Indonesia
NovelToon NovelToon

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Bab 1.Pinangan sang Juragan Pabrik

Menikah muda? Jangankan merencanakannya, melintasi isi kepala Kinanti Larasati saja tidak pernah. Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, lembaran masa depan yang ingin dia lukis bukanlah tentang pelaminan, melainkan tentang selembar ijazah sarjana dan slip gaji pertama. Yang ada di pikiran Kinanti saat ini hanyalah satu: bekerja keras, menghasilkan uang sendiri, dan mengangkat derajat kedua orang tuanya dari kubangan kemiskinan.

Kehidupan keluarga Kinanti sangatlah sederhana—jika tidak mau disebut serba kekurangan. Gadis bermata bening itu adalah anak tunggal dari pasangan Bapak Adriani dan Ibu Helnawati. Bapak Adriani menghabiskan separuh harinya sebagai buruh kasar di sebuah pabrik beras di pinggiran kampung mereka, dengan upah yang sering kali habis sebelum akhir bulan. Sementara sang ibu, Ibu Helnawati, menyambung napas dapur mereka dengan menjadi buruh cuci pakaian panggilan dari rumah ke rumah tetangga.

Semenjak mengantongi ijazah SMA beberapa bulan lalu, Kinanti tidak membiarkan dirinya menganggur. Dia sangat giat mencari pekerjaan. Sudah toko demi toko di sepanjang jalan kota dia datangi, puluhan lembar surat lamaran kerja telah dia sebar dengan harapan ada satu keajaiban yang mampir. Namun, takdir belum berpihak. Jawabannya selalu sama: “Maaf, lowongan sudah penuh.”

Meski penolakan demi penolakan menampar wajahnya, Kinanti tetap menolak untuk putus asa. Semangat di dadanya tidak pernah surut. Sambil menunggu panggilan dari toko-toko yang tersisa, Kinanti memilih untuk tidak berpangku tangan. Setiap pagi, dia selalu setia menemani ibunya merendam, mengucek, dan memeras tumpukan pakaian kotor milik para tetangga yang jauh lebih berada.

Siang itu, matahari membakar ubun-ubun dengan begitu terik. Setelah peluh membasahi seluruh pakaiannya akibat membantu sang ibu mencuci di rumah ujung jalan, Kinanti melangkah pulang lebih dulu. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Rumah berdinding papan yang sangat sederhana, tempatnya berteduh sejak kecil.

Kinanti bergegas membuka pintu, lalu berbalik menyambut ibunya yang berjalan gontai di belakangnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak begitu pias dan kelelahan.

"Ibu, duduklah dulu. Pasti Ibu capek banget hari ini. Biar Kinan bikinkan teh hangat ya, Bu," ucap Kinanti dengan suara lembut, berusaha mengusir penat yang bergelayut di wajah sang ibu.

Ibu Helnawati tersenyum lemah. Tubuh rentanya dijatuhkan ke atas kursi kayu satu-satunya di ruang tamu kecil itu. "Iya, Nak. Terima kasih."

Tak butuh waktu lama bagi Kinanti untuk kembali dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

"Ini, Bu, tehnya. Minumlah dulu selagi hangat. Setelah ini Ibu harus istirahat total di kamar, ya. Biar Kinan saja yang menyiapkan makanan buat Bapak nanti setelah pulang bekerja," kata Kinanti sembari menyodorkan cangkir tersebut.

Ibu Helnawati menerima cangkir itu, namun dia tidak langsung meminumnya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca menatap jemari Kinanti yang tampak memerah dan kasar akibat deterjen. Rasa sesak mendadak menghantam dada sang ibu.

"Kinan... maafkan Ibu dan Bapak, ya," ucap Ibu Helnawati dengan suara bergetar. Sepasang matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam dan rasa bersalah yang teramat sangat. "Kami orang tua yang gagal. Kami tidak bisa membahagiakanmu, bahkan untuk meneruskan keinginanmu untuk berkuliah saja kami tidak mampu..."

Mendengar penuturan ibunya, dada Kinanti terasa berdenyut nyeri. Namun, dia mengulas senyum paling manis yang dia miliki. Dia berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat.

"Ibu, siapa bilang Ibu dan Bapak tidak membahagiakan Kinan? Kinan sangat bahagia menjadi anak Ibu dan Bapak. Jangan pernah merasa bersalah seperti ini lagi, Bu," potong Kinanti dengan nada tegas namun penuh kasih. "Sekarang, sudah waktunya Kinan yang bergerak untuk membahagiakan Ibu dan Bapak. Kalau nanti Kinan sudah mendapatkan pekerjaan yang layak, Ibu dan Bapak tidak perlu memeras keringat lagi. Biar Kinan yang menanggung semuanya. Biar Kinan yang menafkahi Ibu dan Bapak."

"Tapi, Nak... kamu itu perempuan. Harusnya kamu—"

"Sudahlah, Bu," potong Kinanti lagi, tak ingin ibunya larut dalam kesedihan yang berlarut-larut. "Sana Ibu mandi dulu biar segar, lalu istirahat. Kinan harus segera ke dapur untuk memasak. Bapak pasti sebentar lagi pulang dan kelaparan."

