Indonesia
NovelToon NovelToon

SANGHYANG RASA

BAB 1 : API DI CIKABUYUTAN

Obor melayang di udara, berputar sebelum menimpa atap ijuk di rumah paling ujung.

Seketika api menyala dan melahap ijuk kering, desisan terdengar disusul runtuhnya tiang bambu yang menyangga atap gubuk. Asap hitam mulai membumbung tinggi menghalangi sinar matahari sore .

“Rumahku!... Anakku ada di dalam!” jerit Nyi Darsih sambil berlari menerjang asap.

“Tahan...! Terlalu berbahaya!” teriak Mang Darma, sambil menariknya dengan keras hingga keduanya jatuh terduduk di tanah.

Sebuah obor kembali dilemparkan ke dalam lumbung padi milik kampung. Gabah perlahan terbakar menyebarkan bau yang menyengat.

Rombongan Prajurit Kadipaten Ciaruteun yang di pimpin Jaka Wiradipa tidak pernah berhenti melemparkan obor ke setiap gubuk yang dilewati. menjalar dengan cepat dari satu atap ke atap lainnya seperti aliran air yang tak terbendung.

Bayu Suta baru saja menjatuhkan keranjang umbi di bawah pohon tempat ia beristirahat. Matanya terbelalak melihat deretan rumah mulai terbakar. Di sampingnya, Karta anak kecil usia 13 tahun gemetar hebat, tangannya mencengkeram erat ujung baju Bayu.

“Kang! Tempo, Saung aya nu ngaduruk!” tunjuk Karta dengan suara bergetar.

Benar saja, gubuk tempat tinggal mereka sudah menyala di penuhi jilatan api yang bergerak liar .

Bayu berlari dengan cepat melompati selokan dan reruntuhan kayu yang mulai berjatuhan.

DI depan gubuk, ia melihat obor lain melayang tepat ke arah tumpukan jerami.

Bayu melompat dan menendang obor hingga terlempar ke sungai kecil di samping rumah. Napasnya terengah, keringat dingin mulai menetes di pelipis.

“Hebat juga... kau bocah..!”

Bayu menoleh perlahan. Jaka Wiradipa berdiri tiga langkah di belakangnya, diikuti dua prajurit dengan golok terhunus. Wajah kasar dengan luka melintang membelah mata terlihat menyipit menatap Bayu seperti melihat serangga yang berani menghalangi jalan harimau.

“Kami tidak pernah menunggak pajak, selalu kami serahkan tepat waktu!” seru Bayu, menegakkan tubuh meski kakinya masih gemetar. “Bulan lalu kami sudah mengirimkan separuh hasil panen jagung seperti perintah sebelumnya!”

Jaka Wiradipa tertawa keras, menendang gumpalan tanah kering ke arah wajah Bayu.

“Perintah baru dari Bupati Rangga Sasmita. Upeti dinaikkan dua kali lipat, harus dikumpulkan hari ini juga sebelum matahari terbenam.”

“Musim panen masih lama! Kami sudah tidak punya apa apa untuk bisa membayar upeti!” suara Mbah Suryanata terdengar dari kejauhan.

Kepala kampung itu berlari mendekat, Ia berlutut di depan Jaka Wiradipa, telapak tangannya menempel ke tanah yang mulai terasa hangat oleh panasnya api.

“Tolong beri kami waktu satu bulan lagi. Setelah padi siap panen, kami akan antarkan semuanya ke Kadipaten, saya berjanji sebagai tetua kampung!”

“Janji petani tidak berharga sepeser pun di mata Bupati!” Jaka Wiradipa menendang bahu Embah Suryanata hingga terguling ke samping dan menabrak tumpukan batu.

“Kalau tak bisa membayar dengan gabah, bayarlah dengan rumah kalian, dengan ternak kalian, atau dengan nyawa kalian!”

