Indonesia
NovelToon NovelToon

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

BAB 1: DENIA BIDADARI KECIL DI DESA SAMUDRA

"Suatu saat aku akan menikahimu, Denia. Meskipun aku tahu kasta kita berbeda, kita tetap berpijak di bumi yang sama."

Kalimat itu tak pernah terucap. Rangga hanya menguncinya rapat di dalam hati.

Usianya baru sebelas tahun. Jangankan memahami arti sebuah pernikahan, membayangkan bagaimana rasanya menjadi kepala keluarga pun belum. Namun, begitulah dunia anak-anak. Mereka tak mengenal hitung-hitungan tentang mungkin atau mustahil. Saat menginginkan sesuatu, mereka hanya tahu satu cara: mengejarnya sepenuh hati.

Dan bagi Rangga kecil, Denia adalah seluruh alasan di balik senyum yang tak pernah berhasil ia sembunyikan.

Sekarang, setiap kali mengingat sumpah polos itu, aku hanya bisa tersenyum geli. Rasanya ingin menjitak kepala bocah kecil itu sambil berkata, "Berani sekali mimpimu, Ga." Namun, mungkin memang begitulah cinta pertama. Datang diam-diam, lalu menetap tanpa pernah meminta izin.

Semuanya bermula pada siang yang terik di bawah pohon mangga tua di depan Sekolah Dasar Desa Samudra.

Bel pulang baru saja berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas sambil membawa tas di punggung. Tawa mereka bercampur dengan suara sandal yang beradu di halaman sekolah.

Rangga berdiri beberapa langkah dari Denia.

Ujung sandal jepitnya terus menggeser kerikil kecil di tanah. Berkali-kali ia menarik napas, tetapi kata-kata yang sejak tadi disusun di kepala mendadak buyar begitu melihat Denia menoleh.

"Denia..."

Gadis kecil itu mengangkat wajah.

"Iya?"

Rangga menelan ludah.

"Nanti malam terang bulan, kan?"

Denia mengangguk.

"Iya."

"Biasanya kalian main di pelataran rumahmu..."

Kalimat itu menggantung sesaat. Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Aku... ikut main, ya?"

Wajah Denia langsung berbinar.

"Ya boleh, dong! Nanti ada Lilis, Yu Iwan, Mas Trio, Handoko, sama yang lain. Kita main petak umpet, terus gerobak sodor. Pokoknya seru, asal nggak hujan."

Pita merah di rambutnya bergoyang pelan ketika ia menganggukkan kepala.

Rangga hanya mampu membalas dengan anggukan kecil.

"Iya."

Setelah Denia berlari menyusul teman-temannya, Rangga masih berdiri mematung beberapa saat. Baru ketika sosok itu menghilang di balik kerumunan anak-anak, sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Yes..."

Kepalan tangannya mengepal kecil di depan dada.

Langkah pulangnya terasa jauh lebih ringan. Ia berlari, melompati batu-batu di pinggir jalan, lalu berputar sebentar dengan tawa yang nyaris tak terdengar. Seekor ayam kampung yang sedang mematuk dedak sampai berhamburan dibuatnya.

Sepanjang perjalanan, hanya satu bayangan yang memenuhi kepalanya.

Malam nanti. Terang bulan. Rumah Denia.

Sore itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Jarum jam dinding di ruang tengah seolah enggan bergeser. Rangga berkali-kali melongok ke luar jendela, lalu kembali duduk. Baru beberapa detik, ia bangkit lagi.

Matahari masih menggantung tinggi di atas Desa Samudra.

"Cepat turun, dong..." gumamnya pelan.

Ia menyibak gorden lusuh, memicingkan mata ke arah langit yang masih dipenuhi cahaya keemasan. Bibirnya mengerucut kesal.

"Mak," panggilnya.

"Iya?"

"Kok mataharinya lama banget tenggelam? Kemarin rasanya jam segini sudah mulai gelap."

Di dapur, Emak sedang mengiris kacang panjang. Pisau di tangannya berhenti sesaat. Beliau menoleh sambil tersenyum tipis melihat wajah putranya yang ditekuk sedemikian rupa.

"Perasaanmu saja yang keburu pengin malam, Rangga."

"Tapi lama..."

"Ya memang begitu jalannya matahari. Mau kamu tatap dari tadi sampai besok juga, dia tetap tenggelam kalau waktunya sudah tiba."

Rangga mengembuskan napas panjang.

Emak kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Daripada mondar-mandir begitu, sana ambil air wudu. Sebentar lagi magrib."

Kalimat itu membuat mata Rangga berbinar.

"Iya, Mak!"

