Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis yang luar biasa jelita. Kulitnya kuning langsat bersih karena terbiasa dirawat dengan bahan alami, matanya bulat dengan bulu mata lentik, dan rambut hitamnya lebat terurai hingga ke pinggang. Lebih dari itu, di balik baju kurung sederhananya, Aluna memiliki lekuk tubuh yang sangat proporsional dan indah—aset tersembunyi yang sering kali membuat para pemuda desa curi-curi pandang.
"Aluna, kamu sudah besar dan makin cantik saja," puji Bik Sumi, senyumnya menyiratkan sesuatu. "Sayang sekali kalau kecantikan dan masa mudamu habis begitu saja di desa ini, cuma buat ke sawah dan ladang."
Aluna hanya tersenyum canggung. "Nggak apa-apa, Bik. Yang penting halal dan bisa bantu Ibu."
Bik Sumi mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aluna dan ibunya bergantian. "Begini, Mbak, Aluna... Kebetulan majikan Bibik di Jakarta, keluarga Mahendra, lagi butuh satu asisten rumah tangga tambahan. Rumahnya besar sekali seperti istana. Gajinya? Tiga kali lipat dari penghasilan kalian di sini sebulan. Tugas Aluna cuma bantu-bantu Bik Sumi yang ringan-ringan saja."
Mendengar kata 'Jakarta' dan 'gaji besar', jantung Aluna berdesir. Sudah lama ia ingin mengubah nasib keluarganya. Ia ingin memperbaiki rumah mereka yang bocor setiap kali hujan, dan ingin ibunya tidak perlu lagi membanting tulang di usianya yang senja.
"Tapi, Sum... apa Aluna bisa kerja di kota besar? Dia belum pernah keluar dari desa ini," ujar sang ibu ragu, menyuarakan kekhawatiran seorang orang tua.
"Ah, Mbak tenang saja. Kan ada aku yang jaga dia di sana," sahut Bik Sumi cepat, mencoba meyakinkan. "Ini kesempatan emas buat Aluna mengubah nasib. Lagipula, di sana dia juga akan bantu mengurus keperluan den Arsen, anak tunggal di rumah itu. Umurnya sama dengan Aluna, jadi harusnya tidak sulit."
Aluna terdiam, menatap jemarinya sendiri. Bayangan tentang gedung-gedung tinggi, kehidupan yang berkecukupan, dan kemampuan untuk membahagiakan ibunya berputar-putar di kepalanya. Keinginan kuat untuk mengubah takdir perlahan mengalahkan rasa takutnya pada kota besar.
Ia menatap ibunya dengan tatapan memohon, lalu beralih pada bibinya.
"Bik... Aluna mau. Aluna ikut ke kota," ucap Aluna dengan nada mantap.
Aluna mengambil keputusan besar malam itu, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kemegahan rumah keluarga Mahendra, ada Arsen—pemuda tampan namun dingin—yang kelak akan sangat terpikat oleh kecantikan alami dan pesona keindahan tubuh gadis desa tersebut.
Malam itu, suasana di dalam rumah panggung Aluna terasa berbeda. Cahaya temaram dari lampu minyak menerangi ruang tengah, tempat Aluna dan ibunya duduk berhadapan. Di sudut ruangan, sebuah koper tua berbahan kain tebal milik peninggalan almarhum ayahnya sudah terbuka, siap diisi.
Bik Sumi sendiri sedang menginap di rumah kerabatnya yang lain di ujung desa, memberikan waktu bagi ibu dan anak itu untuk menikmati momen-momen terakhir mereka sebelum perpisahan.
"Nduk," puji ibunya pelan, tangannya yang keriput mengusap rambut hitam lebat Aluna yang terurai. "Ibu sebenarnya berat melepasmu. Jakarta itu jauh, kejam katanya. Tapi Ibu tahu, niatmu mulia untuk mengubah nasib kita."
Aluna menggenggam tangan ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Ibu jangan khawatir. Ada Bik Sumi di sana yang menjaga Aluna. Aluna janji akan rajin bekerja, tidak macam-macam, dan rajin kirim uang buat Ibu di desa. Aluna ingin Ibu istirahat, tidak usah ke ladang lagi."
