Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Figuran Sang Pewaris

Perfect Shot!

"Satu, dua, tiga... aksi!"

Suara megafon sutradara menggelegar di area pasar malam buatan itu. Di tengah sorotan lampu syuting yang menyengat, seorang aktris cantik bergaun merah berlari sambil menangis, lalu pura-pura tersandung.

Di belakangnya, Alina Savina, memakai wig murah acak-acakan dan kostum badut separuh badan harus berakting terkejut, menjatuhkan gulali di tangannya, lalu ikut tersungkur demi menambah efek dramatis kekacauan di latar belakang.

Bruk!

Alina mendarat dengan lutut telanjang di atas paving blok yang kasar. Rasa perih langsung menusuk kulitnya, tapi dia tidak berani meringis. Dia tetap tiarap, menahan napas sampai terdengar teriakan yang paling ditunggunya malam ini.

"Oke, cut! Bagus, bungkus untuk adegan ini!" ucap sang sutradara.

Begitu kru mulai bubar untuk memindahkan kamera, Alina perlahan bangkit. Lututnya gemetar, meninggalkan bekas merah keunguan dan sedikit berdarah. Dia mengabaikan rasa sakit itu, buru-buru melepas kepala badut yang pengap dan menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Fokusnya hanya satu yaitu tenda koordinator figuran.

"Mbak Amel, permisi... uang honor saya untuk hari ini bisa diambil sekarang?" tanya Alina, napasnya masih memburu saat menghampiri meja koordinator.

Perempuan paruh baya bernama Amel itu mendongak, lalu menghela napas panjang sambil membolak-balik catatan di tabletnya.

"Alina, kan? Kamu baru main dua scene hari ini. Peraturannya kan kolektif, cair seminggu sekali dari agensi pusat." ucap Mbak Amel.

Wajah Alina seketika pias. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon dengan sangat.

"Saya mohon banget, Mbak. Adik saya... malam ini harus tebus obat jantungnya. Kalau telat sehari aja, dia bisa sesak napas parah. Tolong kebijakan dari Mbak Amel, potong administrasi juga enggak apa-apa, Mbak." mohon Alina.

Melihat gurat kelelahan yang teramat sangat di wajah Alina yaitu lingkaran hitam di bawah mata dan bibir yang pucat, Mbak Amel akhirnya mendengus pelan. Dia membuka dompetnya, menarik selembar uang seratus ribuan dan dua lembar dua puluh ribuan.

"Nih, seratus empat puluh ribu. Udah saya potong ya. Jangan bilang-bilang figuran yang lain, bisa protes mereka."

"Terima kasih banyak, Mbak! Terima kasih!" Alina membungkuk berkali-kali, menerima uang lecek itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.

Tanpa membuang waktu untuk mengganti baju badutnya yang gerah, Alina langsung menyambar tas ransel usangnya. Di dalam sana sudah ada jaket ojek online yang siap dia kenakan.

Ya, setelah jam syuting figuran selesai, malamnya Alina berganti profesi menjadi pengantar makanan demi menutup kekurangan biaya hidup mereka.

Dia berlari menuju motor bebek tua miliknya yang terparkir di pojok area studio. Setelah menghidupkan aplikasi di ponselnya yang layarnya sudah retak seribu, Alina langsung memakai jaket hijau tersebut di atas kaos oblongnya. Beruntung, sebuah pesanan makanan instan masuk. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Agra sering dirawat.

"Oke, satu rute lagi habis itu langsung ke apotek." gumam Alina pada dirinya sendiri, mencoba menyuntikkan semangat ke dalam tubuhnya yang sudah menjerit minta istirahat.

Jalanan ibu kota menjelang tengah malam mulai lengang, namun sisa-sisa hujan sore tadi membuat aspal menjadi basah dan licin. Pikiran Alina melayang pada Agra, adiknya yang baru berusia lima belas tahun.

