Indonesia
NovelToon NovelToon

Dia Mantan Suamiku.

Bab 1.

Suasana di dalam sebuah restoran mewah yang terletak di tengah kota nampak ramai oleh pengunjung, hingga pelayan di sana dibuat sedikit kewalahan dalam memberikan pelayanan.

"Reka, cepat kamu antarkan pesanan ini ke meja dua puluh!." Kata manager restoran. Saking ramainya pengunjung, manager restoran sampai turun langsung dalam mengawasi para karyawannya.

"Baik, pak." Sejak pagi hingga siang hari ini Reka bahkan belum sempat duduk walau sedetik pun guna sekedar mengisyaratkan tubuh lelahnya. Namun begitu, Reka tetap semangat karena baginya mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah.

Reka meraih nampan berisi menu pesanan dan berlalu untuk mengantarkannya ke meja pengunjung.

Seperti biasa, walaupun tubuhnya lelah, senyum ramah tetap terukir di bibir Reka.

"Selamat menikmati hidangan di restoran kami, Tuan... Nyonya...." Usai menyajikan pesanan, tak lupa Reka mempersilahkan pengunjung menikmati hidangan, sebelum sesaat kemudian pamit undur diri.

"Kalau tidak punya uang, sebaiknya jangan sok-sokan masuk ke restoran kami, Nona!." Suara yang berasal dari meja paling sudut berhasil mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Reka yang hendak kembali ke belakang.

"Sungguh, saya tidak bohong. Dompet dan ponsel saya benar-benar ketinggalan. Saya janji akan segera kembali lagi ke sini dan membayar bill nya, mbak." Wanita cantik berpenampilan modis nampak meminta kebijakan dari pihak restoran agar membiarkannya pergi dan berjanji akan segera kembali.

"Tidak bisa begitu, nona." Salah seorang rekan kerja Reka menolak. Perdebatan kecil itu akhirnya sampai ke telinga manager restoran, hingga datang menghampiri.

Setelah mendengar penjelasan dari karyawan nya, manager restoran justru sepakat untuk tidak memberi kebijakan karena menurutnya zaman sekarang banyak penipu yang berpenampilan layaknya orang kaya demi melancarkan aksinya. Bisa jadi yang dihadapinya saat ini merupakan modus baru demi mendapatkan makan gratis.

Reka tidak tega melihat seseorang yang sudah merasa tersudut malah semakin disudutkan lagi. Terlebih hal itu disaksikan oleh pengunjung restoran yang lainnya.

"Maaf, kalau saya boleh tahu, berapa bill nona ini?." Reka bertanya pada rekan kerjanya, namun langsung di jawab ketus oleh manager restoran.

"Untuk apa kamu sok-sok bertanya nominal bill nya? Jangan bilang kamu berniat membayarkannya dengan gajimu yang tidak seberapa itu, Reka." Tatapan manager restoran terkesan begitu merendahkan Reka.

Reka tidak berniat merespon perkataan ketus manager restoran, karena bisa jadi hal itu malah akan menimbulkan perdebatan baru. Ia meraih kertas bill di meja.

"Satu juta lima ratus." Batin Reka saat membaca nominal bill untuk makanan yang telah dipesan oleh wanita itu. Jujur, uang sebesar satu juta lima ratus bukanlah jumlah yang sedikit bagi Reka. Akan tetapi, melihat seseorang dalam situasi sulit seperti saat ini, Reka pun tidak sampai hati untuk tutup mata.

"Tuhan pasti akan menggantikannya dengan rezeki yang lebih banyak lagi ke depannya nanti, Reka." Batin Reka, menguatkan niat dihati untuk menolong wanita itu. Ia lantas mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengeluarkan uang sejumlah satu juta lima ratus dari dalam sana hingga kini hanya tersisa dua lembar uang berwarna biru di dompet Reka.

"Ini uang untuk membayar bill nya."

Deg.

