Suara hantaman logam memekakkan telinga masih berdenging di kepalaku. Tubuhku terasa hancur, nyeri menjalar dari setiap tulang hingga ke sumsum. Darah menetes membasahi mataku, membuat pandanganku kabur memerah.
Di samping mobil yang sudah remuk tak berbentuk itu, aku melihat dua sosok yang paling kupercaya berdiri tegak—tidak berusaha menolong sedikit pun.
Rian, tunanganku yang selama tiga tahun ini aku korbankan segalanya, tersenyum sinis sambil memeluk erat pinggang Sari, saudara tiriku yang selama ini aku anggap sahabat sejati.
"Maaf ya, Dian," ucap Rian dengan nada dingin yang belum pernah kudengar. "Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu? Aku hanya butuh akses ke perusahaan ayahmu. Sekarang Sari sudah memberiku semua dokumen, kamu sudah tidak berguna lagi."
Sari tertawa pelan, suaranya menusuk tulang. "Kasihan sekali Kak Dian. Selama ini kamu pikir kamu putri paling berharga? Harta, masa depan, bahkan Rian... semuanya akan jadi milikku."
Air mata bercampur darah mengalir di pipiku. Aku ingin berteriak, memaki, bertanya mengapa begitu kejam. Namun napasku semakin sesak, pandanganku perlahan gelap. Terakhir kali yang kulihat adalah senyum kemenangan mereka sebelum aku tenggelam dalam kegelapan abadi.
Kebodohanku adalah mempercayai orang salah. Andai aku bisa kembali... andai aku bisa mengulang semuanya...
"Dian! Bangun Nak, kenapa melamun begini?"
Suara lembut ibuku membuatku tersentak kaget. Aku terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi punggung. Aku menatap sekeliling ruangan—dinding krem sedikit kusam, lemari kayu tua, foto masa kecilku tergantung di dinding.
Ini kamar lamaku! Rumah yang sudah kami tinggalkan dua tahun lalu karena bangkrut.
Aku berlari ke cermin. Pantulan di sana membuatku terbelalak. Wajahku masih muda, tidak ada garis kelelahan, tanganku halus tanpa bekas luka kerja kasar. Kalender di dinding menampilkan tanggal 17 Juli 2023.
"Tiga tahun lalu..." bisikku gemetar. "Aku kembali ke masa lalu!"
Tepat saat itu pintu terbuka. Ayah masuk dengan wajah lelah, diikuti Ibu yang matanya sembab.
"Dian, Ayah harus bicara," ucap Ayah duduk di tepi tempat tidur. "Perusahaan Ayah bangkrut, utang kami harus lunas seminggu lagi. Jika tidak, rumah ini disita dan kami diusir ke jalan."
Hatiku mencelos. Aku ingat momen ini persis. Di kehidupan dulu, Ayah menawarkan jalan keluar yang sama.
"Ada satu cara," lanjutnya ragu. "Tuan Erlan Pratama, pemilik perusahaan terbesar di kota, bersedia melunasi semua utang. Syaratnya: kamu menikah dengannya selama satu tahun, lalu berpisah baik-baik."
Dulu aku menolak keras. Aku menangis, memilih bertahan dan berharap Rian menolong—padahal saat itulah mereka mulai merencanakan kehancuranku.
Kali ini aku menarik napas panjang, rasa sakit masa lalu masih terasa nyata. Aku menatap kedua orang tuaku, lalu tersenyum tipis—senyum yang dingin dan penuh tekad baru.
"Baik Yah," jawabku mantap. "Aku setuju."
Ayah dan Ibu melongo tak percaya. "Dian, yakin? Katanya Tuan Erlan sangat dingin, tak pernah tersenyum, semua orang takut padanya," cemas Ibu.
"Aku yakin Bu. Daripada kami menderita di jalan, lebih baik aku mencoba. Lagipula ini hanya kontrak, kan?"