“Kau tidak adil!” bentak seorang pemuda dari kerumunan maju selangkah dengan tangan mengepal.

“Kami sudah bertahun-tahun patuh dan menyerahkan semua yang kami punya, tapi kalian semakin menindas tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun!”

Prajurit di samping Jaka Wiradipa melangkah maju menyodok perut pemuda itu dengan gagang tombak. Ia meringis tubuhnya membungkuk menahan sakit lalu jatuh terjerambab ke tanah.

“Adil?” Jaka Wiradipa berjongkok di depan pemuda itu sambil tersenyum sinis.

“Kalian hidup di tanah Kadipaten Ciaruteun. Tanah ini, air sungai ini, udara yang kalian hirup—semuanya milik Bupati. Kalian hanya berhak hidup kalau kami izinkan. Ingat itu baik-baik sebelum mulutmu berbicara lebih jauh!”

Ia berdiri menunjuk ke arah rumah yang masih terbakar.

“Kau lihat itu?....Itu baru permulaan. Kalau sampai matahari terbenam belum ada setengah dari yang yang di tetapkan, kami akan membakar seluruh kampung sampai tak tersisa!”

“Kalian sungguh kejam!” isak seorang nenek tua sambil bersimpuh.

“Kami sudah tidak punya tempat untuk di tuju, tidak ada kerabat di kampung lain!”

“Bukan urusan kami!” Jaka Wiradipa melambaikan tangan kasar.

“Lanjut bakar! Jangan sisakan satu rumah pun buat mereka yang menentang perintah Kadipaten!”

Prajurit mulai melemparkan Obor ke arah kandang kandang ternak. Kerbau dan sapi bergerak liar tanpa arah menerobos pagar pagar bambu berlari ke pinggiran hutan.

Jeritan warga bercampur dengan suara kayu yang mulai terbakar mengikuti setiap derap langkah prajurit kadipaten yang terus melemparkan obor obor ke setiap gubuk.

Bayu melihat ke sekeliling. Semua rumah di sisi timur sudah rata dengan tanah, meninggalkan tumpukan arang yang masih menyala. Warga berlarian tak tentu arah: berusaha menyelamatkan harta benda yang tersisa, sambil memeluk anaknya yang menangis, ada juga yang duduk terdiam melihat harta benda warisan leluhur habis dilalap api dalam sekejap mata.

Ia melirik ke arah Mbah Suryanata sedang berusaha menenangkan warga yang panik, lalu ke arah Jaka Wiradipa yang kini menaiki punggung kuda sambil menatap kehancuran kampung cikabuyutan dengan wajah puas tanpa rasa bersalah.

“Kang..… kita harus pergi sekarang,” bisik Karta sambil menarik lengan baju Bayu perlahan.

“Mereka akan menyakiti kita kalau masih tetap di sini.”

Belum sempat Bayu menjawab, prajurit yang melihatnya menendang obor melangkah mendekat dengan wajah marah.

“Hei bocah sialan! Kau kira bisa menghalangi perintah Kadipaten?”

Tanpa peringatan, prajurit itu mengayunkan golok dengan cepat ke arah bahu kanan Bayu.

"Sret.."

Bayu meringis kesakitan, darah segar merembes keluar dari bekas sayatan membasahi baju lusuhnya.

Bahunya terasa berat, setiap gerakan memicu rasa nyeri yang menjalar sampai ke leher dan dada.

“Lari, Bayu! Lari sekarang, jangan pedulikan kami!” teriak Mbah Suryanata dari kejauhan, suaranya terdengar cemas dan putus asa.

Bayu menggigit bibir sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit. Ia tahu kalau ia tetap di sini, ia tak akan bisa menyelamatkan dirinya maupun Karta. Ia tidak menoleh lagi ke arah prajurit.

Dengan tenaga yang tersisa, ia raih tangan Karta dan mencengkeramnya dengan erat.