Sang ibu tersenyum haru, meski matanya berkaca-kaca. Ia menatap putrinya dengan saksama. Aluna benar-benar warisan tercantik dari masa mudanya. Tubuh Aluna yang sintal, dadanya yang membusung penuh dengan pinggang ramping yang kontras, serta parasnya yang ayu adalah kombinasi yang bisa menjadi berkah, sekaligus kutukan jika tidak dijaga dengan baik.
"Ingat pesen Ibu, Aluna. Jaga diri baik-baik. Kamu di sana bekerja di rumah orang kaya. Jaga kehormatanmu sebagai perempuan desa. Jangan silau dengan kemewahan kota," bisik ibunya penuh penekanan.
"Iya, Bu. Aluna akan selalu ingat pesan Ibu," jawab Aluna mantap.
Keesokan harinya berlalu dengan sangat cepat. Aluna menghabiskan waktu seharian untuk berkemas dan berpamitan dengan tetangga sekitar. Kabar bahwa Aluna akan merantau ke Jakarta untuk menjadi pembantu khusus anak orang kaya langsung menyebar. Banyak yang iri dengan keberuntungannya, namun tidak sedikit pula pemuda desa yang patah hati karena kehilangan kembang desa mereka.
Malam kedua berlalu dengan keheningan yang sarat akan kerinduan yang mulai memupuk. Sampai akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba.
Fajar baru saja menyingsing ketika sebuah klakson mobil berbunyi di depan rumah. Bik Sumi sudah datang menjemput. Waktu cuti satu minggunya telah habis, dan hari ini adalah batas waktu ia harus kembali ke Jakarta membawa pembantu baru untuk Den Arsen.
Aluna mencium telapak tangan ibunya lama, menahan air mata yang mendesak keluar. Ibunya memeluk Aluna erat, membisikkan doa-doa keselamatan.
"Ayo, Aluna, nanti kita ketinggalan kereta ke kota," ajak Bik Sumi yang tampil rapi, bersiap memandu keponakannya menuju dunia baru.
Aluna melangkah keluar rumah dengan menjinjing koper tuanya. Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya—sebuah celana kain longgar dan kemeja katun sederhana. Meski pakaiannya sangat bersahaja dan tanpa riasan wajah sedikit pun, cara berjalan Aluna yang anggun serta lekuk tubuhnya yang tegap dan indah tetap tidak bisa disembunyikan dari pandangan mata supir travel yang membantu memasukkan barangnya.
Di dalam mobil travel yang membawa mereka menuju stasiun kereta kota kabupaten, Bik Sumi mulai memberikan wejangan.
"Aluna, dengerin Bibik ya. Den Arsen itu orangnya dingin, tegas, dan agak pemilih. Dia itu sibuk sekali mengurus bisnis keluarga Mahendra. Makanya ibunya sampai pusing mencari pembantu yang benar-benar telaten dan bisa dipercaya untuk mengurus kamar dan kebutuhan pribadinya. Begitu Bibik ingat kamu, Bibik yakin kamu pasti bisa. Kamu kan rajin dan penurut."
Aluna mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama. "Iya, Bik. Aluna akan berusaha sebaik mungkin supaya Den Arsen tidak kecewa."
"Bagus. Ingat, gajimu besar karena tanggung jawabmu juga besar. Kamu harus patuh apa saja yang diminta Den Arsen nanti," tambah Bik Sumi dengan senyum penuh arti.
Sepanjang perjalanan kereta yang memakan waktu belasan jam menuju ibu kota, Aluna menatap keluar jendela. Menonton pemandangan hijau sawah yang perlahan berubah menjadi deretan bangunan beton yang padat dan menjulang tinggi. Jantungnya berdegup kencang antara rasa cemas dan harapan.
Gadis desa berusia 25 tahun itu sama sekali tidak tahu, bahwa di balik gerbang megah rumah keluarga Mahendra yang akan segera dimasukinya, sosok Arsen Mahendra sedang menunggu—seorang pria kota yang selama ini acuh tak acuh pada wanita, namun akan dibuat tak berdaya oleh pesona kepolosan dan keindahan fisik seorang Aluna.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, taksi yang membawa Aluna dan Bik Sumi akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri sebuah rumah gedong bergaya modern klasik yang sangat megah. Aluna terpaku menatap rumah keluarga Mahendra. Rumah itu begitu besar, jauh lebih luas dari gabungan beberapa rumah di desanya.