Wanita itu tertegun dengan kebaikan Reka. Bagaimana tidak, di saat bahkan hanya memiliki sedikit uang, namun masih berbaik hati untuk membantu orang lain.

Bukannya lega karena bill telah terbayarkan, manager restoran justru merasa tersinggung dengan sikap Reka yang dianggap mempermalukan dirinya dihadapan semua pengunjung restoran. Sikap munafik, maling teriak maling. Sudah jelas-jelas pria itu yang mempermalukan orang lain, sekarang malah merasa dirinya yang dipermalukan.

"Restoran ini tidak membutuhkan pegawai yang congkak seperti kamu. Jadi, mulai detik ini kamu tidak perlu bekerja di sini lagi! Kamu dipecat, Reka."

"Kenapa bisa begitu, pak...?."Reka bingung dengan sikap serta perlakuan semena-mena manager restoran terhadap dirinya.

"Semua keputusan murni ada ditangan saya selaku manager di restoran ini. Jika saya katakan kamu dipecat, itu artinya kamu tidak perlu bekerja di sini lagi! Paham....!."

Reka terdiam untuk waktu yang cukup lama. Selama bekerja sebagai pelayan di restoran tersebut Reka memang kerap kali mendapat perlakuan yang semena-mena. Namun ia tetap bertahan agar tetap bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk sekedar menyambung hidup. Akan tetapi semua perkataan bosnya kali ini sudah sangat keterlaluan menurut Reka, pria itu sudah benar-benar menginjak-injak harga dirinya didepan banyak pasang mata.

Tanpa banyak berkomentar lagi, Reka berlalu begitu saja untuk mengambil tasnya. Dan tak lama kemudian kembali lagi. "Terima kasih telah mempekerjakan saya di sini selama setahun terakhir, semoga kedepannya bapak bisa menghargai karyawan bapak!." Ujar Reka sebelum berlalu. Wanita tadi ikut meninggalkan restoran.

"Huufff......Sepertinya besok aku harus menyiapkan diri mencari pekerjaan baru. Ya Tuhan.... kuatkan aku...."Lirih Reka disela langkahnya menyusuri trotoar khusus pejalan kaki.

Reka menoleh ketika menyadari keberadaan sebuah mobil yang melaju pelan di sampingnya. Perlahan pengemudi menepikan mobilnya dan turun menghampiri Reka.

"Anda...." Rupanya pemilik mobil tersebut adalah wanita di restoran tadi.

"Maaf... Karena saya, anda harus kehilangan pekerjaan anda, mbak." Wanita itu terlihat sangat merasa bersalah pada Reka.

Reka tersenyum. "Tidak perlu meminta maaf, lagipula anda tidak bersalah, Nona!." Di dalam situasi seperti saat ini Reka masih bisa tersenyum, dan hal itu membuat wanita dihadapannya tersebut semakin kagum dengan kepribadian Reka.

Wanita itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Georgina, panggil Geo saja!."

Reka sempat ragu untuk menyambut uluran tangan wanita itu, namun wanita itu malah menyambar tangan Reka hingga keduanya pun bersalaman. Pada akhirnya Reka pun ikut menyebutkan namanya.

"Reka."

"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Geo bukan hanya sekedar memuji, karena kenyataannya wanita dihadapannya itu memang sangat cantik, hanya penampilannya saja yang terlihat sederhana.

Geo membuka pintu mobil sebelah kiri dan meminta Reka masuk ke mobilnya. "Masuklah...!." Nampaknya sosok Reka membuat Geo penasaran untuk mengenal wanita itu lebih dekat.

"Terima kasih banyak atas pertolongan kamu di restoran tadi. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku kalau tidak ada kamu." Geo jadi ngeri sendiri membayangkan dirinya di minta untuk mencuci piring kotor karena tidak sanggup membayar bill.

"Sama-sama."

Georgina memang kelihatannya santai, namun dalam hati, wanita itu merasa bersalah karena secara tidak langsung dirinya menjadi penyebab Reka sampai kehilangan pekerjaannya.

