Indonesia
NovelToon NovelToon

The Author Of My Own Destiny

Tinta Takdir di Atas

Bau apek dari tumpukan kertas tua yang membusuk menyengat hidung Aria, berbaur dengan debu-debu mikro yang menari malas di bawah pias cahaya remang. Itu adalah impresi sensorik pertama yang menampar kesadarannya.

Kepalanya didera denyut maha dahsyat, seolah ribuan jarum perak tak kasat mata tengah menjahit paksa jutaan helai benang ingatan asing langsung ke dalam labirin neokorteksnya. Ketika kelopak matanya yang berat akhirnya terangkat, yang menyambutnya bukanlah langit-langit putih steril rumah sakit modern atau pendar lampu operasi yang dingin.

Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dihiasi jelaga dan cat yang mengelupas bagai kulit ular mati. Sungguh sebuah ironi yang menggores ulu hati bagi sesosok jiwa yang terbiasa berselimut kemapanan ilmu medis abad ke-21.

Aria mencoba menggerakkan jemarinya yang kurus. Dingin dan kaku.

Tubuh yang kini ia huni—yang terasa begitu ringkih dan rapuh—adalah milik Aria Evander. Dia adalah putri tunggal seorang Baron yang namanya kini tak lebih dari sekadar lelucon bisu di kalangan aristokrat Kekaisaran Sihir Elgarth.

Keluarga Evander telah lama terperosok ke dalam jurang kebangkrutan yang menganga lebar, terlilit utang yang menggunung setinggi puncak es abadi di perbatasan utara kekaisaran. Di balik keanggunan sutra yang mulai koyak di sudut-sudut gaun tidurnya, Aria merasakan denyut nadi tubuh ini yang lemah, mencerminkan keputusasaan yang mendalam dari sang pemilik asli sebelum jiwanya memudar ke dalam ketiadaan.

Pintu kamar yang lapuk berderit pelan, memecah keheningan yang menyesakkan dada. Seorang gadis muda dengan gaun pelayan yang pudar melangkah masuk dengan ragu. Tangannya yang kasar memegang nampan kayu berisi semangkuk bubur encer yang sudah mendingin.

“Nona Aria... oh, puji Dewi, Anda akhirnya siuman!” suara pelayan itu, Mia, terdengar parau dan gemetar.

Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya yang merah dan sembap, memperlihatkan hari-hari penuh kecemasan yang telah ia lalui.

Aria tidak segera menjawab. Otaknya, yang kini bekerja ganda menyinkronkan dua memori berbeda, memindai ingatan tentang gadis di hadapannya.

Dalam novel fantasi yang pernah ia baca di kehidupan lampau—sebuah karya picisan yang kini bertransformasi menjadi realitas yang menyesakkan—tokoh Aria Evander hanyalah seonggok bidak tak berarti. Ia ditakdirkan mati secara tragis di tiang gantungan, dikorbankan sebagai tumbal politik demi melapangkan jalan bagi sang protagonis wanita, Evelyn Roselia.

Evelyn yang suci, Evelyn yang dicintai seluruh kekaisaran, sementara Aria hanyalah debu hitam di bawah sepatu lars para penguasa.

“Aku baik-baik saja, Mia,” bisik Aria.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—terlalu lembut, namun menyimpan ketegasan dingin yang tak biasa.

Ia meremas selimut wol yang kasar di bawah jemarinya. Pikiran tentang kematian tragis yang menantinya di ujung naskah asli membuat darahnya berdesir dingin. Ia menolak menjadi batu pijakan bagi romansa picisan mereka.

Ia menolak mati sebagai catatan kaki yang menyedihkan dalam sejarah kejayaan Evelyn Roselia. Jika dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara yang ditulis oleh takdir yang kejam, maka ia harus merebut pena sang sutradara.

Tepat ketika keputusasaan itu nyaris mencengkeram dadanya, udara di hadapan Aria berdesir lembut. Sebuah pendar keemasan, setipis benang sutra, membelah kegelapan kamar.

Dari pusaran cahaya mikro itu, muncullah sesosok entitas kecil yang melayang anggun. Sayapnya tidak terbuat dari bulu, melainkan dari helai-helai cairan hitam pekat menyerupai tinta yang berkilauan di bawah cahaya magis.

Itu adalah Lumi, roh dari pena takdir.