Dalam hati aku menambahkan: Kali ini aku tak akan jadi korban lagi. Aku lindungi Ayah dan Ibu. Dan untuk kalian berdua... tunggu saja.
Malam itu aku terjaga. Erlan Pratama—sosok legendaris sekaligus ditakuti dunia bisnis. Muda, tampan, tapi matanya sedingin es. Tak ada yang tahu asal-usulnya jelas, tak ada yang berani mendekat. Orang memanggilnya Bos Dingin. Entah mengapa, nama itu terasa begitu akrab di telingaku.
Keesokan harinya aku dibawa ke kediaman Erlan. Rumah besar itu sunyi senyap, suasananya dingin persis seperti pemiliknya. Di ruang tengah, sosok pria itu berdiri membelakangi aku menatap jendela kaca raksasa. Jas hitam pas di badan tegapnya, aura kekuasaan menekan seisi ruangan.
"Tuan Erlan, putri saya sudah datang," ucap Ayah sopan, sedikit gemetar.
Pria itu berbalik perlahan. Saat matanya yang tajam menatapku, rasanya waktu berhenti berputar. Matanya hitam pekat, dalam, menyimpan ribuan rahasia. Dia menatapku lama sekali, seolah sedang meneliti setiap inci wajahku—seolah dia mengenalku lebih dari yang aku tahu.
Aku tak membuang muka. Aku menatap balik tenang, meski jantungku berdegup tak karuan.
"Kamu setuju?" tanyanya. Suaranya berat, rendah, benar-benar sedingin kabar yang kudengar.
Aku mengangguk pelan. "Ya. Saya setuju."
Erlan melangkah mendekat, berhenti tepat di depanku. Dia menunduk sedikit hingga wajahnya sejajar denganku, aroma wangi kayu manis samar tercium darinya.
"Ingat," ucapnya pelan namun tegas, matanya tak lepas dari mataku. "Ini hanya pernikahan di atas kertas. Kamu akan tinggal di sini, menjaga citra di depan umum. Tak ada sentuhan, tak ada urusan hati. Satu tahun kemudian, kita berpisah tanpa ikatan apa pun."
Dia menyodorkan selembar kertas kontrak. Aku membacanya sekilas—semua sesuai ucapan. Aku mengambil pena, dan tanpa ragu menuliskan nama lengkapku di sana.
Erlan mengambil kembali kontrak itu, lalu menandatangani namanya dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi.
"Mulai hari ini," ucapnya pelan, "kamu adalah istri rahasia saya. Dian Pratama."
Saat nama itu keluar dari mulutnya, aku melihat sekilas perubahan di matanya—sebuah emosi yang cepat sekali ia sembunyikan. Aku belum tahu, di balik sikap dinginnya itu, tersimpan rahasia yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun. Bahwa di kehidupan yang dulu aku tinggalkan, dialah satu-satunya orang yang menangisi kematianku.
Mobil mewah Erlan melaju pelan meninggalkan gerbang rumah orang tuaku. Aku menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan Jakarta yang mulai ramai berubah menjadi perumahan elit yang semakin sepi dan mewah. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara kami. Erlan duduk di sudut kursi belakang, matanya menatap layar ponselnya dengan fokus, wajahnya setenang air danau.
Aku membiarkan rambut hitamku yang panjang terurai jatuh lembut di bahu dan punggungku. Di kehidupan dulu, aku selalu membiarkannya terurai karena Rian sangat menyukainya—dia sering bilang rambutku adalah hal yang paling indah yang ia miliki. Kini, aku membiarkannya terurai bukan demi dia, tapi sebagai bagian dari diriku yang dulu terlalu lemah, yang kini harus berubah menjadi kuat. Rambut ini adalah saksi bisu dari dua kehidupan yang berbeda, satu yang berakhir tragis, dan satu lagi yang baru saja dimulai. Aku menyisirnya pelan dengan jari, berjanji dalam hati kali ini tidak akan ada lagi air mata yang membasahinya karena kebodohan sendiri.