Sejak orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan tiga tahun lalu, Agra adalah satu-satunya alasan Alina tetap bertahan hidup. Namun, takdir begitu kejam. Agra didiagnosis menderita penyakit jantung bawaan yang kian hari kian menggerogoti tubuh kurusnya.

Biaya rawat jalan, obat-obatan khusus yang tidak dicover penuh, belum lagi biaya sewa kontrakan sepetak mereka, semuanya menumpuk di pundak sempit Alina yang baru berusia dua puluh dua tahun.

"Alina, kamu harus kuat. Sedikit lagi," bisiknya di balik helm.

Dia menghentikan motornya di depan restoran cepat saji, mengambil pesanan berupa paket burger dan kopi besar, lalu memasukkannya ke dalam tas wadah di bagian belakang motor. Tujuan pengantaran yaitu sebuah kawasan apartemen mewah di pusat kota.

Sesampainya di lobi apartemen yang berkilau mewah, Alina sempat merasa minder dengan pakaiannya yang agak kotor terkena debu lokasi syuting tadi. Dia menitipkan kartu identitasnya di pos satpam, lalu naik ke lantai dua puluh satu menggunakan lift khusus karyawan.

Ting.

Alina melangkah keluar, menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap. Dia menemukan pintu nomor 2108. Dia mengetuk pintu kayu ek tebal itu dengan sopan.

"Permisi, pengantar makanan." panggil Alina.

Pintu terbuka beberapa detik kemudian. Seorang pria muda dengan pakaian kasual namun bermerek mahal muncul. Dia tampak terburu-buru.

"Ah, ini uang pasnya, ya. Ambil aja kembaliannya," kata pria itu sambil menyodorkan selembar uang seratus ribuan, lalu menyambar kantong makanan dari tangan Alina. Sebelum Alina sempat mengucapkan terima kasih, pintu sudah ditutup kembali dengan rapat.

Alina menatap lembaran uang di tangannya. Ongkos kirimnya hanya dua puluh ribu, berarti dia mendapat tip ekstra. Lengkungan senyum tipis akhirnya terukir di wajah lelahnya.

"Lumayan bisa buat tambahan beli susu tinggi kalori buat Agra." ujar gadis itu.

Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11.45 malam. Alina bergegas turun ke parkiran bawah tanah lewat lift barang.

Tubuhnya sudah sangat lelah, pandangannya bahkan beberapa kali sempat mengabur karena kurang tidur selama tiga hari terakhir. Dia hanya tidur dua sampai tiga jam sehari di sela-sela mengantri giliran syuting dan menyusuri jalanan kota.

...****************...

Di sisi lain Lampu-lampu sorot berdaya ribuan watt yang menggantung di langit-langit studio terpadu Alexander Media menyala serentak, menciptakan ilusi siang hari yang sempurna di dalam ruangan kedap suara tersebut.

Di tengah-tengah set dekorasi yang dirancang menyerupai ruang kerja seorang bangsawan Eropa abad ke-19, berdiri Leon Gennadi Alexander.

Dia sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Saat kamera berukuran raksasa itu bergerak mendekat tanpa suara, Leon adalah Duke Nicholas, seorang penguasa tiran yang patah hati.

Tatapan matanya yang tajam mengunci lawan mainnya yaitu seorang aktris papan atas peraih penghargaan internasional dengan intensitas yang begitu kuat hingga atmosfer di dalam studio terasa mencekam.

"Jika dunia ini melarangku memilikimu," ucap Leon, suaranya rendah, serak, namun bergetar oleh emosi yang tertahan dengan sangat presisi.

"Maka aku akan menghancurkan dunia ini, beserta seluruh aturan konyol di dalamnya."

Satu detik. Dua detik. Air mata tunggal jatuh melewati rahang tegas Leon yang tercukur rapi.

"Oke, cut! Sempurna! Perfect shot!" teriakan sutradara memecah keheningan yang sempat menyelimuti seluruh kru yang menahan napas sejak tadi. Tepuk tangan riuh langsung membahana di seluruh penjuru studio.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Papan Catur

Dalam sekejap, air mata di pipi Leon kering. Ekspresi keputusasaan yang begitu dalam di wajahnya menguap tanpa bekas, digantikan oleh raut wajah datar, dingin, dan cenderung acuh tak acuh yang menjadi ciri khas aslinya.