Ia berlari menuju kamar, mengambil peci hitam yang beludrunya mulai menipis di beberapa bagian. Setelah itu, ia meraih sajadah tua milik bapaknya. Ukurannya terlalu panjang untuk tubuh kecilnya, sehingga harus dilipat dua sebelum disampirkan di pundak.

"Mak, Rangga berangkat dulu."

Ia mencium punggung tangan Emak dengan khidmat.

Namun, begitu melewati ambang pintu rumah, langkah tenangnya langsung lenyap.

Bruk!

Kaki telanjangnya menghentak tanah.

Tubuh kecil itu melesat menyusuri jalan desa, melompati batu-batu kecil, menghindari genangan air, lalu berlari semakin kencang seolah-olah siapa pun yang tiba lebih dulu di langgar bisa membuat matahari tenggelam lebih cepat.

Angin sore menerpa wajahnya.

Napasnya mulai memburu.

Saat pelataran langgar sudah tampak di depan mata, suara bedug pertama akhirnya menggema.

Dung!

Disusul bunyi kentongan yang bersahut-sahutan, memecah tenangnya senja di Desa Samudra.

Rangga menyeringai lebar.

"Pas!"

Tanpa mengurangi langkah, ia langsung berlari memasuki halaman langgar.

Pak De baru saja mengulurkan tangan ke arah mikrofon ketika suara Rangga memecah kesunyian.

"Pak De, biar aku yang azan!"

Beliau menoleh sambil mengangkat sebelah alis.

"Lho, semangat sekali kamu hari ini."

Rangga hanya nyengir.

Tanpa menunggu jawaban, ia sudah lebih dulu menyelinap ke sudut langgar. Jari-jarinya yang kecil meraih mikrofon besi, lalu menekan sakelar amplifier. Suara dengung halus langsung memenuhi ruangan.

Ia menarik napas panjang.

Dadanya membusung penuh percaya diri.

Kalau ada yang bertanya kenapa bocah itu mendadak begitu bersemangat, jawabannya sederhana.

Semoga Denia mendengar.

Semoga suara azanku sampai ke rumahnya.

Semoga... dia tahu aku juga bisa azan.

Pikiran polos itu membuat sudut bibir Rangga terus terangkat.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."

Suara cemprengnya melantun membelah langit senja Desa Samudra. Dari kejauhan, gema azan memantul di antara rumah-rumah kayu, rumpun bambu, dan hamparan sawah yang mulai diselimuti cahaya jingga.

Rangga melantunkannya dengan sungguh-sungguh.

Meski beberapa kali nada suaranya sedikit goyah, semangatnya sama sekali tidak.

Di rumah-rumah penduduk, satu per satu orang mulai menghentikan aktivitasnya. Ada yang menutup warung, mengangkat jemuran, memanggil anak-anak yang masih bermain, lalu bergegas mengambil air wudu.

Entah Denia mendengar atau tidak.

Namun, Rangga sudah telanjur merasa puas.

Setidaknya malam ini ia sudah melakukan sesuatu yang menurutnya pantas dibanggakan.

Salat magrib pun dimulai.

Rangga berdiri di barisan depan. Berkali-kali ia memaksa dirinya tetap khusyuk, tetapi bayangan pelataran rumah Denia terus menyelinap ke dalam pikirannya.

Petak umpet.

Gerobak sodor.

Terang bulan.

Nama-nama permainan itu bergantian memenuhi kepalanya.

Begitu imam mengucapkan salam terakhir, Rangga langsung membuka mata.

Ia melirik ke kanan.

Lalu ke kiri.

Melihat para jamaah masih sibuk berzikir, ia segera menggulung sajadah tuanya secepat kilat.

Dalam hitungan detik, bocah itu sudah berlari keluar langgar, meninggalkan halaman yang masih dipenuhi suara wirid para jamaah.

Napas Rangga masih memburu ketika ia tiba di depan rumah.

"Mak!"

Belum sempat masuk ke dalam, suaranya sudah lebih dulu memenuhi halaman.

"Aku makannya nanti saja, ya? Aku mau ke rumah Denia. Bulannya sudah keluar!"

Emak yang baru saja meletakkan panci di atas tungku menghela napas pelan. Tatapannya jatuh pada wajah putra semata wayangnya yang memerah karena berlari.

"Baru selesai magrib sudah mau keluyuran?"

"Tapi semua anak nanti kumpul di sana, Mak."

"Ya nanti."

"Sebentar lagi..."

"Bukan sekarang."

Jawaban itu langsung membuat bahu Rangga merosot.

Emak menghampirinya, lalu mengusap rambut anaknya yang sudah acak-acakan.

"Ini masih sandekala, Rangga."

Bocah itu mendongak.

"Sandekala?"

"Iya. Kata orang-orang tua, waktu begini anak kecil jangan berkeliaran. Nanti kalau diculik wewe gombel, Emak nyarinya ke mana?"