Geo memberhentikan mobilnya tepat didepan sebuah gedung berlantai enam. Dari balik kaca mobil, Reka menatap gedung berlogo LF Group tersebut. Seruan Geo yang mengajaknya turun dari mobil sekaligus menarik atensi Reka ke arah wanita itu.

Reka pun ikut turun dari mobil dan melangkah berdampingan dengan Georgina memasuki pintu utama gedung.

"Selamat siang, Nona..."

"Siang, pak."

Dari cara dan sikap petugas keamanan saat menyapa Geo, Reka sudah bisa menebak bahwa keberadaan Geo digedung tersebut cukup berpengaruh.

Selamat datang di karya baru aku, sayang-sayangku..... semoga kalian suka dengan alurnya .....🥰🥰🥰🥰 Jangan lupa dukungan 🙏🙏🙏😘😘😘😘😘

Bab 2.

"Ayo Reka...." Reka tertegun mendengar seruan Geo yang mengajaknya memasuki lift layaknya seorang teman dekat, padahal faktanya mereka baru bertemu beberapa saat yang lalu.

Reka yang masih canggung dengan sikap akrab Geo terhadapnya hanya bisa mengangguk pelan lalu ikut melangkah memasuki lift khusus petinggi perusahaan.

"Apa kamu bekerja di perusahaan ini?." Reka yang memegang tali tas selempang miliknya nampak menoleh pada Geo.

"Tidak. Aku bukan pekerja kantoran ataupun pebisnis, aku seorang dokter. Perusahaan ini milik calon suamiku, tapi saat ini beliau sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis dan sepertinya baru akan kembali beberapa hari kedepan." Jawab Geo dan Reka pun mengangguk paham.

"Selamat siang, Nona Geo..." Setelah meninggalkan lift dan mulai berjalan melintasi koridor lantai eksekutif, salah seorang pegawai nampak menyapa Geo.

"Siang, pak." Balas Geo di sela langkahnya.

Geo menghampiri meja kerja milik sekretaris pimpinan.

"Maaf Bu Frida,,,,,saya ingin mengambil dompet dan ponsel saya, sepertinya ketinggalan di ruang pimpinan." Tutur Geo pada wanita berusia sekitar empat puluh tahunan tersebut. Dikenal sebagai calon istri dari pemilik perusahaan, tentu tidak akan mungkin ada yang berani menghentikannya. Namun begitu, Geo tetap mengutamakan adab dengan meminta izin terlebih dahulu.

"Silahkan, Nona...."

Geo kembali mengajak Reka untuk ikut bersamanya masuk ke ruangan pimpinan perusahaan. Awalnya Reka meminta untuk menunggu di luar saja, namun Geo terus memaksanya untuk ikut bersama.

Reka menyapu pandangan ke seisi ruangan. Tak ada satu pun foto yang menggantung pada dinding ruangan berukuran sembilan kali tujuh meter persegi tersebut, yang ada hanyalah beberapa lukisan besar yang mengisi bagian dinding ruangan yang kosong. Lukisan sederhana namun bisa jadi memiliki makna tersendiri bagi pemiliknya. Ya, kalau tidak bermakna, mana mungkin sampai memajangnya, begitu pikir Reka. Berada di lingkungan perusahaan seperti saat ini seakan mengembalikan ingatan Reka pada pekerjaannya di masa lalu.

Setelah pandangannya menangkap keberadaan dompet dan ponselnya di atas meja, Geo langsung mengomeli benda tak bernyawa itu. "Gara-gara kamu pake acara ketinggalan segala, aku terpaksa harus melewati hari terberat dalam hidup ini."

Jika hal semacam itu saja sudah dianggap hari terberat oleh Geo, lalu pantasnya di sebut dengan apa hari-hari yang selama ini di laluinya? Reka tersebut getir dalam hati.

Geo membuka dompetnya kemudian mengeluarkan kurang lebih tiga puluh lembar uang kertas berwarna merah dari dalam sana, kemudian menyerahkannya kepada Reka.

