal, yaitu perjuangan seorang Ayah yang berusaha tetap kuat meskipun tubuhnya sering kali tidak mampu mengikuti keinginannya.
Ayah sering sakit.
Aku masih mengingat suara batuk Ayah yang terdengar dari dalam rumah. Batuk itu terdengar berat dan terkadang membuatku berhenti bermain hanya untuk melihat keadaan beliau. Wajah Ayah sering terlihat pucat, tubuhnya lemah, dan ada saat-saat ketika aku melihat beliau menahan rasa sakit sendirian. Bahkan, aku pernah menyaksikan Ayah batuk hingga mengeluarkan darah.
Sebagai seorang anak kecil, aku tidak memahami penyakit yang sedang beliau lawan. Aku tidak tahu mengapa orang yang selama ini terlihat kuat di mataku bisa begitu lemah ketika sakit datang. Aku juga tidak tahu mengapa setiap kali batuk Ayah terdengar semakin berat, suasana rumah seolah ikut berubah menjadi lebih sunyi. Aku hanya tahu bahwa aku ingin Ayah sembuh.
Suatu hari, ketika aku sedang bermain di sekitar rumah, suara Ayah terdengar memanggil namaku dari arah dapur.
“Hitas...”
Aku menghentikan permainan dan segera menghampirinya. Ayah sedang duduk di dapur yang masih menggunakan kayu bakar. Wajahnya terlihat sangat pucat. Di dekatnya terdapat beberapa lembar daun sirih yang sedang digunakan sebagai salah satu ikhtiar untuk membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.
Ketika melihatku datang, Ayah seperti ingin segera meminta sesuatu.
“Hitas, tolong ambilkan beberapa lembar daun sirih lagi di belakang rumah.”
Aku langsung mengangguk.
“Iya, Yah.”
Aku berlari menuju halaman belakang rumah untuk mencari daun sirih. Saat itu aku tidak memikirkan apa pun selain keinginan untuk segera memberikan apa yang Ayah butuhkan. Aku mencari di sekitar pagar bambu sampai menemukan beberapa lembar daun yang masih segar. Setelah mengambilnya, aku segera kembali ke dapur.
Ayah masih duduk di sana. Aku melihat beliau berusaha menghangatkan daun-daun sirih tersebut, tetapi gerakannya tampak berat. Melihat Ayah kesusahan, aku tidak banyak bertanya. Aku langsung membantu menghangatkan daun-daun itu satu per satu, lalu menyerahkannya kepada Ayah.
Beliau mengambilnya dan menempelkan daun tersebut pada beberapa bagian tubuhnya, terutama di bagian dada. Aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan Ayah dalam diam. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman melihat wajahnya yang pucat, tetapi sebagai anak kecil aku tidak tahu harus berbuat apa selain membantu sebisaku.
“Kalau pakai daun ini, Ayah nanti sembuh, kan?” tanyaku dengan penuh harapan.
Ayah menoleh kepadaku. Meskipun wajahnya terlihat lelah, beliau masih berusaha tersenyum.
“Doakan saja Ayah cepat sehat.”
Aku mengangguk dengan yakin.
“Iya, Yah. Hitas akan selalu doakan Ayah.”
Tangan Ayah kemudian terangkat dan mengusap kepalaku perlahan. Aku masih bisa mengingat sentuhan itu sampai sekarang. Saat itu aku merasa tenang, seolah selama Ayah masih bisa tersenyum dan mengusap kepalaku, tidak ada sesuatu yang perlu kutakutkan.
Aku belum tahu bahwa di balik senyum Ayah ada rasa sakit yang tidak mampu kupahami. Aku juga belum mengerti bahwa seorang anak terkadang hanya bisa melihat sebagian kecil dari perjuangan orang tuanya. Yang kulihat hanyalah Ayah yang sedang sakit dan seorang anak kecil yang berharap daun sirih serta doa yang dipanjatkannya mampu membuat orang yang paling disayanginya kembali sehat.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya keluargaku harus mengambil sebuah keputusan besar. Sebelum aku memasuki usia sekolah, kami meninggalkan Desa Arawa dan berpindah ke Desa Wanasari. Aku harus meninggalkan rumah, lingkungan, dan tempat yang sejak kecil sudah kukenal. Saat itu aku belum memahami sepenuhnya alasan perpindahan tersebut, tetapi aku tahu bahwa orang tuaku menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya, terutama agar kami bisa mendapatkan pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih luas.
