Indonesia
NovelToon NovelToon

MENCINTAI ANAK MAJIKAN IBU KU

Intan

" Intan, apa uang yang kamu kumpulan sudah banyak nak?. " Ucap Ami pada putri semata wayang nya itu.

" Allhamdulilah buk cukup untuk hidup kita berdua, setelah ini kita bisa hidup sendiri tanpa harus bekerja ya buk. Intan berharap semoga kita bisa berdiri sendiri di kaki kita ya walapun dengan usaha kecil kecilan. Lagian gaji Intan sama ibu lebih dari cukup kok. " Ami tersenyum dengan memperlihatkan kerutan banyak di wajahnya.

" Kita tunggu den Mahendra dulu pulang dari luar negeri dan setelah itu kita bisa minta izin pergi dari sini, nyonya sudah ada yang menemani kita sudah terlalu lama merepotkan mereka nak. "

Intan tersenyum, mengingat seseorang yang jauh di sana yang sama sekali belum pernah dia dan ibunya temui. Mahendra Wicana putra tungal sekaligus pewaris semua kekayaan keluarga nya, dulu Ratna pernah bercerita jika putra nya itu adalah anak yang sangat nakal dan pembangkang itu lah kenapa pemuda itu langsung di kirim ke luar negeri bersama paman dan bibik nya.

Di rumah itu juga hanya ada foto foto bayi dan kanak kanak Mahendra tidak ada foto sama remaja dan dewasa nya, usianya tidak begitu jauh dari Intan hanya berpaut 3 tahun lebih tua dari gadis itu.

" Kita beli rumah di desa dan membangun usaha kecil kecilan untuk menyambung hidup kita ya buk, jadi ibu gak perlu cape lagi. " Intan menggenggam erat tangan wanita 58 tahun itu.

" Iyaa, ibu berharap kamu juga menemukan pria yang baik yang bisa membawa kebahagiaan untuk mu nak. "

" Amin buk, setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu adalah sebuah berkat untuk kehidupan Intan nantinya. "

***

Intan sudah selesai menyiapkan sarapan sedang Ami sedang sibuk menjemur pakaian di balkon rumah. Tak lama Ratna dan suami nya turun dari lantai dua sembari bercanda gurau seperti biasa, pemandangan yang selalu membuat Intan rindu akan keluarga nya yang utuh seperti dulu.

" Selamat pagi Intan?. " Sapa Ratna melihat gadis itu yang terdiam.

" Selamat pagi bu Ratna, selamat pagi juga pak Agung selamat sarapan. " Gumam gadis itu lembut.

" Intan, tolong kamu bersihkan kamar Mahendra yah hari ini dia akan pulang ke Indonesia dan kita akan segera melihat nya kembali. " Intan mengangkat kepalanya menatap Ratna dan Agung yang berbinar akan melihat kembali putra tunggal mereka.

" Ah, iya buk siap. Intan bersih kan sekarang yah, intan permisi. " Intan segera pergi ke lantai 2 di mana kamar Mahendra berasa, dia sudah biasa masuk ke dalam sana sejak 5 tahun lalu.

Kamar bernuansa putih hitam yang mewah selalu terlihat rapi dan harum seperti biasanya berkat Intan yang merawat nya, kamar itu Ratna serahkan pada Intan meski putra nya tidak ada tapi Ratna selalu meminta Intan merawat kamar itu seperti ada seseorang yang menempati.

Semua pakaian tertata rapi dengan tag harga yang masih mengelantung di sisi nya. Kamar itu benar-benar begitu luas, terkadang saat Intan lelah membersihkan nya gadis itu duduk dan sesekali berbaring menikmati lembut nya tidur di atas kasur mahal.

Intan menghela nafas dengan senyuman di bibirnya. Dia tidak menyaka jika sebentar lagi kamar ini akan kembali ke pemiliknya dan dia tidak hanya membersihkan kamar kosong lagi ya meskipun dia dan ibunya berniat untuk pergi dari keluarga Cendana dan memulai hidup mereka kembali.

" Ini saat terakhir aku bisa tidur di kasur ini, jika nanti den Mahendra pulang aku tidak akan berani melakukan nya lagi dan mungkin dia juga akan meminta pelayan baru untuk membantunya.

