Indonesia
NovelToon NovelToon

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Mimpi Yang Hilang

“Bik… Bik Lili…” Suara Fisya terdengar lemah dari kamar.

Bik Lili yang sedang menyapu ruang tengah langsung menghentikan pekerjaannya, ia berlari menuju kamar majikannya itu.

“Bu?” panggilnya panik.

Saat pintu kamar terbuka, Bik Lili langsung membelalakkan mata.

Fisya duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya wajahnya pucat dan napasnya tidak teratur.

“Masyaallah, Bu… ibu mau melahirkan?” tanya Bik Lili panik.

Fisya mengangguk lemah.

“Sakit… Bik…”

Bik Lili langsung membantu Fisya berdiri namun baru beberapa langkah Fisya kembali meringis kesakitan.

“Aduh…”

“Ibu jangan jalan dulu, duduk dulu,” ucap Bik Lili buru-buru.

Tangannya gemetar, ini pertama kalinya ia menghadapi keadaan seperti ini.

Selama beberapa bulan bekerja di rumah itu, ia memang sudah sangat dekat dengan Fisya, wanita itu tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu.

Fisya selalu lembut padanya karena itu Bik Lili ikut panik melihat keadaan Fisya sekarang.

“Saya telpon bapak dulu ya, Bu.” ucap Bik Lili

Fisya mengangguk sambil memejamkan mata menahan sakit.

Bik Lili segera mengambil ponselnya lalu menelpon Jason.

Satu kali tidak diangkat, ia mencoba lagi beberapa kali tetap tidak diangkat.

“Ya Allah…” gumam Bik Lili panik.

Fisya kembali mengerang kesakitan dari atas ranjang.

“Bik…”

“Iya Bu, iya… sabar ya Bu.” jawab Bik lili

Karena Jason tidak menjawab telepon, Bik Lili langsung menelpon ambulans.

Untungnya rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Tidak sampai lima belas menit, suara sirine ambulans terdengar dari luar rumah.

Dua petugas medis masuk membawa ranjang dorong.

“Pasiennya di mana?”

“Di sini, Pak,” jawab Bik Lili cepat.

Mereka segera memeriksa kondisi Fisya.

“Kontraksinya sudah dekat harus segera dibawa.”

Fisya hanya bisa memegang perutnya sambil menarik napas panjang, Bik Lili ikut naik ke ambulans menemani Fisya.

Di dalam ambulans, Fisya terus memejamkan mata sambil menahan sakit.

“Kita hampir sampai sebentar lagi, Bu,” ucap Bik Lili berusaha menenangkan.

Fisya mengangguk lemah tangannya memegang erat tangan Bik Lili.

“Aku takut, Bik…”

“Jangan ngomong begitu, Bu. Ibu pasti kuat.” ucap Bik lili

Ambulans akhirnya tiba di rumah sakit para perawat langsung membawa Fisya menuju ruang persalinan.

“Suaminya mana?” tanya salah satu perawat.

Bik Lili terlihat bingung.

“Masih di jalan mungkin, Sus.”

Perawat itu mengangguk lalu segera membawa Fisya masuk, pintu ruang persalinan tertutup.

Bik Lili akhirnya duduk di kursi lorong rumah sakit sambil mengatur napas, tangannya masih gemetar.

Ia kembali mengambil ponselnya lalu menelpon Jason sekali lagi dan kali ini tersambung.

(“Halo, ada apa Bik? Aku sedang sibuk nanti telepon lagi saja.”) suara Jason terdengar buru-buru.

(“Pak, ibu mau melahirkan..”) Belum selesai Bik Lili bicara

Sambungan telepon langsung terputus karena Jason mematikannya.

Bik Lili menatap layar ponselnya dengan bingung.

“Bapak kok gitu…” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang lalu duduk diam namun beberapa menit kemudian, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

Jason

Pria itu berjalan cepat di lorong rumah sakit sambil mendorong kursi roda.

Di kursi roda itu duduk seorang wanita yang juga dikenalnya.

Kasandra.

Bik Lili langsung berdiri perlahan.

“Non Kasandra…” gumamnya kaget.

Selama bekerja di rumah Jason dan Fisya, ia memang beberapa kali melihat wanita itu datang ke rumah.

Fisya selalu menyambut Kasandra dengan baik karena menganggapnya sahabat sendiri namun sekarang Jason terlihat sangat panik untuk wanita itu.

Kasandra memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.