Meninggalkan Desa Arawa bukan berarti meninggalkan semua kenangan yang pernah ada. Desa itu tetap menjadi bagian pertama dari perjalanan hidupku, tempat aku mengenal kesederhanaan dan keluarga, sekaligus tempat yang menyimpan kenangan tentang Ayah yang masih sering sakit.
Di Desa Wanasari, kehidupan kami perlahan berjalan seperti biasa. Beberapa minggu setelah kami tinggal di sana, musim tanam jagung tiba. Hampir seluruh anggota keluargaku setiap pagi pergi ke kebun yang letaknya cukup jauh dari kampung. Aku dan saudara-saudaraku ikut bersama mereka. Karena masih kecil, aku belum bisa membantu banyak. Aku lebih sering bermain di sekitar kebun, mengejar kupu-kupu, memetik bunga liar, atau sekadar melihat orang-orang dewasa bekerja.
Sore itu, ketika pekerjaan sudah selesai dan keluargaku bersiap kembali ke kampung, Nenek menghampiriku. Beliau mengusap kepalaku sambil tersenyum.
“Hitas, tinggal di sini dulu sama Nenek, ya. Temani Nenek di kebun.”
Aku langsung mengangguk karena saat itu aku merasa senang bisa tinggal bersama Nenek.
“Iya, Nek. Hitas mau temani Nenek.”
Sejak hari itu, aku tinggal bersama Nenek di rumah kebun yang sederhana. Hari-hariku di sana terasa menyenangkan. Setiap pagi aku menemani Nenek ke kebun. Beliau merawat tanaman, sedangkan aku bermain di sekitarnya dan sesekali membantu mengambil ranting atau mengumpulkan daun-daun kering.
Aku tidak pernah merasa bosan berada di sana. Kebun itu terasa begitu luas bagiku, sementara Nenek selalu menjadi seseorang yang membuatku merasa tidak sendirian. Ada banyak hal kecil yang kami lakukan bersama dan mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagi seorang anak sepertiku, kebersamaan itu terasa sangat berarti.
Suatu hari aku bertanya kepada Nenek, “Nek, Nenek tidak capek kerja terus?”
Nenek tersenyum sebelum menjawab, “Kalau kita ingin makan, kita harus mau bekerja, Nak.”
Aku hanya mengangguk. Saat itu aku belum benar-benar memahami maksud perkataan Nenek. Namun, tanpa kusadari, dari kebun sederhana itu aku mulai belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus mau berusaha dan tidak mudah menyerah.
Beberapa bulan berlalu. Suatu pagi sebuah mobil berhenti di depan rumah kebun. Ibu datang menjemputku karena tidak lama lagi aku akan memasuki bangku sekolah dasar.
“Hitas, ayo pulang. Sebentar lagi kamu sudah masuk sekolah,” ucap Ibu sambil memelukku.
Mendengar itu aku merasa senang karena akhirnya aku akan bersekolah. Namun, ketika melihat Nenek, perasaan senang itu tidak lagi terasa utuh. Aku mulai memikirkan bagaimana Nenek nanti jika aku pergi.
Aku mendekati Ibu dan berkata dengan suara yang penuh harapan, “Bu, Nenek ikut pulang saja sama kita.”
Ibu kemudian mencoba membujuk Nenek.
“Nek, ikut pulang bersama kami saja. Nanti tinggal bersama kami di kampung.”
Namun, Nenek menggeleng pelan sambil memandang tanaman yang selama ini dirawatnya.
“Tidak bisa. Nenek harus menjaga tanaman ini. Kalau Nenek pulang bersama kalian, siapa yang akan merawat tanaman-tanaman ini?”
Aku terdiam mendengar jawaban itu. Aku melihat kebun yang luas di sekitar kami, kemudian kembali memandang Nenek. Dalam pikiranku yang masih kecil, aku tidak ingin meninggalkan beliau sendirian di tempat itu.
Aku kembali meminta kepada Ibu agar membujuk Nenek.
“Bu, tolong ajak Nenek pulang. Hitas tidak mau Nenek tinggal sendiri di sini.”
Aku bahkan berharap Ibu terus membujuk sampai Nenek mau ikut bersama kami. Namun, Nenek tetap pada keputusannya. Tanaman-tanaman itu adalah tanggung jawabnya, dan aku akhirnya harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa membawa Nenek pulang bersamaku.