Kehadiran makhluk spiritual itu tidak menghasilkan suara yang mampu didengar telinga biasa, namun bagi Aria, ada getaran magis yang menjalar langsung ke tulang belakangnya. Lumi berputar-putar di atas jemari Aria yang gemetar, meninggalkan jejak abu keemasan yang hangat.

Kehangatan itu perlahan mengusir rasa dingin yang membekukan sendi-sendinya. Seolah-olah, roh kecil itu tengah membisikkan sebuah janji rahasia tanpa suara: *Tulis ulang takdirmu, wahai sang pemilik pena baru.*

Aria menatap telapak tangannya sendiri. Di dunia ini, sihir adalah hak istimewa para dewa dan kaum elite.

Namun, dengan keberadaan Lumi, ia merasakan eksistensi sebuah instrumen tak kasat mata—sebilah pena imajiner yang mampu meretas kode-kode realitas, membelokkan narasi yang telah digariskan oleh sang pencipta dunia ini. Kekuatan magis yang dipancarkan Lumi menegaskan bahwa ia bukan lagi sekadar penonton pasif; ia adalah variabel anomali yang siap mengacaukan seluruh kalkulasi takdir.

Langkah kaki yang berat dan terseret terdengar dari koridor luar, memutus kontak batin antara Aria dan Lumi.

Pintu kayu jati yang lapuk berderit pilu saat terbuka kasar, menampilkan sosok Baron Edward Evander. Pria paruh baya itu tampak seolah telah menua sepuluh tahun dalam semalam.

Bahunya merosot runtuh, jubah beludrunya yang telah pudar warnanya tergantung longgar di tubuhnya yang kian kurus. Bau alkohol murah dan keputusasaan menguar dari sosoknya bagai kabut kelabu yang menyesakkan.

“Aria, putriku...” desis sang Baron parau, suaranya nyaris tenggelam dalam desah angin malam yang menyusup dari celah jendela yang retak.

“Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Istana... mereka telah menetapkan keputusan. Jika kita tidak mampu melunasi seluruh piutang dalam waktu tujuh hari, tanah leluhur kita akan disita oleh keluarga Grand Duke. Kita akan diusir dari sini seperti anjing kurap.”

Sang Baron menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan yang gemetar. Kesedihan yang pekat menyelimuti ruangan itu bagai kabut musim gugur yang membekukan harapan.

Mia, yang berdiri di sudut kamar, kembali terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di balik celemek kusam yang kini basah oleh air mata baru.

Aria tidak menangis. Alih-alih dirundung ketakutan, sepasang matanya justru berkilat tajam di bawah bayang-bayang kelambu ranjangnya.

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang calon dokter spesialis yang terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan situasi kritis. Kematian pasien di meja operasi sering kali ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam hitungan detik.

Dan saat ini, keluarganya adalah pasien yang sedang sekarat di atas meja bedah takdir. Ia tidak boleh goyah sedikit pun.

Ia menyibak selimut wolnya, membiarkan sepasang kaki telanjang bersentuhan langsung dengan lantai kayu yang sedingin es. Sensasi dingin itu justru memperjelas fokusnya, mengikis sisa-sisa kebingungan yang sempat menggelayuti benaknya.

“Mia,” panggil Aria.

Suaranya tidak lagi terdengar seperti desah lemah seorang putri manja yang meratapi kemalangan. Nada suaranya kini begitu lugas, dingin, dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.

Mia terkesiap, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. “Ya, Nona?”

“Bawakan aku tinta hitam terbaik yang masih kita miliki, pena bulu, dan lembaran kulit hewan yang paling tebal. Sekarang juga.”

“T-tapi, Nona... untuk apa semua itu—”

“Jangan bertanya. Lakukan saja,” potong Aria dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menusuk.

Tatapannya membuat Mia membeku sesaat sebelum akhirnya mengangguk patuh dan bergegas keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.

Aria beralih menatap ayahnya yang masih terpaku dalam duka, tenggelam dalam penyesalan yang tak berujung.

Di balik kemegahan Kekaisaran Elgarth yang ditopang oleh kekuatan sihir, Aria mengetahui sebuah celah besar yang selama ini diabaikan oleh para penguasa. Sistem medis dan perdagangan ramuan mana di dunia ini masih sangat primitif dan tidak efisien.

Para alkemis kekaisaran hanya mengandalkan intuisi magis yang kasar untuk mengekstrak energi dari tanaman herbal, menghasilkan ramuan penyembuh dengan tingkat kemurnian yang sangat rendah namun dijual dengan harga yang melambung tinggi.