“Mas… sakit…”

“Iya sayang, tahan sedikit lagi.” jawab Jason

Bik Lili langsung membeku dan dadanya mendadak terasa tidak nyaman

"Sayang?" Ulang Bik Lili dalam hati

Perawat segera membawa Kasandra menuju ruang persalinan.

Dan yang membuat Bik Lili semakin terkejut Kasandra dibawa ke ruang yang sama dengan Fisya.

Jason baru menyadari keberadaan Bik Lili ketika ia berbalik.

Matanya langsung membelalak.

“Bibik?” ucapnya terkejut.

Bik Lili menelan ludah.

“Pak…”

Jason segera menghampirinya.

“Kamu ngapain malam-malam di sini?”

“Saya nganter ibu, Pak, tadi saya telepon bapak mau kasih tahu kalau ibu mau melahirkan.” ucap Bik Lili gugup

Wajah Jason langsung berubah.

“Apa?”

“Ibu juga melahirkan disini Pak.” ucap Bik Lili lagi

Jason terlihat panik tatapannya berubah gelisah.

“Jadi… tadi kamu lihat semua?”

Bik Lili terdiam beberapa detik lalu mengangguk pelan.

“Iya, Pak…”

Jason langsung menarik tangan Bik Lili menjauh dari lorong ruang persalinan.

“Pak… sakit…” ucap Bik Lili kaget.

Jason menatapnya tajam.

“Dengar ya, Bik, lebih baik bibi pulang sekarang.”

“Tapi ibu..” ucap Bik Lili

“Saya bilang pulang!” suara Jason agak meninggi

Bik Lili langsung diam ketakutan, napas Jason terdengar berat.

“Dan jangan kasih tahu Fisya apa pun tentang yang kamu lihat tadi.” ucap Jasan penuh penekanan

Bik Lili menatap Jason bingung.

“Tapi Pak…”

“Kasandra cuma teman.” ucap Jason lagi

Namun ucapan itu terdengar aneh bahkan untuk dirinya sendiri.

Karena Bik Lili jelas mendengar Jason memanggil Kasandra dengan panggilan sayang tadi.

“Saya gak akan ngomong apa-apa, Pak,” jawab Bik Lili pelan.

Jason akhirnya melepaskan tangannya.

“Bagus.”

“Tapi saya mau nunggu ibu melahirkan dulu.” ucap Bik Lili memohon

Jason terlihat kesal namun sebelum ia sempat bicara lagi, seorang dokter keluar dari ruang persalinan.

“Keluarga pasien Fisya Alexander?” ucap Dokter

Jason langsung menoleh.

“Saya suaminya.”

“Pasien sudah pembukaan lengkap kami akan segera melakukan proses persalinan.”

Jason mengangguk cepat.

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”

“Masih stabil.” Dokter kembali masuk.

Jason langsung memijat pelipisnya sendiri, satu sisi Fisya sedang melahirkan, di sisi lain Kasandra juga sedang melahirkan.

Hari yang sama dan rumah sakit yang sama bahkan ruang persalinan yang sama

Jason terlihat sangat tegang, Bik Lili diam-diam memperhatikan pria itu dan perasaannya mulai tidak enak.

Beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan.

Tangisan pertama Jason langsung berdiri tidak lama kemudian tangisan bayi kedua menyusul.

Lorong rumah sakit mendadak terasa sunyi bagi Bik Lili, dua bayi lahir hampir bersamaan.

Pintu ruang persalinan terbuka seorang perawat keluar sambil tersenyum.

“Selamat, Pak, bayinya perempuan dan istri bapak setelah melihat bayinya langsung pingsan" ucap perawat tersebut

Jason terlihat lega namun beberapa detik kemudian, perawat lain keluar lagi.

“Selamat juga, Pak, bayinya perempuan.” ucap perawat lain

Bik Lili langsung mengerutkan kening, ia mulai bingung.

Jason bahkan terlihat makin panik sekarang.

“Dua-duanya sehat?” tanya Jason cepat.

“Sejauh ini sehat.” ucap perawat yang membantu persalinan kasandra

Jason mengangguk pelan lalu ia melihat ke arah kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain.

“Dok… saya mau bicara sebentar.”

Ia memanggil salah satu dokter dengan wajah serius.

Dokter itu terlihat bingung namun tetap mengikuti Jason ke sudut lorong.

Bik Lili diam-diam memperhatikan dari jauh, ia tidak bisa mendengar semua pembicaraan mereka.

Namun ia melihat Jason menyelipkan sesuatu ke tangan dokter itu amplop tebal.