Dia tidak membalas pujian sutradara atau senyuman manis dari lawan mainnya. Pria itu hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah turun dari set menuju area pribadinya tanpa banyak bicara, hanya dengan wajah dinginnya.

"Handuk, Tuan Leon." Jefri, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Leon yang sudah bekerja bersamanya selama tujuh tahun, dengan cekatan menyodorkan handuk kecil dan sebotol air mineral dingin.

Leon menerimanya tanpa suara, menyeka sisa keringat di lehernya sambil berjalan menuju ruang VIP lounge yang dikhususkan hanya untuknya.

Di industri hiburan negeri ini, Leon Gennadi Alexander bukan sekadar aktor. Dia adalah fenomena. Setiap film yang dibintanginya dijamin menembus rekor box office, setiap serial yang memajang wajahnya akan merajai rating, dan setiap produk yang menjadikannya brand ambassador akan habis terjual dalam hitungan jam.

Namun, di balik semua gemerlap layar perak itu, industri hiburan hanyalah taman bermain kecil bagi Leon. Di luar statusnya sebagai aktor nomor satu, dia adalah pewaris tunggal dari Alexander Group, kekayaan yang tiada tandingannya.

Sebuah imperium bisnis raksasa yang gurita bisnisnya mencakup bidang properti, perhotelan, teknologi, hingga media massa, baik di dalam negeri maupun jaringan internasional yang berpusat di London dan New York.

"Jef, jadwalku setelah ini apa?" tanya Leon sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk. Dia melonggarkan kerah kemeja periodik yang terasa mencekik lehernya.

Jefri segera membuka gawai tabletnya, jemarinya bergerak lincah. "Setelah ini tidak ada jadwal syuting lagi untuk minggu ini, Tuan. Anda bebas dari komitmen Alexander Media. Namun, Tuan Besar Bramantyo Alexander, kakek Anda meminta Anda hadir di kantor pusat besok jam sembilan pagi. Ada rapat direksi mengenai akuisisi lahan di koridor barat." ucap Jefri dengan presisi tidak ada yang terlewat karena dia tahu seberapa disiplin sang tuan.

Leon memejamkan matanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Kakek masih belum menyerah untuk menarikku sepenuhnya dari studio?" seru Leon.

"Anda tahu sendiri bagaimana Tuan Besar, Tuan Leon. Baginya, berakting di depan kamera hanyalah hobi masa muda yang membuang-buang waktu. Beliau ingin Anda segera duduk di kursi CEO utama sebelum akhir tahun ini." jawab Jefri dengan nada hati-hati, sangat memahami dinamika rumit antara sang majikan dan kepala keluarga Alexander tersebut.

Leon mendengus sinis. Kehidupan seorang Leon Gennadi Alexander dari luar tampak seperti impian semua orang. Wajah tampan tanpa cela, bakat yang diakui dunia, kekayaan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan, dan kekuasaan yang mampu menggerakkan roda ekonomi sebuah negara.

Namun, kenyataannya, hidup Leon seperti berada di dalam sangkar emas yang pintunya dikunci rapat dari luar oleh ambisi keluarganya, membuatnya menjadi seseorang yang dingin dan kaku seperti sekarang ini.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat dia masih berusia sepuluh tahun, Leon dibesarkan dengan tangan besi oleh kakeknya, Bramantyo Alexander, dan neneknya, Kartika Alexander.

Baginya, kata pilihan adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dia dididik di sekolah-sekolah terbaik di Swiss, mengambil gelar ganda di bidang bisnis dan hukum di Harvard, semuanya demi satu tujuan yaitu menjadi mesin penggerak Alexander Group yang sempurna.

Dunia akting adalah satu-satunya pemberontakan kecil yang berhasil Leon pertahankan. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa nama besar Alexander pun, dia bisa menaklukkan dunia dengan kemampuannya sendiri. Dan dia berhasil.