" Bik Amin, bibik tahu putra ku akan kembali setelah 8 tahun dia pergi. " Ratna memenghampiri Ami yang sedang menyiram tanaman di taman mini nya.

" Allhamdulilah nyonya, setelah sekian lama akhirnya dia kembali saya selalu berharap akan kebahagiaan nyonya Ratna dan tuan muda Mahendra. Dan siapa tahu Tuan Muda membawa gadis dari luar negeri nyonya... "

" Tidak bik, saya belum siap saat dia menemukan kekasihnya apa lagi saya belum tahu latar belakang keluarga nya. Mahen harus mendapatkan wanita yang sempurna dan dari keluarga yang beradap dan berpendidikan yang terbaik. " Ami yang tersenyum menanggapi ucapan dan keinginan sang majikannya itu.

" Nama nya jodoh kita gak ada yang tahu nyonya, tapi kalau nyonya Ratna sudah bisa di pastikan akan mendapatkan calon menantu seperti itu dan saya yakin itu. " Timpa Ami sembari terus menyirami tanaman bunga bunga itu.

" Iya tentu saja bik, lalu bagaimana dengan Intan? apa dia sudah menemukan seseorang dalam hidup nya."

Ami menggeleng sembari terkekeh pelan.

"Intan masih fokus nabung untuk masa depan kami nyonya dan dia belum ada fikiran ke arah yang lebih serius, anda tahu sendiri Intan selalu di rumah dan jarang keluar nyonya sulit untuk nya melihat dunia luar. " Ratna terdiam.

" Kamu benar bik, bagaimana bisa anak itu melihat dunia sedangkan dia selalu dirumah ini dan mengerjakan semua pekerjaan. Dia tidak menyelesaikan sekolah nya dan tidak pernah berada di luar lingkungan rumah ini. "

" Tidak mengapa nyonya, dia menikmati nya karena itu dia punya uang yang cukup untuk hidupnya dan dia bercita-cita memiliki sebuah usaha nantinya. " Ratna tersenyum mendengar impian Intan.

" Memang Intan ingin pergi kemana bik?. "

Ami mematikan airnya mengelap tangannya yang basa pada sebet yang selalu dia bawak kemudian duduk di samping Ratna yang menyambutnya dengan senang hati.

" Nyonya, Intan memiliki impian memiliki rumah sederhana di sebuah desa yang masih asri sembari membuka sebuah usaha kecil untuk menompong hidup kami. Dan jika nyonya berkenan saya juga mau minta izin untuk berhenti dari pekerjaan ini nyonya, saya dan Intan merasa sudah lama merepotkan keluarga Cendana. "

" Bik Ami tidak serius kan, saya mendukung impian Intan dan semua keinginan nya itu tapi jika kalian berfikir kalian merepotkan saya itu tidak pernah benar bik. Kalian itu keluarga bagi saya dan suami saya kalian tidak merepotkan kalian malah membantu kami. " Ratna tanpa sungkan menyentuh tanggan wanita tua itu dengan tulus.

" Nyonya, saya sudah tua dan Intan sudah mulai beranjak dewasa. Tentu saja saya ingin melihat dia menikah dan memiliki anak sebelum saya pergi nantinya nyonya. " Ratna diam nampak kekecewaan di mata nya yang tulus.

" Tuan muda sudah kembali dan saya yakin dia akan membawa kebahagiaan ke sini dan nantinya rumah ini akan ramai, saya mohon nyonya.. " Ratna melepas tangannya dia bingung harus berbicara apa.

Bukan karena dia tidak takut kehilangan pelayan nya tapi dia takut kehilangan seseorang yang sudah membuat nya nyaman selamat ini, kehilangan seseorang yang selalu mendengar keluh kesah nya dan juga guraunya tanpa canggung diantara mereka.

" 1 Bulan lagi bik, bertahan lah disini. Saya berharap Mahen melihat bibik dan Intan, agar dia mengenal kalian seperti keluarga nya sendiri sama seperti yang saya rasakan. " Ratna yang berdiri membelakangi Ami kemudian berbalik menatap wanita tua itu.

" Baik, nyonya. " Gumam nya pelan.

Mahendra Cendana

Bandara Sukarno hatta

" Mahendra... " Pekik Agung saat melihat putra nya dengan tas ransel di punggung nya melambaikan tangan.