Wajah dokter itu berubah tegang Jason bicara pelan namun penuh tekanan dan Dokter itu beberapa kali terlihat ragu.

Bik Lili mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Beberapa menit kemudian dokter itu pergi, Jason mengusap wajahnya kasar lalu ponselnya berbunyi.

Ia segera mengangkat telepon.

(“Iya?”)

Suara wanita terdengar samar dari seberang Jason langsung menjauh sedikit.

(“Tenang… semua akan beres.”)

Bik Lili makin curiga tidak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil membawa dua bayi yang tertutup kain.

Perawat itu menuju ruangan bayi namun saat melewati lorong, salah satu kain bayi sedikit terbuka.

Bik Lili tanpa sengaja melihat gelang identitas di tangan bayi itu.

Bayi Fisya.

Beberapa detik kemudian, Jason berjalan mengikuti perawat itu diam-diam.

Bik Lili makin bingung, ia akhirnya mengikuti dari belakang.

Lorong menuju ruang bayi cukup sepi malam itu Jason masuk ke dalam ruangan bayi.

Pintunya tidak tertutup sempurna dan Bik Lili berdiri di luar dengan jantung berdebar.

Ia mendengar suara Jason.

“Yang ini untuk Kasandra.”

“Pak… ini berbahaya,” suara perawat terdengar takut.

“Saya akan tanggung semuanya.” ucap Jason

“Tapi kalau sampai ketahuan?" Tanya perawat tersebut

“Tidak akan.” ucap Jason penuh keyakinan

“Tapi ini salah, Pak…” ucap perawat itu lagi

Jason langsung memotong ucapan perawat itu.

“Kalau kamu masih mau bekerja di rumah sakit ini, lakukan saja.”

Perawat itu langsung diam tangannya gemetar saat membantu Jason memindahkan salah satu bayi ke ranjang kecil lainnya dan Jason memindahkan gelang identitasnya

Bik Lili langsung menutup mulutnya sendiri kaget dan air matanya hampir jatuh.

Ia mulai mengerti sekarang majikannya itu ingin menukar bayi mereka tangannya gemetar hebat

Perawat itu terlihat panik.

“Cepat,” ucap Jason dingin.

Bik Lili mundur perlahan dengan napas tidak teratur, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mulutnya tertutup rapat menahan suara tangis dadanya terasa sesak melihat semua yang terjadi di depan matanya sendiri.

Ia tidak pernah membayangkan pria yang selama ini terlihat tenang dan perhatian pada Fisya ternyata mampu melakukan hal sekeji itu.

Jason menatap kedua bayi itu beberapa detik lalu perlahan sudut bibirnya terangkat tipis.

“Mulai malam ini putriku dengan Kasandra akan mewarisi semua harta kekayaan keluarga Alexander nantinya" gumamnya pelan

__Bersambung__

**bantu like comen dan vote nya ya guys ☺️ terima kasih 🙏**

Sosok Misterius

Di ujung lorong yang gelap, seseorang berdiri memperhatikan dari balik bayangan dinding.

Tatapan orang itu tajam mengarah ke Jason, tangannya mengepal kuat sampai urat di lengannya terlihat jelas.

Orang itu mendengar semuanya, melihat semuanya dan jelas tahu apa yang baru saja dilakukan Jason.

Suasana lorong terasa semakin mencekam ketika Jason akhirnya keluar dari ruang bayi.

Bik Lili langsung panik, ia buru-buru mundur menjauh sebelum Jason melihatnya berdiri di sana jantungnya berdetak sangat cepat.

Ia berbelok ke lorong lain sambil memegang dadanya sendiri namun baru beberapa langkah, Bik Lili mendadak berhenti.

Tidak jauh di depannya ada seseorang berdiri dalam bayangan dan tubuh Bik Lili langsung menegang ketakutan.

Ia hampir berteriak sosok itu dengan cepat mengangkat telunjuk ke depan bibir

Memberi isyarat agar Bik Lili diam dan Bik Lili langsung menutup mulutnya sendiri lalu matanya membelalak karena melihat orang itu yang wajahnya ditutupi masker

Lorong rumah sakit malam itu sangat sepi hingga suara langkah kaki Jason masih terdengar samar dari kejauhan.

Sosok misterius itu sedikit menggeleng pelan seolah memperingatkan Bik Lili untuk tidak bertindak gegabah.