Namun, semakin tinggi posisinya di dunia hiburan, semakin kuat pula tekanan dari rumah utama keluarga Alexander untuk memulangkannya ke jalur yang seharusnya.

"Lalu, bagaimana dengan urusan... Nenek?" tanya Leon lagi, matanya masih terpejam namun rahangnya mengencang.

Jefri berdeham pelan, tampak agak segan untuk menyampaikan poin berikutnya.

"Nyonya Besar Kartika sudah mengirimkan profil tiga gadis lagi ke apartemen Anda pagi ini, Tuan. Semuanya dari latar belakang keluarga terpandang. Ada putri bungsu dari pemilik bank swasta terbesar, cucu dari mantan menteri, dan pewaris bisnis perhiasan internasional. Nyonya Besar menegaskan bahwa Anda harus memilih salah satu untuk diajak makan malam keluarga minggu depan. Jika tidak, beliau sendiri yang akan menentukan tanggal pertunangan Anda dengan pilihan Kakek." sahut Jefri dengan hati-hati karena ini adalah salah satu pembahasan yang cukup sensitif.

Leon membuka matanya yang tajam. Kilatan kemarahan melintas di bola mata gelap itu.

"Perjodohan bisnis berkedok pernikahan. Mereka benar-benar menganggap hidupku ini seperti papan catur." ucap Leon begitu muak dengan pembahasan itu.

Bagi keluarga Alexander, pernikahan bukanlah tentang cinta atau komitmen emosional. Pernikahan adalah merger dua korporasi besar, sebuah transaksi strategi untuk memperluas wilayah kekuasaan bisnis.

Leon tahu persis apa yang terjadi pada mendiang ayahnya dulu, yang terpaksa menikahi ibunya karena tuntutan bisnis, membuat masa kecil Leon dihiasi oleh dinginnya hubungan kedua orang tua yang tidak pernah saling mencintai hingga maut menjemput mereka.

Leon bersumpah, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang neraka yang sama, bahkan selama ini banyak wanita gang menggoda dan mencoba membuat skandal dengannya namun Leon tidak pernah menggubris nya.

"Tuan Leon, apa Anda ingin saya mengatur penolakan halus seperti biasanya?" tanya Jefri menawarkan solusi.

"Tidak perlu, Jef. Penolakan halus tidak akan mempan lagi kali ini. Nenek sudah memberikan ultimatum," kata Leon, suaranya berubah menjadi sangat dingin.

Dia bangkit dari sofa, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan, menatap pantulan dirinya yang mengenakan baju mewah seorang Duke.

Di dunia nyata, dia harus menjadi sutradara bagi hidupnya sendiri, setidaknya untuk urusan yang satu ini. Leon tidak ingin terikat dengan wanita dari kalangan elit. Wanita-wanita itu egois, haus kekuasaan, dan setiap senyuman mereka selalu memiliki harga yang harus dibayar oleh Alexander Group.

Jika dia harus menikah demi meredam tuntutan kakek dan neneknya, maka dia harus memilih seseorang yang berada di bawah kendali penuhnya.

Seseorang yang tidak memiliki kekuatan politik atau finansial untuk menuntut apa pun darinya. Seseorang yang murni bisa dia beli dengan uang, gunakan kegunaannya, lalu singkirkan saat kontrak selesai tanpa ada drama keluarga besar yang merepotkan.

"Jef, siapkan mobil sport hitamku malam ini. Aku ingin menyetir sendiri. Jangan ada pengawalan," perintah Leon tiba-tiba.

"Tapi Tuan, ini sudah malam, dan besok pagi Anda ada rapat penting..." ucap sang asisten terpotong.

"Ini perintah, Jefri." potong Leon tanpa bantahan.

"Baik, Tuan. Saya laksanakan."