Mata Rangga langsung membulat.

Tangan yang tadi mengepal penuh semangat kini perlahan mengendur.

"Ih..."

"Cepat makan dulu."

Dengan langkah gontai, ia mengikuti Emak masuk ke dapur.

Sepiring nasi hangat, sayur lodeh, dan ikan asin sudah menunggunya di atas tikar.

Biasanya Rangga makan sambil mengobrol ke sana-kemari.

Malam itu berbeda.

Sendok di tangannya bergerak nyaris tanpa jeda.

Suap.

Kunyah.

Telan.

Suap lagi.

"Pelan-pelan, nanti keselek."

"Iya, Mak."

Jawabannya singkat.

Namun, gerakan tangannya sama sekali tidak melambat.

Matanya beberapa kali melirik ke pintu depan.

Seolah khawatir teman-temannya sudah lebih dulu berkumpul di rumah Denia.

Beberapa menit kemudian piringnya sudah licin.

Rangga buru-buru mengangkat gelas, menghabiskan air putih dalam sekali teguk, lalu bangkit hendak berlari.

"Eits."

Suara Emak menghentikan langkahnya.

"Mengaji dulu."

Wajah Rangga langsung berubah.

"Tapi, Mak..."

"Tidak ada tapi."

Emak sudah lebih dulu meletakkan mushaf Al-Qur'an di hadapannya.

Dengan wajah lesu, Rangga kembali duduk.

Ia membuka halaman yang ditunjuk Emak, lalu mulai melafalkan ayat demi ayat.

Bibirnya membaca.

Matanya melihat huruf-huruf hijaiyah.

Namun, pikirannya melayang ke tempat lain.

Pelataran rumah Denia.

Tawa anak-anak.

Dan terang bulan yang sejak siang terus memenuhi kepalanya.

Tak lama kemudian, azan Isya berkumandang dari langgar.

Belum sampai gema terakhir menghilang, Rangga buru-buru menutup mushaf.

Ia melepas sarung, menggantinya dengan celana pendek, lalu berlari menuju pintu.

"Rangga..."

Suara Emak terdengar dari belakang.

"Bocah kok ya ora sabaran nemen ngenteni padang bulan..."

Beliau hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, membiarkan pintu kayu itu bergoyang pelan setelah ditutup tergesa-gesa oleh putranya.

Udara malam menyambut Rangga begitu ia melangkah keluar rumah.

Bulan purnama telah menggantung utuh di langit Desa Samudra. Cahayanya menumpahkan warna keperakan di atas pematang sawah, jalan tanah, dan atap-atap rumah penduduk. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah bercampur harum bunga kenanga dari halaman-halaman rumah.

Rangga menarik napas panjang.

Senyumnya mengembang sendiri.

Akhirnya... malam yang ditunggunya sejak siang benar-benar datang.

Langkahnya berubah cepat.

Sesekali ia berlari kecil, lalu kembali berjalan sambil bersenandung pelan. Sandal jepitnya memercikkan debu tipis setiap kali menghantam jalan setapak.

Dari kejauhan terdengar riuh suara anak-anak.

Ada yang tertawa.

Ada yang saling memanggil.

Ada pula suara orang-orang dewasa yang bercakap di beranda rumah sambil menikmati terang bulan.

Semakin dekat menuju rumah Denia, jantung Rangga berdetak semakin kencang.

Entah karena terlalu berlari...

Atau karena sebentar lagi ia akan bertemu gadis kecil yang sejak siang memenuhi seluruh isi kepalanya.

Ia memperlambat langkah ketika pagar bambu rumah Denia mulai terlihat.

Pelataran rumah besar itu memang sudah ramai.

Beberapa anak berlarian ke sana kemari. Sebagian lagi berkumpul membentuk lingkaran sambil saling menunjuk siapa yang akan berjaga lebih dulu.

Lampu sentir yang menggantung di teras memancarkan cahaya kekuningan, berpadu lembut dengan sinar rembulan.

Rangga berhenti sejenak di luar pagar.

Matanya menyapu halaman.

Lalu...

Ia melihat Denia.

Gadis kecil itu berdiri di tengah teman-temannya dengan pita merah yang masih menghiasi rambutnya. Tawanya pecah begitu saja ketika seseorang salah menghitung giliran bermain.

Tanpa sadar, senyum Rangga ikut merekah.

Segala rasa tidak sabar yang sejak siang mengaduk-aduk dadanya mendadak menghilang.

Terbayar sudah.

Malam itu bukan sekadar malam terang bulan.

Bagi Rangga kecil, malam itu adalah malam yang akan terus hidup dalam ingatannya, bahkan ketika bertahun-tahun kemudian banyak hal berubah.

Ia melangkah masuk ke pelataran rumah Denia.