Saat tiba waktunya meninggalkan rumah kebun, aku memeluk Nenek erat. Ada rasa berat yang memenuhi dadaku. Aku ingin tetap tinggal, tetapi aku juga tahu bahwa sebentar lagi aku harus sekolah.
“Nek, nanti Hitas pulang lagi.”
Nenek mengusap kepalaku dan tersenyum.
“Sekarang Hitas sekolah yang rajin. Jangan lupa belajar.”
Aku mengangguk meskipun air mataku mulai jatuh. Ketika mobil mulai bergerak meninggalkan kebun, aku terus memandang ke belakang. Rumah kecil itu perlahan semakin jauh, begitu pula sosok Nenek yang masih berdiri di sana.
Sepanjang perjalanan, pikiranku masih tertinggal di kebun. Aku membayangkan Nenek kembali berjalan di antara tanaman seorang diri. Tidak ada lagi anak kecil yang menemaninya bermain, bertanya, atau sekadar membuat kebun itu sedikit lebih ramai.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa seseorang bisa merasa kehilangan meskipun orang yang disayanginya masih ada.
Hari pertama sekolah akhirnya tiba.
Pagi itu Ibu mengeluarkan seragam merah putih yang baru saja dibelinya. Seragam itu masih rapi, lengkap dengan sepatu dan tas sekolah baru. Aku mengenakannya dengan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan. Bagi seorang anak kecil sepertiku, seragam itu bukan hanya pakaian sekolah, tetapi tanda bahwa aku akan memasuki dunia baru.
Ibu kemudian mengantarkanku menuju sekolah. Tangannya menggenggam tanganku sepanjang perjalanan hingga kami sampai di depan gerbang.
“Hitas, belajar yang rajin, ya. Jangan takut. Dengarkan kata guru dan jangan nakal.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya, Bu.”
Setelah itu aku berjalan menuju kelas.
Aku melihat beberapa anak masih digandeng oleh orang tua mereka. Ada yang dipeluk, ada yang menangis karena tidak ingin ditinggalkan. Sementara aku berjalan sendiri menuju ruang kelas. Anehnya, aku tidak merasa takut. Justru ada rasa bangga karena akhirnya aku bisa mengenakan seragam, membawa tas, dan duduk di bangku sekolah seperti anak-anak lainnya.
Sejak hari pertama, aku mulai menyukai sekolah. Aku belajar mengenal huruf, memegang pensil, membaca kata-kata sederhana, dan menulis. Setiap huruf yang berhasil kukenal terasa seperti sesuatu yang baru dan berharga.
Sesampainya di rumah, aku sering mengulang kembali apa yang kupelajari. Rumah kami sederhana dan lantainya masih terbuat dari bambu. Tidak ada meja belajar yang bagus ataupun ruangan khusus untuk membaca. Namun, lantai bambu itulah yang menjadi tempatku pertama kali mengenal dunia melalui tulisan.
Aku duduk sambil memegang pensil kecil dan mencoba menulis huruf yang kuingat.
A, B, C.
Tulisanku belum rapi. Beberapa huruf bahkan sering salah sehingga harus kuhapus dan kutulis kembali. Namun, aku tidak mudah menyerah. Rasa ingin tahuku membuatku terus mencoba.
Dalam proses belajar itu, kakakku Ucaluna yang saat itu sudah duduk di kelas dua sekolah dasar sering menemaniku.
“Hitas, bukan begitu caranya. Lihat, hurufnya seperti ini.”
Aku memperhatikan contoh yang diberikannya, lalu mencoba mengikutinya. Berkali-kali aku mengulang tulisan yang sama sampai akhirnya mulai bisa menulis dengan lebih baik.
Hari yang paling membuatku bahagia adalah ketika aku berhasil menulis namaku sendiri.
Aku memandangi tulisan itu cukup lama. Tulisan tersebut memang masih sederhana dan jauh dari sempurna, tetapi bagiku itu adalah sebuah pencapaian besar. Dari sebuah pensil kecil yang kugenggam di atas lantai bambu, aku mulai memahami bahwa aku bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kuketahui.
Saat itu aku hanya tahu bahwa aku ingin terus bersekolah. Aku ingin belajar membaca, menulis, dan mengetahui lebih banyak tentang dunia. Aku belum tahu bahwa perjalanan sekolah yang begitu sederhana itu akan membawaku melewati banyak hal yang tidak pernah kubayangkan.