"Untuk apa uang ini?." Reka menolak uang itu. Sekalipun tidak punya banyak uang namun setelah memutuskan untuk membantu, itu artinya ia telah mengikhlaskan uang itu.

"Tentu saja untuk mengganti uang yang kamu pinjamkan di restoran tadi, Reka."

"Tidak perlu mengembalikannya, aku ikhlas!."

"Sama seperti dirimu yang ikhlas menolongku, aku pun demikian, Reka. So please... terima ya...." Geo merayu agar Reka mau menerima uang itu.

"Baiklah." Karena Geo terus memaksa pada akhirnya Reka tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Namun begitu, Reka hanya mengambil sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah, sesuai dengan nominal uang yang dikeluarkannya, dan mengembalikan sisanya kepada Geo.

"Ohiya, apa kamu sudah makan siang?." Tanya Geo. Reka menggelengkan kepala karena kenyataannya ia memang belum sempat makan siang saking sibuk dan fokusnya dalam melayani pelanggan restoran tadi. Akan tetapi, semua dedikasinya malah dibalas dengan sebuah pemecatan.

"Kalau begitu, sebaiknya kita cari restoran dekat sini buat makan siang!." Ajak Geo dan Reka pun mengangguk setuju. Walau sebenarnya Reka lebih suka makan di rumah demi mengirit pengeluaran, tapi untuk kali ini perut Reka sudah meronta ingin segera di isi sehingga bersedia menerima ajakan Geo.

Di sebuah restoran yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter dari gedung perusahan milik calon suaminya, di sinilah Geo mengajak Reka untuk makan siang. Sebenarnya makanan yang dipesan Geo di restoran tempat Reka bekerja tadi belum sempat tersentuh barang sedikitpun karena wanita itu keburu diselimuti perasaan panik ketika menyadari dompet dan ponselnya tidak ada di dalam tasnya. Itu sebabnya ia mengajak Reka untuk makan siang bersama.

"Nona Georgina...Reka....."

Di saat sedang menunggu pesanan datang, Geo dan Reka kompak menoleh ke sumber suara ketika menyadari keberadaan seorang pria menghampiri meja mereka.

"Pak Ibnu...."

"Mas Ibnu...."

Georgina dan Reka kompak menyerukan nama pria yang merupakan salah satu pegawai di perusahaan milik calon suami Georgina.

Pria bernama Ibnu tersebut nampak tersenyum sebelum sesaat kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan Reka pun menyambutnya sambil mengulas senyum tipis.

"Kalian saling kenal?." Georgina memandang Reka dan Ibnu secara bergantian.

Ibnu pun mengulas senyum ramah pada wanita yang dikenalnya sebagai calon istri dari pimpinan perusahaan tempatnya bekerja tersebut.

"Benar, Nona Georgina. Reka ini adalah teman seangkatan saya saat kuliah dulu, dan kebetulan juga kami pernah bekerja di bawah divisi yang sama di perusahaan yang lama."

Georgina cukup terkejut dengan pengakuan Ibnu. Rupanya Reka memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni. Tetapi, mengapa Reka malah memilih bekerja sebagai pelayan restoran? Pertanyaan itu sempat terbesit di benak Georgina, namun begitu Georgina segera menepis pertanyaan itu dari benaknya. Wanita itu tidak mau terlalu kepo. Reka pasti memiliki alasan tersendiri hingga melakukannya, begitu pikir Georgina.

"Jika berkenan, bergabunglah bersama kami, pak Ibnu!." Georgina orangnya humble, tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya dalam berteman, maka tak heran jika hampir semua pegawai yang bekerja di perusahaan milik calon suaminya suka dengan karakter wanita itu.

"Terima kasih banyak, nona Georgina." Ibnu lantas bergerak menarik salah satu kursi yang kosong untuk ditempati olehnya.

