"Di budayaku, hal baik itu tak pernah datang terburu-buru. Segala sesuatu ada waktunya, ada langkahnya. Seperti teh yang harus diseduh dengan sabar, rasanya baru akan sempurna. Begitu pun dengan pertemuan..."
- Arjun
\_\_\_^^^^\_\_\_
Hujan sore itu rintik-rintik banget, bikin suasana di dalam kafe tempat aku kerja jadi adem dan nyaman sekali. Wangi kopi yang baru diseduh bercampur sama aroma tanah basah dari luar, rasanya tenang banget di dada. Di sini aku kerja udah hampir setahun, nggak ada yang terlalu istimewa sih, cuma rutinitas biasa tiap hari.
Namaku Aira, dua puluh satu tahun, cuma pelayan biasa yang tugasnya mencatat pesanan, mengantar makanan, dan merapikan meja.
Dari sekian banyak meja yang ada di ruangan ini, ada satu meja yang paling sering aku perhatikan-meja nomor tujuh. Bukan karena mejanya lebih bagus atau apa, tapi karena pelanggannya selalu sama, datang tiap hari jam empat sore pas, nggak pernah terlambat, nggak pernah absen.
Namanya Arjun.
Cowok keturunan India yang lahir dan besar di kota ini. Cara bicaranya santai dan enak didengar, sama persis seperti orang lokal lain, nggak ada nada kaku atau asing sama sekali. Kulitnya sawo matang, rambut hitamnya selalu rapi disisir ke belakang, matanya cokelat gelap yang kalau menatap rasanya tenang sekali. Dan satu hal yang paling bikin aku penasaran: di lehernya, selalu terkalung seutas benang tipis berwarna merah campur kuning, nggak pernah lepas walau dia pakai baju apa pun.
Pintu kafe berbunyi ting, dan masuklah Arjun sambil sedikit menepuk-nepuk bahu jaketnya yang kena gerimis. Dia tersenyum pas melihat aku berdiri di dekat kasir, lalu berjalan santai menuju meja biasa, seolah sedang masuk ke rumah sendiri.
"Sore, Aira," sapa Arjun, suaranya ramah banget, bikin suasana yang tadinya hening jadi agak hidup.
Aku membalas senyum sambil mengambil buku catatan dan pulpen. "Sore juga, Arjun. Seperti biasa ya? Teh tarik, agak manis sedikit?"
Arjun duduk dan meletakkan tasnya di kursi sebelah, lalu menatapku sambil tersenyum kecil.
"Nah, gitu dong, panggil nama saja, lebih enak didengar. Iya, sama seperti biasa. Kamu memang paling ingat kebiasaan aku deh, pantas jadi pelayan andalan di sini."
Aku hanya menggaruk kepala sambil tersenyum canggung.
"Ya... kan setiap hari pesannya sama terus, jadi sudah hafal saja sih."
Aku pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanannya. Pas air panas dituang ke daun teh, uapnya mengepul ke atas, membawa wangi khas yang manis. Di dalam hati, aku masih memikirkan benang merah di leher Arjun. Sudah lama sekali penasaran, tapi rasanya canggung kalau bertanya hal pribadi begitu.
aku meletakkan cangkir teh di meja, Arjun sedang mengelus pelan benang itu dengan jari telunjuknya. Tanpa sadar mulutku terbuka sendiri.
"Itu... benang di leher kamu itu apa sih? Setiap hari dipakai terus, ada arti khusus ya? Kirain cuma hiasan biasa saja," tanyaku pelan, takut terdengar kepo banget.
Arjun mengangkat kepalanya, dia menatap benang itu lalu menatapku lagi, senyumnya makin melebar tapi kali ini ada rasa bangga di matanya.
"Ini? Ini bukan cuma benang biasa lho, Aira. Di keluarga aku, ini namanya Benang Raksha atau benang perlindungan. Warna merah dan kuning ini punya arti penting banget di budaya India. Merah itu simbol keberanian, kehidupan, dan kasih sayang. Kuning itu simbol kebahagiaan dan kemakmuran."
Dia mengangkat cangkirnya, memutar-mutar sedikit sebelum melanjutkan berbicara.
"Kakek aku yang mengikatkan ini pas aku masih umur lima tahun. Pesannya cuma satu, sederhana tapi dalam banget: 'Ke mana pun kamu pergi, seberapa jauh pun kamu melangkah, jangan pernah lupa siapa kamu dan dari mana asalmu.' Jadi ini kayak tanda pengingat saja, supaya aku selalu ingat budaya dan keluarga."
Aku mengangguk-angguk mengerti, sambil mendengarkan dengan saksama. Wah, ternyata di balik benda kecil yang kelihatan biasa saja, ada makna yang sebesar itu ya.