Pemuda 26 tahun itu membuka kaca mata hitamnya dan berlari menghampiri pria 47 tahun itu dan langsung memeluk nya erat, tubuh kekar Mahen membuat Agung tak percaya jika putra nya benar-benar bisa seberubah itu.

" Kok papa sendiri, di mana bunda?. " Mahendra mencari keberadaan Ratna yang memang sengaja tidak ikut menjemput kepulangan nya itu.

" Bunda mu ada di rumah, dia sengaja tidak ikut biar tambah tambah penasaran dengan putra nya ini. Papa seperti melihat orang lain dalam dirimu nak, papa rindu sekali.. "

" Mahendra sudah dewasa pa, tentu saja banyak yang berubah bukan lagi Mahendra yang dulu yang selalu membuat onar hingga bunda pusing dan membuang ku ke rumah paman dan bibik Seno. " Gumam nya sembari berjalan beriringan.

" Ah sudah lah, bunda mu hanya ingin membuat mu berubah dan menjadi lebih baik dan terbukti jika paman dan bibik mu itu berhasil bukan?. " Mereka berbincang dan sesekali tertawa jika mengingat kenangan hidup mereka dulu.

Mahendra sudah belajar beberapa cara mengurus perusahaan nya di Indonesia karena di luar negeri dia sudah di latih untuk memegang beberapa perusahaan milik pamannya dan mengelolanya dengan sangat baik tentunya.

Mahendra dan Agung masuk kedalam mobil untuk segera kembali ke rumah lama nya, rumah yang sangat dia rindukan sejak 8 tahun lamanya. Jalanan nampak sangat berbeda beberapa tempat dulu nya sering dia kunjungi bersama teman-teman untuk nongkrong dan kadang membuat onar dan hal itu membuat senyum tipis di bibir nya terlihat.

" Bagaimana kehidupan di sana, apa kamu sudah memiliki seseorang dalam hidupmu?. " Ucap Agung yang masih fokus menyetir.

" Ada, nama nya Lili dia seorang model yang terkenal dan sekarang lagi di Korea pa. Dia juga dari Indonesia karena aku kurang suka gadis luar negeri. " Gumam Mahendra pelan.

" Hemz.. "

" Lagian membawa seorang gadis kehidupan kita ini sulit, papa tahu sendiri bagaimana selera Bunda yang begitu ribet dan aneh menurut ku. " Agung terkekeh mendengar ucapan putra nya itu.

" Bunda hanya ingin yang terbaik untuk mu dan garis keturunan kita nak, papa harap berhenti bertengkar dan membantah ucapan bunda mu lahi. Itu hanya akan semakin membuang banyak waktu dan tenaga.. " Mahendra diam dia malas jika membahas tentang hal hal seperti itu.

***

Jam sudah menujukan pukul 14.50 tapi Agung dan Mahendra belum juga sampai di rumah membuat Ratna nampak cemas, bagaimana bisa mereka begitu lama kembali.

" Apa perlu aku telfon saja, tapi tidak aku akan melihat nya secara langsung untuk mengobati luka rindu ku pada putra kesayangan ku itu. "

Clek

Suara pintu terbuka dan langsung membuat Ratna terdiam membeku saat senyum asing yang begitu dia rindukan sekarang ada tepat di depan nya di hadapan nya langsung, Mahendra melepas tas ransel besar nya dan berjalan cepat menabrak tubuh Ratna dan memeluk nya dengan sangat erat.

Mereka melepaskan kerinduan yang bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Selamat 8 tahun Ratna tidak pernah mengunjungi putra nya hanya lewat panggilan itu saja, karena dia benar-benar ingin Mahendra belajar menjadi orang yang lebih baik.

" Bunda... " Ucap Mahendra pelan membuat tangis Ratna semakin deras dan isakan tangis nya semakin keras.

Mahendra menangkap sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan bersama seorang wanita tua, mata mereka beradu pandang saling menatap cukup lama dan gadis itu langsung pergi begitu saja membuat Mahendra penasaran.

" Bunda kangen banget sama kamu sayang, bunda dan papa banyak banget denger perubahan kamu dan proses kamu yang luar biasa itu. " Mahendra tersenyum mengajak Ratna yang bersemangat itu untuk duduk di sofa.

