Hujan turun deras malam itu, membasahi aspal jalanan kota yang basah dan mengilap memantulkan cahaya lampu jalan. Ryden Vale, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, baru saja keluar dari toko buku langganannya, memeluk erat novel bergenre petualangan yang baru saja dibelinya. Ia tersenyum kecil, membayangkan malam yang akan dihabiskannya membaca di kamar sambil ditemani secangkir teh hangat.
Namun takdir punya rencana lain.
Sebuah truk kontainer yang kehilangan kendali karena rem blong meluncur deras dari tikungan, tepat ke arah penyeberangan tempat Ryden berdiri. Semuanya terjadi dalam hitungan detik—suara klakson yang memekakkan telinga, jeritan orang-orang di sekitar, dan kilatan lampu yang menyilaukan matanya.
Lalu semuanya gelap.
Ryden tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah sensasi melayang, seolah tubuhnya kehilangan berat sepenuhnya. Kesadarannya perlahan menghilang, dan pikiran terakhirnya sebelum kegelapan total adalah penyesalan—ia belum sempat mewujudkan mimpinya untuk berkeliling dunia, belum sempat merasakan petualangan sesungguhnya yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat halaman-halaman buku dan layar televisi.
Andai saja aku bisa hidup di dunia seperti One Piece...
Suara ombak yang memecah karang menjadi hal
pertama yang menyapa kesadaran Ryden. Ia membuka matanya perlahan, disambut oleh birunya langit yang begitu cerah, jauh berbeda dari langit mendung kota tempatnya tinggal.
Ia bangkit dengan sempoyongan, merasakan pasir putih halus di bawah telapak tangannya. Ketika ia menoleh ke arah air yang tenang di dekatnya, sebuah pantulan wajah asing menatap balik kepadanya—rambut putih sepucat salju, mata merah semerah darah segar, kulit pucat namun tampan, mengenakan jubah putih panjang bersulam lambang bulan sabit terbalik di bagian dada.
"Ini... bukan wajahku," gumam Ryden, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Ingatan mengalir masuk seperti banjir—bukan hanya ingatannya sendiri sebagai remaja yang tertabrak mobil, tetapi juga serpihan ingatan pemilik tubuh ini: seorang anak yatim piatu dari sebuah desa kecil di East Blue yang tenggelam saat badai melanda kapal nelayan tempatnya bekerja. Kedua ingatan itu bertaut, menyatu, membentuk satu kesadaran baru: Ryden Vale, kini hidup di dunia One Piece.
"Dunia One Piece..." bisiknya, campuran antara tidak percaya dan gairah yang membuncah. Ia mengingat setiap detail cerita yang pernah ia baca—Grand Line, Yonko, Shichibukai, harta karun legendaris bernama One Piece, dan seorang bocah bertopi jerami yang akan mengguncang dunia.
Belum sempat ia mencerna sepenuhnya situasi ini, matanya menangkap sesuatu yang aneh di dekat sebuah pohon tumbang tidak jauh darinya—sebuah buah berwarna ungu gelap dengan pola retakan seperti kaca pecah menghiasi permukaannya, memancarkan aura ganjil yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Buah iblis?
Tanpa ragu, Ryden mendekat. Sebagai seseorang yang mengenal dunia ini dari cerita, ia tahu betul betapa berharganya kesempatan semacam ini. Ia mengambil buah aneh itu, memeriksanya sejenak—bentuknya tidak pernah ia kenali dari kanon cerita manapun yang ia ingat.
"Buah yang belum pernah kulihat... berarti dunia ini sudah berbeda dari yang kuketahui," pikirnya. Sebuah kesadaran mulai tumbuh dalam dirinya: kehadirannya sendiri di dunia ini mungkin sudah cukup untuk mengubah alur takdir yang ia kenal.
Dengan tekad bulat, ia menggigit buah itu. Rasanya mengerikan, seperti mengunyah karet yang dicampur air laut. Namun sesaat setelah ia menelannya, tubuhnya bergetar hebat, dan sebuah suara datar—bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam benaknya sendiri—tiba-tiba bergema.