"Btw, bagaimana kabar kamu, Reka?." Ibnu tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita cantik itu setelah sekian lama tak bertemu.

"Alhamdulillah baik, mas." Reka menjawab seadanya.

Tak lama kemudian pelayan datang untuk mengantarkan pesanan Reka dan Georgina. Sedangkan Ibnu hanya memesan secangkir kopi karena kebetulan niatnya mengunjungi restoran tersebut hanya untuk menikmati secangkir kopi favorite nya.

Makan siang mereka diselingi dengan obrolan santai. Ibnu banyak bercerita tentang kehebatan dan keuletan seorang Rekaila Amanda dalam bekerja.

"Kebetulan saat ini ada beberapa posisi yang kosong di divisi pemasaran. Apa kamu bersedia bergabung di LF Group?." Pergerakan tangan Reka yang hendak menyuap makanan ke dalam mulutnya sontak terhenti di udara saat mendengar tawaran Georgina.

"Terima saja, Reka!." Mengingat tadi Reka sempat mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaannya, Ibnu lantas mendahului Reka untuk bersuara.

"Aku yakin, kita akan menjadi tim yang sempurna jika kamu bersedia menerima tawaran dari nona Georgina." Lanjut Ibnu.

Georgina memang bukanlah pemilik perusahaan LF Group, namun sebagai calon istri dari pemilik perusahaan tersebut tentunya Georgina memiliki kemampuan untuk merekomendasikan Reka untuk bekerja di sana.

Sebenarnya Reka ingin menolak karena tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan Georgina demi mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, ada banyak juga hal lain yang kini berseliweran di pikiran Reka, termasuk biaya untuk membeli susu formula dan juga diapers.

"Untuk membeli semua itu butuh uang, dan untuk mendapatkan uang tentunya kamu harus bekerja, Reka!." Batin Reka.

Mohon maaf baru bisa up lagi sayang-sayangku, soalnya kemarin ada urusan yang cukup menyita waktu 🙏🙏🙏.

Bab 3.

"Jika kamu bersedia maka aku akan menghubungi calon suamiku sekarang." Tutur Georgina saat melihat Reka masih diam saja, seperti sedang berpikir.

"Baiklah. Akan aku coba, semoga nantinya kinerjaku tidak sampai mengecewakan calon suami kamu." Setelah cukup lama berpikir, Reka akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan dari Georgina. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mengembalikan jati dirinya yang seperti sebelumnya, begitu pikir Reka.

Georgina tersenyum senang. Wanita itu lantas merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya.

Tak butuh waktu lama, panggilan Georgina pun tersambung pada seseorang.

"Sayang...." Seruan Georgina mampu memancing kerutan halus di dahi seorang pria yang berada di seberang telepon.

"Ada apa, Geo?."

"Bukankah saat ini ada beberapa posisi yang masih kosong di divisi pemasaran. Aku berniat merekomendasikan temanku untuk menempati posisi itu, kamu tidak keberatan kan?."

"Temanku sangat berkompeten di bidang itu. Aku jamin, kamu pasti tidak akan kecewa, Sayang."

"Terserah kamu saja!." Tak butuh waktu lama bagi Georgina untuk mendapat persetujuan dari calon suaminya.

Georgina tersenyum senang.

"Kamu diterima, Reka. Selamat ya...." Georgina menggenggam tangan Reka yang berada di atas meja.

"Terima kasih banyak, Geo. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan sanggup membalas kebaikan kamu padaku, tapi aku akan selalu berdoa semoga Tuhan membalas kebaikanmu ini.

"Aamiin...." Ibnu ikut mengaminkan doa tulus yang terucap dari mulut Reka untuk Georgina.

Kurang lebih satu jam kemudian, Reka meninggalkan restoran dengan perasaan lega. Akhirnya besok ia tak perlu mengelilingi kota jakarta untuk mencari pekerjaan baru, karena mulai besok ia akan bekerja di perusahaan LF Group.

Sebelum kembali ke kontrakannya, Reka mampir dulu ke suatu tempat.