"Ayo masuk, Aluna. Jangan melamun begitu," tegur Bik Sumi sambil membawa tas jinjingnya.
Seorang satpam membukakan pagar dan menyapa mereka dengan ramah. Saat melangkah masuk melalui pintu samping yang menuju ke area dapur dan ruang belakang, Bik Sumi menjelaskan situasi rumah. "Kebetulan Tuan dan Nyonya Mahendra—orang tua Den Arsen—sedang ada urusan bisnis di luar kota sampai minggu depan. Jadi di rumah sekarang cuma ada Den Arsen."
Bik Sumi kemudian mengantar Aluna untuk meletakkan barang-barangnya. "Nah, Aluna, ini kamarmu," ujar Bik Sumi sambil membuka sebuah pintu kayu.
Kamar itu terletak tepat di bawah undakan tangga besar yang menuju ke lantai dua. Meskipun ukurannya tidak terlalu luas, kamar itu sangat bersih, dilengkapi dengan satu tempat tidur busa tunggal, lemari pakaian kecil, dan sebuah kipas angin dinding. Tempatnya strategis agar Aluna bisa cepat mendengar jika Arsen yang kamarnya berada di lantai atas membutuhkan sesuatu.
"Kamar Bibik ada di bagian belakang dekat dapur, agak jauh dari sini. Jadi kalau malam ada apa-apa atau Den Arsen memanggil, kamu yang harus sigap, ya," tambah Bik Sumi.
Aluna mengangguk patuh. "Baik, Bik. Ini sudah bagus sekali bagi Aluna."
Setelah merapikan pakaiannya sejenak, Bik Sumi mengajak Aluna ke area ruang tengah untuk mengenalkan diri kepada sang majikan muda. Dari kejauhan, terdengar suara tawa beberapa pria dan denting gelas. Ternyata, Arsen sedang berkumpul dengan teman-teman Circle-nya di ruang bersantai yang luas.
"Permisi, Den Arsen..." puji Bik Sumi dengan sopan sambil menundukkan kepala saat melangkah mendekati sofa-sofa mewah tersebut. "Sumi sudah kembali dari cuti, Den. Dan ini... ini keponakan Sumi yang tempo hari dibilang Nyonya besar, namanya Aluna."
Arsen, yang duduk di sofa utama dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, hanya melirik sekilas dari balik layar ponselnya. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tampak datar dan dingin. Pria berusia 25 tahun itu hanya bergumam malas, "Oh, ya sudah. Suruh dia langsung kerja besok. Bik Sumi tolong siapkan kopi tambahan buat teman-teman saya."
Arsen bersikap sangat acuh, kembali fokus pada ponsel dan obrolannya, seolah kehadiran Aluna sama sekali tidak memengaruhi dunianya yang sibuk.
Namun, reaksi berbeda justru datang dari tiga orang teman Arsen yang duduk di sana. Begitu Aluna melangkah maju dan membungkuk sopan memberi salam, pandangan mata para pria kota itu langsung terkunci pada sosok sang gadis desa.
Meskipun Aluna hanya mengenakan kaos polos rajut yang pas di badan dan celana panjang jins longgar sisa di desa, pakaian itu justru mencetak jelas keindahan lekuk tubuhnya. Dadanya yang membusung kencang, pinggangnya yang kecil bergaya jam pasir, serta pinggulnya yang padat membuat mata para pria itu tak berkedip. Terlebih lagi, wajah polos Aluna yang tanpa makeup sedikit pun justru memancarkan kecantikan alami yang segar—sangat kontras dengan wanita-wanita kota penuh riasan yang biasa mereka temui.
"Wah, Sen... lu nemu pembantu di mana yang kayak begini?" bisik salah satu temannya, Randy, dengan mata yang terus menjelajahi lekuk tubuh Aluna dari bawah ke atas.
"Gila, bening banget. Ini sih bukan spek pembantu, ini mah spek model majalah," timpal teman yang lain, tersenyum nakal sambil sengaja membusungkan dada agar menarik perhatian Aluna.
Aluna yang menyadari arah pandangan mata teman-teman Arsen yang liar dan salah fokus itu seketika merasa tidak nyaman. Ia merapatkan kedua tangannya di depan perut, mencoba menyembunyikan lekuk tubuhnya yang menjadi pusat perhatian, sambil menundukkan kepala dalam-dalam karena malu dan takut.