[SISTEM LOGIN HARIAN TELAH DIAKTIFKAN]
[Selamat datang, Pengguna: Ryden Vale]
[Buah Iblis Terdeteksi: Rift Rift no Mi — Tipe Logia/Khusus]
[Kemampuan Awal Telah Terbuka]
Retakan ruang : menciptakan retakan untuk menyerang lawan
Teleportasi : berpindah ketempat yang diinginkan
Ryden terpaku. Sebuah sistem, persis seperti dalam novel-novel yang pernah ia baca di kehidupan sebelumnya. Sebuah layar transparan kebiruan muncul di hadapan matanya, menampilkan status dan menu yang bisa ia sentuh.
Ryden menatap layar itu dengan campuran kagum dan waspada. Ini bukan permainan—jika ia mati di sini, tidak akan ada tombol restart. Namun ia juga menyadari, dengan kekuatan seperti ini, bersama pengetahuannya tentang dunia yang akan datang, ia memiliki peluang untuk benar-benar hidup—bukan sekadar bertahan, tetapi menjelajah, bertarung, dan menulis kisahnya sendiri di lautan yang luas ini.
Ia mencoba kekuatannya untuk pertama kali, mengulurkan tangan ke udara kosong. Sebuah retakan tipis, seperti kaca yang pecah, muncul melayang di hadapannya. Dari celah retakan itu, ia bisa mengintip pemandangan lain—sebuah bagian hutan di pulau yang sama, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
"Luar biasa,"gumamnya, seulas senyum tipis terukir di wajahnya. Rasa sakit fisik yang menguras staminanya menyusul tak lama kemudian, membuat lututnya lemas. Ia jatuh terduduk di pasir, terengah-engah.
Jadi ini kelemahannya. Aku harus berlatih dengan hati-hati.
Ryden menatap horizon laut yang membentang tanpa batas, hatinya dipenuhi tekad. Di dunia sebelumnya, ia hanya seorang remaja biasa. Namun di sini, di dunia bajak laut dan petualangan tanpa akhir ini, ia akan menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
"Baiklah," bisiknya pada angin laut,
"petualanganku dimulai dari sini."
Waktu berjalan cepat setelah kebangkitan Ryden di pulau tak dikenal itu—yang belakangan ia ketahui bernama Pulau Kessho, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di perbatasan East Blue. Selama enam tahun berikutnya, Ryden menempa dirinya sendiri tanpa henti.
Ia berlatih mengendalikan Rift Rift no Mi dengan disiplin keras, membangun ketahanan tubuh, serta stamina yang dibutuhkan agar tidak ambruk setiap kali menggunakan kekuatan retakannya. Sistem Login Harian menjadi sekutu setianya—setiap hari memberinya hadiah kecil yang perlahan menumpuk menjadi kekuatan besar: gulungan teknik pedang usang, batu asah legendaris, ramuan penguat tubuh, bahkan sesekali sepotong catatan berisi teori dasar Haki yang membuatnya melonjak kegirangan.
Ryden tahu, dengan pengetahuannya tentang dunia ini, Haki adalah kunci untuk bertahan hidup di Grand Line. Dan ternyata, meski dunia ini tampak familier, banyak detail kecil yang mulai menyimpang dari apa yang ia ingat—nama-nama pulau yang sedikit berbeda, urutan kejadian yang bergeser, bahkan keberadaan buah iblisnya sendiri yang tidak pernah ia kenal dari kisah aslinya.
Kehadiranku sendiri sudah cukup mengubah banyak hal, pikirnya suatu malam sambil menatap bintang-bintang dari geladak kapal kecil yang ia curi dari sekelompok bajak laut kelas teri yang mencoba merampoknya—dan berakhir babak belur oleh remaja berjubah putih misterius.
Reputasinya perlahan tersebar di East Blue. Orang-orang mulai menyebutnya "Sang Peretak"—seorang petualang misterius yang bisa muncul dan menghilang begitu saja, meninggalkan retakan aneh di udara sebagai jejak satu-satunya. Sebagian menganggapnya buronan berbahaya, sebagian lagi mengaguminya sebagai pahlawan yang menumpas bajak laut jahat di berbagai pelabuhan kecil.