Sosok misterius itu kembali memberi isyarat cepat kepada Bik Lili agar tetap diam dan bersikap biasa dan menyuruh Bik Lili untuk pergi segera

Bik Lili akhirnya mengangguk pelan meski tubuhnya masih gemetar lalu ia dengan langkah cepat segera pergi keruangan tunggu

Beberapa detik kemudian, langkah kaki Jason terdengar semakin dekat.

Jason muncul dari ujung lorong dengan wajah dingin.

Matanya sempat melihat ke sekitar seperti memastikan tidak ada siapa pun di sana.

Bik Lili langsung menunduk gugup sedangkan sosok misterius tadi sudah menghilang entah ke mana.

Jason berjalan melewati Bik Lili yang sedang duduk diruang tunggu namun sebelum masuk keruangan, pria itu sempat berhenti beberapa detik.

“Bibi belum pulang?” tanya Jason

Bik Lili langsung menegang.

“S-saya mau lihat keadaan ibu dulu, Pak.”

Jason menatapnya lama seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah wanita itu.

Namun akhirnya ia mengangguk pelan.

“Jangan banyak bicara malam ini.”

Setelah mengatakan itu, Jason berjalan keruangan Kasandra terlebih dahulu karena Kasandra sudah dipindahkan ke kamar rawat Vip berdekatan dengan kamar Fisya

Dan ia juga ingin memberitahu Kasandra karena ia telah berhasil menukar bayi mereka

Ia langsung menuju kamar rawat Kasandra yang berada di lantai atas

Saat pintu kamar dibuka, Kasandra yang sedang berbaring langsung menoleh.

“Jason?” ucapnya pelan.

Jason segera masuk lalu menutup pintu rapat-rapat.

Kasandra langsung duduk perlahan meski tubuhnya masih lemah setelah melahirkan.

“Bagaimana?” tanyanya tidak sabar.

Jason mendekat lalu tersenyum tipis.

“Sudah berhasil.”

Mata Kasandra langsung berbinar.

“Benarkah?”

Jason mengangguk.

“Aku sudah menukar bayi kita.”

Kasandra langsung tertawa kecil penuh puas.

“Akhirnya…”

Ia memegang selimutnya erat-erat.

“Akhirnya anak kita nanti yang akan mewarisi semua harta keluarga Alexander.”

Jason duduk di samping ranjang.

“Mulai sekarang semua akan berubah.”

Kasandra tersenyum puas.

“Istrimu yang bodoh itu akan menjadi gelandangan miskin dan nanti kita yang akan merawat anak istri bodoh mu itu, kita akan jadikan anaknya Fisya itu babu dirumah kita"

Mereka berdua tertawa pelan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Kasandra lalu menatap Jason serius.

“Fisya tidak curiga?”

Jason menggeleng.

“Dia bahkan belum sadar penuh setelah melahirkan.”

Kasandra terlihat semakin lega.

“Bagus.”

Namun mereka tidak sadar… di balik pintu yang sedikit terbuka, seseorang sedang berdiri diam sambil memegang ponsel.

Kamera ponsel itu mengarah tepat ke arah Jason dan Kasandra, semua percakapan mereka terekam jelas.

Orang misterius itu tersenyum tipis sambil memperhatikan layar ponselnya.

“Rekaman ini akan berguna nantinya dan akan menjadi bukti ketika waktunya tiba,” gumamnya pelan dan senyumnya mengembang penuh arti.

Setelah memastikan rekamannya aman, orang itu perlahan menjauh dari kamar Kasandra tanpa suara.

Sedangkan di dalam kamar, Jason sama sekali tidak menyadari semuanya.

“Aku sudah bilang kan, semuanya pasti berhasil,” ucap Jason sambil menggenggam tangan Kasandra.

Kasandra tersenyum puas.

“Aku tidak sabar melihat Fisya kehilangan semuanya”

Jason menghela napas pelan.

“Sekarang yang penting kita harus hati-hati.”

Kasandra mengangguk.

“Tentu"

Jason lalu berdiri.

“Aku harus ke kamar Fisya sekarang.”

Kasandra tersenyum sinis.

“Pergilah ke istri bodoh mu itu.”

Jason langsung keluar dari kamar tanpa menyadari ada seseorang yang sejak tadi mengawasi mereka.

Sementara itu… Bik Lili perlahan masuk ke kamar rawat Fisya.

Ruangan itu cukup tenang hanya suara alat monitor yang terdengar pelan.

Fisya yang sebelumnya tertidur perlahan membuka mata saat mendengar pintu dibuka.

“Bik…” ucapnya lirih.

Bik Lili langsung mendekat.

“Iya Bu.”