Setelah perjalanan sekitar empat puluh menit, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi berwarna hitam. Gerbang itu terbuka otomatis, memperlihatkan jalan setapak yang dilapisi batu alam diapit oleh pepohonan rindang. Rumah itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah bangunan bergaya modern minimalis yang megah namun terasa dingin, dengan dinding kaca yang memantulkan langit siang.
"Ini kediaman utama Tuan Erlan," ucap sopir itu sopan sambil membukakan pintu untukku. "Silakan masuk, Nona Dian. Pelayan sudah menunggu di dalam."
Aku melangkah masuk. Lantai marmer putih bersih memantulkan bayanganku, rambutku yang terlihat berkilau di bawah cahaya lampu gantung. Ruangan tengah yang luas itu nyaris tanpa perabotan berlebih, hanya ada satu set sofa kulit berwarna abu-abu gelap dan meja kaca besar. Suasana di sini persis seperti pemiliknya: rapi, teratur, dan tidak menyisakan ruang untuk kehangatan yang tak terduga.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi menyambutku dengan senyum ramah. "Selamat datang, Nyonya Dian. Saya Bu Ratih, kepala pelayan di sini. Jika ada yang Anda butuhkan, silakan panggil saya saja."
"Terima kasih, Bu Ratih," jawabku pelan sambil tersenyum tipis.
"Tunjukkan kamarnya," suara berat Erlan terdengar dari belakangku. Dia sudah berdiri di ambang pintu, matanya sempat berhenti sejenak menatap rambutku yang terurai sebelum beralih ke wajahku, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. "Jangan izinkan siapa pun masuk ke sayap timur rumah ini. Dan ingat aturan yang tertulis di kontrak: jangan pernah bertanya tentang urusan saya, dan jangan pernah membawa orang asing ke sini."
Dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawabanku.
Bu Ratih menuntunku ke lantai atas. Kamar yang disiapkan untukku sangat luas, dengan tempat tidur besar berkelambu putih, lemari pakaian besar, dan balkon yang menghadap ke taman belakang. Di atas meja rias sudah tersusun rapi pakaian-pakaian baru—semuanya berukuran pas dengan tubuhku, bahkan ada sisir dan perawatan rambut yang persis seperti yang biasa kugunakan.
"Semua ini dikirim dua hari yang lalu, Nyonya," bisik Bu Ratih seolah membaca pikiranku. "Tuan Erlan memastikan semuanya sesuai selera Anda, bahkan jenis sampo dan sisir yang Anda pakai."
Aku mengernyit tak percaya. Dua hari lalu? Padahal saat itu aku bahkan belum menyetujui pernikahan ini. Bagaimana mungkin dia sudah tahu ukuran tubuhku, selera pakaianku, bahkan hal sekecil apa yang cocok untuk rambutku?
"Apakah Tuan Erlan memang begitu teliti sampai ke hal sepele seperti ini?" tanyaku hati-hati.
Bu Ratih tersenyum tipis, ada rahasia tersembunyi di matanya. "Tuan Erlan selalu tahu apa yang harus dia ketahui, Nyonya. Dan Anda adalah satu-satunya orang yang diizinkan tinggal di rumah ini selain saya dan penjaga. Belum pernah ada wanita yang melangkah masuk ke sini sebelumnya."
Setelah Bu Ratih pergi, aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap sekeliling. Rumah ini begitu besar, tapi rasanya seperti penjara mewah. Aku berdiri dan berjalan perlahan menyusuri lorong lantai dua, ujung rambutku menyapu lantai setiap kali aku berbalik arah. Ada satu pintu yang tertutup rapat di ujung lorong—pintu menuju sayap timur yang dilarang Erlan.
Rasa penasaran menggerayangi hatiku semakin kuat. Kenapa dia melarangku mendekat ke sana? Apa yang disembunyikan di balik pintu kayu gelap itu?