Kinanti bangkit berdiri, menyembunyikan sekelumit rasa sedihnya sendiri di balik punggung, lalu melangkah menuju dapur yang sempit. Ibu Helnawati hanya bisa menatap punggung putrinya dengan pandangan mata yang kabur oleh air mata. Anak sebaik ini, mengapa harus lahir di keluarga semiskin kita? batin sang ibu pilu.

Di dapur, Kinanti mencoba mengalihkan seluruh pikirannya dengan fokus memasak lauk seadanya. Di tengah kepulan asap tumisan, sayup-sayup dari arah pintu depan terdengar suara ketukan dan salam yang sangat dia kenali.

"Assalamu’alaikum..."

"Wa’alaikumussalam," jawab Kinanti setengah berlari menuju depan.

Itu Bapak. Tubuh tegap yang kini mulai membungkuk itu tampak basah oleh keringat, dengan seragam pabrik yang dekil. Kinanti segera menyambut tangan kanan ayahnya, meraihnya dengan takzim, lalu menciumnya dengan penuh hormat.

"Mandilah dulu, Pak. Kinan sudah menyiapkan air hangat dan makanan untuk Bapak dan Ibu," ucap Kinanti riang.

Bapak Adriani tersenyum, mengusap pucuk kepala putrinya yang berbakti. "Ibumu mana, Kinan?"

"Ibu ada di kamar, Pak. Sedang istirahat karena tadi kecapekan setelah mencuci," jawab Kinanti jujur.

Bapak Adriani mengangguk pelan. Dia melangkah meninggalkan Kinanti yang kembali ke dapur, lalu perlahan membuka pintu kamar untuk menyusul sang istri.

Beberapa saat kemudian, setelah sore berganti malam, ketiganya berkumpul di area dapur yang merangkap sebagai ruang makan darurat itu. Di atas meja kayu bulat, mereka menikmati makan malam yang sangat bersahaja. Sambil mengunyah, Bapak Adriani mulai menceritakan peluh dan dinamika pekerjaannya di pabrik beras hari ini. Kinanti dan ibunya mendengarkan dengan seksama, sesekali menyisipkan tawa kecil agar suasana rumah terasa hangat, menepis pekatnya kemiskinan yang mengepung mereka.

Malam pun semakin larut. Suara jangkrik di luar rumah terdengar saling bersahutan. Di dalam kamar, lampu minyak temaram menerangi sepasang suami istri yang belum juga bisa memejamkan mata.

Bapak Adriani menatap istrinya yang sejak tadi hanya memandangi dinding papan dengan tatapan kosong. "Kenapa, Bu? Dari tadi Bapak perhatikan Ibu selalu melamun. Apa ada masalah yang sedang Ibu pikirkan?"

Ibu Helnawati membalikkan badannya menghadap sang suami. Raut wajahnya kembali mendung. "Pak... Ibu kasihan sekali sama anak kita, Kinanti. Seharusnya di usia semuda dia, gadis itu tidak perlu ikut memikirkan cara mencari uang untuk kita. Di usianya sekarang, dia harusnya duduk di bangku kuliah, mengejar impian-impiannya yang sering dia ceritakan dulu. Biarpun Kinan selalu terlihat tegar dan tersenyum di hadapan kita, tapi Ibu tahu betul perasaan anak kita yang sebenarnya, Pak. Dia memendam kekecewaannya dalam-dalam," ucap Ibu Helnawati dengan suara yang kembali tercekat menahan tangis.

Bapak Adriani terdiam. Dia menarik napas panjang, seolah beban seberat batu besar baru saja diletakkan di atas dadanya. Dia mengulurkan tangan, memegang pundak istrinya dengan lembut untuk memberikan ketenangan yang sebenarnya tidak dia miliki.

"Bu... sebenarnya, ada hal sangat penting yang mau Bapak bicarakan sama Ibu. Ini tentang masa depan anak kita," ucap Bapak Adriani dengan nada suara yang mendadak berubah sangat serius, bahkan cenderung berat.

Ibu Helnawati mengernyitkan dahi, menatap suaminya penuh kebingungan sekaligus cemas. "Ada apa, Pak? Apa yang mau Bapak bicarakan tentang Kinan? Jangan membuat Ibu takut."

"Ibu ingat Juragan Ramli? Pemilik pabrik besar tempat Bapak bekerja selama bertahun-tahun ini?" tanya Bapak Adriani.

"Tentu saja Ibu ingat. Ada apa dengan Juragan Ramli, Pak?"

"Tadi siang... Juragan Ramli memanggil Bapak secara khusus ke ruang kantor pribadinya, Bu. Sesuatu yang belum pernah terjadi selama Bapak bekerja di sana. Dan di dalam ruangan itu... Juragan Ramli bilang kalau dia ingin menjodohkan anak kita, Kinanti, dengan anak laki-lakinya," ucap Bapak Adriani dengan kepala yang perlahan tertunduk dalam, tidak berani menatap mata istrinya.