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Tabrakan

Dua jam kemudian, Leon sudah berganti pakaian dengan setelan jas kasualnya sendiri. Dia meninggalkan area studio pribadi lewat pintu belakang guna menghindari kejaran para pemburu berita dan penggemar yang selalu setia menunggu di depan gerbang utama.

Malam itu, hujan mengguyur ibu kota dengan deras, menyisakan hawa dingin dan jalanan yang basah. Leon memacu mobil sedan sport hitam mewahnya membelah jalanan protokol.

Pikirannya berkecamuk hebat. Rapat direksi besok pagi, tumpukan berkas laporan keuangan kuartal pertama dari lima anak perusahaan yang harus dia tandatangani, dan yang paling memuakkan yaitu wajah-wajah penuh senyum palsu dari para gadis sosialita yang disodorkan neneknya.

Leon merasa tercekik. Dia membutuhkan ketenangan, atau setidaknya, sebuah ruang di mana dia tidak perlu berpura-pura menjadi aktor nomor satu atau pewaris takhta Alexander.

Dia memutuskan untuk kembali ke penthouse pribadinya yang terletak di kawasan apartemen eksklusif di pusat kota yaitu sebuah tempat rahasia yang bahkan kakek dan neneknya tidak tahu kode aksesnya.

Dia membelokkan mobilnya memasuki area kompleks apartemen mewah tersebut. Suasana sunyi parkiran bawah tanah menyambutnya saat dia melewati gerbang sensor otomatis.

Leon menurunkan kecepatan mobilnya, menghela napas panjang, bersiap untuk memarkir kendaraannya dan menenggelamkan diri dalam keheningan malam.

Namun, hidup Leon malam itu tampaknya memang sudah dijadwalkan untuk berubah total. Saat dia mulai mengarahkan mobilnya menuruni tanjakan landai menuju area parkir khusus penghuni di basement lapis kedua, sebuah lampu motor tua dari arah berlawanan mendadak muncul dari balik tikungan tajam, melanggar batas jalur dengan kecepatan yang tidak semestinya.

Leon terkejut, namun refleksnya sebagai mantan atlet anggar masa sekolah membuatnya langsung menginjak rem dengan paksa.

Cittt!

Ban mobil sport mahal itu mencicit keras di atas permukaan semen yang lembab.

Di sisi lain, di basement yang remang-remang, Alina menaiki motor bebeknya. Dia menghidupkan mesin yang terdengar batuk-batuk kecil sebelum akhirnya menyala. Alina mulai menjalankan motornya menuju jalan keluar basement yang berupa tanjakan memutar.

Namun, tepat saat motornya berada di tengah tanjakan yang agak curam dan menikung tajam, mendadak dari arah berlawanan yaitu dari arah masuk basement sebuah mobil sedan hitam mewah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Sorot lampu high beam dari mobil tersebut sangat menyilaukan, langsung menghantam kornea mata Alina yang sudah sangat lelah.

"Aah!" Alina spontan memejamkan mata, refleks tangannya menarik rem depan dengan sangat keras.

Rem motor tuanya yang sudah usang tidak mampu menahan gaya gerak di jalanan yang agak basah karena rembesan air bawah tanah. Motor bebek itu tergelincir, bannya kehilangan traksi. Alina kehilangan kendali sepenuhnya.

Dalam hitungan detik yang terasa berjalan sangat lambat, motor Alina terseret ke samping kanan, dan bagian depan motornya menghantam bemper depan mobil mewah tersebut dengan suara benturan yang cukup keras.

BRAKK!

Tabrakan keras itu tak terhindarkan lagi saat besi tua motor tersebut menghantam sudut kiri bemper mobil sport tersebut.

Yap itu adalah mobil Leon, Leon sendiri terdiam di balik kemudi selama beberapa detik, tangannya masih mencengkeram setir dengan erat. Napasnya memburu, bukan karena takut, melainkan karena rasa kesal yang luar biasa yang mendadak membakar dadanya.

Di tengah semua tekanan hidup yang sedang dihadapinya, sekarang ada orang asing bodoh yang merusak mobil kesayangannya di rumahnya sendiri.