“Pegang tanganku. Jangan di lepaskan, apa pun yang terjadi,” perintah Bayu dengan suara bergetar sambil menahan nyeri dan amarah yang mulai membakar dadanya.

Mereka berlari menuju jalan setapak di sisi utara kampung yang menuju hutan Wana Kelor, hutan lebat yang jarang dilewati manusia, penuh semak berduri, dan belum pernah dijelajahi ke bagian yang paling dalam.

Di belakang mereka masih terdengar samar gemertak suara api yang melahap sisa sisa kayu yang masih utuh belum terbakar.

Karta terus berlari, sesekali menoleh ke belakang sambil menahan tangis.

“Mereka benar-benar membakar semuanya… Kenapa mereka sejahat itu, Kang? Apa salah kami sampai harus menghancurkan kampung Cikabuyutan?”

Bayu tidak menjawab dan terus melangkah sambil menatap jalan setapak di depannya.

Kakinya mulai terasa lemas dan bahunya semakin terasa perih setiap kali ia mengayunkan tangan menyibaka daun dan ilalang yang menghalangi langkahnya.

Darah terus menetes meninggalkan jejak samar di tanah yang mereka lalui.

“Kesalahan saat ini adalah kita lemah,” jawabnya pelan dengan suara yang terdengar berat dan serak.

“Dan orang jahat selalu menindas mereka yang tak berdaya.”

“Lalu siapa yang akan melindungi nanti? Siapa yang akan menghentikan mereka jika menindas dan membakar desa desa lain?” tanya Karta lagi sambil berkaca-kaca menatap Bayu.

Bayu berhenti dan menoleh kebelakang dengan perlahan. Dari kejauhan Kampung Cikabuyutan sudah tak terlihat, hanya gumpalan asap hitam pekat yang membumbung tinggi, menyembunyikan sinar matahari. Warna langit berubah hitam mewakili kesedihan dan kemarahan yang menggelayut di dadanya.

“Entahlah, Karta,” ucapnya pelan sambil menarik tangan adiknya masuk ke dalam bayang-bayang pohon besar yang gelap.

“Tapi selama kita masih bernapas, kita tidak boleh menyerah. Rumah bisa dibangun kembali, tanah bisa ditanami, tapi nyawa tidak bisa dibeli kalau kita sudah mati.”

Mereka melangkah masuk lebih dalam ke hutan Wana Kelor. Suasana berubah menjadi sejuk dan hening tak terdengar lagi suara jeritan hanya gesekan dedauan yang tertiup angin dan gemeretak suara ranting yang terinjak.

Namun api di kampung Cikabuyutan belum sepenuhnya padam. Percikan api kejahatan hari ini telah menyalakan sesuatu jauh di dalam dada, sesuatu yang lebih panas, lebih kuat, dan tak akan padam walaupun terkena hujan dan badai.

Di kejauhan, Jaka Wiradipa menatap arah hutan sambil membetulkan letak ikat kepalanya dan tertawa pelan.

“Biarkan mereka. Hewan liar pasti akan memakan mereka dengan perlahan. Kadipaten tidak perlu khawatir lagi dengan kampung tak berguna ini.”

Ia membalikkan arah kudanya dan memberi isyarat pada pasukan untuk pulang.

“Kembali ke Kadipaten. Laporkan pada Bupati Rangga Sasmita bahwa tugas sudah selesai tanpa hambatan.”

Prajurit kadpaten berbalik arah serempak, meninggalkan sisa api dan puing-puing yang dulunya bernama Kampung Cikabuyutan.

Tanah subur dan damai itu kini berubah menjadi gersang oleh lahapan api, semua ketenangan yang dijaga warga selama puluhan tahun telah hilang ditelan keserakahan.

Sementara itu di dalam hutan terlihat Bayu melangkah bersama Karta, Ia tahu perjalanan mereka baru saja dimulai, tak ada jalan untuk kembali.

Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, untuk warga kampung, dan untuk keadilan yang telah di rampas.

Karta mempererat genggamannya. Diam.

Tapi dalam diam ia tahu selama kakaknya ada, ia tidak sendirian.

Di tengah rasa sakit dan kesedihan yang mendalam, benih keberanian dan janji perlahan mulai tumbuh di hati mereka berdua.

Api kampung Cikabuyutan mungkin akan padam tersiram air hujan. Tapi api kebenaran dan keberanian yang baru saja dinyalakan, tak akan pernah padam.

 

BAB 2 : PINTU DI BALIK LUMUT

Langkah mereka terasa berat menembus Hutan Wana Kelor.

Udara dingin menusuk sampai ke tulang. Bau tanah basah bercampur dengan sisa daun yang mulai membusuk dan lumut yang menempel di batang pohon tua.

Bahu kanan Bayu semakin berdenyut. Nyeri menjalar sampai ke tulang belikat dan punggung. Seolah ada urat yang tertarik dari dalam. Ia terus memaksakan diri untuk melangkah. Tangan kanannya menekan luka agar darah cepat berhenti. Sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Karta. Ia takut terpisah di tengah rimbunnya pepohonan yang begitu rapat hingga menutupi cahaya matahari.

“Kang.., kita sudah berjalan jauh masuk ke dalam. Apa kita sudah aman dari kejaran mereka?” tanya Karta.

Suaranya lirih. Matanya terus melirik segala arah. Waspada terhadap setiap suara dan gerakan yang datang dari balik semak atau celah pohon.

Bayu berhenti sebentar. Napasnya terpatah patah karena menahan sakit. Ia menoleh ke belakang. Gelap. Tidak ada nyala obor dan langkah prajurit Kadipaten.

“Sudah cukup jauh dari jalan utama,” jawabnya.

 “Prajurit Kadipaten jarang ada yang berani masuk ke bagian dalam. Orang-orang tua bilang tempat ini angker. Banyak binatang buas. Dan jalannya mudah tersesat.”

Bayu menarik napas. Dadanya terasa sesak.

“Kita istirahat sebentar sambil memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.”

Karta mengangguk. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak mengeluh. Sejak kecil ia sangat terbiasa hidup di pinggir hutan. Ia tahu cara membaca bahaya.

Mereka kembali mendaki. Lereng di depan makin curam dan licin. Akar pohon menjulur seperti tali yang siap menjerat. Beberapa kali Karta hampir terpeleset. Bayu menariknya agar tidak terperosok.

Setelah cukup lama berjalan, di antara rimbunnya pepohonan terlihat celah yang cukup besar. Batu itu menjorok ke dalam, membentuk rongga alami yang bisa melindungi dari hujan dan angin kencang.

Itulah mulut gua di Bukit Cijambe. Tempat yang jarang diketahui. Jalannya sangat sulit untuk dilalui.

Gelap menyelimuti hampir seluruh isi gua. Udara di dalam jauh lebih lembab dan dingin, menusuk kulit yang sudah basah oleh keringat dan embun.

Bau yang tercium begitu khas dan menyengat. Campuran lumut tebal yang tumbuh menempel di dinding gua. Tanah basah selama bertahun-tahun. Serta bau tajam kotoran kelelawar yang menumpuk di sudut-sudut gua.

Suara air menetes dari langit-langit gua. Tik. Tik. Tik. Berirama menambah kesan sunyi dan terasing.

Karta menggigil. “Tiris, Kang.”

Bayu tidak menjawab. Ia mencari tempat untuk duduk.

Karta segera bergerak. Meski lelah dan napasnya masih terengah, gerakannya lincah. Sebagai anak yang sering berkeliaran di pinggir hutan sejak kecil, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Ia berjalan mengitari bagian depan gua. Mengumpulkan ranting-ranting kecil yang masih kering. Daun-daun gugur yang sudah layu dan serabut kulit pohon yang mudah terbakar.