Bagai disambar petir di malam yang tenang, Ibu Helnawati tersentak kaget. Tubuhnya menegak seketika.

"Apa, Pak?! Menjodohkan Kinanti?!" pekik Ibu Helnawati tertahan, memastikan dia tidak salah dengar. "Pak, apa tidak salah? Anak kita itu masih sangat muda, baru sembilan belas tahun! Lagipula, setahu Ibu... anak laki-laki Pak Ramli itu seorang duda yang sudah beranak satu! Umurnya juga jauh di atas Kinan! Dan sejak kapan Pak Ramli tahu tentang Kinan? Setahu Ibu, anak kita tidak pernah sekalipun bertemu atau menginjakkan kaki di rumah Juragan Ramli!"

Bapak Adriani menghela napas pasrah, lalu mulai menjelaskan pangkal persoalannya.

"Beberapa hari yang lalu, Bu... Ibu ingat tidak, waktu Bapak terburu-buru berangkat kerja dan lupa membawa kotak bekal makan siang yang sudah Ibu siapkan? Hari itu, Ibu menyuruh Kinanti untuk mengantarkan makanan itu langsung ke pabrik karena jaraknya lumayan jauh."

Ibu Helnawati berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Iya, Ibu ingat. Lalu?"

"Nah, disaat Kinanti mengantarkan makanan itu ke area pos depan pabrik, Bapak kebetulan sedang berjalan bersama Juragan Ramli. Kinanti menyerahkan bekal itu dengan sangat sopan, mencium tangan Bapak, lalu langsung pamit pulang. Ternyata... dari situlah Juragan Ramli melihat perangai anak kita. Beliau sangat tertarik dengan kesopanan dan kesederhanaan Kinanti, hingga berniat menjodohkannya dengan anaknya yang menduda itu."

Bapak Adriani kembali menatap istrinya dengan pandangan mata yang penuh dilema. "Juragan Ramli berjanji, kalau pernikahan ini terjadi, beliau akan menanggung seluruh utang keluarga kita, merenovasi rumah ini, dan menjamin kehidupan kita tidak akan kesusahan lagi. Bagaimana menurut pendapat Ibu? Apakah kita harus menerima pinangan ini demi menyelamatkan keluarga kita?"

Di balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, sesosok gadis berdiri mematung dengan tubuh yang mendadak dingin bak es. Kinanti, yang awalnya berniat mengantarkan segelas air minum untuk ayahnya, tak sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Gelas di tangannya bergetar hebat. Di usianya yang baru sembilan belas tahun, takdir baru saja menjatuhkan pilihan paling kejam di atas pundaknya: mengorbankan masa mudanya untuk menjadi istri seorang duda, atau membiarkan orang tuanya hancur digilas kemiskinan?

Bab 2. penolakan yang Sia - Sia

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing, meninggalkan semburat jingga di langit kampung yang masih berkabut. Kinanti sudah terbangun sejak buta. Matanya sedikit sembab akibat semalaman memikirkan obrolan kedua orang tuanya yang tidak sengaja dia dengar. Sambil menarik napas panjang untuk menguatkan hati, dia melangkah mendekati ibunya.

"Ibu, hari ini biar Kinan saja yang pergi ke rumah Bu Romlah untuk mencuci. Ibu di rumah saja sambil beristirahat. Lagian Bapak hari ini kan sedang libur bekerja. Kinan siap-siap dulu ya, Bu, biar tidak terlambat nanti," ucap Kinanti, memaksakan seulas senyum di bibirnya agar kecamuk di dadanya tidak kentara.

Ibu Helnawati yang sedang merapikan tempat tidur menoleh, tatapannya sendu. "Baiklah, Nak. Kalau begitu Ibu akan menyiapkan sarapan untukmu dan Bapak dulu."

"Tidak usah, Bu. Kinan sudah menyiapkan sarapannya di meja makan," potong Kinanti cepat. Sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh, gadis itu bergegas melangkah pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap.

Setelah mematut diri di depan cermin tua dan memastikan penampilannya rapi, Kinanti keluar dari kamar. Namun, langkahnya mendadak kaku saat melihat bapak dan ibunya sudah duduk berdampingan di meja makan. Suasana mendadak hening, menyisakan ketegangan yang merayap di udara.

"Kinan, duduklah dulu. Ada yang Bapak dan Ibu ingin bicarakan kepadamu," suara Bapak Adriani memecah keheningan. Beliau menatap putri tunggalnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kamu masih ingat dengan anaknya Juragan Ramli?"

Jantung Kinanti bertalu hebat. Dia meremas ujung bajunya di bawah meja, berusaha bersikap sewajar mungkin. "Ya, Pak, Kinan ingat. Ada apa dengan anak Juragan Ramli?" ucap Kinanti, berpura-pura tidak tahu apa-apa soal rencana besar yang tengah mengintai masa mudanya.