Arsen yang mendengar celetukan teman-temannya hanya mendengus pelan, masih bersikap tidak peduli. Ia belum menyadari bahwa gadis desa yang malam itu diabaikannya, perlahan akan menjadi satu-satunya wanita yang menjungkirbalikkan sisi posesif dalam dirinya.
Mendengar perintah Arsen, Bik Sumi segera menarik pelan lengan Aluna untuk menjauh dari ruang tengah. Aluna mengembuskan napas lega yang panjang begitu mereka sampai di area dapur yang bersih dan modern. Jantungnya masih berdegup kencang akibat tatapan-tatapan liar dari teman-teman majikan mudanya tadi.
"Sudah, tidak usah dimasukkan ke hati kelakuan teman-teman Den Arsen itu," hibur Bik Sumi sambil menyalakan mesin pembuat kopi otomatis. "Orang kota memang begitu kalau lihat gadis yang masih alami seperti kamu."
Bik Sumi mulai meracik beberapa cangkir kopi hitam dan camilan di atas nampan kayu yang elegan. Namun, tepat saat kopi-kopi itu selesai dituangkan, Bik Sumi tiba-tiba memegang pinggangnya sambil meringis kesakitan.
"Aduh..." keluh Bik Sumi, wajahnya agak pucat.
"Kenapa, Bik? Ada yang sakit?" tanya Aluna panik, langsung memegangi pundak bibinya.
"Pinggang Bibik kambuh lagi, Nduk. Encoknya berasa sekali gara-gara kelamaan duduk di kereta tadi," ucap Bik Sumi sambil memijat pinggang belakangnya. Ia menatap nampan berisi kopi di atas meja bar dapur, lalu beralih menatap Aluna. "Aluna, tolong kamu saja yang antarkan kopi-kopi ini ke depan, ya? Bibik mau duduk sebentar di belakang sambil mengoleskan balsem."
Aluna seketika membeku. Rasa cemas kembali melandanya. "Tapi, Bik... Aluna takut. Teman-teman Den Arsen tadi menatap Aluna aneh sekali."
Bik Sumi menepuk tangan Aluna lembut. "Tidak apa-apa, ada Den Arsen di sana. Mereka tidak akan berani macam-macam di rumah ini. Anggap saja ini latihan mental buat kamu mulai kerja besok. Ingat pesen Ibu di desa, kamu harus sigap."
Aluna menelan ludah. Mengingat wajah ibunya dan niat mulianya untuk mengubah nasib, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Bik. Aluna antarkan."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aluna mengangkat nampan kayu tersebut. Ia mengatur napasnya, mencoba bersikap seprofesional mungkin, lalu melangkah perlahan menuju ruang tengah tempat para pria itu berkumpul.
Begitu derap langkah Aluna terdengar mendekat, suasana obrolan di ruang tengah yang tadinya bising mendadak hening. Tiga pasang mata teman Arsen langsung beralih secara sinkron ke arah Aluna.
Aluna berjalan dengan kepala agak menunduk, namun postur tubuhnya yang tegap alami justru membuat cara berjalannya terlihat sangat anggun. Pakaian rajutnya yang pas di badan bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah setiap kali ia melangkah, membuat teman-teman Arsen menatapnya tanpa berkedip dengan pandangan penuh gairah.
"Permisi... Kopi dan camilannya, Tuan," ucap Aluna dengan suara yang lembut dan bergetar halus karena gugup.
Aluna membungkuk pelan di depan meja kaca untuk meletakkan cangkir kopi satu per satu. Posisi membungkuk itu tak pelak membuat bentuk tubuh bagian atasnya tercetak semakin jelas.
"Wah, makasih ya manis. Namanya tadi siapa? Aluna, ya?" tanya Randy dengan nada menggoda, matanya terang-terangan menatap leher jenjang Aluna yang putih bersih.
"I-iya, Tuan," jawab Aluna singkat sambil buru-buru menegakkan tubuhnya kembali.
"Jangan panggil Tuan dong, panggil Kakak aja biar akrab. Kamu aslinya mana sih? Kulitnya kok bisa sebersih ini?" timpal teman Arsen yang lain, mencoba meraih cangkir kopi sambil sengaja menyapukan jarinya ke punggung tangan Aluna yang sedang menaruh gelas.
Aluna terkejut dan langsung menarik tangannya dengan cepat, wajahnya memerah karena malu sekaligus takut.