Fisya terlihat sudah sedikit segar meski wajahnya masih pucat.

“Bibi sendirian? Di mana Mas Jason?”

Pertanyaan itu membuat Bik Lili gugup, ia langsung teringat semua yang dilihatnya malam ini.

“S-sebentar lagi ke sini, Bu,” jawabnya asal.

Fisya menatap Bik Lili beberapa detik seolah mencoba membaca ekspresinya.

Namun akhirnya ia mengangguk pelan.

“Bibi sudah lihat anak saya?”

Bik Lili langsung menggeleng cepat.

“Belum Bu.”

Fisya tersenyum tipis.

"Bibi tahu tidak kalau anak saya itu perempuan dan mempunyai tanda lahir bik"

Bik Lili hanya terdiam dan tersenyum kearah Fisya

Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka.

Jason masuk dengan wajah penuh perhatian.

“Sayang…”

Ia langsung menghampiri ranjang Fisya.

“Bagaimana keadaan kamu? Aku sangat khawatir sekali.”

Fisya menatap suaminya diam-diam.

“Tadi kamu habis melahirkan langsung pingsan,” lanjut Jason.

Fisya tersenyum tipis namun tatapannya sulit diartikan.

Jason mulai merasa tidak nyaman melihat cara istrinya menatap.

“Oh ya sayang, tadi aku lihat Kasandra juga melahirkan di sini.” ucap Jason mencoba mengalihkan suasana

Fisya langsung menoleh pelan.

“Oh ya?”

Jason mengangguk.

“Iya.”

“Apakah dia diantar suaminya?” tanya Fisya penuh arti.

Jason terlihat sedikit salah tingkah.

“Tidak, kasihan sekali dia, katanya suaminya sedang di luar kota.”

Fisya tersenyum kecil.

“Sama dong sama aku.”

Jason mengernyit.

“Maksudnya?”

“Sama-sama tidak diantar suami, sama-sama suami sibuk.” jawab Fisya

Ucapan Fisya membuat Jason langsung terdiam sesaat.

Ia tertawa kecil mencoba terlihat santai.

“Beda lah sayang, aku nungguin kamu tadi waktu melahirkan.”

Jason langsung melirik ke arah Bik Lili.

“Tanya saja Bik Lili.”

Bik Lili langsung gugup.

“I-iya Bu…”

Fisya kembali menatap Jason lama.

“Oh syukurlah Mas,” ucapnya pelan dengan nada aneh.

Jason mengusap tengkuknya sendiri entah kenapa malam ini ia merasa Fisya berbeda.

Tatapan istrinya membuatnya tidak nyaman.

“Anak kita sehat kan?” tanya Fisya pelan.

“Sehat dan anak kita perempuan yang cantik sama seperti ibunya" jawab Jason cepat.

Mata Fisya langsung berbinar.

“Benarkah?”

Jason mengangguk sambil tersenyum.

“Iya.”

Fisya terlihat lega.

“Alhamdulillah…”

Jason lalu melirik jam di tangannya.

“Bik, sudah malam banget. Bibi pulang saja, biar saya yang jaga ibu di sini.”

Bik Lili terlihat ragu namun sebelum ia menjawab, Fisya lebih dulu bicara.

“Kalau Bibi mau nginep di sini gak apa-apa lah Mas. Kasihan Bibi pulang sendiri.”

Jason langsung tersenyum tipis.

“Tenang sayang, nanti aku pesankan taksi online buat antar Bibi.”

Fisya mengangguk pelan, Bik Lili sebenarnya takut pulang sendirian malam-malam seperti ini, apalagi setelah mengetahui rahasia besar Jason.

Namun tatapan Jason membuatnya tidak berani membantah.

“Kalau begitu saya pulang dulu Bu,” ucap Bik Lili pelan.

Fisya mengangguk.

“Hati-hati ya Bik.”

Jason langsung berdiri.

“Ayo Bik, saya antar ke bawah.”

Bik Lili mengikuti Jason keluar kamar begitu pintu kamar tertutup, wajah Jason langsung berubah dingin.

Mereka berjalan menuju lift dalam diam, suasana terasa mencekam.

Saat lift terbuka dan mereka masuk, Jason langsung bicara tanpa melihat Bik Lili.

“Bibi tadi ngomong apa ke Fisya?” tanya Jason

Bik Lili langsung menegang.

“S-saya gak ngomong apa-apa Pak.”

Jason akhirnya menoleh tajam.

“Yakin?”

Bik Lili mengangguk cepat.

“Saya gak bilang apa pun soal tadi.”