Bapak Adriani berdeham, menatap lurus ke dalam manik mata putrinya. "Juragan Ramli ingin menjodohkanmu dengan Mas Baskara, anaknya."

Bagai dihantam ombak besar, meski sudah tahu, mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut sang ayah tetap saja membuat dada Kinanti sesak. Dia menggeleng pelan, menolak pasrah pada takdir.

"Tapi, Pak... Kinan tidak ingin menikah dulu. Kinan juga masih sangat muda," pinta Kinanti dengan suara yang mulai bergetar. "Kinan masih ingin bekerja keras mencari uang sambil menabung untuk berkuliah. Dan... dan yang Kinan tahu, anak Juragan Ramli itu sudah pernah menikah dan sudah mempunyai anak. Kinan masih belum siap untuk menikah dan menjadi ibu di usia sekarang, Pak," lanjutnya, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan memohon.

"Ibu dan Bapak sudah menyetujui perjodohan ini, Kinanti!" Tiba-tiba suara Ibu Helnawati meninggi, terdengar sangat tegas dan tak terbantah.

Kinanti terkesiap. Setetes air mata lolos begitu saja melewati pipinya. "Bu... apa ini? Kinan tidak ingin menikah," bisiknya lirik, menahan tangis yang siap meledak di dada.

Wajah Ibu Helnawati melunak, namun sorot matanya tetap mengeras. "Ini semua demi kebaikanmu sendiri, Nak. Siapa tahu setelah kamu menikah dengan keluarga mereka, hidupmu akan jauh lebih nyaman dan terjamin daripada hari ini. Ibu dan Bapak hanya ingin melihat kamu bahagia, tidak perlu hidup melarat seperti kami."

Bapak Adriani mengulurkan tangan, menggenggam jemari Kinanti yang terasa sedingin es. "Bapak yakin, anak Juragan Ramli adalah pria yang bertanggung jawab. Dia pasti bisa membantumu mengejar impian-impianmu yang tertunda, Nak."

Rasa kecewa dan sesak yang bergemuruh di dada Kinanti akhirnya tak mampu lagi dia bendung. Dia menarik tangannya dari genggaman sang ayah, lalu bangkit berdiri dengan tubuh gemetar.

"Pak, Bu... apa harus dengan cara menikah Kinan bisa mengejar impian Kinan? Kinan tidak ingin menikah untuk saat ini! Yang Kinan pikirkan selama ini hanya ingin bekerja dan membuat kalian bahagia dengan keringat Kinan sendiri!" seru Kinanti, berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar.

Sebelum jemari Kinanti menyentuh gagang pintu, suara tegas Ibu Helnawati kembali menggelegar, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

"Kalau kamu memang ingin melihat kami bahagia, menikahlah dengan anak Juragan Ramli!"

Kata-kata itu bagai belati yang menusuk tepat di jantung Kinanti. Gadis itu terdiam sesaat, tubuhnya menegang, menolak untuk berbalik. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia membuka pintu dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan langkah seribu, membawa hancurnya sekeping harapan yang dia miliki.

Di sepanjang jalan setapak menuju rumah Bu Romlah, air mata Kinanti tumpah tanpa bisa dicegah. Dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata.

Kenapa harus begini? Apa aku harus menikah muda hanya agar bisa mengejar impianku? Kenapa juga Ibu dan Bapak harus langsung menerima perjodohan itu tanpa memikirkan perasaanku? Umurku masih sembilan belas tahun... aku tidak ingin menikah di usiaku yang masih sedini ini. Lagipula, perbedaan usia kami terlampau sangat jauh! aku harus menikah dengan pria sedewasa itu? batin Kinanti menjerit pilu.

Lututnya mendadak lemas. Kinanti tak sanggup lagi melangkah. Dia terduduk di pinggir jalan yang sepi, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang.

Di tengah isak tangisnya yang membelah keheningan pagi, Kinanti sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sejak tadi berjalan pelan, lalu berhenti tepat beberapa meter di sampingnya. Di dalam mobil itu, sepasang mata elang yang tajam tengah memperhatikannya dengan saksama.

Baskara Dirgantara menatap gadis yang sedang duduk meringkuk di pinggir jalan itu dari balik kaca mobil. Ada rasa penasaran sekaligus ketertarikan yang aneh merayap di dadanya. Pria itu menghela napas, memutuskan untuk keluar dari mobil. Langkah kakinya yang mantap berderap mendekati sosok Kinanti.

"Kinanti," panggil pria itu dengan suara berat dan berwibawa.

Mendengar suara asing yang menggelegar di dekatnya, Kinanti tersentak. Dia menoleh dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, lalu buru-buru bangkit dari duduknya saat mengenali siapa pria bertubuh tegap di hadapannya.

"Om..." ucap Kinanti terbata-bata, reflek memanggilnya dengan sebutan yang menunjukkan jarak usia mereka.

Baskara mengernyitkan alisnya, tampak bingung sekaligus tidak nyaman melihat tingkah laku gadis di depannya yang menangis tersedu-sedu. "Kenapa kamu menangis di pinggir jalan seperti ini?"