"Wah... keren banget ya. Jadi kayak identitas gitu ya?"
"Persis sekali," jawab Arjun sambil menyeruput tehnya pelan.
"Di India, kami percaya kalau identitas itu mahal banget harganya. Tidak boleh hilang, tidak boleh ditukar dengan apa pun. Sama seperti rasa teh tarik ini lho-harus tetap punya rasa khasnya, tidak boleh berubah meski disajikan di mana saja. Biar siapa pun yang minum tahu, ini rasa aslinya."
Dia menatapku lagi, matanya berbinar sedikit.
"Katanya sih, benang ini juga tanda ikatan. Ikatan yang tidak terlihat tapi kuat banget. Sama seperti pertemuan kita setiap hari di sini. Kelihatannya biasa saja kan? Pelayan sama pelanggan. Tapi di kepercayaan orang India, pertemuan itu bukan kebetulan lho. Segalanya ada alasannya, cuma kadang kita belum tahu alasannya apa."
Jantungku berdebar sedikit, tapi bukan karena jatuh cinta, lebih ke rasa kaget dan takjub saja. Berbicara dengan Arjun memang gitu, hal-hal sederhana saja bisa dibuatnya jadi dalam banget maknanya.
Di luar sana hujan masih turun rintik-rintik, tapi di meja nomor tujuh ini, rasanya suasana jadi enak banget untuk mengobrol. Hari itu aku makin tahu kalau Arjun memang beda dari cowok lain. Dia tenang, sopan, dan bangga banget dengan asal-usulnya.
Dan entah kenapa, rasa penasaranku sama dia makin besar saja. Banyak banget hal dari budayanya yang sepertinya bakal seru banget kalau didengarkan ceritanya satu-satu.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Arjun tetap datang jam empat sore, duduk di meja nomor tujuh, dan memesan teh tarik dengan pesanan yang sama persis. Bedanya sekarang, obrolan kami jadi sedikit lebih panjang dan lebih terbuka. Nggak cuma soal pesanan atau cuaca, tapi mulai masuk ke hal-hal lain yang menurutku menarik banget.
Sore itu, kafe lumayan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di sudut ruangan. Aku sedang membereskan piring kosong di meja sebelah, saat melihat Arjun sedang menulis sesuatu di buku catatan kecil miliknya. Tangannya bergerak luwes, membentuk huruf-huruf yang melengkung indah, sama persis seperti yang pernah kulihat di sampul buku puisi miliknya dulu.
Penasaranku muncul lagi. Aku berjalan mendekat sambil membawa cangkir kosong.
"Kamu lagi nulis apa sih? Hurufnya bentuknya unik banget, kayak lukisan kecil-kecil," tanyaku sambil menaruh cangkir di nampan.
Arjun langsung menutup bukunya sedikit, lalu menatapku sambil tersenyum senang, seolah sudah menunggu pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"Ini huruf Devanagari, Aira. Huruf yang dipakai buat menulis bahasa Hindi. Kamu tahu nggak? Di budaya kami, menulis itu dianggap hal yang suci. Setiap goresan punya aturan, setiap bunyi punya makna. Nggak boleh sembarangan ditulis, apalagi kalau itu nama seseorang," jawabnya antusias.
Dia lalu membuka kembali halaman itu, lalu mengambil pulpennya.
"Kalau boleh tahu... arti nama kamu itu apa? Aira?" tanyanya tiba-tiba.
Aira menggeleng pelan. "Aku nggak tahu pasti sih. Orang tua aku kasih nama itu, ya udah aku pakai aja sampai sekarang. Biasanya orang bilang artinya cuma 'angin' atau 'udara', gitu aja."
Arjun tersenyum menggeleng. "Nggak sesederhana itu pasti. Di India, kami percaya nama itu pengaruhnya besar banget sama sifat dan jalan hidup pemiliknya. Dan kebetulan... nama kamu itu ada artinya juga lho di bahasa kami."
Dia menunjuk kertas kosong di depannya, lalu menatapku meminta izin. "Boleh aku tulis nama kamu pakai huruf ini? Biar kamu lihat, seberapa indah bentuknya."
Aku mengangguk setuju, lalu duduk sebentar di kursi seberangnya karena memang lagi nggak ada kerjaan.
Dengan teliti dan pelan, tangan Arjun bergerak membentuk beberapa lengkungan cantik di atas kertas putih itu. Tak lama, terbentuklah susunan huruf yang cantik sekali, terlihat anggun dan rapi.
"Ini tulisan nama kamu: Aira," ucapnya sambil menunjuk tulisan itu. "Di bahasa kami, nama ini artinya 'yang dihormati', 'wanita yang kuat', atau 'cahaya yang lembut'. Keren kan? Pas banget sama kamu yang tenang tapi kokoh gini."