Ryden sendiri tidak terlalu peduli dengan reputasi. Ia lebih tertarik pada pertarungan itu sendiri—rasa berdebar saat menghadapi lawan yang lebih kuat, sensasi ketika kekuatannya berkembang setingkat demi setingkat. Ketertarikannya pada pertarungan tumbuh menjadi semacam gairah yang tak bisa ia jelaskan, seolah jiwa lamanya yang gemar membaca kisah petualangan kini menemukan wadah sesungguhnya untuk hidup di dalamnya.
Ia juga mulai mengumpulkan informasi tentang tokoh-tokoh besar yang ia kenal dari kehidupan sebelumnya. Beberapa nama masih sama—Roronoa Zoro yang mulai dikenal sebagai pemburu bajak laut di Shimotsuki, seorang gadis pencuri bernama Nami yang malang melintang di kalangan bajak laut kecil, dan tentu saja, desas-desus tentang seorang kakek tua bernama Garp yang kejam melatih cucunya sendiri di sebuah desa bernama Foosha.
"Foosha Village... itu artinya Luffy sedang tumbuh di sana sekarang," pikir Ryden, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia sengaja tidak mendekat, membiarkan sejarah berjalan sebagaimana mestinya—setidaknya untuk saat ini. Ia tahu betul, sebagai seseorang dengan kekuatan yang cukup besar di usia semuda ini, campur tangan yang terlalu dini bisa mengubah nasib banyak orang secara tak terduga.
Enam tahun berlalu bagai kilat. Ryden, kini berusia dua puluh tiga tahun—tubuh barunya telah tumbuh dewasa sepenuhnya—telah menjelajahi hampir seluruh penjuru East Blue. Kekuatannya berkembang pesat: retakan ruangnya kini mampu memotong logam tebal, jangkauan teleportasinya meningkat hingga puluhan meter, dan yang paling penting, ia mulai merasakan gejolak familiar dalam dirinya—benih dari Haki yang mulai bangkit.
Suatu pagi di pelabuhan kecil bernama Shells Town, Ryden mendengar kabar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Seorang bocah bertopi jerami baru saja meninggalkan Foosha Village dengan sebuah perahu kecil, menantang badai dan lautan luas seorang diri, membawa mimpi menjadi Raja Bajak Laut.
Ryden berdiri di ujung dermaga, menatap horizon dengan mata merah menyalanya berkilau ditimpa cahaya matahari pagi. Sebuah retakan tipis muncul di telapak tangannya, tanda kekuatannya yang tak pernah padam.
"Jadi dimulai juga," gumamnya pelan, seulas senyum lebar mengembang di wajahnya—senyum seorang petualang yang telah lama menunggu momen ini.
"Selamat datang di lautan, Monkey D. Luffy. Mari kita lihat, seberapa jauh kisah ini akan berbeda kali ini."
Angin laut berhembus kencang, membawa serta jubah putihnya berkibar liar. Di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul di cakrawala—pertanda sebuah era baru akan segera dimulai, sebuah era di mana dua garis takdir, milik Ryden Vale dan Monkey D. Luffy, akan saling bersinggungan berulang kali di lautan luas yang penuh misteri ini.
Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Shells Town pagi itu tampak seperti pelabuhan biasa—nelayan menjual hasil tangkapan, anak-anak berlarian di sepanjang dermaga, dan bendera Angkatan Laut berkibar gagah di atas markas kecil yang menjulang di tengah kota. Namun Ryden tahu betul, di balik ketenangan itu, sesuatu yang lebih besar sedang bersiap terjadi.
Ia duduk di sebuah kedai kecil di sudut pelabuhan, menyesap teh hangat sambil mengamati keramaian. Rambut putihnya yang mencolok dan mata merahnya yang tajam membuat beberapa orang melirik curiga, namun tak seorang pun berani mendekat—reputasinya sebagai "Sang Peretak" sudah cukup dikenal di wilayah ini untuk membuat orang menjaga jarak dengan hormat, atau ketakutan.
"Shells Town... ini tempat di mana Zoro seharusnya bertemu Luffy," pikir Ryden, mengingat serpihan cerita yang masih tersimpan di benaknya. Kapten Morgan yang tiran, putranya Helmeppo yang menyebalkan, dan seorang pemburu bajak laut yang diikat di tiang halaman markas...