Kinanti menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap langsung mata tajam pria mapan itu. "Om... bisakah saya berbicara dengan Anda sebentar?"

Baskara diam sejenak, hanya bisa pasrah dan menahan rasa kesalnya mendengar panggilan 'Om' yang keluar dari bibir ranum gadis itu. "Baiklah, ikuti saya. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya dengan suara tegas khas seorang pria yang terbiasa memberi perintah.

Mereka bergeser sedikit ke area yang lebih teduh di bawah pohon. Kinanti meremas kedua tangannya yang gemetar. "Sebelumnya... saya ingin meminta maaf terlebih dahulu, Om," ucap Kinanti, akhirnya memberanikan diri menatap mata Baskara meskipun suaranya sedikit bergetar karena takut. "Saya... saya tidak bisa menikah dengan Anda. Saya menolak perjodohan ini."

Mendengar penolakan yang begitu berani dan langsung, raut wajah Baskara seketika berubah mengeras. Dia melipat kedua tangannya di dada, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Apa alasanmu menolak perjodohan ini?" tanya Baskara dingin.

"Saya belum siap untuk menikah, Om. Saya masih terlalu muda, dan saya masih belum yakin untuk membangun sebuah rumah tangga," jawab Kinanti jujur, berharap pria di hadapannya ini memiliki belas kasihan untuk membatalkan rencana gila sang ayah.

Baskara tidak langsung menjawab. Sepasang matanya meneliti wajah Kinanti yang polos tanpa riasan, namun menyiratkan kecantikan alami yang begitu memikat di bawah sinar matahari pagi. Cantik, puji Baskara dalam hati, mengagumi ketegasan di balik kerapuhan gadis desa di depannya ini.

Namun, ego dan harga dirinya sebagai pria terpandang tidak membiarkan dirinya ditolak begitu saja. Baskara kembali bersuara dengan nada yang lebih dingin dan mutlak. "Saya tidak menerima penolakanmu, Kinanti. Saya akan tetap menikahimu secepat mungkin."

"Tapi, Om—"

"Pikirkan orang tuamu, dan belajarlah mulai hari ini untuk menyukaiku," potong Baskara dengan kalimat yang menusuk telak. Dia maju selangkah, membuat Kinanti terkesiap mundur. "Jangan pernah kamu membahas tentang penolakan ini lagi di depan saya atau orang tuamu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas seluruh keperluan dan masa depanmu setelah kita menikah nanti. Dan satu hal lagi... kamu tidak perlu lagi menjadi buruh cuci rendahan di kampung ini."

Suara tegas Baskara mengunci mati semua bantahan yang ingin Kinanti layangkan. "Kalau memang kamu ingin melihat kedua orang tuamu bahagia dan lepas dari penderitaan, turutilah apa yang mereka inginkan," lanjut Baskara, memberikan kalimat skakmat.

Kinanti kehabisan kata-kata. Air matanya kembali meluncur deras. Sadar bahwa dia tidak akan pernah menang melawan kekuasaan pria di hadapannya, Kinanti akhirnya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, pasrah pada takdir yang mencekik lehernya.

"Baiklah... kalau itu yang Om inginkan. Mau tidak mau... saya harus menerimanya," bisik Kinanti dengan suara parau yang menyedihkan. Tanpa menunggu jawaban dari Baskara, gadis itu membalikkan badannya begitu saja dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan sang calon suami di tepi jalan.

Baskara membeku di tempatnya. Pria yang terbiasa dipuja dan dipatuhi itu terkejut bukan main atas sikap acuh dan dingin yang baru saja Kinanti tunjukkan padanya. Baru kali ini dalam hidupnya, seorang Baskara Dirgantara diabaikan dan ditolak secara terang-terangan oleh seorang gadis desa yang sederhana.

Baskara menatap punggung Kinanti yang menjauh dengan senyum tipis yang sarat akan arti misterius. Sambil berjalan kembali menuju mobilnya, dia membatin, Menarik. Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan dinding es itu setelah menjadi istriku, Kinanti.

Bab 3. Ambisi sang Tuan Muda

Langkah kaki Kinanti Larasati berderap cepat di atas tanah berbatu, seolah-olah dia tengah dikejar oleh monster yang paling menakutkan. Gadis itu menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Setelah pertemuan yang mengejutkan sekaligus mengintimidasi di pinggir jalan pagi itu, Kinanti memilih melarikan diri, meninggalkan Baskara begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.

Tujuannya hanya satu,rumah Ibu Romlah. Dia harus segera menenggelamkan diri dalam tumpukan baju kotor demi mengalihkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

"Dasar pria keras kepala! Egois! Sok berkuasa!" umpat Kinanti lirih di sepanjang jalan. Suaranya bergetar menahan kekesalan yang amat sangat. Seumur hidupnya, belum pernah dia bertemu dengan pria seangkuh dan sedingin Baskara Dirgantara. Pria itu memperlakukannya seolah-olah masa depan Kinanti adalah barang dagangan yang bisa dibeli dengan mudah.