Sore itu, aku memutuskan menjelajahi taman belakang untuk menghilangkan kegelisahan. Taman itu luas dan tertata rapi, ada kolam kecil dengan bunga teratai yang baru mekar. Angin berhembus lembut menerbangkan helaian rambutku ke wajah, aku menyelipkannya ke belakang telinga sambil duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga tua. Tiba-tiba suara mobil terdengar dari arah gerbang.
Bukan mobil Erlan. Itu mobil Rian.
Jantungku berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena muak. Bagaimana dia bisa tahu keberadaanku di sini?
Rian berlari menghampiriku dengan wajah panik yang dibuat-buat, matanya menatap rambutku yang terurai dengan tatapan yang kini terasa menjijikkan bagiku. "Dian! Kamu di mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana! Katanya kamu menikah dengan orang asing? Kamu gila ya? Kita sudah berjanji akan bersama selamanya, kamu bilang rambut ini cuma boleh aku yang menyentuhnya!"
Dia mencoba meraih tanganku dan berniat menyentuh rambutku, tapi aku segera berdiri dan mundur selangkah dengan cepat. Tatapanku yang dulu penuh cinta kini berubah sedingin es, tajam dan tanpa belas kasihan.
"Berjanji?" tanyaku pelan namun tegas. "Janji mana yang kamu maksud, Rian? Janji saat kamu memeluk Sari di depan mobil yang remuk, atau janji saat kamu bilang aku sudah tidak berguna lagi dan rambut ini cuma hiasan yang tak berharga?"
Wajah Rian pucat seketika. Matanya melotot kaget, tubuhnya gemetar tak percaya. "Kamu... kamu tahu itu dari mana? Siapa yang bilang padamu?"
"Tak penting aku tahu dari mana," potongku tegas. "Yang penting, sekarang pergilah. Aku bukan lagi Dian yang mau kamu tipu sesuka hati, bukan lagi gadis bodoh yang membiarkanmu memegang rambut atau hatinya sesukamu. Jangan pernah berani mendekat ke tempat ini lagi, atau kamu akan menyesal seumur hidup."
Rian menggeram marah, wajahnya berubah menjadi seram dan kejam. "Jangan sombong! Kamu pikir pria kaya itu benar-benar mencintaimu? Dia hanya kasihan padamu! Kamu akan kembali merangkak di depanku, lihat saja nanti! Rambut cantik itu tak akan menolongmu!"
Dia berbalik dan pergi dengan mobilnya yang melaju kencang meninggalkan jejak debu. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih kencang. Tiba-tiba aku merasakan ada orang lain di belakangku. Aku berbalik dan melihat Erlan berdiri di sana, bersandar pada tiang beranda, menatapku lekat-lekat—matanya kali ini tidak sedingin biasanya, ada kilatan kagum yang cepat ia sembunyikan.
"Kamu tidak takut padanya?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.
"Aku lebih takut hidup dalam kebohongan daripada menghadapi orang sepertinya," jawabku jujur. "Dan terima kasih. Kalau kamu tidak melarang orang asing masuk, mungkin dia sudah berani masuk ke dalam rumah dan menggangguku lebih jauh lagi."
Erlan diam sejenak, melangkah mendekat perlahan hingga jarak kami hanya beberapa langkah. "Dia tidak akan pernah berani masuk ke sini. Selama kamu memakai nama belakangku, tidak ada satu orang pun yang berani menyakitimu, apalagi menyentuhmu tanpa izin. Ingat itu."
Malam harinya saat jam makan malam tiba, suasana di ruang makan hening sepi. Kami duduk berhadapan di meja panjang yang hanya diterangi cahaya lembut lilin. Setelah beberapa saat keheningan, Erlan meletakkan garpunya perlahan dan menatap lurus ke arahku.