Dengan dada berdebar...

Dan senyum yang tak lagi mampu disembunyikan.

BAB 2 : TARIAN KAMAJAYA

Malam itu, langit Desa Samudra benar-benar bersih tanpa cela. Cahaya rembulan purnama tumpah ruah, menyelimuti pelataran luas rumah Denia hingga berubah menjadi panggung alami yang diterangi sinar keperakan.

Mas Trio, Yu Iwan, Yati, Lilis, Handoko, Amanah, dan Tuti telah berkumpul lebih dulu. Tawa mereka bersahutan, bercampur obrolan ringan yang menandai dimulainya permainan padang bulan.

Namun, ada satu orang yang justru menghilang.

Ke mana bocah yang tadi paling bersemangat mengumandangkan azan?

Rangga ternyata sedang meringkuk di bawah rindangnya pohon jambu di samping rumah Denia. Alih-alih bergabung bersama teman-temannya, ia memilih bersembunyi dalam bayang-bayang malam.

Ke mana perginya keberanian yang tadi membawanya berlari tunggang-langgang dari langgar?

Jawabannya datang beberapa saat kemudian.

Sreeet...

Pintu kayu rumah Denia terbuka perlahan.

Rangga spontan mengangkat kepala.

Waktu seolah melambat.

Denia melangkah keluar.

Bagi bocah sebelas tahun itu, dunia mendadak berubah. Dalam benaknya, Denia bukan lagi gadis kecil tetangganya. Ia menjelma menjadi Kajol, aktris film India yang berkali-kali ia tonton lewat televisi komunal desa. Seakan mengenakan sari merah yang berkibar pelan diterpa angin malam, Denia berdiri dengan senyum manis yang membuat dada Rangga berdebar tak keruan.

Gubrak!

Rangga jatuh terduduk begitu saja di bawah pohon jambu.

Lututnya mendadak kehilangan tenaga. Jantungnya berdegup sekencang kentongan ronda, sementara wajahnya memanas entah karena malu atau karena pesona gadis yang sejak tadi tak henti dipandanginya.

"Si Rangga mana ya, Lis? Tadi siang katanya mau main ke sini. Kok belum datang? Tumben, biasanya dia paling cepat kalau padang bulan begini," tanya Denia sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Nama itu terdengar begitu jelas di telinga Rangga.

Ajaib.

Rasa lemas yang tadi menguasai tubuhnya lenyap seketika. Ia buru-buru berdiri, menepuk-nepuk celana pendeknya yang kotor, lalu merapikan kaus oblong yang sedikit kusut. Senyumnya mulai mengembang.

Melihat gelagatnya, aku langsung curiga.

Tatapan bocah itu terlalu percaya diri.

Biasanya, kalau Rangga sudah memasang wajah seperti itu, berarti ada ide nekat yang sebentar lagi lahir.

Dan benar saja.

"Tum paas aaye... yun muskuraye... tumne na jaane kya sapne dikhaye..."

Suara cemprengnya mendadak memecah keheningan pelataran.

Tanpa rasa malu sedikit pun, Rangga melangkah keluar dari balik pohon sambil bernyanyi lantang. Entah pelafalannya benar atau tidak, yang jelas semangatnya tidak kalah dari penyanyi aslinya.

"Ab to mera dil jaage na sota hai... kya karoon haye... kuch kuch hota hai..."

Belum cukup sampai di situ.

Ia ikut meliukkan badan, menirukan gaya Rahul di depan Anjali dengan keyakinan penuh, seolah seluruh pelataran adalah panggung pertunjukan khusus untuknya.

Seketika, gelak tawa pun pecah.

Mas Trio sampai menepuk paha. Yu Iwan membungkuk sambil memegangi perut. Lilis, Handoko, Tuti, dan yang lain ikut tertawa melihat tingkah Rangga yang benar-benar di luar dugaan.

Hanya Denia yang berbeda.

Gadis kecil itu berdiri mematung beberapa saat sebelum senyum lebar menghiasi wajahnya. Kedua pipinya perlahan memerah diterpa cahaya bulan, seolah tak tahu harus merasa malu atau justru menikmati pertunjukan dadakan yang hanya bisa dilakukan oleh Rangga.

"Rangga, kon sih nang apa ujug-ujug teka nembang kaya bocah kesurupan?" protes Mas Trio sambil menggeleng-geleng kepala. Sudut bibirnya masih berkedut menahan tawa melihat aksi sepupunya yang kelewat percaya diri.

Rangga mengangkat kedua bahunya santai, seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.

"Ora papa, Mas. Mung lagi pengen nembang." Ia lantas menoleh ke arah Denia dengan senyum paling manis yang bisa ia pasang. "Iya, kan, Denia?"