" Bunda kamu ini Mahen, gak ada detik terlewat untuk membicarakan mu. Mungkin kamu kira bunda dan papa tidak peduli sama kamu, namun kenyataan paman Bima lah yang sampai bosan mengangkat telpon bunda mu hanya untuk tahu tentang dirimu. "

" Hemz, aku percaya sih walapun aku sempat berfikir jika bunda dan papa membuangku karena aku terlalu berandalan saat itu." Ratna menggeleng.

" Tidak sayang, bukan seperti itu. Kami melakukan ini untuk masa depan kamu agar kamu menjadi orang yang sangat baik dan mampu untuk menghadapi dunia yang keras ini. Tugas kamu berat memimpin perusahaan papa dan bunda.. "

" Kenapa bunda tidak memiliki anak lagi saja, jadikan aku tidak terlalu terbebani. "

" Kamu kan tahu Mahen, bunda sudah tidak bisa memiliki anak lagi saat dapat kamu saja kami harus berubah sangat ekstra. "

" Bunda mau ngenalin kamu sama bik Ami dan anak gadis nya. " Ratna berbalik menghadap Ami yang berdiri tak jauh dari mereka menatap dengan senyuman tipis.

" Sini bik.. " Ami yang terpanggil kemudian mendekati Ratna dan putra nya yang tersenyum ramah.

" Saya Ami den, pembantu di sini sudah sekitar 5 tahunan saya dan anak saya mengabdi di sini. Ibu anda yang baik membantu kami yang sangat susah beberapa tahun lalu den. " Ratna nampak tersenyum canggung mendengar ucapan Ami.

" Bibik kok ngomong nya gitu sih, bibik sama Intan itu sudah seperti keluarga dan teman curhat saya tauu.. "

" Saya Mahendra bik, salam kenal maaaf saya baru kelihatan setelah beberapa tahun bibik di sini. Syukurlah jika bunda punya teman seperti bibik jadi bunda tidak perlu berkumpul dengan orang orang tidak penting. "

" Mahen.. " Ratna nampak cemberut mendengar ucapan Mahendra yang menyinggung tentang gang sosialita ibunya itu.

Mata Mahendra tertuju pada seseorang gadis dengan pakaian sederhana yang membawa nampan berisi minuman mendekati mereka.

" Nah ini dia yang bunda cari, kamu kemana saja Intan. " Ratna menatap Intan yang datang.

" Maaf nyonya tadi Intan dari dapur membuat minuman.. " Intan dengan sopan berjongkok di depan meja dan meletakkan minuman di sana.

Mahendra diam diam terus memperhatikan gadis itu.

Cantik

Itu lah kata yang pas untuk menunjukkan kekaguman nya terhadap gadis di depan nya, mesti terlihat sederhana tapi gadis itu benar-benar menujukan kecantikan yang alami yang langsung bisa menarik perhatian Mahendra.

" Silakan den.. " Ucap Intan berdiri di samping ibu nya.

" Mahendra, panggil saja dengan nama ku tidak perlu terlalu formal. " Gumam Mahendra tersenyum ramah pada gadis itu.

Intan menatap Ratna yang tersenyum.

" Iya lagian usia kalian tidak terpaut jauh loh, cukup panggil nama saja atau atau mas atau kak gitu agar kalian terlihat lebih akrab.. " Seru Ratna.

" I.. iya, kak Mahen. " Gumam Intan pelan.

Gadis itu nampak malu saat mahendra terlihat terus memperhatikan nya dengan senyuman manis dan ramah nya. Wajah tampan pemuda itu tentu saja membuat nya terpesona, siapa yang bisa menolak pesona pemuda tampan dan kaya itu.

" Memang berapa usia nya?. " Gumam Mahendra menatap Ratna.

" 23 tahun sayang, hanya berjarak 3 tahun lebih tua kamu kan. " Gumam Ratna.

" Kamu tidak melanjutkan sekolah mu dan bunda tidak mengizinkan dia melanjutkan nya?. " Ucap Mahendra penuh tanda tanya saat ibu nya mempekerjakan gadis muda itu.

" Bukan seperti itu sayang.. "

" Saya yang tidak ingin merepotkan nyonya Ratna kak, makanya saya lebih memilih untuk bekerja di sini dan balas budi pada keluarga ini. " Ucap Intan melihat Ratna yang nampak bingung menjawab pertanyaan putra nya itu.