Wajahku terasa agak panas mendengarnya. "Ah, bisa aja kamu. Cuma nama doang kan?"
Arjun kembali menulis, kali ini namanya sendiri. "Nggak bisa dibilang cuma nama doang. Lihat nama aku, Arjun. Di cerita-cerita kuno India, Arjun itu nama seorang pahlawan. Dia itu orangnya setia, bijaksana, dan selalu berusaha melakukan hal yang benar. Jadi sejak kecil, kakek dan orang tua aku selalu ingatkan: 'Namamu Arjun, jadi harus jadi orang yang bisa diandalkan, jangan penakut, dan jaga selalu kebenaran'. Nah, itu jadi pegangan aku sampai sekarang."
Dia menatapku lekat-lekat, matanya serius tapi tetap lembut.
"Di keluarga kami, ada kebiasaan. Kalau kita sudah tahu arti nama seseorang, berarti kita sudah tahu sedikit doa yang diselipkan orang tuanya. Jadi kita harus lebih menghargai orang itu, karena namanya itu hadiah paling pertama dan paling indah dari orang tuanya."
Aku menatap kedua tulisan itu di atas kertas. Tulisan Aira dan Arjun, bersebelahan, bentuknya indah dan rapi. Ada rasa hangat yang merayap di dada. Selama ini aku cuma menganggap nama itu sekadar panggilan, tapi ternyata di pandangan Arjun, nama itu sesuatu yang berharga banget.
"Jadi... setiap kali kamu panggil nama aku, kamu ingat arti itu ya?" tanyaku pelan, masih menatap tulisan itu.
"Iya dong," jawab Arjun santai sambil menutup bukunya. "Makanya aku lebih suka panggil nama, daripada panggil 'mbak', 'dek', atau apalah. Karena di balik satu nama, ada harapan dan cerita hidup orang itu. Di India, kami bilang: 'Nama adalah jembatan menuju hati seseorang'. Kalau kita menghargai namanya, berarti kita mulai menghargai orangnya."
Aku tersenyum lebar. Hari ini aku belajar hal baru lagi dari dia. Hal kecil yang ternyata maknanya luas banget.
"Kamu ini... kok tahu ya banyak hal unik gitu? Tiap ngomong aja selalu ada aja hal baru yang aku pelajari," kataku sambil berdiri karena ada pelanggan baru masuk.
Arjun terkekeh pelan. "Bukan aku yang pintar, Aira. Cuma aku rajin dengerin cerita kakek aku aja. Dia selalu bilang, budaya itu bukan cuma buat dipakai, tapi buat diceritakan dan dibagi ke orang lain. Siapa tau ada yang suka dan tertarik, kayak kamu sekarang."
Aku berjalan kembali ke meja kasir dengan senyum yang nggak mau hilang. Di meja tujuh itu, Arjun masih duduk tenang sambil menyeruput tehnya, sesekali menatap keluar jendela.
Hari itu aku sadar satu hal lagi: Arjun nggak cuma bawa kebiasaan dari budayanya, tapi juga bawa kelembutan cara pandang yang jarang aku temuin di orang lain. Dan rasa penasaranku padanya, perlahan berubah jadi rasa ingin tahu yang makin besar.
Apa lagi ya cerita indah yang bakal dia bagikan besok?
Sore itu udara di luar agak mendung, tapi di dalam kafe suasananya tetap hangat dan tenang. Seperti biasa, Arjun sudah duduk di meja tujuh dengan segelas teh tarik kesukaannya yang sudah tinggal separuh. Aku sedang membereskan nampan di dekat kasir, tapi hidungku menangkap sesuatu yang berbeda hari ini.
Ada wangi yang samar-samar, tapi terasa lembut dan menenangkan. Bukan wangi kopi, bukan juga wangi kue atau parfum biasa. Wanginya khas, campuran antara rempah, kayu manis, dan sedikit bunga-bungaan. Wangi yang pernah aku cium dulu saat lewat di depan rumah-rumah warga keturunan India.
Aku penasaran, jadi berjalan menghampiri mejanya.
"Arjun... kamu pakai parfum apa sih hari ini? Wanginya enak banget, beda dari biasanya," tanyaku sambil menaruh buku catatan di meja, sekadar untuk basa-basi.
Arjun langsung tersenyum lebar. Dia mengangkat lengan bajunya sedikit, lalu mencium ujung baju itu seolah sedang memastikan baunya masih ada.
"Ini bukan parfum, Aira. Ini minyak wangi peninggalan kakek aku. Namanya Attar. Di India, ini sudah dipakai sejak zaman dulu banget, jauh sebelum ada parfum botolan kayak sekarang," jawabnya dengan nada bangga.
Dia menatapku yang masih terlihat bingung, lalu melanjutkan ceritanya dengan semangat.