Denia langsung mencebik.

"Dih, ya mbuh. Kon dhewe sing pengen nembang, kok aku sing digawa-gawa," balasnya sambil memalingkan wajah. Meski begitu, semburat merah di kedua pipinya belum juga menghilang. Senyum tipis yang berusaha disembunyikannya justru membuatnya tampak semakin manis di mata Rangga.

Handoko bertepuk tangan sekali, berusaha mengembalikan perhatian semua orang.

"Wis, wis. Aja aneh-aneh maneh. Saiki dolanan apa? Tung-tungan, gerobak sodor, sin-sinan, apa wayang wong?"

Belum ada seorang pun sempat menjawab ketika Rangga buru-buru mengangkat tangan.

"Aku melu apa wae, tapi nek iso dolanan Wayang Wong."

"Ngapa kok kudu Wayang Wong?" tanya Mas Trio curiga.

Rangga terkekeh kecil.

"Soale aku gelem dadi Kamajaya."

Tatapan anak-anak langsung beralih kepadanya.

Dengan wajah tanpa dosa, Rangga melanjutkan ucapannya.

"Denia dadi Kamaratih."

Suasana mendadak hening selama beberapa detik.

"Lah... sungkan! Liyane bae!" seru Denia cepat. Ia buru-buru menepis usul itu sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang mulai terpancar jelas di wajah.

Gelak tawa kembali memenuhi pelataran.

Mas Trio sampai menepuk bahu Rangga.

"Dasar! Ono-ono wae pikiranmu."

Rangga hanya nyengir lebar. Penolakannya memang cepat, tetapi setidaknya ia sudah berhasil membuat Denia salah tingkah. Baginya, itu sudah lebih dari cukup.

Sayangnya, usulan Wayang Wong belum mendapat dukungan. Anak-anak lain justru mulai mengajukan permainan pilihan masing-masing.

"Aku gerobak sodor!"

"Sin-sinan wae!"

"Tung-tungan luwih seru!"

Dalam sekejap, pelataran berubah menjadi arena adu pendapat. Masing-masing merasa permainan pilihannyalah yang paling menarik.

Yu Iwan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mengangkat tangan.

"Wis kaya ngene bae. Daripada suwé debat, mending sut. Sing paling akhir menang bebas milih dolanan. Piye?"

Usul itu langsung disambut anggukan.

"Setuju!"

"Ya wis!"

"Gas!"

"Yuk, mubeng!" ajak Handoko sambil menjulurkan tangan ke tengah lingkaran.

Semua anak segera merapat.

Telapak-telapak tangan kecil saling bertemu di tengah lingkaran, bersiap menentukan nasib permainan malam itu.

"Hompimpa alaihum gambreng!”

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Babak pertama pun dimulai.

Yu Iwan, Yati, dan Lilis langsung tersisih. Telapak tangan mereka menghadap ke bawah, sementara yang lain serempak menunjukkan punggung tangan. Ketiganya hanya bisa tertawa pasrah sebelum menyingkir ke tepi pelataran.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Putaran berikutnya kembali memakan korban.

Mas Trio, Tuti, dan Amanah harus menerima nasib yang sama. Mereka keluar dari lingkaran sambil bersungut-sungut kecil, meski sesekali masih saling menggoda.

Lingkaran semakin mengecil.

Kini hanya tersisa empat anak.

Denia.

Handoko.

Rangga.

Dan Mukhayah.

Rangga diam-diam mengusap kedua telapak tangannya ke celana pendek. Entah kenapa, telapak itu terasa mulai berkeringat.

Dalam hati ia terus berdoa.

Ayo, sekali ini saja. Jangan sampai kalah. Aku harus menang.

Kalau sampai Mukhayah atau Handoko yang menang, habislah sudah rencana besarnya. Mimpi menjadi Kamajaya dan memasangkan Denia sebagai Kamaratih akan lenyap begitu saja sebelum sempat dimulai.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Handoko mengembuskan napas panjang begitu melihat posisi tangannya berbeda sendiri.

"Yah... kalah aku."

Ia terkekeh kecil lalu melangkah keluar dari lingkaran.

Kini tinggal tiga orang.

Rangga.

Denia.

Mukhayah.

Suasana yang semula riuh mendadak berubah tegang. Anak-anak yang sudah gugur ikut memperhatikan dengan penuh penasaran.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Denia menatap telapak tangannya, lalu menghela napas pelan.

"Heh... kalah maneh."

Ia tersenyum kecil sebelum berjalan ke pinggir dan berdiri di samping Lilis.

Rangga menahan senyum.

Satu rintangan telah lewat.

Kini tinggal satu lawan lagi.