Jason menatapnya beberapa detik.

“Bagus.”

Lift kembali terbuka di lantai bawah mereka berjalan keluar rumah sakit menuju area parkiran.

Malam terasa dingin Jason berhenti di dekat mobilnya lalu menatap Bik Lili serius.

“Dengar ya Bik.”

Bik Lili langsung gugup.

“Apa yang Bibi lihat malam ini jangan sampai keluar sedikit pun.”

“Saya ngerti Pak…” jawab Bik Lili

Jason mendekat pelan

“Kalau sampai Fisya tahu, Saya gak akan diam.”

Bik Lili langsung pucat.

“Saya gak akan ngomong Pak, sumpah.”

Jason tetap menatapnya dingin.

“Karena kalau rahasia ini terbongkar, bukan cuma saya yang hancur, bibi juga akan saya habiskan"

Bik Lili menunduk ketakutan dan Jason menghela napas kasar.

“Bibi kerja saja seperti biasa, anggap gak ada apa-apa malam ini.” ucap Jason lagi

“Iya Pak…” jawab bik Lili singkat

Jason lalu mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online.

Beberapa menit kemudian mobil datang namun sebelum Bik Lili masuk ke mobil, Jason kembali bicara.

“Satu lagi.”

Bik Lili menoleh pelan.

“Kalau saya sampai tahu Bibi bicara ke siapa pun itu…”

Jason berhenti beberapa detik.

“Saya pastikan Bibi menyesal.”

Bik Lili langsung mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca.

“Iya Pak.”

Jason membuka pintu mobil.

“Pulang.”

Bik Lili masuk ke dalam mobil dengan tangan gemetar.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau, ia terus teringat wajah bayi kecil itu.

Anak kandung Fisya dan bayi itu, mereka bayi yang tidak bersalah tapi di jadikan permainan oleh Kasandra dan Jason

Air mata Bik Lili jatuh perlahan.

“Dan pada akhirnya nanti mereka yang akan hancur sendiri…” gumamnya dengan penuh keyakinan

***

Sementara itu… Di kamar rawatnya, Fisya masih terjaga sendirian.

Tatapannya kosong memandang langit-langit kamar.

Perlahan tangannya menyentuh perutnya yang kini sudah kosong.

Lalu tanpa alasan yang jelas, air mata mengalir dari sudut matanya.

Entah kenapa… hatinya terasa sangat tidak tenang malam ini...

"Tunggu pembalasanku Jason" ucap Fisya pelan

__Bersambung__

Tanda Lahir

Pagi itu Fisya sudah duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memeriksa beberapa dokumen kantor di tablet miliknya.

Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya.

Seorang perawat baru saja selesai memeriksa keadaannya.

“Tekanan darah ibu sudah bagus dan kondisi ibu juga stabil,” ucap perawat itu.

Fisya langsung mengangguk.

“Kalau begitu saya boleh pulang hari ini kan, Sus?”

Perawat itu terlihat ragu.

“Nanti kami tanyakan dulu ke dokter ya Bu.”

“Baik.” ucap Fisya

Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa Fisya dan bayinya.

“Lukanya bagus dan Bayinya juga sehat,” ucap dokter.

Fisya langsung tersenyum tipis.

“Saya mau pulang hari ini, Dok.”

“Biasanya pasien melahirkan masih harus observasi dulu.” ucap sang Dokter

“Saya tidak nyaman terlalu lama di rumah sakit.” jawab Fisya

Dokter akhirnya mengangguk pelan.

“Kalau begitu nanti urusan administrasinya bisa segera diselesaikan.”

“Terima kasih, Dok.” ucap Fisya lagi

Setelah dokter pergi, Fisya langsung mengambil ponselnya lalu menelpon Bik Lili.

(“Bik, datang ke rumah sakit sekarang ya, saya mau pulang hari ini") ucap Fisya di telpon

Bik Lili langsung panik.

(“Iya Bu tapi kok cepat sekali Bu?”)

(“Aku sudah sehat bik dan ngapain lama-lama dirumah sakit”) ucapnya

(“Baik Bu, saya langsung ke sana.”) jawab bik Lili cepat

Fisya mematikan telepon lalu menatap bayi kecil yang tertidur di sampingnya.

Tatapannya berubah lembut namun ada sesuatu dalam matanya yang sulit dijelaskan.

***

Sementara itu… Jason sedang berada di kantor, ia duduk santai di kursi direktur sambil memainkan pulpen di tangannya dan wajahnya terlihat puas.