" Nah seperti itu maksudnya nak, bukan bunda yang menginginkan nya hanya saja Intan memang tidak mau. Padahal dia pinter loh.. "

Intan dan Ami izin untuk kembali ke belakang agar mereka bisa melepaskan rindu antara orang tua dan anak mereka, Intan menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi padanya saat berdekatan dengan Mahendra. Padahal itu adalah pertama kali mereka bertemu.

Kupu kupu

Mahendra yang lelah memutuskan untuk membersihkan tubuh nya di kamar nya yang sudah lama tak ia sentuh, membuka kamar yang nampak tidak pernah berubah itu dengan senyuman tipis.

" Dulu kamar ini bescame paling aman, hemz gimana kabarnya mereka sekarang?. " Mahendra melepas kaos putih panjang nya dan melemparkan nya ke sembari tempat.

Di sana nampak ada tato kupu kupu hitam di balik dada bidang nya. Tubuh nya benar-benar sempurna dengan tubuh dan wajahnya yang tampan tentu saja dia bisa memilh gadis mana pun yang dia inginkan.

Mahendra menghempas kan tubuh nya diatas kasur yang empuk memejamkan matanya sekilas sebelum hidup nya mencium sesuatu yang familiar. Mahendra memiringkan tubuh nya mengendus selimut tebal yang beraroma vanila khas seorang gadis.

" Aroma ini seperti parfum gadis itu, apa dia tidur di kasur ku?. " Batin Mahendra mengingat dengan jelas aroma tubuh Intan yang harum vanila seperti bayi.

Sedangkan di kamarnya Intan gelisah dia takut jika dia meninggalkan aroma tubuh nya di atas tempat tidur Mahendra, ini pertemuan pertama mereka apa mungkin itu akan jadi image yang buruk untuk Mahendra tentang dirinya.

Bagaimana seorang gadis tidur di atas ranjang seseorang.

" Bagaimana ini, kebiasaan itu emang sulit di rubah Intan. Bagaimana jika dia bertanya akan aroma tubuh nya yang menempel di kasurnya pada nyonya.. Astagaa Intan bodoh nya kamu ini... " Intan terus saja mengumpat kebodohan dan keteledoran dirinya sendiri.

Gadis itu terus saja mondar mandir sembari mengingit kuku kuku pendek nya. Hatinya terus saja gelisah dengan pikiran pikiran yang tidak tentu sedangkan Mahendra hanya tersenyum tipis kemudian memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.

Ting

Sayang, apa kamu sudah sampai?.

Senyum tipis terhias di wajah tampan nya.

" Lili.. " Gumamnya segera menghubungi gadis itu untuk memberitahu jika dia sudah berada di rumah nya sekarang.

Hubungan Mahendra dan Lili sudah terjalin selama 3 tahun lamanya. Lili adalah seorang model profesional yang cukup sibuk dengan jadwal nya di berbagi negeri untuk pemotretan.

Mahendra mengenal Lili saat gadis itu ada di perusahaan yang dia kelola dan menjadi salah satu model di perushaan itu dan hubungan mereka pun kian deket hingga terjalin lah sebuah hubungan asmara di antar mereka.

***

Pukul 05.30 pagi

Mahendra sudah siap dengan pakaian santainya untuk pergi keliling komplek dan taman di sana. Menghirup udara segar sebelum rutinitas manusia mulai menyibukkan udara.

Bruk

Mahendra tak sengaja menabrak tubuh mungil Intan dan langsung membuat gadis itu terjatuh ke lantai dan meringis kesakitan.

" Ya ampun Intan, maaf aku gak sengaja.. " Mahendra berlutut menyeimbangkan tubuh besar nya dengan Intan yang masih belum sadar akan kehadiran Mahendra.

" Gak papa kan?. " Ucap Mahendra lagi saat gadis itu belum sadar akan dirinya.

" Ha.. " Intan mengangkat kepalanya dan terdiam menatap mata hitam Mahendra yang menatap nya. Sesaat mereka saling bertatapan sebelum Intan sadar dan membuang wajahnya.

" Maaaf kak, Intan gak sengaja. " Gadis itu langsung berdiri membuat Mahendra juga berdiri dengan menatap gadis itu yang menunduk.

Tubuh Intan benar-benar mungil jika bersanding langsung dengan Mahendra. Tubuh nya hanya sebatas dada pemuda itu jika Mahendra berdiri otomatis Intan akan cukup sulit menatap mata hitam nya.