Dari saku kecil di pinggangnya ia mengeluarkan sepotong batu api dan sebatang besi pipih. Bekal yang selalu ia bawa saat berjalan jauh.

Dengan gerakan terlatih ia menggesekkan keduanya.

Trak,...trak.....trak

Percikan api meloncat. Jatuh tepat di atas tumpukan serabut kering. Asap tipis mengepul menandakan api mulai menyala. Perlahan membesar, memancarkan cahaya kuning keemasan yang menerangi sekeliling gua. Udara pun mulai terasa hangat.

“Duduklah di sini, Kang. Dekat api biar tubuhmu tidak menggigil,” kata Karta. Ia menata alas dari tumpukan daun kering yang cukup tebal dan lembut.

Bayu duduk perlahan dan hati-hati. Ia menjaga posisi bahu kanannya agar tidak tertekan. Namun sia-sia. Begitu ia duduk, rasa sakit itu kembali menyerang.

Setiap kali jantungnya berdetak, luka di bahu berdenyut. Serasa ada paku yang menusuk ke dalam daging sampai tulang dan menjalar ke seluruh lengan.

Darah yang mulai kering dan mengeras di permukaan baju. Membentuk lapisan cokelat gelap yang kaku dan perih setiap kali ia menggerakkan tubuh.

Karta mengambil tempayan kulit kecil yang masih menyisakan sedikit air minum. Lalu merobek ujung bajunya sendiri yang masih bersih.

Ia mencelupkan kain ke dalam air. Memerasnya perlahan sampai tidak terlalu basah.

Selanjutnya berjalan ke pinggiran gua yang masih terkena cahaya api. Mencari beberapa jenis daun Kipahit yang sering tumbuh di tempat lembab.

“Daun apa itu?” tanya Bayu.

“Daun yang Mbah Suryanata ajarkan,” jawab Karta.

 “Bisa menghentikan pendarahan dan mengurangi panas pada luka.”

Karta meremas daun itu sampai keluar cairan lengket dan berwarna hijau pucat dan ia oleskan merata ke atas kain basah.

“Sabar ya, Kang. Mungkin akan terasa sedikit perih saat pertama kali ditempelkan.”

Tanpa menunggu jawaban, Karta mendekat dengan hati-hati agar tidak menyenggol bahu Bayu lalu menempelkan kain itu ke luka yang terbuka.

Rasa perih yang menyengat langsung menjalar. Seperti disiram air panas. Bayu menggeretakkan gigi. Keringat dingin mengucur di pelipis.

Karta meniup pelan di atas luka. “Sebentar lagi akan terasa dingin, Kang.”

Rasa perih berubah menjadi sensasi dingin yang menenangkan. Denyutan nyeri mulai berkurang.

Karta melilitkan kain itu dengan rapat. Mengikatnya di punggung dan ketiak agar tetap menempel kuat tanpa menghambat napas.

Mereka duduk berdua dalam keheningan penuh ke bingungan dan rasa putuh asa yang menyertai. Hanya ditemani suara gemertak kayu yang terbakar dan tetesan air yang turun dari celah celah goa.

Bayu menatap kobaran api yang menari-nari di depannya. Pikrannya melayang. Ia membayangkan kembali kampung yang terbakar. Teriakan warga yang meminta tolong. Dan tatapan angkuh Jaka Wiradipa. Seolah merasa berhak melakukan apa saja.

Di dadanya bercampur rasa marah, sedih, dan rasa tak berdaya yang sangat dalam.

“Kang lagi mikirin Ibu ya,” ujar Karta pelan.

Bayu mengangguk. “Dan mikirin kita. Mau kemana setelah ini.”

“Kita cari tempat aman dulu. Baru mikir balas dendam.”

Bayu menatap adiknya. Anak 13 tahun itu bicara seolah sudah mengerti dunia.