Di tengah pelataran yang diterangi sinar bulan, Rangga dan Mukhayah saling berhadapan. Anak-anak lain otomatis membentuk lingkaran yang lebih lebar, memberi ruang bagi duel penentuan.

"Sing jujur yo!" seru Mas Trio dari pinggir.

"Iya, ojo curang!" timpal Handoko.

Rangga mengangguk mantap, meski jantungnya berdegup jauh lebih keras daripada biasanya.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Sama.

Keduanya mengeluarkan posisi tangan yang sama.

"Baleni! Baleni!" teriak anak-anak hampir bersamaan.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Masih sama.

Mukhayah mulai terkikik geli, sedangkan Rangga justru menggigit bibir bawahnya. Keringat dingin perlahan muncul di pelipisnya.

Jangan sekarang...

Jangan sampai keberuntungan meninggalkanku sekarang...

Semua mata tertuju pada mereka berdua.

Udara malam terasa lengang.

Bahkan suara jangkrik di pematang sawah seolah ikut meredup, menunggu siapa yang akan menjadi pemenang.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Empat telapak tangan kembali melayang hampir bersamaan....

Dan tepat pada detik itulah, nasib rencana besar Rangga akhirnya benar-benar ditentukan.

Empat telapak tangan kembali melayang hampir bersamaan.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Sunyi.

Semua mata serempak menunduk ke arah tangan mereka.

Sesaat kemudian...

"Yeeee... Rangga menang!"

Sorak sorai langsung meledak memenuhi pelataran.

Rangga membelalakkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menoleh ke arah Mukhayah yang hanya bisa mengangkat bahu sambil tertawa kecil.

"Lha kok iso..." gumam Mukhayah.

Rangga yang semula masih terpaku mendadak melompat tinggi.

"Yes! Menang aku!"

Ia mengepalkan kedua tangan di udara, lalu berlari kecil mengelilingi lingkaran sambil tertawa kegirangan. Wajahnya berseri-seri seperti baru saja memenangkan hadiah paling besar di dunia.

Mas Trio langsung menoyor pelan kepalanya.

"Heh! Wis menang kok malah pamer."

"Hehehe... pisan-pisan, Mas."

"Ya wis, saiki giliranmu. Kon sing menang. Dolanane apa?" tanya Yu Iwan.

Pertanyaan itu membuat senyum Rangga semakin melebar.

Inilah saat yang sudah ditunggunya sejak awal.

Tanpa membuang waktu, ia berdiri tegak di tengah lingkaran, lalu berdeham sok berwibawa.

"Aku milih dolanan Wayang Wong!"

Beberapa anak langsung saling berpandangan.

"Wayang Wong maneh?" keluh Handoko.

"Iya. Wayang Wong!" ulang Rangga mantap.

"Lakone apa?"

Dengan mata berbinar, Rangga menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Kamajaya lan Kamaratih."

Mas Trio langsung menyipitkan mata.

"Oalah... jebul ngono to."

Gelak tawa kembali pecah.

Yu Iwan sampai menepuk bahu Handoko sambil terkekeh.

"Pantesan wae ngotot menang."

Rangga pura-pura tidak mendengar godaan mereka. Tatapannya sudah lebih dulu mencari satu orang.

Denia.

Gadis kecil itu berdiri di samping Lilis sambil memainkan ujung bajunya sendiri. Begitu menyadari dirinya sedang diperhatikan, Denia buru-buru mengalihkan pandangan.

Rangga menarik napas panjang.

Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia melangkah mendekati Denia.

"Den..."

Denia mengangkat wajah pelan.

"Napa?"

"Gelem dadi Kamaratih?"

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.

Anak-anak yang sedari tadi masih bercanda kini ikut menunggu jawaban Denia. Bahkan Mas Trio yang biasanya paling ribut memilih melipat tangan di dada sambil memasang senyum jahil.

Denia menggigit bibir bawahnya.

Pipinya kembali memerah.

Ia menunduk cukup lama hingga Rangga mulai khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya.

Barulah setelah menarik napas pelan, Denia berbisik lirih, nyaris tak terdengar.

"...Yo wis."

Meski pelan, satu kalimat itu sudah lebih dari cukup.

Senyum Rangga langsung mengembang lebar.

Malam padang bulan itu tiba-tiba terasa jauh lebih indah daripada sebelumnya. Bukan karena rembulan yang bersinar penuh, melainkan karena untuk pertama kalinya, gadis yang diam-diam mengisi ruang kecil di hatinya bersedia berdiri di sisinya, meski hanya sebagai Kamaratih dalam sebuah permainan anak-anak.

BAB 3 : REMBULAN PUN IKUT MENARI

BAB 3

Sorak-sorai anak-anak masih memenuhi pelataran rumah Denia. Wajah Rangga berseri-seri. Kemenangan dalam hompimpa barusan benar-benar membuka jalan bagi rencana besarnya malam itu.