" Aku yang minta maaf jalan gak liat jalan, apa ada yang sakit?. " Tanya Mahendra lembut.

" Jantung ku berdetak sangat kencang, seakan-akan hendak meloncat dari tempat nya. Bagaimana jika kak Mahen mendengar nya... " Batin Intan tak jelas.

Mahendra mengibaskan tangannya di depan wajah Intan yang menunduk, Mahendra sedikit menunduk untuk melihat kenapa gadis itu diam saja setelah tertabrak oleh nya.

" Hello.. " Gumam Mahendra mendekat kan wajahnya langsung pada wajah Intan. Bahkan deru nafas hangatnya begitu terasa di wajah cantik Intan.

Intan yang kaget hanya diam memperhatikan wajah pemuda itu yang berada di depan dengan posisi yang cukup dekat.

" Wajahnya benar-benar sempurna, ini kali pertama nya aku melihat lawan jenis ku sekagum ini. " Batin Intan.

" Ah, gadis ini mulai melamun lagi. Ayoo ikut aku jogging keliling mumpung masih asri ni udaranya.. " Mahendra yang kesal dengan ekpresi Intan langsung menarik tangan gadis itu berjalan bersama dengan nya.

Intan nampak syok tapi dia tetap mengikuti langkah besar Mahendra yang berjalan. Dengan baju pendek dan celana panjang yang melekat di tubuh mungil nya nampak begitu indah di pandang. Tubuh mungil nya yang indah dengan lekukan tubuh yang ranum membuat Mahendra semakin terpesona.

Mereka berjalan pelan meninggalkan rumah keluarga Cendana berkeliling jalanan yang sepi dengan udara sedikit dingin menusuk tubuh mereka, sepanjang jalan mereka nampak saling diam dan bingung harus membicarakan apa.

" Kamu udah punya pacar?. " Entah lah pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Mahendra membuat nya sendiri merasa aneh dengan ucapan nya sendiri.

" Belum kak, aku masih memikirkan masa depan ku dan ibu kalau nanti kami sudah bisa berdiri sendiri mugkin aku akan memikirkan arah sana. " Ucap Intan pelan.

" Bagus pemikiran mu, kamu lulusan SMA mana?. "

" Aku lulusan SMP kak, dulu sih pernah SMA tapi karena terkendala biaya jadinya aku berhenti dan ada masalah yang membuat aku dan ibu harus pergi jauh dari desa itu. "

" Astaga kasihan sekali gadis ini, padahal dia terlihat cukup pintar. " Batin Mahendra.

" Tapi gak papa, karena masalah itu aku ketemu sama nyonya Ratna dan aku bekerja di sini aku di perlakuan selayaknya manusia... " Ucap Intan dengan sedikit ketawa getir yang membuat Mahendra semakin penasaran dengan kisah hidup nya.

" Aku dan ibu memutuskan untuk buka usaha sih kak, yang kerja kita sudah lebih cukup untuk memulai hidup baru. Mengingat ibu sudah tua dan gak mungkin kami terus di sini.. "

Mahendra diam ada perasaan tak rela saat Intan berbicara jika dia akan pergi dari rumah nya. Diam diam Mahendra memperhatikan gadis itu setiap tutur kata lembut nya yang mengetarkan hatinya.

Mahendra berjalan pelan memperhatikan Intan yang nampak tersenyum dengan leluasa nya menyapa setiap tanaman yang bermekaran di pinggir jalan. Senyum itu benar-benar indah dan menentramkan mata sayu yang indah dan wajahnya yang cantik.

" Kenapa aku selalu ingin melihat nya, melihat senyum manis itu lagi dan lagi. Melihat tatapan mata sayu nya yang indah dan bibir merah muda yang mungil yang selalu memanggil ku. " Batin Mahendra.

Tak teras kini Mahendra yang berjalan pelan mengikuti langsung mungil gadis itu.

" Kamu gak pernah keluar rumah?. " Ucapan Mahendra menghentikan langkah Intan yang bersemangat.

" Sering, tapi ini kali pertama Intan keluar sepagi ini kak. Melihat bintang yang masih nampak terlihat menghirup udara segar dan melihat penampakan bunga bunga yang bermekaran... " Ucap Intan tak terasa berputar putar seperti seorang anak kecil yang begitu bahagia di ajak jalan jalan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!