Sementara itu, di tepi jalan yang mulai dilewati satu dua warga kampung, Baskara masih berdiri mematung. Matanya lurus menatap punggung kecil Kinanti yang perlahan menghilang di belokan jalan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang sulit diartikan. Pria itu kemudian berbalik, melangkah tegap menuju mobil mewah hitamnya. Pintu mobil ditutup dengan dentuman keras, sebelum mesin menderu dan kendaraan itu melaju membelah jalanan kampung menuju pabrik beras milik keluarganya.

Suara bising mesin pabrik langsung menyambut kedatangan Baskara begitu mobilnya memasuki area parkir khusus. Tanpa memedulikan sapaan hormat dari para karyawan yang berpapasan dengannya, Baskara melangkah lurus menuju gedung utama, tepatnya ke ruang kerja pimpinan.

Di dalam ruangan yang ber-AC sejuk itu, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih tampak sedang memeriksa beberapa dokumen. Dialah Pak Ramli, pemilik sah dari seluruh aset pabrik ini sekaligus ayah kandung Baskara.

Mendengar pintu ruangannya terbuka, Pak Ramli mendongak. Begitu mendapati sang putra sulung yang masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi, Pak Ramli langsung meletakkan pulpennya. Beliau tidak ingin membuang waktu untuk basa-basi.

"Bagaimana? Apa kamu setuju atas perjodohanmu dengan anak Adrian?" tanya Pak Ramli langsung pada intinya. Tatapannya menuntut jawaban pasti.

Baskara tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mendudukkan tubuhnya dengan santai.

Melihat keterdiaman anaknya, Pak Ramli menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursi kerjanya. Beliau berjalan mendekat, berdiri di depan Baskara dengan gurat wajah penuh kecemasan.

"Baskara... Ayah melakukan ini bukan tanpa alasan. Ayah hanya tidak suka melihat mantan istrimu, Chnthia, masih saja terus-menerus mengganggu kehidupanmu. Kamu tahu sendiri bagaimana wataknya. Kalau kamu tidak segera menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru, wanita licik itu pasti akan tetap datang ke rumahmu dengan sejuta alasan apapun!"

Suara Pak Ramli mendadak meninggi saat ingatan masa lalu kembali mengusik benaknya. "Ayah sudah memperingatkanmu jauh-jauh hari sebelum kamu memutuskan untuk menikahi wanita itu dulu, Baskara! Dan lihat apa yang kamu dapatkan sekarang? Penghinaan! Pengkhianatan! Belum lagi sifat wanita licik itu yang gila harta dan terus memerasmu!"

Mendengar nama wanita dari masa lalunya disebut, rahang Baskara mendadak mengeras. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi sedingin es yang mematikan. Luka lama akibat pengkhianatan Cynthia Praditya seolah dikuliti kembali.

"Sudahlah, Yah. Jangan sebut-sebut lagi nama wanita itu di depan aku," potong Baskara dengan suara berat yang sarat akan penekanan. "Setahu Ayah juga bukan aku yang mengejarnya lagi. Wanita itu sendiri yang selalu datang mencari celah, memanfaatkan anak kami, Natasha, sebagai tameng agar bisa masuk kembali ke dalam hidupku."

Baskara terdiam sejenak. Bayangan wajah polos Kinanti yang menangis di pinggir jalan tadi mendadak melintas di kepalanya. Gadis desa yang berani menolaknya mentah-mentah itu jauh berbeda dengan Cynthia yang penuh kepalsuan dan tipu daya.

Baskara menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan posisi duduknya. "Aku setuju," ucap Baskara tegas, membuat suasana ruangan mendadak hening. "Aku setuju untuk menikahi Kinanti Larasati."

Pak Ramli sedikit terkesiap, namun belum sempat beliau tersenyum lega, kalimat Baskara berikutnya justru membuat sang ayah tertegun.

"Kalau bisa, secepatnya lamar gadis itu ke rumahnya. Minggu ini juga," sambung Baskara dingin tanpa keraguan sedikit pun.

Ayah Ramli menatap ke arah anaknya dengan mata melebar, benar-benar terkejut atas permintaan sepihak untuk mempercepat proses lamaran terhadap gadis desa tersebut. Ini sangat tidak mirip dengan Baskara yang biasanya penuh perhitungan dan keras kepala.

"Apakah... ada sesuatu yang Ayah tidak tahu, Baskara?" tanya Pak Ramli penuh selidik. Beliau menatap putranya dengan dahi berkerut heran. "Tumben sekali kamu langsung setuju, bahkan meminta dipercepat? Tidak ada penolakan atau perdebatan sama sekali seperti biasanya?"

Baskara menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Wajahnya kembali datar, menyembunyikan rapat-rapat ketertarikan misteriusnya pada Kinanti yang baru saja dia temui pagi tadi.

"Ayah menyuruhku untuk segera menikah lagi kan demi menjauhkan Cynthia? Dan sekarang aku mengiyakan keinginan Ayah. Terus... apa yang salah?" ucap Baskara balik bertanya dengan nada acuh tak acuh.