Aku juga belum tahu bahwa setelah masa kecil yang penuh dengan kebersamaan bersama keluarga, akan ada sebuah kejadian yang membuatku kembali merasakan arti kehilangan.
Karena ternyata, perpisahan dengan Nenek di rumah kebun itu bukanlah perpisahan terakhir yang akan membuatku menoleh ke belakang dan berharap seseorang masih berada di sana.
...***...
Waktu terus berjalan dan hari-hariku mulai dipenuhi dengan kegiatan sekolah, belajar, serta bermain bersama teman-teman. Aku mulai menikmati kehidupanku sebagai seorang murid sekolah dasar. Setiap pagi aku berangkat dengan penuh semangat, lalu pulang membawa cerita-cerita kecil yang ingin kubagikan kepada keluarga. Saat itu aku merasa bahwa kehidupanku mulai berjalan seperti anak-anak lainnya, dengan hari-hari sederhana yang dipenuhi kebahagiaan.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Saat aku duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, sebuah pagi yang tidak pernah kulupakan datang
menghampiri.
Sejak matahari belum terlalu tinggi, aku melihat rumah ibu tiriku yang berada tidak jauh dari rumah Ibu mulai dipenuhi oleh banyak orang. Rumah itu adalah tempat Ayah tinggal selama beliau sakit. Orang-orang datang silih berganti dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Tidak ada suasana ramai seperti ketika orang-orang berkumpul dalam kebahagiaan. Yang terlihat hanya wajah-wajah muram dan tatapan penuh kesedihan.
Aku berdiri bersama kedua adikku yang saat itu masih kecil di depan rumah sambil memperhatikan orang-orang yang keluar masuk rumah tersebut. Sebagai seorang anak kecil, aku belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku hanya merasa heran mengapa banyak orang datang, tetapi suasananya terasa begitu berbeda.
Di antara orang-orang yang berada di sana, aku melihat Ucaluna duduk tidak jauh dariku. Ia hanya memandangi tanah sambil memainkan batu kecil yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya, sehingga membuatku merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Aku kemudian menghampiri Ucaluna.
"Ucaluna, kenapa di sana ramai sekali?" tanyaku.
Ucaluna tidak langsung menjawab. Ia tetap diam
sambil melihat ke arah tanah.
Karena rasa penasaran yang semakin besar, aku kembali bertanya,
"Ucaluna... memangnya ada apa?"
Beberapa kali aku mengulang pertanyaan yang sama hingga akhirnya Ucaluna menarik napas panjang. Ia kemudian menatapku dan berkata dengan suara pelan,
"Hitas... Ayah sudah pergi meninggalkan kita."
Aku hanya menatap wajah Ucaluna tanpa memahami maksud dari perkataannya. Saat itu pikiranku masih seperti anak kecil pada umumnya. Bagiku, kata pergi berarti seseorang sedang meninggalkan tempatnya untuk sementara waktu dan suatu hari nanti akan kembali lagi. Aku belum mengerti mengapa semua orang terlihat begitu sedih, dan aku juga belum memahami mengapa kepergian Ayah membuat rumah tersebut dipenuhi banyak orang.
Karena rasa ingin tahu yang terus muncul dalam pikiranku, aku berjalan menuju rumah ibu tiriku untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Ketika masuk ke dalam rumah, aku melihat Ayah sedang terbaring diam dengan tubuh yang telah diselimuti kain putih. Di sekelilingnya banyak orang menangis, sementara suara isak tangis memenuhi ruangan.
Aku berdiri sambil memandang wajah Ayah cukup lama. Saat itu aku masih berharap beliau akan membuka mata, memanggil namaku, atau tersenyum kepadaku seperti biasanya. Namun, Ayah hanya diam, dan aku belum mampu memahami bahwa keadaan tersebut berbeda dari ketika beliau sedang sakit.
Melihat orang-orang di sekelilingku menangis, aku pun ikut menangis. Bukan karena aku sudah memahami arti kehilangan, tetapi karena aku melihat kesedihan yang dirasakan oleh orang-orang yang kusayangi. Sebagai seorang anak kecil, aku hanya mampu merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi, meskipun aku belum tahu apa sebenarnya makna dari peristiwa tersebut.
Menjelang sore, tubuh Ayah kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam sebuah keranda. Banyak orang membantu membawa beliau menuju pemakaman. Ketika rombongan mulai berjalan meninggalkan rumah, seseorang memanggil namaku.