Beberapa hari terakhir membuatnya merasa semuanya berjalan sesuai rencana.

Bayinya sudah tertukar, tidak ada yang curiga dan yang paling membuatnya puas… Fisya sama sekali belum mengetahui apa pun.

Jason tersenyum kecil.

“Aku berharap Fisya tidak balik lagi ke kantor ini,” gumamnya.

Tatapannya beralih ke ruangan besar di depannya.

“Perusahaan ini seharusnya memang aku yang pegang karena aku suaminya"

Selama ini perusahaan keluarga Alexander memang lebih banyak diurus Fisya

Meski Jason adalah suaminya, keputusan terbesar tetap berada di tangan Fisya karena perusahaan itu warisan keluarga Alexander.

Hal itu selalu membuat Jason merasa rendah dan sekarang ia merasa semuanya akan berubah.

“Kalau anak Kasandra nanti dianggap pewaris keluarga Alexander…” gumamnya pelan.

Jason tersenyum licik.

“Semua harta itu akhirnya jatuh ke tangan kami.”

Tiba-tiba muncul ide lain di kepalanya.

“Ya…”

Ia menyandarkan tubuhnya santai.

“Aku harus merayu Fisya supaya tetap di rumah.”

Jason tersenyum tipis.

“Bilang saja fokus urus anak.”

Kalau Fisya berhenti bekerja maka ia bisa lebih leluasa menguasai perusahaan lebih awal

Ponselnya berbunyi, Jason melihat nama Kasandra muncul di layar.

Ia langsung mengangkatnya.

(“Halo sayang.”)

(“Kapan kamu ke sini?”) tanya Kasandra manja.

("Nanti sore.”) ucap Jason

(“Aku bosan di rumah sakit, aku mau segera pulang") kata Kasandra

Jason tersenyum kecil.

(“Sabar sedikit nanti aku urus.”)

Kasandra tertawa kecil.

(“Jangan lupa lihat anak kita nanti dan kabari padaku")

Jason mengangguk pelan.

(“Iya.”)

Telpon ditutup oleh Jason

***

Sementara itu… Bik Lili akhirnya tiba di rumah sakit, ia langsung menuju kamar rawat Fisya.

Begitu pintu dibuka, ia melihat Fisya sedang menggendong bayinya.

Wajah Fisya terlihat tenang.

“Bik, bantu bereskan barang-barang ya,” ucap Fisya.

“Iya Bu.” Bik Lili segera membereskan perlengkapan bayi dan pakaian Fisya.

Saat itu Fisya berjalan mendekat sambil menggendong bayinya.

“Bik…”

“Iya Bu?” ucap Bik Lili

Fisya tersenyum tipis lalu sedikit membuka selimut bayinya.

“Lihat tanda lahir anak perempuanku.”

Bik Lili langsung melihat ke arah bahu bayi kecil itu, ada tanda lahir kecil berbentuk seperti bulan sabit.

Mata Bik Lili langsung membesar, ia langsung memahami maksud Fisya dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.

Fisya perlahan meletakkan telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat agar diam.

Bik Lili langsung mengangguk pelan, ia benar-benar paham sekarang.

Fisya memang sudah tahu dari awal kalau bayinya itu sudah ditukar

Dan sekarang… Fisya telah menukar kembali bayinya diam-diam, Bik Lili langsung merasa lega luar biasa.

Tanpa banyak bicara mereka melanjutkan membereskan barang, tidak lama kemudian semua selesai.

Mereka meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi.

Sepanjang perjalanan, Fisya terus menggendong bayinya dengan erat.

Sedangkan Bik Lili sesekali melirik Fisya diam-diam.

Ia masih bingung bagaimana majikannya bisa menukar kembali bayinya

Namun ia tidak berani bertanya, setibanya di rumah…

Fisya langsung masuk ke dalam sambil menggendong bayinya, rumah terasa sangat sepi.

Jason memang belum pulang dari kantor.

“Bik, tolong bersihkan kamar sebelah ya bik" ucap Fisya.

Bik Lili mengangguk

“Iya Bu?”

Kamar itu memang sudah dipersiapkan Fisya jauh-jauh hari untuk bayinya.

Lalu Bik Lili segera membersihkan kamar bayi itu sedangkan Fisya duduk di sofa sambil menatap putrinya.

Tatapannya berubah dingin beberapa detik.

“Tidak akan ada yang bisa mengambil kamu dari Mama, Nak” gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian kamar bayi selesai dibersihkan.