Sebelum ayahnya sempat mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang menjebak, Baskara langsung berdiri dari kursinya.

"Sudahlah, Yah. Masalah ini jangan diperpanjang lagi. Lakukan saja proses lamarannya secepat mungkin," ucap Baskara mengakhiri percakapan secara sepihak. "Aku mau ke gudang belakang dulu untuk memeriksa stok beras yang akan dikirim sore ini."

Tanpa menunggu persetujuan atau kalimat balasan dari ayahnya, pria bertubuh jangkung itu langsung membalikkan badan. Langkah kakinya yang lebar dan tegas membawanya keluar, meninggalkan Pak Ramli sendirian di dalam ruangan yang kini dipenuhi oleh tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi antara Baskara dan Kinanti pagi ini.

Langkah kaki Baskara bergaung di koridor pabrik yang luas. Begitu kakinya menginjak area gudang penyimpanan beras yang, pria itu sebenarnya tidak benar-benar fokus pada tumpukan beras di depannya. Pikirannya justru melayang kembali ke pinggir jalan setapak tadi pagi.

Bayangan wajah Kinanti Larasati yang basah oleh air mata, namun menatapnya dengan binar mata yang penuh keberanian dan penolakan, terus berputar-putar di kepalanya. Selama ini, wanita mana pun yang mendekatinya selalu memuja kekayaan atau ketampanannya. Baru kali ini, seorang gadis desa berumur sembilan belas tahun menatapnya seolah-olah dia adalah sebuah petaka.

Baskara mendengus pelan, menyilangkan dada sambil bersandar pada salah satu pilar besi gudang. Gadis yang menarik, batinnya. Ada semacam ego kebapakan dan lelaki matang yang terusik di dalam dirinya. Dia tidak sabar ingin melihat bagaimana gadis itu akan tunduk di bawah aturannya setelah mereka sah menjadi suami istri nanti.

Tiba-tiba, getaran keras di saku celana jasnya memecahkan lamunan Baskara. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar digital tersebut, rahang Baskara langsung mengeras seketika.

Cynthia Praditya

Baskara membiarkan ponsel itu bergetar selama beberapa detik, berniat mengabaikannya. Namun, karena panggilan itu tak kunjung mati, dengan helaan napas kasar dan ekspresi wajah yang berubah sedingin es, Baskara menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.

"Ada apa lagi, Cynthia?" tanya Baskara langsung, tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat tajam dan intimidatif.

Dari seberang telepon, terdengar suara tawa renyah yang dibuat-buat, disusul dengan nada manja yang sangat manipulatif. "Wow, santai sedikit, Mas Baskara. Kenapa ketus sekali pada ibu dari anakmu sendiri? Aku hanya merindukan Natasha. Aku berniat datang ke rumahmu akhir pekan ini untuk mengajaknya berbelanja dan menginap di apartemenku."

"Tidak perlu," potong Baskara cepat dan mutlak. "Natasha sedang sibuk dengan ujian sekolahnya. Jangan mengganggu ketenangannya dengan drama-drama sialanmu lagi, Cynthia."

"Oh, ayolah, Baskara. Kamu tidak bisa memisahkan seorang ibu dari putrinya yang malang," sahut Cynthia di seberang sana, suaranya mendadak berubah menjadi sedih yang penuh kepalsuan. "Atau... sebenarnya kamu yang merindukanku tapi gengsi untuk mengakuinya? Kamu tahu kan, pintu hatiku selalu terbuka kalau kamu mau kita rujuk kembali demi kebaikan masa depan Natasha?"

Baskara mengepalkan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih. Sifat angkuh dan gila harta wanita ini benar-benar tidak pernah berubah sejak perceraian mereka tiga tahun lalu. Cynthia hanya memanfaatkan Natasha sebagai alat untuk terus menguras hartanya dan mencari celah agar bisa kembali menikmati kemewahan keluarga Dirgantara.

"Dengar baik-baik, Cynthia," ucap Baskara dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Jangan pernah bermimpi untuk kembali ke rumahku. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu... akhir pekan ini aku akan melamar seorang gadis. Aku akan segera menikah lagi dalam waktu dekat. Jadi, berhentilah bertingkah seolah-olah kamu masih punya hak atas hidupku!"

Tanpa menunggu balasan atau jeritan histeris dari mantan istrinya, Baskara langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia memasukkan kembali ponselnya dengan kasar. Keputusannya sudah bulat 100%. Dia harus mempercepat pernikahannya dengan Kinanti, bukan hanya untuk memenuhi keinginan ayahnya, tapi juga sebagai benteng kokoh untuk menyingkirkan Cynthia dari hidupnya selamanya.

Sementara itu, di sudut kampung yang lain, suasana bertolak belakang tengah terjadi di halaman belakang rumah Bu Romlah. Bunyi kecipak air dan kucekan kain terdengar berulang-ulang. Kinanti Larasati sedang berlutut di depan sebuah ember besar yang penuh dengan busa sabun.