Akibatnya, para ksatria berpangkat rendah di perbatasan utara sering kali mati sia-sia hanya karena infeksi luka sederhana yang tidak tertangani dengan baik.

Dengan basis pengetahuan medis modern tentang sterilisasi, isolasi senyawa aktif, serta optimasi formula kimia, Aria tahu ia bisa menciptakan revolusi yang akan mengguncang pasar kekaisaran.

Ia akan memodifikasi formula ramuan penyembuh sederhana menjadi sebuah produk medis berdaya guna tinggi dengan biaya produksi yang sangat murah. Ini bukan sekadar tentang bertahan hidup; ini adalah perang ekonomi yang harus dan akan ia menangkan.

Beberapa menit kemudian, Mia kembali dengan membawa sebotol tinta hitam pekat dan beberapa lembar perkamen kulit domba yang kasar.

Aria segera duduk di meja kayu yang bergoyang di sudut kamar. Ia mencelupkan ujung pena bulu ke dalam tinta, sementara Lumi melayang di atas bahunya, memancarkan pendar keemasan yang menghangatkan jemarinya yang dingin.

Setiap kali ujung pena Aria menyentuh permukaan perkamen, aliran mana di sekitarnya tampak beriak lembut, membentuk pola-pola geometris yang rumit di udara.

Dengan presisi seorang ahli bedah yang sedang membedah jaringan tubuh, Aria mulai menuliskan diagram ekstraksi herbal, memisahkan zat aktif penghenti pendarahan dengan metode distilasi bertingkat yang belum pernah dikenal di Elgarth.

Ia tidak hanya menulis formula; dengan bantuan manipulasi realitas dari Lumi, setiap kata yang ia goreskan seolah mengunci kebenaran baru ke dalam hukum alam dunia ini, mengubah struktur molekul cairan yang akan ia ciptakan nanti menjadi kenyataan ilmiah yang tak terbantahkan.

“Evelyn Roselia,” batin Aria sembari menggoreskan garis terakhir pada diagramnya.

Senyum sinis terukir di sudut bibirnya yang pucat.

“Kau boleh memonopoli cinta dari para pangeran dan ksatria agung dengan kepolosan palsumu. Namun, aku yang akan memonopoli jalur nadi kehidupan kekaisaran ini. Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan di atas papan catur ini ketika naskah yang kau banggakan itu telah kuubah sepenuhnya.”

Di luar jendela, langit Elgarth yang semula temaram kini perlahan berubah warna menjadi ungu pekat yang mengerikan—sebuah pertanda alam akan datangnya badai mana yang dahsyat yang biasa melanda wilayah utara.

Angin kencang mulai melolong, memukul-mukul daun jendela kayu yang rapuh hingga berderit keras.

Namun, di dalam kamar yang sunyi itu, Aria Evander tetap berdiri tegak. Ia menatap lembaran perkamen di tangannya yang kini memancarkan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup sepenuhnya, menyimpan rahasia besar yang akan mengubah jalannya sejarah.

Gulungan takdir yang baru telah terbuka. Dan ia, dengan pena tak kasat mata di tangannya serta ilmu pengetahuan modern di kepalanya, siap menuliskan bab pertama dari kebangkitannya sendiri.

Kekaisaran Elgarth tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

Pena Takdir

Cahaya fajar merayap malas melalui celah gorden beledu yang telah memudar warnanya dari merah anggur menjadi abu-abu kusam. Sinar itu menyentuh helai-helai rambut Aria, berkilau keemasan, tetapi terasa sangat kontras dengan sudut-sudut kamar yang dingin dan gelap. Di luar sana, ibu kota Kekaisaran Elgarth mungkin tengah berdenyut oleh kemegahan sihir dan derap kereta kuda berlapis emas milik para bangsawan agung. Namun, di dalam kediaman Baron Evander, waktu seolah berhenti berputar. Udara di ruangan ini hanya menyisakan bau apak kertas tua, kayu lapuk yang lembap, dan sisa-sisa kejayaan masa lalu yang perlahan-lahan digerogoti oleh rayap dan utang.

Aria mengangkat tangannya, menatap jemarinya sendiri di bawah temaram cahaya pagi. Tangan ini halus, milik seorang putri bangsawan yang seharusnya dimanjakan, tetapi kini dihiasi memar kebiruan dan kapalan tipis di dekat pangkal ibu jari—bekas dari kerja fisik yang tak semestinya ia sentuh. Di kehidupan sebelumnya, jemari ini terbiasa memegang pisau bedah dingin di bawah lampu operasi yang benderang, steril, dan penuh presisi. Kini, ia harus membiasakan diri dengan rasa dingin yang berbeda: dinginnya kemiskinan yang merayap dari lantai batu tanpa karpet tebal.