Kedatangan Reka disambut oleh tatapan berbinar dari seorang bayi laki-laki berusia satu tahun dua bulan yang saat ini tengah berada di gendongan salah seorang pengasuh di sebuah yayasan penitipan anak.

"Mom-my....." Seruan itu selalu menjadi pelipur hati serta penghilang rasa penat dihati Reka setelah seharian bekerja.

"Sayang...." Reka mengambil alih bayinya dari gendongan pengasuh yayasan.

"Apa hari ini Richard rewel, Bu?." Pertanyaan yang hampir setiap hari ditanyakan oleh Reka kembali dilontarkan wanita itu pada pemilik yayasan.

"Seperti biasa, Richard selalu anteng. Dia seolah paham bahwa ibunya harus menanggung beban hidup yang cukup berat, sehingga tidak ingin menambahkannya lagi dengan sikap rewelnya." Sudah saling kenal sejak setahun lalu membuat hubungan pemilik yayasan dan Reka cukup dekat, hingga wanita berusia paruh baya itu tak sungkan mengucapkan kalimat pelipur pada Reka.

Reka merespon nya dengan senyuman kecil.

"Terima kasih banyak untuk semua kebaikan ibu selama ini kepada saya dan juga Richard." Balas Reka. Jika ia terlambat gajian, ibu yayasan pasti akan mengerti dan memberi kelonggaran waktu pada Reka untuk membayar biaya penitipan sehingga Reka tak harus kelimpungan mencari pinjaman kesana-kemari.

"Sama-sama, Reka. Ibu hanya bisa membantu seadanya, nak." Balas ibu yayasan.

Mengingat ia harus mempersiapkan segala keperluan untuk mulai bekerja di tempat baru besok, Reka lantas berpamitan pada pemilik yayasan.

Dengan menumpangi ojek online, Reka dan putranya menuju kontrakan.

Selama dua tahun ia hidup tanpa arah, hanya putranya lah satu-satunya tujuan hidup Reka. Walaupun menurutnya hingga detik ini ia belum sanggup memberikan kehidupan yang layak bagi putranya, namun Reka tidak pernah putus asa untuk terus berjuang demi memberi kehidupan yang layak bagi putranya.

*

Keesokan Paginya.

Reka sudah siap dengan pakaian kerjanya. Untuk hari ini sedikit berbeda, Reka mengenakkan pakaian semi formal karena pekerjaannya saat ini menuntutnya untuk berpenampilan seperti itu. Setelah mengantarkan putranya ke tempat penitipan anak, Reka lanjut menuju gedung LF Group dengan menumpangi ojek online. Ya, menurut Reka dengan menggunakan ojek online ia bisa sedikit mengirit pengeluaran ketimbang menggunakan taksi online.

Di dukung oleh pengalaman yang cukup mumpuni membuat Reka tidak mendapat kesulitan berarti di hari pertamanya bekerja. Bahkan semua rekan kerja setimnya pun terbilang baik padanya dan hal itu membuat Reka merasa nyaman di tempat kerja barunya.

*

Tanpa terasa sudah tiga hari Reka bekerja di perusahaan LF Group dan pagi ini kabarnya pimpinan perusahaan telah kembali ke tanah air.

"Reka...." Ibnu baru saja memasuki ruangan divisi pemasaran. Selaku atasan Reka, Ibnu hendak menyampaikan pesan dari pimpinan serta calon istrinya yang meminta Reka menghadap ke ruangannya.

"Iya, pak." Di lingkungan kerja Reka memanggil Ibnu dengan sebutan bapak. Semua itu dilakukan oleh Reka demi menjunjung tinggi formalitas kerja.

"Hari ini pimpinan sudah kembali dan beliau meminta kamu untuk menghadap ke ruangannya. Kebetulan di ruangan pimpinan ada nona Georgina juga." Kalimat kedua Ibnu bertujuan agar Reka tidak terlalu tegang, mengingat selama bekerja di sana Reka sempat mendengar informasi dari beberapa pegawai bahwa bos mereka terkenal dengan sikapnya yang dingin.