“Kau jangan terlalu cepat dewasa, karta.”

“Terpaksa, Kang.”

Ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Dari dalam gua terdengar suara kepakan sayap ribuan kelelawar yang selama ini bersembunyi diam di celah langit-langit gua. Cahaya dan panas api membuat mereka terkejut dan terbang ke segala arah mencari jalan keluar.

Tubuh-tubuh kecil itu melesat cepat. Menimbulkan hembusan angin yang menerpa wajah.

“Hati-hati! Mereka panik!” seru Karta. Dengan sebatang ranting, Karta mencoba mengusir kawanan kelelawar yang berlarian mencari jalan keluar.

Salah satu cakar kelelawar tersangkut di sela sela rambut dan membuat goresan yang terasa perih di kepala.

Karta tanpa sengaja menginjak lumut membuat tubuhnya terhuyung mundur mendorong Bayu yang sedang bersandar di dinding goa.

Tubuhnya yang masih lemah terguncang. Siku kanannya tanpa sengaja mendorong dinding batu di belakangnya dengan kuat.

KREEEK…

Suara gesekan batu terdengar jelas. Bukan gesekan batu biasa. Lebih seperti tulang tua dan kering yang dipatahkan dengan perlahan. Suaranya dalam. Kering. Dan terdengar Aneh.

Keduanya langsung membeku. Napas mereka tertahan melihat sesuatu di dinding goa.

Bayu merasakan bagian dinding yang tersenggol itu berbeda. Permukaannya lebih halus dan tertutup lapisan lumut tipis.

Sebuah celah sempit setinggi orang dewasa mulai terbuka.

Dari balik celah keluar udara yang jauh lebih sejuk dan segar. Berbeda dengan udara di dalam goa utama. Tidak ada lagi bau lumut atau kotoran hewan. Tercium aroma kayu tua yang bercampur dengan bau debu. Seperti bau tanah yang telah tertidur selama ratusan tahun tanpa pernah terjamah siapapun.

“Kang! Lihat ini! Dindingnya bergerak!” seru Karta. Matanya terbelalak lebar.

Bayu menggeser posisi tubuhnya perlahan seakan melupakan rasa sakit di bahunya.

Udara dingin dari balik celah menyentuh luka,tapi kali ini ia tidak merasakan perih.

Yang ia rasakan hanya getaran halus. Merambat masuk sampai ke tulang sumsum. Seolah ada sesuatu yang sudah lama menunggu dan kini memanggil namanya lagi. Lebih jelas. Lebih dekat. Lebih kuat dari panggilan Karta meninggalkan kampung.

Ia mengangkat tangannya yang masih gemetar dan menempelkan telapak tangan ke permukaan batu di depan celah.

Dengan hati-hati ia mendorongnya perlahan.

KREEEKK...

Suara gesekan terdengar lagi. Lebih panjang dan nyaring. Pintu batu bergeser semakin lebar. Membuka ruang yang cukup luas untuk jalan masuk mereka berdua.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, cahaya api menerobos masuk.

Dan pemandangan di dalamnya membuat keduanya tertegun. Tak mampu berkata-kata.

Di balik dinding batu itu tersembunyi sebuah ruangan. Terlihat rapi dan bersih dari lumut dan kotoran kelelawar.

Hanya tertutup lapisan debu sebagai penanda tempat ini tidak pernah dimasuki siapa pun selama berabad-abad.

Udara di dalam terasa tenang dan sunyi. Seolah waktu berhenti sementara di ruangan ini.

Bayu melangkah masuk. Debu beterbangan mengiringi setiap langkahnya.

Rasa lelah. Rasa sakit. Seolah pergi begitu saja.

Di tengah keputusasaan, kehancuran, dan ketakutan yang baru saja mereka alami... sebuah pintu tersembunyi di balik lumut dan waktu, baru saja terbuka.

Membawa misteri yang tak terduga.