Ia mengembuskan napas panjang. Bau kayu cendana yang bercampur debu terhirup dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat berkejaran. Ia tahu betul, jika ia tetap diam mengikuti alur novel yang pernah dibacanya, tubuh ini akan berakhir di tiang gantungan sebagai tumbal politik yang tak berharga.

“Tuan Putri, apakah Anda benar-benar yakin dengan langkah ini? Ini... terlalu berisiko.”

Sebuah bisikan memecah keheningan sunyi kamar itu. Suara itu begitu tipis, mirip kepakan sayap ngengat yang menggesek udara malam. Dari balik bayang-bayang tumpukan buku tua di sudut meja, seberkas pendar keemasan meluncur lambat. Lumi menampakkan diri. Tubuh mungil roh pena itu melayang lembut, memantulkan bayangan samar di dinding kamar yang mengelupas kertas dindingnya. Sepasang matanya yang sewarna batu zamrud menatap Aria dengan kecemasan yang teramat sangat.

Aria tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk kurva tipis yang dingin. Itu adalah senyuman yang biasa ia tunjukkan saat menghadapi pasien darurat dengan peluang hidup tipis—tenang, tajam, dan tanpa keraguan.

“Lumi,” kata Aria, suaranya rendah tetapi mantap. “Di dunia yang kejam ini, kemiskinan adalah vonis mati yang sudah ditandatangani oleh para penguasa bahkan sebelum kita sempat membela diri. Jika kita hanya duduk diam menerima naskah yang mereka tulis, kita akan hancur. Keberanian untuk merombak naskah itu adalah satu-satunya instrumen bedah yang tersisa di tanganku. Aku tidak akan membiarkan nama Evander berakhir di ujung tali gantungan.”

Aria meraih pena bulu tua yang tergeletak di atas meja kayu yang retak. Pena itu adalah peninggalan mendiang kakeknya, salah satu dari sedikit barang berharga yang tidak disita oleh para penagih utang yang beringas. Saat jemarinya menyentuh batang pena, aliran hangat yang asing mendesir melalui pembuluh darahnya. Itu adalah mana kuno, energi magis tersembunyi yang berdenyut selaras dengan detak dadanya.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, Aria membuka buku laporan keuangan keluarga yang tebal dan berdebu. Halaman-halaman itu dipenuhi angka-angka merah yang mengerikan, catatan utang yang seolah menjerat leher mereka semakin erat setiap harinya. Ia tidak hanya berniat merapikan angka-angka itu. Melalui kemampuan manipulasi narasi yang dialirkan oleh kekuatan Lumi, ia mulai menuliskan detail baru di sela-sela baris transaksi perdagangan gandum yang akan datang.

Ujung pena bulu itu menggores kertas dengan bunyi gesekan yang ritmis. Setiap huruf yang terbentuk seolah menyedot sedikit demi sedikit tenaganya, membuat peluh dingin mulai terbit di pelipisnya. Namun, Aria tidak berhenti. Ia mengubah klausul pengiriman, menambahkan catatan kaki kecil yang tampak tidak penting tentang perubahan rute pelabuhan akibat cuaca buruk. Tindakan sederhana ini, jika di dunia nyata, hanyalah coretan biasa. Namun di sini, di bawah pengaruh sihir pena takdir, coretan itu adalah perintah mutlak bagi realitas untuk bergeser. Ia sedang menambal lubang keuangan keluarganya dengan benang takdir yang ia renggut dari ketidaktahuan dunia.

Pintu kamar berderit pelan, memotong konsentrasi Aria. Ia segera menutup buku laporan itu dengan cepat dan memberi isyarat agar Lumi bersembunyi di balik lipatan lengan bajunya yang longgar.

Baron Edward Evander melangkah masuk tanpa suara. Bahunya yang dulu tegap kini tampak melengkung, seolah memikul seluruh beban langit yang runtuh. Mantel beludru hijau tua yang dikenakannya sudah kehilangan semua kancing emasnya, digantikan oleh jahitan benang kasar yang dikerjakan terburu-buru. Matanya yang cekung dan lelah menatap Aria dengan campuran kasih sayang dan rasa bersalah yang mendalam.