Fisya masuk ke dalam lalu perlahan meletakkan putrinya di tempat tidur bayi.

Ia tersenyum tipis melihat anak kecil itu tertidur tenang.

“Cantik sekali…” gumam Bik Lili.

Fisya mengangguk.

“Besok aku mulai kerja lagi.”

Bik Lili langsung kaget.

“Besok Bu? Tapi ibu baru melahirkan"

Fisya duduk di kursi dekat tempat tidur bayi

“Aku sudah cuti seminggu dan aku sudah sehat bik dan aku juga mau lihat keadaan perusahaan.”

Bik Lili terdiam dan ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh majikannya itu

Selama seminggu terakhir perusahaan dipegang Jason dan entah kenapa Fisya mulai takut membayangkan apa saja yang dilakukan pria itu di kantor.

Fisya menatap lurus ke depan.

“Aku terlalu percaya sama orang" nada suaranya terdengar dingin.

Bik Lili hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun

***

Sementara itu… Jason masih berada di kantor sambil memandangi laporan perusahaan, ia terlihat sangat santai baginya semuanya mulai berjalan sempurna.

“Nanti tinggal sedikit demi sedikit setelah itu aku akan singkirkan Fisya,” gumamnya.

Ia bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi pemilik penuh perusahaan Alexander.

Jason tersenyum lalu berdiri.

“Sore ini aku akan menjenguk Kasandra dulu, baru setelah itu ke Fisya" gumamnya

Ia mengambil jasnya lalu keluar kantor, perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu hampir satu jam karena jalanan cukup macet.

Sesampainya di sana, Jason langsung menuju kamar Kasandra.

Begitu pintu dibuka, ia melihat Kasandra sedang marah-marah pada seorang perawat.

“Sus bilang sama dokter aku mau pulang hari ini juga!” ucap Kasandra manja.

Perawat itu tetap sibuk memeriksa infus tanpa peduli.

“Maaf Bu, dokter belum mengizinkan.”

Kasandra langsung kesal.

“Aku sudah sehat!”

Jason masuk sambil menghela napas.

“Ada apa?”

Kasandra langsung menunjuk perawat itu.

“Dia gak mau izinin aku pulang.”

Perawat itu langsung menjelaskan.

“Maaf Pak, kata dokter lihat perkembangan sampai besok pagi.”

Jason langsung menatap perawat itu kesal.

“Sus gak dengar istri saya bilang apa?”

Perawat itu tetap tenang.

“Maaf Pak. Ini aturan rumah sakit.”

Jason mulai emosi.

“Keadaan istri saya sudah sehat.”

“Kalau memang sehat besok pasti dokter izinkan pulang.” ucap perawat tersebut

Kasandra mendecih kesal.

“Aku bosan di sini.”

Perawat itu tetap tidak peduli.

“Saya permisi dulu.”

Setelah perawat keluar, Kasandra langsung cemberut.

“Aku mau pulang sekarang.” ucap Kasandra

Jason mendekat lalu duduk di samping ranjang.

“Sabar sedikit.”

Kasandra memeluk lengan Jason manja.

“Aku mau cepat tinggal di rumah kamu.”

Jason tersenyum kecil.

“Nanti kita bersabar dulu, yang terpenting Fisya tidak curiga dengan kita dan kamu masih bisa leluasa kerumah"

“Aku capek sembunyi-sembunyi terus dan harus berpura-pura terus di depan Fisya" ucap Kasandra lagi

Jason mengusap rambut Kasandra pelan.

“Sedikit lagi semuanya jadi milik kita.”

Kasandra tersenyum puas.

“Fisya masih belum curiga?”

Jason tertawa kecil.

“Dia mana mungkin curiga.”

Namun saat mengatakan itu entah kenapa tiba-tiba Jason teringat tatapan Fisya semalam, tatapan yang membuatnya tidak nyaman.

Jason langsung mengusir pikiran itu.

“Fisya terlalu percaya sama kita berdua sayang karena kamu sahabat dekatnya" ucapnya yakin.

Kasandra tertawa kecil.

“Baguslah.”

Jason mengangguk.

“Nanti kalau dia sudah berhenti kerja dan fokus urus anak, perusahaan itu bakal sepenuhnya di tangan kamu,” sambung Kasandra cepat.

Jason tersenyum puas.

“Benar.”

Kasandra lalu menatap Jason serius.

“Kamu yakin bayinya gak ketukar lagi?”

Jason langsung mengangguk.

“Tenang saja, ku pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana kita" ucap Jason sambil tersenyum

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!