"Saiki aku sing menang, dadi sing kalah manut karo sing menang!" seru Rangga penuh percaya diri. Matanya langsung mencari sosok Denia yang berdiri di dekat Lilis.

"Aku milih dolanan Wayang Wong!" lanjutnya lantang.

"Wayang Wong maneh?" celetuk Handoko sambil menggeleng.

"Iya. Lakone Bela Pati Dewi Ratih," jawab Rangga mantap, seolah keputusan itu sudah dipikirkannya sejak lama.

Belum sempat ada yang menyela, Rangga langsung membagi peran.

"Aku dadi Kamajaya. Mas Trio dadi Mahadewa. Denia dadi Dewi Ratih."

Beberapa anak langsung saling pandang. Mas Trio tersenyum geli, sementara Denia hanya menundukkan kepala sambil menggigit bibir, menyadari namanya disebut tanpa diberi kesempatan menolak.

Rangga tak memberi waktu siapa pun untuk berdebat. Begitu semua peran diumumkan, ia langsung berlari sekencang-kencangnya menuju rumah budenya yang berjarak sekitar seratus meter dari pelataran.

Tak butuh waktu lama, Rangga sudah kembali ke pelataran dengan napas memburu. Dada kecilnya naik turun, sementara sepasang matanya berbinar penuh semangat. Di kedua tangannya tergenggam tiga lembar kain tapih batik yang masih rapi terlipat. Dari kain-kain itu masih tercium samar aroma hangat setrika arang, seolah baru saja diangkat dari papan setrikaan.

"Ngga... kon nyolong kain budemu, ta?" goda Mas Trio sambil terkekeh.

"Enak wae. Iki tak silih. Mengko yo tak balekke," jawab Rangga cepat, lalu mengibaskan salah satu kain dengan bangga.

"Edan... niat tenan," celetuk Handoko geleng-geleng kepala.

Rangga hanya menyeringai. Baginya, lakon sebesar Bela Pati Dewi Ratih tidak pantas dimainkan tanpa properti. Walaupun seadanya, setidaknya malam itu mereka harus benar-benar terlihat seperti tokoh wayang.

Mas Trio segera mengambil sebuah kursi bambu kecil yang tergeletak di teras rumah Denia. Ia meletakkannya tepat di tengah pelataran, lalu duduk bersila di atasnya. Kedua matanya terpejam rapat, sementara kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut.

"Wis, aku Mahadewa," ucapnya pendek.

"Ojo ngguyu lho, Mas!" seru Rangga mengingatkan.

"Iya... iya..."

Di sisi lain, Denia menerima selembar kain tapih dari tangan Rangga. Gadis kecil itu sempat memandang kain tersebut beberapa saat sebelum melilitkannya perlahan di pinggang. Gerakannya masih kikuk, hingga Lilis ikut membantu merapikan simpulnya.

"Nah... saiki ayu," puji Lilis sambil tersenyum.

Denia hanya menunduk malu.

Sementara itu, Rangga mengenakan kain tapih miliknya dengan wajah yang begitu serius. Sesekali ia menarik ujung kain ke kanan dan ke kiri, memastikan ikatannya tidak mudah lepas saat nanti bergerak.

Begitu semua siap, ia melangkah ke tengah pelataran.

Anak-anak yang tadi masih bercanda kini otomatis membentuk lingkaran. Tidak ada panggung, tidak ada gamelan, apalagi lampu sorot. Hanya cahaya bulan purnama yang menggantung di langit, ditemani suara jangkrik dari pematang sawah.

Namun, bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.

Rangga menarik napas panjang.

Seketika wajah jahilnya lenyap. Bocah itu benar-benar tenggelam ke dalam peran yang akan dimainkannya.

Dengan langkah pelan dan kedua tangan yang bergerak gemulai, ia mulai mengitari Mahadewa yang masih duduk bermeditasi.

"Wahai Mahadewa..." serunya lantang. "Mengapa Engkau terus memejamkan mata? Tidakkah Engkau mendengar kerinduan Dewi Sati yang menantikan kehadiran-Mu?"

Suara Rangga menggema di pelataran yang lengang.

Ia kembali melangkah memutar, sesekali mengangkat tangan seperti seorang ksatria yang sedang berbicara kepada dewanya.

"Bangunlah, Mahadewa! Temuilah Dewi Sati yang mencintai-Mu dengan sepenuh hati!"

Anak-anak yang menonton mulai saling pandang. Beberapa di antara mereka menahan tawa, bukan karena mengejek, melainkan kagum melihat kesungguhan Rangga memainkan perannya.