“Aria, Nak,” panggil sang Baron, suaranya serak bagai gesekan daun kering di musim gugur. “Istirahatlah. Mengapa kamu masih terjaga di depan tumpukan kertas itu? Ayah masih memiliki beberapa keping perak untuk membeli roti dan sup hangat hingga akhir musim dingin ini. Kamu tidak perlu memikirkan urusan orang dewasa.”

Aria bangkit dari kursinya yang reyot. Ia melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu sang ayah yang terasa semakin ringkih dari hari ke hari. Kehangatan tubuh ayahnya terasa begitu nyata, memicu rasa protektif yang membakar dadanya. Di kehidupan lampau, ia adalah seorang anak yatim piatu yang berjuang sendirian di dunia yang dingin tanpa pernah merasakan pelukan hangat orang tua. Kini, ia memiliki seorang ayah yang tulus mencintainya, meskipun dalam keadaan paling terpuruk sekalipun. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pria tua ini menderita.

“Ayah,” bisik Aria, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Edward. “Kehormatan keluarga kita tidak diukur dari berapa banyak keping emas yang tersisa di dalam peti, melainkan dari seberapa jauh kita berani melangkah untuk mengubah arah angin yang menentang kita. Percayalah pada Aria.”

Edward menghela napas panjang, mengusap rambut putrinya dengan tangan yang kasar dan gemetar. Ia tidak tahu dari mana putrinya mendapatkan keberanian sebesar itu, tetapi ada binar keras di mata Aria yang membuatnya merasa bahwa harapan belum sepenuhnya padam. Setelah memberikan kecupan lembut di dahi Aria, Baron tua itu berpamitan untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan keheningan yang kembali merayap ke dalam ruangan.

Setelah pintu tertutup rapat, Aria kembali ke mejanya. Pandangannya kini beralih pada sebuah amplop putih bersih yang tergeletak di sudut terjauh meja. Amplop itu terbuat dari kertas linen berkualitas tinggi, berbau harum bunga lavender yang pekat—sebuah aroma yang terlalu manis hingga terasa memuakkan bagi penciuman terlatih Aria. Di bagian belakangnya, terdapat segel lilin berwarna merah darah dengan lambang bunga mawar dari keluarga Roselia.

Itu adalah undangan pesta teh dari Evelyn Roselia.

Aria mengambil surat itu, meraba permukaan kertasnya yang halus dan mahal. Evelyn, sang protagonis wanita dalam novel asli yang seharusnya menjadi lambang kesucian dan kebaikan, ternyata menyimpan duri beracun di balik senyum manisnya. Undangan ini bukanlah sekadar ajakan ramah tamah antargadis bangsawan; ini adalah jebakan sosial yang dirancang khusus untuk mempermalukan keluarga Evander yang bangkrut di hadapan para bangsawan tinggi kekaisaran. Evelyn ingin memastikan bahwa Aria tetap berada di dasar lumpur, tidak pernah memiliki kesempatan untuk naik kembali ke lingkaran sosial atas.

“Gadis yang licik,” gumam Aria, matanya menyipit tajam menatap segel lilin merah itu. “Dia ingin menjadikanku badut pertunjukan untuk menghibur teman-teman bangsawannya.”

Lumi kembali melayang keluar dari balik lipatan baju, mendarat di atas bahu Aria. Cahaya keemasannya bergetar, seolah merespons kemarahan yang tertahan dari gadis itu. “Tuan Putri, apakah Anda akan mengabaikannya? Kita bisa berpura-pura sakit dan menolak undangan itu demi keselamatan Anda.”

“Menolak?” Aria terkekeh pelan, sebuah tawa dingin tanpa nada jenaka. “Tidak, Lumi. Jika aku melarikan diri sekarang, mereka akan terus memburu kita seperti serigala yang mencium bau darah domba yang terluka. Aku akan datang. Tetapi aku tidak akan datang sebagai korban yang pasrah.”

Ia membuka kembali buku naskahnya. Dengan bantuan Lumi, ia mulai merancang skenario baru untuk pesta teh tersebut. Setiap detail, mulai dari gaun usang yang akan ia kenakan hingga kata-kata yang akan ia ucapkan, ia susun bagaikan rencana operasi medis yang sangat rumit. Ia akan membalikkan keadaan. Kesombongan Evelyn akan menjadi senjata makan tuan yang akan menjatuhkan reputasi gadis itu sendiri di depan umum.