Sementara itu, Arsen yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, perlahan mengalihkan pandangannya dari ponsel. Untuk pertama kalinya, ia menatap Aluna secara langsung dan intens dari jarak dekat.
Mata tajam Arsen menyapu wajah polos gadis itu yang tampak ketakutan, lalu turun memperhatikan lekuk tubuh Aluna yang begitu menawan di bawah sorot lampu ruang tengah. Ada desiran aneh yang tiba-tiba muncul di dada Arsen—sebuah perasaan tidak suka yang asing ketika melihat teman-temannya menggoda pembantu baru pribadinya tersebut.
"Udah, ah. Jangan digodain terus," ucap Arsen tiba-tiba dengan nada suara yang berat dan dingin, memotong kalimat Randy yang baru saja mau terbuka lagi.
Suasana di ruangan itu mendadak hening. Teman-teman Arsen saling berpandangan, agak terkejut dengan teguran itu. Biasanya, Arsen sama sekali tidak peduli dengan sekelilingnya, apalagi menyangkut urusan pembantu rumah tangga.
Arsen kemudian mengalihkan tatapan tajamnya langsung ke arah Aluna yang berdiri mematung di dekat meja. "Aluna, kamu kembali saja ke kamarmu. Masukkan barang-barangmu," perintah Arsen, ketegasannya tidak menerima bantahan namun anehnya terdengar seperti sebuah penyelamatan bagi Aluna.
"B-baik, Den. Terima kasih," bisik Aluna dengan nada lega yang amat sangat.
Tanpa menunggu dua kali, ia segera membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan ruang tengah. Dari belakang, langkah kakinya yang terburu-buru tetap memperlihatkan bagaimana pakaian rajut itu membungkus indah lekuk pinggulnya yang padat, membuat teman-teman Arsen lagi-lagi menghela napas panjang sambil menatap kepergiannya hingga menghilang di balik dinding tangga.
"Wah, Sen, galak amat lu? Biasanya juga cuek," gurau Randy sambil menyeruput kopi hitam buatan Bik Sumi. "Tapi serius deh, pembantu baru lu itu bener-bener damage-nya nggak main-main. Kalau lu nggak tertarik, buat gue aja gimana?"
Arsen tidak menyahut. Ia hanya mendengus sinis, kembali menyandarkan punggungnya ke sofa mewah sembari meraih ponselnya. Namun, fokusnya malam itu sudah pecah. Bayangan wajah polos Aluna yang ketakutan serta bagaimana pakaian sederhana itu tidak mampu menyembunyikan keindahan bentuk tubuh sang gadis desa terus berputar di kepalanya.
Sementara itu, di dalam kamar kecilnya di bawah tangga, Aluna menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup rapat. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang, mencoba meredakan rasa gemetar yang menjalar di sekujur tubuh.
“Kota besar ternyata menakutkan sekali,” batin Aluna cemas.
Namun, di tengah rasa takutnya, ia juga mengingat suara tegas Arsen yang membentenginya tadi. Meski pembawaan majikan mudanya itu sangat dingin dan angkuh, setidaknya malam ini pria itu telah menyelamatkannya dari situasi yang memalukan.
Dengan perlahan, Aluna mulai membuka koper tuanya dan menata pakaian-pakaian bersahajanya ke dalam lemari kecil. Besok, lembaran baru kehidupannya sebagai pembantu khusus Arsen Mahendra akan resmi dimulai.
Setelah selesai memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam lemari, Aluna terduduk di tepi ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sisa rasa gugupnya, lalu mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar kecil di bawah tangga tersebut.
Bibirnya agak terbuka, menatap takjub ruangan yang disebut sebagai "kamar pembantu" ini. Di desanya, kamar tidurnya hanyalah sebuah ruangan sempit dengan dinding papan yang renggang, beralaskan tikar anyaman pandan di atas lantai kayu yang sering berderit.
Namun di sini, kamar pembantunya bahkan terasa lebih luas dari seluruh area kamar pribadinya di desa. Dindingnya dicat putih bersih tanpa ada noda, lantainya terbuat dari keramik mengilap yang sejuk, dan ada sebuah cermin rias kecil yang digantung rapi di sudut ruangan.
Aluna kemudian menunduk, menatap tempat tidur tunggal yang didudukinya. Ia menyentuh permukaan sprei katun yang halus, lalu perlahan menekan kasur tersebut dengan kedua telapak tangannya.