"Mengenai apa yang kamu katakan pada Rian tadi," ucapnya tiba-tiba memecah keheningan. "Kamu teringat sesuatu yang seharusnya belum kamu ketahui?"
Aku membeku sejenak, lalu menelan ludah. Apakah dia benar-benar tahu aku kembali dari masa depan?
Aku mengangkat wajah berusaha tetap tenang, menyelipkan kembali helaian rambut yang jatuh ke depan wajahku. "Aku hanya... baru sadar siapa orang yang benar-benar tulus padaku. Dan siapa yang hanya memanfaatkanku, termasuk hal-hal yang kucintai."
Erlan menatapku lama sekali, seolah sedang meneliti setiap inci wajahku dan mencari kebenaran di balik mataku. Akhirnya dia mengangguk pelan. "Bagus. Kalau begitu jangan pernah biarkan orang lain menginjakmu lagi. Dan satu hal lain..." Dia menunduk sedikit, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Pintu di ujung lorong itu... jangan pernah dibuka. Bukan karena aku menyembunyikan hal buruk darimu, tapi karena di sana ada hal yang berhubungan denganmu, yang belum siap kamu ketahui. Belum saatnya."
Malam itu saat aku hendak tidur, aku mendengar suara langkah kaki Erlan di lorong. Dia berhenti tepat di depan pintu kamarku. Aku menahan napas, menunggu apa yang akan dia lakukan. Tapi dia hanya berdiri diam cukup lama, seolah memastikan aku aman, sebelum perlahan pergi menjauh.
Aku menatap langit-langit kamar, pikiranku berkecamuk tak tenang. Dia tahu sesuatu. Dia pasti tahu banyak hal tentang masa laluku, bahkan tentang kematianku di kehidupan dulu. Dan entah mengapa, rasa takutku perlahan berubah menjadi rasa aman yang aneh. Seolah di balik sikap dinginnya, dia adalah satu-satunya orang yang akan menjagaku kali ini—bahkan menjaga rambut dan harga diriku agar tidak diinjak-injak lagi.
Di sisi lain rumah, di balik pintu sayap timur yang dilarang itu, Erlan berdiri sendirian menatap sebuah kotak kayu tua di atas meja. Di dalamnya ada foto kecil Dian saat masih duduk di bangku sekolah dasar, dengan rambut panjang yang sama persis seperti sekarang—foto yang dia simpan rapat selama sepuluh tahun terakhir.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," bisiknya pelan pada kesepian ruangan itu, matanya berbinar sayu. "Sekalipun aku harus menyembunyikan semua rahasia ini darimu sampai waktunya tiba."
Pagi itu cahaya matahari menyelinap lembut lewat celah tirai jendela, menyinari helaian rambutku yang terurai di atas bantal. Aku terbangun bukan karena suara alarm, melainkan aroma harum yang samar tercium dari meja samping tempat tidur. Di sana sudah tersaji segelas susu hangat dan selembar catatan tulisan tangan yang rapi namun tegas: "Sarapan sudah siap di ruang makan. Jangan telat." Tidak ada nama pengirimnya, tapi aku tahu persis siapa yang menyuruhnya.
Aku menyisir rambutku perlahan di depan cermin, membiarkannya jatuh bebas di bahu seperti biasa. Kali ini aku memilih gaun berwarna krem yang sederhana namun anggun—gaun yang ternyata juga sudah tersedia di lemari, persis dengan model yang pernah aku puji diam-diam di majalah dua tahun lalu. Perasaan heran itu kembali menyergapku: bagaimana Erlan bisa tahu hal-hal sekecil ini?
Saat turun ke bawah, Erlan sudah duduk di meja makan dengan wajah setenang biasanya. Jas rapi sudah melekat di tubuhnya, hanya dasi yang belum diikat sempurna. Dia melirik sekilas ke arahku, lalu matanya berhenti sejenak pada rambutku yang berkilau terkena cahaya lampu gantung.