Saat ujung pena bulunya kembali menari di atas kertas, menuliskan skenario baru, sebuah penglihatan sekilas melintas di benak Aria—sebuah efek samping dari manipulasi narasi yang ia lakukan. Ia melihat bayangan seorang pria berambut gelap dengan mata merah menyala yang menatapnya penuh selidik dari balik kegelapan singgasana; Pangeran Kael. Di sudut lain, ia juga melihat senyum misterius dari Duke Lucien, sang penyihir agung yang tampak terhibur oleh riak-riak kecil yang mulai mengacaukan takdir asli dunia ini.

Aria menarik napas dalam-dalam, menenangkan gejolak di dadanya yang bergemuruh. Permainan catur politik ini baru saja dimulai, dan ia baru saja menggerakkan bidak pertamanya. Dunia ini mungkin adalah panggung sandiwara yang ditulis oleh orang lain, tetapi dialah penulis baru yang akan menentukan bagaimana babak akhir ini akan dimainkan.

Pertemuan Pertama

Pagi di kediaman Baron Evander tidak pernah disambut oleh kicau hangat burung gereja atau kepulan uap sup kentang yang gurih. Hari-hari selalu dimulai dengan derit panjang lantai kayu cemara tua yang mengaduh, seakan memprotes beban waktu yang kian mengimpit dinding-dinding kastel yang mulai lapuk.

Aria berdiri di dekat bingkai jendela kamarnya. Jemarinya menyapu debu tipis yang melapisi kaca buram, menyisakan garis bersih yang memperlihatkan kebun belakang yang suram. Di luar sana, hanya ada hamparan tanah kelabu yang gundul. Tanaman mawar yang dahulu menjadi kebanggaan mendiang ibunya kini menyisakan batang-batang hitam berduri yang mati membeku dihantam embun musim dingin.

Ia mengembuskan napas panjang. Uap tipis terbentuk di udara dingin kamar, lalu lenyap dengan cepat sebelum sempat menyentuh kaca. Dua bulan lalu, tangannya masih terbiasa memegang pisau bedah dingin di bawah pendar lampu neon ruang operasi yang steril. Kini, jemari yang sama harus memegang sebatang pena bulu angsa kuno yang terasa berat, menyengat kulitnya dengan desis sihir yang halus.

“Kau melamun lagi, Aria,” sebuah suara sehalus gesekan sutra berbisik di dekat telinganya.

Lumi melayang setinggi bahu Aria. Sosok roh pena itu tidak lebih besar dari ibu jari, dengan sepasang sayap transparan yang berkilau layak pecahan kaca di bawah cahaya minim pagi hari. Setiap kepakan sayapnya meninggalkan jejak cahaya keemasan yang perlahan memudar sebelum sempat menyentuh lantai kayu.

Aria tidak menoleh. Tatapannya masih tertuju pada kebun mati di luar. “Aku hanya sedang berpikir, seberapa jauh tinta ini bisa mengubah kenyataan sebelum garis nasib menyadari ada yang salah.”

“Realitas di dunia ini mengalir seperti tinta basah, Aria,” sahut Lumi, mendarat dengan anggun di atas tumpukan dokumen tua di meja kerja. “Ia belum mengering. Selama ujung penamu bergerak, lembaran baru selalu bisa ditulis ulang.”

Aria berbalik, lalu melangkah perlahan menuju meja kayu ek yang permukaannya sudah mulai retak-retak. Di atasnya, berserakan kertas-kertas laporan keuangan dengan angka-angka berwarna merah pekat—lambang kehancuran sebuah keluarga bangsawan. Utang yang menumpuk dari para lintah darat ibu kota, penyitaan paksa wilayah timur, hingga biaya pengobatan ayahnya yang terus menguras koin tembaga terakhir mereka.

Ia menarik kursi kayu yang berderit nyaring, lalu duduk. Dengan ketelitian seorang dokter bedah yang hendak mengamputasi jaringan busuk agar infeksi tidak menyebar, Aria mengarahkan ujung pena bulunya ke atas kertas laporan kuno itu.

Ujung pena menyentuh permukaan kertas kasar. Aliran sihir yang dingin merambat dari telapak tangan, menelusup ke dalam serat-serat kertas. Aria mulai mencoret angka-angka utang tersebut, menggantinya dengan perhitungan baru yang sangat rumit namun sah secara hukum kekaisaran. Ia menyelipkan beberapa klausul perdagangan gandum yang terabaikan, memutarbalikkan transaksi masa lalu seolah-olah pihak Baron Evander telah melunasinya melalui sistem barter yang sah bertahun-tahun lalu.