"Hitas... ikut bersama kami mengantar Ayah."
Aku mengikuti langkah orang-orang dewasa yang berjalan perlahan menuju pemakaman. Aku tidak bertanya apa maksud dari perkataan tersebut, karena saat itu aku hanya mengikuti mereka tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Dalam pikiranku yang masih kecil, aku hanya merasa bahwa Ayah sedang dibawa ke suatu tempat.
Sesampainya di pemakaman, aku melihat sebuah liang telah digali. Aku berdiri sambil memperhatikan proses yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Perlahan tubuh Ayah diturunkan ke dalam liang tersebut, kemudian tanah mulai menutupi tempat itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya Ayah tidak lagi terlihat.
Aku masih berdiri memperhatikan semuanya, meskipun saat itu aku belum memahami bahwa aku sedang menyaksikan perpisahan terakhirku dengan Ayah. Ketika proses pemakaman selesai, orang-orang mulai berjalan pulang dan aku pun mengikuti mereka. Namun, beberapa kali aku menoleh ke belakang, memandang tempat di mana Ayah baru saja dimakamkan.
Dalam hati kecilku muncul sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih kuingat,
"Kenapa Ayah ditinggalkan sendirian di sana?"
Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan itu.
Hari itu aku belum memahami bahwa kepergian Ayah adalah sebuah perpisahan yang tidak akan pernah diikuti oleh pertemuan kembali. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti kehilangan, tetapi kejadian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupku yang perlahan membentuk diriku hingga dewasa.
Hari-hari setelah kepergian Ayah berjalan dengan suasana yang berbeda. Meskipun saat itu aku belum sepenuhnya memahami apa arti kehilangan, aku mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam kehidupanku. Aku masih tetap bermain bersama teman-teman, masih pergi ke sekolah, dan masih menjalani hari-hari sebagai seorang anak kecil, tetapi ada satu sosok yang perlahan mulai tidak lagi kutemui seperti sebelumnya.
Aku masih sering berharap Ayah akan kembali pulang.
Dalam pikiranku yang masih sederhana, Ayah mungkin hanya sedang pergi ke suatu tempat. Aku belum mengerti bahwa ada jenis kepergian yang tidak akan membawa seseorang kembali ke rumah.
Beberapa hari setelah pemakaman Ayah, rumah ibu tiriku kembali dipenuhi oleh banyak orang. Sejak pagi, para tetangga mulai berdatangan. Para ibu sibuk menyiapkan makanan di dapur, sementara para bapak membantu mempersiapkan tempat untuk berkumpul. Berbagai macam hidangan dan kue tersusun di atas meja, membuat rumah itu terlihat ramai seperti sedang mengadakan sebuah acara besar.
Sebagai seorang anak kecil, aku hanya memperhatikan semua yang terjadi dengan rasa penasaran. Aku melihat banyak orang datang, melihat makanan yang begitu banyak, dan melihat orang-orang duduk bersama. Saat itu aku belum mengetahui bahwa mereka berkumpul bukan untuk sebuah pesta, melainkan untuk mendoakan Ayah yang telah pergi.
Beberapa hari kemudian, suasana yang sama kembali terjadi. Pada hari ketujuh, rumah itu kembali dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk berdoa. Begitu juga ketika hari keempat puluh dan hari keseratus tiba. Setiap kali acara tersebut berlangsung, aku selalu melihat banyak orang berkumpul, makanan disiapkan, dan doa-doa dipanjatkan.
Namun, dari semua hal yang kulihat, ada satu hal yang selalu membuatku bertanya-tanya.
Aku tidak pernah lagi melihat Ayah.
Awalnya aku masih percaya bahwa Ayah hanya sedang pergi jauh. Aku membayangkan suatu hari nanti beliau akan kembali pulang, berjalan masuk ke rumah, lalu memanggil namaku seperti biasanya. Aku tidak tahu bahwa harapan kecil itu sebenarnya adalah cara seorang anak mencoba memahami sesuatu yang terlalu berat untuk diterima.
Hingga suatu sore, ketika aku sedang bermain bersama teman-temanku di sekitar rumah, sebuah percakapan sederhana membuatku mulai memahami kenyataan yang selama ini belum mampu kupahami.
Salah seorang temanku bertanya kepadaku,
"Hitas, kenapa ayahmu tidak pernah pulang?"