"Baik, pak." Reka menyiapkan diri sebelum bangkit dari kursi kerjanya. Tidak dapat dipungkiri, Reka sedikit nervous, khawatir pimpinan perusahaan tidak puas dengan kinerja nya selama beberapa hari ini.

Dengan irama jantung yang berdetak lebih cepat, Reka mulai melangkah keluar dari ruangannya, menyusuri koridor gedung hendak menuju ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai eksekutif.

Reka berdiri mematung di depan pintu ruangan pimpinan perusahaan, menghela napas panjang kemudian menghembusnya perlahan demi mengurangi perasaan nervous yang kini dirasakannya. Setelah merasa lebih relaks, Reka lantas mengetuk pintu ruangan tersebut.

"Tok....Tok....Tok...."

"Masuk...." Dari balik pintu, Reka mendengar suara Georgina berseru dari dalam ruangan.

"Syukurlah ada Georgina di dalam sana." Batin Reka seraya mengusap dadanya, sebelum sesaat kemudian memutar handle pintu.

Ceklek....

Deg.

Kelegaan yang sempat dirasakan oleh Reka langsung lenyap tak berbekas saat menyaksikan sosok pria tampan yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu nampak sibuk dengan berkas di meja kerjanya. Sungguh, Reka tiba-tiba merasa kedua kakinya tak sanggup menahan beban tubuhnya. Namun begitu, Reka berusaha untuk tetap terlihat tenang.

"Jadi calon suami Georgina adalah mas Leon." Batin Reka.

"Bagaimana kabarmu hari ini, Reka?." Georgina mendekat dan memeluk Reka barang sejenak.

"Alhamdulillah, kabar baik." Reka mengusahakan agar tidak sampai terbata saat menjawab pertanyaan Georgina.

"Leon, ini temanku yang pernah aku ceritakan padamu tempo hari. Sudah tiga hari terakhir, Reka bergabung di perusahaan LF Group." Kata Georgina mengenalkan Reka pada Leon selaku pimpinan perusahaan.

"Selamat pagi, tuan." Dengan perasaan yang sulit dideskripsikan, Reka membungkuk singkat pada Leon. Seandainya saja ia belum menandatangani kontrak kerja dengan pihak LF Group, mungkin Reka sudah meninggalkan gedung itu sejak tadi. Ya, di dalam kontak kerja tertera, apabila ia berhenti atau mengundurkan diri sebelum kontak kerja selesai maka Reka akan dikenakan biaya ganti rugi dan nominalnya tidaklah sedikit.

Tak ada respon berlebihan dari mantan suaminya itu. Leon hanya melirik sejenak padanya kemudian mengangguk singkat atas ucapan calon istrinya, Georgina. Tatapan hangat penuh cinta yang dahulu untuknya, kini seolah lenyap tak berbekas. Bibir ranum yang dahulu kerap kali mengutarakan cinta, kini seakan tak sudi untuk sekedar menyapa dirinya. Sungguh, sikap Leon saat ini seolah menunjukkan bahwa mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

"Kenapa hatimu kecewa, Reka? Bukankah dulu kamu sendiri yang berpesan pada mas Leon untuk bersikap seolah kalian tak pernah saling mengenal satu sama lain, jika suatu hari bertemu kembali." Batin Reka. Wanita itu diam mematung dengan tatapan kosong.

"Saya berharap selama menjadi pegawai LF Group, anda bisa mendedikasikan diri dengan sepenuh hati!." Setelah lama hanya diam saja, akhirnya kalimat tersebut terucap dari mulut seorang Leonardo Fernandez selaku pimpinan sekaligus pemilik perusahaan LF Group.

"Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk berpartisipasi memajukan perusahaan ini, tuan." Reka menjawab sesuai dengan kebutuhan atas perkataan Leon selaku bosnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!