"Bedanya sama parfum biasa, kalau ini bahannya dari bunga-bunga asli, akar tanaman, dan rempah-rempah. Dibuatnya juga lama banget, harus direbus dan didiamkan berhari-hari biar wanginya meresap dan awet. Kakek aku bilang, wangi ini itu jujur. Dia tidak menyengat, tapi melekat lama di baju, di rambut, sampai di ingatan orang yang menciumnya."
Aku mengangguk pelan, mencoba membayangkan proses pembuatannya yang terdengar rumit itu.
"Jadi... setiap kali kamu pakai ini, kamu ingat kakek kamu ya?" tanyaku pelan.
"Banget," jawab Arjun cepat. Matanya jadi agak menerawang, seolah sedang melihat kenangan masa kecilnya. "Dulu pas aku masih kecil, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kakek selalu mengoleskan sedikit saja minyak ini di belakang telinga atau di leher aku. Katanya, 'Arjun, wangi ini bukan cuma biar wangi. Ini biar ke mana pun kamu pergi, orang tahu ada jejak budaya kita di situ. Biar kamu selalu ingat, siapa yang mendampingi kamu, meski dia nggak ada di sampingmu'."
Dia diam sebentar, lalu tersenyum lagi ke arahku.
"Di kepercayaan kami, wangi itu punya hubungan erat sama doa. Kayak waktu kami bakar dupa di rumah atau di kuil. Asapnya naik ke atas, bawa wangi dan harapan kita ke Tuhan. Semakin wangi dan tenang baunya, semakin tulus doa yang dibawanya. Sama kayak perasaan, kan? Nggak perlu teriak-teriak atau mencolok mata, yang penting tulus dan melekat lama di hati."
Jantungku berdenyut pelan. Arjun emang selalu gitu ya. Ngomongin hal kecil kayak bau-bauan aja, ujung-ujungnya dia bisa nyambungin sama hal-hal yang dalem banget maknanya.
"Kamu tuh... kok segala hal aja punya arti ya? Sampai wangi pun ada ceritanya," kataku sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba jadi agak haru.
Arjun ikut tertawa. "Memang begitu adanya, Aira. Di India, kami diajarin buat nggak pernah memandang sesuatu itu remeh. Semua yang ada di dunia ini diciptakan ada gunanya, ada pesannya. Kalau kita teliti dan sabar, kita bakal nemu arti indah di balik semuanya. Termasuk pertemuan kita ini lho."
Dia melirikku sekilas, lalu memutar cangkir tehnya pelan-pelan.
"Kakek aku juga pernah bilang, kalau kamu nemu seseorang yang bikin kamu nyaman, bahkan cuma dengan berdiri di sebelahnya atau ngobrol hal sepele, itu tandanya jiwa kalian sejalan. Kayak wangi ini sama baju aku. Pas banget, nyatu, dan bikin tenang."
Wajahku rasanya agak panas mendengar itu. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca yang mulai ada titik-titik air lagi. Hujan kayaknya bakal turun lagi deh.
"Jadi... aku bisa dibilang kayak wangi itu ya? Yang bikin nyaman gitu?" tanyaku setengah bercanda, setengah penasaran.
Arjun mengangguk dengan serius. "Bisa dibilang begitu. Kamu itu tenang, Aira. Ngobrol sama kamu rasanya adem banget, kayak hirup udara segar habis hujan. Nggak bikin pusing, nggak bikin capek. Di budaya kami, ketenangan itu hal mahal lho. Susah banget dicari."
Dia lalu mencondongkan badan sedikit ke arahku, suaranya makin pelan tapi jelas banget kedengarannya.
"Jadi makanya aku suka banget duduk di sini. Bukan cuma karena teh tariknya enak, tapi karena ada kamu. Ada suasana tenang yang selalu aku cari, dan aku nemu itu pas di sini."
Aku diam, nggak tau harus jawab apa. Rasanya senang banget, tapi juga malu. Obrolan kami makin lama makin dalam, makin lama makin saling buka cerita. Tapi entah kenapa, rasanya aman banget. Nggak ada rasa terbebani atau terburu-buru. Persis kayak kata-kata Arjun tadi: tenang dan nyaman.
Di luar sana, hujan pun mulai turun lagi, sama seperti sore kemarin. Tapi kali ini, aroma rempah lembut dari Arjun bercampur sama wangi tanah basah, menciptakan suasana yang rasanya ingin sekali aku simpan lama di ingatan.
Hari ini aku belajar lagi satu hal: bahwa keindahan itu bisa dirasakan lewat apa saja, bahkan lewat sekadar wangi dan cerita sederhana. Dan aku makin sadar, kalau ada banyak sekali hal indah dari budaya Arjun yang perlahan dia kenalin ke aku, satu per satu, dengan sabar dan lembut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!