Aku hanya diam. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, karena dalam pikiranku Ayah memang sedang pergi dan mungkin akan kembali suatu hari nanti.
Melihat aku tidak menjawab, mereka saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan suara pelan,
"Orang yang sudah meninggal tidak akan pulang lagi."
Aku terdiam mendengar kalimat itu.
Saat itu aku mulai mencoba memahami arti dari perkataan tersebut. Perlahan, ingatanku kembali kepada kejadian beberapa waktu sebelumnya. Aku teringat ketika melihat Ayah terbaring dengan kain putih yang menyelimuti tubuhnya, teringat banyak orang menangis di sekelilingnya, teringat keranda yang dibawa menuju pemakaman, dan teringat tanah yang perlahan menutupi tempat Ayah terakhir kali berada.
Semua kenangan itu kembali memenuhi pikiranku.
Barulah saat itu aku mulai memahami bahwa Ayah benar-benar telah pergi.
Ayah bukan sedang bekerja.
Ayah bukan sedang bepergian.
Ayah tidak akan kembali pulang seperti yang selama ini kuharapkan.
Air mataku perlahan jatuh. Bukan karena aku baru kehilangan Ayah pada hari itu, tetapi karena pada hari itulah aku mulai memahami arti kehilangan yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa ada seseorang yang sangat kusayangi, tetapi tidak akan pernah lagi bisa kupanggil atau kutemui seperti sebelumnya.
Sejak saat itu, setiap kali aku melewati pemakaman, pikiranku selalu kembali kepada Ayah. Aku sering bertanya dalam hati apakah Ayah bisa melihatku tumbuh besar, apakah Ayah tahu bahwa aku mulai bersekolah, belajar membaca, dan menulis. Aku juga sering bertanya apakah Ayah akan bangga melihat anak kecilnya yang dulu masih tidak mengerti apa-apa kini mulai menjalani kehidupannya.
Tidak ada jawaban yang pernah kudengar.
Namun, waktu perlahan mengajarkanku bahwa kepergian seseorang tidak selalu berarti hilangnya kasih sayang. Meskipun Ayah tidak lagi berada di sampingku, kenangan tentang beliau tetap tinggal dalam hidupku. Cara beliau memanggil namaku, senyum yang pernah diberikan kepadaku, dan perhatian kecil yang dulu mungkin tidak kusadari, semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami seluruh rahasia kehidupan. Aku belum mengerti mengapa seseorang harus pergi, mengapa sebuah perpisahan bisa terasa begitu berat, dan mengapa ada kerinduan yang tidak memiliki tempat untuk dituju.
Namun, tanpa kusadari, kepergian Ayah menjadi salah satu bagian awal yang membentuk perjalanan hidupku. Sebuah pengalaman yang mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi setiap kejadian selalu meninggalkan pelajaran yang suatu hari akan kita pahami.
...***...
Beberapa minggu setelah itu, kehidupanku perlahan kembali berjalan seperti biasa. Aku kembali bersekolah, bermain bersama teman-teman, dan menjalani hari-hari seperti anak kecil pada umumnya. Meskipun begitu, ada satu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap pulang sekolah. Aku sering berjalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah sebelum pulang ke rumah.
Di seberang sekolahku berdiri sebuah rumah yang selalu menarik perhatianku. Rumah itu tampak begitu teduh dan asri. Halamannya dipenuhi bunga-bunga yang tumbuh dengan rapi, seolah setiap sudutnya dirawat dengan penuh kasih sayang. Di tengah halaman terdapat sebuah kolam ikan dengan air yang begitu jernih, tempat ikan-ikan berenang tenang di bawah rindangnya pepohonan.
Hampir setiap sore aku berdiri di balik pagar rumah itu sambil memperhatikan suasana di dalamnya. Aku sering melihat seorang ibu menyiram bunga dengan wajah yang tenang, sementara tidak jauh darinya seorang bapak merawat tanaman dan sesekali memperhatikan kolam ikan. Mereka berbincang dengan penuh kehangatan, lalu saling tersenyum. Entah mengapa, setiap kali melihat pemandangan itu, hatiku selalu merasa damai.
Rumah itu tampak begitu nyaman. Bukan karena bangunannya yang indah, tetapi karena kehangatan yang terpancar dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dalam hati kecilku, aku selalu berdoa.