Empuk sekali.
Rasa penasaran membuatnya mencoba membaringkan tubuhnya secara perlahan. Seketika itu juga, tubuhnya seolah tenggelam dalam kelembutan busa tebal yang berkualitas. Aluna memejamkan mata sesaat. Sepanjang hidupnya di desa, ia selalu tidur di atas kasur kapuk yang tipis dan keras, yang sering kali membuat punggungnya pegal setelah seharian bekerja di ladang teh. Kehangatan dan kenyamanan kasur ini adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Bahkan kamar pembantu di kota rasanya seperti kamar putri raja bagi orang desa seperti aku,” bisik Aluna dalam hati, ada secercah rasa syukur yang membuncah di dadanya.
Kenyamanan tempat tidur itu perlahan mulai mengikis rasa lelahnya akibat perjalanan belasan jam di kereta. Rasa cemas dan ketakutan menghadapi teman-teman Arsen tadi perlahan tergantikan oleh rasa kantuk yang berat.
Aluna memeluk gulingnya erat-erat, meresapi kehangatan ruangan itu. Di balik keheningan malam di bawah tangga rumah megah tersebut, Aluna akhirnya terlelap, bersiap menyambut hari esok di mana ia harus mulai melayani Den Arsen—sang majikan muda yang memegang kendali atas nasibnya di kota besar ini.
Malam semakin larut. Keheningan mulai menyelimuti rumah megah keluarga Mahendra. Suara tawa dari teman-teman Arsen yang tadinya riuh di ruang tengah kini sudah tidak terdengar lagi, menandakan bahwa mereka entah sudah pulang atau sudah beristirahat.
Di dalam kamar bawah tangga, Aluna yang baru saja terlelap beberapa jam tiba-tiba terbangun. Kesadarannya terkumpul perlahan ketika mendengar suara ketukan halus di pintu kayunya.
Tok... Tok... Tok...
"Aluna... Nduk, sudah tidur?" panggil sebuah suara berbisik dari balik pintu.
Aluna segera menegakkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sempat membuatnya terbuai. Ia merapikan kaos rajutnya sekilas, lalu bergegas membuka kunci pintu. Di hadapannya, berdiri Bik Sumi yang memegangi lampu senter kecil dengan wajah yang tampak merasa bersalah.
"Eh, Bik Sumi. Ada apa, Bik?" tanya Aluna dengan suara khas orang baru bangun tidur, matanya yang bulat mengerjap perlahan.
Bik Sumi mendekat dan berbicara dengan setengah berbisik. "Aluna, Bibik lupa memberitahukan tugas pertamamu untuk besok. Nanti pagi, subuh-subuh sebelum Den Arsen bangun, kamu sudah harus ke atas ke kamarnya untuk mengambil pakaian kotornya," ucap Bik Sumi.
Aluna tertegun sejenak, mencoba mencerna perintah itu di tengah rasa kantuknya. Kamar Den Arsen? Berarti ia harus masuk ke area pribadi majikan mudanya itu saat pria itu kemungkinan besar masih tertidur.
"Ohh... baik, Bik," ucap Aluna patuh, meski ada secercah rasa gugup yang kembali menyelinap di hatinya. "Jam berapa biasanya Den Arsen bangun, Bik?"
"Biasanya jam tujuh dia sudah siap-siap. Jadi, jam enam kurang kamu sudah harus naik ke lantai dua. Nanti langsung masukkan saja pakaian kotornya ke keranjang di depan kamar mandinya. Mengerti, Nduk?"
"Mengerti, Bik. Nanti Aluna bangun subuh."
"Ya sudah, maaf ya Bibik mengganggu tidurmu. Sana lanjut istirahat lagi," ujar Bik Sumi sambil menepuk lengan keponakannya sebelum berbalik menuju kamarnya di area belakang.
Aluna menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya. Ia berjalan lunglai kembali ke ranjang empuknya. Tugas pertamanya ternyata langsung berhubungan dengan area pribadi Arsen. Membayangkan harus masuk ke kamar pria kota yang dingin dan bertubuh tegap itu membuat dada Aluna berdesir aneh. Sambil memeluk gulingnya erat-erat, Aluna memejamkan mata, berharap esok hari tugas pertamanya berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!