Saat tintanya meresap, sebuah ingatan asing tiba-tiba menghantam kepalanya. Itu bukan memorinya. Ia melihat seorang pria paruh baya berambut beruban—Baron Evander—tersenyum lembut sambil mengusap kepalanya saat ia masih kecil. Rasa hangat yang asing itu menjalar di dadanya, menyisakan rasa sesak yang aneh.

“Aku tidak akan membiarkanmu hancur,” bisik Aria pada kegelapan kamar. Ia menekan penanya lebih dalam, mengunci narasi baru itu ke dalam realitas.

Ketukan pelan di pintu membuyarkan konsentrasinya. Pintu kayu ek itu terbuka perlahan, memunculkan sosok gadis muda dengan gaun pelayan yang sudah pudar warnanya di bagian siku.

“Nona Aria,” cicit Mia Florent, melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Di kedua tangannya, ia membawa nampan perak yang sudah kehilangan kilaunya, mengusung secangkir teh herbal yang uapnya mengepul tipis. “Saya membawakan teh hangat. Hanya ini yang tersisa di dapur.”

Aria menatap cangkir porselen yang retak di bagian tepinya. Teh itu berwarna pucat, hampir seperti air biasa. Namun, ia juga melihat jemari Mia yang memerah dan kasar karena terlalu lama mencuci di air musim dingin yang membeku demi menghemat kayu bakar.

“Terima kasih, Mia,” ujar Aria lembut. Ia menerima cangkir itu, membiarkan kehangatan menjalar ke telapak tangannya yang kaku. “Kau sudah sarapan?”

Mia mendongak, tampak terkejut dengan perhatian kecil itu. Ia buru-buru mengangguk, meski perutnya berbunyi pelan—sebuah kebohongan yang terlalu mudah dibaca. “Sudah, Nona. Saya... saya baik-baik saja.”

Aria meletakkan cangkir itu kembali ke meja tanpa meminumnya. Ia meraih tangan Mia, menggenggam jemari kasar pelayan setianya itu. “Mulai besok, kita tidak perlu lagi menghemat kayu bakar. Dan pastikan dapur selalu memiliki roti gandum yang cukup.”

Mia menatap Aria dengan mata membelalak, penuh ketidakpercayaan. “Tapi, Nona... utang-utang kita—”

“Semua sudah selesai,” potong Aria dengan nada tenang yang tidak menerima bantahan. “Pergilah ke dapur dan hangatkan dirimu.”

Setelah Mia keluar dengan langkah ragu namun membawa secercah harapan di matanya, senyum di wajah Aria perlahan memudar. Matanya menyipit menatap lembaran kertas di depannya.

Minggu depan adalah pesta dansa musim dingin di istana kekaisaran. Di sana, Evelyn Roselia—sang protagonis wanita dalam novel asli—akan meluncurkan jebakan sosial pertamanya untuk mempermalukan keluarga Evander. Evelyn ingin menyingkirkan Aria agar jalannya menuju takhta permaisuri tidak terganggu oleh keberadaan putri Baron yang miskin namun memiliki darah bangsawan murni.

“Dia pikir aku akan menjadi batu pijakan untuk gaun indahnya,” gumam Aria. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang dingin. “Sayangnya, naskah aslimu sudah kehilangan penulisnya, Evelyn.”

Tiba-tiba, bulu kuduk Aria meremang. Suhu di dalam ruangan mendadak turun drastis hingga napasnya kembali beruap. Suasana sunyi yang ganjil merayapi kamar itu, seolah-olah waktu sendiri telah dipaksa berhenti bergerak.

“Mengubah angka tidak akan mengubah akhir dari sebuah tragedi, Lady Aria.”

Sebuah suara bariton yang dingin dan berwibawa terdengar dari arah sudut ruangan yang gelap.

Aria tersentak, namun ia menahan diri untuk tidak melompat dari kursinya. Ia menoleh perlahan. Di sana, bersandar pada bingkai pintu yang setengah terbuka, berdiri seorang pria jangkung dalam balutan mantel hitam pekat berhias sulaman benang perak berbentuk lambang keluarga kekaisaran.

Duke Lucien Veritas.

Pria itu memiliki wajah yang seolah dipahat dari marmer terbaik—sempurna namun dingin tanpa cela. Rambut hitamnya yang legam jatuh sedikit berantakan di dahinya, sementara sepasang mata berwarna merah crimson menatap Aria dengan intensitas yang sanggup membuat prajurit paling berani sekalipun berlutut ketakutan.