"Ya Allah... semoga suatu hari nanti Hitas bisa tinggal di rumah itu."
Aku mengucapkan doa itu tanpa pernah menyangka bahwa Allah sedang menyiapkan jawaban dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.
Beberapa minggu kemudian, Nenek memanggilku bersama kakakku.
"Hitas, ayo ikut Nenek."
Tanpa banyak bertanya, kami mengikuti langkah beliau menyusuri jalan kampung. Semakin jauh kami berjalan, semakin terasa bahwa jalan yang kami lewati sangat familiar. Hingga akhirnya langkah kami berhenti tepat di depan rumah yang selama ini hanya bisa kupandangi dari balik pagar sekolah.
Aku terdiam beberapa saat. Rumah itu kini benar-benar berada di hadapanku.
Dengan perasaan campur aduk aku melangkah memasuki halaman. Dari dekat, rumah itu terlihat jauh lebih indah daripada yang selama ini kulihat. Udara di sekitarnya terasa sejuk, aroma bunga memenuhi halaman, sementara suara gemericik air dari kolam ikan membuat suasana terasa begitu damai.
Pemilik rumah menyambut kami dengan senyum hangat dan mempersilakan kami masuk. Di atas meja telah tersedia berbagai macam makanan dan kue. Aku dan kakakku yang masih kecil langsung menikmati hidangan itu dengan perasaan senang.
Setelah beberapa saat, aku menoleh kepada Nenek.
"Nek, ini rumah siapa?"
Nenek tersenyum lembut.
"Ini rumah adik Nenek.
Barulah aku mengetahui bahwa rumah itu adalah milik adik kandung Nenek, yaitu Pak Inanta.
Menjelang sore, Nenek menyuruhku dan kakakku mandi di rumah itu. Awalnya kami merasa malu karena belum terbiasa berada di tempat tersebut. Kami hanya saling berpandangan sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi. Ketika melewati dapur, mataku tertuju kepada seorang perempuan berambut panjang yang sedang memasak. Dapur itu terlihat sangat bersih dengan nuansa merah muda yang membuat suasananya terasa hangat. Perempuan itu menoleh ke arah kami lalu memberikan senyum yang begitu ramah. Senyum sederhana itu perlahan menghilangkan rasa canggung yang sejak tadi kurasakan.
Setelah selesai mandi, kami berpamitan dan pulang bersama Nenek. Namun beberapa hari kemudian, beliau kembali mengajak kami datang ke rumah itu. Kali ini suasananya terasa berbeda. Nenek berbincang cukup lama dengan Pak Inanta dan istrinya, sementara aku dan kakakku hanya duduk diam mendengarkan meskipun tidak memahami isi pembicaraan mereka.
Tidak lama kemudian, perempuan yang tinggal di rumah itu menatap kami dengan penuh kasih sayang.
"Kalau kalian berdua bersedia, tinggallah bersama kami."
Aku hanya saling berpandangan dengan kakakku. Kami masih terlalu kecil untuk memahami maksud dari perkataan itu. Yang kami rasakan hanyalah kehangatan dari orang-orang yang menerima kami dengan begitu tulus.
Setelah itu, Nenek mulai menceritakan sebuah mimpi yang pernah beliau alami. Dalam mimpi tersebut, beliau melihat dua bilah pisau, satu berada di bawah kolong rumah dan satu lagi berada di dalam rumah. Ibuku datang dan meminta agar kedua bilah pisau itu diantarkan kepada Pak Inanta.
Saat itu aku belum memahami arti cerita tersebut. Bertahun-tahun kemudian aku baru mengetahui bahwa menurut keyakinan Nenek, dua bilah pisau itu bukanlah sekadar benda, melainkan lambang diriku dan kakakku. Karena itulah beliau merasa bahwa kami harus diantarkan kepada Pak Inanta dan keluarganya.
Aku tidak tahu apakah mimpi itu memiliki makna khusus atau hanya menjadi keyakinan yang hidup dalam keluargaku. Namun, ada satu hal yang sangat kuingat hingga sekarang.
Rumah yang selama ini hanya bisa kupandangi dari balik pagar sekolah perlahan menjadi bagian dari kehidupanku.
Dan tanpa kusadari, langkah kecilku memasuki rumah itu menjadi awal dari sebuah kisah baru, kisah yang perlahan mengajarkanku arti keluarga, kasih sayang, dan rumah yang sesungguhnya.
...***...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!