Air matanya sudah berhenti mengalir, namun matanya tampak sangat sembab dan merah. Dia meluapkan seluruh rasa sesak, amarah, dan ketakutannya pada tumpukan pakaian kotor di depannya. Dia mengucek kain-kain itu dengan sekuat tenaga, seolah-olah dengan cara itulah dia bisa menghancurkan takdir buruk yang sedang mengepungnya.

Kenapa hidup ini tidak adil? ratap Kinanti dalam hati. Aku hanya ingin bekerja normal, mengumpulkan uang, dan kuliah. Kenapa aku harus dijual kepada seorang duda kaya hanya karena utang dan kemiskinan?

"Kinanti..."

Sebuah tepukan lembut di pundaknya membuat Kinanti terkesiap. Gadis itu buru-buru menghapus keringat di dahinya sekaligus memastikan tidak ada sisa air mata yang terlihat. Dia mendongak dan mendapati Bu Romlah, wanita paruh baya pemilik rumah, sedang berdiri menatapnya dengan pandangan penuh rasa iba.

"Eh, iya, Bu Romlah. Ada apa?" tanya Kinanti, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar ceria.

Bu Romlah menghela napas panjang, lalu ikut berjongkok di samping Kinanti. Beliau merebut selembar pakaian yang sedang diperas dengan sangat kencang oleh Kinanti. "Nduk... kamu itu sedang mencuci baju atau sedang memendam amarah? Kain ini bisa robek kalau kamu peras seperti ini," ucap Bu Romlah dengan nada keibuan yang lembut.

Kinanti langsung menundukkan kepalanya, mendadak merasa bersalah. "Maaf, Bu... Kinan tidak fokus."

Bu Romlah memegang kedua tangan Kinanti yang tampak memerah dan kasar akibat deterjen murahan. "Ibu sengaja keluar karena sejak tadi mendengar isakanmu dari dalam rumah. Ada apa, Kinan? Apa ada masalah berat di rumah? Ceritalah pada Ibu, siapa tahu bebanmu bisa sedikit berkurang."

Pertanyaan yang tulus itu hampir saja membuat pertahanan Kinanti kembali runtuh. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang kembali mendesak ingin keluar. "Kinan... Kinan mau dijodohkan oleh Bapak dan Ibu, bisik Kinanti akhirnya, tak mampu lagi memendam rahasia itu sendirian.

Bu Romlah sedikit terkejut, namun beliau segera mengelus punggung Kinanti untuk menenangkannya. "Dijodohkan? Dengan siapa, Nak?"

"Dengan Om Baskara... anaknya Juragan Ramli pemilik pabrik beras," jawab Kinanti dengan nada suara yang sangat putus asa. "Kinan tidak mau, Bu. Kinan masih sembilan belas tahun. Kinan masih ingin bebas bekerja dan kuliah. Tapi Ibu dan Bapak memaksa karena... karena alasan ekonomi keluarga kami."

Bu Romlah terdiam cukup lama mendengar nama Baskara disebut. Sebagai orang lama di kampung itu, Bu Romlah tentu tahu siapa keluarga Tuan Ramli dan bagaimana tabiat anak laki-lakinya yang kaya raya namun dingin itu.

"Kinan..." Bu Romlah menatap lurus ke dalam mata bening Kinanti dengan tatapan yang sangat dalam. "Ibu tahu ini pasti sangat berat untuk anak seusiamu. Menikah di usia muda dengan seorang duda yang sudah memiliki anak tentu bukan impian gadis mana pun. Tapi, sebagai orang luar, Ibu hanya bisa menasihatimu satu hal."

Bu Romlah menggenggam erat tangan Kinanti. "Bapak dan ibumu adalah orang baik. Mereka tidak mungkin menjerumuskan anak tunggal mereka ke dalam kesengsaraan jika mereka tidak benar-benar terdesak atau jika mereka tidak yakin pria itu bisa menjagamu. Terkadang, takdir tidak datang dengan cara yang kita sukai, Kinan. Jalani dulu dengan ikhlas demi orang tuamu. Siapa tahu... di balik ketakutanmu saat ini, pria itu justru adalah pintu pembuka bagi semua impian-impianmu yang tertunda."

Kata-kata Bu Romlah terngiang-ngiang di telinga Kinanti. Gadis itu terdiam mematung, menatap air sabun yang keruh di dalam ember. Pikirannya kembali melayang pada kalimat ancaman terakhir Baskara di pinggir jalan tadi: “Kalau memang kamu ingin melihat kedua orang tuamu bahagia, turutilah apa yang mereka inginkan.”

Kinanti memejamkan matanya rapat-rapat. Perlahan, sebuah kepasrahan yang pahit mulai merayap di hatinya. Dia tahu, tidak ada jalan keluar lagi untuk melarikan diri. Demi senyuman bapak dan ibunya, dia harus siap menukar kebebasan dan masa mudanya untuk masuk ke dalam kehidupan sang Tuan Muda yang sedingin es.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!