Sedangkan Alina terlempar dari motornya, tubuhnya berguling di atas semen kasar lantai basement. Siku dan lutut yang sudah terluka sejak sore tadi kembali terbentur keras. Helmnya terlepas, berguling menjauh. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke seluruh tubuhnya.

Dia terengah-engah di lantai, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang beberapa detik. Di depannya, mobil sedan sport ultra mewah berwarna hitam legam itu berhenti mendadak dengan posisi miring. Lampu depannya masih menyala terang, menyinari tubuh Alina yang terkapar.

Pintu kemudi mobil mewah itu terbuka. Seorang pria keluar dari sana. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai semen. Alina mencoba mendongak, pandangannya yang kabur perlahan mulai fokus menangkap sosok tinggi menjulang yang berjalan mendekatinya.

Pria itu mengenakan setelan jas kasual tanpa dasi, kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian kerah. Wajahnya... Alina langsung mengenalinya bahkan dalam kondisi setengah sadar. Struktur rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, dan mata elang yang sangat dingin.

Dia adalah Leon Gennadi Alexander. Aktor papan atas yang wajahnya terpajang di setiap papan reklame raksasa di pusat kota, sekaligus nama yang selalu disebut-sebut di berita bisnis sebagai pewaris tunggal Alexander Group, konglomerat nomor satu di negara ini.

Leon tidak langsung menolong Alina. Dia berdiri di depan gadis itu, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Alina dengan tatapan yang sangat mengintimidasi dan dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang menghalangi jalannya.

"Kamu punya mata tidak?" suara Leon terdengar sangat berat, tajam, dan sama sekali tidak ramah.

"Ini jalur masuk, dan kamu melipir terlalu ke kanan dengan kecepatan seperti itu. Kamu sengaja?" terus nya.

Alina berusaha mendudukkan dirinya sambil memegang sikunya yang berdarah. Rasa perihnya membuat air matanya hampir menetes, tapi dia menahannya.

"Ma... maaf, Tuan. Lampu mobil Anda terlalu silau, saya... saya tidak bisa melihat jalan dengan jelas." ucap Alina.

Leon mendengus sinis, senyum meremehkan tercetak di bibirnya. Dia berbalik sejenak, memeriksa bagian depan mobil sport-nya yang kini lecet panjang dan penyok di bagian bemper kiri bawah akibat hantaman besi motor Alina.

"Maaf?" Leon berbalik lagi, menatap Alina dengan tatapan menuntut.

"Kamu tahu berapa harga bemper mobil ini? Catnya saja harus dipesan khusus dari Jerman. Ganti ruginya bisa membiayai hidupmu selama sepuluh tahun ke depan, Nona Ojek Online." suaranya dengan tegas dan dingin.

Mendengar kata ganti rugi dan sepuluh tahun, jantung Alina serasa berhenti berdetak. Rasa sakit di tubuhnya mendadak mati rasa, digantikan oleh ketakutan yang teramat sangat yang mencengkeram dadanya. Dia melihat motor bebeknya yang tergeletak mengenaskan dengan bensin yang mulai merembes keluar.

"Tuan... saya mohon maaf. Saya benar-benar tidak sengaja," suara Alina mulai bergetar, air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh membasahi pipinya yang kotor.

"Saya... saya tidak punya uang sebanyak itu. Tolong, Tuan... saya hanya seorang figuran dan pengantar makanan..."

Leon mendekat satu langkah, bayangannya yang besar mengurung tubuh kecil Alina yang terduduk di lantai.

"Saya tidak peduli apa pekerjaanmu. Kamu yang menabrak, kamu yang harus tanggung jawab. Hukumnya sederhana, bukan?" seru Leon.

Dan di sanalah semuanya dimulai, di bawah temaram lampu basement, Leon menatap sosok pengantar makanan yang terkapar, tanpa tahu bahwa gadis miskin itulah yang nantinya akan menjadi bidak catur utama dalam rencana pelariannya dari cengkeraman keluarga Alexander.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!