"Kamu selalu membiarkannya terurai begitu?" tanyanya tiba-tiba saat aku duduk di hadapannya.
Aku berhenti mengaduk bubur di mangkuk. "Apa ada yang salah?"
"Tidak," jawabnya pelan sambil kembali menatap berkas di tangannya. "Hanya... cocok. Sangat cocok."
Ucapan itu begitu singkat, tapi entah mengapa jantungku berdegup lebih kencang. Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah berdiri dan menaruh sebuah amplop cokelat di meja.
"Malam ini ada pesta peringatan berdirinya perusahaan keluarga kami. Kamu harus ikut. Ini adalah penampilan pertama kita sebagai suami istri. Di sana nanti, panggil aku 'Mas'. Jangan menyinggung soal kontrak, jangan menatap orang lain terlalu lama, dan tetaplah di dekatku setiap saat."
Aku membuka amplop itu. Ada undangan mewah dan sebuah kartu nama dengan tulisan tangan: "Dian Pratama – Istri". Hanya dua kata itu, tapi terasa begitu berat dan berarti.
"Apakah di sana akan ada Rian dan Sari?" tanyaku hati-hati.
Erlan menoleh, tatapannya tajam namun meneduhkan. "Mereka pasti datang. Tapi tenang. Selama kamu bersamaku, tidak ada yang berani berbuat kasar. Dan ingat satu hal: malam ini kamu bukan lagi putri pemilik perusahaan yang bangkrut. Kamu adalah istriku."
Sore harinya penata rias datang ke rumah. Saat mereka menyisir dan merapikan rambutku, aku melihat Erlan berdiri diam di ambang pintu, menatap bayanganku di cermin tanpa berkedip.
"Kamu tidak perlu mengubah apa pun," ucapnya tiba-tiba pada penata rias itu. "Biarkan rambutnya tetap seperti biasa. Cukup tambahkan sedikit jepit mutiara saja."
Malam itu kami tiba di lokasi pesta—gedung pertemuan termegah di pusat kota. Lampu gantung kristal berkilauan menyinari ratusan tamu penting, musik orkestra mengalun lembut, dan aroma bunga melati memenuhi ruangan. Saat Erlan menuntunku masuk, semua mata tertuju pada kami. Bisik-bisik terdengar di mana-mana: siapa gadis di samping Bos Dingin itu? Mengapa dia terlihat begitu sederhana namun memikat?
Tepat saat kami berjalan menuju panggung, dua sosok yang paling aku hindari muncul di hadapan kami. Rian dan Sari. Sari mengenakan gaun merah menyala yang berusaha mencuri perhatian, sementara Rian menatapku dengan tatapan lapar dan iri.
"Selamat datang, Tuan Erlan," sapa Rian dengan senyum palsu, lalu menoleh padaku dengan nada mengejek. "Wah, Dian. Kamu terlihat cantik sekali malam ini. Rambutmu... masih sama persis seperti yang aku ingat. Sayang sekali sekarang bukan aku yang bisa memegangnya."
Tangannya bergerak hendak menyentuh ujung rambutku. Sebelum jari-jarinya menyentuh sehelai pun, Erlan sudah menahan pergelangan tangannya dengan cengkeraman kuat. Wajah Erlan sama sekali tidak berubah, tapi matanya sedingin es yang membekukan.
"Jangan sentuh apa yang menjadi milikku," ucapnya pelan namun mengancam, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. "Atau tangan ini tidak akan bisa memegang apa-apa lagi mulai detik ini."
Rian meringis kesakitan, wajahnya memucat, lalu segera menarik tangannya mundur. Sari berusaha ikut campur dengan nada manja. "Tuan Erlan, jangan begitu. Kak Dian kan teman lama kami. Kami hanya bercanda."
"Teman lama?" potongku tiba-tiba, suaraku lantang dan tenang. "Teman yang saling mengkhianati, teman yang merencanakan kematian temannya sendiri? Maaf, aku tidak punya teman seburuk kalian."