Lumi langsung melesat bersembunyi di balik tumpukan buku, menyembunyikan pendar cahayanya sepenuhnya.

“Duke Lucien,” ucap Aria, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan tidak bergetar. Ia bangkit berdiri, merapikan gaun sederhananya dengan gerakan anggun yang ia latih berulang kali. “Saya tidak mendengar ketukan di pintu. Apakah tata krama di kediaman Veritas telah berubah?”

Lucien melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai kayu tua terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung sisa waktu hidup Aria. Ia berhenti tepat di depan meja kerja Aria, menunduk untuk menatap tumpukan laporan keuangan yang baru saja dimanipulasi.

“Tata krama hanya berlaku untuk mereka yang bermain sesuai aturan,” bisik Lucien, mendekatkan wajahnya. Aroma kayu cedar yang bercampur dengan dinginnya salju malam menguar dari tubuh pria itu. “Sedangkan kau... kau baru saja merobek aturan itu di depan mataku.”

Aria merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras. Namun, ia menolak untuk mengalihkan pandangan. Ia menatap langsung ke dalam mata merah yang berkilau berbahaya itu. Di dunia modern, ia pernah menghadapi pasien-pasien di ambang kematian; ia tahu betul bahwa rasa takut adalah sekutu terbaik musuh.

“Saya hanya merapikan pembukuan keluarga saya, Yang Mulia,” sahut Aria, menyembunyikan tangan kanannya yang memegang pena bulu di balik lipatan gaunnya. “Tidak ada hukum kekaisaran yang melarang seorang putri Baron untuk menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.”

Lucien mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan mengenakan sarung tangan kulit hitam menyentuh ujung kertas laporan yang masih menyisakan sisa sihir keemasan yang samar. Pendar itu langsung lenyap begitu bersentuhan dengan kulit Lucien, seolah-olah kegelapan dalam diri pria itu menelan semua cahaya.

“Sihir yang kau gunakan... itu bukan sihir yang diajarkan di akademi,” gumam Lucien, matanya menyipit tajam. “Itu adalah sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di tangan seorang gadis yang hampir mati karena demam dua minggu lalu.”

Aria menahan napas. Pria ini terlalu jeli. Sebagai salah satu pilar kekaisaran dan penyihir hitam terkuat, Lucien memiliki kepekaan terhadap aliran mana yang sangat luar biasa.

“Setiap orang memiliki rahasia mereka sendiri, Duke,” jawab Aria, memiringkan kepalanya sedikit, menantang tatapan sang Duke. “Sama seperti rahasia mengapa seorang Duke agung sudi mendatangi kediaman Baron yang hampir bangkrut ini secara diam-diam.”

Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut bibir Lucien. Itu bukan senyuman ramah, melainkan senyuman seorang predator yang menemukan mangsa yang menarik untuk tidak langsung dibunuh.

“Aku menyukai keberanianmu, Lady Aria,” bisik Lucien, suaranya kini terdengar tepat di dekat telinga Aria, mengirimkan sensasi dingin yang aneh ke sepanjang tulang belakang gadis itu. “Namun ingatlah, setiap kali kau mengubah satu baris dalam takdir ini, dunia akan menuntut bayaran yang setimpal. Dan terkadang, harga yang diminta adalah sesuatu yang tidak akan sanggup kau bayar.”

Pria itu berbalik, jubah hitamnya berkelebat pelan saat ia melangkah menuju jendela. Sebelum Aria sempat menjawab, sosok Lucien telah melebur bersama bayang-bayang pagi yang dingin, meninggalkan suasana sunyi yang kembali merayap di dalam kamar.

Aria terduduk kembali di kursinya, lututnya terasa lemas. Ia melepaskan genggamannya pada pena bulu. Tangannya gemetar hebat. Pertemuan tadi adalah konfirmasi bahwa jalannya tidak akan mudah. Ia tidak hanya harus menghadapi kelicikan Evelyn, melainkan juga tatapan tajam dari sang kegelapan itu sendiri—Lucien Veritas.

Namun, saat ia menatap kembali laporan keuangan yang kini telah bersih dari utang, seulas senyum penuh tekad kembali terukir di wajahnya.

“Biarlah dunia menuntut harganya,” bisik Aria, meraba ujung tajam pena bulunya yang kini kembali tenang. “Aku yang akan menentukan akhir dari cerita ini.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!