Harapan yang mulai tumbuh kembali.

Dan mungkin... sebuah takdir yang telah lama menunggu untuk dipenuhi.

 

BAB 3 : BUSUR DAN PISAU PENUNGGU GOA

Cahaya api dari goa utama menerobos masuk samar-samar.

Debu yang mengendap selama ratusan tahun terangkat. Berterbangan di udara seperti salju keemasan. Berputar bersama angin segar yang masuk dari celah pintu.

Pandangan mereka semakin terbiasa, dan apa yang mereka lihat membuat napas Bayu dan Karta tertahan.

Ruangannya sempit namun terasa luas. Dindingnya halus dan bersih tanpa retakan tidak seperti di goa bagian luar.

Ukiran daun dan sulur yang terlihat pudar seolah di makan waktu menghiasi setiap sudut ruangan. Setiap guratannya menampakan jejak tangan pengrajin dari zaman yang telah lama berlalu.

Di tengah ruangan terdapat meja batu datar berwarna lebih gelap daripada dinding dan memantulkan sinar api dari luar.

Sebuah kotak kayu coklat tua berbentuk persegi panjang permukaannya halus dan terawat. Berada di tengah meja batu seolah belum lama diletakan.

Langkah kaki Bayu terasa ringan, rasa sakit di bahu berganti dengan getaran halus. Semakin mendekat getarannya semakin terasa seakan ada jantung yang berdetak mengikuti setiap langkahnya.

Karta mengikutinya dari belakang. Tangannya menarik ujung baju Bayu. Matanya melebar, tidak berkedip.

“Kang… Naon ieu?” bisiknya. Suaranya gemetar, antara takut dan penasaran.

Bayu berhenti tepat di depan kotak. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku tidak tahu,” jawabnya pelan. “Tapi rasanya… seperti menunggu kita.”

Tangannya masih gemetar ketika menyentuh sisi kotak kayu.Terasa hangat seolah masih menyimpan sisa kehangatan dari pemilik pertama.

Ia membuka tutupnya perlahan. Tidak ada suara. Hanya bunyi halus seperti napas yang tertahan.

KREET...

Tutupnya terbuka sendiri, seolah menyambut kedatangan mereka.

Di dalamnya berisi dua buah senjata yang berjajar rapi di atas sehelai kain pudar.

Benda pertama adalah busur.

Sebuah busur dari kayu cendana. Tingginya sebadan Bayu. Lengkungannya indah. Berukir sulur indah dari ujung ke ujung.

Tali busurnya dari serat pandan yang dipintal kuat. Terlihat halus dan kuat mengkilap seperti benang perak. Di sampingnya berjajar tujuh anak panah berujung tumpul.

Di sebelah busur terdapat pisau pendek.

Bergagangnya sama dengan busur berhias batu hitam kecil mengkilap ujung gagang. Berbilah kusam yang memancarkan aura ketenangan.

Bayu terdiam. Tenggorokannya terasa kering.

Tanpa sadar tangannya menyentuh gagang busur itu.

Seketika dunia berubah.

Rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk pembuluh darah. Dari telapak tangan menyebar ke seluruh tubuh.

Seakan terbangun dari tidur panjang. Semua otot dan sarafnya kembali hidup.

Pandangannya menjadi tajam. Ia bisa melihat dengan jelas serat kayu, Bisa mendengar detak jantung Karta. Bisa merasakan angin yang bergerak pelan di dalam ruangan.

Pengetahuan itu masuk perlahan ke dalam kepalanya.

Cara membaca arah angin.

"Cara menentukan jarak dan sasaran.

Cara menjaga keseimbangan tubuh ketika menarik busur.

Cara membuat obat dari daun.

Cara mencari akar yang bisa mengusir racun.

Semua hal yang tidak pernah ia pelajari. Kini ada di dalam kepalanya. Seolah ia telah hidup selama ratusan tahun.

Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.