Mas Trio pun tak kalah totalitas. Sejak duduk bersila, tubuhnya nyaris tak bergerak sedikit pun. Bahkan kelopak matanya tetap terpejam rapat, seolah benar-benar sedang bertapa.

Melihat itu, Rangga semakin bersemangat.

Baginya, malam padang bulan di Desa Samudra telah berubah menjadi sebuah panggung kerajaan kahyangan.

Perlahan, Denia melangkah memasuki lingkaran permainan. Kain tapih yang melilit di pinggangnya bergoyang pelan mengikuti langkah kaki mungilnya. Meski wajahnya tampak malu-malu, ia berusaha mengingat setiap dialog yang sejak tadi didengarkan dari Rangga.

Rangga menoleh.

Sesaat, ia benar-benar lupa bahwa yang berdiri di hadapannya hanyalah Denia, teman bermainnya sejak kecil. Dalam benaknya, gadis itu telah berubah menjadi Dewi Ratih yang anggun.

Denia berhenti beberapa langkah di sampingnya, lalu membungkukkan badan sedikit.

"Wahai junjunganku, Tuanku Kamajaya," ucapnya lirih, "janganlah Tuanku mengganggu meditasi Mahadewa. Hamba khawatir Mahadewa murka dan menjatuhkan hukuman kepada Tuanku."

Nada suaranya memang masih terdengar canggung. Namun, justru kepolosan itulah yang membuat semua anak terdiam sejenak.

Rangga ikut terdiam.

Jantungnya kembali berdebar tidak karuan.

Ia nyaris lupa menarik napas.

Untung saja, naskah lakon yang sudah dihafalnya sejak siang masih tersimpan rapi di dalam kepalanya.

Dengan dada dibusungkan, ia kembali memasuki perannya.

"Wahai Ratih," katanya penuh keyakinan, "semua ini kulakukan demi menghormati cinta Dewi Sati yang begitu suci kepada Mahadewa. Bila memang harus, akan kulepaskan panah asmara untuk membangunkan beliau."

Denia menggeleng pelan.

"Jangan, Tuanku. Mahadewa sedang bertapa. Bila beliau murka, bencana akan datang. Lautan bisa mendidih, gunung berguncang, bahkan langit dan bumi dapat porak-poranda."

Beberapa anak saling berpandangan sambil menahan senyum. Kalimat-kalimat itu terdengar begitu megah keluar dari mulut bocah-bocah desa yang sehari-harinya lebih akrab dengan sawah dan sungai.

Namun, Rangga sama sekali tidak menganggapnya lucu.

Baginya, malam itu adalah pertunjukan yang sesungguhnya.

"Tidak, Ratih!" sahutnya mantap. "Apa pun risikonya, Mahadewa harus dibangunkan."

Usai mengucapkan kalimat itu, Rangga mundur beberapa langkah.

Ia berjalan ke arah pohon jambu di tepi pelataran, lalu membungkuk mengambil sesuatu yang sejak tadi disembunyikannya di balik rerumputan.

Sebuah busur kayu kecil.

Lengkap dengan sebatang anak panah yang ujungnya telah dibuat tumpul.

Anak-anak yang melihatnya spontan berseru.

"Lho... kon nggawe kuwi kapan?"

"Heh... tenan nggawa panah!"

Rangga hanya tersenyum tipis.

Tanpa banyak bicara, ia menggenggam busur itu erat-erat. Jemarinya menarik tali busur perlahan hingga menegang, sementara ujung anak panah mengarah lurus ke dada Mahadewa yang masih duduk bersila tanpa bergerak sedikit pun.

Mas Trio benar-benar menghayati perannya. Sejak awal duduk, ia tetap memejamkan mata, seolah tak menyadari bahwa dirinya kini sedang dibidik.

Suasana pelataran mendadak sunyi.

Tak ada lagi tawa.

Semua anak menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Saat itulah Denia melangkah cepat.

"Tuanku Kamajaya... jangan."

Dengan ragu-ragu, kedua tangan mungilnya menyentuh lengan Rangga yang masih menahan busur.

Sentuhan itu begitu ringan.

Namun, bagi Rangga, rasanya seperti aliran listrik yang menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya.

Ia membeku.

Mulutnya terbuka pelan.

"Tidak, Den..."

Kalimat itu menggantung.

Otaknya yang sejak tadi lancar menghafal setiap dialog mendadak kosong.

Semua kata yang telah disusunnya sejak siang tadi lenyap begitu saja, hanya karena satu sentuhan tak terduga dari gadis yang diam-diam memenuhi ruang kecil di hatinya.

Di bawah cahaya bulan purnama, lakon Wayang Wong itu mungkin hanya sebuah permainan bagi anak-anak yang lain. Namun bagi Rangga, malam itu adalah awal dari sebuah perasaan yang kelak akan tumbuh jauh melampaui usia mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!