Namun ia sengaja tidak turun tangan lebih dulu. Ia ingin melihat, dengan matanya sendiri, apakah alur ini masih berjalan seperti yang ia ingat, atau sudah bergeser seperti banyak hal lain yang ia temui selama enam tahun terakhir.
Ketika matahari mulai meninggi, keributan pecah di depan markas Angkatan Laut. Ryden bangkit dari kursinya, melangkah santai ke arah kerumunan yang mulai berkumpul. Di halaman markas, seorang pemuda berambut hijau lumut, tubuh kekar penuh luka, terikat di sebuah tiang kayu, wajahnya penuh darah kering namun matanya tetap menyala tajam, tak menunjukkan tanda menyerah sedikit pun.
"Roronoa Zoro," gumam Ryden pelan, seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Jadi memang benar dia di sini.
Tak lama kemudian, seorang bocah bertopi jerami dengan tubuh kurus namun penuh energi meloncat masuk ke halaman markas, menantang penjaga dengan gaya konyol yang justru terasa penuh keberanian. Ryden mengenali sosok itu seketika—Monkey D. Luffy, persis seperti yang ia bayangkan, meski wajahnya jauh lebih hidup dan nyata dibanding ingatan samar dari kehidupan sebelumnya.
Ryden memilih untuk tidak mendekat. Ia bersandar di dinding sebuah bangunan tak jauh dari sana, menyaksikan dari kejauhan bagaimana Luffy dengan gaya khasnya yang blak-blakan menawarkan kebebasan kepada Zoro, bagaimana pertarungan kecil pecah melawan Kapten Morgan dan anak buahnya, dan bagaimana pada akhirnya keduanya—Luffy dan Zoro—berdiri berdampingan sebagai sekutu, menghadapi seluruh markas Angkatan Laut yang murka.
"Interessan," gumam Ryden dalam bahasa asing yang tak lagi ia pahami maknanya sendiri—sisa kebiasaan dari kehidupan lampau yang kadang muncul tanpa sadar. Ia menyaksikan Luffy meregangkan tubuh karetnya, meninju wajah Kapten Morgan dengan pukulan telak yang mengakhiri tirani kecil di kota ini.
Ketika keributan mereda dan warga kota mulai bersorak gembira, Ryden akhirnya melangkah keluar dari bayangan, mendekati dua sosok yang baru saja menjadi kru bajak laut itu.
"Pertunjukan yang cukup menarik," ucap Ryden, suaranya tenang namun penuh wibawa, membuat Luffy dan Zoro sontak menoleh waspada.
"Siapa kau?" tanya Zoro, tangannya refleks meraih gagang pedang meski tubuhnya masih penuh luka.
Luffy justru menatap Ryden dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, seolah tak merasakan ancaman sedikit pun. "Rambutmu putih! Dan matamu merah! Keren sekali! Kau siapa?"
Ryden tersenyum tipis, mengulurkan tangannya. "Namaku Ryden Vale. Hanya seorang petualang yang kebetulan lewat."
"Petualang?" mata Luffy semakin berbinar. "Kau juga mencari harta karun? Gabung sama kami saja! Aku Luffy, calon Raja Bajak Laut!"
Tawaran itu datang begitu cepat dan spontan, membuat Ryden nyaris tergelak. Ia menggeleng pelan. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku punya jalanku sendiri untuk ditempuh. Meski begitu..." ia menatap keduanya bergantian, "aku rasa jalan kita akan sering bersinggungan di masa depan. Semoga beruntung dalam perjalananmu, Luffy. Dan kau juga, Roronoa Zoro—jaga dirimu baik-baik."
Sebelum keduanya sempat bertanya lebih jauh, Ryden mengangkat tangannya. Sebuah retakan tipis muncul di udara, dan dalam sekejap, sosoknya menghilang, meninggalkan Luffy dan Zoro yang
terbengong-bengong menatap tempat kosong itu.
"...Orang aneh," gumam Zoro akhirnya, meski ada nada kagum yang tak bisa ia sembunyikan.
"Tapi keren!" seru Luffy sambil tertawa lebar. "Suatu hari nanti, aku akan mengalahkannya dalam pertarungan!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!