Kata-kataku membuat suasana hening seketika. Erlan sedikit tersenyum tipis—senyum pertama yang kulihat di bibirnya—lalu merangkul pinggangku erat.
"Benar sekali," timpalnya. "Istriku tidak pernah salah menilai orang."
Sore itu berubah menjadi momen kemenangan kecil bagiku. Rian dan Sari mundur dengan wajah merah padam karena malu dan marah.
Menjelang tengah malam, aku memutuskan pergi ke teras belakang untuk mencari udara segar. Angin malam menerpa wajahku, membuat rambutku berkibar lembut. Aku menatap langit bertabur bintang, pikiranku melayang kembali ke hari kematianku. Andai dulu aku tidak terlalu lemah, andai dulu aku berani menolak tawaran mereka...
"Kamu sedih?"
Suara Erlan terdengar di sampingku. Dia berdiri tak jauh, tangannya memegang dua gelas jus buah. Dia menyodorkan satu padaku.
"Aku hanya teringat hal yang lalu," jawabku pelan. "Di kehidupan dulu, di pesta seperti inilah Rian pertama kali berjanji akan melamarku. Dan aku bodohnya percaya."
Erlan diam sejenak, lalu menatapku lekat-lekat. "Dian... apa yang kamu ingat sebenarnya?"
Aku menelan ludah. Apakah harus aku ceritakan semuanya? Bahwa aku sudah pernah mati, bahwa aku kembali dari masa depan?
"Aku ingat banyak hal," jawabku akhirnya. "Aku ingat kamu pernah menolongku saat aku jatuh dari sepeda saat SD. Aku ingat kamu pernah memberiku payung saat hujan deras. Aku ingat kamu selalu ada di kejauhan saat aku menangis sendirian. Tapi di kehidupan dulu, aku tidak pernah menyadari itu semua."
Erlan terbelalak. Matanya membesar, seolah tidak percaya mendengar pengakuanku. "Kamu... kamu ingat kejadian itu? Padahal saat itu aku hanya berdiri di balik pohon?"
Aku mengangguk pelan. "Aku selalu tahu keberadaanmu. Hanya saja aku terlalu buta melihat kebaikan orang lain karena terlalu fokus pada orang yang salah."
Erlan mendekat perlahan, jaraknya begitu dekat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, Dian. Aku tahu apa yang akan terjadi padamu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi takdir terlalu kuat. Sampai akhirnya aku menemukan cara untuk mengulang waktu ini... agar kali ini aku bisa melindungimu dengan benar."
Baru saja dia hendak bicara lebih lanjut, ponselnya berdering keras. Wajahnya berubah tegang saat membaca pesan yang masuk.
"Ada masalah," ucapnya serius. "Rian dan Sari tidak diam saja. Mereka baru saja menyebarkan berita bohong bahwa kamu hamil di luar nikah dan memaksaku menikah denganmu. Berita itu sudah menyebar ke seluruh media sosial."
Aku terkejut sejenak, tapi kemudian tersenyum dingin. "Biarkan saja. Malam ini mereka bermain kotor. Tapi ingat, Mas... permainan belum selesai. Giliran kita yang menjawab."
Erlan menatapku kagum, lalu tangannya perlahan menyentuh helaian rambutku yang berhembus angin. Sentuhannya begitu lembut, penuh rasa sayang yang selama ini dia sembunyikan.
"Kamu benar-benar berubah," bisiknya. "Tapi aku suka perubahan ini. Dan apa pun yang terjadi, aku akan ada di sampingmu. Kita hadapi bersama."
Malam itu bintang terasa lebih terang dari biasanya. Di balik kejahatan yang datang, aku menemukan kekuatan baru: bukan hanya untuk membalas dendam, tapi juga untuk melindungi orang yang diam-diam selalu menjagaku selama ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!