Hanya beberapa detik dan rasa lemas datang dengan cepat.

Dadanya bergetar. Ia terbatuk dua kali, terlihat darah merah di telapak tangan. Tubuhnya terhuyung mundur dan busur yang ia genggam semakin terasa berat, seperti mengangkat sebongkah batu.

“Kang Bayu! Kamu kenapa?” Karta panik. Ia langsung menyangga bahu kakaknya.

Bayu menggeleng sambil menelan ludah agar rasa pahit di mulutnya hilang.

“Tidak apa-apa…” suaranya serak. “Hanya merasa lemas. Tenaganya keluar masuk terlalu cepat.”

Karta mengangguk cepat. Tetapi matanya masih tertuju pada kotak itu.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.

Perlahan ia mengulurkan tangannya. Memegang gagang pisau pendek itu dengan kedua tangan. Rasanya berbeda seakan tak ada rasa. Hanya getaran halus yang turun ke kaki menembus ke tanah.

Gundukan, Retakan. Bahkan makhluk yang bergerak di dalam tanah. Semut. Cacing. Akar pohon yang menjalar bisa ia rasakan.

Gagang pisau berdenyut pelan di tangannya. Memberi tahu jika ada bahaya mendekat, getarannya akan semakin kuat.

Lalu pengetahuan itu datang lagi.

Cara berjalan seperti angin.

Cara membaca jejak di tanah dan di daun.

Cara membedakan daun yang bisa dimakan dan beracun hanya dengan sentuhan.

Namun semua ada bayarannya.

Kepalanya terasa berputar. Seperti berada di atas pohon, pandangan kabur dan telinga berdenging.

“Karta!”

Ia segera melepaskan genggamannya. Dan jatuh terduduk. Wajahnya pucat dengan nafas yang tersengal sengal.

Bayu segera mengembalikan busur ke dalam kotak. Ia berjongkok dan menyangga adiknya.

“Jangan dipaksa,” katanya tegas. “Ini bukan mainan.”

Karta mengusap matanya yang berkunang-kunang dan mengangguk pelan.

“Aku… aku bisa mendengar tanah berbicara, Kang. Tapi kepalaku mau pecah.”

Mereka terdiam.

Mereka menatap dua benda di dalam kotak. Bukan hanya kagum,tapi ada rasa yang berbeda

Baru sekarang mereka sadar. Semua ada bayarannya.

Dengan tenaga.

Dengan darah.

Dengan tubuh yang memiliki batas.

Kekuatan busur itu bisa membuat Bayu melihat jauh dan menembak tepat sasaran. Tetapi jika terlalu lama digunakan, akan membuatnya batuk darah.

Pisau itu membuat Karta bisa merasakan bahaya dan berjalan tanpa suara. Tetapi jika terlalu lama digenggam, kepalanya terasa mau pecah dan tubuhnya menjadi lemas.

Bayu menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sesak.

Ia menutup kotak itu perlahan. Seolah tahu bahwa mereka akan membutuhkannya lagi.

Ia menatap Karta yang mulai membaik. Wajahnya masih terlihat pucat tetapi napasnya sudah mulai teratur.

Lalu ia menoleh ke pintu batu yang masih terbuka. Cahaya dari luar masuk membelah kegelapan.

Di luar sana, masih ada ketidakadilan yang belum selesai.

Di dalam diri mereka ada kekuatan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Namun ada batas yang harus dijaga.

Mereka belum tahu cara mengendalikannya.

Tetapi satu hal yang pasti.

Sejak mereka menyentuh busur dan pisau itu, hidup mereka tidak akan sama lagi.

Dan jauh di dalam gelapnya hutan, di balik dinding gua yang tertutup itu...

Ada kekuatan kuno yang baru terbangun.

Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan jalan.

Entah itu jalan keadilan.

Atau jalan yang penuh bahaya dan pengorbanan yang tidak terduga.

---

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!